Anda di halaman 1dari 10

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

Disusun Oleh :
Nada Nusaibah
2114901077
Profesi Ners

POLTEKKES KEMENKES TANJUNG KARANG

JURUSAN KEPERAWATAN TANJUNG KARANG

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

TAHUN 2021
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik : Demam Berdarah Dengue (DBD)

Sasaran : Keluarga Pasien

Waktu : 30 Menit

Tanggal : 3 November 2021

Tempat : Ruang Anak RSUD Pringsewu

I. Latar Belakang
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit akut yang diakibatkan oleh
infeksi virus dengue. Penularan virus dengue itu melalui gigitan nyamuk aedes
albopictus, aedes polynesiensis dan aedes aegypti (Wowor, 2017). Penularan juga
bisa terjadi melalui perkawinan antara nyamuk jantan dan nyamuk betina serta
penularan transovarial dari induk nyamuk ke keturunannya. Dari beberapa
penularan virus dengue yang paling sering yaitu penularan melalui gigitan aedes
aegypti. Virus dengue yang sudah masuk kedalam tubuh nyamuk akan
berkembang biak selama 8 sampai 10 hari sebelum ditularkan ke manusia. Waktu
yang dibutuhkan virus untuk berkembang tergantung suhu lingkungan.
Menurut World Health Organization (WHO), Demam Berdarah Dengue
(DBD) sering ditemukan di daerah tropis dan subtropis. Data World Health
Organization (WHO) menunjukan bahwa Asia menempati urutan pertama dari
jumlah penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) tiap tahunnya (WHO, 2012).
Pada konteks Asia Tenggara, Indonesia menempati urutan ke dua setelah
Thailand terkait tingginya angka penyakit DBD (PUSDATIN, 2013). Hal ini
dikarenakan Indonesia terletak di daerah tropis dan rentan terhadap perubahan
iklim. Perubahan iklim akan mempengaruhi perkembangan atau mempercepat
pertumbuhan nyamuk aedes aegypti sehingga siklus hidupnya menjadi lebih
singkat. Di Indonesia Demam Berdarah Dengue (DBD) telah menjadi masalah
kesehatan baik di wilayah perkotaan maupun wilayah semi-perkotaan. Perilaku
vektor ada hubungannya dengan lingkungan dan dapat mempengarui terjadinya
wabah Demam berdarah dengue (DBD) di daerah perkotaan. Penyebaran dengue
dapat dipengaruhi oleh faktor iklim seperti curah hujan, kelembapan, dan suhu.
Pada musim hujan kelangsungan hidup nyamuk akan lebih lama karena tingkat
kelembapan tinggi (Nazri dkk, 2013).
Menurut data Kementrian Kesehatan (2013), menunjukan bahwa Indonesia
menjadi endemis Demam Berdarah Dengue (DBD) sejak tahun 1968 sampai 2013,
menyebar di 33 provinsi dan di 436 kabupaten atau kota dari keseluruhan
kabupaten atau kota yang berjumlah 497. Untuk angka kesakitan atau incidence
rate (IR) DBD dari tahun 1968 terus meningkat, menurun pada tahun 2010-2011
dan meningkat pada tahun 2012-2013 (41,25 per 100.000 penduduk).
Gejala penyakit DBD yaitu demam dengan suhu 380C sampai 390C. Apabila
demam lebih dari 3 hari perlu dilakukan uji torniket, pemeriksaan IgM, IgG, IgM
dengue. Pemeriksaan IgG biasa dilakukan setelah melewati hari ke-3, sedangkan
pemeriksaan NS-1 diperiksa pada hari pertama atau ke-3 yang bertujuan untuk
mendeteksi virus dengue lebih awal (Rafif, 2018). Selain itu dilakukan
pemeriksaan cek darah rutin yang meliputi hemoglobin, hematokrit, leukosit dan
trombosit. Tes tersebut harus dilakukan sampai penderita melewati fase kritis, yaitu
fase yang terjadi setelah 5 hari menjalani fase demam dan merupakan fase yang
paling sering terjadi kecolongan sehingga dapat menyebabkan keparahan bahkan
meninggal (Rafif, 2018).
Berdasarkan hasil obsevasi yang dilakukan di ruang anak, rata-rata anak yang
masuk dan dirawat di ruang anak menderita demam berdarah dengue (DBD).
Berdasarkan permasalahan diatas, maka penulis ingin memberikan intervensi
pendidikan kesehatan mengenai demam berdarah dengue (DBD).

II. Tujuan
A. Umum
Setelah mengikuti pendidikan kesehatan, keluarga pasien mampu memahami
tentang penyakit demam berdarah dengue (DBD).
B. Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan selama 1x30 menit, keluarga pasien diharapkan
dapat memahami tentang :
1. Pengertian Demam Berdarah Dengue (DBD)
2. Penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD)
3. Tanda dan gejala Demam Berdarah Dengue (DBD)
4. Komplikasi Demam Berdarah Dengue (DBD)
5. Penanganan Demam Berdarah Dengue (DBD)
6. Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD)

III. Sasaran
Keluarga pasien
IV. Rancangan Pelaksanaan
A. Metode
Ceramah dan diskusi.
B. Materi penyuluhan
Terlampir
C. Waktu dan tempat
Hari, tanggal : Rabu, 3 November 2021
Waktu : 09.00 s.d 09.30 WIB
Tempat : Ruang Anak RSUD Pringsewu
D. Media
Lembar balik dan leaflet
E. Setting Tempat

Keterangan :
: Keluarga Pasien

: Penyaji

F. Strategi Pelaksanaan
No Kegiatan Respon peserta waktu
1 Pendahuluan
- Memberi salam - Menjawab salam 5 menit
- Menyampaikan pokok bahasan - Menyimak
- Menyampaikan tujuan - Menyimak
- Melakukan apersepsi - Menyimak
2 Isi
- Penyampaian materi Memperhatikan dan mengikuti 15 menit
Materi : demonstrasi
1. Jelaskan pengertian Demam
Berdarah Dengue (DBD)
2. Jelaskan penyebab Demam
Berdarah Dengue (DBD)
3. Jelaskan tanda dan gejala
Demam Berdarah Dengue
(DBD)
4. Jelaskan komplikasi Demam
Berdarah Dengue (DBD)
5. Jelaskan penanganan
Demam Berdarah Dengue
(DBD)
6. Jelaskan cara mencegah
terjadinya Demam Berdarah Bertanya
Dengue (DBD) Mendengarkan
- Diskusi
- Kesimpulan
3 Evaluasi
Meminta keluarga menjelaskan dan Menjawab pertanyaan 5 menit
menyebutkan kembali :
1. Jelaskan pengertian Demam
Berdarah Dengue (DBD)
2. Sebutkan tanda dan gejala
Demam Berdarah Dengue
(DBD)
3. Jelaskan cara penanganan
Demam Berdarah Dengue
(DBD)
4 Penutup Mendengarkan dan menjawab salam 5 menit
- Mengucapkan terima kasih dan
mengucapkan salam.

G. Kriteria Evaluasi
1. Evaluasi persiapan
- Satuan acara penyuluhan sudah dibuat sebelum kegiatan dimulai
- Kontrak dengan keluarga
- Menyiapkan instrument lembar balik, leaflet
2. Evaluasi proses
- Penyaji mengkoordinir kegiatan pendidikan kesehatan kemudian
dilakukan evaluasi.
- Klien mengikuti proses dari awal sampai selesai.
3. Evaluasi hasil
- Penyaji mengajukan pertanyaan secara lisan langsung kepada sasaran
sesuai tujuan khusus.
- Bila klien dapat menjawab >75%, maka dikategorikan baik, dan jika
<75% maka dikategorikan kurang memahami materi yang disampaikan.
Lampiran

DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

A. Definisi
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan atau nyeri sendi yang
disertai leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan ditesis hemorogik
(Novitasari, dkk., 2019).
Demam berdarah / DHF (Dengue haemorragic fever) adalah penyakit yang ditandai
dengan panas dan perdarahan yang disebabkan oleh gigitan nyamuk demam berdarah
(Aedes Aegepty).

B. Penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD)


Penyebabnya terjadi akibat gigikan nyamun aedes Aegepty yag sebelumnya
membawa virus dalam tubuhnya dari penderita demam berdarah lain. Virus dengue,
termasuk genus flavivirus, keluarga flaviridae. Terdapat 4 serotipe virus yaitu DEN-1,
DEN-2, DEN-3, dan DEN-4 yang ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 serotype
terbanyak

C. Tanda dan Gejala Demam Berdarah Dengue (DBD)


1. Demam selama 2-7 hari kemudian turun secara cepat
2. Jika keadaan bertambah parah dapat menyebabkan syok
3. Timbulnya beberapa gejala klinik yang menyertai seperti mual, muntah, penurunan
nafsu makan (anoreksia), sakit perut, diare, menggigil, kejang, dan sakit kepala
4. Mengalami perdarahan pada hidung (mimisan) dan gusi
5. Sakit dan pegal pada persendian
6. Munculnya bercak-bercak merah pada kulit (ptekie)

D. Akibat Epilepsi
Adapun kompikasi dari penyakit demam berdarah diantaranya :
1. Perdarahan gastrointestinal karena trombositopenia serta terganggunya
fungsi trombosit disamping difisiensi yang ringan
2. Syok hipovolemik karena kekurangan volume plasma sampai 20% atau
lebih menghilangnya plasma melalui endhotelium ditandai dengan
peningkatan hematokrit yang menyebabkan asidosis metabolic bahkan
menimbulkan kematian.
3. Efusi pleura terjadi karena kerusakan dinding pembuluh darah yang
bersifat sementara dengan pemberian cairan yang cukup.
4. Kegagalan sirkulasi darah terjadi karena kerusakan sistem vaskuler dengan
adanya peningkatan permeabilitas pembuluh darah terhadap protein plasma dan
efusi pada ruang serosa di bawah peritoneal pleura.

E. Penanganan Awal Demam Berdarah Dengue (DBD)


1. Kompres dahi, leher, ketiak dan dada saat anak demam
2. Pastikan anak mendapatkan istirahat yang cukup
3. Berikan banyak cairan pada anak untuk mencegah dehidrasi
4. Berikan makanan kaya nutrisi
5. Segera konsultasi ke dokter atau bawa anak ke RS untuk dilakukan pemeriksaan
lebih lanjut

F. Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD)


1. Menguras
Menguras wadah air seperti bak mandi, vas bunga, penampung air
2. Menutup
Menutup rapat semua wadah air
3. Mengubur
Mengubur semua barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan seperti
ban bekas, kaleng bekas, dll
4. Memantau
Memantau semua wadah air yang dapat menjadi tempat nyamuk
5. Jangan mengantung pakaian kotor terlalu lama
6. Jika memelihara ikan dalam aquarium atau kolam harus rutin dibersihkan minimal
1 kali/minggu
7. Hindari gigitan nyamuk
8. Membubuhkan abote
G. Perawatan Pemulihan Penyakit Setelah di Rawat di Rumah Sakit
1. Berikan istirahat yang cukup pasca perawatan
2. Konsumsi air putih
3. Makan makanan yang lunak, hindari makanan yang terlalu asam dan pedas
4. Melakukan 4M Plus
5. Minum obat sesuai aturan
6. Kontrol sesuai jadwal setelah pulang dari rumah sakit
DAFTAR PUSTAKA

Nazri, C. ., Hashim, A., Rodziah, I., & Hassan, A.Y. (2013). Utilization
of geoinformationtools for dengue control managementstrategy: a case study in
Seberang Prai, Penang Malaysia. International Journal of Remote Sensing
Applications, 3(1), 11-17.
Novitasary, Fransisca. P., Mariah, D., Nakka, G., 2019. Manajemen Discharge
Planning Pada Pasien Demam Berdarah Dengue (DBD). Jurnal Kesehatan. Vol (2),
No (2).
PUSDATIN. (2013). Situasi demam berdarah dengue di indonesia.
www.depkes.go.id/article/print/.../wilayah-klb-dbd-ada-di-provinsi.html%0A%0A
Rafif, Naufal. (2018). Perbedaan Manifestasi Klinis Penyakit Pada Pasien Demam
Berdarah Dengue Infeksi Primer Dan Sekunder. (Skripsi, Universitas Lampung).
WHO. (2012). Dengue and Severe Dengue. http://www.who.int/mediacentre/factsheets
/fs117/en/
Wowor, R. (2017). Pengaruh kesehatan lingkungan terhadap perubahan
epidemiologi demam berdarah di Indonesia. Jurnal E-Clinic, 5(2).