Anda di halaman 1dari 18

APENDISITIS

Grosfeld

Apendisitis masih menjadi kasus akut abdomen tersering dan kerap terjadi misdiagnosis. Banyak
aspek dari terapi yang masih kontroversi, memberikan minat yang bertahan dan produktif
terhadap literatur bedah anak. Variasi geografis pada insiden apendisitis berbeda tiap daerahnya.
Di Amerika Serikat, lebih dari 70.000 anak didiagnosa dengan apendisitis setiap tahunnya, atau
hampir 1 dari 1000 anak per tahun. Terhitung sekitar 254.000 hari rawatan dan 680 juta dolar
terbayarkan pada tahun 1997.65 Apendisitis lebih jarang terjadi pada negara ketiga. Lebih dari
beberapa dekade terakhir, insiden seluruh dunia menurun.9,75,96,160

SEJARAH
Istilah medis pertama yang mirip dengan apendisitis muncul sekitar 500 tahun yang lalu. 99
Perityphilitis sering digunakan untuk menggambarkan proses patologis. Sekum dipercaya
menjadi sumber dari penyakit ini sampai Melier mengemukakan inflamasi dari apendiks menjadi
penyebab dari penyakit ini pada 1827. Pada 1886, Fitz54 dengan yakin mendemonstrasikan
bahwa perityphilitis diawali dengan inflamasi apendiks, sehingga terciptalah istilah apendisitis.
Apendiktomi yang berhasil pertama kali dilakukan oleh Amyand, dengan mendrainase
abses skrotum dan membuang apendiks yang mengalami perforasi melalui insisi skrotum pada
1735. Morton diketahui melakukan apendiktomi terhadap apendiks perforasi di Amerika Serikat
tahun 1887.99,132 Pada 1889, McBurney95 melaporkan tindakan apendiktomi terhadap kasus
apendisitis tanpa ruptur, digambarkan dengan “lokasi dengan nyeri paling hebat…terjadi tepat
diantara 1,5-2 inci dari prosesus spinous anterior dari ilium, ditarik garis lurus hingga ke
prosesus umbilikus”. Dari sinilah lokasi McBurney dikenal. Tindakan bedah modern dan terapi
antibiotik dibuat untuk penyakit yang dulunya jarang fatal hingga sekarang. Bagaimanapun,
apendisitis saat ini merupakan sumber morbiditas yang berkelanjutan pada anak hingga
remaja.122

EMBRIOLOGI DAN ANATOMI


Selama embriogenesis, apendiks pertama kali terdeteksi pada usia kehamilan lebih dari delapan
minggu, sebagai lanjutan jaringan diujung inferior sekum.28,148 Apendiks berotasi hingga posisi
akhirnya di posteromedial dari sekum, sekitar 2 cm dibawah katup ileosekal, pada masa kanak-
kanak akhir. Variasi dari rotasi ini menyebabkan banyaknya posisi akhir dari apendiks. Apendiks
intraperitonial meliputi 95% kasus, tapi lokasi tepatnya memiliki banyak variasi. 172 Pada 30%
kasus, ujuung dari apendiks terletak di pelvis, 65% berada di belakang sekum, dan 5% berada
tepat di ekstraperitonial pada posisi retrokolik atau retrosekal. Pada kasus malrotasi atau situs
inversus, malposisi apendiks mungkin memberikan tanda inflamasi pada lokasi yang berbeda
dengan biasanya.
Rata-rata apendiks memiliki panjang 8 cm dengan variasi 0,3 sampai 33 cm. diameter
apendiks bervariasi 5 hingga 10 cm. suplai perdarahan yaitu dari arteri ileocolica cabang
apendikal, yang lewat dari belakang ileum terminal. Dasar dari apendiks muncul pada pertautan
antara tiga taenia coli, sebuah pertanda yang bermanfaat dalam menentukan lokasi apendiks yang
sukar dideteksi. Epitel colonic, lapisan otot sirkular dan longitudinal berdekatan dengan lapisan
sekal. Beberapa folikel limfe submukosal muncul saat lahir. Terjadi peningkatan sekitar 200
pada usia 12 tahun dan menurun secara mendadak setelah usia 30 tahun, dan hanya tersisa sedikit
setelah usia 60 tahun.
Perkembangan sekum tertekan akibat dari hipoplasia atau agenesis apendikular. Insidens
duplikasi apendiks telah dilaporkan pada 4 dari 100.000.20,33 Duplikasi apendiks dapat terjadi
secara parsial (bifid apendiks) atau penuh, dan mereka dapat terpisah atau orifisium comunis
pada sekum, yang mana juga dapat terduplikasi.
Fungsi dari apendiks masih belum diketahui. Primata memiliki sebuah apendiks, namun
tidak pada kebanyakan mamalia. Menariknya, kelinci memiliki sebuah apendiks, dan ini
dipercaya menjadi lokasi penting terhadap berkembangnya sel B.153

SPEKTRUM PENYAKIT
Risiko seseorang mengalami apendisitis sepanjang usianya yaitu 9% pada pria dan 7% pada
wanita.1 Sekitar 1 dari 3 pasien memiliki apendisitis pada usia lebih muda dari 18 tahun.
Apendisiti terjadi lebih sering pada ras berkulit putih pada musim panas di Amerika Serikat.
Puncak insidensi terjadi antara usia 11 hingga 12 tahun. Meskipun penyakit ini jarang terjadi
pada bayi, pada kelompok usia ini angka komplikasi meningkat karena telatnya diagnosis.
Perforasi mungkin terjadi sebagai hasil akhir dari proses penyakit lainnya, seperti yang terjadi
pada neonatus dengan penyakit Hirschprung.90 Terlepas dimana dan frekuensi terjadinya,
apendisitis masih menjadi sebuah enigma penyakit yang sederhana, meskipun kita telah
melakukan upaya terbaik, masih ada saja kasus bedah emergensi yang misdiagnosis. Meskipun
terapi dan diagnosis telah mengalami perbaikan, apendisitis sebagai penyebab morbiditas yang
signifikan masih saja terjadi, hingga dapat menyebabkan kematian, meski hal ini jarang
terjadi.111,125
Banyak istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan variasi derajat keparahan dari
apendisitis, termasuk akut apendisitis, apendisitis supuratif, apendisitis gangren, dan apendisitis
perforasi. Perbedaan tidak jelas, perbedaan yang relevan secara klinis harus dibedakan antara
apendisitis simpel atau komplikasi. Karena apendisitis gangren merepresentasikan usus yang
mati yang secara fungsional juga mengalami perforasi, kita tetap menggunakan apendisitis
komplikata untuk mendeskipsikan baik apendisitis gangren ataupun perforasi.
Adanya kasus kronik atau rekuren telah menjadi perdebatan dalam beberapa dekade.
Literatur terbaru berpendapat bahwa perbedaan itu masih ada, dan harus dipertimbangkan
menjadi diagnosa banding dari nyeri perut bawah berulang. 93,150 Inflamasi dari apendiks belum
pasti dapat menyebabkan perforasi, karena resolusi spontan dapat pula terjadi. 36,168 Mengenali hal
ini mungkin dapat berkontribusi dalam menurunkan angka apendiktomi.75160

GAMBARAN KLINIS
Pengajaran tradisional bahwa apendisitis berkembang sebagai lanjutan dari inflamasi sederhana
hingga menjadi perforasi, secara khas terjadi antara 24 hinga 36 jam dari terjadinya gejala
dengan pembentukan abses selanjutnya terjadi setelah periode 2 hingga 3 hari. 24,143 Namun
variabilitas dari gambaran klinis dari apendisitis berujung pada tindakan laparotomi tanpa
menemukan apendiks yang inflamasi. Pengalaman klinis dan metode imaging telah
meningkatkan akurasi diagnosis, namun tetap tidak mudah. Gambaran klinis dari apendisitis
dapat dimengerti dengan patofisiologinya.
Apendisitis merupakan hasil dari obstrusi lumen diikuti dengan infeksi. Proses ini
pertama kali dideskripsikan oleh van Zwalenberg 169 pada 1905 dan dikonfirmasi secara
ekspremintal oleh Wangesteen pada 1939. Wangesteen173 menunjukkan bahwa apendiks manusia
secara kontinyu mensekresi mukus meski tekanan intralumen lebih dari 93 mmHg. Meskipun
jelas obstruksi lumen merupakan penyebab apendisitis, penyebab obstruksi itu sendiri masih
belum jelas. Biasanya terjadi pengentalan dan kalsifikasi dari bahan feses, yang dikenal dengan
fekalit, sering memiliki peran penting.114 Fekalit dapat ditemui saat pembedahan sekitar 20%
anak dengan apendisitis akut, dan dilaporkan pada 30% hingga 40% anak dengan apendisitis
perforasi.40,159 Gambaran fekalit sering tampak secara radiografis. Hiperplasia dari folikel limfoid
apendiks sering menyebabkan obstruksi lumen, dan insidensi apendisit berkaitan dengan jumlah
jaringan limfoid yang ada.27 Penyebab reaksi lokal atau umum dari jaringan limfatik, seperti
Yersinia, Salmonella, dan Shigella,11,129,136,139 dapat menyebabkan obstruksi lumen apendiks,
sebagaimana yang dapat pula disebabkan oleh infestasi parasit Entamoeba, Strongyloides,
Enterobius vermicularis, Schistosoma, atau spesies Ascaris.2,108,146 Infeksi virus enterik dan
sistemik, seperti campak, measles, chickenpox, dan cytomegalovirus, juga dapat menyebabkan
apendisitis. Pasien dengan fibrosis kistik lebih sering mengalami insidensi apendisitis, 81,167
dengan presumsi hasil dari pengingkatan kelenjar penghasil mukus.38,115 Tumor karsinoid dapat
menyumbat apendiks, terutama ketika ia berada pada proximal ke 3. Benda asing, seperti pin,
biji-bijian, dan biji buah ceri, telah diimplikasikan sebagai penyebab apendisitis lebih dari 200
tahun. Penyebab lainnya yang telah dikemukakan yaitu trauma,69 stres psikologis39 dan turunan.8
Pada awalnya pasien dapat mengalami gejala gastrointestinal ringan sebelum nyeri
dirasakan, seperti penurunan nafsu makan, gangguan pencernaan, atau perubahan kebiasaan
buang air besar. Kurangnya nafsu makan merupakan gejala yang membantu, terutama pada anak-
anak, karena anak dengan nafsu makan baik jarang mengalami apendisitis. Bagaimanapun, gejala
gastrointestinal lain yang dialami sebelum terjadinya nyeri, dapat menjadi alternatf diagnosis.
Distensi dari apendiks sebagai hasil dari nyeri viseral yang dialami. Jenis nyeri viseral awal ini
tidak spesifik dan berasal dari regio periumbilikus. Nyeri awal ini sulit dilokalisasi, dirasakan
sebagai nyeri yang dalam dan tumpul pada dermatom T10. Distensi yang berkelanjutan pada
dinding apendiks digambarkan dengan gejala mual dan muntah, yang kemudian diikuti dengan
nyeri dalam beberapa jam. Mual sering terjadi, namun muntah yang dialami jarang dalam
keadaan yang berat. Gambaran klinis sebelum terjadinya nyeri menyebabkan ragu dalam
diagnosis.
Apendiks yang mengalami obstruksi dapat menjadi lokasi yang sempurna sebagai bakteri
yang terkunci. Sebagaimana tekanan intralumen meningkat, aliran lifatik menjadi terhambat,
menyebabkan edema dan pembengkakan. Pada akhirnya, peningkatan tekanan menyebabkan
terjadinya obstruksi vena, yang memicu terjadinya iskemia jaringan, infark, dan gangren.
Kemudian terjadi invasi bakteri pada dinding apendiks. Demam, takikardi, dan leukositosis
berkembang akibat hasil dari mediator dari jaringan iskemik, sel darah putih, dan bakteri. Ketika
eksudat inflamasi dari dinding apendiks mengenai peritonium parietal, nyeri somatik terpicu dan
nyeri dirasakan pada lokasi disekitar apendiks, yang dikenal dengan McBurney point. Nyeri
dapat terjadi di kuadran kanan bawah tanpa diawal nyeri viseral. Dengan kondisi apendiks yang
berada di retrosekal atau pelvis, onset nyeri somatik ini sering kali terlambat karena eksudat
inflamasi tidak mengenai peritonium parietal sampai terjadinya ruptur dan penyebaran infeksi.
Nyeri pada apendiks retrosekal dapat dialami di regio flank atau punggung. Apendiks pada pelvis
berada dekat dengan pembuluh darah ureter atau testis dapat meningkatkan frekuensi berkemih,
nyeri pada testis, atau keduanya. Inflamasi dari ureter atau buli oleh apendiks yang mengalami
inflamasi juga dapat memicu terjadinya nyeri saat berkemih atau nyeri akibat buli yang
mengalami distensi akibat dari retensi urin sekunder.
Kerusakan lebih lanjut pada dinding apendiks memicu terjadinya perforasi dengan
tumpahanya kandungan infeksi intralumen dengan pembentukan abses terlokalisasi atau
peritonitis generalisata. Proses ini tergantung terhadap cepatnya progresi dari perorasi dan pada
kemmapuan pasien untuk meningkatkan respon dan tumpahan kandungan dari apendiks. Tanda
dari apendisiti perforasi termasuk peningkatan suhu lebih dari 38.6 C (101.5 F), jumlah leukosit
lebih dari 14.000/mm3,137 disertai gejala peritonitis generalisata. Laporan lainnya mengenai
faktori risiko meliputi jenis kelamin laki-laki, usia ekstrim, dan beberapa faktor anatomi seperti
posisi apendiks retrosekal.119,143 Bagaiamanpun, baik apendisitis perforasi ataupun tidak dapat
mengalami entitas yang terpisah sepenuhnya. Resolusi spontan pada kasus apendisitis dapat
terjadi. Pasien dapat mengalami periode asimptomatik sebelum terjadinya perforasi, dan gejala
dapat bertahan lebih dari 48 jam tanpa perforasi. Umumya, semakin lama durasi gejala maka
berkaitan dengan risiko terjadinya perforasi. konstipasi tidak sering dialami, namun sensasi
penuh pada rektum atau tenesmus sering dikeluhkan. Diare terjadi lebih sering pada anak-anak
dibanding dewasa dan dapat menyebabkan misdiagnosis dengan gastroenteritis. Diare umumnya
terjadi dalam durasi singkat dan sering diakibatkan oleh iritasi ileum terminal atau sekum.
Bagaimanapun, ini dapat mengindikaskan abses pelvis.
Anak yang lebih muda umumnya memiliki gambaran apendisitis komplikasi akibat
ketidak mampuan mereka untuk memberi tahu riwayat penyakit, dan menurunkan kecurigaan
dokter yang dapat memicu terjadinya misdiagnosis.64,67,84 Gejala yang sering dikeluhkan oleh
anak usia pra sekolah yaitu muntah, diikuti dengan demam dan nyeri perut. 5 Perforasi selalu
menjadi temuan saat laparotomi, dan pasien mungkin terkait dengan obstruksi usus halus
sekunder terhadap inflamasi yang meluas dari ileum terminal dan sekum.

DIAGNOSIS
Pemeriksaan Fisik
Sebagaimana proses penyakit yang sering terjadi, banyak hal yang dapat dipelajari sebelum
pasien diperiksa. Anak dengan apendisitis biasanya berbaring di bed dengan gerakan yang
minimal. Anak dengan gerakan aktif dan berteriak jarang mengalami apendisitis. Namun
pengecualian pada anak dengan apendisitis retrosekal dan iritasi berkelanjutan ke arah ureter
memiliki gejala yang mirip dengan kolik renal. Anak yang lebih tua memiliki gambaran klinis
yang lebih lemah dan melenturkan tubuhnya, sedangkan bayi dapat melenturkan kaki kanan di
atas perut. Mengingat nyeri lokal yang ditimbulkan oleh gundukan di jalan dalam perjalanan ke
rumah sakit sangat membantu.
Setelah mendapatkan riwayat klinis, saya biasanya mulai dengan meminta anak untuk
menunjuk dengan satu jari ke lokasi sakit perut. Dengan lutut ditekuk untuk mengendurkan otot
perut, palpasi lembut pada perut harus dimulai pada titik yang jauh dari lokasi nyeri yang
dirasakan. Palpasi abdomen di area yang jauh dari lokasi nyeri dapat menimbulkan nyeri tekan
pada kuadran kanan bawah (tanda Rovsing dari nyeri alih), yang menunjukkan adanya iritasi
peritoneum. Anak-anak yang lebih kecil mungkin lebih kooperatif jika tangan mereka atau
stetoskop digunakan untuk palpasi. Stetoskop dapat memiliki beberapa peran dalam evaluasi
pasien yang berpotensi menderita apendisitis, yang paling tidak penting adalah auskultasi.
Meskipun pasien sering mengalami penurunan bising usus atau bahkan menghilang, hal
ini tidak seragam dan auskultasi abdomen hanya sedikit manfaatnya. Namun, auskultasi dada
untuk memeriksa infeksi saluran pernapasan bawah berguna, karena pneumonia lobus bawah
kanan dapat menyerupai apendisitis. Hiperestesia kulit, sensasi yang berasal dari akar saraf T10
ke L1, seringkali merupakan tanda awal apendisitis yang tidak konsisten. Sedikit menyentuh
pasien dengan stetoskop menciptakan sensasi tidak nyaman.
Nyeri tekan lokal sangat penting untuk diagnosis dan dicatat baik pada palpasi atau
perkusi. Kelembutan bisa ringan dan bahkan tertutupi oleh nyeri perut yang lebih umum,
terutama selama tahap awal. Titik McBurney adalah lokasi yang paling umum. Apendiks
retrosekal dapat dideteksi dengan nyeri tekan di pertengahan antara kosta ke-12 dan spina iliaka
posterior superior. Apendisitis pada regio pelvis menghasilkan nyeri rektum. Seorang anak
dengan malrotasi akan mengalami nyeri tekan lokal yang berhubungan dengan posisi drainase
eksudatif dari apendiks yang meradang.
Seiring berkembangnya penyakit menjadi perforasi, peritonitis terjadi kemudian. Sekali
lagi, pola nyeri bergantung pada lokasi apendiks. Perforasi dapat menyebabkan pengurangan
gejala sementara karena nyeri pada berkurangnya distensi viskus. Awalnya, peritonitis
direfleksikan sebagai kekakuan otot lokal. Ini berkembang kekakuan involunter sederhana
menjadi kekakuan umum perut. Tanda-tanda lain termasuk kekakuan otot psoas (ditunjukkan
dengan ekstensi pinggul kanan atau mengangkat kaki lurus melawan resistensi) atau otot
obturator (ditunjukkan oleh rotasi internal pasif paha kanan), yang keduanya menunjukkan iritasi
otot-otot ini karena apendisitis retrosekal. Tes inflamasi peritoneum lainnya, seperti nyeri tekan
rebound, jarang diperlukan untuk diagnosis dan menyebabkan ketidaknyamanan yang dapat
dihindari.
Penggunaan pemeriksaan rektal secara rutin dalam mendiagnosis apendisitis telah
dipertanyakan.23.43,47 Nyeri selama pemeriksaan ini tidak spesifik untuk apendisitis. Jika tanda
lain menunjukkan apendisitis, pemeriksaan dubur tidak diperlukan. Namun, ini mungkin
merupakan manuver diagnostik yang membantu dalam kasus-kasus yang meragukan, seperti
ketika dicurigai adanya apendiks pelvis atau abses atau ketika kondisi patologis uterus atau
adneksa sedang dipertimbangkan.
Jika apendisitis dibiarkan berkembang, baik peritonitis difus dan syok akan terjadi atau
infeksi akan menjadi terisolasi dan abses akan terbentuk. Peritonitis difus lebih sering terjadi
pada bayi, mungkin karena tidak adanya lemak omentum. Anak-anak yang lebih besar dan
remaja lebih mungkin untuk memiliki abses terorganisir. Pemeriksaan fisik pada kasus abses
yang terorganisir menunjukkan massa yang lunak di atas abses.
Aspek evaluasi penting namun sering tidak dilaporkan adalah pemeriksaan serial yang
dilakukan oleh orang yang sama. Keamanan dan kemanjuran pengamatan serial pertama kali
dilaporkan oleh White dan rekan pada tahun 1975176 dan sejak itu telah diperkuat oleh penelitian
lain. Surana dkk melaporkan studi prospektif yang menunjukkan tidak ada peningkatan
morbiditas dengan apendiktomi setelah observasi aktif di rumah sakit dibandingkan dengan
apendiktomi mendesak. Ketika diagnosis tidak jelas, pemeriksaan abdomen serial
memungkinkan dokter untuk mengurangi jumlah laparotomi yang tidak perlu tanpa
meningkatkan risiko pada pasien.

Pemeriksaan Laboratorium

Banyak yang telah dibahas mengenai temuan laboratorium apendisitis. Jumlah leukosit dan
hitung neutrofil telah diselidiki secara ekstensif.21,45,72 Sensitivitas jumlah leukosit yang
meningkat berkisar dari 52% menjadi 96% dan jumlah neutrofil yang bergeser ke kiri dari 39%
hingga 96%. Yang terakhir ini memiliki nilai diagnostik yang lebih baik, tetapi salah dalam
interpretasi nilai masih sangat umum. Jumlah leukosit normal terjadi pada 5% pasien dengan
apendisitis. Spesifisitas dan sensitivitas yang lebih besar telah dilaporkan menggunakan rasio
neutrofil-limfosit yang lebih besar 3,5.61
Nilai positif untuk protein C-reaktif dan laju sedimentasi eritrosit sangat berguna. 123 tetapi
nilai negatif tidak selalu mengesampingkan kelainan tersebut, sehingga membuat pengukuran
nilai-nilai ini memiliki nilai klinis yang terbatas. Kombinasi dari semua tes ini mungkin yang
paling membantu. Ducholm46 menemukan bahwa jumlah leukosit total yang normal, persentase
neutrofil, dan tingkat protein C-reaktif secara tepat menyingkirkan apendisitis dengan akurasi
100%. Namun, nilai abnormal belum tentu diagnostik gangguan tersebut.
Pada sebagian besar anak dengan suspek apendisitis, kombinasi dari riwayat klinis,
temuan fisik, dan pemeriksaan laboratorium harus menyediakan data yang cukup untuk membuat
diagnosis. Namun demikian, kesalahan diagnosis yang mengarah ke apendisitis negatif mulai
dari 10% hingga 30% telah dilaporkan. Skor apendisitis berdasarkan pada penimbangan delapan
faktor klinis (nyeri tekan kuadran kanan bawah yang terlokalisasi, leukositosis, migrasi nyeri,
pergeseran ke kiri, demam, mual/muntah, anoreksia, iritasi peritoneal) diusulkan untuk
meningkatkan akurasi diagnostik. Pada evaluasi prospektif anak-anak dengan nyeri perut
abdomen, sensitivitas sistem penilaian berkisar antara 76% hingga 100%, dan spesifisitasnya
berkisar dari 79% hingga 87%. Dalam kasus di mana diagnosisnya tidak jelas, observasi serial
diikuti oleh pencitraan akan dibenarkan.
Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiografi dan radiofarmasi memiliki keberhasilan yang bervariasi dalam
meningkatkan akurasi diagnostik. Radiografi polos dapat membantu. Fekalit terdapat pada 10%
hingga 20% pasien dan merupakan indikasi untuk operasi bahkan ketika gejalanya ringan. Pola
gas abnormal di kuadran kanan bawah, skoliosis lumbal menjauhi kuadran kanan bawah, dan
hilangnya bayangan psoas atau garis lemak di sebelah kanan juga membantu. Radiografi dada
untuk menyingkirkan pneumonia dapat diindikasikan.
Radiografi kontras barium enema dapat menunjukkan tidak ada atau tidak lengkapnya
pengisian apendiks, ketidakteraturan lumen apendiks, dan massa ekstrinsik mempengaruhi
sekum atau ileum terminal. Sensitivitas dan spesifisitas teknik ini rendah, 140 dan ini yang terbaik
digunakan dalam diagnosis nyeri perut nonspesifik. Pemindaian leukosit bertanda telah
digunakan dengan sensitivitas 87% dan spesifisitas 92%, tetapi membutuhkan waktu 3 hingga 5
jam untuk melakukannya.51 Sebuah penelitian terbatas pada populasi anak menunjukkan bahwa
skintigrafi leukosit technetium-99m hexamethylpropylene amine oxime tidak akurat atau dapat
diandalkan sebagai alat diagnostik pada anak-anak dengan presentasi klinis awal yang
menunjukkan apendisitis.74
Dengan operator yang terampil, ultrasonografi telah terbukti menjadi alat bantu
diagnostik yang efektif. Sebuah studi prospektif menunjukkan bahwa ultrasonografi lebih akurat
daripada yang dilakukan oleh ahli bedah kesan klinis awal.171 Sebagian besar penelitian
menunjukkan sensitivitas lebih besar dari 85% dan spesifisitas lebih besar dari 90%.178 Adanya
apendiks yang tidak dapat dikompresi dengan diameter anteroposterior 7 mm atau lebih besar
merupakan kriteria utama untuk diagnosis. Adaya appendicolith sangat membantu. Teknik
seperti kompresi bertingkat, lokalisasi diri,32 dan pendekatan ultrasound transvaginal, atau
transrektal juga telah meningkatkan hasil diagnostik.
Dalam dekade terakhir, computed tomography (CT) telah menjadi lebih banyak
digunakan dalam diagnosis apendiks.19,29,89,157 Temuan apendiks yang membesar (>6 mm),
penebalan dinding apendiks (>l mm), periappendix terdampar lemak, dan peningkatan dinding
apendiks adalah kriteria diagnostik yang berguna.34,66 Sensitivitas CT scan adalah: lebih dari
90%, dan spesifisitasnya lebih dari 80%. 14 Perbandingan ultrasonografi dan CT telah
menunjukkan bahwa yang terakhir adalah lebih sensitif sedangkan yang pertama lebih
spesifik.19,73.178
Kedua modalitas pencitraan, bagaimanapun, harus digunakan hanya jika diagnosis tidak
pasti. Dalam protokol yang mengevaluasi anak-anak dengan temuan klinis samar-samar untuk
apendisitis, kombinasi USG pelvis diikuti oleh CT terbatas dengan kontras rektal, jika perlu,
menghasilkan sensitivitas 94% dan spesifisitas 94%.59
Protokol yang sama mengurangi tingkat apendiktomi negatif dari 12% menjadi 6% di institusi
yang sama selama masa studi tetapi melakukan pencitraan pada hampir 80% anak-anak dengan
suspek apendisitis. Peningkatan akurasi diagnostik yang dirasakan menyebabkan peningkatan
dramatis dalam jumlah CT scan yang dilakukan pada populasi pediatrik, 25,60,124 meskipun tidak
ada bukti yang yang mendukung, penggunaan CT rutin dalam diagnosis apendisitis. 91 Selain
pemanfaatan sumber daya rumah sakit dan keterlambatan dalam perawatan bedah, risiko kanker
potensial yang terkait dengan radiasi pengion dari CT harus dipertimbangkan. 25
Metode diagnostik ini hanya diperlukan jika diagnosisnya tidak jelas. Penggunaan rutin
radiografi kontras barium enema, CT, atau ultrasonografi tidak secara substansial mempengaruhi
diagnosis atau perjalanan klinis pasien dengan apendisitis akut. Selain itu, meskipun beberapa
penelitian melaporkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan fisik bedah
tunggal, pemeriksaan serial oleh pemeriksa yang sama adalah alat diagnostik yang paling aman
dan paling akurat.12 Dalam laporan retrospektif baru-baru ini, evaluasi bedah pediatrik yang
dikombinasikan dengan penggunaan pencitraan tubuh secara selektif (<40% anak dengan suspek
apendisitis) sangat sensitif (99%) dan spesifik (92%) dan dikaitkan dengan tingkat apendiktomi
negatif yang rendah (5%).79

Diagnosis Banding

Apendisitis akut dapat meniru hampir semua proses intra-abdominal. 37 Diagnosis banding
apendisitis tercantum pada Tabel 98-1. Pertimbangan proses penyakit lain ini sebelum
pembedahan sama pentingnya dengan pemeriksaannya secara hati-hati saat pasien dibius dan
selama pembedahan pada kasus apendiks normal.
Diagnosis klinis apendisitis sangat menantang karena banyak gejala apendisitis tidak
spesifik dan presentasinya bisa bervariasi. Gastroenteritis akut adalah penyebab umum nyeri
perut pada anak-anak. Biasanya karena penyakit virus dan sembuh sendiri. Gejalanya meliputi
diare berair, sakit perut kram, demam, mual, dan muntah. Sembelit adalah masalah pediatrik
umum lainnya dan dapat menyebabkan sakit perut, mual, dan muntah. Nyeri biasanya persisten
tetapi tidak progresif. Sejarah dan radiografi polos akan menyarankan diagnosis. Infeksi saluran
kemih juga akan menyebabkan demam, mual, dan muntah. Sebuah urinalisis harus diperoleh jika
terdapat gejala saat berkemih.
Meskipun kemajuan dalam pencitraan diagnostik, laparotomi yang dilakukan untuk
apendisitis tidak selalu mengungkapkan apendiks yang meradang. Tarif laparotomi yang
diterima sebelumnya

tidak mengungkapkan rentang apendisitis dari 15% hingga 40%.143 Angka ini tidak didukung
oleh literatur terbaru yang melaporkan angka apendiktomi negatif kurang dari 10%.22,49,110,128
Ketika apendiks normal ditemukan, sebagian besar ahli bedah merekomendasikan agar itu
dihapus untuk memungkinkan pemeriksaan patologis dan untuk menghindari kebingungan
potensial jika pasien mengalami nyeri kuadran kanan bawah di masa depan. Eksplorasi kuadran
kanan bawah harus dilakukan untuk mencari penyebab lain dari gejala tersebut. Ileum terminal
dapat menunjukkan pembesaran kelenjar getah bening adenitis mesenterika di mesenterium ileal
yang mungkin mengalami infeksi sekunder dari saluran pernapasan atas. Pasien-pasien ini
mungkin mengalami nyeri perut, demam, dan mual, tetapi nyeri tekannya tidak terlokalisir
seperti pada apendisitis. Limfositosis dapat dicatat pada perbedaan jumlah sel darah. Pencarian
divertikulum Meckel's harus dilakukan, tetapi jarang menimbulkan rasa sakit. Pendarahan tanpa
rasa sakit dan obstruksi adalah gejala yang lebih umum. Jika pasien memiliki penyakit Crohn,
apendiks tidak boleh diangkat jika sekum terlibat dalam proses penyakit, karena pengangkatan
dikaitkan dengan tingginya insiden pembentukan fistula berikutnya.177
Akurasi diagnostik untuk apendisitis paling rendah di kalangan wanita muda karena
berbagai kondisi ginekologi yang dapat menyebabkan nyeri perut bagian bawah. Kehamilan
ektopik harus dipertimbangkan pada gadis remaja dengan nyeri perut bagian bawah. Mereka
mungkin hadir dengan perdarahan vagina, amenore, pusing, mual dan muntah. Pecahnya kista
ovarium dan torsi ovarium juga dapat muncul sebagai nyeri perut bagian bawah. Anak
perempuan yang aktif secara seksual dengan penyakit radang pelvis dapat muncul dengan nyeri
perut bagian bawah, keputihan, dan pembesaran adneksa. Sebagian besar akan mengalami nyeri
tekan pada gerakan serviks dan akan berespons terhadap antibiotik. Intervensi operatif dapat
diindikasikan untuk mereka yang tidak respon terhadap pengobatan atau mengalami abses
persisten.
Tumor karsinoid terdapat pada kurang dari 1% pasien yang menjalani apendektomi. 63
Sebagian besar tumor karsinoid apendiks tidak memiliki sel yang mengandung serotonin yang
khas dari tumor karsinoid usus tengah sehingga jarang bergejala dan biasanya muncul secara
kebetulan pada apendiktomi.135 Sebagian besar adalah apendisitis jinak, dan sederhana bersifat
kuratif.102.121 Kontroversi seputar manajemen pembedahan yang tepat tumor karsinoid yang
berpotensi ganas. Konsensusnya adalah bahwa tumor karsinoid dengan diameter lebih besar dari
2 cm, yang telah jelas bermetastasis, dan yang terletak di dasar apendiks memerlukan
hernikolektomi kanan.118,135 sedangkan yang berdiameter lebih kecil dari 1 cm dan belum
bermetastasis pada saat diagnosis diobati dengan apendiktomi saja. Pengobatan tumor dengan
diameter 1 sampai 2 cm masih kontroversial. Moertel dkk percaya bahwa prosedur bedah
konservatif adalah semua yang diperlukan terlepas dari ukuran atau lokasi tumor selama belum
menyebar.

TERAPI
Meskipun semua ahli bedah akan setuju bahwa pengobatan untuk apendisitis adalah usus buntu,
rincian dari: manajemen perioperatif sangat bervariasi.107 Perawatan yang optimal di banyak
daerah tidak diketahui. Sebagai contoh, teknik pembedahan seperti penggunaan drainase,
kebutuhan irigasi peritoneum, penanganan tunggul apendiks, dan penutupan insisi masih menjadi
perdebatan. Penggunaan ultrasonografi dan CT untuk diagnosis dan drainase yang dipandu untuk
manajemen abses mempengaruhi kebutuhan untuk operasi dini. Kebutuhan untuk apendiktomi
interval setelah manajemen nonoperatif awal dari plegmon apendiks telah dipertanyakan. Pilihan
antibiotik dan lamanya penggunaannya sangat bervariasi pada setiap ahli bedah.
Antibiotik
Penggunaan antibiotik untuk pengobatan apendisitis jelas bermanfaat. 7 Kultur intraoperatif belum
terbukti mengubah hasil pengobatan.97,104 Rejimen terbaik dan durasi penggunaan antibiotik
masih menjadi kontroversi. Dalam survei baru-baru ini di kalangan ahli bedah anak, penggunaan
antibiotik sangat berbeda.107 Pemberian ampisilin, gentamisin, dan klindamisin atau metronidazol
intravena selama 10 hari merupakan standar emas untuk pengobatan apendisitis yang rumit,149
dan efektivitas kombinasi antibiotik lainnya biasanya diukur dengan rejimen empiris ini.
Kombinasi ini dipilih karena frekuensi keterlibatan bakteri, termasuk Escherichia coli,
Enterococcus, Klebsiella, dan Bacteroides. Saat antibiotik generasi baru tersedia, kombinasi lain
mungkin sama efektifnya, termasuk cefotaxime dan clindamycin,147 cefoxitin saja.101 klindamisin
dan amikasin.15 klindamisin dan aztreonam,15 cefepime dan metronidazol,18 ticarcillin dan
klavulanat,126.154 serta piperasilin dan tazobactam.109

Ada kecenderungan penurunan durasi terapi antibiotik.142 Hanya antibiotik perioperatif


yang diperlukan untuk apendisitis dini. Durasi yang direkomendasikan adalah dari dosis tunggal
hingga 48 jam.16,83 Sebuah studi prospektif double-blind telah menunjukkan bahwa cefoxitin
dosis tunggal (yang memiliki waktu paruh 0,8 jam) tidak seefektif cefotetan dosis tunggal (waktu
paruh, 3,5 jam) atau cakupan 24 jam dengan cefoxitin. 83 oleh karena itu, Durasi pengobatan
tergantung pada pilihan obat. Untuk apendisitis yang rumit, penelitian terbaru menunjukkan
bahwa pemberian 48 jam saja sudah cukup. Yang lain menyarankan agar pengobatan dilanjutkan
selama 5 hari dengan penambahan waktu seperti yang ditunjukkan secara klinis dengan
menggunakan jumlah leukosit dan adanya demam sebagai panduan. 18.35.154 Ada juga merupakan
tren untuk menggunakan antibiotik oral daripada antibiotik intravena ketika fungsi
gastrointestinal membaik. Sebuah studi prospektif acak menunjukkan kesetaraan antara
pemberian antibiotik intravena selama 0 hari dan pemberian antibiotik intravena selama IO hari
diikuti dengan antibiotik oral untuk apendisitis yang rumit.133 Terapi antibiotik standar di institusi
saya adalah terapi preoperatif dengan cefoxitin untuk kasus suspek apendisitis akut dan
ampisilin, gentamisin, dan klindamisin untuk apendisitis komplikata. Cakupan dilanjutkan jika
secara klinis pasien megnalami demam atau peningkatan jumlah leukosit.

Apendiktomi
Terapi yang paling umum dilakukan untuk apendiks akut adalah pembedahan segera. Ada bukti
bahwa beberapa kasus apendisitis akut dapat sembuh secara spontan.36 tetapi tidak ada penelitian
yang menggambarkan risiko masa depan untuk berkembangnya apendisitis komplikata jika tidak
dilakukan operasi awal. Tidak ada studi radiografi yang diakui, nilai laboratorium, atau tanda
klinis yang membantu menentukan proses inflamasi akut mana yang akan sembuh dan mana
yang akan menyebabkan komplikasi, dan pendekatan nonoperatif untuk apendisitis akut ini
hanya memiliki sedikit pengikut. Ada kecenderungan untuk tidak segera melakukan operasi,
termasuk prosedur yang dilakukan di tengah malam.162.179 Menurut survei anggota American
Pediatric Surgical Association, hanya setengah dari ahli bedah yang akan melakukan operasi
apendisitis di tengah malam.107 Tidak ada peningkatan tingkat perforasi atau insiden komplikasi
yang dicatat antara sekelompok pasien yang didiagnosis dengan apendisitis akut dan menjalani
operasi dalam waktu 6 jam setelah masuk rumah sakit dan mereka yang menjalani operasi antara
6 hingga 18 jam masuk rumah sakit. 161,176 Namun demikian, sebagian besar pasien dengan
diagnosis apendisitis akut masih harus segera menjalani operasi. Mayoritas ahli bedah anak akan
melakukan operasi apendisitis dalam waktu 8 jam.
Pada teknik terbuka, sayatan melintang atau miring pada kuadran kanan bawah dibuat
melalui titik McBurney (Gbr. 98-1). Otot-otot dinding perut biasanya terbelah. Setelah perut
dimasukkan, sekum dan apendisitis dimobilisasi dan apendisitis dibawa keluar melalui sayatan.
Mesoapendiks kemudian dibagi, dan pangkal apendiks diligasi. Basis pendek dibiarkan untuk
menghindari peradangan pada potongan. Jaringan yang telah dipotong ditatalaksana dengan
ligasi sederhana, ligasi dengan inversi menggunakan jahitan pursestring atau jahitan Z, atau
inversi tanpa ligatur. Ligasi sederhana dapat dilakukan dengan cepat dan diklaim dapat
mengurangi adhesi.158 Inversi secara teoritis mengarah pada kontrol perdarahan yang lebih baik,
penutupan ganda yang aman, dan kemungkinan kontaminasi yang lebih kecil; namun, hal itu
dapat membuat artefak pada pemeriksaan kontras di masa mendatang dan dapat menyebabkan
intususepsi. Sebuah tinjauan yang membandingkan ligasi sederhana dengan ligasi dan inversi
menyimpulkan bahwa ligasi sederhana tampaknya setidaknya seefektif ligasi dengan inversi dan
dikaitkan dengan pembentukan adhesi yang lebih sedikit. Untuk apendisitis sederhana, irigasi
luka tidak diperlukan. Luka ditutup berlapis-lapis, dan tidak ada drainase yang dipasang. Diet
normal dapat diberikan segera setelah operasi, dan pasien dapat dipulangkan 1 sampai 2 hari
setelah operasi. Jika apendiks normal ditemukan, rongga peritoneum harus diperiksa untuk
mencari penyakit radang usus, adenitis mesenterika, divertikulitis Meckel, atau, pada wanita,
kondisi patologis ovarium.
Apendiktomi "Endoskopi" pertama kali dijelaskan pada 1983.151 Apendiktomi laparoskopi dapat
dilakukan dengan bantuan teknik laparoskopi, dengan cara apendiks dimobilisasi secara
laparoskopi menggunakan satu atau dua lubang dan ditarik melalui lubang perut kecil dan
diangkat dengan teknik terbuka standar.168 Sebagai alternatif, apendiks dapat diangkat seluruhnya
secara laparoskopi. Tiga trocar
Gambar 98-1 A.A, Sayatan melintang dibuat di kuadran kanan bawah di atas otot-otot lateral. B,
Fasia miring eksternal diiris, memperlihatkan fasia dan otot miring internal. C, Otot perut
melintang dan peritoneum dibuka, dan sekum diidentifikasi. D, Apendiks yang meradang
diidentifikasi; dan mesoappendix diisolasi, dijepit, dibagi, dan diikat. E, Jahitan pursestring
ditempatkan di dinding cecal. F, Pangkal apendiks dihancurkan dan diikat, dan apendiks
dipotong. G, Tunggul apendiks dibalik ke dinding cecal, dan jahitan pursestring diikat. (Dari
Rowe M, O'Neill], GrosfeldJ, dkk: Essentials of Pediatric Surgery. Philadelphia, CV Mosby,
1995.)
biasanya digunakan: satu di umbilikus untuk skop, satu di kuadran kanan atas, dan satu di
kuadran kiri bawah untuk retraksi dan diseksi (Gbr. 98-2). Apendiks ditemukan dengan
mengikuti sekum, dan mesoapendiks digenggam di dekat ujungnya untuk mengangkat apendiks
ke arah dinding perut. Sebuah jendela dibuat di mesoappendix dekat dasar untuk memungkinkan
pembagiannya dengan menerapkan klip, staples, atau pisau bedah harmonik. Banyak variasi
pengikatan dan pengangkatan apendiks telah telah dijelaskan.49,152 Teknik paling sederhana
berlaku dan stapler endoskopi ke dasar apendiks, dan apendiks dibawa melalui situs trokar
umbilikalis. Meskipun prospektif, uji coba acak yang membandingkan apendiktomi terbuka dan
laparoskopi, keuntungan dan kerugian apendiktomi laparoskopi masih diperdebatkan.*
Keuntungan yang diklaim termasuk rawat inap yang lebih pendek, penurunan nyeri pasca
operasi, penurunan komplikasi luka, peningkatan kemampuan untuk mendiagnosis kasus yang
tidak pasti, kemudahan pembedahan pada pasien obesitas, dan

•Lihat referensi 30, 82, 85, 86. 92, 116, 120, 130, 134, dan 141.

pemulihan pasca operasi yang lebih cepat. 22,42,49,57.58.80,87 Kerugiannya adalah biaya yang lebih
tinggi karena kebutuhan peralatan dan waktu yang lebih lama untuk operasi, peningkatan
pelatihan dan pengalaman yang diperlukan untuk ahli bedah dan staf pendukung tambahan,
peningkatan insiden menemukan apendiks normal, dan peningkatan insiden infeksi intra-
abdomen.10.22,97.144.165 Meskipun kesimpulan mengenai keuntungan teknik ini dibandingkan teknik
terbuka sangat bervariasi, terutama pada anak-anak, laparoskopi apendiktomi tampaknya
menjadi cara yang aman dan efektif untuk melakukan apendiktomi dan prospektif, percobaan
acak umumnya mendukung metode ini. Pengobatan pasien dengan apendisitis komplikata lebih
kontroversial daripada pasien dengan apendisitis sederhana. Karena pengaruh sosial, budaya,
ekonomi, dan medis pada diagnosis dan pengobatan proses penyakit ini, tingkat perforasi
bervariasi dari 16% menjadi 57% pada rumah sakit yang berbeda. Tidak ada konsensus tentang
pengobatan yang optimal pada pasien dengan apendisitis yang rumit. Pendapat berkisar dari
pengobatan nonoperatif hingga reseksi bedah agresif dengan irigasi antibiotik, drainase rongga
peritoneum, dan penutupan luka yang tertunda.
Gambar 98-2
A, Tiga ports ditempatkan untuk apendiktomi laparoskopi. Port umbilical berukuran 12 mm
untuk mengakomodasi stapler endoskopi. Dua port lainnya yaitu 3 atau 5 mm untuk instrumen
bedah. B, Apendiks diangkat ke atas oleh penggenggam yang ditempatkan di mesoappendiks,
dan sebuah jendela dibuat di dasar mesoappendiks dengan sebuah disektor. Mesoappendix
dipisahkan dengan pisau bedah harmonik. C, Lingkup dialihkan ke port kuadran kanan atas
untuk memungkinkan stapler endoskopi masuk melalui port umbilical untuk membagi apendiks.
Puntung apendiks dikauterisasi dan diekstraksi melalui port umbilikalis.
Weiner dkk175 melaporkan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam jumlah hari rawatan, biaya
pengobatan, atau tingkat komplikasi secara keseluruhan menggunakan pengobatan nonoperative
awal apendisitis komplikata diikuti dengan apendisitis interval dalam 8 minggu. Dalam studi lain
yang meneliti terapi nonoperatif awal untuk apendisitis komplikata yang dikonfirmasi dengan
imaging, 22% dari pasien dikonversi untuk mendapatkan apendiktomi karena obstruksi usus
halus.77 Bandemia lebih dari 15% berkorelasi dengan kegagalan strategi nonoperatif awal.
Perawatan operatif tetap menjadi pendekatan standar karena kesulitan dalam menentukan
sebelum operasi apakah telah terjadi perforasi.
Prosedur operasi untuk apendisitis komplikata adalah apendiktomi. Ada kontroversi
lanjutan mengenai rincian prosedur: apakah akan mengeringkan rongga peritoneum, apakah akan
menutup luka atau membiarkannya terbuka dengan penutupan yang tertunda, apakah akan
mengairi rongga peritoneum dan, jika demikian, apakah akan menggunakan larutan antibiotik.
Penggunaan drainase pasca operasi telah digambarkan sebagai peningkatan komplikasi infeksi
serta mencegahnya.40,41,137,I45,159,164 Sebagian besar penelitian tidak mendukung penggunaan
drainase, dengan kemungkinan pengecualian abses retrocecal yang tidak dapat didebridement
dengan baik. Penutupan luka yang tertunda tidak didukung oleh literatur. 49.110.128·137.149 dan
tampaknya bukan jaminan, karena tingkat infeksi luka yang terkait dengan operasi apendisitis
kurang dari 3%. Irigasi masih kontroversial. Putnam dkk 128 menyarankan bahwa irigasi
memperpanjang ileus dan dapat menyebabkan obstruksi usus halus dan melaporkan hasil yang
sangat baik tanpa irigasi. Studi terbaru lainnya mendukung irigasi saline di rongga peritoneal
dengan atau tanpa antibiotik.40,49,110,137.149 Standar penatalaksanaan saya pada anak dengan
apendisitis komplikasi adalah apendektomi, evakuasi cairan purulen, irigasi salin, tanpa drainase,
dan penutupan luka primer.
Penatalaksanaan pasien dengan massa abdomen yang teraba adalah topik kontroversial
lainnya. Terjadi pada sebagian kecil tetapi signifikan dari pasien dengan apendisitis yang rumit,
terutama pada anak kecil setelah perforasi Beberapa menganjurkan apendiktomi segera, 166 dan
lainnya melakukan prosedur hanya jika massa dapat terkonfirmasi dengan pasien di bawah
anestesi. Jika operasi dilakukan, perawatan harus dilakukan untuk menghindari kerusakan pada
struktur yang berdekatan yang mengalami proses inflamasi, seperti usus kecil, saluran tuba dan
ovarium, dan ureter. Surana163 dan Nitecki113 merekomendasikan pengobatan dengan antibiotik
intravena sampai jumlah leukosit normal dan pasien tetap tidak demam selama 24 jam. Jika
kondisi pasien memburuk atau massa membesar pada ultrasonografi serial, massa dikeringkan
secara perkutan, diikuti dengan apendiktomi interval. Apendiktomi interval mencegah episode
apendisitis berulang dan memberikan kesempatan kepada ahli bedah untuk mengevaluasi pasien
untuk kondisi lain yang dapat menyamar sebagai massa apendiks. Apakah apendiktomi interval
juga masih dalam perdebatan.13,26,48,71,105,113,131 Nitecki dkk113 telah menyarankan bahwa
apendiktomi interval tidak diperlukan karena hanya 14% pasien yang memiliki gejala berulang
dan kekambuhan dalam 2 tahun setelah diagnosis awal jarang terjadi. Standar pengobatan saat ini
adalah manajemen konservatif dengan apendiktomi interval setelah 8 sampai 12 minggu.
KOMPLIKASI

Insiden komplikasi meningkat dengan tingkat keparahan apendisitis, tetapi semua komplikasi
telah menunjukkan penurunan yang stabil dalam beberapa tahun terakhir. Komplikasi termasuk
infeksi luka, pembentukan abses intra-abdomen, obstruksi usus pasca operasi, ileus
berkepanjangan, dan, jarang, fistula enterokutaneus. Infeksi luka adalah komplikasi yang paling
umum, tetapi angkanya telah turun dari 50% hingga kurang dari 5%, bahkan pada apendiks
komplikata.40,49,110,119,128,159 Pembentukan abses intra-abdomen juga lebih sering terjadi pada
apendisitis komplikata tetapi masih kurang dari 2%. Abses dapat dikeringkan secara perkutan
dengan panduan CT atau transrektal di ruang operasi, meskipun yang lain telah menganjurkan
manajemen yang lebih konservatif.44,62.117 Obstruksi usus pasca operasi terjadi pada 1% pasien
dengan apendisitis komplikata, yang sering membutuhkan adhesiolisis operatif.3 Fistula
enterokutan merupakan komplikasi yang jarang terjadi dan biasanya akan berespon terhadap
manajemen nonoperatif. Pylephlebitis supuratif adalah komplikasi yang sangat serius, meskipun
jarang.170 Sepsis dan kegagalan organ multisistem dapat terjadi pada anak kecil yang menderita
penyakit berkepanjangan sebelum diagnosis. Komplikasi utama, termasuk obstruksi usus pasca
operasi dan pembentukan abses intra-abdomen, juga telah menurun menjadi insiden kurang dari
5%.
Masalah yang belum terselesaikan adalah efek apendisitis yang rumit pada kesuburan pada
wanita. Studi yang tersedia apendisitis. Puri dkk 127 melaporkan bahwa apendisitis komplikata
sebelum pubertas memainkan sedikit peran dalam penyebab infertilitas tuba, sedangkan Mueller
dkk melaporkan bahwa kondisi ini terkait dengan peingkatan risiko empat kali lipat untuk
terjadinya infertilitas tuba. Konsekuensi dari apendisitis komplikata dapat dikurangi melalui
pendidikan publik dan medis. yang memastikan perawatan dini yang cepat sebelum perforasi.

HASIL
Tingkat kematian untuk apendisitis yang rumit telah turun menjadi hampir nol. Antibiotik telah
secara nyata menurunkan insiden komplikasi infeksi. Meskipun lama rawat inap dan morbiditas
pasien dengan apendisitis komplikata masih jauh melebihi apendisitis sederhana, morbiditas
secara keseluruhan pada anak dengan apendisitis komplikata kurang dari 10%. Manajemen pasca
operasi apendisitis sangat bervariasi mulai diatasi dengan menerapkan jalur klinis berbasis
bukti.156.114 terutama didorong oleh tekanan ekonomi, ada peningkatan pengawasan pengobatan
pasien dan hasil.55,56.I I2 Hasil awal penelitian telah menunjukkan bahwa rumah sakit yang
melakukan kurang dari satu operasi apendisitis per minggu dikaitkan dengan kemungkinan
kesalahan diagnosis yang lebih tinggi. Ada juga laporan yang menunjukkan hasil yang lebih baik
pada anak-anak yang lebih muda dengan apendisitis ketika mereka dirawat oleh ahli bedah anak.
Kombinasi evaluasi bedah, operasi yang cepat ketika diagnosis jelas, periode observasi jika
diagnosis samar-samar diikuti dengan pencitraan jika perlu, dan perawatan yang diberikan oleh
dokter dan institusi yang berpengalaman akan menghasilkan hasil terbaik untuk anak-anak
dengan apendisitis.

Anda mungkin juga menyukai