Jelajahi eBook
Kategori
Jelajahi Buku audio
Kategori
Jelajahi Majalah
Kategori
Jelajahi Dokumen
Kategori
Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bahan Pakan dan
Formulasi Ransum
Disusun Oleh :
FAKULTAS PERTANIAN
2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur, kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas
rahmat-Nya lah penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “JENIS-
JENIS BAHAN PAKAN” tepat pada waktunya. Dalam proses penyusunan
makalah ini, penulis mendapatkan bantuan, bimbingan yang baik dari berbagai
pihak.
Oleh karena itu, melalui kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada dosen yang telah membimbing dalam pembuatan
makalah ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini jauh dari
kesempurnaan, masih banyak kekurangan dan banyak kelemahan.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca yang
sifatnya membangun guna menyempurnakan makalah ini. Akhir kata penulis
mengucapkan terima kasih dan semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
bukan hanya bagi penulis melainkan juga kepada para pembaca.
Gorontalo, 30 September 2021
Penulis
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
BAB I.......................................................................................................................1
PENDAHULUAN...................................................................................................1
1.1 Latar Belakang..........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................2
BAB II......................................................................................................................2
PEMBAHASAN......................................................................................................2
2.1 Pengertian Bahan Pakan............................................................................2
2.2 Bahan Pakan Hijauan................................................................................2
2.3 Bahan Pakan Biji-bijian.............................................................................3
2.4 Bahan Pakan Asal Hewan.........................................................................4
BAB III....................................................................................................................9
PENUTUP................................................................................................................9
3.1 Kesimpulan................................................................................................9
3.2 Saran..........................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................10
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1
BAB II
PEMBAHASAN
2
Termasuk kelompok makanan hijauan ini ialah bangsa rumput (graminae),
leguminosa dan hijauan dari tumbuh-tumbuhan lain seperti daun nangka, daun
waru dan lain sebagainya (AAK, 1983). Sedangkan rumput dalam
pengelompokkannya dibagi menjadi dua yaitu rumput potong dan rumput
gembala. Yang termasuk dalam kelompok rumput potongan adalah rumput yang
memenuhi persyaratan: memiliki produktivitas yang tinggi, tumbuh tinggi secara
vertikal dan banyak anakan seerta responsif terhadap pemupukan.Termasuk
kelompok ini antara lain : Pennisetum perpureum, Pannicum maximum,
euchlaena mexicana, Setaria sphacelata, Pannicum coloratum, Sudan grass (AAK,
1983). Rumput gembala merupakan jenis rumput yang memiliki ciri-ciri antara
lain : tumbuh pendek atau menjalar dengan stolon, tahan terhadap renggutan atau
injakan, memiliki perakaran yang kuat dan tahan kekeringan. Termasuk kelompok
ini antara lain : Brachiaria brizhantha, Brachiaria ruziziensis, Brachiaria mutica,
Paspalum dilatatum, Digitaria decumbens, Choris gayana, African star grass
(Cynodon plectostachyrus). AAK (1983). Hijauan pakan jenis leguminose
(polong-polongan) memiliki sifat yang berbeda dengan rumput-rumputan, jenis
legume umumnya kaya akan protein, Ca dan P. leguminose memiliki bintil-bintil
akar yang berfungsi dalam pensuplai nitrogen, dimana di dalam bintil-bintil akar
inilah bakteri bertempat tinggal dan berkembang biak serta melakukan kegiatan
fiksasi nitrogen bebas dari udara. Itulah sebabnya penanaman campuran
merupakan sumber protein dan mineral yang berkadar tinggi bagi ternak,
disamping memeprbaiki kesuburan tanah (AAK, 1983).
1. Jagung kuning
Penggunaan jagung bagi pakan ternak terutama unggas rata-rata berkisar 45-
55% porsinya. Jagung kuning merupakan bahan baku ternak dan ikan yang
populer digunakan di Indonesia dan di beberapa negara. Jagung kuning digunakan
sebagai bahan baku penghasil energi, tetapi bukan sebagai bahan sumber protein,
karena kadar protein yang rendah (8,9%), bahkan defisien terhadap asam amino
penting, terutama lysine dan triptofan.
2. Sorgum
3
Amerika, India dan Cina, sorgum telah digunakan sebagai bahan baku pembuatan
bahan bakar etanol (bioetanol). Sorgum merupakan merupakan salah satu
komoditi unggulan untuk meningkatkan produksi bahan pangan dan energi,
karena keduanya dapat diintegrasikan proses budidayanya dalam satu dimensi
waktu dan ruang.
3. Gandum
4. Kedelai
5. Jelai
Hordeum vulgare atau Jelai adalah salah satu jenis tanaman serealia yang
berasal dari suku padi-padian yang banyak digunakan untuk pakan ternak,
penghasil malt, serta untuk makanan kesehatan.
Jelai merupakan sumber serat terlarut yang sangat bagus. Batang hijau
barley, selain mengandung vitamin, mineral dan enzim, juga mengandung hormon
alami dan klorofil. Zat-zat gizi antioksidan , anti-inflamasi, anti-kanker dan sifat
antivirus. Barley hijau memiliki efek anti-inflamasi, revitalisasi tegument dan
menyembuhkan itu kekeringan tersebut.
4
Bahan pakan asal hewani memiliki protein murni yang tinggi. Selain
memiliki protein tinggi, juga mudah dicerna dan mengandung zat-zat makanan
lainnya yang dibutuhkan oleh ternak. Berikut uraian beberapa bahan pakan asal
hewani, antara lain:
a. Tepung Darah
Tepung darah merupakan bahan ransum yang berasal dari darah yang
segar dan bersih yang biasanya diperoleh dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH).
Penggunaan darah sebagai bahan pakan ternak juga bisa mengurangi pencemaran
lingkungan yang disebabakan oleh darah yang belum dimanfaatkan.
Tepung darah mengandung protein kasar sebesar 80 %, lemak 1,6 % dan
serat kasar 1 %, tetapi miskin asam amino, kalium dan phospor. Darah yang
dihasilkan dari seekor ternak yang disembelih antara 7-9 % dari berat badannya.
Namun demikian yang perlu diperhatikan dalam penggunaannya pada ternak
adalah batas pemberian karena tepung darah mengandung zat nutrien yang dapat
menghambat proses kecernaan bahan ransum lainnya, yaitu asam amino
pembatas isoleucine, yang apabila dikonsumsi berlebihan dalam ransum akan
menurunkan pertambahan berat badan ternak.
Adapun cara membuatan tepung darah ini, yaitu : darah yang diambil dari
RPH kemudian direbus dulu selama 15 menit setelah itu darah hasil rebusan
diletakkan pada loyang dan dikeringkan pada oven pada suhu 600C selama 3 hari.
Alternatif pengeringan adalah menggunakan sinar matahari. Lapisan darah pada
loyang diusahakan tidak terlalu tebal (+ 1 cm) untuk mempercepat proses
pengeringan. Setelah kering, kemudian dijadikan tepung dengan menggunakan
alat pembuat tepung (miller). Setelah jadi tepung, dikeringkan lagi untuk
menghindari jamur.
Tepung darah sebagai bahan pakan mempunyai beberapa
kelemahandiantaranya yaitu tingkat palabitasnya kurang, daya cernanya rendah.
Artinya sebagian besar terbuang karena sulit dicerna, maka pengguanaannya harus
dikombinasikan dengan pakan lain dan diperlukan adaptasi pemberian pada
ransum. Tepung darah miskin isoleucin dan rendah kalsium dan fosfor. Sulit saat
pengeringan (out door) dan hasilnya sering terkontaminasi sehingga tidak baik
untuk kesehatan ternak.
b. Tepung Bulu
Bulu yang dimaksud untuk dijadikan tepung ialah bulu ayam. Bahan Bulu
ayam merupakan limbah peternakan yang dapat dijadikan sebagai bahan pakan
alternatif pengganti sumber protein hewani dalam formulasi ransum ayam
(unggas). Hal ini disebabkan karena bulu ayam memiliki kandungan protein
cukup tinggi. Murtidjo (1995), protein kasar tepung bulu ayam mencapai 86,5%
dan energi metabolis 3.047 kcal/kg. Demikian juga menurut Rasyaf (1993), bulu
ayam mengandung protein kasar cukup tinggi, yakni 82 – 91 % , kadar protein
jauh lebih tinggi dibanding tepung ikan.
Bila dlihat dari segi ketersediaannya, tepung bulu ayam sangat potensial
dijadikan sebagai bahan pakan alternatif dalam ransum unggas. Ini didukung oleh
jumlah pemotongan ayam yang terus meningkat dari tahun ke tahun sehingga
menyebabkan ketersediaan limbah bulu ayam terus meningkat. Demikian juga,
5
bila ditinjau dari kandungan proteinnya maka bulu ayam cukup potensial
dijadikan sebagai bahan pakan alternatif sumber protein hewani penganti tepung
ikan karena mengandung protein cukup tinggi dan kaya akan asam amino
esensial.
Walaupun mengandung protein cukup tinggi dan kaya asam amino
esensial, tepung bulu mempuyai faktor penghambat seperti kandungan keratin
yang digolongkan kepada protein serat. Kandungan protein kasar yang tinggi
dalam tepung bulu ayam tersebut tidak diikuti oleh nilai biologis yang tinggi. Hal
ini menyebabkan nilai kecernaan bahan kering dan bahan organik pada tepung
bulu ayam rendah. Nilai kecernaan yang rendah pada tepung bulu ayam
disebabkan oleh kandungan keratin. Keratin merupakan protein yang kaya akan
asam amino bersulfur, sistin. Keratin sulit dicerna karena ikatan disulfida yang
dibentuk diantara asam amino sistin menyebabkan protein ini sulit dicerna oleh
ternak unggas, baik oleh mikroorganisme rumen maupun enzim proteolitik dalam
saluran pencernaan pasca rumen pada ternak ruminansia.
Keratin dapat dipecah melalui reaksi kimia dan enzim, sehingga pada
akhirnya dapat dicerna oleh tripsin dan pepsin di dalam saluran pencernaan.
Sehingga bila tepung bulu ayam digunakan sebagai bahan pakan sumber protein,
sebaiknya perlu diolah terlebih dahulu untuk meningkatkan kecernaannya. Nilai
biologis tepung bulu ayam dapat ditingkatkan dengan berbagai pengolahan dan
pemberian perlakuan yang benar.
Ada beberapa metode pengolahan untuk meningkatkan nilai nutrisi tepung
bulu ayam:
1) Perlakuan Fisik Dengan Pengaturan Temperatur Dan Tekanan,
yaitu : tepung bulu direbus dalam wajan tertutup dengan tekanan 3,2 atmosfer
selama 45 menit dan dikembalikan pada tekanan normal selama periode tersebut.
Setelah itu dikeringkan pada temperatur 600C dan digiling hingga halus.
2) Secara Kimiawi Dengan Penambahan Asam Dan Basa (Naoh, Hcl),
yaitu: Pengolahan secara kimiawi diolah dengan proses NaOH 6 % dan
dikombinasikan dengan pemanasan tekanan memberikan nilai kecernaan 64,6 %.
Lama pemanasan juga dapat meningkatkan kecernaan pepsin tepung bulu ayam
hingga 62,9 %
3) Secara Enzimatis Dan Biologis Dengan Mikroorganisme, yaitu:
Tehnik pengolahan kombinasi antara perlakuan fisik dan kimia merupakan teknik
pengolahan yang saat ini bayak dipakai oleh industri TBA. Sejauh ini penggunaan
tepung bulu tidak lebih dari 4 % dari total formulasi ransum unggas tanpa
membuat produktivitas unggas merosot.
4) Kombinasi ketiga metode tersebut.
c. Tepung Kulit
Pada tepung kulit, kulit yang akan dibahas yaitu kulit kerang. Bahan
tepung kulit kerang merupakan bahan pakan yang mirip peranannya dengan
tepung tulang. Tepung kulit kerang kerap kali diberikan kepada ayam hias, ayam
pelung, dan juga campuran ransum untuk ayam ayam aduan. Tepung kulit kerang
digunakan pula sebagai pemecah mekanik makanan ayam di dalam tembolok.
Tetapi peranan kedua bahan pakan ini semakin merosot dengan banyak
6
beredarnya vitamin-mineral buatan pabrik yang relatif murah pergram ransumnya
(Rasyaf, 2001).
Bahan baku pakan berupa tepung kulit kerang diperoleh dengan cara
menggiling kerang dari berbagai ukuran besar dan kecil. Tepung kulit kerang ini
digunakan sebagai unsur pencampuran di dalam ransum karena kandung Ca dan P
nya cukup tinggi. Tepung kulit kerang ini seperti halnya tepung tulang juga sangat
potensial dalam proses pertumbuhan dan berproduksi. Pemakaian ideal dalam
ransum 1% – 2 % (Sudarmono, 1996).
Tepung kulit kerang diperoleh dari kulit kerang yang dihaluskan menjadi
tepung. Jenis tepung ini merupakan sumber kalsium dan fosfor. Penggunaannya
sering digunakan bersamaan dengan tepung tulang. Kadar kalsium tepung kerang
mencapai 38% jadi lebih besar dari kandungan kalsium tepung tulang. Karena itu,
penggunaan tepung kerang untuk itik petelur jumlahnya tidaklah terlalu banyak
(Suharno, 2001).
Tepung kulit kerang memiliki kandungan protein 2-3%, dan kalsium 30-
40%. Sebaiknya diberikan kepada anak itik dan itik dara sebanyak 1%, serta itik
dewasa sebanyak 3% dari total ransum yang diberikan (Martawijaya, dkk, 1996).
d. Tepung Tulang
Tepung tulang adalah bahan hasil penggilingan tulang yang telah
dieks trak gelatinnya.Produk ini digunakan untuk ba han bakupakan yang
merupakan sumber mineral (teruta ma kalsium) dan sedikit asam amino.
Pembuatan tepung tulang merupakan upaya untuk mendaya gunakan
limbah tulang yang biasanya tidak terpakai dan dibu ang di rumah pemotongan
hewan. Hasil-ikutan (by-products) ternak merupakan salah satu potensi dari
subsektor peter nakan yang sampai saat ini masih belum banyak dimanfaatkan,
khusus nya untuk industri pangan. Tulang, tulang rawan dan daging dari sisa
deboning di industri pangan hasil ternak dan rumah pemoto ngan ayam adalah
contoh hasil-ikutan ternak yang cukup besar peluangnya untuk dapat diolah
kembali menjadi produk baru yang mempunyai nilai ekonomis lebih tinggi.
Tepung tulang berbentuk serpihan (tepung) berwarna coklat dengan
teks tur yang kasar jika dirasakan, dengan aroma khas seperti daging sapi tapi ada
juga yang tidak berbau. Sekilas memang hampir mi rip dengan tepung MBM
tetapi kandungan nutrisiyang dimiliki jelas berbeda. Dalam klasifikasi bahan
pakan tepung tulang terma suk dalam kelas VI yang merupakan sumber mineral.
Karena tulang sapi kaya akan kalsium walaupun sedikit mengandung protein.
Nutrisi yang Terkandung
Tepung ikan memiliki kandungan gizi:
Protein = 25,54 %,
Lemak = 3,80 %,
Abu = 61,60 %,
Serat = 1,80 %,
Air = 5,52 %.
Dengan abu yang tinggi, sudah pasti kandungan mineralnya juga tinggi.
Dalam pembuatan pakan tepung tulang tidak terlalu banyak digunakan,
dengank a t a l a i n t e p u n g t u l a n g m e r u p a k a n s u a t u p e l e n g k a p d a l a m
7
p e m b u a t a n p a k a n g u n a melengkapi mineral yang ada dalam pakan. Begitu
pula dalam pembuatan pakan ikan,penggunaan tepung tulang biasa digunakan
sebagai pendamping bagi tepung ikan yangkaya protein. Karena mineral
merupakan trace element yang tidak dibutuhkan terlalub a n y a k t e t a p i h a r u s
ada dalam ransum pakan. Dilihat dari kandungan
n u t r i s i n y a , tepung tulang banyak mengandung kalsium. Sehingga manfaat
dari tepung tulangtidak lepas dari peranan kalsium, yaitu berperan dalam
pembentukan tulang, sisik sertasirip ikan serta menjaga dari kekeroposan akibat
asupan kandungan mineral yang minim.
e. Tepung Sisa Pemotongan Hewan
Tepung sisa pemotongan hewan ini lebih mengarah ke limbah pemotongan
ayam yang mana kita bisa dapatkan bahannya di rumah pemotongan ayam (RPA).
Jenis limbah yang dihasilkan dari sebuah RPA pada umumnya terdiri dari darah,
bulu, jeroan (sisa-sisa usus dan pemotongan kloaka), tulang dan ayam mati.
Bagian lain yang tidak sengaja ikut terbuang menjadi limbah yaitu kepala ayam
dan lemak yang terdapat didalam rongga perut, dibagian ampela dan ekor. Pada
umumnya kepala ikut terbuang bersama bulu pada saat pencabutan bulu,
sedangkan limbah yang berupa lemak ikut terbuang bersama air yang mengalir
pada saat pencucian.
Berdasarkan kepada karakteristik fisiknya, tepung limbah RPA yang baik
dapat diperoleh melalui proses perebusan selama 45 menit dan dilanjutkan dengan
pengeringan didalam oven dengan suhu 115 oC selama 2 jam.
Proses perbusan belum dapat menurunkan secara optimal kandungan
lemak yang tinggi didalam limbah RPA, mengakibatkan tepung yang dihasilkan
tidak dapat disimpan untuk jangka waktu yang lama.
Tepung limbah RPA mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi dan
mempunyai kandungan mikroba yang cukup rendah, sehingga sangat potensial
untuk digunakan sebagai bahan baku untuk pakan dalam pemeliharaan ternak.
8
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Bahan pakan adalah segala sesuatu yang dapat dimakan dan dapat
dicerna sebagian atau seluruhnya tanpa mengganggu kesehatan ternak yang
memakannya. Bahan pakan terbagi menjadi 2 yakni bahan pakan nabati (berasal
dari tumbuhan) dan bahan pakan asal hewani (berasal dari hewan).
Sumber utama dari serat kasar itu sendiri adalah hijauan. Identifikasi
genus/spesies hijauan pakan menjadi semakin penting untuk dilakukan mengingat
semakin pentingnya arti hijauan pakan bagi kebutuhan ternak.
Bahan pakan asal hewani adalah bahan pakan yang dapat diberikan kepada
ternak yang berasal dari hewan, misalnya tepung darah, tepung tulang, tepung
bulu, tepung kulit dan tepung sisa hasil pemotongan.
3.2 Saran
Sebaiknya kita sebagai peternak, harus mampu memanfaatkan
segala sumber daya alam yang tersedia sebagai bahan pakan ternak agar mampu
meningkatkan kualitas dan kuantitas ternak serta mampu meningkatkan nilai
ekonomi bagi si peternak.
9
DAFTAR PUSTAKA
10