Anda di halaman 1dari 6

TUGAS PANCASILA PERTEMUAN KE-8 KELOMPOK 6

1. Berbagai konsep dan pengertian kearifan lokal dalam kehidupan masyarakat di Indonesia
yang terkait dengan sikap inklusif, toleran, dan gotong royong dalam keragaman agama dan
budaya.
Jawab :
 Secara etimologi, kearifan lokal (local wisdom) terdiri dari dua kata: kearifan (wisdom) dan
lokal (local). Dalam Kamus Inggris-Indonesia Purwono Sastro Amijoyo dan Robert K.
Cunningham, local berarti setempat, sedangkan wisdom (kearifan) sama dengan
kebijaksanaan. Sedangkan pendapat lain menurut Akhmar dan Syarifudin (2007), kearifan
lokal merupakan tata nilai atau perilaku hidup masyarakat lokal dalam berinteraksi dengan
lingkungan tempatnya hidup secara arif. Secara substansial, kearifan lokal merupakan nilai-
nilai yang berlaku dalam tatanan masyarakat, yang diyakini kebenarannya dan menjadi
pedoman dalam bertingkah-laku sehari-hari suatu masyarakat. Kearifan lokal merupakan
“asset spiritual” atau kebijakan hidup yang mengajarkan masyarakat bagaimana harus
bersikap. Pengertian ini memiliki keterkaitan dengan sikap inklusif dalam keragaman
agama dan budaya, inklusifitas menjadi jaminan terhadap keharmonisan masing-masing
agama untuk tetap eksis dalam satu kesatuan pluralitas. Sikap inklusif dalam arti menerima
dan menyadari kehadiran agama dan budaya lain dalam kehidupan bersama dan bernegara
tidak menjadikan pemeluk-pemeluk agama dan berbagai budaya yang ada di Indonesia
kehilangan jati diri, eksistensi dan penganutnya.
 Indonesia merupakan negara kepulauan yang dikenal dengan keanekaragaman seperti suku
dan kebudayaan (multikulturalisme), selain itu dikenal sebagai negara yang multiagama
dimana banyak dijumpai beberapa penganut agama yang beragam. Oleh karena itu, sikap
toleran sangat dibutuhkan dalam menghadapi keragaman agama dan budaya di
Indonesia.Toleransi bukanlah dinilai dari tingkat pendidikan formal atau siapa dan agamanya,
melainkan dilihat dari adanya kemauan untuk hidup bermasyarakat dengan menjadikannya
perbedaan sebagai pemersatu bukan sebagai permasalahan,sehingga bangsa kita dapat hidup
sesuai dengan cita cita dan tujuan yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945
 Gotong royong dalam keberagaman budaya dan agama artinya adalah melakukan suatu hal
dengan cara bekerja bersama-sama untuk mencapai hasil atau tujuan yang diinginkan, dalam
hal ini adalah tujuan untuk mempertahankan persatuan di antara banyaknya keberagaman
budaya dan agama di Indonesia sehingga dapat mewujudkan tujuan dan cita cita bangsa
Indonesia yang lebih maju. Apabila tidak ada gotong royong di antara keberagaman budaya
dan agama maka persaudaraan tidak akan bisa terjalin erat, sebab gotong royong memiliki
unsur yakni Kesatuan, Kebersamaa, Kekeluargaan, dan Kerukunan.
2. Berbagai kasus yang terkait dengan pengembangan karakter Pancasilais, seperti jujur,
disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, dan cinta damai
di lingkungan Anda.
Jawab :
Karakter dan kepribadian seseorang terbentuk melalui internalisasi berbagai kebajikan yang
digunakan sebagai landasan dalam cara pandang, berpikir, bersikap, serta melakukan
tindakan. Adanya interaksi antar sesama akan menumbuhkan karakter suatu bangsa. Oleh
karena itu, pengembangan karakter bangsa hanya dapat dilakukan melalui karakter individu.
Meskipun demikian, manusia hidup dalam lingkungan sosial tertentu, maka pengembangan
karakter hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial budaya yang bersangkutan. Artinya,
pengembangan karakter hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial budaya dan
karakter bangsa hanya dapat dilakukan melalui suatu proses pendidikan yang tidak terlepas
dari lingkungan sosial dan budaya. Lingkungan sosial budaya bangsa Indonesia adalah
pancasila. Jadi, budaya dan karakter bangsa harus berlandaskan nilai-nilai pancasila.
Beberapa contoh mengenai sikap pancasilais sebagai berikut :

Tanggung Jawab
Merupakan kesadaran seseorang akan kewajiban untuk menanggung segala akibat dari apa
yang telah diperbuat atau telah ditetapkan.
 Tidak melanggar norma dan peraturan yang berlaku
 Menjaga kebersihan serta melestarikan lingkungan

Gotong Royong
Merupakan kegiatan yang dilakukan secara bersama dengan sifat sukarela dengan tujuan
untuk memperlancar suatu pekerjaan.
Contohnya :
 Ikut ambil bagian saat kerja bakti di lingkungan sekolah atau masyarakat
 Membantu orang tua dalam menyelesaikan pekerjaan rumah dengan cara menyapu,
mengepel, mencuci piring, dan juga membereskan rumah

Peduli
Merupakan sebuah nilai dasar dan sikap memperhatikan dan bertindak proaktif terhadap
kondisi atau keadaan di sekitar kita. Peduli adalah sebuah sikap keberpihakan kita untuk
melibatkan diri dalam persoalan, keadaan atau kondisi yang terjadi di sekitar kita.
Contohnya :
 pada setiap 3 bulan sekali dilingkungan rumah saya warga sekitar melakukan
kegiatan kerja bakti untuk membersihkan lingkungan sekitar, seperti membersihkan
Got, Jalan dll

Santun
Merupakan sikap ramah yang diperlihatkan pada beberapa orang di hadapannya dengan
maksud untuk menghormati serta menghormati orang itu, hingga membuat kondisi yang
nyaman serta penuh keharmionisan.
Contohnya :
 Tidak berbicara dengan nada tinggi dengan orang yang lebih tua dari kita
 Tidak menyela pembicaraan
Jujur
Merupakan sikap yang ditandai dengan melakukan perbuatan yang benar, mengucapkan
perkataan sesuai dengan realita tanpa menambah atau mengurangi apapun.
Contohnya :
 Tidak mencontek saat ujian
 Membayar saat membeli sesuatu
 Tidak menerima suap atau korupsi
 Tidak menimbun barang dagang sehingga harganya naik drastis

Disiplin
Merupakan kepatuhan untuk melaksanakan suatu sistem yang mengharuskan seseorang
untuk tunduk kepada ketetapan yang berlaku.
Contohnya :
 Tidak melanggar lalu lintas
 Tidak terlambat datang ke kelas atau datang tepat waktu

Ramah lingkungan
Merupakan suatu usaha yang tidak menyebabkan kerusakan pada lingkungan atau dapat
diartikan sesuatu yang tidak berdampak negatif terhadap alam sekitar.
Contohnya :
 Mengurangi penggunaan plastik dan minyak bumi
 Menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan

Cinta damai
Merupakan sikap seseorang yang terintegrasi yang berarti bahwa seseorang memiliki
perkataan dan tindakan yang membuat orang lain merasa aman dan senang dengan
kehadirannya.
Contohnya :
 Tidak memaksakan ego diri sendiri ketika berdebat dengan orang lain
 Tidak mengejek orang lain yang dianggap memiliki kekurangan dan perbedaan

3. Contoh tentang keputusan yang diambil berdasarkan prinsip musyawarah dan mufakat di
lingkungan sekitar Anda
Jawab :
 Penentuan jadwal ronda malam secara bergantian
 Rapat keluarga, misal untuk menentukan acara liburan
 Pelaksanaan siskamling
 Mengelola tempat pembuangan sampah desa
 Pemilihan ketua organisasi karang taruna
 Pemilihan ketua RT/RW
 Penentuan jenis lomba dalam acara HUT RI antar masyarakat
 Penetuan jadwal kerja bakti di lingkungan
 Penetuan sistem keamanan lingkungan
4. Berbagai konsep dan pengertian yang terkait dengan pemahaman atas hakikat sila-sila
pancasila dan bagaimana pengaktualisasian nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai
paradigma berpikir, bersikap, dan berperilaku masyarakat ?
Jawab :

Pada hakikatnya, pancasila sebagai sistem filsafat terletak pada esensi masing-
masing silanya. Nilai-nilai sila pancasila dalam pengaktualisasian nilai nilai yang
terkandung di dalamnya sebagai paradigma berpikir,bersikap dan berperilaku dalam
masyarakat adalah sebagai berikut:
 Sila pertama (Ketuhanan yang Maha Esa) :
Sila pertama, yakni Ketuhanan yang Maha Esa memiliki peran besar dalam sistem
filsafat pancasila. Pertama, nilai ketuhanan sebagai basic atau dasar dari sila yang
lain. Selain itu, Bung Karno mengatakan bahwa sila pertama juga berperan sebagai
leitstar atau bintang pembimbing dalam mengejar kebijakan dan kebaikan.
Berdasarkan kedua peranan tersebut, sila pertama berperan sebagai kunci dalam
sistem filsafat yang kemudian menghasilkan aliran theistic philosophy yang
menjadikan keyakinan dan eksistensi Tuhan sebagai satu-satunya sumber inspirasi
dalam seluruh aspek kehidupan. Hakikat sila pertama berkaitan dengan keyakinan.
Yakni meyakini bahwa Tuhan sebagai prinsip utama. Setiap warga negara diberikan
kebebasan, contohnya bebas memilih agama sesuai keyakinan mereka. Namun,
mereka harus bisa bertanggung jawab atas apa yang mereka pilih karena tanggung
jawab tersebut berkaitan dengan Tuhan sang pencipta.
Pengaktualisasian : Kegiatan beribadah sesuai ketentuan agama masing masing
(Bersikap), Menghargai agama lain (Berperilaku dalam masyarakat), menjunjung
tinggi prinsip agama dalam kehidupan (Berpikir).
 Sila kedua (Kemanusiaan yang adil dan beradab) :
Hakikat sifat manusia adalah makhluk sosial (homo socius) yang menjadi cerminan
dari sila kedua pancasila. Prinsip kemanusiaan yaitu menghargai dan menghormati
harkat martabat sesama manusia tanpa membedakan latar belakang agama, suku,
status ekonomi, dll. Sejatinya, kita diciptakan tanpa adanya perbedaan kedudukan
oleh Tuhan. Oleh karenanya, sebagai makhluk-Nya, kita pun tidak boleh membeda-
bedakan antar sesama manusia.
Hakikat kemanusiaan dalam sistem filsafat pancasila berdasarkan pendapat
Notonagoro, yaitu monopluralis, artinya manusia terdiri atas banyak unsur tetapi
masih dalam satu kesatuan yang utuh. Jika dipandang dari kedudukan kodratnya,
manusia bersifat monodualis yang terdiri dari unsur individu dan unsur sosial serta
masih dalam satu kesatuan yang utuh. Berdasarkan sifat kodrat lahiriah dari
manusia, manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup secara individualis.
Sedangkan menurut Tirtarardja dan Ia Sulo, manusia adalah makhluk
multidimensional atau memiliki banyak dimensi wajah. Yaitu, dimensi
individualitas, sosialitas, moralitas, dan religiusitas.
Pengaktualisasian : Melaksanakan kewajiban sebagai anggota masyarakat
(Berperilaku dalam masyarakat), Menghargai hak-hak orang lain (Bersikap),
Mengakui persamaan derajat, hak, dan kewajiban asasi setiap manusia. (Berpikir)
 Sila ketiga (Persatuan Indonesia) :
Menurut Fritz Kunkel, pada hakikatnya setiap diri manusia memiliki dua dorongan
nafsu yang paling utama, yaitu dorongan ke-aku-an atau ichhaftigkeit dan dorongan
ke-kita-an atau wirhaftigkeit. Kedua dorongan ini harus seimbang karena apabila
salah satu menjadi dominan akan menghasilkan penyimpangan psikologi. Dominan
terhadap ichhaftigkeit akan menyebabkan seseorang memiliki sikap “ego oriented”,
sedangkan dominan wirhaftigkeit akan melahirkan sikap altruistik, yaitu menjadi
manusia tanpa pribadi. Sehingga muncul sila ini (Nasionalisme) untuk mengimbangi
sila internasionalisme seperti yang dituturkan oleh Bung Karno. Esensi persatuan
juga sangat berhubungan dengan keadaan Indonesia yang pluralisme. Untuk
menjaga persatuan Indonesia, maka dibutuhkan semangat kebangsaan dan rasa cinta
tanah air yang tertanam di hati masyarakat Indonesia demi menjaga persatuan
bangsa Indonesia.
Pengaktualisasian : membeli produk dalam negeri (Berperilaku dalam masyarakat),
Tidak merendahkan suku adat dan budaya lain (Bersikap) , Memiliki rasa cinta tanah
air (Berpikir).
 Sila keempat (Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam
permusyawaratan dan perwakilan) :
Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam
permusyawaratan/perwakilan ini berisi cara atau langkah untuk mewujudkan
tercapainya tujuan hidup berbangsa dan bernegara. Sila ini berfungsi sebagai alat
serta kepercayaan atau keyakinan. Hal ini karena prinsip demokrasi merupakan satu-
satunya alat yang paling sesuai dengan hakikat manusia sebagai makhluk Tuhan,
makhluk sosial, dan makhluk individu. Selain kerakyatan menjelaskan mengenai
segala hal yang berkaitan dengan negara harus sesuai dengan hakikat rakyat,
semuanya untuk kepentingan dan keperluan rakyat. Seperti yang disampaikan oleh
Notonegoro bahwa “Negara bukan untuk satu orang, bukan negara satu golongan,
walaupun golongan kaya…tetapi negara semua untuk semua, satu untuk semua,
semua untuk satu..negara didasarkan atas rakyat, tidak pada golongan, tidak pula
pada perseorangan”. Dan Mufakat atau Demokrasi yang disampaikan oleh Bung
Karno sangat mewakili pendapat Notonegoro mengenai negara karena demokrasi
berarti pemerintahan dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat. Selain itu, keputusan
yang diambil ketika menemui suatu permasalahan melalui musyawarah mufakat
yang disepakati dan dijalankan semua anggota. Bukan mengambil pendapat
mayoritas dan mengesampingkan pendapat minoritas. Menghargai semua usul yang
ada dan mengambil keputusan sebagai jalan terbaik atas permasalahan yang ada.
Pengaktualisasian : Berjiwa besar untuk menerima hasil musyawarah (Berperilaku
dalam masyarakat), Mau menghargai menghargai pendapat orang lain ( Bersikap),
mengutamakan kepentingan Bersama diatas kepentingan pribadi ( Berpikir)
 Sila kelima (Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia) :
Sila kelima yang memuat nilai keadilan memiliki fungsi sebagai tujuan negara,
yakni menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan demikian,
unsur-unsur pembentuk kesatuan pandangan hidup (way of life / weltanschuung)
telah lengkap sempurna.
Keadilan menurut sudut pandang Aristoteles yaitu kelayakan dalam tindakan
manusia (fairness in human action). Kelayakan tersebut ialah titik tengah antara
kedua ujung ekstrim (teori The Golden Means). Ia juga membagi keadilan menjadi
tiga, yaitu keadilan distributif, legal, dan komunitatif. Keadilan distributif dapat
diwujudkan jika hal yang sama diperlakukan sama, dan hal berbeda diperlakukan
berbeda juga. Keadilan legal terwujud jika fungsi dapat terlaksana dengan baik
sesuai kemampuan setiap individu masyarakat. Sedangkan keadilan komunitatif
berarti adanya bentuk timbal-balik secara proporsional dalam kehidupan bersama.
Pengaktualisasian : Tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan
kepentingan umum (Berperilaku dalam masyarakat), Menghormati jerih payah kerja
keras seseorang (Berpikir), Suka bekerja keras dan bersikap adil kepada siapa saja
(Bersikap)

Anda mungkin juga menyukai