ANGKATAN 2019
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sejak dulu setiap orang sakit akan berusaha mencari obatnya, maupun
cara pengobatannya. Dalam pengobatan suatu penyakit tidak selalu dengan
menggunakan obat, misalnya dipijat, dikerok dengan menggunakan mata
uang logam, dioperasi, dipotong dan sebagainya (Anief,2018).
Definisi obat ialah suatu zat yang digunakan untuk diagnosa,
pengobatan, melunakkan, penyembuhan atau pencegahan penyakit pada
manusia dan pada hewan (Anief,2018).
Farmasi adalah ilmu yang mempelajari cara membuat mencampur,
meracik formulasi obat, identifikasi, kombinasi analisis dan
standarisasi/pembakuan obat serta pengobatan, termasuk pula sifat-sifat obat
dan distribusinya serta penggunaanya yang aman. Farmasi dalam bahasa
yunani disebut farmakon yang berarti medika atau obat, sedangkan ilmu resep
adalah ilmu yang mempelajari tentang cara penyediaan obat-obatan menjadi
bentuk tertentu (meracik) hingga siap digunakan sebagai obat
(Syamsuni,2017).
Manurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang dinamakan
dengan meracik adalah mencampur beberapa bahan untuk dijadikan obat.
Ilmu ini penting, terutama bagi apoteker dan asistennya, karena semua obat
yang tertulis dalam resep dokter bisa langsung disediakan oleh apotik. Tidak
jarang obat yang tertera dalam resep dokter perlu diracik dulu sebelum
diberikan kepada pasien (Anief,2013).
Apotek sebagai salah satu sarana pelayanan kesehatan yang memiliki
peranan penting dalam meningkatkan kesehatan masyarakat, harus mampu
menjalankan fungsinya dalam memberikan pelayanan kefarmasian dengan
baik, yang berorientasi langsung dalam proses penggunaan obat pada pasien.
Selain menyediakan dan menyalurkan obat serta perbekalan farmasi, apotek
juga merupakan sarana penyampaian informasi mengenai obat ataupersediaan
farmasi secara baik dan tepat, sehingga dapat tercapai peningkatan kesehatan
masyarakat yang optimal dan mendukung penyelenggaraan pembangunan
kesehatan (KEPMENKES, 2002).
Di samping berfungsi sebagai sarana pelayanan kesehatan dan unit
bisnis, apotek juga merupakan salah satu tempat pengabdian dan praktik
tenaga teknis kefarmasian dalam melakukan pekerjaan kefarmasian.
Pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu
Sediaan Farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusi
atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter,
pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat
tradisional (PP No. 51 Tahun 2009). Semua aspek dalam pekerjaan
kefarmasian tersebut dapat disebut juga sebagai pelayanan kefarmasian.
Dimana suatu sistem pelayanan kesehatan dikatakan baik, bila struktur dan
fungsi pelayanan kesehatan dapat menghasilkan pelayanan kesehatan yang
memenuhi persyaratan sebagai berikut, yaitu : tersedia, adil dan merata,
tercapai, terjangkau, dapat diterima, wajar, efektif, efisien, menyeluruh,
terpadu, berkelanjutan, bermutu, dan berkesinambungan (Azwar, 2017).
Pelayanan kefarmasian semula berfokus pada pengelolaan obat sebagai
commodity menjadi pelayanan yang komprehensif yang bertujuan untuk
meningkatkan kualitas hidup pasien. Namun seiring berjalannya waktu dan
semakin mudahnya informasi tentang obat yang diperoleh oleh masyarakat ,
maka saat ini terjadi perubahan paradigma pelayanan kefarmasian dari drug
oriented menjadi patient oriented yang mengacu pada pharmaceutical care
yang mengharuskan pharmacist untuk meningkatkan kemampuan
berinteraksi dengan pasien maupun dengan tenaga kesehatan lainnya. Selain
itu seorang farmasi juga harus mengetahui mengenai sistem manajemen di
apotek (KEPMENKES, 2004).
Mengingat karena pentingnya peranan Tenaga Teknis Kefarmasian
dalam menyelenggarakan apotek, kesiapan institusi pendidikan dalam
menyediakan sumber daya manusia calon Tenaga Teknis Kefarmasian yang
berkualitas menjadi faktor penentu. Oleh karena itu, Program Studi
DiplomaIII Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nani Hasanuddin
Makassar bekerja sama dengan Apotek Mujarab Farma menyelenggarakan
Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Apotek Mujarab Farma yang berlangsung
dari tanggal 24 Maret – 09 April 2021. Kegiatan PKL ini memberikan
pengalaman kepada calon Ahli Madya Farmasi untuk mengetahui
pengelolaan suatu apotek dan pelaksanaan pengabdian Ahli Madya Farmasi
khususnya di apotek.
TINJAUAN PUSTAKA
3. Obat Keras
Obat keras adalah obat-obatan yang tidak digunakan untuk
keperluan tehnik yang memiliki khasiat untuk mengobati,
menguatkan, mendesinfeksikan dan lainlain pada tubuh manusia,
baik dalam kemasan maupun tidak.Obat ini memiliki tanda khusus
yaitu lingkaran bulat berwarna merah dengan garis tepi berwarna
hitam dengan huruf K yang menyentuh garis tepi sesuai Depkes RI
(2007).Contoh : antibiotika: Amoxicillin, cefixime, azithromycin.
Obat antihipertensi: captopril, amlodipine, candesartan. Obat
antidiabetik: glibenklamid, metformin. Kode obat Keras
ditunjukkan pada gambar. Contoh obat keras adalah sebagai
berikut: (Ranitidin, Asam Mefenamat, Amoxicillin, Simvastatin,
Bisoprolol) Obat golongan ini terletak di bagian dalam apotek
dengan tujuan tidak mudah dijangkau oleh konsumen dan hanya
boleh oleh apoteker atau tenaga teknis kefarmasian sehingga dapat
menjamin keamanan dan mutunya.
P no 1 P no 2
Awas! Obat Keras Awas! Obat Keras
Bacalah aturan Hanya untuk dikumur,
memakainya jangan ditelan
P no 3 P no 4
Awas! Obat Keras Awas Obat Keras
Hanya untuk bagian luar Hanya untuk dibakar
badan
P no 5 P no 6
Awas! Obat Keras Awas! Obat Keras
Tidak boleh ditelan Obat wasir, jangan ditelan
5. Obat Narkotik
Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009
tentang Narkotika.menjelaskan definisi narkotika yaitu obat atau
zat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis
maupun semi sintetis yang dapat menimbulkan ketergantungan,
hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan
dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran.
Narkotika hanya digunakan untuk pengembangan ilmu
pengetahuan atau kepentingan pelayanan kesehatan.Kode obat
Narkotika ditunjukkan pada gambar 2.5. Contohobat
narkotikaadalah sebagai berikut : Kodein, Morfin, Fentanil,
Pethidin, Hidromorfon. Penyimpanan obat golongan ini diletakan
pada lemari khusus yang terbuat dari bahan kuat, tidak mudah
dipindahkan dan mempunyai dua buah kunci yang berbeda,
diletakan di tempat yang aman dan tidak terlihat oleh umum
dimana kunci lemari khusus dikuasai oleh apoteker.
6. Obat psikotoprika
Menurut Undang- undang RI No.5 tahun 1997 tentang
Psikotropika, psikotropika yaitu zat atau obat bukan narkotika, baik
alamiah maupun sintetis yang berkhasiat psikoaktif melalui
pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang dapat
menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku
pemakainya. Obat psikotropika dapat menimbulkan ketergantungan
dan dapat disalahgunakan (Presiden RI, 1997). Menurut Undang-
undang RI No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika, pasal 3 tentang
Psikotropika, tujuan pengaturan di bidang psikotropika adalah
untuk menjamin ketersediaan psikotropika guna kepentingan
pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan, mencegah terjadinya
penyalahgunaan psikotropika dan untuk memberantas peredaran
gelap psikotropika. Tanda khusus pada obat psikotropika sama
dengan obat keras yaitu lingkaran bulat berwarna merah dengan
garis tepi berwarna hitam dengan huruf K yang menyentuh garis
tepi. Kode obat Psikotropika ditunjukkan pada gambar 2.5.Contoh
obat psikotropika adalah Diazepam, Dumolid, Alprazolam,
Klobazam, Lorazepam.Penyimpanan obat golongan ini diletakan
pada lemari khusus yang terbuat dari bahan kuat, tidak mudah
dipindahkan dan mempunyai dua buah kunci yang berbeda,
diletakan di tempat yang aman dan idak terlihat oleh umum dimana
kunci lemari khusus dikuasai oleh Apoteker.
7. Obat Prekursor
Menurut peraturan pemerintah RI No.44 tahun 2010 tentang
prekursor menyatakan bahwa prekursor adalah zat atau bahan
pemula atau bahan kimia yang dapat digunakan dalam pembuatan
narkotika dan Psikotoprika.
Peraturan Prekursor dalam peraturan pemerintah ini
meliputi segala kegiatan yang berhubungan pengadaan dan
penggunaan prekursor unruk keperlua industri farmasi, industrin
non farmasi dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
a. Peraturan prekursor bertujuan untuk:
1) Melindungi masyarakat dari bahaya penyalahgunaan
prekursor
2) Mencegah dan memberantas peredaran gelap prekursor
3) Mencegah terjadinyan kebocoran dan penyimpanan prekursor
4) Menjamin ketersediaan prekursor untuk industri farmasi,
industri non farmasi dan pengembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi
b. Pengadaan untuk obat golongan prekursor
1) Pengadaan prekursor dilakukan melalui prduksi dalam negeri
dan import.
2) Prekursor sebagaimana dimaksudkan hanya dapat digunakan
untuk tujuan industri farmasi, industri non farmasi dan
pengembangan pengetahuan dan teknologi
3) Alat-alat potensial yang dapat disalah gunakan dalam
pengadaan dan penggunaan prekursor.
8. Jamu
Jamu adalah obat tradisional yang disediakan secara
tradisioanal misalnya dalam bentuk serbuk seduhan, pil maupun
cairan yang berisi seluruh bahan nabati atau hewani yang menjadi
penyusun jamu tersebut serta digunakan secara tradisional.
Jamu yang telah digunakan secara turun-temurun selama
berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin ratusan tahun, telah
membuktikan keamanan dan manfaat secara langsung untuk tujuan
kesehatan tertentu.
10. Fitofarmaka
Fitofarmaka adalah bentuk obat tradisional dari bahan alam yang
dapat disejajarkan dengan obat modern karena proses
pembuatannya yang telah terstandar, ditunjang dengan bukti ilmiah
dari penelitian praklinik sampai dengan uji klinik pada manusia
dengan kriteria memenuhi syarat ilmiah, protokol uji yang
disetujui, pelaksana yang kopeten, yang memenuhi syarat. Dengan
uji klinik akan lebih menyakinkan para profesi medis untuk
menggunakan obat herbal farma manfaatnya jelas dengan
pembuktian secara ilmiah. Disamping itu obat herbal jauh lebih
aman dikonsumsi apabila dibandingkan dengan obat-obatan
kimiakarena obat tradisional semakin banyak diminati karena
ketersediaan dan harganya yang terjangkau.
F. Perbekalan Farmasi
Pengelolaan perbekalan farmasi terdiri dari perencanaan, pengadaan,
penerimaan, penyimpanan, pemusnahan, pengendalian, pencatatan dan
pelaporan yang seharusnya diatur sesuai peraturan perundang-
undangan yang berlaku (Widya, 2020).
1. Perencanaan
Perencanaan berfungsi untuk menetapkan sasaran, pedoman, garis-
garis besar yang akan dituju, dan menentukan kebutuhan. Dalam
menentukan kebutuhan, dilakukan pemilihan jenis dan penetapan
jumlah kebutuhan persediaan apotek. Penyusunan perencanaan
pengadaan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya perlu
mempertimbangkan pola penyakit, pola konsumsi, budaya dan
kemampuan masyarakat. Kemampuan apotek dalam memahami
kebutuhan masyarakat akan menentukan strategi pemasaran yang
efektif.
Perencanaan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan
lainnya dapat menggunakan dua metode, yaitu metode konsumsi
dan metode morbiditas (metode epidemiologi). Perencanaan
dengan metode konsumsi yaitu perencanaan berdasarkan data
penggunaan pada periode sebelumnya, sedangkan metode
morbiditas didasarkan pada data jumlah episode tiap pola penyakit
dan kebutuhan obat yang mudah diperkirakan dengan rata-rata
standar terapi yang diterapkan.
2. Pengadaan
Pengadaan merupakan usaha dan kegiatan untuk memenuhi
kebutuhan operasional yang telah ditetapkan dalam perencanaan,
penentuan kebutuhan, maupun penentuan anggaran. Untuk
menjamin kualitas pelayanan kefarmasian, maka pengadaan
sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya harus melalui
jalur resmi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
3. Penerimaan
Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian
jenis spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang
tertera dalam surat pesanan dengan kondisi fisik yang diterima.
4. Penyimpanan
Penyimpanan bertujuan untuk menjamin mutu perbekalan farmasi
yang ada di apotek. Berikut ini diuraikan beberapa hal yang diatur
pada tahap penyimpanan, yaitu:
a) Obat/bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik.
Dalam hal pengecualian atau darurat di mana isi dipindahkan
pada wadah lain, maka harus dicegah terjadinya kontaminasi
dan harus ditulis informasi yang jelas pada wadah baru. Wadah
sekurang-kurangnya memuat nama obat, nomor batch dan
tanggal kedaluwarsa.
b) Semua obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai sehingga
terjadi keamanan dan stabilitasnya.
c) tempat penyimpanan obat tidak dipergunakan untuk
penyimpanan barang lainnya yang menyebabkan kontaminasi.
d) Sistem penyimpanan dilakukan dengan memperhatikan bentuk
sediaan dan kelas terapi obta serta disusun secara alfabetis.
e) Pengeluaran obat memakai sistem FEFO (First Expired First
Out) dan FIFO (First In First Out).
5. Pemusnahan dan Penarikan
Beberapa ketentuan yang diatur tentang pemusnahan dan
penarikan ialah sebagai berikut:
a) Obat kedaluwarsa atau rusak harus dimusnahkan sesuai
dengan jenis dan bentuk sediaan. Pemusnahan obat
kedaluwarsa atau rusak yang mengandung narkotika atau
psikotropika dilakukan oleh apoteker dan disaksikan oleh
dinas kesehatan Kabupaten/Kota. Pemusnahan obat selain
narkotika dan psikotropika dilakukan oleh apoteker dan
disaksikan oleh tenaga kefarmasian lain yang memiliki surat
izin praktik atau surat izin kerja. Pemusnahan dibuktikan
dengan berita acara pemusnahan.
b) Resep yang telah disimpan melebihi jangka waktu 5 tahun
dapat dimusnahkan. Pemusnahan resep dilakukan oleh
apoteker disaksikan oleh sekurang-kurangnya petugas lain di
apotek dengan cara dibakar atau cara pemusnahan lain yang
dibuktikan dengan berita acara pemusnahan resep dan
selanjutnya dilaporkan kepada Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota.
c) Pemusnahan dan penarikan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis
Habis Pakai yang tidak dapat digunakan harus dilaksanakan
dengan cara yang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
d) Penarikan sediaan farmasi yang tidak memenuhi standar
peraturan perundang-undangan dilakukan oleh pemilik izin
edar berdasarkan perintah penarikan oleh BPOM berdasarkan
insiasi sukarela oleh pemilik izin edar dengan tetap
memberikan laporan kepada Kepala BPOM.
e) Penarikan alat kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai
dilakukan terhadap produk yang izin edarnya dicabut oleh
Menteri.
6. Pengendalian
Pengendalian dilakukan untuk mempertahankan jenis dan
jumlah persediaan sesuai kebutuhan pelayanan, melalui
pengaturan sistem pesanan atau pengadaan, penyimpanan dan
pengeluaran. Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya
kelebihan, kekurangan, kekosongan, kerusakan, kedaluwarsa,
kehilangan serta pengembalian pesanan. Pengendalian persediaan
dilakukan menggunakan kartu stok baik dengan cara manual atau
elektronik.
7. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dilakukan pada setiap proses pengelolaan
perbekalan farmasi, meliputi pengadaan (surat pesanan, faktur),
penyimpanan (kartu stok), penyerahan (nota atau struk penjualan)
dan pencatatan lainnya disesuaikan dengan kebutuhan. Adapun
ket=giatan pelaporan terdiri dari pelaporan internal dan eksternal.
Pelaporan internal merupakan pelaporan yang digunakan untuk
kebutuhan manajemen apotek, meliputi keuangan, barnag dan
laporan lainnya. Pelaporan eksternal merupakan pelaporan yang
dibuat untuk memnuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan
peratura perundang-undangan, meliputi pelaporan narkotika,
psikotropika dan pelaporan lainnya.
G. Standar Operational Prosedur (SOP)
Standaar Operasinal Prosedur merupakan suatu media untuk
menetapkan standar ukur suatu peushaaan pengunaan sumber daya
yang tepat, pemilohan proses operasional yang tepat, pelaksaan poses-
proses yang perlu di lakukan, dan pemeriksaan produk atau jasa untuk
meneliti kesesuaiannya dengan spesifiki.
1. Standar Operasional Prosedur Dalam Pelayanan Resep
(Hartayu, 2018).
a. Apoteker Menerima Resep.
b. Melakukan skirining resep melalui adminitrasi, farmaceutikal
dan klinik.
c. Bila ada obat yang akan di ganti (merek lain mintakan
persetujuan pasien terlebih dahulu).
d. Hitunglah nominal harga dan mintalah persetujuan kepada
pasien.
e. Siapakan obat sesuai dengan resep.
f. Obat yang di siapkan di masukkan kedalam buku stok obat.
g. Beri etiket sesuai penandaan di resep lengkap dengan indikasi
obat.
h. Teliti kembali resep sebelum di serahkan ke pasien.
i. Pada saat di menyerahkan wajib memberikan informasi minima
menegenai kegunaan dan aturan pakai.
2. SOP Pengadaan Obat di Apotek (Kemenkes RI No 1027/
Menkes/SK/9/2004).
a. Lakukan pengecekan terlebih dahulu atas stok obat yang di
butuhkan.
b. Sampaikan pemesanan obat apabila stok obat telah menipis.
c. Kemudian catat kebutuhan obat yang akan di pesan ke dalam
buku surat pesananan.
d. Obat-obat yang akan di pesan, di cata sebelumnya pada surat
pesaanan (SP) sesuai dengan jenis obatnya.
e. Pemesanan dan pembelian obat pada paotek harus di lakukan
pada pedagang besar farmasi dengan menghubungi pihak PBF.
f. Dalam satu SP obat bebas dapat di sisi lebih dari Satu nama
obat, obat-obat keras mengunakan satu SP untuk satu nama
obat sejenisnya.
g. Apoteker harus mendatangi SP dan memberi stempel Opotek
pada SP.
h. Sp dapat di kirim secara langsung pada salesman pihak PBF
atau melalui Faks.
i. Obat-oabt yang di terima harus di terima ketepatan, data PBF
nya.
j. Lakukan pemeriksaan fisik atas keadaan dan kelayakan obat
terdiri dari kondisi kemasan, kelengkaapan obat, dan tanggal
kadaluarsa.
k. Obat-obat yang di terima dari PBF langsung di cata dalam buku
besar PBF sesuai dengan data pada faktur.
3. SOP Penyimpan Obat (Peraturan Ketmenkes RI)
a. Persediaan obat-obat di letakan di gudang dan di ruang racik
obat.
b. Dalam menempatkan obat, urutan obat di mulai dari obat yang
paling menedekati tanggal kadaluarsa.
c. Pisahkan Obat sesuai jenisnya dan simpan obat sesuai dengan
jenisnya.
d. Obat-obat bebas di simpan di dalam lemari kayu pada gudang
bersuhu ruang.
e. Obat-obat bahan racikan dan obat-obatan yang harus dengan
resep dokter di simpan pada etelase kaca di ruang racik.
f. Letakan obat-obat yang harus di simpan pada suhu rendah pada
lemari pendingin di gudang.
g. Letakan obat-obatan sejenis Narkotika Psikotropika pada lemari
khusus pada gudang.
h. Obat-obat yang akan di jual pada etelase kaca pada ruang depan
tempat penjualan.
4. SOP Penjualan Obat dengan Resep (Peraturan Ketmenkes RI)
a. Penjual yang menerima Resep harus memberikan resep tersebut
kepada apoteker.
b. Ketahui nama, alamat, umur pasien, dan tanggal pembuatan
resep.
c. Obat yang di racik hanya boleh di racik oleh apoteker.
d. Persilahkan konsumen untuk menggunakan ruang tunggu.
e. Bungkus obat yang telah di racik dengan di sertai dengan
keterangan resep, tata cara pengunaan, dan data pasien.
f. Serahkan obat kepada konsumen dengan pemberian informasi
secara langsung kepada psien seputar biaya penebus obat,
fungsi obat dan tata cara pengunaan obat.
5. SOP Pelayanan Tanpa Resep (Ketmekes RI NO
1027/Menkes/SK/(2004)
a. Pasien datang.
b. Menyapa pasien dengan ramah dan menyakan kepada pasien
obat apa yang dibutuhkan.
c. Tanyakan lebih dahulu keluhan atau penyakit yang diderita
pasien, kemudian bantu pasien untuk mendapatkan obat yang
tepat, jika tidak dapat ditangani dengan swamedikasi di
sarankan untuk konsultasi ke dokter. Jika bisa di swamedikasi,
maka menyarankan terapi obat yang bisa di berikan.
d. Menghitung harga dan minta persetujuan terhadap nominal
harga.
e. Bila sudah terjadi persetujuan, ambilkan obat yang di minta
pasien.
f. Serahkan obat kepada pasien disertai dengan informasi
mengenai kegunaan dan aturan pakai.
6. SOP Pelayanan Konsumen (Ketmekes RI NO
1027/Menkes/SK/(2004)
a. Harus selalu terdapat karyawan di tempat untuk melayani
konsumen.
b. Sambut konsumen yang datang dengan ramah dan sopan.
c. Tanyakan keperluan pasien, Bantuk pasien dengan menberikan
instruksi sesuai dengan keperluannya.
d. Layani konsumen sesuai dengan standar yang telah di buat
untuk penjualan obat bebas dan dengan obat dengan resep.
e. Apabila terdapat stok yang kosong tawarkan obat dengan merek
yang berbeda yang memiliki fungsi dan manfaat yang sama,
minta persetujuan dari konsumen.
f. Pastika jumlah karyawan selalu cukup untuk melayani
konsumen, minta bantuan pada karyawan dengan shift yang
berbeda untuk menolong apabila di perlukan.
g. Patuhi larangan merokok, harap menegur dengan sopan apabila
terdapat konsumen yang merokok.
h. Sampaikan ucapan terima kasih pada [asien engan bai dan
benar
7. Sop Meracik Obat (Peraturan Mentri Kesehatan No, 74 tahun,
2016)
a. Petugas farmasi menyiapkan alat yang diperlukan untuk
meracik yang meliputi:
1) Mortir dan stemper untuk mengerus atau mencampur obat.
2) Kertas perkamen untuk membantu pembagian puyer
kedalam kertas puyer.
3) Sudip untuk mimindahkan puyer yang sudah digerus
kedalam wadah.
4) Wadah untuk meletakan puyer yang sudah digerus.
5) Serbet atau tisu yang bersih.
6) Kertas puyer, mesin pres dan plastic lip.
b. Petugas farmasi memastikan alat yang dipakai bersih.
c. Petugas farmasi menyiapkan obat-obat yang akan diracik sesuai
yang tertera pada resep.
d. Petugas farmasi memerikasa kembali obat-obat yang sudah
disiapkan.
e. Melakukan peracikan dengan menghaluskan obat sampai
menjadi serbuk, obat yang halus dan homogen.
f. Memindahkan serbuk obat kedalam wadah dengan bantuan
sudip.
g. Membagi serbuk menjadi beberapa bagian dengan jumlah yang
tertera pada resep.
h. Merekatkan kertas puyer dengan enggunakan alat press hingga
tertutup rapat.
i. Masukan puyer tersebut kedalam plastic klip.
j. Menuliskan nama pasien, tanggal, aturan pakai, dan aturan lain
yang diperlikan pada plastic klip.
k. Membersikan mortir dan stemper setelah digunakan untuk
meracik satu resep dengan air mengalir atau mengunakan
alcohol swab atau tisu.
l. Moertir dan stemper dalam keadaan bersih sebelum meracik
obat lainnya.
m. Memeriksa kembali puyer yang sudah disiapkan dengan resep.
n. Menyerahkan obat tersebut kepada pasien disertai informasi
obat yang dibutuhkan.
8. SOP pengemblian obat pasien (KETMEKES RI NO
1027/Menkes/SK/2004)
a. Petugas farmasi menerima catatan pengantar pengembalian
obat dari perawat ruangan.
b. Petugas farmasi mencocokkan catatan dengan fisik obat yang di
kembalikan.
c. Obat yang telah sesuai di kembalikan segera di inputkan ke
billing systemdengan mengakses menirutur obat.
d. Bill retur ditransfer ke kasir dan diprint untuk di serahkan ke
pasien.
9. SOP Petugas Pengawasan (Hartayu, 2018).
a. SOP petugas secara garis besar memeriksa resep-resep untuk
memastikan semua resep yang telah di terima tealah masuk di
kartu stok.
b. Memeriksa kesediaan obat yang ada di apotek, jika jumlah
kurang, maka petugas melakukan pengisian obat tersebut dari
stok gudang.
c. Semua obat yang ambil dari gudang harus di periksa meliputi
keadaan fisik dan expair date.
d. Obat yang di keluarkan di gudang aharsu di pastikan sesuai
dengan prinsip FIFO (Fust in First all) and FEFO (First
Expired First Out).
e. Semua obat yang di keluarkan dari gudang harus di catat di
kartu stok obat.
f. Melayani resep-resrp ataupun permintaan obat bebas (upaya
pengobatan diri sendiri (swamedukasi) di sertai dengan edukasi
pasien.
g. Merapikan semua hal yang berkaitan dengan tugas saat akhir
shit dan memberikan informasi kepada petugas shift
selanjutnya.
C. Sejarah Apotek
Apotek Tello Farma didirikan oleh Bapak Jasmiadi, S.Si., M.Si., Apt
di Makassar tepatnya di Jl. Urip Sumoharjo No. 15, Tello Baru, Kec.
Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90233.
D. Pengelolaan Apotek
Apotek Tello Farma buka dari jam 08.00 hingga jam 23.00
WITA.Proses magang dibagi menjadi lima, dimana tiapshift di bagi
per dua jam untuk dua orang dimulai dari jam 13.00-23.00 WITA.
Kemudian di hari minggu proses magang di bagi menjadi lima, dimana
tiap shift di bagi per tiga jam untuk dua orang dimulai dari jam 08.00-
22.00 WITA.
Di Apotek Tello Farma dilakukan pembagian tugas untuk masing-
masing bagian dalam kegiatan kerja di apotek yaitu :
1. Apoteker Pengelola Apotek (APA)
Apoteker Pengelola Apotek bertanggung jawab memiliki tugas
dan tanggung jawab sebagai berikut :
a. Mengusahakan agar apotek yang dipimpinnya dapat
memberikan hasil yang optimal sesuai rencana kerja.
b. Memimpin dan mengawasi seluruh karyawan serta menilai
prestasi kerja karyawan.
c. Mengatur, melaksanakan dan mengawasi seluruh bidang
administrasi.
d. Memberikan pelayanan dan kegiatan di bidang manajemen
apotek.
e. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan karyawan,
membina ke disiplinan yang tinggi dan memupuk loyaritas
karyawan terhadap perusahaan.
f. Meningkatkan pelayanan dan kegiatan di bidang manajemen
apotek.
g. Mengusahakan agar kebijakan dan strategi yang telah
ditetapkan dapat berjalan dengan lancar dan baik.
h. Melakukan kegiatan-kegiatan untuk pengembangan apotek.
2. Asisten apoteker dan pegawai apotek
Bagian kefarmasian di Tello Farma terdiri dari dua shift
yaitu shift pagi dan shift sore, yang dipimpin oleh seorang asisten
apoteker. Dimana anak magang dapat langsung berinteraksi dengan
pasien dengan arahan dari asisten apoteker. Asisten apoteker di
Apotek Tello Farma memiliki fungsi rangkap yakni selain
berperan langsung dalam pelayanan juga berperan sebagai kasir.
Adapun tugas dari pegawai apotek diantaranya:
a. Pengadaan
Pengadaan biasanya di lakukan berdasarkan perencanaan yang
telah di buat dan di sesuaikan dengan anggaran keuangan yang
ada. Pengadaan barang meliputi: pemesanan,cara pemesanan,
mengatasi kekosongan dan pembayaran. Pengadaan barang
yang dilakukan di Apotek Tello Farma meliputi :
1) Pemesanan barang atau order dilakukan oleh karyawan
apotek berdasarkan stok barang-barang yang hampir habis
atau yang sudah habis di apotek.
2) Cara pemesanan barang dilakukan dengan menuliskan surat
pesanan (SP). SP akan diambil selesman dari masing-
masing PBF, apabila selesman PBF tidak datang order bisa
dilakukan melalui telepon .
3) Mengatasi pemesanan obat akibat waktu antara pemesanan
dan kedatangan barang yang lama.
4) Pembayaran dapat dilakukan dengan cara COD (Cast on
delivery) atau kredit
b. Penerimaan Obat
Penerimaan barang harus dilakukan dengan mengecek
kesesuain barang yang datang dengan faktur dan SP. Kesesuain
meliputi : nama barang, jumlah barang, satuan, harga, diskon,
dan nama PBF serta mengecek masa kadaluarsanya. Faktur di
periksa tanggal pesan dan tanggal jatuh temponya, lalu di tanda
tangani dan di cap oleh Apoteker pengelola Apotek (APA) atau
Asisten Apoteker (AA), yang mempunnyai SIK.Kemudian
faktur yang sudah di tanda tangani tersebut di masukkan
kedalam format pembelian.
c. Pendistribusian
Pendistribusian obat di apotek bisa di alurkan di pabrik sebagai
produksi kemudian PBF sebagai penyalur lalu apotek sebagai
pelayanan dan pasien sebagai konsumen.Sebuah pabrik farmasi
tidak di perbolehkan untuk menjual langsung produk obat jadi
kepada konsumen.Obat narkotika dan psikotropika hanya bisa
di pesan melalui pabrik kimia farma dan PBF kimia farma.
d. Penyimpanan
Penyimpanan perbekalan farmasi di apotek Tello Farma di
atur berdasarkan :
1) Penggolongan Obat
Berdasarkan Golongan obat generik dan obat paten.
2) Bentuk sediaan
Seperti liquida (Sirup, tetes mata, dan inhaler), semi solid
(Salep, krim, gel, ointment) dan solid (tablet, kaplet, kapsul
dan pil).
3) Alphabetis
4) Berdasarkan suhu
5) Metode FIFO dan FEFO
a) Metode FIFO
First In First Out (FIFO) adalah penyimpanan obat
berdasarkan obat yang datang lebih dulu dan di
keluarkan lebih dulu.
b) Metode FEFO
First expired First Out (FEFO) adalah penyimpanan
obat berdasarkan obat yang memiliki tanggal
kadaluwarsa lebih cepat maka di keluarkan lebih dulu.
6) Pelaporan
Pelaporan obat narkotik dan psikotropik dilaporkan setiap 1
bulan sekali ke Dinas Kesehatan (Dinkes) yang dilakukan
oleh apoteker.
7) Pemusnahan
Cara memusnahkan obat kadaluwarsa atau rusak di
apotek mengikuti Peraturan menteri Kesehatan
(Permenkes/PMK) nomor 35 Tahun 2014, tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Apotek yaitu dengan cara :
a) Obat kadaluwarsa atau rusak harus dimusnahkan sesuai
dengan jenis dan bentuk sediaan.
b) Pemusnaan obat kadaluwarsa atau rusak yang
mengandung narkotika dan psikotropika dilakukan oleh
apoteker dan disaksikan oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota.
c) Pemusnaan obat selain narkotika dan psikotropika
dilakukan oleh apoteker dan disaksikan oleh tenaga
kefarmasian lain yang memiliki surat izin praktik atau
surat izin kerja.
d) Pemusnahan dibuktikan dengan berita acara
pemusnahan.
e) Resep yang telah disimpan melebihi jangka waktu 5
(lima) tahun dapat dimusnahkan.
f) Pemusnahan disaksikan oleh sekurang-kurangnya
petugas lain di apotek dengan cara dibakar atau cara
pemusnahan lain yang di buktikan dengan berita atau
acara pemusnahan resep, dan selanjutnya di laporkan
kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
e. Pencatatan Keuangan Dan Perbekalan Farmasi
Keuangan meliputi administrasi untuk uang masuk, uang
keluar, buku harian penjualan.Catatan mengenai uang masuk
meliputi laporan penjualan harian sedangkan uang yang keluar
tercatat dalam buku pengeluaran apotek.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Apotek Tello Farma telah menjalankan tugas dan fungsinya dengan
baik sesuai yang berlaku, mulai dari sumber daya masyarakat (SDM) serta
pelayanan informasi obat kepada masyarakat.Peran APA di Apotek Tello
Farma telah terlaksana secara baik dalam mengkoordinasi para karyawan
untuk melakukan pekerjaan kefarmasian di apotek.ini tidak lepas dari
hubungan antara karyawan apotek yang saling bekerja sama memberikan
kualitas yang baik. perkembanagan apotek Tello farma selama ini cukup
baik karena didukung oleh lokasi yang strategis dan fasilitas yang baik, serta
dedukasi atau etos kerja karyawan atau manajemen pemasarannya.
B. Saran
Dalam penyusunan laporan ini, kami menyadari masih banyak kekurangan
maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran untuk para pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Anief, M, 2013. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : Gadjha Mada Univerisy Press
Anief, M, 2018. Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktek, penerbit : University Press
GAMBAR KETERANGAN
Menulis Faktur