Anda di halaman 1dari 11

c  

c
 


 

c 

c
    

Y 
Menentukan konstanta kecepatan reaksi lilin yang menyala dan mempunyai
order nol dengan kecepatan pengukuran perubahan tinggi dan bayangan lilin.
Y  

pinetika reaksi merupakan suatu cabang ilmu kimia yang mempelajari laju reaksi
secara kuantitatif dan juga mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi
kecepatan reaksi tersebut. Dengan kata lain, kinetika reaksi membahas tentang
bagaimana tahap-tahap (mekanisme) terjadinya suatu reaksi kimia.
Suatu reaksi bukanlah suatu fenomena yang berlangsung secara tiba-tiba,
melainkan akan berlangsung melalui suatu proses tertentu dalam waktu tertentu.
Pada saat berlangsungnya reaksi tersebut, molekul-molekul dari produk akan
muncul dan jumlahnya bertambah.
Namun, perlu diketahui bahwa waktu yang diperlukan atau kecepatan
berlangsungnya suatu reaksi yaitu bervariasi antara satu reaksi dengan reaksi
lainnya. Ada reaksi yang berlangsung sangat lambat yaitu dalam jutaan tahun
seperti pembentukan minyak bumi dan ada juga reaksi yang berjalan sangat cepat
yaitu dalam satuan detik atau lebih cepat lagi seperti reaksi peledakan.
Berdasarkan hal ini, maka proses kimia reaksi dapat digolongkan atas dua
macam, yaitu :
1.Y Reaksi elementer
Merupakan reaksi yang berlangsung dalam satu tahapan reaksi. Artinya dari
reaktan membentuk produk hanya dalam satu tahap.
2.Y Reaksi komposit
Merupakan reaksi yang berlangsung lebih dari satu tahapan. Artinya dari
reaktan A membentuk produk B, tetapi diawali oleh pembentukan senyawa X.
Jadi, kedua penggolongan reaksi tersebut dibedakan berdasarkan tahap reaksi
yang terjadi, bukanlah dari banyaknya reaktan.
pecepatan reaksi adalah jumlah mol reaktan per satuan volume yang
bereaksi dalam satuan waktu tertentu. pecepatan reaksi juga dapat dikatakan
dengan kecepatan perubahan konsentrasi pereaksi terhadap waktu. Jadi, laju reaksi
dapat dinyatakan misalnya dalam satuan mol/dm3 det atau ±dc/detik. Tanda
negative menunjukkan bahwa konsentrasi berkurang apabila waktu bertambah.
Tetapi apabila laju reaksi dinyatakan sebagai laju pembentukan produk, maka laju
reaksi akan bernilai positif.
pecepatan reaksi akan ditentukan oleh beberapa faktor seperti temperatur,
konsentrasi, keadaan kontak antara reaktan dan reaktan, pelarut, katalis, bahkan
untuk reaksi-reaksi tertentu dipengaruhi oleh cahaya.
Order reaksi (tingkat reaksi) adalah jumlah molekul pereaksi yang
konsentrasinya menentukan kecepatan reaksi. Dalam hal ini, ditandai dengan
bilangan yang dipangkatkan pada konsentrasi reaktan dalam persamaan kecepatan
reaksi. Order suatu reaksi nilainya ditentukan secara pengamatan di laboratorium
dan tidak diturunkan secara teori ataupun berdasarkan stoikiometrinya. Sifat khas
order reaksi ini dikenal dengan istilah pure experimentally quantities. Order reaksi
dapat berupa bilangan bulat maupun pecahan.
Secara garis besar, ada beberapa macam order reaksi, yaitu :
1.Y Order nol
Reaksi dikatakan berorder nol terhadap salah satu pereaksinya, apabila
perubahan konsentrasi tersebut tidak mempengaruhi laju reaksi. Artinya,
asalkan terdapat dalam jumlah tertentu, perubahan konsentrasi pereaksi itu
tidak mempengaruhi laju reaksi.
2.Y Order satu
Reaksi dikatakan berorder satu terhadap salah satu pereaksinya, apabila laju
reaksinya berbanding lurus dengan konsentrasi pereaksi itu. Misalkan
konsentrasi pereaksi itu dilipattigakan, maka laju reaksi akan menjadi 3 kali
lebih besar.
3.Y Order dua
Reaksi dikatakan berorder dua terhadap salah satu pereaksinya jika laju
reaksi merupakan pangkat dua dari konsentrasi pereaksi itu. Apabila
konsentrasi zat itu dilipattigakan, maka laju reaksi akan menjadi 9 kali lebih
besar.
Reaksi berorder nol merupakan reaksi yang mempunyai kecepatan konstan
dengan arti kata tidak mengurangi konsentrasi. Contoh reaksi berorder nol adalah
reaksi enzimatik. Reaksi enzimatik merupakan reaksi yang dikatalisis oleh enzim
pada kondisi tertentu. Sebagaimana diketahui persamaan umum kecepatan reaksi
enzimatik adalah :
å 
V=


Dimana :
v = kecepatan reaksi
d = suatu bilangan tertentu (bilangan konstan)
km = konstanta
(s) = konsentrasi substrat
Pada kondisi ekstrim (tertentu) yang dapat juga disebut dengan kondisi
limit yaitu :
1.Y Bila pm sangat besar dari konsentrasi substrat, maka (s) dapat diabaikan
terhadap pm sehingga :
å 
V= 

V= p (s)1
Pada kondisi tertentu (limit) saat itulah reaksi berorder satu.
2.Y Bila konsentrasi (s) sangat besar :
å 
V=


V = d (s)1. (s)-1
V = d (s)0
Dimana v dan d konstan.
Pada kondisi limit itu reaksi berorder nol atau kecepatan berbanding lurus dengan
(s) berpangkat nol.
Dalam proses ini, akan ditampilkan suatu percobaan yang sederhana,
dimana kecepatan reaksinya berlangsung pada kondisi konstan, yaitu pembakaran
lilin. Percobaan ini adalah percobaan sederhana dalam kinetika kimia dengan
menitikberatkan pada pengumpulan data perhitungan dan presentasi secara grafik.
Sekali lilin dipanaskan atau dinyalakan, energi panas yang dilepaskan
selama penyalaan lilin menyebabkan mencairnya sebagian puncak lilin. pelebihan
lilin yang mencair dapat dilihat dibawah sumbu yang menyala. Sebelum terbakar,
lilin yang cair naik ke ujung sumbu secara aksi kapiler. pemudian terjadi
penguapan dan pembakaran molekul lilin. Jadi, massa serta tinggi lilin akan
berkurang seiring berjalannya waktu pada saat lilin dinyalakan.
Dalam kualifikasi nyala secara modern, nyala lilin merupakan nyala difusi.
Diantara banyak sifat khusus dari nyala difusi, yang paling menonjol adalah
kecepatan pembakaran tidak dikontrol oleh reaksi kimia seperti halnya dalam
nyala dihasilkan dari campuran beberapa zat, akan tetapi dikontrol oleh kecepatan
pergerakan bahan bakar dan pengoksidasian di daerah terjadinya reaksi.
pecepatan pembakaran lilin dapat dinyatakan dalam bentuk :
pecepatan = k (PO2)n (P lilin)m
Dimana :
P = tekanan
n,m = order reaksi oksigen dan uap air.
Bila percobaan pengukuran tinggi lilin, tinggi lilin h pada waktu t, ht dapat
diberikan persamaan :
Ht = hs ± ka . t
Dimana :
Hs = tinggi lilin pada t = 0
Ht = tinggi lilin pada t = t
p = konstanta
Dan tinggi lilin yang dibakar setelah waktu t adalah :
ǻh = hs ± ht = pa .t
Hubungan antara ht dengan t dan ǻh dengan t juga merupakan garis lurus.
Nilai k didapatkan dari kemiringan masing-masing garis lurus. Nilai dari kurva
tersebut, yaitu waktu yang diperlukan untuk membakar 50% dari tinggi lilin juga
dapat ditentukan.
Dari pengukuran bayangan lilin, panjang bayangan dapat ditentukan
dengan hubungan dengan waktu melalui persamaan :
Lt = lo ± klt
Dimana :
Lo = panjang bayangan pada saat t = 0
Lt = panjang bayangan pada saat t = t
p = konstanta
Dan penyusutan antara lt melawan t dan ǻt melawan t juga merupakan
garis lurus. Dari kemiringan masing-masing garis dari hubungan itu dapat
ditentukan nilai konstanta k dan t1/2 .
Pengamatan memperlihatkan bahwa massa dan tinggi lilin berubah dengan
waktu, pada kecepatan konstan dan secara tidak langsung menyatakan bahwa :
£ Y Lilin bergerak dengan kecepatan konstan ke daerah nyala dan juga tekanan
lilin konstan selama pembakaran.
Ñ Y Oksigen berdifusi dengan kecepatan konstan ke dalam nyala, P O2 konstan.
 Y luk panas nyala lilin pada puncak lilin adalah konstan.
Y c
 
c

 Y
-Y Penggaris
-Y pertas bergaris
-Y Lampu semprong
-Y Lilin
-Y porek api

 Y  
Penyusutan bayangan lilin diamati dengan menempatkan lilin secara
tegak lurus diatas kertas grafik. Garis-garis atau jalur-jalur pada kertas
itu sejajar satu sama lain dan mempunyai jarak yang sama. Percobaan
dilakukan ditempat yang gelap dibawah penerangan lampu gantung.
Posisi kertas diatur sehingga bayangan lilin tegak lurus terhadap masing-
masing jalur kertas. Dalam hal ini diusahakan bayangan lilin sama
dengan tingginya. Jadi dengan mengukur panjang bayangan l, secara
tidak langsung mengukur tinggi, h. tanpa memadamkan lilin, panjang
bayangan lilin diukur pada setiap interval waktu.

 YÀ! 
lilin diatas kertas grafik (tegak lurus)
-Y percobaan ditempatkan pada tempat yang gelap
dengan penerangan lampu gantung.
-Y Atur posisi kertas
Bayangan lilin tegak lurus pada masing-masing jalur kertas
-Y Usahakan bayangan lilin sama dengan tingginya
dengan mengukur panjang bayangan l, secara
tidak langsung mengukur tinggi h.
Hitung panjang bayangan setiap interval waktu.
"Y   c #
$ Y c%&'
A.Y Tinggi lilin
Tabel pengamatan
T (detik) L (cm)
0 4.6
5 3.9
10 3.6
15 3.4
20 3
25 2.8
30 2.6

Persamaan regresi
X=t
Y=l
No X Y XY X2
1 0 4.6 0 0
2 5 3.9 19.5 25
3 10 3.6 36 100
4 15 3.4 51 225
5 20 3 60 400
6 25 2.8 70 625
7 30 2.6 78 900
Ȉ 105 23.9 314.5 2275
rata-rata 15 3.414

.$ è  $ è .$ 
B =
.$ è 2  $ è
2

 
 
   
=
    
 

= -0.06286
A =  -Bè
= 3.414 ± (-0.06286 . 15)
= 4.357
Persamaan Regresi :
Y = 4.357 + (-0.06286. X)
Slope = B = -0.06286

Y ('%%)*+
Tabel pengamatan
T (detik) L (cm)
0 0
5 0.7
10 1
15 1.2
20 1.6
25 1.8
30 2

Persamaan regresi
X=t
Y = ǻl

No X Y XY X2
1 0 0 0 0
2 5 0.7 3.5 25
3 10 1 10 100
4 15 1.2 18 225
5 20 1.6 32 400
6 25 1.8 45 625
7 30 2 60 900
Ȉ 105 8.3 168.5 2275
rata-rata 15 1.1857

.$ è $ è .$ 
B =
.$ $
2 2
è è

 
  
   
=
    
 

= 0.06286
A =  -Bè
= 1.1857 ± (0.06286 . 15)
= 0.2429
Persamaan Regresi :
Y = 0.2429 + (0.06286. X)
Slope = B = 0.06286
$ Yc!,À
Praktikum kali ini berjudul penentuan konstanta kecepatan reaksi
order nol berdasarkan perubahan tinggi lilin dan bayangan lilin. Reaksi order
nol disini didasarkan pada perubahan tinggi bayangan lilin yang dibakar.
Disini akan dilihat bagaimana pengaruh pembakaran lilin terhadap
kecepatan reaksinya.
Lilin yang digunakan pada percobaan ini diusahakan dalam keadaan
datar (rata) dengan sumbu terletak ditengah lilin. Hal ini bertujuan untuk
pembakaran lilin yang konstan kecepatannya setiap waktu. Selain itu, dalam
percobaan ini harus diperhatikan adanya udara atau angin disekitar daerah
percobaan karena angin juga akan mempengaruhi kecepatan reaksi.
Pada percobaan ini, diamati perubahan tinggi dan bayangan lilin
selama pembakaran dengan rentangan waktu 5 menit selama total waktu 30
menit. Setiap 5 menit, tinggi lilin diukur dengan bantuan penerngan lampu
gantung.
Dari perhitungan, didapatkan perubahan tinggi dan bayangan lilin
yang tidak konstan. Ini memperlihatkan bahwa kecepatan pembakaran lilin
relatif tidak konstan sehingga dapat dikatakan bahwa percobaan yang kami
lakukan kurang sempurna.
Dari grafik terlihat bahwa percobaan ada yang tidak mendekati garis
linear (garis regresi). Hal ini disebabkan karena banyaknya faktor-faktor
kesalahan yang terjadi pada saat melakukan percobaan, diantaranya :
1.Y Ruangan yang digunakan kurang gelap sehingga sulit untuk melihat
tinggi dan bayangan lilin.
2.Y Pada saat pembakaran, sulit untuk mengonstankan api lilin karena
pengaruh udara.
Persamaan regresi yang diperoleh yaitu untuk percobaan berdasarkan
perubahan tinggi lilin : Y = 4.357 + (-0.0628X), sedangkan untuk percobaan
berdasarkan perubahan bayangan lilin : Y = 0.2428 + 0.0628X.
"Y   #c  

- YÀ%!.&
Setelah melakukan praktikum ini, maka dapat diperoleh nenerapa
kesimpulan antara lain :
1.Y Proses pembakaran lilin merupakan salah satu reaksi order nol.
2.Y Reaksi order nol merupakan reaksi yang kecepatannya konstan dan tidak
dipengaruhi oleh konsentrasi reaktan.
3.Y pecepatan reaksi pembakaran lilin ini dipengaruhi oleh faktor : sumbu
bahan bakar, permukaan lilin harus datar, cahaya dan udara.
4.Y Persamaan regresi yang diperoleh :
a.Y Tinggi lilin : Y = 4.357 + (-0.06286X)
b.Y Bayangan lilin : Y = o.2428 + 0.06286X)

- Y
Untuk kelancaran praktikum selanjutnya dan untuk mendapatkan
hasil yang lebih baik maka :
1.Y Sebaiknya bekerja di tempat yang gelap agar tinggi bayangan lilin
menjadi lebih jelas.
2.Y Jaga udara disekitar percobaan
3.Y Sebaiknya pengamatan lilin dengan permukaan yang datar dan sumbu
terletak ditengah.
/
c

phalid M. Tawarah. 2  


   . Vol 64, No. 6, Juni 1987

Alif. Admin.      


  
. MIPA. UNAND. Padang.
2008.

Bird Tony. 
      . Jakarta : PT.Gramedia. 1987. Hal 364
- 366