Anda di halaman 1dari 4

MUHAMAD RIFQI. UTS MATA KULIAH PENGANTAR INTERDISIPLINER.

1. Jelaskan pengertian istilah studi interdisipliner!


2. Pilih salah satu tema penelitian yang sesuai dengan latar belakang/minat studi anda dan jelaskan inti
persoalan penelitian dalam tema tersebut!
3. Pilih disiplin ilmu yang yang bisa dijadikan pendekatan untuk menyelesaikan persoalan tersebut!

1. Studi interdisipliner bukan sekedar istilah untuk sebuah nama mata kuliah. Ia adalah
penelitian yang berusaha menghasilkan pandangan objektif dari pengkajian masalah yang
diangkat didalam penelitian tersebut. Dalam konteks proses merespon penelitian untuk
penelitian. Hasil-hasil penelitian yang bersifat kontraversi, kritis, maupun konstruktif, tidak
boleh asal diterima/didukung, ditolak, atau dijustifikasi begitu saja, melainkan mesti terlebih
dahulu dipelajari secara utuh. Unsur-unsur hipotesis dan interpretasi terhadap konsep-konsep
serta gagasan dari suatu penelitian perlu diuji dengan fakta-fakta baru. Bahkan dikritik dengan
perspektif ilmu yang berbeda berdasarkan pada fakta-fakta baru.

Studi interdisipliner bercorak integratif-interkonektif antar berbagai disiplin ilmu. Dalam hal ini,
Prof. Dr. Amin Abdullah memandang pola hubugan antar berbagai ilmu seperti disiplin ilmu
keagamaan dan non keagamaan mirip dengan jaring laba-laba keilmuan. Ia lebih dalam
menjelaskan bahwa:

Antar berbagai disiplin yang berbeda tersebut saling berhubungan dan berinteraksi secara aktif-dinamis. Yang jarang
terbaca atau luput dari pengamatan dalam melihat gambar metaforis “opular laba-laba keilmuan” itu adalah adanya
garis putus-putus, menyerupai pori-pori yang melekat pada dinding pembatas antar berbagai disiplin keilmuan
tersebut. Dinding pembatas yang berpori-pori tersebut tidak saja dimaknai dari segi batas-batas disiplin ilmu, tetapi
juga dari batas-batas ruang dan waktu (space and time), corak berpikir (worldview) atau ‘urf dalam istilah teknis
keilmuan Islam. Yakni, antara corak dan budaya berpikir era classical, medieval, modern dan post-modern. Pori-pori
tersebut ibarat lobang opula pada dinding (ventilasi) yang berfungsi sebagai pengatur sirkulasi keluar-masuknya
udara dan saling tukar informasi antar berbagai disiplin keilmuan. Masing-masing disiplin ilmu, berikut world view,
budaya opul, tradisi atau ‘urf yang menyertainya, dapat secara bebas saling berkomunikasi, berdialog, menembus-
mengirimkan pesan dan masukan temuan-temuan yang freshdi bidangnya ke disiplin ilmu lain di luar bidangnya.
Ada pertukaran informasi keilmuan dalam suasana bebas,nyaman dan tanpa beban disitu. Masing-masing disiplin
ilmu masih tetap dapat menjaga identitas dan eksistensinya sendiri-sendiri, tetapi selalu terbuka ruang untuk
berdialog, berkomunikasi dan berdiskusi dengan disiplin ilmu lain. Tidak hanya dapat berdiskusi antar rumpun
disiplin ilmu kealaman secara internal, namun juga mampu dan bersedia untuk berdiskusi dan menerima masukan
dari keilmuan external, seperti dengan ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Ilmu-ilmu agama atau yang lebih opular
disebut dengan Ulumu al-din tidak terkecuali disini. Ia juga tidak dapat berdiri sendiri, terpisah, terisolasi dari
hubungan dan kontak dengan keilmuan lain di luar dirinya. Ia harus terbuka dan membuka diri serta bersedia
berdialog, berkomunikasi, menerima masukan, kritik dan bersinergi dengan keilmuan alam, keilmuan sosial dan
humaniora. Tidak ada disiplin ilmu apapun yang menutup diri, tidak ada disiplin ilmu yang tertutup oleh pagar dan
batas-batas ketat yang dibuatnya sendiri. Batas masing-masing disiplin ilmu masih tetap ada dan kentara, tapi batas-
batas itu bukannya kedap sinar dan kedap suara. Tersedia lobang-lobang kecil atau pori-pori yang melekat dalam
dinding pembatas disiplin keilmuan yang dapat dirembesi oleh dimasuki oleh disiplin ilmu lain (Amiin Abdullah
dkk,2014:7-8) .
Nomor 2 dan 3

Masyarakat Indonesia sudah banyak dikaji oleh para peneliti. Kendati demikian, tidak
banyak diantara mereka seperti Clifford Geertz, memiliki pengaruh kuat didalam perkembangan
studi-studi antropologi dan sosiologi di Indonesia. Ada banyak studi Geertz tentang Masyarakat
Indonesia, namun yang paling menarik perhatian berbagai kalangan intelektual adalah studi yang
ia buat untuk desertasi doktoral di Harvard University Jurusan Hubungan-hubungan Sosial pada
tahun 1956. Studi Geertz ini diberi judul The Religion of Java.
Dalam studinya, Geertz mengklasifikasikan Masyarakat kedalam tiga struktur kelas:
Priyayi, Abangan, dan Santri, yang oleh para pengadopsinya mencirikan hampir seluruh aspek
Masyarakat Indonesia, baik agama, politik, sosial, budaya maupun ekonomi.1 Selama ini
pengadopsi klasifikasi Geertz menganggap tipologi Geertz masih relevan dipakai untuk
menjelaskan konsep-konsep antropologis seperti slametan dan untuk menjelaskan konsep-konsep
sosiologis seperti komunitas religius-politik. Penulis tidak setuju dengan pandangan itu, dan
berpendapat bahwa klasifikasi Geertz tidak relevan didalam perkembangan masyarakat. Tulisan
ini ingin menolak klasifikasi Geertz tentang tiga struktur kelas Masyarakat, bukan hanya karena
dia memakai kategorisasi yang tidak paralel, melainkan juga karena deskripsinya tentang setiap
kategorisasi tidak bisa dipertahankan. Untuk mencapai pada kesimpulan ini, penulis memakai
metode abduktif yang menekankan the logic of discovery. Pertama, penulis akan melihat
proposisi Geertz yang digunakan sebagai deskripsi tentang ketiga klasifikasi tersebut. Kedua,
penulis akan memeriksa proposisi Geertz dengan data-data literatur maupun lapangan.
Didalam studinya, Geertz menjelaskan tiga struktur kelas Masyarakat Indonesia sebagai berikut:

Priyayi adalah kalangan aristokrasi turun-temurun yang oleh Belanda dicomot dengan
mudah dari raja-raja pribumi yang ditaklukkan untuk kemudian diangkat sebagai pegawai
sipil yang digaji. Elite pegawai kerah-putih ini ujung akarnya terletak pada keraton Hindu-
Jawa sebelum masa kolonial. Mereka memelihara serta mengembangkan etiket keraton
yang sangat halus, sebuah seni tari, sandiwara, musik dan puisi, yang sangat kompleks dan
mistisisme Hindu-Buddha. Abangan adalah kalangan petani yang memiliki kepercayaan
yang luas dan kompleks terhadap mahluk halus serta serangkaian teori dan praktik
pengobatan, sihir serta magi. Tradisi keagamaan abangan, yang terutama sekali terdiri atas

1
Beberapa peneliti yang memakai klasifikasi Geertz seperti Niels Mulder. 2001. Mistitisme Jawa: Ideologi Di
Indonesia. Penerj: Wisnu Hardana. Yogyakarta: LKiS; Subair, Abangan, Santri, Priyayi: Islam dan Politik
Identitas Kebudayaan Jawa, dalam Jurnal Dialektika, Vol. 9, No. 2, Januari Desember 2015, h. 34-46;
Muhamad Sairi, 2017. Islam dan Budaya Jawa Dalam Perspektif Clifford Geertz, UIN Syarif Hiadayatullah
Jakarta: Skripsi.
pesta keupacaraan yang disebut slametan. Santri adalah kalangan pedagang yang memiliki
kepercayaan terhadap Islam yang lebih murni. Tradisi keagamaan Santri tidak hanya
terdiri atas pelaksanaan ritual dasar Islam secara cermat dan teratur—sembahyang, puasa,
haji—tetapi juga mencakup seluruh organisasi sosial, kedermawanan serta politik Islam.2

Deskripsi Geertz tersebut perlu dipertanyakan, misalnya, apakah hanya kalangan petani saja
yang menjalankan slametan? Apakah hanya kalangan priyayi saja yang menjadi elit pegawai
kerah putih di Indonesia? Apakah Islam hanya dijalankan oleh kalangan pedagang saja?.
Menurut Geertz, budaya santri bersifat antibirokratik, independen, dan egaliter. Mereka
terutama hidup di daerah urban, melakukan kegiatan ekonomi sebagai pedagang. Geertz
menemukan kesamaan antara nilai-nilai ekonomi santri dan etika Protestan Weberian. Dalam
politik, santri cenderung memilih partai-partai agama seperti Masyumi dan Nahdlatul Ulama.
Abangan adalah kelompok petani yang tidak terlalu peduli pada praktik formal agama Islam.
Berbeda dengan santri, abangan sebagian besar tinggal di daerah pedesaan. Dalam politik,
mereka cenderung mendukung partai-partai “sekular” atau non-religius seperti Partai Nasionalis
Indonesia (PNI), Partai Sosialis Indonesia (PSI), dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Sementara
itu, priyayi adalah kelompok sinkretik yang lebih percaya pada nilai-nilai Hindu-Jawa daripada
Islam. Priyayi adalah kelompok elit Jawa yang hidup di sekitar kraton. Dalam politik, seperti
halnya abangan, sebagian besar priyayi mendukung partai-partai sekular-nasionalis.3
Hasil pengamatan penulis ternyata berbeda dengan deskripsi Geertz. Pertama, di pedesaan
wilayah Cirebon slametan tidak hanya dipraktikkan oleh kalangan petani saja, melainkan
berbagai kalangan yang memiliki perbedaan profesi. Baik polisi, perangkat desa, bidan, maupun
pedagang memandang slametan sebagai ritual keagamaan yang penting. Dalam hal ini, ada
berbagai macam slametan yang mereka lakukan, antara lain mitungdina, matangpuluhdina,
walimahan, nujubulan, akikahan, puputan, dan khitanan. Kedua, pos-pos strategis dalam
Birokrasi di Cirebon kebanyakan diisi oleh orang-orang yang cenderung rajin melakukan sholat
dan puasa. H. Imron yang sekarang ini menjabat sebagai Bupati Kabupaten Cirebon dikenal
banyak orang sebagai kalangan santri. Nilai-nilai Keraton tidak banyak dipelihara dan
dikembangkan. Kebanyakan pegawai kerah putih memelihara nilai-nilai kolektif Islam dan
mengembangkan kegiatan keagamaan komunitas mereka. Kepengurusan dan keanggotan
organisasi NU dan Muhamadiyah yang jika mengikuti anggapan Geertz hanya tersusun dari
2
Geertz, Clifford. 2014. Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi Dalam Kebudayaan Jawa. Penerj: Aswab
Mahasin & Bur Rasuanto. Depok: Komunitas Bambu. H. Xxx-xxxii
3
Ibid,
kalang pedagang berbeda dengan NU dan Muhamadiyah di Cirebon. NU beserta Partai
Kebangkitan Bangsa tidak hanya dimasuki oleh para pedagang di pasar Tegalgubug, tetapi juga
para petani yang rutin mengikuti kegiatan jam’iyah, ada pula yang profesinya sebagai pegawai.
Begitupun pada kepengurusan dan keanggotaan Muhamadiyah, yang banyak terdiri atas
kalangan pegawai negeri dan swasta serta pedagang.
Selain itu, di berbagai wilayah Jawa, kata Harsja W. Bachtiar, banyak petani membangun
paling tidak satu langgar di setiap desa, mengikuti shalat Jumat, dan naik haji. Diantara mereka
juga banyak yang menempuh segala upaya untuk memperoleh cukup uang agar bisa naik haji ke
Mekah. Begitu pula, mengaitkan santri dengan kelas pedagang tidak sepenuhnya akurat, karena
mereka “ada di setiap kategori sosial, bangsawan dan orang biasa, pedagang dan petani, muda
dan tua, tradisional dan modern, berpendidikan dan tidak berpendidikan”. Bachtiar juga
menyalahkan Geertz karena mengaitkan priyayi dengan nilai-nilai Hindu-Jawa. Sebaliknya,
Bachtiar berargumen bahwa “priyayi-priyayi terkenal, termasuk sultan-sultannya, adalah santri,
seperti Sultan Agung dan Pangeran Diponegoro”.4
Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa Masyarakat Indonesia tidak bisa
digambarkan hanya dalam satu generalisasi. Satu deskripsi saja tidak cukup memadai untuk
menggambarkan seluruh aspek Masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia juga tidak dapat
dicirikan hanya dengan berdasarkan pengamatan dan analisa terhadap satu komunitas kedaerahan
saja.

4
Luthfi Assyaukanie. 2011. Ideologi Islam dan Utopia. Penerj: Samsudin Berlian. Jakarta: Freedom Institute. H. 5

Anda mungkin juga menyukai