Anda di halaman 1dari 11

“ANALISA PELAYANAN PUBLIK DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAH

DAERAH DALAM KERANGKA GOOD GOVERNANCE”

(Laporan kinerja instansi pemerintah Kabupaten Belitung Timur)

DI SUSUN OLEH :

DEVI ASTUTI (020525991)

ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DAERAH

FAKULTAS HUKUM, ILMU SOSIAL, DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS TERBUKA

2021
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kepemerintahan yang baik (good governance) adalah isu yang paling sering dibahas
dalam pengelolaan administrasi publik saat ini. Adapun Prasetyo (2008) mengemukakan
bahwa dalam meningkatkan kinerja perlu diterapkannya prinsip good governance. Upaya
pemerintahan dalam perbaikan penyelenggaraan pelayanan publik dengan melakukan prinsip-
prinsip good governance yang diharapkan memenuhi pelayanan yang terbaik bagi
masyarakat. Sekiranya aparat pemerintah dalam melaksanakan pelayanan publik sudah sesuai
dengan prinsip good governance, maka pemberian pelayanan publik tersebut sudah maksimal
dalam kegiatannya.

Dalam pemberian pelayanan publik, hendaknya pemerintah dekat dengan rakyat, hal
ini bertujuan agar pemerintah dapat mengenali apa yang menjadi kebutuhan, permasalahan,
keinginan serta kepentingan dan aspirasi rakyatnya secara baik serta benar, karena itulah
kebijakan yang dibuat akan dapat mencerminkan apa yang menjadi kepentingan serta aspirasi
rakyat yang dilayaninya.

Melihat perkembangan yang terjadi saat ini,pemerintah daerah memiliki tanggung


jawab besar untuk melaksanakan regulasi serta restrukturisasi dari berbagai aspek
penyelenggaran pemerintah dalam mewujudkaan usaha yang kondusif serta kehidupan
masyarakat agar lebih nyaman serta sejahtera. Dalam upaya mewujudkan good governance
ini pemerintah Belitung timur menggerakan segenap potensi pembangunan di daerah-daerah
yang tentunya perlu perencanaan pembangunan daerah sebagai suatu proses dalam
menentukan tindakan masa depan yang tepat serta berkelanjutan, sistematik, terarah, terpadu,
keseluruhan serta senantiasa tanggap kepada perubahan serta tantangan yang semakin berat.

Pertanggungjawaban kinerja birokrasi pemerintah daerah pelaksanaannya berdasarkan


dari dua perspektif yang berbeda. Pada perspektif administrasi, kinerja birokrasi pemerintah
daerah dipertanggungjawabkan kepada kepala daerah serta pemerintah tingkat diatasnya.
Sedangkan pada perspektif good governance, kinerja pemerintah daerah
dipertanggungjawabkan pada rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dari suatu
negara..
Akuntabilitas merupakan kapasitas pemerintah atau penyedia pelayanan publik dalam
mempertanggungjawabkan kebijakannya, kegiatannya serta pengalokasian anggaran. Prinsip
akuntabilitas berkaitan dengan erat dengan transparansi, masyarakat hendaknya wajib
mengetahui bagaimana aliran kebijakan beserta implementasinya beserta dampak apa yang
diharapkan akan dicapai dari kebijakan-kebijakan tersebut. Dari pemerintah yang akuntabel
tersebutlah membawa dampak baik yang akan meningkatkan kepercayaan masyarakat
terhadap peemerintah daerah selaku pelaksana serta pembuat kebijakan. Dengan demikian,
kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah akan memperoleh dukungan lebih luas dari
masyarakat.

Dengan itulah laporan kinerja kabupaten Belitung timur ini sebagai upaya dasar
dalam pelaksanaan kepemerintahan yang good governance. Adapun penyusunan laporan
kinerja tahun 2019 ini berpedoman pada peraturan menteri No 53 tahun 2014 tentang
petunjuk teknis perjanjian kinerja, pelaporan kinerja serta tata cara reviu pada laporan kinerja
instansi pemerintah.
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Konsep pemerintah daerah

1. Dimensi pengertian pemerintah daerah


Konsep ini berasal dari terjemahan konsep local government yang intinya
mengandung tiga pengertian yaitu pemerintah lokal, kemudian pemerintahan lokal,
serta wilayah lokal (Hossein dalam hanif, 2007: 24).
Pemerintah lokal menunjuk pada organisasi/ badan/ lembaga yang berfungsi
menyelenggarakan pemerintah daerah, dalam hal ini merujuk pada kepala daerah serta
dewan perwakilan daerah.
Pemerintahan lokal menunjuk pada kegiatan pemerintah yang dilaksanakan
oleh pemerintah daerah. Kegiatan ini merupakan fungsi penting yang pada
hakekatnya berfungsi untuk pembuatan kebijakan pemerintah daerah yang dijadikan
dasar atau arah dalam menyelenggarapak pemerintahan.
Wilayah lokal merujuk pada wilayah pemerintahan atau daerah otonom dalam
konteks Indonesia daerah otonom yang artinya daerah tersebut memiliki hak untuk
mengatur serta mengurus urusan pemerintahan yang diserahkan pemerintah pusat
kepada derah yang menjadi urusan rumah tangganya.
Untuk lebih mengetahui makna dari pemerintahan daerah, maka diuraikan
beberapa dimensi yang menyangkut pengertian pemerintah daerah sebagai berikut:
a. Dimensi sosial, dipandang sebagai suatu kelompok masyarakat yang terorganisasi
yang bertempat tinggal dalam satu wilayah tertentu dengan batasan geografis serta
memiliki ciri tertentu pula.
b. Dimensi ekonomi, sebagai organisasi pemerintahan yang memiliki ciri tertentu
yang berkaitan dengan kondisi serta potensi daeri daerah tertentu.
c. Dimensi geografis, sebagai suatu unit organisasi pemerintahan yang mempunyai
lingkungan geografis dengan ciri-ciri tertentu, meliputi keadaan fisik tertentu,
demografis serta potensi ekonomi tertentu.
d. Dimensi hukum, pemerintah dipandang sebagai suatu unit badan hukum publik.
e. Dimensi politik, pemerintah dipandang mempunyai hubungan langsung dengan
aspek-aspek atau merupakan bagian dari sistem politik negara yang merupakan
pelaksana pemerintah pusat.
f. Dimensi administrasi, sebagai suatu organisasi pemerintahan sendiri, pemerintah
daerah berhak serta diserahkan untuk mengurus sendiri rumah tangganya.

2. Bentuk pemerintahan daerah


a. Local self government, pemerintah dalam hal ini memiliki wewenang untuk
mengurus serta mengatur pemerintahannya sendiri. Hal ini diperlukan sistem
pemerintahan negara untuk menyelenggarakan berbagai urusan pemerintahan yang
sesuai dengan kondisi daerahnya masing-masing.
b. Local state government, merupakan unit organisasi pemerintah wilayah, unit
organisasi pemerintah di daerah yang dibentuk berdasarkan asas dekonsentrasi.
Pemerintah wilayah ataupun administratif dibentuk sebagai upaya untuk
menyelenggarakan urusan pemerintahan tertentu yang menjadi wewenang
pemerintah pusat didaerah.

3. Lingkungan pemerintah daerah


Muttalib dan Akbar Ali Khan (1971) mengatakan bahwa faktor yang
mempengaruhi pemerintahan daerah antara lain : Historis (perjalanan sejarah),
kebudayaan, tradisi keagamaan geografi dan demografi, politik, kondisi ekonomi,
serta kondisi sosial.

B. Pengawasan

Pengawasan adalah fungsi penting yang terdiri dari penentuan apa yang
dilaksanakan, menilai serta apabila perlu menerapkan tindakan perbaikan serta pada
pokoknya dilaksanakan untuk mengusahakan apa yang telah dilaksanakan dapat
terlaksana secara baik dan benar. kata pengawasan berasal dari kata “awas” yang berarti
penjagaan. Istilah ini dikenal dalam ilmu manajemen serta ilmu administrasi sebagai
salah satu unsur dalam kegiatan pengelolaan. Muchsan berpendapat bahwa pengawasan
merupakan kegiatan untuk menilai suatu tugas secara de facto, kemudian sedangkan
tujuan dari pengawasan hanya terbatas pada pencocokan apakah kegiatan sudah
dilaksanakan sesuai dengan tolak ukur yang telah ditetapkan sebelumnya (Muchsan,
1992: 38).
Menurut Danamik dalam (Ihyaul Ulum,2009: 129) salah satu aspek dari kegiatan
pengawasan merupakan pelaksanaan pemeriksaan secara umum diartikan sebagai suatu
proses yang sistematis dengan tujuan untuk mengidentifikasi masalah, analisi, serta
evaluasi yang dilakukan secara independen dan konstruktif dan dengan pemberian
pendapat ataupun apabila diperlukan rekomendasi.

Adapun cara-cara pengawasan menurut Brantas (2006: 195) yaitu sebagai


berikut:

1. Teknik pengawasan langsung


Yaitu teknik pengawasan yang dilakukan oleh manajer pada waktu kegiatan sedang
berjalan. Pengawasan ini biasanya dapat terbentuk mendadak on the spot observation
serta on the spot report.
2. Teknik pengawasan tidak langsung
Yaitu pengawasan yang dilakukan dari jarak jauh, dalam hal ini biasanya berupa
laporan yang disampaikan oleh para bawahan baik secara lisan maupun tulisan.

Adapun macam-macam pengawasan menurut Brantas (2006: 1999) adalah :

1. Internal control, merupakan pengawasan yang dilakukan oleh aparat ataupun unit
pengawasan yang dibentuk didalam organisasi itu sendiri.
2. External control, merupakan pengawasan yang dilakukan oleh aparat maupun unit
pengawasan dari luar organisasi tersebut.
3. Formal control, merupakan pemeriksaan yang dilakukan oleh instansi maupun pejabat
serta dapat dilakukan baik secara intern maupun ekstern.
4. Informal control, merupakan penilaian yang dilakukan oleh masyarakat ataupun
konsumen, baik itu secara langsung maupun tidak langsung, misalnya melalui media
cetak, elektronik serta lain-lainnya.
Pengawasan terhadap pemerintahan daerah diatur dalam pasal 217 mengenai
pemerintahan daerah, mengatur pembinaan serta pengawasan untuk melakukan
pembinaan serta pengawasan kepada pemerintah daerah yang dikeluarkan peraturan
pemerintah Republik Indonesia No.79 tahun 2005 megenai pedoman pembinaan serta
pengawasan penyelenggaraan pemerintah daerah. Berdasarkan peraturan itulah dimaksud
dengan pembinaan merupakan upaya yang dilakukan oleh pemerintah atau gubernur
sebagai wakil pemerintah di daerah untuk mewujudkan tercapainya tujuan dari
penyelenggaraan otonomi daerah. Adapun UU tersebut ditindak lanjuti dengan:
1. PP No. 58 Tahun 2005 tentang pengelolaan keuangan daerah
2. PP No. 38 Tahun 2007 tentang pembagian urusan anatara peemerintah, pemerintah
daerah Provinsi serta pemerintah daerah Kabupaten/ Kota.
3. PP No. 41 tahun 2007 tentang organisasi perangkat daerah

Adapun jenis-jenis pengawasan yang diatur dalam UU No. 32 th 2004 tentang


pemerintah daerah adalah

1. Pengawasan Refiensif, pengawasan mengenai kebijakan Peraturan daerah berupa


keputusan kepala daerah dan DPRD serta keputusan pimpinan daerah.
2. Pengawasan fungsional, pengawasan terhadap pelaksanaa pemerintah dilakukan oleh
lembaga/ badan/ unit yang mempunyai tugas serta fungsi dalam melakukan
pengawasan dengan pemeriksaan, pengujian, penyusutan, serta penilaian.
3. Pengawasan legislative, pengawasan yang dilakukan oleh DPRD, terhadap
pemerintah daerah yang sesuai dengan tugas wewenang serta haknya.

C. Good governance

Menurut Mardiasmo (1999 : 18) good governance merupakan suatu konsep


pendekatan yang berorientasi pada pembangunan sektor publik oleh pemerintahan yang
baik. Negara dengan birokrasi pemerintahan dituntut untuk meningkatkan pola pelayanan
dari birokratis elitis menjadi birokrasi populis. Dimana sektor swasta sebagai pengelola
sumber daya di luar negara serta birokrasi pemerintahj juga harus memberikan kontribusi
dalam usaha pengelolaan sumber daya yang ada. Penerapan cita-cita good governance
pada akhirnya mengarahkan keterlibatan organisasi masyarakatnya sebagai kekuatan
penyeimbang negara.
BAB III
PEMBAHASAN

A. Deskripsi hasil analisis


Dari hasil penjelasan pada bab sebelumnya bahwa tatanan pemerintah yang baik
merupakan isu yang paling sering dibahas saat ini, tuntutan semakin gencar oleh
masyarakat kepada pemerintah untuk menjalankan kepemerintahan yang baik. Dalam
kaitannya dengan pemerintahan daerah,prinsip good governance dalam prakteknya yaitu
menerapkan prinsip penyelenggaraan yang baik disetiap pembuatan kebijakan.
Dari hasil analisis laporan kinerja instansi pemerintah kabupaten Belitung timur
tahun 2019 disusun sebagai upaya pembangunan daerah menuju tata kelola pemerintah
yang baik (good governance) hal ini tentu saja menjadi suatu dasar yang baik karena
pada prinsip good governance akuntanbilitas dalam proses penyelenggaraan pemerintah
menjadi hal dasar dan suatu tuntutan demi proses penyusunan program kerja,
pembiayaan, pelaksaan, serta eveluasi dan dampaknya yang akan terjadi di masa depan.
Dari hasil analisis yang dilakukan pencapaian realisasi kinerja sasaran strategis
pemerintah kabupaten Belitung timur tahun 2019 yang tersebar di 79 program daerah
dana sebesar Rp. 159.534.000,00 tereaslisasi Rp. 143.474.800,00 dengan capaian kinerja
anggaran 91% dari 16 sasaran strtegis dalam perjanjian kinerja pemerintah kabupaten
Belitung Timur, angka tersebut tentu saja menjadi suatu pencapaian yang baik untuk
kesejahteraan masyarakatnya.
Selain itu dengan adanya laporan kinerja seperti ini pemerintah melaksanakan proses
tranparasi yang memberikan kesempatan kepada masyarakat lua untuk mengetahui
berbagai informasi mengenai penyelenggaran pemerintah, serta dana yang telah
tereaslisasikan dengan baik demi kesejahteraan rakyat sehingga rakyat menjadi lebih
percaya kepada pemerintahnya dalam menjalankan pemerintahan kearah yang lebih baik
lagi. Hal ini tentu saja menjadi poin penting yang hendaknya laporan tersebut di buat
secara rutin sesuai dengan prinsip transparasi yang dijalankan.
Keberhasilan ini tentunya tidak terlepas dari partisipasi aktif dari masyarakat, baik
secara kesatuan sistem maupun sebagai individu, karena secara prinsip penyelenggaraan
otonomi daerah ditujukan guna menjadikan masyarakat yang sejahtera di daerah Belitung
timur, kedepannya diharapkan pemerintah lebih melibatkan masyarakatnya untuk ikut
serta membangun daerahnya agar lebih baik lagi, serta akan lebih baik lagi jika
masyarakatpun ikut serta dalam program-program yang akan ditempuh di pemerintah
daerah.
BAB IV
KESIMPULAN

1. Prinsip akuntanbilitas yang merupakan salah satu prinsip good governance sudah
berjalan cukup baik dengan adanya laporan kinerja yang dibuat oleh pemerintahan
sebagai pencapaian pemerintah dalam merealisasikan program pemerintah, dalam hal ini
angka yang diperolehpun menjadi suatu kebanggaan karena tergolong cukup tinggi yaitu
91% dari 16 sasaran strategis dalam perjanjian kinerja Kabupaten Belitung Timur.
2. Prinsip transparasi yang juga merupakan prinsip good governance pun sudah berjalan
cukup baik karena dengan laporan kinerja ini masyarakat di Belitung Timur bisa
mengetahui progress pemerintah dalam mensejahterakan masyarakatnya.
3. Penerapan prinsip partisipasi masyarakat diharapkan lebih dilibatkan dalam ikut serta
membangun daerahnya serta ikut terlibat dalam penyusunan program-program yang
dijalankan demi kepentingan masyarakat itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA

Laporan kinerja pemerintah Kabupaten Belitung Timur


Cahyadi, A. (2016). Penerapan Good Governance Dalam Pelayanan Publik (studi kasus E-
KTP berbasis Good Governance di Kecamatan Sukolilo Surabaya), Vol.2, 479-494.
https://rendratopan.com/2020/06/22/pengawasan-penyelenggaraan-pemerintahan-
daerah/amp/
http://repository.ut.ac.id/4206/1/IPEM4214-M1.pdf

Anda mungkin juga menyukai