Anda di halaman 1dari 10

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Umum Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMK Bopkri I Yogyakarta, Jl. Cik Di

Tiro No. 37 Yogyakarta, Terban, gondokusuman, kota Yogyakarta. Yang

mempunyai batas wilayah sebagai berikut

Sebelah timur : Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta

Sebelah Barat : SMP Bopkri 3 Yogyakarta

Sebelah Selatan : SMP Negeri 1 Yogyakarta

Sebelah Utara : Boulevard UGM (bundaran UGM)

Visi sekolah adalah menjadi SMK swasta Kristen unggulan yang

menghasilkan lulusan cerdas, professional, kompetitif dan berdasarkan

kasih. Misi sekolah adalah menyelenggarakan sekolah menengah kejuruan

berbasis kompetensi yang berbudaya dengan manajemen yang baik dan

etos kerja yang produktif.

SMK Bopkri 1 Yogyakarta yang memiliki akreditasi A dan

memilki fasilitas pendidikan yang sangat lengkap dan menunjang proses

pendidikan yang baik bagi tenaga kerja, gedung, para anak didik. Jurusan

program studi terdapat 3 jurusan yaitu Akutansi, Administrasi

Perkantoran, Multi Media. Jumlah ruang kelas ada 9 kelas yaitu kelas X 3

kelas, kelas XI 3 kelas, kelas XII 3 kelas. Jumlah guru dan tenaga pengajar

sebanyak 36 orang (Profil SMK Bopkri I Yogyakarta, 2012).

48
49

2. Deskripsi Karakteristik Responden

Karakteristik responden penelitian ini diamati berdasarkan umur, jenis

kelamin, pekerjaan orang tua, tempat tinggal dan pernah tidaknya mendapat

informasi. Hasil analisis deskriptif karakteristik responden penelitian ini

dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut:

Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Pada Siswa Kelas


XI di SMK Bopkri 1 Yogyakarta

Karakteristik Respoden Frekuensi Persentase (%)


Umur (tahun)
16 19 31,7
17 34 56,7
18 7 11,6
Jenis kelamin
Laki-laki 17 28,3
Perempuan 43 71,7
Pekerjaan orang tua
Swasta 16 26,7
PNS 6 10,0
Wirausaha 25 41,7
IRT 4 6,7
Pensiunan 3 5,0
Dagang 1 1,7
Tempat tinggal
Dengan orang tua 54 90,0
Dengan Saudara 6 10,0
Pernah/tidak mendapat informasi
Ya 53 88,3
Tidak 7 11,7
Jumlah 60 100,0
Sumber: Data primer diolah 2012

Karakteristik berdasarkan umur responden diketahui sebagian besar

siswa berumur 17 tahun sebanyak 34 orang (56,7%). Berdasarkan jenis

kelamin diketahui sebagian besar berjenis kelamin perempuan sebanyak 43

orang (71,7%). Dilihat dari pekerjaan orang tua, diketahui sebagian besar

orang tua siswa bekerja sebagai wirausaha sebanyak 25 orang (41,7%).


50

Karakteristik berdasar tempat tinggal diketahui sebagian besar tinggal

bersama orang tua sebanyak 54 orang (90%). Menurut pernah tidaknya

mendapat informasi diketahui sebagian besar pernah mendapat informasi

sebanyak 53 orang (88,3%).

3. Tingkat Pengetahuan Remaja tentang Seksualitas

Penelitian ini meneliti variabel tunggal yaitu tingkat pengetahuan

remaja tentang seksualitas. Data diperoleh dari jawaban kuesioner

responden penelitian. Data dikategorikan dalam skala ordinal menjadi baik,

cukup dan kurang. Hasil analisis data tingkat pengetahuan remaja tentang

seksualitas dapat dilihat pada Tabel 4.2 berikut.

Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Remaja tentang


Seksualitas Pada Siswa Kelas XI di SMK Bopkri 1 Yogyakarta

Pengetahuan Frekuensi Persentase (%)


Baik 2 3,3
Cukup 36 60,0
Kurang 22 36,7
Jumlah 60 100,0
Sumber: Data primer diolah 2012

Berdasarkan Tabel 4.2 diketahui sebagian besar siswa mempunyai

tingkat pengetahuan tentang seksualitas dalam kategori cukup sebanyak 36

orang (60%). Sebagian kecil siswa mempunyai pengetahuan kategori baik

sebanyak 2 orang (3,3%).

B. Pembahasan

1. Karakteristik Penelitian

Responden penelitian ini adalah siswa Kelas XI SMK Bopkri 1

Yogyakarta dengan jumlah 60 orang. Karakteristik responden penelitian

diamati berdasarkan karakteristik umur, jenis kelamin, pekerjaan orang


51

tua, dan tempat tinggal. Analisis dilakukan dengan menggunakan análisis

deskriptif untuk mengetahui distribusi frekuensi responden mayoritas atau

dominan dalam sampel penelitian.

Hasil análisis pada karakteristik umur diketahui sebagian besar

responden berusia 17 tahun sebesar 56,7%. Secara psikologis rentang usia

ini merupakan usia remaja dimana anak sedang mengalami perkembangan

yang pesat baik secara fisik, psikologis maupun perkembangan sosial

ekonomi. Usia remaja merupakan masa dimana anak sedang berproses

untuk mencari jati diri. Sesuai dengan Sarwono (2011) yang menyebutkan

bahwa usia remaja berada dalam proses penyesuaian diri menuju

kedewasaan.

Karakteristik menurut jenis kelamin diketahui sebagian besar

responden berjenis kelamin perempuan sebesar 71,7%, sedangkan

responden yang berjenis kelamin laki-laki sebesar 28,3%. Jenis kelamin

pada perkembangan remaja berpengaruh pada aktivitas pergaulan. Pada

perkembangan sosialnya, remaja laki-laki atau perempuan akan berusaha

untuk menunjukkan eksistensi dirinya pada lingkungan sosialnya

(Sarwono, 2011).

Dilihat dari pekerjaan orang tua diketahui sebagian besar orang tua

responden bekerja sebagai wirausaha sebesar 41,7%. Hasil ini dapat

diartikan orang tua mempunyai sumber penghasilan yang digunakan untuk


52

memenuhi kebutuhan anak. Kemampuan orang tua dalam memenuhi

kebutuhan dan mampu mengarahkan anak, maka akan mendukung

perkembangan anak (Slameto, 2010).

Karakteristik tempat tinggal diketahui sebagian besar responden

tinggal dengan orang tua sebesar 90%. Orang tua dan keluarga merupakan

lingkungan sosial pertama bagi remaja yang sangat berperan penting

dalam perkembangan remaja. Remaja yang tinggal bersama orang tua akan

mendapat perhatian dan pengawasan langsung dari orang tua sehingga

perkembangan dan pergaulannya menjadi lebih terarah.

2. Tingkat Pengetahuan Remaja Akhir tentang Seksualitas

Hasil análisis diketahui tingkat pengetahuan remaja akhir tentang

seksualitas pada siswa Kelas XI di SMK Bopkri 1 Yogyakarta sebagian

besar dalam kategori cukup sebesar 60%. Hasil ini berarti bahwa remaja

belum mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang

seksualitas. Siswa belum mampu menjawab semua pertanyaan-pertanyaan

tentang seksualitas dengan benar.

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, diperoleh melalui panca

indra manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa

dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan

telinga (Notoatmodjo, 2010). Pengetahuan remaja tentang seksualitas

merupakan pemahaman remaja yang diperoleh setelah remaja melakukan

penginderaan terhadap suatu objek tertentu.


53

Pengetahuan remaja tentang seksualitas diamati berdasarkan aspek-

aspek pengetahuan dasar seksualitas. Aspek pengetahuan tersebut meliputi

pengetahuan tentang organ seksual perempuan, pengetahuan tentang organ

seksual laki-laki, hormon reproduksi, menstruasi, mimpi basah dan onani,

masa subur dan infeksi menular seksual.

Pengetahuan remaja juga dipengaruhi oleh status sosial ekonomi.

Status sosial ekonomi berhubungan dengan kemampuan memenuhi

kebutuhan hidup termasuk kebutuhan terhadap sumber informasi. Hasil

analisis diketahui sebagian besar orang tua responden bekerja sebagai

wirausaha sebesar 41,7%. Anak yang berasal dari keluarga dengan status

sosial ekonomi tinggi akan mempunyai kesempatan akses informasi yang

lebih luas berkaitan dengan kemampuan finansialnya, sehingga akan

meningkatkan pengetahuannya tentang seksualitasnya. Diketahuinya

pengetahuan responden dalam kategori cukup menunjukkan bahwa orang

tua belum mampu memenuhi kebutuhan informasi anak dengan baik

sehingga pengetahuan yang terbentuk juga menjadi terbatas. Sesuai

dengan Notoatmodjo (2010) menyebutkan seseorang yang berpenghasilan

cukup besar akan mampu untuk menyediakan atau membeli fasilitas-

fasilitas sumber informasi.

Pengetahuan juga dapat terbentuk dengan adanya peran dari orang

tua. Hasil penelitian diketahui sebagian besar responden tinggal bersama

orang tua sebesar 90%. Keluarga dalam hal ini orang tua merupakan

lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Bimbingan dan pengarahan


54

orang tua mempunyai peran penting dalam pencapaian keberhasilan

pendidikan anak (Slameto, 2010). Walau demikian hal ini tidak menjamin

anak mempunyai pengetahuan yang baik tentang seksualitas. Hal ini dapat

dijelaskan bahwa sebagian besar orang tua masih mempunyai anggapan

bahwa membicarakan seksualitas dengan anak merupakan hal yang tabu.

Keadaan inilah yang menyebabkan anak mempunyai pengetahuan yang

kurang baik tentang seksualitas.

Pengetahuan yang dimiliki remaja juga sangat dipengaruhi oleh

informasi. Hasil analisis diketahui sebagian besar responden pernah

mendapatkan informasi tentang seksualitas sebesar 88,3%. Dibandingkan

dengan hasil penelitian yang diketahui tingkat pengetahuan yang cukup

menunjukkan keadaan yang kontradiktif. Hasil ini dapat dijelaskan bahwa

pengetahuan yang cukup baik disebabkan karena remaja memperoleh

informasi dari sumber yang tidak tepat. Secara umum siswa memperoleh

pengetahuan seksualitas secara umum dari pelajaran biologi. Selain dari

pada itu, remaja berusaha sendiri mencari informasi baik dari internet

maupun bertanya kepada teman. Sumber informasi yang tidak tepat akan

memberikan pemahaman yang salah dan pengetahuan yang terbentuk

menjadi kurang baik. Sesuai dengan Notoatmodjo (2010) menyebutkan

sumber informasi yang tepat dapat memberikan pengaruh pada tingkat

pengetahuan seseorang.

Pengetahuan remaja tentang seksualitas akan membentuk

pemahaman dasar tentang hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas.


55

Kecenderungan untuk bersikap dan berperilaku yang positif berkaitan

dengan seksualitas juga akan terbentuk jika remaja mempunyai

pengetahuan yang baik. Sesuai dengan Gunarsa (2004) yang menyebutkan

bahwa pendidikan seks diperlukan untuk membentuk sikap emosional dan

bertanggung jawab.

Seksualitas sering kali dipandang sebagai sesuatu yang tabu dan

tidak pantas untuk diperbincangkan. Terlebih lagi bagi remaja, sebagian

orang tua menganggap anaknya yang telah beranjak dewasa masih terlalu

kecil untuk diberikan pemahaman tentang seksualitas. Hal ini

menyebabkan rendahnya pengetahuan dan pemahaman remaja tentang

seksualitas. Dampak nyata yang terlihat di masyarakat diantaranya

perilaku seks bebas yang dilakukan remaja. Pengetahuan remaja yang

benar dan tepat tentang seksualitas diperlukan agar siswa mampu

berperilaku sehat dan mampu menjaga dirinya dari pergaulan bebas.

Rentang usia remaja merupakan periode transisi dalam upaya

menemukan jati diri maupun kedewasaan biologis. Pada masa-masa ini

kondisi emosi remaja juga kurang bisa dikendalikan dan kecenderungan

untuk melakukan hal-hal di luar kebiasaan umum kerap dilakukan

(Sarwono, 2010). Pada periode ini remaja membutuhkan adanya

pendampingan yang mengarahkan remaja ke arah yang baik. Dukungan

orang tua dalam bentuk perhatian, pemantauan, dan memberikan

pengetahuan langsung terhadap anaknya dapat meminimalisir para remaja


56

untuk mencari pengetahuan sendiri yang ternyata berefek negatif terhadap

para remaja karena kurangnya filter yang ada dalam informasi tersebut.

Remaja membutuhkan pengetahuan tentang seksualitas agar remaja

tahu bagaimana harus bersikap dan berperilaku sesuai dengan kapasitasnya

sebagai seorang remaja. Pendidikan seks menjadi faktor penting bagi

terbentuknya pengetahuan remaja tentang seksualitas. Semakin terbukanya

arus informasi media cetak dan media visual menyebabkan remaja mudah

mendapatkan akses informasi tentang seksualitas yang belum tentu

kebenarannya. Program penyuluhan terhadap para remaja dapat dijadikan

salah satu solusi agar remaja mendapatkan informasi yang tepat dan

bertanggungjawab tentang seksualitas. Sesuai dengan Soetjiningsih (2004)

menyebutkan pendidikan seks secara holistik dan terpadu perlu dilakukan

sedini mungkin kepada anak agar terbentuk sikap yang positif dan

bertanggung jawab.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang

dilakukan oleh Ceria (2007) dengan hasil penelitian tingkat pengetahuan

remaja tentang Kesehatan reproduksi di SMU N 1 Sanden Bantul dalam

kategori sedang. Hasil yang sama ditunjukkan juga dari hasil penelitian

Putriyani (2008) dengan hasil pengetahuan remaja tentang kesehatan

reproduksi pada siswa SMA N 2 Klaten dalam kategori cukup. Hasil ini

berimplikasi bahwa pengetahuan remaja tentang tentang seksualitas harus

ditingkatkan melalui aktivitas pendidikan seks yang dilakukan oleh ahli

yang berkompeten sehingga dapat memberikan pengetahuan yang tepat.


57

Pengetahuan tentang seksualitas sangat penting dimiliki oleh siswi.

Pengetahuan merupakan dasar terbentuknya perilaku yang benar sesuai

dengan perannya sebagai remaja dan mampu menghindarkan remaja dari

perilaku seks yang salah. Didukung dengan pendapat dari Pangkalilah

(2005) disebutkan bahwa pengetahuan seksual yang benar akan memimpin

seseorang ke arah perilaku seksual yang rasional, bertanggung jawab dan

mampu membuat keputusan pribadi yang tepat tentang seksualitas.

C. Keterbatasan Penelitian

1. Penelitian ini mengukur tingkat pengetahuan

seksualitas tidak menganalis lebih rinci faktor-faktor yang mempengaruhi

tingkat pengetahuan seperti tingkat pendidikan, informasi, budaya,

pengalaman, dan sosial ekonomi.

2. Alat pengumpulan data dalam penelitian ini hanya

menggunakan kuesioner, penelitian lebih maksimal apabila disertai dengan

wawancara langsung dengan responden

3. Penelitian ini hanya menggunakan metode

deskriptif, penelitian deskriptif umumnya tidak ada perlakuan yang

diberikan, tidak ada uji hipotesis yang ditegakkan.