Anda di halaman 1dari 18

I.

PENDAHULUAN
Trauma adalah penyebab II. DEFINISI
kematian utama pada anak dan orang Trauma dada dapat merupakan
dewasa kurang dari 44 tahun. trauma tajam atau tembus thoraks yang
Penyalahgunaan alkohol dan obat telah dapat menyebabkan tamponade jantung,
menjadi faktor implikasi pada trauma perdarahan, pneumothoraks,
tumpul dan tembus serta trauma yang hematothorks, hematopneumothoraks.
disengaja atau yang tidak disengaja. Trauma thorax adalah semua
Thoraks adalah daerah pada tubuh ruda paksa pada thorax dan dinding
manusia (atau hewan) yang berada di thorax, baik trauma atau ruda paksa
antara leher dan perut (abdomen). tajam atau tumpul. Trauma thorak dapat
Thoraks dapat didefinisikan sebagai area disebut juga trauma yang terjadi pada
yang dibatasi di superior oleh thoracic toraks yang menimbulkan kelainan pada
inlet dan inferior oleh thoracic outlet, organ-organ di dalam toraks.
dengan batas luar adalah dinding thoraks
yang disusun oleh vertebra torakal, iga-
iga, sternum, otot, dan jaringan ikat.
Cedera dada sering terjadi dan
menyebabkan suatu variasi luka,
berkisar dari luka lecet sederhana dan
luka memar sampai yang mengancam
nyawa yang mengenai isi rongga dada.
Trauma dada juga memiliki morbiditas
yang tinggi. Dua puluh persen dari
semua kematian akibat trauma
disebabkan oleh trauma dada, terbanyak
kedua setelah cedera pada kepala dan
tulang belakang. Secara kebetulan, III. INSIDEN
banyak cedera dada tidak membutuhkan Di Amerika Serikat, cedera dada
intervensi bedah mayor. Banyak cedera berjumlah kira-kira 25 % dari semua
dinding dan dalam dada dapat diatasi trauma penyebab kematian. Secara
dengan pipa thoracostomy sederhana, keseluruhan, angka mortalitas untuk
ventilasi mekanik, pengendalian nyeri orang-orang dengan cedera dada sekitar
yang agresif, dan tindakan suportif 10%. Cedera dada penyebab 25 %
lainnya. Pasien-pasien tua dan pasien kematian akibat trauma di Amerika
lainnya dengan penurunan volume Serikat. Banyak kematian tersebut
cadangan paru lebih mudah seharusnya dapat dicegah dengan
mendapatkan serangan gawat napas dan diagnosis dan pengobatan yang cepat.
paling kurang akan membutuhkan Diantara pasien-pasien yang ditransfer
observasi di instalasi gawat darurat. ke ruang operasi dalam 24 jam pertama,
Karena dokter instalasi gawat darurat insiden dari trauma tumpul dada
akan sering menghadapi pasien-pasien dilaporkan telah meningkat sebesar
dengan cedera paru dan dinding dada, 62,5%. Pada penelitian Canadian selama
perlu seluk- beluk pengetahuan 5 tahun yang diakui oleh unit trauma,
patofisiologi dan pengobatan trauma 96,3% mendukung terjadinya trauma
dada. tumpul, sisanya 3,7% cedera dengan

1
mekanisme penetrasi. Penyebab trauma isinya dapat membatasi kemampuan
tumpul berhubungan dengan kecelakaan jantung untuk memompa darah atau
lalu lintas (70%), bunuh diri (10%), kemampuan paru untuk pertukaran udara
jatuh (8%), pembunuhan (7%), dan lain- dan oksigen darah. Bahaya utama
lain (5%). Insidensi cedera dada sebesar berhubungan dengan luka dada biasanya
46%. Untuk pasien dengan cedera dada, berupa perdarahan dalam dan tusukan
angka mortalitas sebesar 15,7%, untuk terhadap organ.
yang tanpa cedera dada sebesar 12,8%. Luka dada dapat meluas dari
benjolan dan goresan yang relatif kecil
menjadi suatu yang dapat mengancurkan
IV. KLASIFIKASI atau terjadi trauma penetrasi. Luka dada
dapat berupa penetrasi atau non
TRAUMA TRAUMA penetrasi (tumpul). Luka dada penetrasi
TEMBUS TUMPUL mungkin disebabkan oleh luka dada
1. Pneumothoraks 1.Tension yang terbuka, memberi kesempatan bagi
terbuka pneumothoraks udara atmosfir masuk ke dalam
2. Hemothoraks 2.Trauma permukaan pleura dan mengganggu
3. Trauma tracheobronkhial mekanisme ventilasi normal. Luka dada
tracheobronkial 3. Flail Chest penetrasi dapat menjadi kerusakan serius
4. Contusi Paru 4. Ruptur bagi paru, kantung (pleura) dan struktur
5. Ruptur diafragma thorak lain.
diafragma 5. Trauma
6. Trauma mediastinal Trauma tumpul
Mediastinal 6. Fraktur kosta Trauma tumpul lebih sering
didapatkan berbanding trauma tembus,
kira-kira lebih dari 90% trauma thoraks.
V. ETIOLOGI Dua mekanismeyang terjadi pada trauma
tumpul: (1) hantaran energi secara
1 Trauma tembus langsung pada dinding dada dan organ
- Luka Tembak thoraks dan (2) deselerasi differensial,
- Luka Tikam / tusuk yang dialami oleh organ thoraks ketika
terjadinya impak atau benturan.
2 Trauma tumpul Benturan yang secara langsung yang
-Kecelakaan kendaraan bermotor mengenai dinding thoraks dapat
- Jatuh menyebabkan luka robek dan kerusakan
- Pukulan pada dada dari jaringan lunak dan tulang seperti
tulang iga. Cedera thoraks dengan
VI. PATOFISIOLOGI tekanan yang kuat dapat menyebabkan
Dada merupakan organ besar peningkatan tekanan intrathorakal
yang membuka bagian dari tubuh yang sehingga menyebabkan ruptur dari
sangat mudah terkena tumbukan/ organ-organ yang berisi cairan atau gas
benturan. Karena dada merupakan (udara).(2,3) Cedera yang disebabkan
tempat jantung, paru dan pembuluh deselerasi dapat berlaku apabila
darah besar. Trauma dada sering pergerakan thoraks yang kedepan secara
menyebabkan gangguan ancaman tiba-tiba terhenti, manakala organ
kehidupan. Luka pada rongga thorak dan viscera intratorakal terus bergerak

2
kedepan, seperti yang berlaku pada tersebut pada daerah jantung, biasanya
cidera steering-columna. Pada cedera dapat diselamatkan dengan penanganan
viscera (organ-organ dalam tubuh) yang medis yang maksimal.(2,3)
tidak melekat pada dinding dada, akan
bergerak kedepan sehingga akan VII. MEKANISME TRAUMA(3)
dihentikan oleh permukaan dalam dari
dinding thoraks pada benturan internal Akselerasi
yang kedua kalinya atau sehingga Kerusakan yang terjadi
tekanan yang ditimbulkan oleh merupakan akibat langsung dari
pergerakan tersebut melampaui toleransi penyebab trauma. Gaya perusak
jaringan sehingga menyebabkan cedera. berbanding lurus dengan massa dan
Fraktur tulang iga bisa terjadi pada titik percepatan (akselerasi), sesuai dengan
benturan dan kerusakan pada paru bisa hukum Newton II (Kerusakan yang
terjadi luka berupa lebam atau luka tusuk terjadi juga bergantung pada luas
pada paru.(2) jaringan tubuh yang menerima gaya
Trauma tembus perusak dari trauma tersebut.
Trauma tembus, biasanya Pada luka tembak perlu
disebabkan tekanan mekanikal yang diperhatikan jenis senjata dan jarak
dikenakan secara langsung yang berlaku tembak, penggunaan senjata dengan
tiba-tiba pada suatu area fokal. Pisau kecepatan tinggi seperti senjata militer
atau proyektil (projectile), misalnya, high velocity (>3000 ft/sec) pada jarak
akan menyebabkan kerusakan jaringan dekat akan mengakibatkan kerusakan
dengan “stretching dan crushing” dan dan peronggaan yang jauh lebih luas
cedera biasanya menyebabkan batas luka dibandingkan besar lubang masuk
yang sama dengan bahan yang tembus peluru.
pada jaringan. Berat ringannya cedera Deselerasi
internal yang berlaku tergantung pada Kerusakan yang terjadi akibat
organ yang telah terkena dan seberapa mekanisme deselerasi dari jaringan.
vital organ tersebut.(2) Biasanya terjadi pada tubuh yang
Derajat cedera tergantung pada bergerak dan tiba-tiba terhenti akibat
dua mekanisme dari penetrasi dan trauma. Kerusakan terjadi oleh karena
temasuk, diantara faktor lain, adalah pada saat trauma, organ-organ dalam
efisiensi dari energi yang dipindahkan yang mobile (seperti bronkhus, sebagian
dari obyek ke jaringan tubuh yang aorta, organ visera, dsb) masih bergerak
terpenetrasi. Faktor-faktor lain yang dan gaya yang merusak terjadi akibat
berpengaruh adalah karakteristik dari tumbukan pada dinding thoraks/rongga
senjata, seperti kecepatan, ukuran dari tubuh lain atau oleh karena tarikan dari
permukaan benturan, serta densitas dari jaringan pengikat organ tersebut.
jaringan tubuh yang terpenetrasi. Pisau Torsio dan rotasi
biasanya menyebabkan cidera yang lebih Gaya torsio dan rotasio yang
kecil karena ia termasuk proyektil terjadi umumnya diakibatkan oleh
dengan kecepatan rendah. Luka tusuk adanya deselerasi organ-organ dalam
yang disebabkan oleh pisau sebatas yang sebagian strukturnya memiliki
dengan daerah yang terjadi penetrasi. jaringan pengikat/fiksasi, seperti isthmus
Luka disebabkan tusukan pisau biasanya aorta, bronkus utama, diafragma atau
dapat ditoleransi, walaupun tusukan atrium. Akibat adanya deselerasi yang

3
tiba-tiba, organ-organ tersebut dapat
terpilin atau terputar dengan jaringan VIII. JENIS-JENIS TRAUMA PADA
fiksasi sebagai titik tumpu atau DADA :
porosnya.
Blast injury Trauma dinding thoraks
Kerusakan jaringan pada blast 1. Rib Fracture (Fraktur costae)
injury terjadi tanpa adanya kontak Fraktur iga (costae) merupakan
langsung dengan penyebab trauma. kejadian tersering yang diakibatkan oleh
Seperti pada ledakan bom. Gaya trauma tumpul pada dinding dada.
merusak diterima oleh tubuh melalui Walaupun fraktur tulang iga sering
penghantaran gelombang energi. muncul, sukar untuk menentukan
prevalensi yang sesungguhnya diantara
Faktor lain yang mempengaruhi pasien-pasien dengan cedera serius,
Sifat jaringan tubuh karena radiografi anteroposterior sangat
Jenis jaringan tubuh bukan kurang sensitive untuk fraktur tulang iga.
merupakan mekanisme dari perlukaan, Iga 4-10 merupakan daerah yang
akan tetapi sangat menentukan pada tersering mengalami fraktur. Pasien
akibat yang diterima tubuh akibat sering melaporkan nyeri pada dada saat
trauma. Seperti adanya fraktur iga pada inspirasi dan rasa tidak nyaman. Pada
bayi menunjukkan trauma yang relatif pemeriksaan fisik ditemukan nyeri tekan
berat dibanding bila ditemukan fraktur dan juga terdapat krepitasi pada daerah
pada orang dewasa. Atau tusukan pisau fraktur. Fraktur iga bisa juga menjadi
sedalam 5 cm akan membawa akibat petanda adanya hubungan signifikan
berbeda pada orang gemuk atau orang antara fraktur intrathorakal dan
kurus, berbeda pada wanita yang extrathorakal. Pernah dilaporkan, 50%
memiliki payudara dibanding pria, dsb. pasien mengalami trauma tumpul pada
Lokasi jantung juga terdapat fraktur iga. Fraktur
Lokasi tubuh tempat trauma pada iga 8-12 patut dicurigai adanya
sangat menentukan jenis organ yang trauma pada organ abdomen. Organ
menderita kerusakan, terutama pada abdomen yang paling sering cedera
trauma tembus. Seperti luka tembus pada adalah liver dan splen. Pasien-pasien
daerah pre-kordial. dengan fraktur tulang iga sebelah kanan,
Arah trauma termasuk iga kedelapan dan dibawahnya,
Arah gaya trauma atau lintasan memiliki kemungkinan 19% sampai
trauma dalam tubuh juga sangat 56% mengalami cedera hati, sedangkan
mentukan dalam memperkirakan fraktur sisi kiri memiliki kemungkinan
kerusakan organ atau jaringan yang 22% sampai 28% mengalami cedera
terjadi. Perlu diingat adanya efek splenn. Trauma tajam lebih jarang
“ricochet” atau pantulan dari penyebab mengakibatkan fraktur iga, oleh karena
trauma pada tubuh manusia. Seperti luas permukaan trauma yang sempit,
misalnya : trauma yang terjadi akibat sehingga gaya trauma dapat melalui sela
pantulan peluru dapat memiliki arah iga. Fraktur iga bagian bawah juga dapat
(lintasan peluru) yang berbeda dari diserati adanya trauma pada diafragma.
sumber peluru sehingga kerusakan atau Fraktur iga, termasuk iga
organ apa yang terkena sulit pertama dan kedua, secara
diperkirakan. statistic tidak dihubungkan

4
dengan cedera aorta. Pada Flail chest jarang terjadi, tapi
faktanya, bayak ahli bedah merupakan cedera tumpul dinding dada
trauma merekomendasikan yang serius. Prevalensi flail chest pada
angiografi computed tomografi pasien-pasien dengan cedera dinding
(CT) dada sebagai suatu alat dada diperkirakan antara 5% sampai
skrining untuk cedera 13%.
intrathoraks tersembnyi pada Flail chest adalah area thoraks
pasien dengan trauma tumpul yang “melayang” (flail) oleh sebab
dada yang parah yang tidak adanya fraktur iga multipel berturutan
diikuti oleh temuan radiografi lebih dari 3 iga , dan memiliki garis
thoraks. Delapan persen pasien- fraktur lebih dari 2 (segmented) pada
pasien yang dibawa ke trauma center tiap iganya dapat tanpa atau dengan
setelah tabrakan kendaraan bermotor fraktur sternum. Akibatnya adalah:
dengan kecepatan tinggi, terjatuh terbentuk area “flail” segmen yang
sepanjang lebih dari 4,5 meter, atau telah mengambang akan bergerak paradoksal
ditabrak oleh sebuah mobil dan (kebalikan) dari gerakan mekanik
terlempar lebih dari 3 meter memiliki pernapasan dinding dada. Area tersebut
tampilan cedera aorta pada angiografi akan bergerak masuk saat inspirasi dan
CT thoraks. bergerak keluar pada ekspirasi, sehingga
Adanya fraktur iga terutama kurang baik udara inspirasi terbanyak memasuki paru
pada anak-anak dan orang tua. Tulang kontralateral dan banyak udara ini akan
anak-anak cepat mengalami kalsifikasi, masuk pada paru ipsilateral selama fase
konsekuensinya, dinding dada mereka ekspirasi, keadaan ini disebut dengan
lebih rapuh dari pada orang dewasa. respirasi pendelluft. Fraktur pada daerah
Fraktur tulang iga pada anak-anak iga manapun dapat menimbulkan flail
mengindikasikan suatu tingkat absorpsi chest. Dinding dada mengambang (flail
energi yang tinggi daripada mungkin chest) ini sering disertai dengan
pada perkiraan orang dewasa. Dengan hemothoraks, pneumothoraks,
suatu kesimpulan, ketiadaan fraktur hemoperikardium maupun hematoma
tulang iga pada anak tidak akan paru yang akan memperberat keadaan
mengurangi perhatian untuk cedera penderita. Komplikasi yang dapat
intrathoraks yang parah. Pada suatu ditimbulkan yaitu insufisiensi respirasi
penelitian dari 986 pasien anak dengan dan jika korban trauma masuk rumah
trauma tumpul dada, 2% memiliki sakit, atelectasis dan berikut pneumonia
cedera thoraks yang parah tanpa bukti dapat berkembang. (10)
adanya trauma dinding dada. Tiga puluh Diagnosis flail chest ditetapkan
delapan persen anak dengan kontusio dengan mengobservasi gerakan
paru tidak memiliki bukti radiografi paradoksal dari tempat yang dicurigai
adanya fraktur tulang iga. pada keadaan napas spontan. Pada
Tiga atau lebih fraktur iga yang inspirasi, segmen flail ditarik kedalam
terjadi berhubungan dengan oleh tekanan negative intrathoraks.
meningkatnya resiko trauma organ Dengan ekshalasi, kekuatan tekanan
dalam dan mortalitas. positif segmen akan menonjol kearah
luar.
2. Flail chest

5
pertengahan klavikula pada anak-anak
dan didekat ujung bahu pada orang
dewasa). Pasien biasanya merasakan
sakit sementara pada saat istirahat yang
diperhebat dengan adanya gerakan sendi
bahu.

Gambar 2. Tampak adanya gerakan Kelainan pada rongga pleura


nafas paradoksal pada flail chest (dikutip Pneumothoraks
dari www.doktermedis.com) Pneumothoraks merupakan salah
satu kelainan pada rongga pleura
ditandai dengan adanya udara yang
terperangkap dalam rongga pleura
sehingga akan menyebabkan
peningkatan tekanan negatif intrapleura
dan akan mengganggu proses
pengembangan paru. Pneumothoraks
merupakan salah satu akibat dari trauma
tumpul yang sering terjadi akibat adanya
penetrasi fraktur iga pada parenkim paru
dan laserasi paru. Pneumothoraks terbagi
atas tiga yaitu:( 2-4,10)
a. Simple pneumothoraks
Fig. 3. Flail chest physiology. (From Mayberry Simple pneumothoraks yaitu
JC, Trunkey DD. The fractured rib in chest wall
trauma, Chest Surg Clin N Am 1997;7:239– 61; pneumothoraks yang tidak
with permission.) disertai peningkatan tekanan
intra thoraks yang progresif. Ciri-
3. Fraktur klavikula cirinya adalah paru pada sisi
Klavikula adalah salah satu yang terkena akan kolaps (parsial
tulang pada tubuh yang paling sering atau total), tidak ada mediastinal
mengalami cedera dan merupakan shift. Pada pemeriksaan fisik
fraktur yang paling sering berhubungan didapatkan bunyi nafas melemah,
dengan proses kelahiran. Klavikula, atau hyperresonance (perkusi),
tulang kerah, adalah tulang yang relative pengembangan dada menurun.
lurus yang menghubungkan sternum b. Tension pneumothoraks
dengan tulang scapula. Klavikula dapat Tension Pneumothoraks adalah
mengalami fraktur melalui pukulan pneumothoraks yang disertai
langsung ke daerah tersebut, atau lebih peningkaan tekanan intra thoraks
umum, karena terjatuh pada ujung bahu. yang semakin lama, semakin
Gejala umum termasuk bengkak bertambah (progresif). Pada
dan nyeri di dada, yaitu posisi tension pneumothoraks
pertengahan antara leher dan bahu. ditemukan mekanisme ventil
Tanda-tanda fraktur klavikula meliputi: yaitu udara dapat masuk dengan
titik perlunakan, krepitasi dan bengkak mudah, tetapi tidak dapat keluar.
di tempat fraktur (biasanya di Ciri-cirinya yaitu terjadi

6
peningkatan intra thoraks yang
progresif, sehingga terjadi kolaps
paru total, mediastinal shift
(pendorongan mediastinum ke
kontralateral), deviasi trakea.
Pada pemeriksaan fisik di
dapatkan sesak yang bertambah
berat dengan cepat, takipneu,
hipotensi.

Gambar 3. Tension Pneumothoraks

c. Open Pneumothorak
Timbul karena trauma tajam, ada
hubungan dengan rongga pleura
sehingga paru menjadi kuncup.
Seringkali terlihat sebagai luka
pada dinding dada yang
menghisap pada setiap inspirasi (
sucking chest wound ). Apabila
lubang ini lebih besar dari pada
2/3 diameter trachea, maka pada
inspirasi udara lebih mudah
melewati lubang dada
dibandingkan melewati mulut
sehingga terjadi sesak nafas yang
hebat

7
Gambar4. Open Pneumothoraks (dikutip dari
www.anatomyaatlasses.org)

2. Hemothoraks (Hematothoraks)
Hemothoraks adalah suatu keadaan
yang paling sering dijumpai pada
penderita trauma thoraks yang sering
disebabkan oleh trauma pada paru,
jantung, pembuluh darah besar. Pada
lebih 80% penderita dengan trauma
thoraks dimana biasanya terdapat darah
>1500ml dalam rongga pleura akibat
trauma tumpul atau tembus pada dada.
Sumber perdarahan pada umumnya
berasal dari adanya cedera pada paru-
paru, arteri interkostalis, robeknya arteri
mamaria interna maupun pembuluh
darah lainnya seperti aorta dan vena
cava. Dalam rongga pleura dapat
menampung 3 liter cairan, sehingga
pasien hematothoraks dapat syok berat
(kegagalan sirkulasi) tanpa terlihat
adanya perdarahan yang nyata, distres
nafas juga akan terjadi karena paru di
sisi hemothoraks akan kolaps akibat
tertekan volume darah. Pada
pemeriksaan dapat ditemukan shock,
deviasi trakea, suara pernapasan yang
melemah (unilateral), vena dileher
menjadi colaps akibat hipovolemia atau
penekanan karena efek mekanik oleh
darah di intrathoraks.(1,5,7)

8
Gambar 5. Tampak gambaran
hemothoraks pada sisi kiri foto thoraks

3. Kontusio paru
Kontusio paru terjadi pada
kecelakaan lalu lintas dengan kecepatan
tinggi, jatuh dari tempat yang tinggi dan
luka tembak dengan peluru cepat (high Gambar 6. Aksial CT menunjukkan citra sebuah
lubang "di paru-paru dengan tingkat udara-cairan
velocity) maupun setelah trauma tumpul (panah), dikelilingi oleh area yang gelap (kepala
thoraks, dapat pula terjadi pada trauma panah) pada pasien trauma. Temuan merupakan
tajam dengan mekanisme perdarahan robekan paru dikelilingi oleh luka memar.
dan edema parenkim. Penyulit ini sering (dikutip dari http://www.ritradiology.com)
terjadi pada trauma dada dan potensial Pasien laki-laki umur 20 tahun pasca luka
menyebabkan kematian. Proses, tanda tembak di dada.
dan gejala mungkin berjalan pelan dan
makin memburuk dalam 24 jam pasca
trauma. Tanda dan gejalanya adalah
sesak nafas/dyspnea, hipoksemia,
takikardi, suara nafas berkurang atau
tidak terdengar pada sisi kontusio, patah
tulang iga, sianosis.(3)

4. Laserasi paru
Laserasi paru adalah robekan pada
parenkim paru akibat trauma tajam atau
trauma tumpul keras yang disertai
fraktur iga sehingga dapat menimbulkan Foto dada PA menunjukkan massa lobus kanan
hemothoraks dan pneumothoraks. atas berbatasan dengan permukaan pleura terkait
Mekanisme terjadinya pneumothoraks metalik fragmen peluru.
oleh karena meningkatnya tekanan
intraalveolar yang disebabkan adanya
tubrukan yang kuat pada thoraks dan
robekan pada percabangan
trakeobronchial atau esophagus.
Perdarahan dari laserasi paru dapat
berhenti, menetap, atau berulang.(1,5,10)

9
rongga mediastinum oleh cairan saluran
pencernaan bagian atas sehingga terjadi
mediastinitis yang akan memperburuk
keadaan penderitanya. Keluhan pasien
berupa nyeri tajam yang mendadak di
epigastrium dan dada yang menjalar ke
punggung. Sesak nafas, sianosis dan
syok muncul pada fase yang sudah
terlambat.(5)

3. Tamponade jantung
Tamponade jantung terdapat
pada 20% penderita dengan trauma
thoraks yang berat, trauma tajam yang
Pada foto follow up pasien 72 jam kemudian mengenai jantung akan menyebabkan
menunjukkan adanya massa cavitas (dikutip dari tamponade jantung dengan gejala trias
http://radiology.med.miami.edu) Beck yaitu distensi vena leher, hipotensi
dan menurunnya suara jantung. Kontusio
Kerusakan pada mediastinum miokardium tanpa disertai ruptur dapat
1. Ruptur Trakeobronkial menjadi penyebab tamponade jantung.
Ruptur trakea dan bronkus utama Patut dicurigai seseorang mengalami
(rupture trakeobronkial) dapat trauma jantung bila terdapat: trauma
disebabkan oleh trauma tajam maupun tumpul di daerah anterior, fraktur pada
trauma tumpul dimana angka kematian sternum, trauma tembus/tajam pada area
akibat penyulit ini adalah 50%. Pada prekordial (parasternal kanan, sela iga II
trauma tumpul ruptur terjadi pada saat kiri, garis mid klavikula kiri, arkus kosta
glottis tertutup dan terdapat peningkatan kiri). Pada otopsi ditemukan sebuah
hebat dan mendadak dari tekanan daerah yang terbatas dan tersering pada
saluran trakeobronkial yang melewati ventrikel kanan dan menyerupai suatu
batas elastisitas saluran trakeobronkial infark, perdarahan yang mencolok.(10,11)
ini. Kemungkinan kejadian ruptur
bronkus utama meningkat pada trauma 4. Kontusio Jantung
tumpul thoraks yang disertai dengan Cedera ini mengacu pada luka
fraktur iga 1 sampai 3, lokasi tersering atau memar pada miokardium (otot
adalah pada daerah karina dan jantung). Kontusio (memar) miokardium
percabangan bronkus. Pneumothoraks, adalah hasil dari cedera yang melibatkan
pneumomediatinum, emfisema subkutan kekuatan tumpul yang mengarah ke dada
dan hemoptisis, sesak nafas,dan sianosis (misalnya kecelakaan lalu lintas).
dapat merupakan gejala dari ruptur ini.(5) Contusio miokard mungkin
berhubungan dengan pneumothoraks,
2. Ruptur esofagus fraktur sternum, fraktur iga, contusio
Ruptur esofagus lebih sering paru atau hemothoraks. Luka memar
terjadi pada trauma tajam dibanding jantung menyebabkan detak jantung
trauma tumpul thoraks dan lokasi ruptur tidak beraturan (aritmia) yang dapat
oleh karena trauma tumpul paling sering mengancam nyawa.
pada 1/3 bagian bawah esofagus. Akibat
ruptur esofagus akan terjadi kontaminasi

10
Tidak terdapat gejala spesifik 6. Ruptur diafragma
yang timbul dari contusio jantung. Ruptur diafragma pada trauma
Kondisi ini sering hadir bersamaan thoraks biasanya disebabkan oleh trauma
dengan kontusio paru dan fraktur tumpul pada daerah thoraks inferior atau
sternum, yang keduanya dapat abdomen atas yang tersering disebabkan
menyebabkan nyeri dada dan sesak oleh kecelakaan. Trauma tumpul di
napas. Setiap kecelakaan kendaraan daerah thoraks inferior akan
bermotor yang mengakibatkan benturan mengakibatkan peningkatan tekanan
dada dengan alat kemudi dapat intra abdominal mendadak yang
menghasilkan cedera miokard. diteruskan ke diafragma. Ruptur terjadi
Evaluasi termasuk pemeriksaan bila diafragma tidak dapat menahan
EKG, enzim-enzim jantung dan tekanan tersebut, herniasi organ
monitoring jantung berkelanjutan. Foto intrathoraks dan strangulasi organ
radiologi dada dilakukan untuk abdomen dapat terjadi. Dapat pula
menyingkirkan adanya cedera serius terjadi ruptur diafragma akibat trauma
lainnya. tembus pada daerah thoraks inferior.
Pada keadaan ini trauma tembus juga
5. Ruptur Aorta akan melukai organ-organ lain (intra
Aorta adalah arteri terbesar thoraks atau intra abdominal). Ruptur
dalam tubuh. Aorta bertanggung jawab umumnya terjadi di “puncak” kubah
terhadap pengiriman oksigen darah ke diafragma, ataupun kita bisa curigai bila
seluruh jaringan tubuh. Saat aorta keluar terdapat luka tusuk dada yang
dari jantung, aorta turun dari dada didapatkan pada: dibawah ICS 4
menuju perut/ abdomen. Aorta thorakalis anterior, di daerah ICS 6 lateral, di
sering bermasalah terhadap kekuatan daerah ICS 8 posterior. Kejadian ruptur
deselerasi cepat, yang sering terjadi pada diafragma lebih sering terjadi di sebelah
suatu kecelakaan kendaraan bermotor kiri daripada sebelah kanan. Kematian
(cedera depan), ketika dada terbentur dapat terjadi dengan cepat setelah
dengan alat kemudi. Ruptur aorta sering terjadinya trauma oleh karena shock dan
menyebabkan kematian penderitanya, perdarahan pada cavum pleura kiri. (10-11)
diperkirakan penyebab kedua tersering
kematian pada pasien dengan cedera IX. KOMPLIKASI
dada dan lokasi ruptur tersering adalah
di bagian proksimal arteri subklavia kiri Komplikasi yang mengikuti
dekat ligamentum arteriosum. Hanya cedera dada dapat muncul di awal atau
kira-kira 15% dari penderita trauma dada muncul terlambat. Banyak komplikasi-
dengan ruptur aorta ini dapat mencapai komplikasi yang terjadi dihubungkan
rumah sakit untuk mendapatkan dengan perputaran luka, pilihan terapi
pertolongan. Kecurigaan adanya ruptur buatan, dan prosedur yang dilakukan.
aorta dari foto thoraks bila didapatkan Masalah teknis dengan penempatan,
mediastinum yang melebar, fraktur iga 1 fungsi dan posisi pipa torakostomi,
dan 2, trakea terdorong ke kanan, keterlambatan dalam penempatan pipa
gambaran aorta kabur, dan penekanan dada, adanya hemothoraks yang banyak,
bronkus utama kiri.(5) re-eksplasi cedera dada yang inkomplit,
obliterasi rongga inkomplit antara
permukaan pleura, keterlambatan

11
penialaian suatu cedera diafragma, menemukan masalah yang
kontusio parenkim paru, hematom mengancam nyawa dan
ekstrathoraks, cedera dinding dada tidak melakukan tindakan
stabil dengan fraktur iga multiple, adalah penyelamatan nyawa.
seluruh predisposisi pasien untuk • Pengambilan anamnesis
komplikasi cedera dada. Hubungan (riwayat) dan pemeriksaan fisik
dengan cedera lainnya dapat dilakukan bersamaan atau setelah
meningkatkan resiko komplikasi cedera melakukan prosedur penanganan
pada dada. Gambaran luka trauma.
torakoabdominal dengan kontaminasi • Penanganan pasien trauma toraks
dari traktus gastrointestinal akan sebaiknya dilakukan oleh Tim
meningkatkan resiko infeksi. Cedera yang telah memiliki sertifikasi
kepala, leher dan fraktur pelvis yang pelatihan ATLS (Advance
bersamaan dengan cedera dada akan Trauma Life Support).
mengurangi mobilisasi optimal pasien • Oleh karena langkah-langkah
dan memiliki predisposisi untuk awal dalam primary survey
terjadinya masalah pada paru. (airway, breathing, circulation)
merupakan bidang keahlian
spesialistik Ilmu Bedah Toraks
Kardiovaskular, sebaiknya setiap
RS yang memiliki trauma
X. PENATALAKSANAAN unit/center memiliki konsultan
bedah toraks kardiovaskular.
Prinsip
• Penatalaksanaan mengikuti Primary Survey
prinsip penatalaksanaan pasien
trauma secara umum (primary Airway
surve - secondary survey) Assessment :
• Tidak dibenarkan melakukan o perhatikan potensi airway
langkah-langkah: anamnesis, o dengar suara napas
pemeriksaan fisik, pemeriksaan o perhatikan adanya retraksi otot
diagnostik, penegakan diagnosis pernapasan dan gerakan dinding
dan terapi secara konsekutif dada
(berturutan). Management :
• Standar pemeriksaan diagnostik o inspeksi orofaring secara cepat
(yang hanya bisa dilakukan bila dan menyeluruh, lakukan chin-
pasien stabil), adalah : portable lift dan jaw thrust, hilangkan
x-ray, portable blood benda yang menghalangi jalan
examination, portable napas
bronchoscope. Tidak dibenarkan o re-posisi kepala, pasang collar-
melakukan pemeriksaan dengan neck
memindahkan pasien dari ruang o lakukan cricothyroidotomy atau
emergency. traheostomi atau intubasi (oral /
• Penanganan pasien tidak untuk nasal)
menegakkan diagnosis akan Breathing
tetapi terutama untuk Assesment

12
o Periksa frekwensi napas vertikal dan memotong secara lateral
o Perhatikan gerakan respirasi pada setengah lingkaran untuk
o Palpasi toraks memisahkan sendi. Jika mereka
o Auskultasi dan dengarkan bunyi mengalami ankylosed, dimana sering
napas terjadi pada usia tua, kemudian klavikula
Management: dapat dipotong melewatinya pada akhir
o Lakukan bantuan ventilasi bila operasi berikutnya. Ini terdiri dari
perlu beratnya iga dan dapat dimainkan baik
o Lakukan tindakan bedah dengan gergaji tangan atau gunting besar
iga. Pada anak-anak dan beberapa orang
emergency untuk atasi tension
dewasa, tulang rawan iga dapat dipotong
pneumotoraks, open
dengan pisau, meski ini, menyediakan
pneumotoraks, hemotoraks, flail
eksposur yang lebih dangkal dari isi
chest
thoraks. Pada bayi, tulang rawan lunak
Circulation
dapat dengan mudah dipisahkan dengan
Assesment
scalpel: pada tubuh yang lebih tua, pisau
o Periksa frekwensi denyut jantung
yang kuat seharusnya aman untuk
dan denyut nadi
maksud keamanan dari pisau yang
o Periksa tekanan darah
tumpul yang diperlukan untuk
o Pemeriksaan pulse oxymetri pemotongan organ. Sering kali iga
o Periksa vena leher dan warna pertama harus digergaji melewatinya,
kulit (adanya sianosis) meskipun sisanya dipotong dengan
Management pisau.
o Resusitasi cairan dengan Ketika gergaji digunakan, iga
memasang 2 iv lines dipotong ke lateral menuju
o Torakotomi emergency bila costochondral junctions dari titik pada
diperlukan batas kosta dengan sendi
o Operasi Eksplorasi vaskular sternoklavikuler atau didekatnya. Jika
emergency gergaji digunakan harus digunakan
Tindakan Bedah Emergency dengan sudut rendah untuk menghindari
1. Krikotiroidotomi laserasi ujung paru-paru yang terbaring,
2. Trakheostomi terutama jika ada perlengketan pleura.
3. Tube Torakostomi Ketika sternum dan segmen medial dari
4. Torakotomi iga bebas, bagian ini diangkat dan
5. Eksplorasi vascular dipotong dari mediastinum, menjaga
pisau dekat ke tulang untuk mencegah
XI. AUTOPSI PADA CEDERA terpotongnya pericardium. Lempeng
THORAKS sternum diperiksa untuk fraktur atau lesi
lainnya sebelum dikeluarkan: kerusakan
Pembukaan Thoraks disebabkan oleh trauma dari masase
kardiak resusitasi lebih sering
Thorax dibuka dengan membuka ditemukan.
kedua sendi sternoklavikular. Ini dibawa Tingkatan inflasi dari paru-paru
dengan menggerakkan ujung bahu harus dinilai, dicatat kolaps sebagian
dengan satu tangan, untuk atau sempurna, emfisema, overdistensi
mengidentifikasi kapsul sendi. Ujung dan beberapa asimetris dari inflasi.
pisau kemudian dikenalkan secara

13
Jika pneumothoraks sudah diperiksa paru-parunya, paru-paru
dicurigai sebelumnya, radiografi post- tersebut tampak kollaps. Cara lain:
mortem adalah konfirmasi yang paling setelah dibuat kantung, kantung ditusuk
baik. Alternatif lain, dinding dada dapat dengan spuit besar dengan jarum besar
dipunksi pada garis midaksilaris setelah yang berisi air separuhnya pada spuit
pengisian kulit yang direfleksikan tersebut, bila ada pneumothorax, tampak
dengan air untuk mengamati jika keluar gelembung-gelembung udara pada spuit
gelembung-gelembung udara. Tes ini tadi.
jarang sekali berhasil dan tidak dapat
berhasil jika terdapat hubungan yang Test untuk Emboli udara
paten antara kavum pleura dan cabang
bronkus. Jika ada tanda-tanda tension Emboli udara, baik yang sistemik
pneunmothoraks, desis dari udara yang maupun emboli udara pulmoner, sering
keluar mungkin dapat didengarkan terjadi. Pada emboli sistemik udara
ketika ujung pisau menembus otot-otot masuk melalui pembuluh vena yang ada
interkostal dan pleura parietal. Kavum di paru-paru, misalnya pada trauma dada
pleura dilihat apakah ada perlengketan, dan trauma daerah mediastinum yang
efusi, pus, darah, fibrin dan bahkan isi merobek paru-paru dan merobek
lambung. pembuluh venanya. Emboli pulmoner
adalah emboli yang tersering, udara
Test pada Pneumothoraks masuk melalui pembuluh-pembuluh
vena besar yang terfiksasi, misalnya
Pada trauma di daerah dada, ada pada daerah leher bagian bawah, lipat
kemungkinan jaringan paru robek, paha atau daerah sekitar rahim (yang
sedemikian rupa sehingga terjadi sedang hamil), dapat pula pada daerah
mekanisme ”ventil” di mana udara yang lain, misalnya pembuluh vena
masuk ke paru-paru akan diteruskan ke pergelangan tangan sewaktu diinfus, dan
dalam rongga dada, dan tidak dapat udara masuk melalui jarum infus tadi.
keluar kembali, sehingga terjadi Fiksasi ini penting, mengingat bahwa
akumulasi udara, dengan akibat paru- tekanan vena lebih kecil dari tekanan
paru akan kolaps dan korban akan mati. udara luar, sehingga jika ada robekan
Diagnosa pneumothorax yang fatal pada vena, vena tersebut akan
semata-mata atas dasar test ini, bila test menguncup, hal ini ditambah lagi
ini tidak dilakukan, diagnosa sifatnya dengan pergerakan pernapasan, yang
hanya dugaan. Cara melakukan test ini bersifat ”menyedot”.
adalah sebagai berikut: Buka kulit Cara melakukan test ini adalah: Buat
dinding dada pada bagian yang tertinggi sayatan ”I”, dimulai dari incisura
dari dada, yaitu sekitar iga ke 4 dan 5 jugularis, ke arah bawah sampai ke
(udara akan berada pada tempat yang symphisis pubis. Potong rawan iga mulai
tertinggi). Buat ”kantung” dari kulit dada dari iga ke-3 kiri dan kanan, pisahkan
tersebut mengelilingi separuhnya dari rawan iga dan tulang dada keatas sampai
daerah iga 4 dan 5 (sekitar 10 x 5 cm). ke perbatasan antara iga ke-2 dan iga ke-
Pada kantung tersebut kemudian diisi 3. Potong tulang dada setinggi
air, dan selanjutnya tusuk dengan pisau, perbatasan antara tulang iga ke-2 dan ke-
adanya gelembung udara yang keluar 3. Setelah kandung jantung tampak, buat
berarti ada pneumothorax, dan bila insisi pada bagian depan kandung

14
jantung dengan insisi ”I”, sepanjang c. Bagaimanakah kualifikasi luka itu?
kira-kira 5-7 sentimeter; kedua ujung
sayatan tersebut dijepit dan diangkat Pasal 351
dengan pinset (untuk mencegah air yang 1) Penganiayaan diancam dengan
keluar). Masukkan air ke dalam kandung pidana penjara paling lama dua
jantung, melalui insisi yang telah dibuat tahun delapan bulan atau denda
tadi, sampai jantung terbenam. Akan paling banyak empat ribu lima
tetapi bila jantung tetap terapung, maka ratus rupiah.
hal ini merupakan pertanda adanya udara 2) Jika perbuatan mengakibatkan
dalam bilik jantung. Tusuk dengan pisau luka-luka berat, yang bersalah
organ yang runcing tepat di daerah bilik dikenakan pidana penjara paling
jantung kanan, yang berbatasan dengan lama lima tahun.
pangkal a. Pulmonalis, kemudian putar 3) Jika mengakibatkan mati,
pisau itu 90 derajat, gelembung- dikenakan pidana penjara paling
gelembung udara yang keluar lama tujuh tahun.
menandakan tes emboli hasilnyapositip. 4) Dengan penganiayaan disamakan
Bila tidak jelas atau ragu-ragu, lakukan sengaja merusak kesehatan.
pengurutan pada a. Pulmonalis, ke arah
bilik jantung untuk melihat keluarnya
gelembung udara. Semua yang disebut di Pasal 352
atas adalah untuk melakukan test emboli 1) Kecuali yang tersebut dalam
pulmoner. Untuk tes emboli sistemik, pasal 353 dan 356, maka
pada prinsipnya sama, letak penganiayaan yang tidak
perbedaannya adalah pada tes emboli menimbulkan penyakit atau
sistemik tidak dilakukan penusukan halangan untuk menjalankan
ventrikel, tetapi sayatan melintang pada pekerjaan jabatan atau
a. Coronaria sinistra ramus desenden, pencaharian, diancam, sebagai
secara serial beberapa tempat, dan penganiayaan ringan, dengan
diadakan pengurutan atas nadi tersebut, pidana penjara paling lama tiga
agar tampak gelembung kecil yang bulan atau denda paling banyak
keluar. Dosis fatal untuk emboli udara empat ribu lima ratus rupiah.
pulmoner 150-130 ml, sedangkan untuk Pidana dapat ditambahka
emboli sistemik hanya beberapa ml. sepertiga bagi orang yang
melakukan kejahatan itu terhadap
orang yang bekerja padanya, atau
XII. ASPEK MEDIKOLEGAL menjadi bawahannya.
Pasal 90
Didalam melakukan pemeriksaan Luka berat berarti :
terhadap orang yang menderita luka • Jatuh sakit atau mendapat luka
akibat kekerasan, pada hakikatnya yang tidak memberi harapan
dokter diwajibkan untuk dapat akan sembuh sama sekali, atau
memberikan kejelasan dari yang menimbulkan bahaya maut.
permasalahan sebagai berikut (9) : • Tidak mampu terus menerus
a. Jenis luka apakah yang terjadi ? untuk menjalankan tugas jabatan
b. Jenis kekerasan /senjata apakah yang atau pekerjaan pencaharian.
menyebabkan luka?

15
• Kehilangan salah satu panca Suatu hal yang penting yang harus
indera. diingat di dalam menentukan ada
• Mendapat cacat berat. tidaknya luka akibat kekerasan adalah
• Menderita sakit lumpuh. adanya kenyataan bahwasanya tidak
• Terganggunya daya pikir selama selamanya kekerasan itu akan
4 minggu lebih. meninggalkan bekas/luka. Kenyataan
• Gugurnya atau matinya tersebut antara lain disebabkan adanya
kandungan seorang perempuan. faktor yang menentukan terbentuknya
lika akibat kekerasan suatu benda, yaitu
Dari pasal-pasal tersebut dapat luas permukaan benda yang bersentuhan
dibedakan empat jenis tindakan pidana; dengan tubuh. Bila luas permukaan
yaitu : benda yang bersentuhan dengan tubuh
1. penganiayaan ringan. itu cukup besar, yang berarti kekuatan
2. penganiayaan. untuk dapat merusak menimbulkan luka
3. penganiayaan yang mengakibatkan lebih kecil bila dibandingkan dengan
luka berat. benda yang mempunyai luas permukaan
4. penganiayaan yang mengkibatkan yang mengenai tubuh lebih kecil.
kematian. Faktor lain yang juga harus
Penganiayaan ringan, yaitu diingat adalah faktor waktu, oleh karena
penganiayaan yang tidak menimbulkan dengan berjalannya waktu maka suatu
penyakit atau halangan untuk luka dapat menyembuh dan tidak
menjalankan pekerjaan jabatan atau ditemukan pada saat dilakukan
pencaharian, di dalam ilmu kedokteran pemeriksaan. Dalam hal yang demikian
forensik pengertiannya menjadi, ”luka penulisan di dalam kesimpulan Visum et
yang tidak berakibat penyakit atau Repertum juga berbunyi :” tidak
halangan untuk menjalankan pekerjaan ditemukan tanda-tanda kekerasan.”
jabatan atau pencaharian”. Luka ini Kekerasan yang menyebabkan
dinamakan“ luka derjat pertama” Bila luka dapat dibagi menjadi tiga golongan,
akibat penganiayaan seseorang itu yaitu : luka karena kekerasan mekanik
mendapat luka atau menimbulkan (benda tajam, tumpul dan senjata api),
penyakit atau halangan di dalam luka karena kekerasan fisik (luka karena
melakukan pekerjaan jabatan atau arus listrik, petir, suhu tinggi dan suhu
pencaharian, akan tetapi hanya untuk rendah), dan luka karena kekerasan
sementara waktu saja, maka luka ini kimiawi (asam organik, asam anorganik,
dinamakan “luka derajat kedua”. kaustik alkali dan karena logam berat).(9)
Apabila penganiayaan tersebut
mengakibatkan luka berat seperti yang
dimaksud dalam pasal 90 KUHP, luka
tersebut dinamalan “luka derajat tiga”.

16
DAFTAR PUSTAKA available at
http://www.portalkalbe/files/cdk/13-
1. Bedah Torak Kardiovaskular trauma toraks pdf.htm
Indonesia: Website Bedah Torak 6. Andrew N.,Blunt Thoracis Trauma
Kardiovaskular Indonesia: Anatomi [online] [cited on 10 April 2010]
Toraks: Surface Anatomy-Dinding available at
Toraks [online] [cited on 2010] http://www.emedicine.com/radio/byn
available at: ame/Thorax-Trauma.htm
http://www.bedahtvk.com/index.php 7. Gomersall C., Calcroft R., Chest
?/e-Education/FisiologiAnatomi/ Injury [online] [cited on 9 April
Anatomi-Toraks-Surface-Anatomy- 2010] available at http://www.drager
Dinding-Toraks.html medical.com/Chest Injury.htm
2. Khan A.N, Trauma Thorax [online] 8. .Shotz S., Assessment and Treatment
[cited on 9 April 2010]available at: of Chest Injury:Part I. [online] [cited
http://www.emedicine.com/radio/byn on 10 April 2010] available at
ame/Thorax-Trauma.htm http://www.imba.nmbp.assessment
3. Bedah Torak Kardiovaskular and treatment of chest injury.htm
Indonesia, Website Bedah Torak 9. .Idries, Abdul Mun’im., Pedoman
Kardiovaskular Indonesia:Trauma Ilmu Kedokteran Forensik,Edisi 1,
Toraks I: Umum [online] [cited on Binarupa Aksara, Jakarta, 2002; p
2010] available at : 86-91,108-17
http://www.bedahtvk.com/index.php 10. Khan A.N, Trauma Thorax [online]
?/e-Education/Toraks/Trauma- [cited on 9 April 2010]available at:
Toraks-I-Umum.html http://www.emedicine.com/radio/byn
4. Sawyer AJ., Blunt Chest Trauma ame/Thorax-Trauma.htm
[online] [cited on 10 April 2010] 11. Sandra Wanek. MD, John C.
Mayberry. MD, FACSDivision of
available at:
General Surgery, Blunt thoracic
http://www.emedicine.com/radio/byn trauma: f lail chest, pulmonary
contusion, and blast injury, Oregon
ame/Blunt Chest Trauma.htm
Health & Science University,
5. Soedjatmiko H., Trauma Toraks Southwest Sam Jackson Park Road,
Portland, USA.
[oline] [cited on 10 April 2010]

17
18