Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN THYPOID

PADA SDR.N DIRUANG LILY


RSUD dr. R GOETENG TAROENADIBRATA

Disusun Oleh:
FRISKA OLYFIA SHELEN
190102021

PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN II


FAKULTAS KESEHATAN PRODI DIPLOMA TIGA KEPERAWATAN
UNIVERSITAS HARAPAN BANGSA PURWOKERTO
2021/2022
A. DEFINISI
Demam thypoid atau enteric fever adalah penyakit infeksi akut yang biasanya
mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari satu minggu, gangguan
pada pencernaan dan gangguan keasadaran. Demam thypoid disebabkan oleh infeksi
salmonella typhi. (Lestari Titik, 2016).

Thypoid fever atau demam tifoid adalah penyakit infeksi akut pada usus halus dengan
gejala demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dan
dengan gangguan kesadaran. (Wijayaningsih kartika sari, 2013)

Demam thypoid atau enteric fever adalah penyakit infeksi akut yang biasanya
mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari satu minggu, gangguan
pada pencernaan dan gangguan keasadaran. Demam thypoid disebabkan oleh infeksi
salmonella typhi. (Lestari Titik, 2016).

Thypoid fever atau demam tifoid adalah penyakit infeksi akut pada usus halus dengan
gejala demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dan
dengan gangguan kesadaran. (Wijayaningsih kartikasari, 2013.

B. ETIOLOGI
Penyebab utama demam thypoid ini adalah bakteri samonella typhi. Baktersalmonella
typhi adalah berupa basil gram negatif, bergerak dengan rambut getar, tidakberspora,
dan mempunyai tiga macam antigen yaitu antigen O (somatik yang terdiri atas zat
kompleks lipopolisakarida), antigen H (flegella), dan antigen VI. Dalam serum
penderita, terdapatzat (aglutinin) terhadap ketiga macam antigen tersebut. Kuman
tumbuh pada suasana aerob dan fakultatif anaerob pada suhu 15-41 derajat celsius
(optimum 37 derajat 7 celsius) dan pH pertumbuhan 6-8. Faktor pencetus lainnya
adalah lingkungan, sistem imun yang rendah, feses, urin, makanan/minuman yang
terkontaminasi, formalitas dan lain sebagainya. (Lestari Titik, 2016).

C. MANIFESTASI KLINIS
Demam thypoid pada anak biasanya lebih ringan daripada orang dewasa. Masa tunas
10-20 hari, yang tersingkat 4 hari jika infeksi terjadi melalui makanan, sedangkan jika
melalui minuman yang terlama 30 hari. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan
gejala prodromal, perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri, nyeri kepala, pusing dan
tidak bersemangat, kemudian menyusul gejala klinis yang biasanya di temukan, yaitu:
(Lestari Titik, 2016)

1) Demam
Pada kasus tipikal, demam yang berlangsung selama 3 minggu adalah demam tinggi
Konduksi, suhu sama sekali tidak tinggi. Minggu pertama, suhu tubuh Tingkatkan
secara bertahap setiap hari dan turunkan secara bertahap di pagi hari, Tingkatkan lagi
pada sore dan malam hari. Suhu minggu ketiga Turunkan secara bertahap dan kembali
normal.
2) Penyakit gastrointestinal Bau mulut di mulut, bibir kering dan Rusak (ragaden).
Lidah ditutupi dengan selaput putih kotor, ujung dan Tepinya berwarna
kemerahan. Keadaan perut bisa ditemukan di perut Kembung. Hati dan limpa
membesar, disertai nyeri dan peradangan.
3) Gangguan kesadaran Biasanya, kesadaran pasien berkurang, yaitu perasaan lesu
yang acuh tak acuh. Dukungan, koma atau kegelisahan jarang terjadi (penyakit
serius dan Terlambat untuk pengobatan). Gejala juga bisa ditemukan Retinol
dapat ditemukan di punggung dan tungkai, yaitu kapiler kulit yang disebabkan
oleh emboli dan yang qi. Ditemukan demam pada minggu pertama, kadang
ditemukan Ada juga takikardia dan epi hidung. Kambuh Kekambuhan
(kekambuhan) adalah kambuhnya gejala demam tifoid, Itu masih akan lebih
ringan dan lebih pendek. Secara kebetulan Sulit terjadi pada minggu kedua
setelah suhu tubuh kembali normal Penjelasan. Menurut teori ini, terjadinya
kekambuhan disebabkan oleh adanya bakteri internal Organ yang tidak dapat
dihancurkan oleh obat-obatan atau obat-obatan Antimateri.
D. PATOFISIOLOGI
Proses penyebaran penyakit ke mulut melalui bakteri Makanan dan minuman
yang terkontaminasi Salmonella (biasanya ˃10.000 bakteri). Bakteri tertentu
dihancurkan oleh asam lambung Masuk sebagian ke usus kecil jika respon imun
terhadap humoral Mukosa usus (igA) kurang baik, sehingga Salmonella akan
menembus sel epitel (sel m), kemudian mencapai lamina propria dan berkembang 9
Perbanyak di jaringan limfatik dari plak nyeri pada ileum distal dan kelenjar getah
bening Mesenterium jelas. (Lestari Titik, 2016).
Jaringan limfatik di plak nyeri dan kelenjar getah bening mesenterika
Mengalami hiperplasia. Kemangi masuk ke dalam darah (bakteremia) Lewati duktus
toraks dan menyebar ke semua organ retikuler endotel Tubuh, terutama hati, sumsum
tulang dan getah bening bersirkulasi dari vena portal Usus. (Lestari Titik, 2016)
Pembesaran hati (hepatomegali), dengan infiltrasi limfosit, materi plasma dan
Monosit. Ada juga nekrosis fokal dan nekrosis limfoid yang membesar
(splenomegali). Di organ ini, bakteri Salmonella berkembang biak Dan masuk ke
sirkulasi darah lagi, menyebabkan bakteremia kedua Tanda dan gejala infeksi
sistemik (demam, malaise umum, mialgia, Sakit kepala, sakit perut, ketidakstabilan
pembuluh darah dan gangguan mental Kondensasi). (Lestari Titik, 2016). Perdarahan
gastrointestinal disebabkan oleh erosi pembuluh darah di sekitarnya Plak nyeri yang
mengembangkan nekrosis dan hiperplasia. proses Patologi ini bisa meluas ke otot,
serosa usus dan Menyebabkan perforasi. Endotoksin bakteri menempel pada reseptor
sel endotel Kapiler dan dapat menyebabkan komplikasi seperti pecah Neuropsikiatri
Penyakit kardiovaskular, penyakit pernapasan, dan penyakit organ lainnya.
Sedangkan penularan salmonella thypi dapat di tularkan melalui berbagai cara, yang
dikenal dengan 5F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan/kuku), Fomitus
(muntah), Fly (lalat) dan melalui Feses. (Lestari Titik, 2016).

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang pada anak dengan dengan typoid antara lain:
1. Pemeriksaan leukosit Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam
typhoid
terdapat leukopenia dan limposistosis relatif tetapi kenyataannya leukopenia tidaklah
sering dijumpai. Pada kebanyakan kasus demam typhoid, jumlah leukosit pada
sediaan darah tepi berada pada batas-batas normal bahkan kadang-kadang terdapat
leukosit walaupun tidak ada komplikasi atau infeksi sekunder. Oleh karena itu,
pemeriksaan jumlah leukosit tidak berguna untuk diagnosa demam typhoid.

2. Pemeriksaan SGOT dan SGPT


SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat kembali
normal setelah sembuhnya typhoid.

3. Biakan darah
Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid, tetapi bila biakan darah
negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. Hal ini dikarenakan
hasil biakan darahtergantung dai beberapa faktor :
1) Tehnik pemeriksaan laboratorium
Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan laboratorium yang lain, hal ini
disebabkan oleh perbedaan tehnik dan media biakan yang digunakan. Waktu
pengambilan darah yang baik adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat
bakteremia berlangsung.
2) Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit Biakan darah terhadap salmonella
typhi terutama positif pada minggu pertama dan berkurang pada minggu-minggu
berikutnya. Pada waktu kambuh biakan darah dapat positif kembali.
3) Vaksinasi di masa lampau Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau
dapat menimbulkan antibodi dalam darah klien, antibodi ini dapat menekan
bakteremia sehingga biakan darah negatif.
4) Pengobatan dengan obat anti mikroba
Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat anti mikroba
pertumbuhan kuman dalam media biakan terhambat dan hasil biakan mungkin
negatif.
5) Uji widal
Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi. Aglutinin yang
spesifik terhadap salmonella typhi terdapat dalam serum klien dengan demam typhoid
juga terdapat pada orang pernah divaksinasikan. Antigen yang digunakan pada uji
widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium.
Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum
klien yang disangka menderita typhoid. Akibat infeksi oleh salmonella typhi, klien
membuat antibodi atau aglutinin yaitu:
1) Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan anti-gen O (berasal
dari tubuh kuman).
2) Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan anti-gen H (berasal dari flagel kuman).
3) Aglutinin VI, yang dibuat karena rangsangan anti-gen VI (berasal dari simpai
kuman). Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan
titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien menderita typhoid.

4. Kultur
Kultur urin bisa positif pada minggu pertama, kultur urin bisa positif pada akhir
minggu kedua, dan kultur feses bisa positif pada minggu kedua hingga minggu ketiga.

5. Anti Salmonella typhi IgM


Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi secara dini infeksi akut Salmonella
Typhi, karena antibodi IgM muncul pada hari ke-3 dan 4 terjadinya demam.

F. PENATALKSANAAN
Berdasarkan Lestari Titik, 2016, penatalaksanaan pada demam typhoid yaitu:

a) Perawatan
1. Klien diistirahatkan 7 hari sampai 14 hari untuk mencegah komplikasi perdarahan
usus.
2. Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya tranfusi bila ada
komplikasi perdarahan.

b) Diet
1. Diet yang sesuai, cukup kalori dan tinggi protein.
2. Pada penderita yang akut dapat diberikan bubur saring.
3. Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim.

c) Obat-obatan
Antibiotika umum digunakan untuk mengatasi penyakit typhoid. Waktu
penyembuhanbisa makan waktu 2 minggu hingga satu bulan. Antibiotika, seperti
ampicilin, kloramfenikol, trimethoprim sulfamethoxazole dan ciproloxacin sering
digunakan untuk merawat demam typhoid di negara-negara barat. Obat-obatan
antibiotik adalah:
1. Kloramfenikol diberikan dengan dosis 50 mg/kgBB/hari, terbagi
dalam 3-4 kali pemberian, oral atau intravena, selama 14 hari.
2. Bilamana terdapat kontra indikasi pemberian kloramfenikol, diberikan ampisilin
dengan dosis 200 mg/kgBB/hari, terbagi dalam3-
4 kali. Pemberian intravena saat belum dapat minum obat, selama 21 hari.
3. Amoksisilin dengan dosis 100 mg/kgBB/ hari, terbagi dalam3-4 kali. Pemberian
oral/intravena selama 21 hari.
4. Kotrimoksasol dengan dosis 8 mg/kgBB/hari terbagi dalam 2-3 kali
pemberian, oral, selama 14 hari.
5. Pada kasus berat, dapat diberi ceftriakson dengan dosis 50 m/kgBB/hari dan
diberikan 2 kali sehari atau 80 mg/kgBB/hari, sehari sekali, intravena selama 5-7 hari.

G. KOMPLIKASI
Komplikasi intestinal : perdarahan usus, perporasi usus dan ilius paralitik.

Komplikasi extra intestinal


1. Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi (renjatan sepsis), miokarditis,
trombosis, tromboplebitis.
2. Komplikasi darah : anemia hemolitik, trobositopenia dan syndroma
uremia hemolitik.
3. Komplikasi paru : pneumonia, empiema, dan pleuritis.
4. Komplikasi pada hepar dan kandung empedu : hepatitis, dan kolesistitis.
5. Komplikasi ginjal : glomerulus nefritis, pyelonepritis dan perinepritis.
6. Komplikasi pada tulang : osteomyolitis, osteoporosis, spondilitis dan arthritis.
7. Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meninggiusmus, meningitis, polineuritis
perifer, sindroma guillain bare dan sindroma katatonia. (Lestari Titik, 2016).
H. PATHWAY
Kuman salmonella
Typhi

Masuk melalui makanan/


Minuman, jari tangan/kuku,
muntuhan, lalat dan feses

Masuk ke mulut

Menuju ke
saluran
pencernaan

Kuman mati lambung Kuman hidup

Lolos dari asam lambung

Bakteri masuk ke
dalam usus halus

Peredaran darah dan


masuk keretikulo endothelia
terutama hati dan limfa

Inflamasi pada hati dan limfa Masuk kealiran


darah

Hematomegali Spenomegali Endotoksi

Nyeri tekan Penurunan mobilitas usus

Penurunan peristaltik usus

Mengakibatkan komplikasi
seperti neuropsikiatrik,
kardiovaskuler, pernafasan, dll.

Merangsang melepas sel perogen

Mempengaruhi pusat
thermoregulerator di
Hipotalamus

Konstipasi Peningkatan asam lambung

Resiko kekurangan Anoreksia, mual dan muntah


volume cairan

Defisit nutrisi
Hipertermia

I. FOKUS PENGKAJIAN
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama di dalam memberikan asuhan
keperawatan. Perawat harus mengumpulkan data tentang status kesehatan pasien
secara sistematis, menyeluruh, akurat, singkat, dan berkesinambungan. Pengumpulan
data ini juga harus dapat menggambarkan status kesehatan klien dan kekuatan
masalah-masalah yang dialami oleh klien.
2. Keluhan utama
Berupa perasaan yang tidak enak badan, lesu, nyeri kapala, pusing dan kurang
bersemangat, serta nafsu makan kurang (terutama selama masa inkubasi). Pada kasus
yang khas, demam berlangsung selama 3 minggu, bersifat febris remiten, dan suhu
tubuhnya tidak tinggi sekali. Selama minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur
baik setiap harinya biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore
dan malam hari. Pada minggu kedua, pasien terus berada dalam keadaan demam. Saat
minggu ke tiga, suhu beragsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ke tiga.
Umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak berada dalam kedaaan yaitu
apatis sampai samnolen. Jarang terjadi stupor, koma, atau gelisah (kecuali bila
penyakitnya berat dan terlambat mendapatkan pengobatan). Disamping gejala-gejala
tersebut mungkin terdapat gejala lainnya. Kadang-kadang ditemukan pula bradikardia
dan epitaksis pada
3. Pemeriksaan fisik
1. Kepala
Melihat kebersihan kulit kepala, distribusi rambut merata dan warna rambut.
2. Wajah, melihat ke semetrisan kiri dan kanan.
3. Mata, terlihat sklera putih, konjuntiva merah muda, dan reflek pupil mengecil
ketika terkena sinar.
4. Mulut, terdapat napas yang berbau tidak sedap serta bibir kering, dan pecah-pecah
(ragaden). Lidah tertutup selaput putih kotor, sementara ujung dan tepinya berwarna
kemerahan dan jarang disertai tremor.
5. Leher, tidak adanya distensi vena jugularis.
6. Abdomen, dapat ditemukan keadaan perut kembung. Bisa terjadi konstipasi, atau
mungkin diare atau normal.
7. Hati dan limfe membesar disertai dengan nyeri pada perabaan.
8. Ektermitas, pergerakan baik antara kiri dan kanan.
9. Integumen, akral teraba hangat dan terdapat pada punggung dan anggota gerak
dapat ditemukan reseola (bintik-bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler
kulit yang dapat ditemukan pada minggu pertama demam). anak besar.

J. DIAGNOSA
1. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit.
2. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis.
3. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mengabsorbsi
nutrisi.
4. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan intake yang tidak
adekuat dan peningkatan suhu tubuh

K. INTERVENSI
1. Hipertemia berhubungan dengan proses penyakit
 Monitor suhu tubuh minimal tiap 2 jam.
 Monitor TD, N dan RR.
 Identifikasi adanya penurunan tingkat kesadaran.
 Tingkatkan intake cairan dan nutrisi.
 Beri kompres hangat pada sekitar axilla dan lipatan paha.

2. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis.


 Lakukakan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik,
durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi.
 Observasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan.
 Gunakan komunikasiterapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien.
 Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan kebisingan.
 Ajarkan tehnik non farmakologi.
 Kolaborasi pemberin obat analgetik. Kaji adanya alergi makanan.
3. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mengabsorbsi nutris
 Monitor adanya penurunan berat badan.
 Monitor interaksi anak dengan orang tua.
 Monitor kulit kering, turgor kulit.
 Catat jika ada mual dan muntah.
 Anjurkan makan sedikit tapi sering
 Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan.
4. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat
dan peningkatan suhu tubuh
 Identfikasi faktor penyebab dari konstipasi.
 Monitor bising usus.
 Monitor feses, frekuensi, konsistensi dan volume.
 Anjurkan klien/keluarga untuk mencatat warna, volume, frekuensi dan
konsistensi tinja.
 Kolaborasi pemberian obat laktasif.

DAFTAR PUSTAKA
Akmal, M. Dkk. (2010). Ensiklopedia kesehatan untuk umum. Jogjakarta: Ar-ruzz
Media.
Apriyadi dan Sarwili. (2018). Perilaku Higiene Perseorangan dengan Kejadian
Demam Tyfoid. Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan Indonesia Vol. 8 No. 1.
Bahar, dkk. (2015). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kesembuhan Paien
Penderita Demam Typoid Di Ruang Perawatan Interna RSUD Kota
Makassar.Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 5 Nomor 6.
Cahyaningsih, Sulistyo Dwi. (2011). Pertumbuhan Perkembangan Anak dan Remaja.

Jakarta : Tim. Depkes RI. (2013). Profil Kesehatan Indonesia Tahun


2013.http:www.depkes.go.id/Downloads/profil-kesehatan-indonesia-2013.pdf.
Tanggal 17 Desember 2018.

Dinkes Kaltim. (2015). Profil Kesehatan Kota Samarinda Tahun


2015.http://www.depkes.go.id/Downloads/6472_Kaltim_Kota_Samarinda_20
15 %20baru.pdf. Tanggal 27 November 2018.

Anda mungkin juga menyukai