Anda di halaman 1dari 39

Tugas Manajemen Strategik Dalam Pendidikan

‘Analisis Problematika Pendidikan di SMP Buin Batu Sumbawa


Barat berdasarkan 8 Standar Pendidikan Nasional’

Herman Habibi
I2K016014
Semester 2 MAP SORE

PROGRAM STUDI MAGISTER ADMINISTRASI PENDIDIKAN


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS MATARAM
2017

1
I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang

Dalam rangka hubungan kerja sama internasional di berbagai bidang antara

lain bidang ekonomi dan bidang politik mempunyai implikasi pada kehadiran warga

negara asing untuk tinggal di Indonesia, baik sebagai diplomat, investor, tenaga ahli

maupun sebagai pekerja pada berbagai bidang usaha dan badan-badan perkumpulan

internasional. Hal ini menuntut perlunya disediakan layanan pendidikan yang sesuai

dengan sistem pendidikan internasional sesuai dengan ketentuan perundang-undangan

di Indonesia. Kehadiran layanan pendidikan bagi warga negara asing sudah terjadi

sejak lama di Indonesia bahkan sejak era sebelum tahun 1960-an. Sebelum terbitnya

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,

pengaturan sekolah asing di Indonesia diatur dengan Undang-undang Nomor 48 Prp

Tahun 1960 tentang Pengawasan Pendidikan dan Pengajaran Asing. Dalam aturan ini

keberadaan sekolah asing pada awalnya hanya diutamakan bagi anak-anak diplomat

dan sebagian kecil anak-anak ekspatriat. Namun kemudian keberadaan orang asing di

Indonesia berkembang demikian cepat sehingga diberikan kebijaksanaan khusus oleh

Presidium Kabinet untuk mendirikan sekolah internasional, yang kewenangan

pengaturannya dilimpahkan ke tingkat menteri terkait. Ketiga Menteri terkait

kemudian menetapkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Luar Negeri,

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan Menteri Keuangan Republik Indonesia

Nomor SP/817/PD/X/75; Nomor 060/O/1975; dan Nomor Kep-354a/ MK/II/4/1975.

Dalam SKB ini pengaturan sekolah internasional dilimpahkan kepada Menteri

Pendidikan dan Kebudayaan yang kemudian mengeluarkan Keputusan Menteri

2
Pendidikan dan Kebudayaan nomor 0184/O/1975 tentang Pedoman Pelaksanaan

Pendirian dan Penyelenggaraan Sekolah Perwakilan Diplomatik, Sekolah Gabungan

Perwakilan Diplomatik, dan Sekolah Internasional. Menurut SKB ini, definisi

“Sekolah Internasional adalah sekolah asing yang didirikan dan diselenggarakan

suatu yayasan yang dibentuk berdasarkan peraturan perundangan Indonesia, untuk

keperluan pendidikan dan pengajaran terutama bagi anak-anak warga negara asing

bukan anggota perwakilan diplomatik/konsuler sesuatu negara lain di Indonesia.” 5

Pembinaan sekolah ini berada langsung di bawah pengawasan Pemerintah Republik

Indonesia, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan terbitnya

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dalam

Pasal 76 dinyatakan bahwa Undang-undang Nomor 48 Prp Tahun 1960 tidak berlaku

dan implikasinya SKB Nomor SP/817/PD/X/75; Nomor 060/O/1975; dan Nomor

Kep-354a/MK/II/4/1975, dan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor

0184/O/1975 yang merupakan turunannya, juga tidak berlaku lagi. Namun dengan

belum adanya peraturan pengganti maka peraturan yang lama masih diberlakukan dan

juga memberikan kebijakan baru yang bersifat sementara untuk memayungi

keberadaan sekolah yang sudah berjalan sejak tahun 2000-an.

Mulai tahun 2000-an banyak berdiri sekolah yang menyatakan diri sebagai

“sekolah internasional” yang sebelumnya sebagian besar menamakan diri sebagai

”sekolah nasional plus”, yang belum dapat diberikan izin baru karena belum adanya

payung hukum yang jelas sebagai pengganti peraturan lama yang sudah dicabut

dengan Pasal 76 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003. Di lain pihak, Peraturan

Pemerintah tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan yang diharapkan

3
segera terbit untuk dapat membenahi pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan

termasuk perizinan sekolah internasional ini, tidak kunjung terbit, sehingga untuk

mengatasi kevakuman ini dan agar dapat memberikan layanan kepada masyarakat

yang memerlukan izin pendirian sekolah internasional, maka pada tahun 2009

Departemen Pendidikan Nasional mengambil kebijakan untuk memberikan “izin

operasional sementara” sehingga keberadaan sekolah-sekolah mempunyai dasar

hukum resmi dari pemerintah. Izin sementara yang diberikan hanya berlaku 2 (dua)

tahun sehingga untuk mengantisipasi berakhirnya izin sementara ini, Kementerian

Pendidikan Nasional menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18

Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Pendidikan oleh Lembaga Pendidikan Asing

(LPA) di Indonesia. Dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010

tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, maka Peraturan Menteri

Pendidikan Nasional Nomor 18 Tahun 2009 diganti dengan Peraturan Menteri

Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 31 Tahun 2014 tentang Kerja sama

Penyelenggaraan dan Pengelolaan oleh Lembaga Pendidikan Asing dengan Lembaga

Pendidikan di Indonesia.

Dinamika peraturan pemerintah ini mempengaruhi proses penyelenggaraan

pendidikan di SMP Buin Batu. SMP Sekolah Buin Batu adalah sekolah yang

didirikan oleh PT.Newmont Nusa Tenggara yang dinaungi oleh Yayasan Pendidikan

Buin Batu (YPBBS) dan beroperasi dengan mengacu pada sistem pendidikan

nasional dan bekerjasama dengan Cambridge University dalam hal ini disebut sebagai

Lembaga Pendidikan Asing (LPA). Dengan diselenggarakannya sistem pendidikan

4
kerjasama, maka proses penyelenggaraan pendidikan di SMP Sekolah Buin Batu

mengacu pada 8 standar pendidikan nasional dan juga mengacu pada standard and

practices atau benchmark yang telah ditetapkan oleh Cambridge University Press.

Pada tulisan ini, penulis akan mengkaji bagaimana penyelenggaraan pendidikan di

SMP Buin Batu dipandang dari 8 standar nasional pendidikan, mengidentifikasi

problematika yang muncul dan menyajikan bagaimana penyelenggaraan pendidikan

dalam satuan pendidikan kerjasama Lembaga pendidikan Indonesia (LPI) dan

Lembaga Pendidikan Asing (LPA).

I.2 Rumusan Masalah


Dalam tulisan ini, penulis mengkaji problematika-problematika yang muncul

di SMP Buin Batu dalam pemenuhan 8 standar nasional pendidikan dan standar-

standar yang ditetapkan oleh LPA (Lembaga Pendidikan Asing)-Cambridge

Secondary 1 oleh Cambridge University Press.

I.3 Tujuan
Adapun tujuan dari tulisan ini adalah:

a. Mengidentifikasi problematika pendidikan yang muncul di SMP Buin Batu

dalam menyelenggarakan pendidikan yang mengacu pada 8 standar nasional

dan standar internasional.

5
b. Mengelaborasi proses penyelenggaraan pendidikan di SMP Buin Batu sebagai

sekolah SPK (Satuan Pendidikan Kerjasama) berdasarkan 8 standar

pendidikan nasional.

I.4 Manfaat
Melalui tulisan ini penulis ingin menyajikan penjelasan dan analisa terkait

penyelenggaraan pendidikan di SMP Buin Batu sebagai acuan dalam peningkatan

mutu pendidikan pada satuan tingkat pendidikan yang relevan. Disamping itu,

menyajikan informasi praktek terbaik dalam proses penyelenggaraan pendidikan

dipandang dari 8 standar nasional dalam rangka peningkatan mutu pendidikan baik

pada tingkat nasional dan internasional.

II. KAJIAN
Seperti yang telah penulis sampaikan pada bab pendahuluan, SMP Buin Batu

merupakan satuan pendidikan yang berstatus SPK yaitu (Satuan Pendidikan

Kerjasama). Sebagai sekolah SPK SMP Buin Batu bekerjasama dengan Lembaga

Pendidikan Asing dalam penyelenggaraan proses pencapaian standar, kurikulum,

belajar mengajar, perekrutan pendidik dan dalam proses evaluasi pendidikan. SMP

Buin Batu menggunakan mengadopsi dua kurikulum yaitu Kurikulum 2013 dan

Kurikulum Cambridge Secondary 1 (Cambridge University Press) yang dipadukan

agar sesuai dengan konteks standar pendidikan nasional dan internasional. Disamping

6
itu untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta didik Warga Negara Indonesia (WNI)

dan Warga Negara Aing (WNA).

II.1 Standar isi

Melalui butir standar isi yang terdapat di dalam 8 Standar Pendidikan

Nasional, pemerintah telah mengamanatkan bahwa:

1. Standar Isi untuk Pendidikan Dasar dan Menengah yang selanjutnya disebut

Standar Isi terdiri dari Tingkat Kompetensi dan Kompetensi Inti sesuai

dengan jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

2. Kompetensi Inti meliputi sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan

ketrampilan.

3. Ruang lingkup materi yang spesifik untuk setiap mata pelajaran dirumuskan

berdasarkan Tingkat Kompetensi dan Kompetensi Inti untuk mencapai

kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

4. Standar Isi untuk muatan peminatan kejuruan pada SMK/MAK setiap

program keahlian diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan

Menengah.

5. Standar Isi untuk muatan peminatan kejuruan pada SMK/MAK setiap

program keahlian diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan

Menengah.

6. Pencapaian Kompetensi Inti dan penguasaan ruang lingkup materi pada setiap

mata pelajaran untuk setiap kelas pada tingkat kompetensi sesuai dengan

7
jenjang dan jenis pendidikan tertentu ditetapkan oleh Pusat Kurikulum dan

Perbukuan.

7. Perumusan Kompetensi Dasar pada setiap Kompetensi Inti untuk setiap mata

pelajaran sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan tertentu ditetapkan oleh

Pusat Kurikulum dan Perbukuan.

8. Perumusan Kompetensi Dasar pada Kompetensi Inti Sikap Spiritual

sebagaimana yang dimaksud pada ayat (6) pada mata pelajaran Pendidikan

Agama dan Budipekerti disusun secara jelas.

9. Perumusan Kompetensi Dasar pada Kompetensi Inti Sikap Soial sebagaimana

dimaksud pada ayat (6) pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan

Kewarganegaraan disusun secara jelas.

10. Standar Isi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum pada Lampiran

yang merupakan bagian yang tidak terpisah dari Peraturan Menteri ini.

a. Visi Sekolah SMP Buin Batu

Dengan menganalisa potensi yang ada di SMP Buin Batubaik dari segi input/

peserta didik baru, kompetensi tenaga pendidik, tenaga kependidikan, lingkungan

sekolah, peran serta masyarakat, dan out come/ keberhasilan lulusan SMP Buin

Batu serta masyarakat sekitar sekolah yang religius, serta melalui komunikasi dan

koordinasi yang intensif antar sekolah dengan warga sekolah maupun dengan

stakeholder, tersusunlah visi sekolah.

8
Adapaun visi SMP Buin Batu adalah : Menumbuhkembangkan warga global

melalui pembelajaran yang berkualitas dan bermakna (fortering global citizens by

quality and meaningful learning)”.

b. Misi Sekolah

Dalam rangka mencapai visi sekolah yang telah dirumuskan, maka misi SMP

Buin Batu adalah

1. Mencapai keberhasilan di setiap jenjang pendidikan.

2. Menyiapkan lingkungan belajar yang mendukung dan amansecara

emosional dan fisik.

3. Memberikan kontribusi terhadap masyarakat.

4. Menyusun makna untuk mengembangkan pemahaman dan senang belajar.

5. Mengembangkan kesadaran terhadap perspektif nasional dan global.

c. Tujuan Satuan Pendidikan

Penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang

dinyatakan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan

dan Penyelenggaraan Pendidikan bertujuan membangun landasan bagi

berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang: a. beriman dan

bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur;

b. berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; c. sehat, mandiri, dan percaya diri; dan

d. toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab.

9
d. Struktur Kurikulum dan beban belajar di SMP Buin Batu

1. Struktur kurikulum

SMP Buin Batu menerapkan Kurikulum 2013 yang diperkaya dengan

kurikulum Cambridge Secondary 1. Dengan demikian di samping mengikuti ujian

nasional dan ujian sekolah siswa kelas 9 juga mengikuti ujian check point yang di

selenggarakan oleh Cambridge University Centre.

Struktur kurikulum SMP Sekolah Buin Batu teraplikasi dalam dua jenis

kurikulum yang saling mengintegrasi satu sama lain, yaitu Kurikulum Nasional dan

Kurikulum Cambridge (Cambridge Curriculum). Untuk Krikulum Cambridge, SMP

Buin Batu mengaplikasi Cambridge Secondary 1 Curriculum yang terdiri dari 3 mata

pelajaran, yaitu Matematika, Science (IPA), dan ESL (English as a Second

language). Ketiga mata pelajaran ini terintegrasi dengan Kurikulum Nasional.

Struktur Kurikulum menggambarkan konseptualisasi konten kurikulum dalam bentuk

mata pelajaran, posisi konten/mata pelajaran dalam kurikulum, dostribusi

konten/mata pelajaran dalam semester atau tahun, beban belajar untuk mata pelajaran

dan beban belajar per minggu untuk setiap siswa. Struktur kurikulum adalah juga

merupakan aplikasi konsep pengorganisasian konten dalam usic belajar dan

pengorganisasian beban belajar dalam usic pembelajaran. Pengorganisasian konten

dalam usic belajar yang digunakan untuk kurikulum yang akan datang adalah usic

semester sedangkan pengorganisasian beban belajar dalam usic pembelajaran

berdasarkan jam pelajaran per semester.

10
Struktur kurikulum juga gambaran mengenai penerapan prinsip kurikulum mengenai

posisi seorang siswa dalam menyelesaikan pembelajaran di suatu satuan atau jenjang

pendidikan. Dalam struktur kurikulum menggambarkan ide kurikulum mengenai

posisi belajar seorang siswa yaitu apakah mereka harus menyelesaikan seluruh mata

pelajaran yang tercantum dalam struktur ataukah kurikulum memberi kesempatan

kepada siswa untuk menentukan berbagai pilihan.

ALOKASI WAKTU BELAJAR

MATA PELAJARAN PER MINGGU

VII VIII IX
Kelompok A
1.
Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 2 2 2
2. Pendidikan Pancasila dan
2 2 2
kewarganegaraan
3.
Bahasa Indonesia 5 5 5
4.
Matematika 6 6 6
5.
Ilmu Pengetahuan Alam 5 5 5
6.
Ilmu Pengetahuan Sosial 4 4 4
7.
Bahasa Inggris 4 4 4

Kelompok B
1.
Seni Budaya 3 3 3
2. Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan
2 2 2
Kesehatan
3. Teknologi Informasi dan Komputer 2 2 2
4. Pertambangan (Mining) 2 2 2

11
Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu 37 37 37

Keterangan: Mata pelajaran Seni Budaya dapat memuat Bahasa Daerah. Selain

kegiatan intrakurikuler seperti yang tercantum di dalam struktur kurikulum diatas,

terdapat pula kegiatan ekstrakurikuler SMP music, Pramuka (Wajib), Organisasi

Siswa Intrasekolah, Science Club, Math Club, dan sebagainya. Mining

(pertambangan) merupakan mata pelajaran muatan yang menunjukkan kekhasan SMP

Buin Batu sebagai Sekolah di lingkungan pertambangan. Mata pelajaran Kelompok A

adalah kelompok mata pelajaran yang kontennya dikembangkan oleh pusat. Mata

pelajaran Kelompok B yang terdiri atas mata pelajaran Seni Budaya, Pendidikan

Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan, dan Prakarya adalah kelompok mata pelajaran

yang kontennya dikembangkan oleh pusat dan dilengkapi dengan konten yang

dikembangkan oleh pemerintah daerah. Satuan pendidikan dapat menambah jam

pelajaran per minggu sesuai dengan kebutuhan peserta didik pada satuan pendidikan

tersebut.

Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial dikembangkan sebagai

mata pelajaran integrated science dan integrated social studies, bukan sebagai

pendidikan disiplin ilmu. Keduanya sebagai pendidikan berorientasi aplikatif,

pengembangan kemampuan berpikir, kemampuan belajar, rasa ingin tahu, dan

pengembangan sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan dan alam.

Disamping itu, tujuan pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial menekankan pada

pengetahuan tentang bangsanya, semangat kebangsaan, serta aktivitas masyarakat di

12
bidang ekonomi dalam ruang atau space wilayah Negara Kesatuan Republik

Indonesia. Ilmu Pengetahuan Alam juga ditujukan untuk pengenalan lingkungan

biologi dan alam sekitarnya, serta pengenalan berbagai keunggulan wilayah

nusantara.

Seni Budaya terdiri atas empat aspek, yakni seni rupa, seni musik, seni tari,

dan seni teater. Masing-masing aspek diajarkan secara terpisah dan setiap satuan

pendidikan dapat memilih aspek yang diajarkan sesuai dengan kemampuan (guru dan

fasilitas) pada satuan pendidikan itu. Prakarya terdiri atas empat aspek, yakni

kerajinan, rekayasa, budidaya, dan pengolahan. Masing-masing aspek diajarkan

secara terpisah dan setiap satuan pendidikan menyelenggarakan pembelajaran

prakarya paling sedikit dua aspek prakarya sesuai dengan kemampuan dan potensi

daerah pada satuan pendidikan itu. Sedangkan untuk struktur kurikulum Cambridge

Secondary 1 terbagi menjadi 3 mata pelajaran dan akan dijelaskan terpisah sebagai

berikut:

Science (Ilmu Pengetahuan Alam)

Kerangka pembelajaran ini menyediakan satu paket tujuan pembelajaran

progresif yang komprehensif untuk mata pelajaran Science (IPA). Tujuan

pembelajaran ini disusun secara detail tentang apa yang harus diketahui dan apa yang

harus dikuasai oleh siswa dalam mata pelajaran IPA pada tiap jenjang pembelajaran

di SMP. Susunan pembelajaran ini juga menyediakan struktur untuk proses belajar

mengajar dan juga referensi pembelajaran yang bisa di ujikan. Kurikulum IPA pada

13
Cambridge Secondary 1 dibagi menjadi 4 kriteria: Metode Ilmiah, Biologi, Kimia,

dan Fisika. Metode Ilmiah mencakup tentang pengembangan ide, mengevaluasi bukti,

merencanakan penelitian dan merekam dan menganalisa data. Tujuan pembelajaran

Metode Ilmiah meliputi Biologi, Kimia dan Fisika, yang berfokus pada

mengembangkan rasa percaya diri dan ketertarikan akan pengetahuan ilmiah.

Kepekaan terhadap lingkungan dan sejarah perkembangan ilmu pengetahuan juga

menjadi bagian dari hal ini. Kerangka kurikulum IPA pada Cambridge Secondary 1

ini melanjutkan apa yang telah dipelajari pada jenjang sebelumnya dan menyediakan

dasar yang kuat untuk pembelajaran di tingkat yang lebih tinggi.

ESL(English as a Second language)

Kerangka pembelajaran ini menyediakan satu paket tujuan pembelajaran

progresif yang komprehensif untuk mata pelajaran English as a Second Language.

Kerangka pembelajaran ini berdasar pada Council of Europe’s Common European

Framework of Reference for Languages (CEFR) – Kerangka Pembelajaran Umum

sebagai Referensi Pembelajaran Bahasa Inggris di Eropa – yang dipergunakan secara

luas didalam maupun diluar benua Eropa untuk memetakan perkembangan Bahasa

Inggris para siswa. Kerangka pembelajaran ini dibagi dalam 5 bagian: Membaca,

Menulis, Penggunaan Tata Bahasa Inggris, Mendengarkan, dan Berbicara. Sejalan

dengan CEFR, hasil pembelajaran pada tiap bagian pada tiap jenjang pembelajaran

ditentukan melalui apa yang bisa dilakukan seorang siswa pada pelajaran Bahasa

Inggris. Hal ini tentunya mendorong metode pembelajaran yang berdasarkan pada

proses pembelajaran yang berbasis aktifitas yang dilakukan oleh guru dalam

14
mengimplementasikan kurikulum ini. Perkembangan siswa pada setiap bagian

kurikulum dapat dipetakan berdasarkan level referensi umum yang dibuat oleh CEFR.

A1 A2 A3 A4 A5 A6
Pengguna Dasar Pengguna Mandiri Pengguna Ahli

Matematika

Kerangka pembelajaran ini menyediakan satu paket tujuan pembelajaran

progresif yang komprehensif untuk mata pelajaran Matematika. Tujuan pembelajaran

ini disusun secara detail tentang apa yang harus diketahui dan apa yang harus

dikuasai oleh siswa dalam mata pelajaran Matematika pada tiap jenjang pembelajaran

di SMP. Susunan pembelajaran ini juga menyediakan struktur untuk proses belajar

mengajar dan juga referensi pembelajaran yang bisa di ujikan.

Matematika pada Cambridge Secondary 1 terbagi dalam 6 bagian: Nomor,

Aljabar, Geometri, Ukuran, Pengolahan Data, dan Penyelesaian Masalah. Lima

bagian dari Matematika tersebut dapat diintegrasikan pada bagian Penyelesaian

Masalah, yang menyediakan struktur dasar pengaplikasian keterampilan Matematika.

Strategi mental juga merupakan bagian penting pada pembahasan Nomor. Keduanya

akan membentuk langkah yang berkesinambungan yang menyiapkan siswa untuk

belajar di jenjang yang lebih tinggi. Kurikulum ini mengacu pada prinsip dasar, pola,

system, fungsi, dan hubungan sehingga para siswa dapat mengaplikasikan

pengetahuan Matematika mereka dan mengembangkan pengetahuan menyeluruh

terhadap mata pelajaran ini. Kerangka kurikulum Matematika pada Cambridge

15
Secondary 1 ini melanjutkan apa yang telah dipelajari pada jenjang sebelumnya dan

menyediakan dasar yang kuat untuk pembelajaran di tingkat yang lebih tinggi.

2. Beban Belajar

Beban belajar di SMP/MTs untuk kelas VII, VIII, dan IX masing-masing 38

jam per minggu. Jam belajar SMP/MTs adalah 40 menit. Dalam struktur kurikulum

SMP/MTs ada penambahan jam belajar per minggu dari semula 32, 32, dan 32

menjadi 38, 38 dan 38 untuk masing-masing kelas VII, VIII, dan IX. Sedangkan lama

belajar untuk setiap jam belajar di SMP/MTs tetap yaitu 40 menit. Dengan adanya

tambahan jam belajar ini dan pengurangan jumlah Kompetensi Dasar, guru memiliki

keleluasaan waktu untuk mengembangkan proses pembelajaran yang berorientasi

siswa aktif belajar.

Proses pembelajaran siswa aktif memerlukan waktu yang lebih panjang dari

proses pembelajaran penyampaian informasi karena peserta didik perlu latihan untuk

melakukan pengamatan, menanya, asosiasi, menyaji, dan komunikasi. Proses

pembelajaran yang dikembangkan guru menghendaki kesabaran dalam menunggu

respon peserta didik karena mereka belum terbiasa.Selain itu, bertambahnya jam

belajar memungkinkan guru melakukan penilaian proses dan hasil belajar

e. Organisasi Kompetensi

Mata pelajaran adalah unit organisasi terkecil dari Kompetensi Dasar. Untuk

kurikulum SMP/MTs, organisasi Kompetensi Dasar dilakukan dengan cara

mempertimbangkan kesinambungan antarkelas dan keharmonisan antar mata

16
pelajaran yang diikat dengan Kompetensi Inti. Berdasarkan pendekatan ini maka

terjadi reorganisasi Kompetensi Dasar mata pelajaran sehingga Struktur Kurikulum

SMP Buin Batu menjadi lebih sederhana karena jumlah mata pelajaran dan jumlah

materi berkurang. Substansi muatan lokal termasuk bahasa daerah diintegrasikan ke

dalam mata pelajaran Seni Budaya. Substansi muatan lokal yang berkenaan dengan

olahraga serta permainan daerah diintegrasikan ke dalam mata pelajaran Pendidikan

Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan. Sedangkan Prakarya merupakan mata pelajaran

yang berdiri sendiri.

Memandang penjelasan penulis di atas, dapat disimpulkan bahwa SMP

Sekolah Buin Batu telah mencapai standar isi yang telah ditetapkan oleh pemerintah

dengan mengikuti setiap ketetapan yang telah di muat dalam Peraturan Menteri. SMP

Buin Batu tetap mengacu pada prinsip-prinsip amanah pendidikan nasional dengan

menyelenggarakan kurikulum terpadu yang sesuai dengan konteks standar nasional

dan internasional.

17
II.2 Standar Kompetensi Lulusan

1. Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah digunakan

sebagai acuan utama pengembangan standar isi, standar proses, standar

penilaian pendidikan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar

sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan.

2. Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a. Kompetensi Lulusan SD/MI/SDLB/Paket A;

b. Kompetensi Lulusan SMP/MTs/SMPLB/Paket B; dan

c. Kompetensi Lulusan SMA/MA/SMK/MAK/SMALB/ Paket C.

3. Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum

dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan

Menteri ini.

Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan di SMP Buin Batu mengacu pada

standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan, standar pendidik dan tenaga

kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar

pembiayaan. Berdasarkan pada PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN

KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 54 TAHUN 2013 TENTANG

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN PENDIDIKAN DASAR DAN

MENENGAH, maka standar Kompetensi Lulusan SMP Buin Batu adalah memiliki

sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagai berikut.

1. Dimensi Sikap: Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman,

berakhlak mulia, berilmu, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam

18
berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam

jangkauan pergaulan dan keberadaannya.

2. Dimensi Pengetahuan: Memiliki pengetahuan faktual, konseptual, dan

prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya dengan

wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait

fenomena dan kejadian yang tampak mata.

3. Dimensi Keterampilan: Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif

dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sesuai dengan yang dipelajari di

sekolah dan sumber lain.

II.3 Standar proses


Proses pembelajaran Kurikulum SMP Buin Batu (Kurikulum 2013 diperkaya

dengan Kurikulum Cambridge Secondary 1 terdiri atas pembelajaran intrakurikuler

dan pembelajran ekstrakurikuler.

1. Pembelajaran intrakurikuler didasarkan pada prinsip-prinsip berikut:

a. Proses pembelajaran intrakurikuler adalah proses pembelajaran yang

berkenaan dengan mata pelajaran dalam struktur kurikulum dan dilakukan

di kelas, Sekolah, dan masyarakat.

b. Proses pembelajaran Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang

dikembangkan oleh guru.

c. Proses pembelajaran didasarkan atas prinsip pembelajaran siswa aktif

untuk menguasai kompetensi Dasar Inti pada tingkat yang memuaskan.

19
d. Proses pembelajaran dikembangkan atas dasar karakteristik konten

kompetensi yaitu pengetahuan yang merupakan yang bersifat mastery dan

diajarkan secara langsung (direct teaching), keterampioan kognitif dan

psikomotorik adalah konten yang bersifat developmental yang dapat

dilatih (trainable) dan diajarkan secara langsung (direct teaching),

sedangkan sikap adalah konten developmental dan dikembangkan melalui

proses pendidikan yang tidak langsung (indirect teaching).

e. Pembelajaran kompetensi untuk konten yang bersifat developmental

dilaksanakan berkesinambungan antara satu pertemuan dengan pertemuan

lainnya dan saling memperkuat antara satu pelajaran dengan pelajaran

lainnya.

f. Proses pembelajaran tidak langsung (indiriect) terjadi pada setiap kegiatan

belajar yang terjadi di kelas, Sekolah, rumah dan masyarakat. Proses

pembelajaran tidak langsung bukan kurikulum tersembunyi (hidden

curriculum) karena sikap yang dikembangkan dalam proses pembelajaran

tidak langsung harus tercantum dalam silabus, dan RPP yang dibuat guru.

g. Proses pembelajaran dikembangkan atas prinsip peembelajaran siswa aktif

melalui kegiatan mengamati (melihat, membaca, mendengar ,

menyimak), menanya (lisan, tulis), menganalisis (menghubungkan,

menentukan keterkaitan, membangun cerita/konsep), mengkomunikasikan

(lisan, tulis, gambar, grafik,tablet, chart, dan lain-lain).

h. Pembelajaran remedial dilaksanakan untuk membantu peserta didik

menguasai kompetensi yang masih kurang. Pembelajaran remedial

20
dirancang dan dilaksanakan berdasarkan kelemahan yang ditemukan

berdasarkan analisis hasil tes, ulangan, dan tugas setiap peserta Didik.

Pembelajaran remdial dirancang untuk individu, kelompok atau kelas

sesuai dengan hassil analisis jawaban peserta.

i. Penilaian hasil belajar mencakup seluruh aspek kompetensi, bersifat

formatif dan hasilnya segera diikuti dengan pembelajaran remedial untuk

memastikan penguasaan kompetensi pada tingkat memuaskan.

2. Pembelajaran Ekstrakurikuler

Pembelajaran ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan untuk aktivitas

yang dirancang sebagai kegiatan di luar kegiatan pembelajaran terjadwal secara rutin

setiap minggu. Kegiatan ekstrakurikuler terdiri atas kegiatan wajib dan pilihan.

Pramuka adalah kegiatan ekstrakurikuler wajib. Kegiatan ekstrakurikuler wajib

dinilai yang hasilnya digunakan sebagai unsur pendukung kegiatan ekstrakurikuler.

Standar Proses Pembelajaran Kurikulum 2013 di SMP Buin Batu

Berdasarkan standar proses pembelajaran pada implementasi Kurikulum 2013, maka

guru harus melaksanakan 3 tahapan yaitu: 

 kegiatan pendahuluan

 kegiatan inti

 kegiatan penutup.

21
1. Kegiatan Pendahuluan pada Proses Pembelajaran Kurikulum 2013

Kegiatan pendahuluan yang harus dilakukan oleh guru berdasarkan amanat

Kurikulum 2013 adalah:

a. Kegiatan yang mula-mula harus dilakukan oleh guru pada kegiatan

pendahuluan di dalam sebuah proses pembelajaran adalah mempersiapkan

siswa baik psikis maupun fisik agar dapat mengikuti proses pembelajaran

dengan baik.

b. Selanjutnya guru harus mengajukan beberapa pertanyaan-pertanyaan terkait

materi pembelajaran baik materi yang telah siswa pelajari serta materi-materi

yang akan mereka pelajari dalam proses pembelajaran tersebut.

c. Setelah memberikan pertanyaan-pertanyaan, guru kemudian mengajak siswa

untuk mencermati suatu permasalahan atau tugas yang akan dikerjakan

sehingga dengan demikian mereka akan belajar tentang suatu materi,

kemudian langsung dilanjutkan dengan menguraikan tentang tujuan

pembelajaran atau KD yang akan dicapai pada pembelajaran tersebut.

d. Terkahir, dalam kegiatan pendahuluan guru harus memberikan outline

cakupan materi serta penjelasan mengenai kegiatan belajar yang akan

dilakukan oleh siswa untuk menyelesaikan permasalahan atau tugas yang

diberikan.

2. Kegiatan Inti pada Proses Pembelajaran Kurikulum 2013

Pada hakikatnya, kegiatan inti adalah suatu proses pembelajaran agar tujuan

yang ingin dicapai dapat diraih. Kegiatan ini mestinya dilakukan oleh guru dengan

22
cara-cara yang bersifat interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi

siswa agar dengan cara yang aktif menjadi seorang pencari informasi, serta dapat

memberikan kesempatan yang memadai bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian

sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis siswa. 

Metode yang digunakan dalam kegiatan inti harus bersesuaian dengan karakteristik

siswa dan mata pelajaran. Kegiatan inti mencakup proses-proses berikut: (1)

melakukan observasi; (2) bertanya; (3) mengumpulkan informasi; (4)

mengasosiasikan informasi-informasi yang telah diperoleh; (5) dan

mengkomunikasikan hasilnya. Pada proses pembelajaran yang terkait dengan KD

yang bersifat prosedur untuk melakukan sesuatu, guru memfasilitasi sedemikian rupa

sehingga siswa dapat melakukan pengamatan terhadap pemodelan/demonstrasi yang

diberikan guru atau ahli, siswa menirukannya, selanjutnya guru melakukan

pengecekan dan pemberian umpan balik, dan latihan lanjutan kepada siswa.

Pada setiap kegiatan pembelajaran seharunya guru memperhatikan kompetensi yang

terkait dengan sikap seperti jujur, teliti, kerja sama, toleransi, disiplin, taat aturan,

menghargai pendapat orang lain sebagaimana yang telah dicantumkan pada silabus

dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Cara-cara yang dilakukan berkaitan

dengan proses pengumpulan data (informasi) diusahakan sedemikian rupa sehingga

relevan dengan jenis data yang sedang dieksplorasi, misalnya di laboratorium, studio,

lapangan, perpustakaan, museum, dan lain-lain. Sebelum menggunakan informasi

atau data yang telah dikumpulkan dan diperoleh siswa mesti tahu dan kemudian

berlatih, lalu dilanjutkan dengan menerapkannya pada berbagai situasi.

23
Berikut ini merupakan contoh penerapan dari kelima tahap kegiatan ini pada proses

pembelajaran:  

a. Melakukan observasi (melakukan pengamatan)

Dalam kegiatan melakukan pengamatan, guru membuka secara luas dan

bervariasi kesempatan siswa untuk melakukan pengamatan melalui kegiatan-kegitan

seperti: melihat, menyimak, mendengar, dan membaca. Guru memfasilitasi siswa

untuk melakukan pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan (melihat,

membaca, mendengar) hal yang penting dari suatu benda atau objek.

b. Bertanya

Pada saat siswa berada pada kegiatan melakukan pengamatan, guru membuka

kesempatan secara luas kepada peserta didik untuk mempertanyakan mengenai

apapun yang telah mereka lihat, mereka simak, atau mereka baca. Penting bagi guru

untuk memberikan bimbingan kepada siswa agar bisa mengajukan pertanyaan.

Pertanyaan yang dimaksud di sini berkaitan dengan pertanyaan dari hasil pengamatan

objek yang konkrit sampai kepada yang abstrak baik berupa fakta, konsep, prosedur,

atau pun hal lain yang lebih abstrak. Pertanyaan dapat pula yang bersifat faktual

sehingga pada pertanyaan yang bersifat hipotetik.

Siswa diajak untuk berlatih menggunakan pertanyaan dari guru diusahakan

agar terus meningkat kualitas tahapan ini sehingga pada akhirnya siswa mampu

mengajukan pertanyaan secara mandiri. Dari kegiatan bertanya ini akan dihasilkan

sejumlah pertanyaan. Kegiatan bertanya dimaksudkan juga agar siswa dapat

24
mengembangkan rasa ingin tahunya. Pada prinsipnya, semakin terlatih siswa untuk

bertanya maka rasa ingin tahu mereka akan semakin berkembang. 

Pertanyaan-pertanyaan yang telah mereka ajukan akan dijadikan dasar untuk mencari

informasi yang lebih lanjut dan beragam dari sumber-sumber belajar yang telah

ditentukan oleh guru hingga mencari informasi ke sumber-sumber yang ditentu-kan

oleh siswa sendiri, dari sumber yang tunggal sampai sumber yang beragam. 

c. Mengumpulkan dan mengasosiasikan informasi

Adapun langkah selanjutnya yang merupakan tindak lanjut dari kegiatan

bertanya adalah menggali dan mengumpulkan informasi dari beragam sumber dengan

bermacam cara. Dalam hal ini siswa boleh membaca buku yang lebih banyak,

mengamati fenomena atau objek dengan lebih teliti, atau bisa juga melaksanakan

eksperimen.

Hasil eksperimen selanjutnya akan dijadikan pondasi untuk kegiatan

berikutnya yakni memproses informasi sehingga pada akhirnya siswa akan

menemukan suatu keterkaitan antara satu informasi dengan informasi lainnya,

menemukan pola dari keterkaitan informasi dan bahkan mengambil berbagai

kesimpulan.

d. Mengkomunikasikan hasil

Kegiatan terakhir dalam kegiatan inti yaitu membuat tulisan atau bercerita

tentang apa-apa saja yang telah mereka temukan dalam kegiatan mencari informasi,

25
mengasosiasikan dan menemukan pola. Hasil tersebut disampikan di kelas dan dinilai

oleh guru sebagai hasil belajar siswa atau kelompok siswa tersebut. 

3. Kegiatan Penutup pada Proses Pembelajaran Kurikulum 2013 di SMP

Buin Batu

Pada kegiatan penutup, guru bersama-sama dengan siswa dan/atau sendiri

membuat rangkuman/simpulan pelajaran, melakukan penilaian dan/atau refleksi

terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram,

memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran, merencanakan

kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan,

layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun

kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik, dan menyampaikan rencana

pembelajaran.

Kompetensi-kompetensi Dasar (KD) diorganisasikan ke dalam 4 (empat)

Kompetensi Inti (KI):

a. KI-1 berkaitan dengan sikap diri terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

b. KI-2 berkaitan dengan karakter diri dan sikap sosial.

c. KI-3 berisi KD tentang pengetahuan terhadap materi ajar

d. KI-4 berisi KD tentang penyajian pengetahuan.

KI-1, KI-2, dan KI-4 harus dikembangkan dan ditumbuhkan melalui proses

pembelajaran setiap materi pokok yang tercantum dalam KI-3, untuk semua mata

26
pelajaran. KI-1 dan KI-2 tidak diajarkan langsung, tetapi menggunakan proses

pembelajaran yang bersifat indirect teaching pada setiap kegiatan.

Proses pembelajaran yang telah di atas merupakan proses pembelajaran yang

telah dipadukan dengan praktek-praktek terbaik pembelajaran pada satuan pendidikan

internasional dan yang telah distandarisasi oleh Lembaga Pendidikan Asing. Dengan

demikian dapat penulis simpulkan bahwa proses pembelajaran yang diselenggarakan

di SMP Buin Batu tetap memenuhi standar proses pendidikan nasional dan diperkaya

oleh praktek-praktek proses pembelajaran dengan standar internasional.

II.4 Standar pengelolaan


Pengelolaan pendidikan di SMP Buin Batu terdiri dari Kepala Sekolah

Eksekutif, Kepala Kampus SMP, Koordinator Akademik, Koordinator Program

Cambridge, Koordinator Kurikulum Nasional. Kepala Sekolah Eksekutif berperan

sebagai direktur sekolah dalam mengarahkan sekolah secara strategis dalam

pengembangan pendidikan. Kepala Kampus berperan dalam memastikan lingkungan

kampus tetap kondusif dan aman untuk penyelenggaraan pendidikan. Koordinator

Akademik berperan memastikan proses akademik berjalan lancer sesuai dengan

standar-standar nasional, internasional dan kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan.

Koordinator Program Cambridge dan Koordinator Kurikulum Nasional berperan

dalam memadukan kedua program kurikulum agar tetap sesuai dengan kebutuhan

siswa dan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan pemerintah dan LPA.

27
Sistem manajemen pengelolaan pendidikan diselenggarakan dengan

menerapkan ISO 9001:2015. Sistem manajemen ISO membantu pengelolaan

manajemen mutu, pengendalian saran pengembangan mutu pendidikan di SMP Buin

Batu. Melalui penerapan ISO, SMP Buin Batu menyelenggarakan pengelolaan

pendidikan secara terstruktur dan sistematis. Adapun pada cakupan organisasi

pendidik. SMP membentuk divisi-divisi/tim kecil dalam membantu pelaksanaan

pendidikan dalam hal-hal yang bersifat teknis.

II.5 Standar pendidik dan tenaga kependidikan


Sebagai sekolah SPK, SMP Buin Batu melakukan kerjasama dengan Lembaga

Pendidikan Asing (LPA). Untuk memenuhi kualifikasi standar pendidik dan tenaga

kependidikan bagi peserta didik WNA dan WNI, SMP Buin Batu merekrut pendidik

yang sesuai dengan kualifikasinya. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar

dan Menengah NOMOR: 407/D/PP/2015 tentang PETUNJUK TEKNIS KERJA

SAMA PENYELENGGARAAN DAN PENGELOLAAN PENDIDIKAN DASAR

DAN MENENGAH OLEH LEMBAGA PENDIDIKAN ASING DENGAN

LEMBAGA PENDIDIKAN DI INDONESIA, pada butir C ditetapkan bahwa

a. Komposisi jumlah pendidik WNI harus minimal 30% (tiga puluh persen) dari

keseluruhan jumlah pendidik pada satuan pendidikan yang bersangkutan

danjumlah pendidik WNA maksimal 70% (tujuh puluh persen) dari

keseluruhan jumlah pendidik pada satuan pendidikan yang bersangkutan;

28
b. Pendidik WNI harus memiliki ijazah S1/DIV yang diperoleh dari perguruan

tinggi yang terakreditasi/diakui dan khusus untuk guru mata pelajaran sesuai

dengan jurusan/spesialisasi mata pelajaran (mapel) yang diampu serta

berpengalaman mengajar dibuktikan dengan surat keterangan;

c. Untuk kepentingan sertifikasi, pendidik WNI diberikan Nomor Unik Pendidik

dan Tenaga Kependidikan (NUPTK);

d. Pendidik WNA harus memiliki ijazah setara minimal Strata 1 (S1) yang

diperoleh dari perguruan tinggi yang terakreditasi/diakui di negara yang

bersangkutan dengan jurusan/spesialisasi yang sesuai dengan mata pelajaran

(mapel) yang diampu dan dilengkapi dengan sertifikasi yang sesuai dengan

mapel yang diampu serta berpengalaman mengajar minimal 5 (lima) tahun;

e. Pendidik asing untuk pembelajaran bahasa asing pada SPK merupakan

penutur asli bahasa asing negaranya dan/atau orang yang mempunyai

sertifikat pendidik untuk bahasa tersebut;

f. Pendidik pada SPK diutamakan yang memahami Budaya Indonesia dan atau

budaya daerah tempat satuan pendidikan berada;

g. Izin pendidik warganegara asing hanya diberikan untuk mata pelajaran

tertentu sesuai dengan Peraturan yang diterbitkan Kemenakertrans;

h. Izin mempekerjakan tenaga asing sebagai pendidik diberikan oleh

Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi setelah mendapat

rekomendasi/persetujuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan;

Persyaratan lainnya yang harus dipenuhi oleh Pendidik WNA:

29
a. Sehat jasmani rohani serta bebas Narkoba, yang dibuktikan dengan surat

keterangan dokter yang memiliki izin resmi (melampirkan Surat Keterangan

Sehat dari dokter/Rumah Sakit dari negara asal WNA untuk rekruitmen baru

dan dari dokter/Rumah Sakit Pemerintah di Indonesia untuk perpanjangan

penugasan);

Mengacu pada Peraturan menteri di atas, SMP Buin Batu mempekerjakan

pendidik sesuai dengan keahlian akademik di bidangnya. Untuk mata pelajaran

Bahasa Inggris, SMP Buin Batu mempekerjakan WNA yang memiliki kualifikasi

bahasa dan sebagai penutur asing. Disamping itu, bahasa pengantar yang digunakan

adalah bahasa inggris mengingat bahasa inggris adalah bahasa internasional. Akan

tetapi, bahasa pengantar khusus untuk mata pelajaran bahasa indonesia disampaikan

dalam bahasa indonesia. Dengan demikian prinsip-prinsip pembelajaran tetap

memenuhi kedua standar baik standar nasional dan standar internasional.

II.6 Standar sarana dan prasarana


SMP Buin Batu dilengkapi oleh sarana pembelajaran yang mendukung

terselenggaranya pembelajaran. Sarana belajar seperti media Informasi dan teknologi

berupa komputer untuk masing-masing siswa dan 40 buah Macbook tersedia dengan

fasilitas jaringan internet WiFi di setiap area sekolah. Di dalam ruang kelas, tersedia

komputer bersama yang dapat dimanfaatkan oleh peserta didik. Media visual berupa

LCD projector terpasang di setiap ruang kelas dengan IT Smart Board. Meja, kursi

dan sofa membaca bagi peserta didik tersedia di setiap sudut ruang belajar siswa.

30
Berikut daftar inventaris sarana dan prasarana belajar di SMP Buin Batu:

Ruang Kelas

No ITEM KETERANGAN

.
1. Meja Meja persegi

2. Kursi Kursi sofa

3. Sofa membaca Sofa ergonomic

4. Karpet diskusi Karpet persegi yang disediakan sebagai

area diskusi kelompok siswa


5. Desktop Desktop Macintosh Apple

6. IT Board IT Board Interactive

7. LCD Projector Layar proyeksi visual

8. Soft Board Papan tempat memajang hasil karya

siswa
9. Papan tulis White board Papan interaksi siswa

10. Rak Buku Rak buku yang digunakan untuk

meletakkan buku-buku yang relevan

Prasarana

31
Sperti yang telah ditetapkan pada 8 standar nasional pendidikan, satuan

pendidikan diharapkan memenuhi prasarana seperti; lahan, ruang kelas,

ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang

perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi,

ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah,

tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan

untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

Berikut daftar prasarana di SMP Buin Batu:

No ITEM KETERANGAN

.
1. Ruang pimpinan 3 Buah Ruang Pimpinan

2. Ruang Pendidik 1 Ruang staff beserta ruang makan

staff
3. Ruang tata usaha 3 Ruang Admin/tata usaha beserta

Lobi penerima tamu


4. Ruang Perpustakaan Satu ruang perpustakaan

5. Instalasi daya dan jasa Satu buah ruang instalasi daya

6. Sport Hall/Sasana Olahraga Satu gedung Olahraga

7. Mushalla 1 Mushalla

8. Playground 2 area bermain ramah anak

9. Lapangan Sepak Bola 1 Lapangan Sepak Bola

10. Lapangan Tenis 1 Lapangan tenis

11. Ruang sumber belajar guru 1 Ruang sumber belajar guru

32
SMP Buin Batu telah memenuhi standar sarana dan prasarana yang telah

ditetapkan. Akan tetapi mengacu pada kebijakan perusahaan PT. Newmont Nusa

Tenggara terkait tidak diperbolehkannya melakukan jenis usaha apapun di lingkungan

tambang, maka SMP Buin Batu tidak memiliki kantin sekolah.

II.7 Standar pembiayaan


Pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di SMP Buin Batu sepenuhnya

menjadi tanggungan perusahaan. Penganggaran biaya pendidikan dikelola oleh

Departemen keuangan PT. Newmont Nusa Tenggara. Biaya operasional diberikan

dalam bentuk pengajuan oleh skeolah kepada perusahaan dan selanjutnya menjadi

kebijakan perusahaan untuk mendanai setiap kebutuhan penyelenggaraan pendidikan

di SMP Buin Batu.

SMP Buin Batu tidak menerima Dana Operasional Sekolah (BOS) dari

pemerintah dan tidak memungut biaya pendidikan kepada peserta didik. Hal ini

dikarenakan telah menjadi perjanjian kontrak antara karyawan PT. Newmont yang

berdomisili di Wilayah Townsite.

33
II.8 Standar penilaian
1. Penilaian hasil belajar peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan

menengah meliputi aspek:

a. sikap;

b. pengetahuan; dan

c. keterampilan.

2. Penilaian sikap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan

kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk memperoleh informasi deskriptif

mengenai perilaku peserta didik.

3. Penilaian pengetahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b

merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengukur penguasaan

pengetahuan peserta didik.

4. Penilaian keterampilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c

merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengukur kemampuan peserta

didik menerapkan pengetahuan dalam melakukan tugas tertentu.

5. Penilaian pengetahuan dan keterampilan sebagaimana dimaksud pada ayat (3)

dan ayat (4) dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan, dan/atau Pemerintah.

Standar penilaian di SMP Buin Batu tertuang dalam satu kebijakan penilaian

yang mengacu pada 8 standar nasional pendidikan dan Cambridge Benchmark. Di

dalam kebijakan penilaian SMP Buin Batu tertuang beragam bentuk penilaian yang

mengevaluasi pengetahuan, konsep, keterampilan, sikap dan tindakan. Adapun aspek-

34
aspek penilaian tersebut diadopsi dari praktek-praktek penilaian dari sistem

pendidikan nasional dan internasional.

Berikut beragam bentuk penilaian yang diterapkan di SMP Buin Batu:

 Anecdotal records  Cloze procedures


 Student reflections  Continuums
 Group assessments  Multiple-choice questions
 Conferencing  Running records
 Practical tests  Observations
 Short answer questions  Anecdotal records
 Performance tasks  Portfolios
 Examinations  Essays
 Checklists  Presentations
 Surveys  Self-assessments
 Rubrics  Peer-assessment
 Interviews  Explanations
 True/false tests  role plays
 Unit reviews  Exhibitions
 Questionnaires  Projects
 Peer assessments
 Standardized tests (National
Examination/IOWA/ISA)

Selain bentuk-bentuk penilaian di atas dan Ujian Nasional yang

diselenggarakan oleh pemerintah. SMP Buin Batu melakukan penilaian berupa Check

Point Exam dan Progression test yang diselenggarakan oleh Cambridge University.

Penilaian ini dilakukan untuk mengukur sejauh mana ketercapaian kompetensi

akademik peserta didik di tingkat internasional. Dengan demikian, siswa melakukan

baik proses penilaian yang dipersyaratkan oleh pemerintah dan juga oleh Lembaga

Pendidikan Asing.

35
III. Simpulan dan Rekomendasi

III.1 Simpulan
Berdasarkan kajian di atas, dapat disimpulkan bahwa SMP Buin Batu telah

memenuhi standar-standar pendidikan nasional yang telah ditetapkan oleh pemerintah

melalui 8 standar nasional pendidikan. Akan tetapi penyelenggaraan pendidikan

kerjasama masih mengalami kendala dalam memadukan paradigma pendidikan LPI

dan LPA. Elemen-elemen pendidikan di satu SPK diharapkan terus menciptakan

praktek-praktek terbaik pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan belajar siswa

dan memenuhi standar nasional dan internasional. Sekolah SPK dituntut untuk

membuat perpaduan antar standard dan menyesuaikan konteks lingkungan sekolah.

Disamping problematika di atas, instrumen akreditasi dari BAN/SM untuk

mengevaluasi proses penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah di SPK masih

belum dirumuskan. Disatu sisi Sekolah SPK dapat memenuhi bahkan memperkaya

pemenuhan 8 standar nasional, akan tetapi di sisi lain SPK belum menemukan bentuk

baku pola penyelenggaraan pendidikan pada konteks pendidikan nasional. Hal ini

tidak terlepas dari dinamika kebijakan pemerintah yang masih sering berubah-ubah

terkait petunjuk teknis pelaksanaan pendidikan dengan Satuan Pendidikan Kerjasama.

36
III.2 Rekomendasi
Melalui kajian ini, penulis memberikan rekomendasi sebagai berikut:

a. Sekolah-sekolah yang telah teridentifikasi menjadi SPK (Satuan pendidikan

Kerjasama) hendaknya dapat menularkan praktek-praktek terbaik pendidikan

kepada sekolah nasional murni dalam rangka pemenuhan 8 standar

pendidikan.

b. Adanya monitoring dan evaluasi yang terfokus pada proses penyelanggaraan

pendidikan baik di sekolah nasional maupun internasional/SPK. Dengan kata

lain proses pengwasan tidak hanya menitik beratkan pada hasil, akan tetapi

pada proses pemenuhan 8 standar pendidikan nasional.

c. Pemerintah dan pemangku kebijakan hendaknya merumuskan standar-standar

pendidikan yang relevan dengan membuat rumusan standar pendidikan untuk

sekolah dengan Satuan Pendidikan Kerjasama.

d. Pemerintah dan pemangku kebijakan hendaknya merumuskan panduan baku

dan instrumen akreditasi yang relevan untuk mengevaluasi penyelenggaraan

pendidikan pada sekolah dengan standar internasional/sekolah satuan

pendidikan kerjasama.

37
Daftar Pustaka

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Peraturan Menteri Pendidikan dan


Kebudayaan republik Indonesia tentang standar isi pendidikan dasar dan
menengah. Permen 8 standar nasional pendidikan Nomor 21 Tahun 2016.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Peraturan Menteri Pendidikan dan


Kebudayaan republik Indonesia tentang standar kompetensi lulusan
pendidikan dasar dan menengah. Permen 8 standar nasional pendidikan
Nomor 20 Tahun 2016.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Peraturan Menteri Pendidikan dan


Kebudayaan republik Indonesia tentang standar proses pendidikan dasar
dan menengah. Permen 8 standar nasional pendidikan Nomor 22 Tahun 2016.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Peraturan Menteri Pendidikan dan


Kebudayaan republik Indonesia tentang standar pengelolaan pendidikan
dasar dan menengah. Permen 8 standar nasional pendidikan Nomor 19 Tahun
2007.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Peraturan Menteri Pendidikan dan


Kebudayaan republik Indonesia tentang standar pendidik dan tenaga
kependidikan pendidikan dasar dan menengah. Permen 8 standar nasional
pendidikan Nomor 19 Tahun 2007

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Peraturan Menteri Pendidikan dan


Kebudayaan republik Indonesia tentang standar sarana dan prasarana
pendidikan dasar dan menengah. Permen 8 standar nasional pendidikan
Nomor 33 Tahun 2008.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Peraturan Menteri Pendidikan dan


Kebudayaan republik Indonesia tentang standar pembiayaan pendidikan
dasar dan menengah. Permen 8 standar nasional pendidikan Nomor 69 Tahun
2009.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Peraturan Menteri Pendidikan dan


Kebudayaan republik Indonesia tentang standar penilaian pendidikan dasar
dan menengah. Permen 8 standar nasional pendidikan Nomor 23 tahun 2016.

38
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Peraturan Direktur Jendral Pendidikan
Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia tentang Petunjuk Teknis Kerja Sama Penyelenggaraan Pendidikan
Dasar dan menengah Oleh Lembaga Pendidikan Asing Dengan Lembaga
Pendidikan di Indonesia Nomor: 407/D/PP/2015 Tahun 2015.

Sekolah Buin Batu Sumbawa. School Strategic Plan 2016-2020.

39