Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Gambaran Umum Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia Kota Bandung


Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia, yang selanjutnya disingkat IWAPI merupakan
organisasi wanita nirlaba yang didirikan pada tanggal 10 Februari 1975 yang berfungsi
sebagai wadah sekaligus mitra bagi wanita pengusaha untuk membuka kesempatan usaha dan
menyuarakan kepentingan anggotanya. Ide pembentukan organisasi ini dikarenakan pada saat
itu belum ada satupun tempat untuk para wanita pengusaha untuk berkumpul dan bertukar
informasi mengenai dunia bisnis sehingga masih berjalan sendiri-sendiri, sedangkan menurut
pendirinya kaum wanita yang memiliki peranan penting dalam dunia usaha.
Organisasi ini secara resmi menjadi anggota Kamar Dagang dan Industri Indonesia
untuk wilayah DKI (KADIN Jaya) sekaligus menjadi anggota Kongres Wanita Indonesia
(KOWANI) pada tanggal 24 April 1975. Pada awal tahun 1976 IWAPI dikukuhkan oleh
Gubernur DKI Jaya Ali Sadikin sebagai satu-satunya wadah wanita pengusaha di Indonesia
dan menjadi anggota KADIN Pusat pada tanggal 1 Maret 1976. Kegiatan utama IWAPI yaitu
membantu wanita pengusaha mengembangkan usaha dan kemampuan mereka melalui :
pelatihan ketrampilan, manajemen dan perbaikan akses mereka terhadap masalah finansial,
teknologi serta jaringan bisnis. Selain itu, IWAPI memiliki koperasi internal yang diberi nama
Koperasi Iwapi (KOWAPI).
Untuk meningkatkan eksistensinya, IWAPI melakukan berbagai kerjasama dengan
Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) sehingga berkesempatan selalu ikut serta
dalam pameran didalam maupun luar negeri. Selain itu untuk meningkatkan permodalan,
kerjasama juga dijalin dengan Bank Pemerintah maupun swasta. Sejak 5 Desember 1979,
untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan, dibentuk Pusat Pendidikan IWAPI berupa
kursus katering dan garment karena pada saat itu kegiatan tersebut paling diminati (Iskandar,
2011).
Berdasarkan info yang didapat dari ketua KOWAPI serta situs resmi IWAPI,
organisasi ini memiliki Visi “Menjadi organisasi perempuan pengusaha terbaik tingkat
Nasional dan Internasional” dan Misinya yaitu:
1. Memberdayakan dan memperkuat kaum perempuan terutama UKM melalui peningkatan
kemampuan anggota untuk mengelola usaha, mendapatkan akses terhadap teknologi baru,
pemasaran dan pembiayaan.
2. Memperjuangkan anggotanya dengan berbagai cara antara lain : advokasi, pelatihan
(ketrampilan teknis, manajemen dan sumber daya manusia) dan networking
1
Gambar 1.1 Logo Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia

Sumber : iwapi.or.id

Anggota IWAPI memiliki berbagai jenis usaha dengan berbagai tingkatan ukuran
industrinya dari mulai usaha kecil, menengah maupun usaha yang tergolong besar. Adapun
pengelompokan ukuran jenis usaha berdasarkan Undang-Undang No.20 Tahun 2008 tentang
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), yaitu :
1. Usaha Mikro, yaitu usaha produktif milik perorangan yang memiliki aset maksimal 50
juta rupiah dan omzet maksimal 300 juta rupiah.
2. Usaha Kecil, yaitu usaha produktif milik perorangan atau badan usaha yang bukan
merupakan anak perusahaan baik langsung ataupun tidak langsung. Usaha jenis ini
memiliki aset sebesar 50-500 juta rupiah dan omzet sebesar 300 juta rupiah sampai 2,5
miliar rupiah.
3. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif milik perorangan atau badan usaha
yang bukan merupakan anak perusahaan baik langsung ataupun tidak langsung dengan
jumlah aset sebesar 500 juta rupiah – 10 miliar rupiah dan omzet sebesar 2,5 – 50 miliar
rupiah.

Sedangkan kriteria usaha besar menurut peraturan menteri perdagangan No.46/M-


DAG/PER/9/2009 tentang Izin Usaha Perdagangan adalah usaha ekonomi produktif milik
perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan baik langsung ataupun
tidak langsung dengan jumlah kekayaan bersih diatas 10 miliar. Mayoritas anggota IWAPI
adalah para pengusaha mikro dan usaha kecil sebesar 85%, dan sisanya merupakan
pengusaha tingkat menengah sebesar 12% serta pengusaha golongan besar sebesar 3%.

2
1.2 Latar Belakang Penelitian
Persepsi wanita dalam memandang peran ideal seorang wanita merupakan dasar untuk
memutuskan apakah mereka akan bekerja atau hanya mengurus rumah tangga. Bekerja dalam
hal ini bisa dalam bentuk bekerja secara formal maupun informal seperti berwirausaha.
Keputusan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor internal maupun faktor
eksternal. Akan tetapi, fenomena wanita yang berwirausaha terus mengalamani peningkatan
dalam 5 tahun terakhir yang datanya dapat kita lihat dari tren pencarian kata kunci woman
entrepreneur pada search engine di situs Google.

Gambar 1.2 Grafik Hasil Penulusuran Kata Kunci Woman Entrepreneur di Google

Sumber : Google Trend (2015)

Gambar 1.2 menunjukkan bahwa walaupun grafik bersifat fluktuatif, namun terbukti
dari tahun ke tahun fenomena pebisnis wanita mengalami peningkatan. Bahkan dengan
adanya garis putus-putus, Google Trend memberikan prediksi (Forecast) di tahun 2016 hasil
penulusuran kata kunci Woman Entrepreneur akan semakin meningkat.
Tren yang berkembang berdasarkan fakta menunjukan bahwa wanita pengusaha
memiliki kontribusi atas pertumbuhan ekonomi di negaranya masing-masing. Brush dalam
Birley dan Muzyka (2000:14-15) mengemukakan bahwa wanita yang berada pada level
manajerial seperti yang ada di perusahaan e-Bay, Ask Computer dan pengusaha besar wanita
lain faktanya memiliki efek yang signifikan terhadap Gross National Product (GNP). Akan
tetapi di negara Indonesia jumlah wanita pengusaha bisa dikatakan sangat sedikit jika
dibandingkan dengan total penduduknya. Menurut Ketua DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia
(Apindo), persentase perempuan yang duduk di kursi manajerial hanya berkisar 5%. (Fitriani,
2015). Selain itu, menurut Menteri Negara Pemderdayaan Perempuan dan Perlindungan

3
Anak, fenomena wanita pengusaha menjadi cukup penting karena isu tersebut bisa dikatakan
sebagai isu nasional. Industri rumahan menjadi perhatian presiden karena mampu membuka
dan menyerap lapangan kerja yang cukup besar khususnya untuk perempuan sehingga dapat
mengurangi angka pengangguran (Wira, 2014).
Peran UMKM menjadi penting karena di saat ada perusahaan yang bangkrut ketika
krisis ekonomi tahun 1997-1998 melanda Indonesia, justru usaha kecil terbukti mampu
bertahan dan menjadi penyangga perekonomian rakyat. Menurut Hasanudin (2010), hal ini
dikarenakan sebagian besar UMKM memproduksi barang konsumsi dan jasa-jasa dengan
elastitas permintaan terhadap pendapatan yang rendah, maka tingkat pendapatan rata-rata
masyarakat tidak terlalu berpengaruh terhadap permintaan barang yang dihasilkan. Sebaliknya
kenaikan tingkat pendapatan juga tidak terlalu berpengaruh pada permintaan.
Di Indonesia, menurut data Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah di akhir
tahun 2013 memiliki 203.701 koperasi. Jumlah tersebut tersebar di 33 Propinsi dan Jawa
Barat menempati urutan ke 3 sebanyak 25.252 unit dan meningkat di tahun 2015 mencapai
25.646 unit. Akan tetapi, sebagian besar UMKM dan koperasi yang tidak aktif ada di Jawa
Barat sebanyak 10.122 unit (Konfrontasi,2014). Di Jawa Barat, lebih dari setengah wanita
lebih memilih bekerja di sektor informal. Diagram di bawah ini menunjukkan perbedaan
jumlah wanita yang bekerja di sektor informal dengan sektor formal. Dari data tersebut
tercatat sebanyak 52,58 % wanita bekerja di sektor informal, sedangkan di sektor formal
hanya tercatat sebanyak 47,42 %.

Gambar 1.3 Persentase Pekerja Wanita yang Bekerja di Sektor Formal dan Informal di Jawa Barat

Sumber : Nurhanifah (2014:1)

Menurut Ketua Dewan Koperasi Indonesia Wilayah Jawa Barat dalam Haryadi (2015),
jumlah koperasi di Jawa Barat mayoritas dikelola oleh wanita dan berkontribusi terhadap
produk domestik regional bruto (PDRB) mencapai 39 %. Jumlah sentra UMKM yang terdapat
di Jawa Barat tersebar di lima wilayah yaitu Wilayah Priangan Barat, Wilayah Priangan

4
Timur, Wilayah Bogor, Wilayah Purwakarta dan Wilayah Cirebon. Sebaran sentra tersebut
dapat kita lihat dalam tabel di bawah ini:

Tabel 1.1 Sebaran Jumlah Sentra UMKM Jawa Barat


Wilayah Jumlah Sentra (%)
Wilayah Priangan Barat
Kota Bandung 30
Kota Cimahi 18
Wilayah Priangan Timur
Kota Tasikmalaya 18
Kota Banjar 6
Wilayah Bogor
Kota Sukabumi 20
Kota Bogor 9
Depok 9
Wilayah Purwakarta
Kota Bekasi 13
Wilayah Cirebon
Kuningan 18
Kota Cirebon 12
Sumber : Nurhanifah (2014:3)

Dari data di atas, Kota Bandung memiliki jumlah sentra terbesar yakni sebesar 30%
dibandingkan dengan sebaran jumlah sentra di kota yang lain di sekitar Jawa Barat
(Nurhanifah, 2014:3).
Dengan data tersebut dapat kita lihat bahwa pengusaha golongan UMKM di IWAPI
Kota Bandung akan memiliki kontribusi besar dalam pembangunan ekonomi keluarga, daerah
serta negara jika pengelolaan dilakukan dengan baik. Akan tetapi untuk menjalankan suatu
usaha yang maksimal dari level UMKM pun terdapat hambatan yang sifatnya external.
Menurut Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat IWAPI, sulitnya produk Indonesia untuk
bersaing dengan produk asing di luar negeri dikarenakan adanya kendala yang dihadapi
UMKM saat ini terkait kebijakan pemerintah. Maka dari itu pemerintah harus memproteksi
pengusaha terlebih lagi saat menghadapi persaingan di era Masyarakat Ekonomi Asean (Aji,
2015).
Selain itu, anggota IWAPI juga mengeluhkan tingginya bunga kredit pinjaman yang
akan mempengaruhi harga produk mereka. Ketua IWAPI pusat menilai bunga Kredit UMKM
saat ini di kisaran 14 % masih terlalu tinggi Dengan bunga yang tinggi tersebut, masyarakat
semakin tidak tertarik untuk menggeluti usaha mikro. Ketua IWAPI dan para anggotanya
5
berharap bunga kredit mikro ini turun hingga 4 atau 5 %. Bunga UMKM yang rendah dinilai
bisa melindungi perempuan pengusaha Indonesia (Gumelar, 2015).
Selain hambatan dan risiko tersebut, terdapat pula hambatan yang terkait
permasalahan gender. Dalam birokrasi perbankan, perempuan yang ingin mengajukan kredit
pinjaman usaha harus mengantongi tanda tangan dari suami terlebih dahulu, untuk bisa
mendapatkan pinjaman. Demikian pula halnya dalam dunia usaha di mana perempuan yang
mengelola usaha tertentu tidak bisa mendapatkan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) dan ijin
usaha yang diperlukan untuk perluasan skala usaha tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu
dari suami sebagai penanggungjawab keluarga (Setiawati, 2011:12).
World Economic Forum (WEF) mengeluarkan data yang berisi indeks yang
dinamakan Global Gender Index (GGI). GGI tidak didesain untuk memeringkat negara yang
diteliti berdasarkan tingkat pembangunan ekonomi-sosialnya, namun lebih kepada
kesenjangan-kesenjangan gender di negara-negara tersebut. Menurut Tambunan (2012:2-3),
Indeks tersebut menjelaskan kesenjangan antara pria dan wanita dalam empat (4) kategori
yang di antaranya adalah partisipasi wanita di dalam kegiatan-kegiatan ekonomi serta
peluang-peluang yang mereka miliki, keikutsertaan mereka di dalam pendidikan, kesehatan
dan keselamatan wanita, dan yang terakhir adalah pemberdayaan politik dari kaum wanita.
Negara-negara dengan skor yang lebih tinggi (lebih dekat ke satu) mengartikan bahwa kondisi
wanita di negara- negara tersebut lebih baik daripada negara-negara dengan skor lebih rendah
(peringkat lebih rendah). Di dalam laporannya, peringkat Indonesia adalah 97 dari 134.

Gambar 1.4 Peringkat Indonesia untuk Global Gender Index dari World Economic Forum

*Catatan : di dalam kurung adalah jumlah negara yang disurvei


Sumber : Tambunan (2012:3)

Selain faktor eksternal, perempuan pengusaha juga dihadapkan dengan hambatan yang
sifatnya internal seperti dilema “peran ganda”, di mana mereka dihadapkan dengan aktivitas
6
sebagai seorang istri, ibu, dan menjalankan bisnis / usaha yang dirintisnya. Sebagaimana yang
ditemukan oleh Setiawati (2011:15-16) bahwa kesemua sampel penelitiannya mengalami
kesulitan dalam menyeimbangkan antara kegiatan berwirausaha dan menjadi seorang ibu
rumah tangga dan mendapatkan suatu protes dari anaknya terkait masalah perhatian. Hal ini
didukung oleh McKay (2001:161-162) yang menemukan bahwa wanita yang berusia diatas 50
tahun memiliki keinginan berwirausaha lebih tinggi dibandingkan wanita yang masih muda
karena jauh lebih fleksibel dalam merencanakan bisnis. Faktor yang mendominasinya adalah
karir yang sudah sulit berkembang dan faktor anak-anak mereka yang sudah besar serta
mandiri shingga kewajiban peran gender sebagai orang yang mengurus keluarga sudah jauh
berkurang.
Pada dasarnya, wanita cenderung lebih banyak untuk terlibat dalam aktivitas
kewirausahaan dibandingkan pria. Akan tetapi, mereka lebih mungkin untuk melakukannya
karena faktor kebutuhan. Jika dilihat dari Total Entrepreneurial Activity (TEA), rata-rata
wanita lebih banyak melakukan aktivitas kewirausahaan dibandingkan pria, baik dari faktor
yang mendorongnya, efektifitasnya maupun inovasinya. Walaupun begitu, sepertiga dari
wanita pengusaha tersebut lebih mungkin untuk memulai bisnis karena kebutuhan
dibandingkan pengusaha pria. Di 6 negara (Vietnam, Filipina, Thailand, Malaysia, Peru dan
Indonesia), wanita menunjukkan tingkat kewirausahaan sama atau lebih tinggi daripada pria.
Pola usia keseluruhan untuk kewirausahaan menunjukkan tingkat partisipasi tertinggi di
antara usia 25-34 dan 35-44 tahun, di mana posisi mereka saat itu baru merintis karir ataupun
sedang berada di pertengahan karir. Selain itu, di banyak daerah dengan pendapatan per kapita
yang rendah, perempuan harus menemukan cara untuk mendapatkan uang tambahan untuk
menambah penghasilan rumah tangga dan membayar berbagai kebutuhan seperti pendidikan,
pakaian bahkan kebutuhan makanan sehari-hari (Kelley et al., 2015:9&25).
Di antara 45 negara yang berpartisipasi dalam survei GEM 2013-2015, beberapa
negara menunjukkan peningkatan dari tahun-ke-tahun dalam hal motivasi dan kesempatan
untuk wanita pengusaha untuk membawa ekonomi ini lebih dekat dengan kesetaraan gender
dengan beberapa langkah nyata. Di antaranya adalah 2 negara Eropa (Luksemburg dan
Yunani) dan 3 dari Amerika Latin dan Karibia (Ekuador, Kolombia dan Panama) (Kelley et
al., 2015:25).

7
Gambar 1.2 dari Google Trend yang sudah dipaparkan sebelumnya memperlihatkan
bahwa fenomena wanita yang berbisnis diprediksi akan mengalami peningkatan. Hal tersebut
tidak lepas dari perkembangan teknologi informasi dan perubahan struktur sosial serta
paradigma masyarakat. Brush dalam Birley dan Muzyka (2000: 19) mengemukakan bahwa :
In the future, the domain of entrepreneurship has historically been a male preserve, but this is
changing rapidly. While women entrepreneurs in many countries still face significant
challenges in launching and growing their ventures, increased social acceptance, influence of
technology and targetted assistance programs are making it easier for woman to become
entrepreneurs.

Teknologi yang semakin maju seperti sekarang ini, sangatlah mudah untuk seseorang
mengunggah segala sesuatunya termasuk dalam kegiatan berwirausaha. Dengan internet,
seseorang menjadi jauh lebih mudah dalam mengenalkan dan mempromosikan suatu produk
yang ditawarkan dibandingkan dengan era 1990-an dan sebelumnya. Beberapa aplikasi sosial
media yang digunakan untuk kepentingan promosi ataupun kampanye diantaranya adalah
Facebook, Twitter dan Instagram. Namun aplikasi yang paling banyak dipakai dalam kegiatan
berwirausaha adalah aplikasi Instagram. Aplikasi Instagram memiliki lebih dari 40 miliar
gambar dengan 400 juta pengguna aktif bulanan serta menghasilkan rata-rata 80 juta foto per
hari. Aplikasi ini dapat digunakan dengan Handphone ataupun komputer pribadi (PC). Baik
unggahan foto ataupun video-sharing yang berdurasi hingga 1 menit dari Instagram, mampu
menarik perhatian jika dikemas dalam kemasan yang menarik, yang dalam hal ini adalah
teknik seni fotografi. Dengan adanya aplikasi tersebut, komunitas di antara pengguna di
seluruh dunia dapat dilihat aktifitasnya berupa foto dan video. Hanya dalam 6 tahun,
Instagram telah menunjukkan pertumbuhan yang signifikan pada penggunanya secara
keseluruhan dan di hampir setiap kelompok demografi. Instagram menghasilkan tingkat
keterlibatan per-follower 4,21%, di mana angka tersebut 58 kali lebih banyak keterlibatan per
follower dari Facebook dan 120 kali lebih banyak dari Twitter (Johnston, 2016). Dalam
aplikasi ini, kita dapat melihat seberapa banyak orang memberikan kata kunci / hastag (#)
setiap kali mereka mengunggah suatu gambar ataupun video, baik untuk kepentingan promosi
ataupun kepentingan kampanye tertentu.

8
Gambar 1.5 Hasil Penelusuran Kata Kunci Terkait Wanita dan Wirausaha di Instagram

Sumber : instagram (2016)


9
Gambar 1.5 menunjukan jumlah total hasil penelusuran kata kunci yang berhubungan
dengan wanita yang berwirausaha. Jumlah tersebut hanya memperlihatkan hasil penelusuran
menggunakan bahasa Inggris saja dan belum termasuk bahasa lainnya di dunia serta
pengetikan yang salah atau yang biasa disebut typo.
Ketika teknologi telekomunikasi dan informasi belum berkembang, kegiatan
berwirausaha khususnya untuk mempromosikan suatu produk tidak semudah dan secepat
seperti saat ini. Wanita yang berwirausaha pun belum seperti sekarang ini, terlebih pada saat
mereka dihadapkan dengan tantangan seperti pendidikan formal yang tinggi serta
pengetahuan manajerial yang cukup. Persoalan gender dan faktor eksternal seperti kebijakan
pemerintah pun membuat wanita pengusaha mendapatkan tantangan tersendiri.
Di tengah hambatan-hambatan tersebut, terdapat wanîta yang berani mengambil
keputusan untuk menjadi seorang pengusaha yang tergabung dalam Ikatan Wanita Pengusaha
Indonesia (IWAPI). Di tingkat Internasional, IWAPI telah melakukan beberapa program
bersama dengan beberapa Kedutaan Besar seperti Amerika Serikat, CANADA, Malaysia,
Hong Kong, Taiwan serta IFC (International Finance Corporation). IFC merupakan salah
satu dari World Bank Group yang membahas mengenai perekonomian sektor swasta/informal.
Salah satu kajian Program for Eastern Indonesia SME Assistance (PENSA) dari Widyadari et
al. (2008) yang menggunakan anggota IWAPI sebagai respondennya menyimpulkan bahwa
wanita pengusaha di Indonesia memang memiliki keterbatasan dalam mengembangkan
usahanya dikarenakan masih melekatnya stereotip mengenai peran pria dan wanita. Meskipun
begitu, perubahan norma bisa saja berubah sehingga nantinya akan mendorong pemerintah
untuk mengeluarkan kebijakan yang memudahkan wanita dalam berwirausaha. Maka dari itu,
sangat penting bagi pemerintah untuk memberikan kesempatan yang lebih besar kepada
wanita pengusaha tingkat UMKM yang aktif. Kesempatan tersebut bisa berupa
pengembangan berbagai sumber daya seperti pendidikan/pelatihan, modal serta prosedur yang
mudah sehingga peraturan yang ada setara dengan pria. Kebijakan yang efektif akan
membantu wanita pengusaha dalam membuat perekonomian lebih baik, tidak hanya untuk
keluarganya, tetapi juga berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia (Widyadari
et al., 2008:36).
Berdasarkan wawarncara informal dengan salah satu pengurus cabang Kota Bandung,
peneliti memperoleh informasi bahwa alasan dia dan mayoritas anggota IWAPI kota Bandung
memutuskan untuk berwirausaha adalah untuk membantu ekonomi keluarga dan tidak
terfikirkan untuk menjadikan usahanya menjadi mata pencaharian utama yang menghasilkan
income yang sangat besar. Hal tersebut juga dikarenakan mayoritas anggota IWAPI merintis
usahanya di usia yang sudah tidak tergolong muda. Selain itu, peneliti juga mendapatkan
10
informasi yang senada dari sekretaris IWAPI Kota Bandung saat ditemui di Gedung Wanita
bahwa ciri khas yang membedakan wanita pengusaha di Bandung dengan di kota lain seperti
misalnya di Surabaya dan juga IWAPI pusat yang berada di Jakarta adalah dari alasan goal
(tujuan utama) membangun bisnis. Dia mengatakan bahwa pengusaha di Jakarta dan Surabaya
cenderung termotivasi untuk kemajuan karir dan mengumpulkan kekayaan dibandingkan di
Bandung sehingga unsur persaingan lebih terasa.
Berdasarkan wawancara informal dengan Ketua KOWAPI Bandung serta senior di
IWAPI pada tanggal 10 Juni 2015, peneliti memperoleh informasi bahwa dahulu pengusaha di
IWAPI relatif memiliki daya juang yang lebih besar dibandingkan dengan pengusaha yang
ada sekarang. Hal ini dikarenakan peraturan terdahulu bersifat sangat ketat seperti harus
memiliki dokumen legal serta surat dari kehakiman sehingga menambah deretan hambatan
wanita pada saat itu untuk menjadi pengusaha. Terelebih lagi pada era tersebut, saat mereka
merintis usahanya, belum ada teknologi informasi dan komunikasi yang memudahkan
kegiatan berwirausaha seperti sekarang ini.
Selain itu, ketua KOWAPI juga berpendapat bahwa Indonesia adalah negara yang
memudahkan seseorang untuk menjadi pengusaha karena hal ini terkait permasalahan
kewajiban pengusaha untuk membayar pajak. Dia memiliki opini bahwa seharusnya wanita
yang ada di Indonesia lebih berani mengambil keputusan menjadi pengusaha karena aturan
membayar pajak di Indonesia sangat tidak jelas sehingga risiko dana terkuras dari pajak legal
relatif lebih kecil walaupun ada biaya lain yang sifatnya “ilegal”. Peneliti juga memperoleh
informasi bahwa hampir semua senior IWAPI yang sudah berusia lanjut merintis usahanya
secara otodidak dan tidak mengenyam pendidikan kewirausahaan secara formal, bahkan ada
diantaranya yang jenjang pendidikannya tidak terlalu tinggi tapi sukses membangun bisnis.
IWAPI cabang Kota Bandung memiliki lebih dari 140 orang yang terdaftar sebagai
anggota IWAPI. Berdasarkan wawancara awal dengan salah satu pengurus IWAPI pusat saat
ditemui di rumahnya pada tanggal 24 Juni 2015, peneliti mendapatkan informasi bahwa ada
pengusaha besar yang tidak semua dari mereka merintis dari awal. Hal ini bisa disebabkan
oleh faktor seperti meneruskan usaha suami atau usaha anggota keluarga lain. Selain itu, dia
juga menambahkan terkadang pengusaha yang sudah memiliki modal sangat besar belum
tentu bisa mengarahkan usahanya bertumbuh secara konsisten. Hal ini berbeda dengan
pengusaha yang masih berskala mikro-kecil yang justru benar-benar merintis usahanya dari
awal, karena perjuangan dan effort mereka jauh lebih besar dibandingkan pengusaha yang dari
awal sudah memiliki modal yang besar.
Akan tetapi dikarenakan senior IWAPI yang terlalu sibuk merintis usaha dan
mengurus keluarga serta ada pula yang sudah meninggal mengakibatkan kaderisasi tidak
11
maksimal. Berdasarkan wawancara dengan pemilik Suminar Taylor, peneliti memperoleh
informasi bahwa dalam 1 tahun terakhir, IWAPI cabang Kota Bandung sudah jarang
mengadakan pertemuan rutin yang diadakan setiap seminggu sekali, yaitu setiap hari Rabu
pukul 11 siang di minggu ke 3 atau ke 4 di Gedung Wanita di sekitar Jalan Riau (R.E.
Martadinata). Hal tersebut mengakibatkan momentum positif seperti semangat juang para
senior IWAPI tidak tertular ke junior mereka yang membuat mental pengusaha berikutnya
tidak seperti anggota-anggota sebelumnya. Dia juga menambahkan bahwa inspirasi untuk
mengembangkan suatu usaha muncul ketika pertemuan itu diadakan karena walaupun tidak
merasa dibantu dalam hal finansial. Dia juga merasa inspirasi dari senior IWAPI bisa
membuat mereka lebih berani mengambil keputusan untuk mengembangkan usahanya.
Informasi tambahan juga didapat dari ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota
Bandung saat diwawancara pada bulan November 2015 bahwa akhir-akhir ini IWAPI sedang
sibuk mengembangkan sampai ke cakupan yang lebih kecil, yaitu IWAPI ranting. Dia juga
menambahkan bahwa terdapat ketidakharmonisan antara Ketua KOWAPI dan Ketua IWAPI
di Kota Bandung terkait perbedaan prinsip dan gaya bekerja. Selain itu peneliti juga menemui
salah satu anggota IWAPI pemilik usaha kuliner Batagor Han-Han. Saat diwawancarai secara
informal di daerah BKR Bandung, dia mengatakan bahwa di tingkat organisasi pusat pun
terdapat persoalan yang sifatnya politis, yaitu munculnya IWAPI tandingan yang disusung
oleh beberapa anggota yang ada di Jakarta.
Walaupun terdapat sederet persoalan tingkat organisasi yang terjadi di IWAPI, tingkat
individu yang merupakan wanita pengusaha itu sendiri merupakan faktor penting dalam
melihat suatu proses seseorang dalam merintis usahanya. Seorang pengusaha yang sukses
merintis dan mengembangkan usahanya akan memberikan dampak positif baik untuk
perekonomian keluarganya maupun orang lain bahkan untuk scoop yang lebih besar. Ketika
Kegiatan berwirausaha yang dilakukan anggota IWAPI yang berskala kecil seperti UMKM
mampu menyerap tenaga kerja sehingga mengurangi angka pengangguran, maka saat
usahanya itu berkembang dan penyerapan tenaga kerja pun akan semakin meningkat. Bahkan
semenjak 2 tahun lalu, IWAPI menargetkan wanita pengusaha yang ada di dalam organisasi
tersebut bisa mencapai satu juta orang (Siregar, 2013). Namun hal tersebut tidaklah mudah
ketika masih terdapat dualisme di tingkat organisasi berupa IWAPI tandingan dan juga
terdapat ketidakharmonisan di tingkat pengurus cabang. Selain itu yang paling mempengaruhi
untuk tingkat individu adalah jarangnya pertemuan rutin yang dihadiri oleh semua anggota di
cabang Kota Bandung sehingga momentum untuk saling bertukar informasi dan semangat
antar anggota senior dan junior sudah tidak lagi terasa. Hal inilah yang membuat semangat
juang para senior IWAPI tidak tertular pada generasi berikutnya. Semangat juang seperti
12
inilah yang harus dapat dipelajari melalui proses pertemuan langsung antar anggota yang
masih aktif ataupun kurang aktif sehingga semua anggota IWAPI kota Bandung memahami
bagaimana proses pengambilan keputusan untuk berwirausaha itu dibuat.
Menjadi seorang entrepreneur / pengusaha membutuhkan proses mengkreasikan
dengan menambahkan nilai sesuatu yang dicapai melalui usaha keras dan waktu yang tepat
dengan memperkirakan dana pendukung, fisik, kemandirian dan risiko sosial. Suatu
keputusan yang diambil oleh seseorang ditengah hambatan dan rintangan tertentu dibutuhkan
keberanian. Keputusan seseorang dalam mengambil tindakan dapat dijelaskan melalui teori
Intensi. Pengertian intensi dengan pendekatan psikologi adalah niat, serta diimplementasikan
dalam bentuk perjuangan guna mencapai suatu tujuan yang dilakukan secara sadar dan atas
kemauan sendiri. Pengkajian intensi adalah cara yang paling akurat memprediksi perilaku.
Dalam hal ini, penelitian kewirausahaan telah dilakukan dengan dua jalur utama, yaitu:
karakteristik pribadi atau ciri-ciri pengusaha dan pengaruh faktor-faktor konteks politik,
sosial, pasar, peluang industri, dan dukungan keuangan (Sánchez, 2012:30).
Teori The Entrepreneurial Event dari Shapero dan Sokol dalam Darmanto (2013 : 88)
berasumsi bahwa seseorang yang akan melakukan kegiatan berwirausaha memiliki arah yang
akan dituju yang dipengaruhi oleh faktor-faktor penting yang ada di sekitarnya, seperti :
keluarga, pekerjaan, status sosial, kemampuan pendanaan, nilai budaya, pendidikan dan lain-
lain yang akan membawanya pada suatu perilaku. Proses pembentukan perilaku tersebut
dapat mengalami perubahan yang disebabkan adanya kejadian yang memicu (trigger events),
baik yang bersifat positif (having positive pull) ataupun negatif (negative displacement).
Namun, apapun trigger events yang terjadi, seseorang yang meresponya dengan positif akan
membuat dirinya mengambil keputusan yang positif pula, yang dalam penelitian ini adalah
keputusan berwirausaha. Adapun 3 dimensi yang dibahas dalam teori Shapero Entrepreneurial
Event (SEE), yaitu :
a) The Perceived Desirability (PD) adalah persepsi individu dari keinginan
kewirausahaan dipengaruhi sikap pribadi, nilai-nilai (norma), dan perasaan.
b) The Perceived Feasibility (PF) terkait dengan persepsi individu dari sumber daya yang
tersedia. Dengan kata lain, yang dilihat adalah keyakinan dan kemampuan yang
dirasakan pribadi individu untuk melaksanakan perilaku tertentu.
c) The Propensity To Act (PTA) adalah disposisi pribadi untuk bertindak atas keputusan
seseorang, mencerminkan aspek kehendak intensi.

Selain itu, dibutukan kemampuan pengaturan diri individu yang baik yang disebut
dengan self-efficacy. Inti dari pengertian self-efficacy adalah keyakinan atau kepercayaan
13
individu mengenai kemampuan dirinya untuk untuk mengorganisasi, melakukan suatu tugas,
mencapai suatu tujuan, menghasilkan sesuatu dan mengimplementasi tindakan untuk
menampilkan kecakapan tertentu (Bandura, 1999). Terdapat kemiripan antara self efficacy
dengan The Perceived Feasibility (PF) dari teori SEE yang membuat penjelasannya akan
lebih mendalam.
Dari pemaparan di atas, Peneliti tertarik untuk mengidentifikasi dimensi
entrepreneurial intentions, yang dalam hal ini adalah keputusan untuk menjadi pengusaha
pada anggota senior IWAPI cabang kota Bandung yang sukses dalam merintis usahanya.

1.3 Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, maka perumusan masalah penelitian ini adalah:
1. Seperti apa penilaian Perceived Desirability anggota IWAPI kota Bandung dalam
kaitannya dengan intensi berwirausaha?
2. Seperti apa keyakinan Perceived Feasibility anggota IWAPI kota Bandung terkait
sumber daya yang dimikiki yang nantinya berguna untuk menjalankan serta
mengembangkan usaha?
3. Seperti apa bentuk Propensity To Act anggota IWAPI kota Bandung dalam intensi
berwirausaha?

1.4 Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dimensi Entrepreneurial
Intentions pada wanita pengusaha di IWAPI kota Bandung yang berumur dewasa madya.

1.5 Kegunaan Penelitian


Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk:
1. Aspek Teoritis
a. Penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan dan memberikan sumbangan
informasi bagi akademisi di dunia ekonomi, manajemen sehingga dapat
memperkaya dan mengembangkan khasanah ilmu pengetahuan, khususnya di
bidang woman entrepreneurship.
b. Menambahkan dukungan empiris mengenai proses psikologis wanita kaitannya
dengan usaha yang dijalaninya.

14
2. Aspek Praktis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan semangat, motivasi dan spirit
berwirausaha pada wanita lain yang berminat untuk terjun langsung sebagai
entrepreneur
b. Memberikan gambaran mengenai perjalanan wanita pengusaha terkait kegagalan
dan keberhasilannya yang dapat dijadikan suatu pelajaran penting dalam dunia
usaha.
c. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan informasi yang nantinya akan
bermanfaat bagi IWAPI cabang kota Bandung untuk tingkat organisasi supaya
momentum keanggotaan yang selama ini kurang maksimal bisa lebih ditingkatkan
dengan memberikan gambaran kesuksesan seniornya.

1.6 Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan ini dibuat untuk memberikan gambaran umum tentang
penelitian yang dilakukan oleh penulis.

BAB I PENDAHULUAN
Merupakan penjelasan secara umum, ringkas dan padat yang menggambarkan isi penelitian.
Isi bab ini meliputi tinjauan objek studi, latar belakang penelitian, perumusan masalah, tujuan
penelitian dan kegunaan penelitian serta sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Menjelaskan tentang hasil kajian kepustakaan yang terkait dengan topik dan variabel
penelitian. Kajian kepustakaan tersebut berisi bahasan teori-teori kewirausahaan pada wanita,
teori Entrepreneurial Process, teori Entrepreneurial Intentions dan teori Self Efficacy.

BAB III METODE PENELITIAN


Menegaskan pendekatan, metode dan teknik yang digunakan untuk mengumpulkan dan
menganalisis data yang dapat menjawab dan menjelaskan penelitian. Bab ini berisi jenis
penelitian, instrumen penelitian, tahapan penelitian, responden penelitian, pengumpulan data,
uji validitas dan reliabilitas serta teknik analisis data.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Bab ini berisi hasil dari penelitian dan pembahasan terhadap analisis data yang diperoleh
selama penelitian berlangsung.
15
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini berisi kesimpulan dan hasil penelitian yang telah dilakukan, saran yang diberikan
pada objek penelitian dan saran bagi penelitian selanjutnya.

16