Anda di halaman 1dari 38

1

EFEKTIVITAS SAFARI RAMADHAN TERHADAP MENINGKATKAN


KOMPETENSI SANTRI PADA PESANTREN DARUL
ABRAR KAHU KABUPATEN BONE

Draf Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana (S.Sos)


Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Pada Fakultas
Ushuluddin dan Dakwah (FUD) IAIN Bone

Oleh:
IMRAN
NIM: 03172082

FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH (FUD)


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BONE
2021
1

A. Judul : Efektivitas Safari Ramadhan terhadap Meningkatkan Kompetensi

Santri pada Pesantren Darul Abrar Kahu Kabupaten Bone

Nama : Imran

NIM : 03172082

Prodi : Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI)

B. Latar Belakang

Islam adalah agama dakwah, yaitu agama yang menegaskan umatnya untuk

menyiarkan agama Islam pada seluruh manusia sebagai rahmatan lil ‘ala>min. Islam

adalah agama yang memerintahkan umatnya untuk, berperilaku baik. Sementra,

dakwah yang menyebarkan dan menyiarkan ajaran Agama Islam merupakan satu

aktivitas yang mulia. Namun, setiap muslim dapat melakukan amr ma’ruf} nahi

mungkar agar dapat tercipta tujuan dakwah yang hakiki, yaitu membentuk khoirul
ummah (ummat terbaik).1 Dakwah adalah suatu kegiatan untuk menyampaikan dan

mengajarkan serta mepraktikkan ajaran Islam dl kehidupan sehari-hari, seperti yang

dikemukakan oleh Muhammad Abu al-Fatih dalam kitabnya al-Madkhal ila> ‘Ilm

ad-Da’wat, menurut beliau, dakwah adalah menyampaikan dan mengajarkan Islam


kepada seluruh manusia dan mempraktikkannya dalam realitas kehidupan. Menurut

beliau, hakikat dakwah harus mencakup tiga fase pelaksanaan dakwah, yaitu

penyampaian, pembentukan dan pembinaan.2

Pesantren merupakan salah satu pendidikan formal yang dapat membantu

masyarakat untuk pengembangan pendidikan Islam. Salah satu unsur yang sangat

penting dan menunjang keberhasilan seorang santri dalam suatu pondok pesantren

1
Didin Hafiduddin, Dakwah Actual (Cet. I; Jakarta: Gem Insani Press, 1998), h. 11.
2
Faizah dan Lalu Muchsan Effendi, Psikologi Dakwah (Cet. IV; Jakarta: Prenamedia Group,
2018), h. 7.
2

adalah pelatihan dakwah, karena Islam adalah agama yang mengajarkan kepada

pemeluknya untuk menyampaikan ajaran Islam ditengah-tengah masyarakat. Dakwah

adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat Islam dalam kenyataan

hidup sehari-hari disegala aspek kehidupan manusia. Sebab bagaimanapun baiknya

ideologi (agama) yang harus disebar luaskan kepada masyarakat. Agama akan tetap

sebagai cita-cita yang tidak akan terwujud jika tidak ada manusia yang

menyebarluaskan. Oleh karena itu perlu adanya tenaga pelaksana dakwah yang cukup
serta ikhlas melaksanakannya. Sebagai umat muslim, kita wajib mengajak kebaikan

kepada seluruh umat manusia, karena islam adalah agama yang mengajarkan umtnya

untuk menyerukan kebaikan bagi seluruh umat manusia.3

Perlu kita sadari perjuangan Islam masih panjang dan lama bahkan tidak ada

habis-habisnya selagi dunia dan manusia ini masih ada. Padahal usia para juru

dakwah yang sekarang ini makin hari makin tua dan satu persatu meninggalkan kita.

Sementara sekarang ini banyak keluhan masyarakat tentang kurangnya juru dakwah.

Karena itu diperlukan bentuk dakwah yang berupa berkeliling dari desa ke desa, yang

dikenal dengan nama Safari Ramadan. Saat bulan puasa, safari ramadhan adalah
sebagai ajang silaturrahim antara sesama muslim dibulan ramadhan. Dimana tradisi

silaturrahim ini sangat dianjurkan karena memiliki efek yang sangat konstruktif baik

bagi kehidupan individu maupun sosial. Sebagaimana dianjurkan oleh Rasulullah,

silaturrahmi memiliki banyak manfaat. Diantaranya adalah memperpanjang usia dan

memperbanyak rezeki bagi yang melakukannya.

3
Enjang dan Aliyudin, Dasar-Dasar Ilmu Dakwah (Cet. I; Bandung: Widya Padjadjaran,
2009), h. 11.
3

Terhadap permasalahan tersebut diatas pondok pesantren sebagai salah satu

lembaga pendidikan Islam, kiranya sangat baik menumbuhkembangkan kader-kader

da’i, sebagaimana kita ketahui bahwa pondok pesantren merupakan tempat untuk

mempelajari dan memperdalam ilmu agama Islam. Di samping itu dalam

kenyataannya pondok pesantren cukup banyak mencetak kader-kader umat dan

berkepribadian muslim, berilmu dan beramal. Dengan demikian orang-orang yang

ada dipondok pesantren memungkinkan sekali untuk mengembangkan agama Islam


di masyarakat.4

Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti pada Pesantren Darul

Abrar Kahu Kabupaten Bone diperoleh bahwa kompetensi yang dimiliki oleh santri

yang dimiliki santri masih belum mencapai standar kompetensi lulusan secara

maksimal khususnya dalam hal pelaksanaan dakwah. Masih banyak siswa yang

belum memiliki keterampilan dakwah sesuai dengan cara-cara dakwah secara umum.

Oleh karen itu untuk membentuk peserta didik atau santri menjadi yang beriman dan

bertakwa serta berakhlak mulia tidaklah semudah yang dibayangkan serta tidak bisa

hanya mengandalkan pada pembelajaran yang ada di pondok pesantren, tetapi butuh
pembinaan secara terus menerus serta berkelanjutan di luar jam pelajaran, baik dalam

pondok maupun di luar pondok, melalui kegiatan dakwah yang berupa Safari

Romadhan.5

Dakwah yang berupa kegiatan Safari Romadhan bagi santri sangat penting

yaitu sebagai usaha kelangsungan dakwah Islamiyah juga sebagai usaha pemerataan

dan menyebar luaskan dakwah kedaerah-daerah yang belum tersentuh. Oleh karena

4
Anisa Mu’arifah, Kompetensi Entrepreneur Kepala Madrasah dalam Pengembangan
Madrasah Unggul di MAN 2 Magetan, Skripsi IAIN Ponorogo, 2021, h. 3
5
Observasi awal Peneliti Tanggal 15 September 2021.
4

itu untuk menyebarluaskan agama Islam butuh santri-santri yang mampu untuk

berdakwah. Selain itu kegiatan dakwah di masyarakat yang berupa safari ramdhan ini

menjadi daya tarik tersendiri dan merupakan alasan bagi wali santri untuk

memondokkan anak-anak mereka di pesantren bagi mereka, safari ramadhan

merupakan pembelajaran yang sangat sesuai untuk langkah anak mereka dalam

menghadapi tantangan zaman, untuk menghadapi masyarakat yag berbagai macam

corak, untuk belajar berdakwah di tengah-tengah masyarakat.


Dari apa yang telah di paparkan di atas maka yang ingin dilihat dari peneliti

adalah seberapa jauh konstribusi pelaksanaa safari ramadhan dalam mendongkrak

kompetensi santri yang berhubungan dengan dakwah, yang dikemas dalam penelitian

dengan judul “Efektivitas Safari Ramadhan terhadap Meningkatkan Kompetensi

Santri pada Pesantren Darul Abrar Kahu Kabupaten Bone”.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dirumuskan di atas, penulis

mengemukakan rumusan masalah pokok pada penelitian ini, yaitu bagaimana

efektivitas safari ramadhan terhadap meningkatkan kompetensi santri pada Pesantren


Darul Abrar Kahu Kabupaten Bone?. Dari masalah pokok tersebut, peneliti

merumuskan beberapa sub masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pelaksanaan program safari ramadhan pada santri ramadhan Darul

Abrar Kahu Kabupaten Bone?

2. Bagaimana kontribusi program safari ramadhan terhadap meningkatkan

kompetensi santri pada Pesantren Darul Abrar Kahu Kabupaten Bone?

3. Apa saja kendala pelaksanaan program safari ramadhan terhadap peningkatan

Kompetensi Santri Pada Pesantren Darul Abrar Kahu Kabupaten Bone?


5

D. Defenisi Operasional

Untuk menghindari kekeliruan dalam memahami makna yang terkandung

dalam skripsi ini, penulis akan memberikan pemahaman terhadap variabel yang

dianggap penting dalam judul skripsi ini. Adapun variabel yang dianggap penting

adalah:

1. Efektifitas

Kata efektif berasal dari bahasa Inggris yaitu effective yang berarti
berhasil atau sesuatu yang dilakukan berhasil dengan baik. Kamus ilmiah populer

mendefinisikan efektivitas sebagai ketepatan penggunaan, hasil guna atau

menunjang tujuan. Efektivitas pada dasarnya berasal dari kata “efek” dan

digunakan istilah ini sebagai hubungan sebab akibat. Efektivitas dapat dipandang

sebagai suatu sebab dari variabel lain. Efektivitas berarti bahwa tujuan yang telah

direncanakan sebelumnya dapat tercapai atau dengan kata sasaran tercapai karena
6
adanya proses kegiatan. Efektivitas adalah suatu komunikasi yang melalui proses

tertentu, secara terukur yaitu tercapainya sasaran atau tujuan yang ditentukan

sebelumnya. Dengan biaya yang dianggarkan, waktu yang ditetapkan dan jumlah
orang yang telah ditentukan.

2. Safari Ramadhan

Kata safari dalam kamus besar bahasa (KBBI) memiliki arti perjalanan

atau petualangan jarak jauh dalam kegiatan ekspedisi baik penelitian,

pemyelidikan, dan wisata. Dari pemaknaan tersebut, maka safari yang hrus

dilakukan adalah menjangkau tempat-tempat terjauh sekalipun, dan tempat-

6
Junar W. Suwignya, “Efektifitas Pelayanan Izin Mendirikan Bangunan di Dinas Penanaman
Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Manado” Jurnal, UNSARAT 2018, h. 4
6

tempat pedalaman. Dalam kegiatan safari tersebut mempelajari dan memecahkan

persoalan-persoalan yg selama ini mejnadi kendala bagi masyarakat.

3. Kompetensi

Kompetensi adalah keterampilan dan pengetahuan yang berasal dari

lingkungan kehidupan sosial dan kerja yang diserap, dikuasai dan digunakan

sebagai instrumen untuk menciptakan nilai dengan cara menjalankan tugas dan

pekerjaan dengan sebaik-baiknya.7


4. Santri

Istilah santri sebenarnya memiliki dua konotasi atau pengertian. Pertama,

adalah santri yang berpengertian orang muslim shaleh yang memeluk agama

Islam dengan sungguh-sungguh dan dengan teliti menjalankan perintah-perintah

agama Islam sebagaimana yang diketahuinya. Kedua, santri adalah siswa yang

belajar di pesantren atau mereka yang menuntut ilmu di pesantren. Keduanya

tampak berbeda, tetapi jelas juga mmepunyai kesamaan, yakni sama-sama taat

dalam menjalankan syari’at Islam.8

Menurut Zamakhsyari Dhofier perkataan pesantren berasal dari kata


santri, dengan awalan pe di depan dan akhiran an berarti tempat tinggal para

santri. Menurut John E. Kata “santri” berasal dari bahasa Tamil, yang berarti guru

mengaji.9 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia santri adalah seseorang yang

7
Frans Mardadi Hartanto, Paradigma Baru Manajemen Indonesia menciptakan nilai dengan
bertumupu pada kebijakan dan potensi isani, (Bandung: Mizan, 2009), h. 455.
8
Hariadi, Studi Kepemimpinan Kiai Berbasis Orientasi ESQ (Cet. I; Yogyakarta: PT. LKiS,
2015), h. 24
9
Muhammad Nurul Huda & Muhammad Turhan Yani “Pelanggaran Santri terhadap Peraturan
Tata Tertib Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah Kranji Lamongan”, (Jurnal, Fakultas Ilmu Sosial-
Universitas Negeri Surabaya, Surabaya No. 03 2015)
7

berusaha mendalami agama islam dengan sungguh-sungguh atau serius.10 Kata

santri itu berasal dari kata “cantrik” yang berarti seseorang yang selalu mengikuti

guru kemana guru pergi dan menetap.

E. Tujuan dan Kegunaan

1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian yang ingin

dicapai dari hasil penelitian ini yaitu:


a. Untuk mengetahui pelaksanaan program safari ramadhan pada santri

ramadhan Darul Abrar Kahu Kabupaten Bone.

b. Untuk mengetahui kontribusi program safari ramadhan terhadap

meningkatkan kompetensi santri pada Pesantren Darul Abrar Kahu Kabupaten

Bone.

c. Untuk mengetahui kendala pelaksanaan program safari ramadhan terhadap

peningkatan Kompetensi Santri Pada Pesantren Darul Abrar Kahu Kabupaten

Bone.

2. Kegunaan Penelitian
a. Kegunaan ilmiah

1) Sebagai salah satu sumbangsih pemikiran mengenai efektivitas safari

ramadhan terhadap meningkatkan kompetensi santri terhadap pada

pesantren Darul Abrar Kahu Kabupaten Bone.

2) Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebuah refrensi

dalam meningkatkan kompetensi santri pada pesantren Darul Abrar Kahu

10
Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet. I; Jakarta: Pusat Bahasa Departemen
Pendidikan Nasional, 2008), h. 878
8

Kabupaten Bone

b. Kegunaan Praktis

1) Bagi penulis, penelitian ini dapat dijadikan bahan kajian untuk menambah

dan memperluas materi mengenai efektivitas safari ramadhan terhadap

meningkatkan kompetensi santri.

2) Bagi santri, penelitian ini dapat memberikan dorongan dalam

meningkatkan kemampuan berdakwah.


F. Tinjauan Pustaka

1. Kajian penelitian sebelumnya

Kajian penelitian sebelumnya merupakan rangkaian kegiatan awal yang

harus dilakukan guna mencari informasi tentang permasalahan yang akan dibahas

oleh peneliti. Kegiatan ini mencakup kegiatan meninjau penelitian-penelitian

yang mempunyai persamaan yang berhubungan dengan pokok permasalahan yang

akan dibahas. Berikut beberapa hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan

penelitian ini:

Jurnal yang ditulis oleh Rohmad yang berjudul “Kompetensi Dakwah dan
Praktek Safari Romadhan Santri Darussalam Sumbersari Kencong Kepung

Kediri”. Penelitian ini menyangkut kompetensi dakwah dan praktek safari

Romadhan yang secara khusus diarahkan pada santri di Pondok Pesantren

Darussalam Sumbersari Kencong Kepung Kabupaten Kediri yang berkaitan

dengan terjunnya para santri belajar di masyarakat untuk nasyrul ilmi waddin

berkaitan dengan dakwah yang diwujudkan dengan bentuk safari Romadhan.

Jenis pendekatan penelitian ini adalah kualitatif fenomenologik, dengan

rancangan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara


9

mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Sedangkan teknik analisa data,

peneliti menggunakan model analisis interaktif yang mengandung empat

komponen yang saling berkaitan, yaitu: pengumpulan data, penyederhanaan data,

pemaparan data, penarikan dan pengajuan simpulan. Akhirnya, penelitian ini

berhasil memperoleh temuan sesuai pertanyaan permasalahan yang pada garis

besarnya dapat disimpulkan bawah perencanaan dakwah yang diterapkan di

pondok pesantren Darussalam Sumbersari secara umum sudah bisa dikatakan


baik yang meliputi pelatihan, penyaringan semua peserta safari Romadhan

sehingga kegiatan safari bisa berjalan dengan baik, praktek safari Romadhan

dengan mendata daerah-daerah yang akan diterjuni para santri berjalan dengan

baik, santri yang diterjunkan dibantu dengan panitia safari Romadhan dirasa

sudah bisa mengatasi problem yang ada baik secara internal maupun secara

eksternal.11

Adapun persamaan penelitian Rohmad dengan penelitian yang akan

dilakukan terletak pada pelaksanaan praktek Safari Ramadhan. Sedangkan

perbedaan terletak pada fokus penelitian, dimana penelitian Rohmad hanya


berfokus pada praktek pelaksanaan Safari Ramadhan sedangkan penelitian yang

akan dilakukan berfokus pada efektivitas safari ramadhan terhadap meningkatkan

kompetensi santri.

Penelitian yang dituliskan Mohamad Feri Yustanto Prabowo yang

berjudul “Presepsi masyarakat terhadap program safari ramadhan pemerintah

kota Kediri”. Hasil dari penelitian tersebut program menunjukkan bahwa safari

11
Rohmad “Kompetensi Dakwah Dan Praktek Safari Romadlon Santri Darussalam
Sumbersari Kencong Kepung Kediri” Jurnal, Intelektual, Kediri, Volume 9, Nomor 2, Agustus 2019
10

ramadhan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Kediri memiliki beberapa

hal yang harus diperhatikan agar pelaksanaan Safari Ramadhan ini bisa berjalan

sesuai dengan apa yang diinginkan. Persepsi masyarakat terhadap program Safari

Ramadhan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Kediri, diantaranya ada

yang sangat mendukung dan merasa senang dengan adanya program ini akan

tetapi ada beberapa juga yang memberikan kritikan terhadap program Safari

Ramadhan. Beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan


program Safari Ramadhan yang ditemukan langsung oleh peneliti melalui

pengamatan lapangan selama program Safari Ramadhan berlangsung. 12

Adapun persamaan penelitian Mohamad Feri Yustanto Prabowo dengan

penelitian yang akan dilakukan terletak pada pembahasan mengenai Safari

Ramadhan. Sedangkan perbedaan terletak pada fokus penelitian, dimana

penelitian Mohamad Feri Yustanto Prabowo berfokus pada persepsi masyarakat

pelaksanaan Safari Ramadhan sedangkan penelitian yang akan dilakukan

berfokus pada efektivitas safari ramadhan terhadap meningkatkan kompetensi

santri.
Penelitian yang dilakukan oleh Haykal Makmun dengan judul “Strategi

Pembinaan dalam Meningkatkan Kompetensi Santri Guna Menjalankan Dakwah

Muhammadiyah”. Hasil penelitian ini yakni PPM MBS menggunakan strategi

pendekatan, pemahaman, dan hukuman kepada santri agar terbentuknya kader-

kader Muhammadiyah yang sesuai dengan harapan dan cita-cita PPM MBS,

terdapat juga dua faktor penghambat dan pendukung yaitu ekternal dan internal

12
Mohamad Feri Yustanto Prabowo, “Persepsi Masyarakat Terhadap Program Safari
Ramadhan Pemerintah Kota Kediri” Skripsi, Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Agama Islam
Negeri (IAIN) Kediri, Kediri, 2019, h. 1-78.
11

yang meliputi santri, wali santri, ustadz pembina, dan masyarakat sekitar pondok,

dalam mengatasinya PPM MBS memberikan solusi berupa meningkatkan dan

memperbaiki kualitas pembina, mengevaluasi setiap kegiatan yang telah

dilakukan dengan lebih rutin, memberikan pemahaman secara mendalam kepada

santri dan wali santri tentang pondok pesantren, selain itu kompetensi santri

yang ditingkatkan meliputi kemampuan individu, keorganisasian, dan

kemuhammadiyahan.13
Adapun persamaan penelitian Haykal Makmun dengan penelitian yang

akan dilakukan terletak pada peningkatan kompetensi santri. Sedangkan

perbedaan terletak pada fokus penelitian, dimana penelitian Haykal Makmun

berfokus pada strategi pembinaan dalam peningkatan kompetensi santri

sedangkan penelitian yang akan dilakukan berfokus pada efektivitas safari

ramadhan terhadap meningkatkan kompetensi santri.

2. Kajian Teori

a. Tinjauan Tentang Efektivitas

1) Pengertian Efektivitas
Menurut Bastian efektivitas dapat diartikan sebagai keberhasilan

dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Selain itu

efektifitas adalah hubungan antara output dan tujuan dimana efektivitas

diukur berdasarkan seberapa jauh tingkat output atau keluaran kebijakan

untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Selanjutnya istilah

efektivitas adalah pencapaian tujuan atau hasil yang dikehendaki tanpa

13
Haykal Makmun, “Strategi Pembinaan dalam Meningkatkan Kompetensi Santri Guna
Menjalankan Dakwah Muhammadiyah” Skripsi, Universitas Muhammadiyah, Yogyakarta, 2019, h. 1-
90.
12

menghiraukan faktor-faktor tenaga, waktu, biaya, pikiran, alat-alat dan

lain-lain yang telah ditentukan.14

Menurut E. Mulyasa, efektivitas merupakan adanya kesesuaian

antara orang yang melaksanakan tugas dengan sasaran yang dituju. Dari

definisi tersebut dapat diketahui bahwa efektivitas itu mempunyai

pengaruh dan dapat membawa hasil yang semuanya dilakukan sesuai

dengan sasaran atau tujuan yang ditentukan.15


Effendy menjelaskan efektivitas adalah komunikasi yang

prosesnya mencapai tujuan yang direncanakan sesuai dengan biaya yang

dianggarkan, waktu yang ditetapkan dan jumlah personil yang ditentukan.

Jadi dapat diartikan bahwa indikator efektivitas dalam arti tercapainya

sasaran atau tujuan yang telah ditentukan sebelumnya merupakan sebuah

pengukuran dimana suatu target telah tercapai sesuai dengan apa yang

telah direncanakan.16

Memperhatikan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan

bahwa efektivitas adalah suatu keadaan yang terjadi sebagai akibat dari
apa yang dikehendaki. Misalkan saja jika seseorang melakukan suatu

perbuatan dengan maksud tertentu dan memang dikehendakinya, maka

perbuatan orang itu dikatakan efektiv jika hasil yang dicapai sesuai

dengan apa yang dikehendakinya dan telah direncanakan sebelumnya.

14
Asnawi, Efektivitas Penyelenggaraan Publik Pada Samsat Corner Wilayah Malang Kota,
Skripsi, S-1 Jurusan Ilmu Pemerintahan, FISIP, UMM, 2013, h. 6.
15
E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah (Cet. I; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011),
h. 82
16
http://e-journal.uajy.ac.id/4241/3/2MH01723.pdf. Diakses pada 18 September 2021
13

2) Aspek-Aspek Efektivitas

Aspek-aspek efektivitas dapat dijelaskan bahwa efektivitas suatu

program dapat dilihat dari aspek-aspek antara lain:

a) Aspek tugas atau fungsi, yaitu lembaga dikatakan efektivitas jika

melaksanakan tugas atau fungsinya, begitu juga suatu program

pembelajaran akan efektiv jika tugas dan fungsinya dapat dilaksanakan

dengan baik dan peserta didik belajar dengan baik.


b) Aspek rencana atau program, yang dimaksud dengan rencana atau

program disini adalah rencana pembelajaran yang terprogram, jika

seluruh rencana dapat dilaksanakan maka rencana atau progarm

dikatakan efektif.

c) Aspek ketentuan dan peraturan, efektivitas suatu program juga dapat

dilihat dari berfungsi atau tidaknya aturan yang telah dibuat dalam

rangka menjaga berlangsungnya proses kegiatannya. Aspek ini

mencakup aturan-aturan baik yang berhubungan dengan guru maupun

yang berhubungan dengan peserta didik, jika aturan ini dilaksanakan


dengan baik berarti ketentuan atau aturan telah berlaku secara efektif.

d) Aspek tujuan atau kondisi ideal, suatu program kegiatan dikatakan

efektif dari sudut hasil jika tujuan atau kondisi ideal program tersebut

dapat dicapai. Penilaian aspek ini dapat dilihat dari prestasi yang

dicapai oleh peserta didik.17

17
Muasaroh, Latifatul. Aspek-Aspek Efektivitas (Cet. I; Yogyakarta: Literatur Buku, 2010),
h. 13.
14

b. Tinjauan Tentang Safari Ramadhan

1) Pengertian Safari Ramadhan

Kata Safari dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

mempunyai arti perjalanan atau petualangan jarak jauh dalam acara

ekspedisi, baik penelitian, penyelidikan dan wisata. Dari pemaknaan

tersebut, maka safari yang harus dilakukan yaitu menjangkau tempat-

tempat yang terjauh sekalipun, dan tempat-tempat yang terdapat


dipedalaman. Dalam acara safari tersebut mempelajari dan memecahkan

persoalan-persoalan yang selama ini menjadi hambatan bagi masyarakat.18

Safari Dakwah adalah sebuah aktifitas dakwah dalam bentuk

perjalanan dakwah dari satu daerah ke daerah lain dalam rangka

melakukan penyuluhan dan bimbingan keislaman kepada masyarakat.19

Dari beberapa definisi di atas dapat dipahami bahwa dibulan puasa

Safari ramadhan yaitu sebagai ajang silaturrahim antara sesama muslim

dibulan ramadhan. Dimana Tradisi silaturrahim ini sangat dianjurkan

sebab mempunyai imbas yang sangat konstruktif baik bagi kehidupan


individu maupun sosial. sepertiyang dianjurkan oleh Rasulullah,

silaturrahim mempunyai banyak manfaat.

2) Dasar Hukum Pelaksanaan Safari Ramadhan

Safari Romadlon adalah kegiatan yang sudah dicanangkan oleh

lembaga Darussalam bagi santri yang sudah mampu untuk berdakwah,

18
Tim Penyusun. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet. I; Jakarta: Pusat Bahasa Departemen
Pendidikan Nasional, 2008), h. 56.
19
https://www.hasmijakarta.org/2019/04/10/safari-dakwah-safda, Diakses pada 18 September
2021
15

dengan tujuan jika santri pulang dimasyarakat nanti sudah siap untuk

berjuang. Ketika kita berpijak dari QS al-Nahl/16:125 yaitu:

          
             

Terjemahan:
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah
dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang
baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui
tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.20
Dari ayat tersebut dapat diambil pemahaman bahwa metode

dakwah itu meliputi tiga cakupan, yaitu:

a) Bil hikmah, artinya hikmah dalam dunia dakwah mempunyai posisi

yang sangat penting yaitu dapat menentukan sukses dan tidaknya

dakwah. Dalam menghadapi Mad’u yang beragam tingkat pendidikan,

strata social dan latar belakang budaya, para da’i memerlukan

hikmah,vsehingga ajaran Islam mampu memasuki ruang hati para

Mad’u dengan tepat. Oleh karena itu para da’i dituntut untuk mampu

mengerti dan memahami sekaligus memanfaatkan latar belakangnya,

sehingga ide-ide yang dterima dirasakan sebagai sesuatu yang

menyentuh dan menyejukkan kalbunya.

b) Bil mauidhotil hasanah, merupakan salah satu metode dalam dakwah

untuk mengajak kejalan Allah dengan memberikan nasehat atau

membimbing dengan lemah lembut agar mereka mau berbuat baik.

20
Kementerian Agama RI, al-Qur’an dan terjemahnya (Cet. I; Surabaya: CV. Jaya Sakti,
1989), h. 172
16

Menurut Imam Abdulloh bin Ahmad An-Nasafi yang dikutip oleh H.

Hasanuddin adalah sebagai berikut: Mauidhotul Hasanah adalah

perkataanperkataan yang tidak tersembunyi bagi mereka, bahwa

engkau memberikan nasehat dan menghendaki manfaat kepada mereka

atau dengan al Qur’an.21

c) Bil mujadalah, adalah upaya tukar pendapat yang dilakukan oleh dua

pihak secara sinergis, tanpa adanya suasana yang mengharuskan


lahirnya permusuhan diantara keduanya. 22

3) Tujuan Safari Ramadhan

Melalui atau bersama ini adanya Safari Ramadhan ini secara tidak

eksklusif sanggup memperkuat persatuan dan kebersamaan baik di antara

kalangan masyarakat sendiri maupun antara masyarakat dengan

pemerintah. Oleh sebab itu melalui atau bersama ini safari Ramadhan

maka seseorang akan mengetahui pokok kasus yang dihadapi masyarakat

yang selama ini belum sepenuhnya terapresiasi secara baik.23 Ada

beberapa tujuan pelaksanaan safari ramadhan antara lain:


a) Menyiarkan Agama Islam

b) Merawat Persatuan dan Kesatuan

c) Menjaga dan Silaturahim

Dibulan puasa safari Romadhan adalah sebagai ajang silaturrohim

antara sesama muslim dibulan Romadhan. Dimana tradisi silaturrohim ini

21
Hasanuddin S.H.Hukum Dakwah (Cet. I; Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya 1996), h. 37.
22
Sayyid Muhammad Thantawi, Adab alkhiwar fil Islam (Cet. I; Jakarta: Azan 2001), h. 38.
23
https://seputarpengertian1.blogspot.com/2018/02/safari-ramadhan.html, Diakses pada 18
September 2021
17

sangat dianjurkan karena memiliki efek yang sangat konstruktif baik bagi

kehidupan individu maupun social. sebagaimana dianjurkan oleh

Rosululloh, silaturrohim memiliki banyak manfaat. Diantaranya adalah

memperpanjang usia dan memperbanyak rezeki bagi yang melakukannya.

Dengan adanya safari Romadhan ini secara tidak langsung dapat

memperkuat persatuan dan kebersamaan baik diantara kalangan

masyarakat sendiri maupun antara masyarakat dengan pondok pesantren.


Oleh karena itu dengan safari Romadhan maka masyarakat yang belum

begitu kenal tentang agama akan bisa sepenuhnya tau tentang agama

Islam. Karena yang menjadi objek adalah masyarakat yang masih jauh

dari sentuhan orang alim.24

c. Tinjauan Tentang Kompetensi

Secara umum kompetensi merupakan penguasaan pengetahuan,

keterampilan dan kemampuan yang dapat diwujudkan oleh perilaku-perilaku

kognitif, afektif dan psikomotori dengan sebaik-baiknya. Kompetensi

merupakan pengetahuan, kemampuan dan keahlian (keterampilan) yang


dimiliki seseorang yang secara langsung mempengaruhi kinerjanya. 25

Kompetensi atau keterampilan hidup dinyatakan dalam kecakapan, kebisaan,

keterampilan, kegiatan, perbuatan, performansi yang dapat diamati malahan

24
Rohmad “Kompetensi Dakwah dan Praktek Safari Romadlon Santri Darussalam Sumbersari
Kencong Kepung Kediri”, h. 179.
25
Yuniarsih, T., & Suwatno. Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan Dari
Teori ke Praktik (Cet. I; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009), h. 22.
18

dapat diukur. Kompetensi meliputi kinerja yang harus dilakuka, kondisi yang

diharapkan dan satandar yang dicapai.26

Kompetensi menurut terminology artinya kemampuan yang dimiliki

oleh setiap individu. Ada yang mengimpretasikan kompetensi sebagai suatu

keterampilan. Dan yang mengimprestasikan kompetensi dengan suatu

pengetahuan. Bahkan ada pula yang mempersepsi kompetensi sebagai

suatu standar kecerdasan. Perbedaan persepsi ini merupakan hal yang


sangat wajar. Akan teteapi perbedaan ini akan mempengaruhi persepsi

dan arti kompetensi. Menurut Greenberg dan Baron mendefiniskan bahwa

kompetensi merupakan satu keterampialan sebagai suatu kemampuan fisik

dan mental agar dapat melakukan bermacam-macam tugas dan tanggung

jawab.27

Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, ketrampilan,

nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.

Jadi dapat diartikan bahwa kompetensi siswa merupakan penguasaan

pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang tercermin dalam kebiasaan


berfikir serta bertindak siswa. Kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa

terdiri atas kompetensi dasar, kompetensi umum, kompetensi teknis atau

operasional, dan kompetensi profesional.28

26
Sukmadinata, N. S. Kurikulum dan Pembelajaran Kompetensi (Cet. I; Bandung: PT. Refika
Aditama, 2012), h. 18.
27
Darmadi, Manajemen Sumber Daya Manusia Kekepalasekolahan (Cet. I; Yogyakarta:
Deepublish, 2018), h. 23.
28
Sanjaya, W. Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (Cet. I; Jakarta: Prenada Media Grup, 2008), h. 133
19

Kompetensi meliputi pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai,

sikap dan minat. Dalam konsep pelatihan yang berbasis kompetensi dijelaskan

bahwa kompetensi merupakan gabungan antara kerterampilan, pengetahuan

dan sikap. Kompetensi digunakan untuk melakukan penilaian terhadap

standar, memberikan indikasi yang jelas tentang keberhasilan dalam kegiatan

pengembangan, membentuk sistem pengembangan dan dapat digunakan untuk

menyusun uraian tugas seseorang.29


Dengan demikian, kompetensi dapat dikatakan sebagai suatu

keterampilan serta kemampuan seorang individu dalam melaksanakan suatu

pekerjaan dengan baik. Oleh karena itu, kompetensi lebih cenderungkepada

kemampuan serta keterampilan individu dalam mendasari suatu kinerja dan

perilaku di dalam sebuah organisasi.

d. Tinjauan Tentang Santri

1) Pengertian Santri

Kata santri sendiri, menurut C. C Berg berasal dari bahasa India,

shastri, yaitu orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu atau seorang
sarjana ahli kitab suci agama Hindu. Sementara itu, A. H. John

menyebutkan bahwa istilah santri berasal dari Bahasa Tamil yang berarti

guru mengaji.30 Nurcholish Madjid juga memiliki pendapat berbeda.

Dalam pandangannya asal usul kata “Santri” dapat dilihat dari dua

pendapat. Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa “Santri” berasal

29
Supratman Zakir, “Strategi Pengembangan Kompetensi Siswa dengan Manajemen Berbasis
Sekolah”, Skripsi, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Bukittinggi, Sumatera Barat, 2017
30
Babun Suharto, Dari Pesantren Untuk Umat: Reiventing Eksistensi Pesantrendi Era
Globalisasi (Cet. I; Surabaya: Imtiyaz, 2011 ), h. 9
20

dari kata “sastri”, sebuah kata dari bahasa Sansekerta yang artinya melek

huruf. Pendapat ini menurut Nurcholish Madjid didasarkan atas kaum

santri kelas literary bagi orang Jawa yang berusaha mendalami agama

melalui kitab-kitab bertulisan dan berbahasa Arab. Kedua, pendapat yang

mengatakan bahwa perkataan santri sesungguhnya berasal dari bahasa

Jawa, dari kata “cantrik” berarti seseorang yang selalu mengikuti seorang

guru kemana guru ini pergi menetap.31


Santri adalah sekelompok orang yang tidak bisa dipisahkan dari

kehidupan “ulama”. Santri adalah siswa atau mahasiswa yang dididik dan

menjadi pengikut dan pelanjut perjuangan “ulama” yang setia. Pondok

Pesantren didirikan dalam rangka pembagiantugas mu’minin untuk

iqomatuddin.

2) Jenis-Jenis Santri

Santri adalah para siswa yang mendalami ilmu-ilmu agama di

pesantren baik dia tinggal di pondok maupun pulang setelah selesai waktu

belajar. Zamakhsyari Dhofir membagi menjadi dua kelompok sesuai


dengan tradisi pesantren yang diamatinya, yaitu:

a) Santri mukim, yakni para santri yang menetap di pondok, biasanya

diberikan tanggung jawab mengurusi kepentingan pondok pesantren.

Bertambah lama tinggal di Pondok, statusnya akan bertambah, yang

biasanya diberi tugas oleh kyai untuk mengajarkan kitab-kitab dasar

kepada santri-santri yang lebih junior.

31
Yasmadi, Modernisasi Pesantren: Kritik Nurcholish Madjid Terhadap Pendidikan Islam
Tradisional (Cet. I; Jakarta: Ciputat Press, 2005), h. 61
21

b) Santri kalong, yakni santri yang selalu pulang setelah selesai belajar

atau kalau malam ia berada di pondok dan kalau siang pulang

kerumah.32

e. Tinjauan tentang Kompetensi Santri dalam Dakwah

Kompetensi sebagai suatu pengetahuan, keterampilan dan kemampuan

yang dikuasai oleh seseorang santri yang telah menjadi bagian dari dirinya

sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan


psikomotorik dengan baik saat berdakwah:

1) Pemahaman agama Islam secara cukup, tepat dan benar: tugas seorang

da’i adalah menyebarkan agama Islam ke tengah masyarakat. Semakin

luas pengetahuan agama seorang mubaligh, semakin banyak ia mampu

memberikan ilmu kapada masyarakat. Di samping itu, pemahaman Islam

harus tepat dan benar. Artinya, berbagai bid’ah, kufrat, dan tahayul yang

sering kali ditempelkan oleh Islam harus dihilangkan sama sekali.

2) Pemahaman hakikat gerakan dakwah: gerakan dakwah adalah amar

ma’ruf nahi munkar dalam menampilkan ajaran Islam di tengah-tengah


masyarakat senantiasa dikembalikan pada sumber pokok, yaitu al-Qur’an

dan al-Hadis. Gerakan dakwah merupakan suatu alat, bukan tujuan.

Perjuangan untuk menegakan amal shalih di zaman modern tidak mungkin

dilakukan kecuali dengan organisasi yang rapi dan modern.

3) Memiliki akhlak al karimah: setiap da’i harus memiliki akhlak yang mulia

karena mereka akan dijadikan panutan oleh masyarakat. la akan selalu

32
Harun Nasutionet. al, Ensiklopedia Islam (Cet. I; Jakarta: Depag RI, 1993), h. 1036.
22

diikuti oleh umat. Oleh karena itu, akhlak al karimah harus menjadi

pakaian seharihari para da’i.

4) Mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan umum yang relatif luas:

agar para da’i mampu menyuguhkan ajaran-ajaran Islam dengan lebih

baik, ia harus memiliki pengetahuan umum yang relatif luas. Dalam

kenyatannya, para da’i yang efektif adalah mereka yang mempunyai

pengetahuan yang cukup luas.


5) Mencintai mad’udengan tulus: pada dasarnya, para da’i adalah pendidik

umat. Oleh karena itu, sifat-sifat pendidik yang baik seperti tekun, tulus,

sabar, dan pemaaf juga harus dimiliki oleh para juru dakwah atau da’i.

6) Mengenal kondisi lingkungan dengan baik: menyampaikan pesan-pesan

Islam tidak akan berhasil dengan baik tanpa memahami lingkungan atau

ekologi sosial-budaya dan sosio-politik yang ada. Tabligh Islam tidak

dapat dilepaskan dari setting kemasyarakatan yang ada. Di sinilah da’i

harus jeli dan cerdas memahami kondisi umat ijabah dan umat dakwah

yang dihadapi supaya dapat menyodorkan pesan-pesan Islam tepat sesuai


dengan kebutuhan mereka.

7) Memiliki rasa ikhlas liwajhillah: seorang da’i harus memiliki semboyan,

“Kami bertabligh kepadamu semata-matahanya karena Allah, kami tidak

meminta imbalan darimu dan tidak pula kami mengharap pujian”.

Semboyan ini harus perlu menjadi niat dalam melaksanakan dakwah

Islam. Jika keikhlasan telah menjadi dasar dalam berdakwah, maka

rintangan, hambatan, dan penghalang apapun yang dihadapi insya Allah


23

tidak akan menjadi hal yang memberatkan dan tidak akan membuat putus

asa baginya.33

Kompetensi da’i juga dapat dibedakan antara kompetensi spiritual,

intelektual, moral dan fisik jasmani.

1) Kompetensi spiritual (ruhaniyya>h). Seorang pendakwah hendaknya

memiliki sifat-sifat: Iman dan takwa, ahli taubat, ibadah, shiddiq, amanah,

bersyukur, ikhlas, ramah, penuh pengertian, tawadhu’, sederhana, jujur,


tidak egois tegas, tanggung jawab, sabar dan tawakkal, terbuka dan lemah

lembut. Rasulrasul adalah para pendakwah pilihan Allah swt., mereka

penuh iman dan takwa serta keteladanan.Kompetensi spiritual ini disebut

juga kompetensi personal. Kompetensi spiritual, metodologi dapat

membentuk kemampuan da’i dalam:

a) Komunikasi yang baik (qawlan ma’rufa), yaitu komunikasi efektif.

b) Komunikasi lemah lembut (qawlan layyina). Pendakwah dari kalangan

rakyat kepada mad’useorang raja menggunakan komunikasi layyina

sebagaimana dakwah Nabi Musa as kepada Fir’aun.


c) Komunikasi yang tepat dan benar (qawlan sadida), yaitu komunikasi

yang tidak mengandung kesalahan dan kebohongan.

d) Komunikasi yang mulia (qawlan karima), yaitu komunikasi anak

ketika berdakwah kepada orang tuanya.

33
Abdul Munir Mulkhan, Ideologisasi Gerakan Dakwah (Cet. I; Yogyakarta: Sipres, 1996), h.
273.
24

2) Kompetensi intelektual (‘aqliyah) kompetensi profesional. Ilmu

pengetahuan dan keterampilan pendakwah hendaknya mencakup

penguasaan tentang:

a) Ilmu-Ilmu Islam yang mendalam tentang pesan-pesan dakwah, yaitu:

(1) Tafsir al-Qur’an adalah ilmu yang mempelajari terjemah dan

penjelasan ayat-ayat al-Qur’an, baik menggunakan pendekatan

tafsir tematik maupun tafsir tahlili. Sebelum belajar tafsir


didahului oleh ulum alQur’an.

(2) Hadis adalah perkataan, perbuatan dan sikap Nabi saw. Yang

berfungsi sebagai informasi dan konfirmasi tentang isi kandungan

al-Qur’an. Kitab Hadis yang terkenal ada enam, yaitu Kitab Shahih

Bukhari, Muslim, Turmizi, Nasa’i, Ibnu Majah.

(3) Ilmu Tauhid, yaitu ilmu yang membahas masalah keyakinan

kepada Allah swt. Ilmu ini disebut juga dengan akidah Islam,

Ushuluddin atau Ilmu Kalam.

(4) Ilmu Fikih terdiri dari fikih ibadah, fikih mu’amalah, fikih
munakahat, fikih mawaris dan fikih siyasah.

(5) Akhlak/tasauf adalah ilmu yang berhubungan dengan

pembentukan karakter muslim berdasarkan kesucian rohani

manusia.

(6) Sejarah peradaban umat Islam terdiri dari Sirah Nabawiyah, Rijal

Dakwah dan Sejarah Peradaban Umat Islam.


25

b) Ilmu-ilmu Sosial yang dapat membantu pendakwah dalam pengenalan

mad’u. Di antaranya ialah ilmu komunikasi, psikologi, sosiologi,


antropologi, ilmu hukum, politik, ekonomi.

c) Ilmu Media yang menjadi sarana penyampaian pesan-pesan dakwah

yang argumentatif dan logis. Ilmu media mencakup, metode dakwah,

bahasa, logika, retorika, balaghah dan metodologi, sehingga

pendakwah dapat menjadi operator dan ahli debat, menjadi top


manejer (pimpinan) dalam organisasi dan sebagai pengembang

masyarakat dalam program pembangunan. Manajemen dakwah

membantu da’imenyusun program perencanaan dakwah, pemilihan

metode, penyesuaian pesan, penggunaan waktu dan pengelolaan lokasi

pertemuan. Kompetensi moral (khulqiyah). Para nabi selalu bersifat

shiddiq, amanah, tabligh dan fathonah, bersyukur, ikhlas, ramah dan

penuh pengertian, tawadhu’, sederhana dan jujur, tidak egois, tegas,

tanggung jawab, sabar dan tawakkal, terbuka (demokratis) dan lemah

lembut.
3) Kompetensi fisik (Jasmaniya>h). Da’i hendaknya adalah orang yang sehat

jasmani, memiliki kecukupan materi serta berasal darietnik kaum sendiri.

Kesehatan dan kekuatan fisik dibutuhkan dalam menegakkan Jihad fi

sabilillah, demikian juga harta yang cukup. Para nabidan rasul diutus

Tuhan adalah dari etnis masyarakat sendiri. Kesamaan budaya dan etnis

menimbulkan kedekatan hubungan antara da’i dan mad’u, sebagai mana

Nabi Hud as menjadi pendakwah bagi saudara-saudaranya kaum ‘Ad.


26

Demikian juga kepada kaum Tsamud Allah swt. mengutus saudara mereka

Nabi Shaleh as.34

G. Kerangka Pikir

Kerangka pikiran adalah dasar pemikiran dari penelitian yang disentesiskan

dari fakta-fakta, observasi dan kajian kepustakaan. Kerangka pikir dapat disajikan

dalam bentuk bagan yang menunjukkan alur pikir peneliti.35 Adapun kerangka pikir

dalam penelitian ini, sebagai berikut:

Pesantren Darul Abrar


Kahu Kabupaten Bone

Program Safari Ramadan

Pelaksanaan Kontribusi Kendala

Hasil Penelitian

Gambar 1.1 Bagan Kerangka Pikir

34
Kamaluddin, Kompetensi Da’i Profesional, Jurnal Hikmah, Vol. II, No. 01, (Medan: IAIN
Padangsidimpuan, 2015), h. 100-102.
35
Ismail Nurdin dan Sri Hartati, Metodologi Penelitian Sosial (Cet. I; Surabaya: Media
Sahabat Cendekia, 2019), h. 125
27

Dari kerangka pikir di atas, penulis dapat menguraikan bahwa efektivitas

safari ramadhan terhadap meningkatkan kompetensi santri pada Pesantren Darul

Abrar Kahu Kabupaten Bone yang dikaji dalam dua permasalahan yakni pelaksanaan

program safari ramadhan, kontribusi program safari ramadhan terhadap

meningkatkan kompetensi santri serta kendala pelaksanaan program safari ramadhan

terhadap peningkatan kompetensi santri Pada Pesantren Darul Abrar Kahu Kabupaten

Bone.
H. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian

kualitatif. Penelitian kualitatif yaitu suatu prosedur penelitian yang menggunakan

data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku.36

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data kualitatif. Data

kualitatif merupakan data yang menunjukkan kualitas atau mutu sesuatu yang

ada, baik keadaan, proses, peristiwa atau kejadian dan lainnya yang dinyatakan

dalam bentuk pernyataan atau berupa kata-kata.37


2. Pendekatan Penelitian

a. Pendekatan Komunikasi

Definisi komunikasi menurut Berelson dan Stainer, komunikasi adalah

suatu proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dan lain-lain.

Melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-

36
Muh. Fitra dan Lutfiyah, Metodelogi Peneltian; Penelitian Kualitatif Tindakan Kelas &
StudiKasus (Cet. I; Jawa Barat: CV Jejak, 2017),h.44.
37
Eko Putra Widoyoko, Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian (Cet. I; Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2012), h. 18.
28

angka, dan lain-lain.38 Peneliti menggunakan pendekatan ini karena objek dari

penelitian ini adalah komunikasi organisasi yang merupakan bagian dari

komunikasi.

b. Pendekatan Sosiologi

Sosiologi mempelajari hubungan antar manusia dalam kelompok-

kelompok.39 Pendekatan ini digunakan guna mempermudah memahami

keadaan dan bersosialisasi dengan lingkungan masyarakaat yang diteliti untuk


lebih mudah mendapatkan informasi.

3. Lokasi Penelitian

Lokasi dari penelitian ini yaitu Pesantren Darul Abrar yang terletak di

Desa Balle Kecamatan Kahu Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Menjadi alasan

penulis memilih lokasi penelitian ini, untuk menetahui efektivitas safari ramadhan

terhadap meningkatkan kompetensi santri pada Pesantren Darul Abrar Kahu

Kabupaten Bone.

4. Data dan Sumber Data

a. Data
Data adalah bahan mentah yang perlu diolah sehingga menghasilkan

informasi atau keterangan, baik kualitatif maupun kuantitatif yang

menunjukkan fakta.40 Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini

adalah:

38
Dani Vardiansyah, Filsafat Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar (Cet. II; Jakarta: PT Indeks,
2008), h. 25.
39
BagjaWaluya, Sosiologi Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat (Cet. I; Bandung: PT
Setia PurnaInves, 2007), h. 4.
40
Julia, OrientasiEstetik Gaya Kacapi Indungdalam Kesenian Tembang Sunda Cianjur di
Jawa Barat (Cet. I; Sumedang Jawa Barat: UPI Sumedang Press, 2018), h.47.
29

1) Data primer adalah data atau keterangan yang diperoleh peneliti secara

langsung dari sumbernya41. Data primer yang digunakan dalam penelitian

ini yaitu data yang diperoleh secara langsung dari objek/subjek penelitian

baik melalui individu atau kelompok. Adapun data primer yang dimaksud

oleh penulis di sini yaitu data yang diperoleh langsung dari ustadz dan

santri pesantren Darul Abrar Kahu Kabupaten Bone.

2) Data sekunder adalah keterangan yang diperoleh dari pihak kedua, baik
berupa orang maupun catatan, seperti buku, laporan, bulletin, dan majalah

yang sifatnya dokumentasi.42 Dalam penelitian ini yang menjadi sumber

data sekunder adalah data yang tidak berasal dari sumber data primer yang

dapat memberikan dan melengkapi serta mendukung informasi terkait

dengan objek penelitian, baik berbentuk buku, karya tulis dan orang-orang

yang berkompeten dalam penelitian ini.

b. Sumber Data

Sumber data adalah subyek dari mana data diperoleh.43 Sumber data

dalam penelitian ini adalah informan yang terkait dengan kegiatan safari
ramadhan santri Darul Abrar Kahu Kab. Bone. Dalam penentuan informan

sama halnya menentukan sebuah sampel yang akan dijadikan sumber data.

Penentuan sampel tentunya ada teknik tersendiri yang digunakan. Dalam

penelitian ini ada dua teknik yang digunakan yaitu:

41
Bagjawaluya, Sosiologi Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat, h.79
42
Bagjawaluya, Sosiologi Menyelami Fenomena Sosial di masyarakat, h.79.
43
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Cet. XV ; Jakarta :
Rineka Cipta, 2013), h.172.
30

1) Purposive Sampling

Purposive sampling adalah teknik sampling yang menggunakan kriteria

yang telah dipilih oleh peneliti dalam memilih sampel.

2) Snowball Sampling

Snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan

wawancara atau korespondensasi. Metode ini meminta informasi dari

sampel pertama untuk mendapatkan sampel berikutnya, demikian secara


terus-menerus hingga seluruh kebutuhan sampel terpenuhi.44

Jadi, penentuan sampel dalam penelitian kualitatif dilakukan saat

peneliti mulai memasuki lapangan dan selama penelitian berlangsung.

Caranya yaitu seorang peneliti memilih orang tertentu yang dipertimbangkan

akan memberikan data yang diperlukan. Selanjutnya berdasarkan data atau

informasi yang diperoleh dari sampel sebelumnya itu peneliti dapat

menetapkan sampel lainnya yang dipertimbangkan akan memberikan data

yang lebih lengkap.45

5. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat bantu yang di gunakan dalam metode

pengambilan data oleh peneliti untuk menganalisa hasil penelitian yang dilakukan

pada langkah penelitian selanjutnya. Pada prinsipnya instrumen penelitian

memiliki ketergantungan dengan data-data yang dibutuhkan oleh karena itulah

setiap penelitian memilih instrument penelitian yang berbeda antara satudengan

44
Hikmayanti Huwaida, Statistika Deskriptif (Cet. I; Yogyakarta: Poliban Press, 2019),
h.16-17
45
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D (Cet. IV; Bandung: Alfabeta,
2008), h. 301.
31

yang lainnya.46 Dalam rangka mempermudah perolehan data yang diperlukan di

lapangan atau lokasi penelitian. Adapun instrument penelitian yang digunakan

adalah:

a. Pedoman observasi adalah terlebih dahulu mengumpulkan data, mengamati

dan mencatat secara sistematis gejala-gejala yang akan peneliti teliti di

pesantren Darul Abrar Kahu Kabupaten Bone, alat yang digunakan berupa

daftar ceklis untuk memudahkan calon peneliti dalam melakukan penelitian.


b. Format wawancara yaitu suatu bentuk teknik pengumpulan data yang

dilakukan secara lisan dalam pertemuan tatap muka baik secara individu

maupun kelompok. Penelitian mendapatkan data dengan cara melakukan

Tanya jawab dengan respon den terkait dengan objek penelitian.47 Wawancara

ini dilakukan untuk mewawancarai objek penelitian agar lebih terarah.

c. Alat dokumentasi yaitu alat yang digunakan penulis untuk mengumpulkan

data dengan cara merekam dan memotret kegiatan yang berkaitan dengan

penelitian, sehingga digunakan pula alat dokumentasi berupa rekaman dan

kamera48. Dokumen bisa berbentuk tulisan, video, gambar atau karya-karya


dari seseorang.

6. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah cara yang dilakukan seorang peneliti

untuk mendapatkan data-data dari masyarakat agar ia dapat menjelaskan

46
Ismail Nurdin & Sri hartati, Metodologi Penelitian Sosial (Surabaya: Media Sahabat
Cendekia,2019), h. 40.
47
Nana Syodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan (Cet.II; Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2006), h. 216.
48
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Cet. XIX; Bandung: Alfabeta, 2014),h.329.
32

permasalahan penelitiannya.49 Dalam rangka mengumpulkan data-data untuk

mendukung penelitian ini, maka peneliti menggunakan teknik-teknik sebagai

berikut:

a. Riset Perpustakaan (library research) adalah suatu penelitian yang dilakukan

di perpustakaan untuk menghimpun, mengolah, menganalisis data yang

bersumber dari perpustakaan yang berupa buku, jurnal, majalah, surat kabar

dan sumber lainnya.


b. Riset Lapangan (field research) yaitu pengumpulan data dengan terjun

kelapangan penelitian dengan menggunakan tiga metode secara bersamaan

yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi.50

1) Wawancara

Wawancara disebut juga kuesioner lisan, yaitu suatu dialog yang

dilakukan oleh pewawancara (interview) untuk memperoleh informasi dari

responden. Wawancara digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan

seseorang.51

2) Observasi
Metode observasi ialah Teknik pengumpulan data dengan cara

mengamati langsung objek peneltian lapangan. Melakukan observasi

berarti melakukan pengamatan terhadap hal-hal yang berhubungan dengan

49
Zulfikar, Manajemen Risetdengan Pendekatan Komputasi Statistika (Cet.I; Yogyakarta:
Deepublish, 2014), h. 117.
50
Abdullah K, Tahapan dan Langkah-Langkah Penelitian (Cet. I; Watampone: Luqman al-
Hakim Press, 2013), h. 2.
51
Taufiq Rohman Dhohiri, Sosiologi Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat (Cet.II:Ghalia
Indonesia,2007),h.90-91.
33

suatu peristiwa, suatu gejala, bahkan benda-benda tertentu dalam

masyarakat.52

Dalam mengelola data, data kualitatif yaitu data yang ditentukan

dengan mengkualifikasikan data. Dalam penelitian ini akan menggunakan

metode field research sedangkan library research hanya akan dipakai

untuk memenuhi kajian Pustaka.

3) Dokumentasi
Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang dapat di

peroleh melalui pengumpulan arsip, dokumen, artefak, dan surat kabar.53

7. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah kegiatan mengatur, mengurutkan, mengelompokkan,

memberi kode atau tanda, dan mengategorikan data sehingga dapat ditemukan

dan dirumuskan hipotesis kerja berdasarkan data tersebut. Analisis data berguna

untuk mereduksi kumpulan data menjadi perwujudan yang dapat dipahami

melalui pendeskripsian secara logis dan sistematis sehingga focus studi dapat

ditelaah, diuji, dan dijawab secara cermat dan teliti.54


Model analisis data dalam penelitian ini mengikuti konsep yang diberikan

oleh Miles dan Huberman. Miles dan Huberman mengungkap bahwa aktifitas

dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara

52
Zulfikar, Manajemen Risetdengan Pendekatan Komputasi Statistika, h.117
53
Muhammad Amien, dkk, Smart Plus+ Soshum Pegangan Belajar Siswa (Cet. I; Solo: Genta
Smart Publisher, 2020), h. 889.
54
Mansyur Semma, Negara dan Korupsi (Cet. I; Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008), h.
249.
34

trus menerus pada setiap tahapan penelitian sehingga sampai tuntas. Komponen

dalam analisis data:

a. Reduksi data adalah data yang diperoleh dari laporan jumlahnya cukup

banyak, untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Mereduksi data

berarti merangkum, memilih hal-hal pokok, mengfokuskan pada hal-hal

penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian, data yang direduksi akan

memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk


melakukan pengumpulan data selanjutnya.

b. Penyajian data penelitian kualitatif bisa dilakukan dalam bentuk uraian

singkat, bagan, hubungan antar kategori, dan sejenisnya.

c. Verifikasi atau Penyimpulan data yaitu kesimpulan awal yang dikemukakan

masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti

kuat yang mendukung pada tahap berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan awal

tersebut didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat

pengumpulan data selanjutnya, maka kesimpulan yang dikemukakan

merupakan kesimpulan yang kredibel.55


Adapun analisis data yang dimaksud penulis adalah proses mencari dan

menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi

dan dokumentasi, dalam hal ini diperoleh dari pesantren Darul Abrar Kahu

Kabupaten Bone.

55
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, h. 246-252.
35

I. Daftar Pustaka
Abdul Munir Mulkhan. Ideologisasi Gerakan Dakwah, Yogyakarta: Sipres, 1996.
Abdullah K. Tahapan dan Langkah-Langkah Penelitian, Watampone: Luqman al-
Hakim Press, 2013.
Anisa Mu’arifah. Kompetensi Entrepreneur Kepala Madrasah dalam Pengembangan
Madrasah Unggul di MAN 2 Magetan, Skripsi IAIN Ponorogo, 2021.
Asnawi. Efektivitas Penyelenggaraan Publik Pada Samsat Corner Wilayah Malang
Kota, Skripsi, S-1 Jurusan Ilmu Pemerintahan, FISIP, UMM, 2013.
Babun Suharto. Dari Pesantren Untuk Umat: Reiventing Eksistensi Pesantrendi Era
Globalisasi, Surabaya: Imtiyaz, 2011.
BagjaWaluya. Sosiologi Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat, Bandung: PT
Setia PurnaInves, 2007.
Dani Vardiansyah. Filsafat Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Jakarta: PT Indeks,
2008.
Darmadi. Manajemen Sumber Daya Manusia Kekepalasekolahan, Yogyakarta:
Deepublish, 2018.
Didin Hafiduddin. Dakwah Actual, Jakarta: Gem Insani Press, 1998.
E. Mulyasa. Manajemen Berbasis Sekolah, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011.
Eko Putra Widoyoko. Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2012.
Enjang dan Aliyudin. Dasar-Dasar Ilmu Dakwah, Bandung: Widya Padjadjaran,
2009.
Faizah dan Lalu Muchsan Effendi. Psikologi Dakwah, Jakarta: Prenamedia Group,
2018.
Frans Mardadi Hartanto. Paradigma Baru Manajemen Indonesia menciptakan nilai
dengan bertumupu pada kebijakan dan potensi isani, Bandung: Mizan, 2009.
Hariadi, Studi Kepemimpinan Kiai Berbasis Orientasi ESQ, Yogyakarta: PT. LKiS,
2015.
Harun Nasutionet. Ensiklopedia Islam, Jakarta: Depag RI, 1993.
Haykal Makmun. “Strategi Pembinaan dalam Meningkatkan Kompetensi Santri Guna
Menjalankan Dakwah Muhammadiyah” Skripsi, Universitas Muhammadiyah,
Yogyakarta, 2019.
Hikmayanti Huwaida. Statistika Deskriptif, Yogyakarta: Poliban Press, 2019.
Ismail Nurdin & Sri hartati. Metodologi Penelitian Sosial, Surabaya: Media Sahabat
Cendekia, 2019.
36

Julia, OrientasiEstetik Gaya Kacapi Indungdalam Kesenian Tembang Sunda Cianjur


di Jawa Barat, Sumedang Jawa Barat: UPI Sumedang Press, 2018.
Junar W. Suwignya Salmin Dengo Jericho D. Pombengi. “Efektifitas Pelayanan Izin
Mendirikan Bangunan di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu
Satu Pintu Kota Manado” Jurnal, UNSARAT 2018.
Kamaluddin. Kompetensi Da’i Profesional, Jurnal Hikmah, Vol. II, No. 01, Medan:
IAIN Padangsidimpuan, 2015.
Mansyur Semma. Negara dan Korupsi, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008.
Mohamad Feri Yustanto Prabowo. “Persepsi Masyarakat Terhadap Program Safari
Ramadhan Pemerintah Kota Kediri” Skripsi, Fakultas Ushuluddin dan
Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri, Kediri, 2019.
Muasaroh, Latifatul. Aspek-Aspek Efektivitas, Yogyakarta: Literatur Buku, 2010.
Muh. Fitra dan Lutfiyah. Metodelogi Peneltian; Penelitian Kualitatif Tindakan Kelas
& StudiKasus, Jawa Barat: CV Jejak, 2017.
Muhammad Amien, dkk. Smart Plus+ Soshum Pegangan Belajar Siswa, Solo: Genta
Smart Publisher, 2020.
Muhammad Nurul Huda dan Muhammad Turhan Yani. “Pelanggaran Santri terhadap
Peraturan Tata Tertib Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah Kranji
Lamongan”, Jurnal, Fakultas Ilmu Sosial-Universitas Negeri Surabaya,
Surabaya No. 03 2015
Nana Syodih Sukmadinata. Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2006.
Rohmad. “Kompetensi Dakwah dan Praktek Safari Romadhan Santri Darussalam
Sumbersari Kencong Kepung Kediri” Jurnal, Pendidikan Dan Studi Keislman
Pascasarjana Institut Agama Islam Tribakti Kediri, Kediri Nomor 2, Agustus
2019.
Sanjaya, W. Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Jakarta: Prenada Media Grup, 2008.
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Alfabeta, 2014.
Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta : Rineka
Cipta, 2013.
Sukmadinata, N. S. Kurikulum dan Pembelajaran Kompetensi, Bandung: PT. Refika
Aditama, 2012.
Supratman Zakir. “Strategi Pengembangan Kompetensi Siswa Dengan Manajemen
Berbasis Sekolah”, Skripsi, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN
Bukittinggi, Sumatera Barat, 2017
Taufiq Rohman Dhohiri. Sosiologi Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat, Ghalia
Indonesia, 2007.
37

Tim Penyusun. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa Departemen
Pendidikan Nasional, 2008.
Yasmadi. Modernisasi Pesantren: Kritik Nurcholish Madjid Terhadap Pendidikan
Islam Tradisional, Jakarta: Ciputat Press, 2005.
Yuniarsih, T., & Suwatno. Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan
Dari Teori ke Praktik, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009.
Zulfikar. Manajemen Risetdengan Pendekatan Komputasi Statistika, Yogyakarta:
Deepublish, 2014.
J. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan adalah pembagian atau pemetaan isi skripsi ke dalam

urutan bab dan sub-bab, sesuai dengan topik dan permasalahannya. Untuk

memudahkan pembahasan masalah dalam penelitian, penulis membagi ke dalam

beberapa bab yang di dalamnya terdiri dari beberapa sub bab, yaitu:

Bab I Pendahuluan, pada bab ini akan dijelaskan mengenai latar belakang,

rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian

dan sistematika pembahasan.

Bab II Kajian pustaka, pada bab ini akan diuraikan kajian penelitian terdahulu,

kajian teori, dan kerangka pikir.

Bab III Metode penelitian, pada bab ini akan dijelaskan mengenai jenis dan

pendekatan penelitian, lokasi dan waktu penelitian, data dan sumber data,
subjek dan objek penelitian, teknik pengumpulan data,teknik pengujian

data, dan teknik analisis data.

Bab IV Hasil dan pembahasan berisi tentang hasil penelitian dan pembahasan.

Bab V Penutup berisi tentang kesimpulan dan saran.