Anda di halaman 1dari 3

EKMA4159

NASKAH UAS-THE
UJIAN AKHIR SEMESTER-TAKE HOME EXAM (THE)
UNIVERSITAS TERBUKA
SEMESTER: 2020/21.2 (2021.1)

Komunikasi Bisnis
EKMA4159
No. Soal Skor
1. Butir-butir penting yang perlu diperhatikan saat melakukan komunikasi antarbudaya ditunjukkan McNab 50
(2006) merupakan penting untuk kita dalam melakukan komunikasi lintasbudaya, namun penting juga
untuk perhatian kita saat melakukan komunikasi dengan orang yang sama budayanya. Implementasikan
butir apa saja yang harus kita ketahui dalam komunikasi lintas budaya dan antar budaya

2. Beberapa “jebakan” dalam praktik komunikasi bisnis antarbudaya disadari atau tidak, adakalanya kita 50
menanamkan sikap-sikap yang sesungguhnya justru merupakan kendala atas berlangsungnya komunikasi
antarbudaya yang menghargai perbedaan budaya. Kita menafikan keragaman budaya, dan memandang
dalam alam bawah sadar kita dunia ini diisi oleh orang- orang yang sama dalam segala hal.
Implementasikan komponen-komponen “Jebakan-jebakan” sikap tersebut yang perlu diperhatikan!

Skor Total 100

JAWABAN 1

Implementasi Butir Butir Dalam Komunikasi lintas Budaya Dan Antar Budaya

- Membuka dan menutup percakapan. Ini penting diperhatikan karena budaya yang berbeda memiliki adat
kebiasaan yang berbeda tentang siapa yang berbicara, kapan dan bagaimana serta siapa yang dipandang
berhak, atau bahkan kewajiban, untuk memulai pembicaraan, dan apa yang tepat untuk menyimpulkan
percakapan.
- Mengubah peran dalam percakapan. Pada beberapa kebudayaan, cara yang paling baik mengubah peran
dalam percakapan adalah dengan cara interaktif. Artinya peran sebagai pembicara dan pendengar berganti-
ganti karena keghendak kedua belah pihak. Pada kebudayaan yang lain, justru dianggap sangat penting lawan
bicara menyelesaikan dulu semua yang hendak disampaikannya, baru kemudian kita berbicara untuk
memberi komentar atau sekedar memberi tanggapan.
- Memotong pembicaraan. Persoalan lain dalam komunikasi antarbudaya adalah memotong atau menyela
pembicaraan. Ada kebudayaan yang memandang memotong pembicaraan dianggap sebagai bagian dari gaya
percakapan. Hal seperti ini biasanya terjadi pada budaya yang egaliter. Sedangkan pada kebudayaan yang
lain, memotong pembicaraan dianggap tidak sopan bahkan dipandang menantang.
- Jeda percakapan. Ada kalanya, saat kita bicara kita berdiam sejenak, barang beberapa detik. Rupanya makna
berdiam sejenak itu berbeda-beda pada setiap kebudayaan. Pada kebudayaan tertentu, berdiam sejenak
dipandang sebagai bentuk memikirkan semua apa yang bisa dikatan dengan penuh pertimbangan, namun
pada saat yang lain bisa saja ini dipandang sebagai sikap bermusuhan. Bagi masyarakat Barat, berdiam
selama 20 detik dalam sebuah pertemuan dipandang sebagai kekurangnyamanan, dan banyak orang akan
merasa tidak enak dengan suasana seperti itu. Namun pada masyarakat lain dipandang sebaliknya.
- Topik pembicaraan yang tepat. Ada beberapa topik yang bila dibicarakan dipandang tidak tepat. Berbicara
mengenai uang atau harta kekayaan secara terbuka, pada satu masyarakat dianggap sebagai bentuk
kesombongan namun pada masyarakat yang lain justru dianggap sebagai tanda keakraban atau kedekatan.
- Humor sering kali dianggap sebagai bumbu percakapan yang berfungsi mengakrabkan atau membangun
kedekatan. Dalam kegiatan sehari-hari, kita biasa berusaha membangun kedekatan dengan humor. Namun
hendaknya ini tidak kita pandang berlaku universal, atau berlaku untuk semua situasi. Pada orang yang baru
kita kenal dan sedang berdua, tidak sepatutnya kita berhumor.
- Tahu seberapa banyak kita berbicara. Ini salah satu persoalan dalam komunikasi lintasbudaya. Kita tidak
memiliki ukuran atau takaran, seberapa banyak seseorang dianggap patut dalam berbicara. Bagi satu
kelompok budaya, pembukaan yang sekedar basa-basi tidak begitu disukai, sehingga dipandang lebih baik
berbicara langsung pada pokok permasalahan. Pada masyarakat yang lain, pembukaan yang sekedar basa-
basi tidak begitu disukai, sehingga dipandang lebih baik berbicara langsung pada pokok permasalahan. Pada
masyarakat yang lain, pembukaan yang panjang-lebar bagian dari kesantunan dan menunjukkan diri sebagai
manusia yang beradab.
- Menyusun tahapan untuk unsur-unsur percakapan. Bila kita berbicara isu yang sensitif, permasalahan yang
muncul biasanya pada saat mana kita dianggap tepat untuk memulai berbicara tentang isu sensitif itu.
Disinilah kita perlu memiliki kepekaan kapan saat yang tepat untuk mulai masuk ke dalam pokok bahasan
yang sensitif itu, dengan mempertimbangkan budaya. Karena bisa saja, pertanyaan yang sudah kita anggap
pas yang disampaikan secara tepat pula, bisa dipandang terlalu dini disampaikan atau terlalu lambat untuk
diajukan, yang bisa dipandang dan dimaknai secara berbeda oleh setiap orang pada budaya yang berbeda.

JAWABAN 2
Komponen “jebakan-jebakan” yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :

- Etnosentrisme, yaitu orang yang memandang bahwa kelompok etniknya atau budayanya yang paling baik di
dunia ini. Pada sikap ini sesungguhnya tercermin ketidakmampuan untuk menerima apa yang menjadi
pandangan dunia orang lain.
- Diskriminasi, yaitu memberikan perlakuan yang berbeda pada individu karean statusnya sebagai minoritas.
Diskriminasi ini bisa dalam bentuk yang nyata (aktual), seperti pernah terjadi di Afrika Selatan melalui
diskriminasi rasial, bisa juga terjadi dalam perspeksi yang memandang perlu dilakukan pembedaan dalam
memperlakukan kelompok etnis tertentu.
- Stereotip, yang sesungguhnya merupakan generalisasi pada individu, kelompok dan etnik tertentu sehingga
kita menyimpulkan orang yang berasal dari etnik tertentu memiliki sifat dan watak tertentu. Stereotip yang
paling sering kita dengar, orang Padang pandai berdagang. Stereotip sesungguhnya mengabaikan satu hal
penting yaitu adanya perbedaan-perbedaan yang sifatnya individual.
- Buta budaya, yaitu mengabaikan perbedaan-perbedaan budaya dan memandang perbedaan itu sesungguhnya
tidak ada. Semua dianggap sama saja sehingga tidak perlu melakukan pertimbangan budaya dalam bertindak.
- Pemaksaan budaya, yaitu keyakinan yang menyatakan bahwa semua orang hendaknya menyesuaikan diri
dengan mayoritas. Orang diabaikan memiliki perbedaan, bila pun memiliki perbedaan diharuskan untuk
mengikuti siapa yang dianut oleh mayoritas.

NAMA : TIOPAN SIMARE MARE


NIM ; 042792732
KODE MATA PELAJARAN ; EKMA4159
MATA PELAJARAN ; KOMUNIKASI BISNIS
1 dari 1

Anda mungkin juga menyukai