Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Tumbuh kembang adalah proses berkesinambungan yang terjadi

sejak intrauterin dan terus berlangsung sampai dewasa. Dalam proses

mencapai dewasa, anak harus melalui berbagai tahap tumbuh kembang

termasuk tahap remaja. Tahap remaja adalah tahap transisi antara masa

anak dan dewasa dimana terdapat fase tumbuh, timbul ciri-ciri seks

sekunder, tercapai fertilisas dan terjadi perubahan-perubahan psikologik

serta kogninif. Pada tahap ini remaja mengalami perubahan perkembangan

penting yaitu kognitif, emosi, sosial dan seksual (Soetjiningsih, 2004).

Remaja menurut World Health Organization (WHO) adalah

kelompok usia 12-24 tahun. Sementara menurut Departemen Kesehatan

(DepKes), masa remaja atau pubertas berada pada rentang usia 10-19

tahun. Perkiraan jumlah remaja penduduk dunia adalah 27-30%, dan 83%

dari remaja tersebut berada pada negara berkembang (WHO, 2000).

Sementara di Indonesia jumlah remaja berusia 11-21 tahun berkisar sekitar

22% dari jumlah penduduk atau lebih kurang 40 juta jiwa. Menurut Badan

Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), besarnya proporsi

penduduk yang berusia remaja ini dapat menimbulkan beberapa masalah

yang mengkhawatirkan apabila tidak diadakan pembinaan yang tepat

dalam perjalanan hidupnya terutama kesehatannya (BKKBN, 2001).

1
2

Menurut International Conference on Population and

Development (ICPD) mengenai kesehatan reproduksi remaja sehubungan

dengan kependudukan dan pembangunan, yaitu masalah reproduksi sehat,

seksual remaja pranikah, kasus kehamilan tidak dikehendaki, Infeksi

Menular Seksual (IMS) dan aborsi pada remaja. Hal ini dikarenakan

kurangnya akses remaja terhadap pengetahuan dan informasi yang baik

dalam pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi. Hasil penelitian

Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), sekitar 15% remaja

usia 10 tahun hingga 24 tahun di Indonesia, yang jumlahnya mencapai 62

juta, telah melakukan hubungan seksual di luar nikah (PKBI, 2007).

Berdasarkan penelitan BKKBN tahun 2005–2006 di Kota-kota

besar mulai dari Jabodetabek, Medan, Jakarta, Surabaya dan Makassar,

ditemukan sekitar 47 % hingga 54 % remaja mengaku melakukan

hubungan seks sebelum menikah. Hasil penelitian tersebut, BKKBN

merekomendasikan, ada beberapa faktor mendorong remaja melakukan

hubungan seks pranikah diantaranya, pengaruh liberalisme dan pergaulan

bebas, kemudian lingkungan dan keluarga, serta pengaruh media massa,

khususnya TV dan internet (Masri, 2008).

Penduduk remaja adalah bagian dari penduduk dunia dan memiliki

sumbangan teramat besar bagi perkembangan dunia. Penduduk dunia saat

ini berjumlah 6,3 miliar. Setengah dari remaja tersebut terdapat di Asia

Tenggara (WHO, 1993). Penduduk Indonesia berjumlah 213 juta 30%

diantaranya atau 62 juta adalah remaja. Menurut PKBI-DIY (2001)


3

kelompok umur 10-19 tahun adalah sekitar 22% yang terdiri dari 50,9%

remaja laki-laki dan 49,1% remaja perempuan (Lestari, 2007).

Yogyakarta sebagai kota pelajar dengan wilayah yang cukup besar,

merupakan tempat yang rentan terhadap seks bebas. Hasil konseling di

klinik Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Daerah Istimewa

Yogyakarta (PKBI DIY) angka kehamilan tidak dikehendaki di kalangan

remaja masih tinggi, yaitu tahun 2004 sebanyak 560 kasus, 2005 sebanyak

550 kasus, dan 2006 sebanyak 430 kasus dengan usia bervariasi terbanyak

usia 18-24 tahun (PKBI, 2007).

Masa remaja akan menguasai tugas perkembangan yang penting

dalam pembentukan hubungan-hubungan baru dan yang lebih matang

dengan lawan jenis, dan dalam memainkan peran yang tepat dalam

seksnya. Remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi tentang seks, namun

orang tua  tidak mengenal istilah pendidikan seks, karena seks dianggap

tidak biasa, aneh, dan sangat tabu, bahkan mungkin dianggap porno. Oleh

karena itu pendidikan seks sangat diperlukan karena dengan seks

diusahakan timbulnya sikap emosional yang sehat dan bertanggung jawab

tentang seks sehingga seks bagi remaja tidak dianggap sesuatu yang kabur,

rahasia, mencemaskan bahkan menakutkan (Gunarsa, 2004).

Pandangan yang setuju mengenai pendidikan seks menyatakan

bahwa remaja yang telah mendapat pendidikan seks tidak cenderung lebih

sering melakukan hubungan seks, tetapi mereka yang belum pernah

mendapat pendidikan seks cenderung lebih banyak mengalami kehamilan


4

yang tidak dikehendaki. Akan tetapi di pihak lain, ada pihak-pihak yang

tidak setuju dengan pendidikan seks, karena dikhawatirkan dengan

pendidikan seks, anak-anak yang belum saatnya tahu tentang seks jadi

mengetahuinya dan karena dorongan keinginan tahu yang besar yang ada

pada remaja, mereka jadi ingin mencobanya (Sarwono, 2010).

Kenyataan menunjukkan bahwa, seks bebas dapat mengakibatkan

banyaknya masalah dikalangan kaum remaja, baik  remaja pria maupun

wanita (Kartono, 2003). Remaja membutuhkan pertumbuhan kapasitas

untuk intimasi dan berafiliasi untuk menjalin hubungan dengan lawan

jenis. Pendidikan yang diberikan oleh orang tua dalam suatu keluarga

merupakan dasar bagi pendidikan selanjutnya (Darwin, 2010). Pendidikan

seks secara holistik dan terpadu perlu diberikan kepada anak sedini

mungkin dan juga kepada orang tua dan konselor (Soetjiningsih, 2004).

Berdasarkan uraian diatas, didapat bahwa pengetahuan remaja

akhir tentang pendidikan seks dipengaruhi oleh faktor keluarga dan faktor

lingkungan sosial, karena kedua faktor ini menganggap seks sebagai hal

yang tidak pantas untuk dibicarakan. Oleh karena itu peneliti tertarik

melakukan penelitian tentang hal tersebut agar remaja akhir dapat lebih

mengenal tentang seks yang terdiri dari perubahan organ reproduksi,

hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan, serta kelainan-kelainan

seksual.

Hasil studi pendahuluan yang dilaksanakan di SMK Bopkri 1

Yogyakarta, yang memiliki jumlah siswa khususnya siswa Kelas XI


5

sebesar 60 siswa. Peneliti melakukan wawancara kepada guru BP bahwa

belum ada yang pernah melakukan penelitian tentang seksualitas ataupun

pemberian informasi khusus tentang seksualitas terhadap siswa-siswi

sekolah. Peneliti juga melakukan wawancara kepada 10 siswa di SMK

Bopkri 1 Yogyakarta. Hasil wawancara 10 siswa tersebut didapatkan hasil

bahwa 6 dari 10 siswa tersebut mengetahui mengenai seks. Karena mereka

sangat mudah untuk mendapatkan informasi mengenai seks, disamping

letak sekolahnya yang sangat strategis. Dan 4 siswa lainnya yang belum

mengetahui mengenai seks hal ini dikarenakan materi seks belum masuk

dalam kurikulum pendidikan. Siswa lebih banyak mendapatkan informasi

mengenai seks dengan mengakses informasi melalui internet (membuka

situs yang terkadang terdapat unsur pornografi) tanpa pengawasan dari

orangtua dan banyak dari mereka lebih terbuka dengan teman sebayanya.

Berdasarkan latar belakang dan studi pendahuluan, maka peneliti

ingin melakukan penelitian tentang “Gambaran Tingkat Pengetahuan

Remaja Akhir tentang Seksualitas pada Siswa Kelas XI di SMK Bopkri 1

Yogyakarta”.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka penulis

merumuskan "Bagaimana Gambaran Tingkat Pengetahuan Remaja Akhir

tentang Seksualitas pada Siswa Kelas XI di SMK Bopkri 1 Yogyakarta”.


6

C. TUJUAN PENELITIAN

Untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja tentang seksualitas pada

siswa Kelas XI di SMK Bopkri 1 Yogyakarta.

D. MANFAAT PENELITIAN

1. Manfaat Teoritis

Memberikan pengetahuan yang luas dan menyeluruh tentang

seksualitas sehingga para remaja sedini mungkin bisa mengerti tentang

pengertian, manfaat dan dampak yang ditimbulkan jika kurangnya

pengetahuan tentang seksualitas.

2. Manfaat praktis

a. Bagi institusi pendidikan Universitas Respati Yogyakarta

(UNRIYO) agar dapat dijadikan referensi sebagai bahan

pembelajaran dan kebijaksanaan dalam memberikan materi

pengetahuan tentang seksualitas bagi anak didiknya.

b. Bagi SMK Bopkri 1 Yogyakarta, agar dapat dijadikan referensi

sebagai bahan pembelajaran dan kebijaksanaan dalam memberikan

materi pengetahuan tentang seksualitas bagi anak didiknya.

c. Bagi peneliti sendiri agar dapat menambah wawasan dan

pengetahuan untuk penerapan ilmu yang telah di dapat selama

kuliah tentang perkembangan seks pada remaja, serta agar mampu

memberikan arahan yang membangun pada remaja-remaja generasi

masa depan yang berguna dan berkualitas.


7

E. KEASLIAN PENELITIAN

1. Safitri (2010) “Hubungan pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan

sikap terhadap seks bebas siswa kelas XI SMU N 1 Depok, Sleman,

Yogyakarta”. Jumlah sampel 140 siswa. Metode penelitian deskriptif

analitik, dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling yang

digunakan adalah simple random sampling. Dengan hasil penelitian

tidak ada hubungan antara pengetahuan siswa kelas XI terhadap seks

bebas. Hal ini ditunjukan dengan nilai p value: 0,077 lebih tinggi dari

tingkat signifikansi 0,05 dan harga korelasi pearson 0,15.

2. Putriyani (2008) “Hubungan antara kesehatan reproduksi dengan sikap

seksual remaja pada siswa SMA Negeri 2 Klaten”. Jumlah sampel 135

siswa. Metode penelitian deskriptif analitik korelasi, dengan

pendekatan cross sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah

stratified proportional random sampling. Dengan hasil penelitian

terdapat hubungan antara pengetahuan kesehatan reproduksi dengan

sikap seksual remaja pada siswa SMA Negeri 2 Klaten terlihat dari

hasil analisis kendall’s tau r= 0,477 > r table= 0.195 dengan tingkat

signifikan 0,00 (p<0,05).

3. Ceria (2007) “ Hubungan Tingkat Pengetahuan Remaja tentang

Kesehatan Reproduksi dengan Sikap Remaja terhadap Seks Bebas di

SMU N 1 Saden, Bantul, Yogyakarta ”. Jumlah sampel 146 siswa.

Metode penelitian analitik non eksperimental dengan pendekatan cross

sectional. Analisa bivariat dengan uji statistik dengan chi square


8

dengan rumus korelasi Product Moment dari Pearson. Dengan hasil uji

statistic karakteristik dengan tingkat pengetahuan didapatkan nilai p:

0,000 dan p: 0,023, analisis karakteristik dengan sikap didapatkan p:

0,000 dan p: 0,125 sedangkan, hasil analisis tingkat pengetahuan

dengan sikap didapatkan p: 0,002 r: 0,256. Terdapar hubungan antara

karakteristik dengan tingkat pengetahuan, dan terdapat hubungan

antara karakteristik dengan sikap. Tetapi tidak ada hubungan yang

signifikan antara karakteristik dengan sikap.

Sedangkan penelitian yang akan dilakukan peneliti berjudul

“Gambaran tingkat pengetahuan remaja akhir tentang seksualitas pada

siswa kelas XI di SMK Bopkri 1 Yogyakarta”. Perbedaan penelitian

yang akan dilakukan peneliti dengan peneliti sebelumnya terletak pada

tempat, waktu, sampel dan metode penelitian. Penelitian ini

merupakan penelitian deskriptif dengan teknik pengambilan sampel

menggunakan total sampling.