Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

MORFOLOGI BATANG

OLEH KELOMPOK 4
NILNA ULFATUL KHAIROH 2005111280
RENI KUSWANAZIA 2005111278
RIZKA IRSALINA 2005111281
TIARA NURRIZKIA 2005111279

KELAS
III A

MATA KULIAH
STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN

DOSEN PENGAMPU
Dr. WAN SYAFI’I, M.Si

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS RIAU
2020/2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT ysng telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga kami
dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Model, Bentuk, Struktur, dan Modifikasi
Batang” tepat waktu.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Wan Syafi’i, M.Si selaku dosen pengampu
yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk dapat menambah pengetahuan dan
wawasan melalui tugas ini seseuai dengan mata kuliah yang kami tekuni.

Selanjutnya, ucapan terima kasih juga kami ucapkan kepada semua pihak yang telah berpartipasi
memberikan sebagian pengetahuannya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Struktur
Perkembangan Tumbuhan. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawassan dan
pengetahuan bagi para pembaca dan penulis maklah ini.

Kami menyadari, makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yan
membangun akan kami terima demi kesempurnaan makalah ini.

Tembilahan, 11 Oktober 2021

Tim Penulis

i
DAFTAR ISI

COVER
KATA PENGANTAR .................................................................................................................................. i
DAFTAR ISI................................................................................................................................................ ii
BAB I ............................................................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ....................................................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .............................................................................................................................. 1
1.2 Rumusan masalah ......................................................................................................................... 1
1.3 Tujuan ........................................................................................................................................... 1
1.4 Manfaat ......................................................................................................................................... 1
BAB II .......................................................................................................................................................... 2
PEMBAHASAN .......................................................................................................................................... 2
2.1 Model percabangan batang ............................................................................................................ 2
2.2 Bentuk dan Struktur Batang ........................................................................................................... 4
2.3 Bentuk Batang Tumbuhan ............................................................................................................. 5
2.4 Modifikasi Batang .......................................................................................................................... 7
BAB III....................................................................................................................................................... 13
PENUTUP.................................................................................................................................................. 13
3.1 Kesimpulan ................................................................................................................................. 13
3.2 Saran ........................................................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................ 14

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Batang ialah bagian utama tumbuhan yang terdapat di atas tanah dan juga yang mendukung
bagian-bagian lain dari suatu tumbuhan(Pohon), yaitu daun, bunga dan juga buah. Oleh
sebab itu, batang tersebut mempunyai struktur yang lebih kompleks daripada akar pohon
tersebut.
Batang tersebut mempunyai ruas dan juga antar ruas. pada ruas tersebut akan muncul
bunga atau juga tunas daun. Letak pada cabang-cabang dalam batang tersebut berguna
untuk menempatkan daun dalam posisi yang dapat memungkinkan daun mendapat cahaya
matahari dalam suatu proses fotosintesis.

Berdasarkan bentuk dan struktur batang batang dibedakan menjadi dua, yaitu batang
monokotil dan batang dikotil. Pada dasarnya, bentuk penampang melintang batang tersebut
dibedakan menjadi 3(tiga), yakni bulat, persegi, dan juga pipih. Batang tumbuhan yang
berbentuk bulat tersebut, misalnya ialah pada tumbuhan bambu dan juga kelapa. Batang yang
berbentuk segi empat tersebut, misalnya ialah pada tumbuhan iler dan juga pohon markisa.
Batang yang segitiga tersebut, misalnya ialah pada tumbuhan rumput teki. Batang berbentuk
pipih, misalnya ialah pada pohon kaktus.

1.2 Rumusan masalah


1. Bagaimana model percabangan batang?
2. Bagaimana bentuk dan struktur batang?
3. Bagaimana modifikasi batang?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui bagaimana model-model percabangan batang.
2. Mengetahui bagaimana bentuk-bentuk dan struktur batang.
3. Mengetahui bagimana modifikasi pada batang.

1.4 Manfaat
Dengan dibuatnya makalah ini, maka kita dapat menegtahui lebih jauh bagaimana morfologi
batang. Dari mulai model, bentuk, struktur, hingga modifikasi batang.

1
BAB II

PEMBAHASAN

Batang merupakan organ pokok pada golongan tumbuhan cormophyta. Batang dapat menjadi
penghubung utama antara bagian akar dan bagian tajuk pohon (canopy). Batang pada umumnya
terdiri dari sumbu tegak dengan daundaun melekat padanya. Bentuk tersebut berfungsi mendukung
daun sehingga berada dalam keadaan yang sesuai untuk dapat berfotosintesis dan sebagai jalur
translokasi air dan garam-garam mineral ke daun dan titik-titik tumbuh, serta bahan organik dari
tempat pembentukannya di daun ke semua bagian dari tubuh. Batang dapat termodifikasi
bentuknya untuk keperluan tugas khusus seperti menimbun cadangan makanan, dan untuk
berfotosintesis.

2.1 Model percabangan batang


1. Monopodial

Monopodial (pertumbuhan tidak terbatas), yaitu sistem percabangan dengan satu


sumbu utama yang tumbuh terus di ujung dengan arah yang sama dengan pertumbuhan
sebelumnya, sedangkan cabang sampingnya dibentuk satu persatu secara akropetal,
berselang seling atau spiral. Batang-batang cabang dihasilkan oleh satu titik tumbuh.
Batang pokok selalu lebih jelas, karena lebih besar dan lebih panjang (lebih cepat
pertumbuhannya) daripada cabang-cabangnya. Sumbu monopodial ini dapat tumbuh tak
terbatas ataupun terbatas.

2
2. Simpodial

Simpodial yaitu sumbu tumbuh menghasilkan ruas dan buku, namun suatu saat
meristem apikal tidak berfungsi lagi karena membentuk bunga atau menjadi parenkimatis.
Kuncup aksilar di ketiak daun akan tumbuh cabang yang arahnya sejajar sumbu
sebelumnya dan tumbuh seperti sumbu yang digantikannya. Sumbu seperti itu disebut
kaulomer, dengan terjadi berulang kali sehingga kaulomer secara berkesinambungan
membentuk suatu sumbu semu atau simpodial. Pada percabangan simpodial sumbu utama
sukar ditentukan karena kalah cepat pertumbuhannya atau kalah besar dengan cabang,
misalnya pada Sawo Manila (Achroszapotar).

3. Dikotom

Percabangan menggarpu atau dikotom yaitu cara percabangan batang setiap kali
menjadi dua cabang yang sama besarnya. Hal ini adalah akibat titik tumbuh terbagi menjadi
dua bagian yang sama, seperti pada Selaginella, Nipah (Nypah fruticans) dan Aslepias.
Kadang-kadang percabangan tampak seperti dikotom namun jika diamati secara cermat
terlihat ujung sumbu utama yang terhenti. Percabangan seperti ini disebut dikotom semu,
misalnya Paku Rane (Glaichenia linearis). Dikotom semu juga bisa terjadi jika cabang
dekat ujung sumbu tumbuh dengan kuat sehingga mencapai penampakan yang setara
dengan sumbu utama yang sedikit terdesak dan keduanya bersama-sama tampak seperti
garpu.

3
2.2 Bentuk dan Struktur Batang

1. Monokotil

Tumbuhan monokotil memiliki bagian pangkal sampai keujung hampir /relatif sama
besar. Bentuk batang seperti pada batang Jagung (Zea mays), kelapa (Cocos nucifera),
pinang (Areca catechu).
a. Epidermis
Jaringan ini merupakan struktur yang terdapat pada batang pada tumbuhan
Monokotil, yang tersusun dari sel-s el pipih yang tersusun dengan rapat sehingga
Batang pada Tumbuhan Monokotil ini terlihat besar, karena terdapat Bulu-Bulu dan
Stomata. Jaringan Epidermis berfungsi untuk memberikan perlindungan terhadap
jaringan-jaringan yang terdapat pada bagian dalam Batang.

b. Lentisel
Suatu jaringan yang berupa lubang-lubang kecil terdapat pada bagian celah antara
sel-sel pada kulit batang suatu tumbuhan, dan berfungsi sebagai tempat untuk
melakukan proses pertukaran gas dan proses penguapan.

c. Korteks
Suatu jaringan yang tersusun dari sel-sel Sklerenkim berada pada bagian bawah
epidermis dan berupa pada Kulit batang. Kulit batang sendiri berfungsi untuk
mengeraskan dan memperkuat pada bagian-bagian luar pada Batang.

d. Stele (Silinder pusat)


Suatu jaringan yang tersusun dari sel-sel sklerenkim yang terdapat pada bagian
korteks dan tidak memiliki batas yang jelas antara keduanya. Jaringan Stele didalamnya
memiliki berkas vaskuler yang akan menyebar ke seluruh bagian dari empulur,
terutama yang akan mengalami konsentrasi dengan mendekati bagian kulit batang.

2. Dikotil

Pada tumbuhan dikotil memiliki bagian pangkal besar dan ke ujung semakin kecil.
Seperti pada batang Durian (Durio zibethinus) dan Manggis (Garcinia mangostana).
a. Epidermis
Jaringan ini merupakan struktur yang terdapat pada batang pada tumbuhan dikotil,
yang tersusun dari sel-sel pipih yang tersusun dengan rapat. Jaringan epidermis
berfungsi untuk memberikan perlindungan terhadap jaringan-jaringan yang terdapat
pada bagian dalam batang.

b. Lentisel

4
Suatu jaringan yang berupa lubang-lubang kecil terdapat pada bagian celah antara
sel-sel pada kulit Batang suatu Tumbuhan, dan berfungsi sebagai tempat untuk
melakukan proses pertukaran gas dan proses penguapan.

c. Korteks

Suatu jaringan yang tersusun dari sel-sel Parenkim yang berfungsi sebagai jaringan
dasar pada Batang suatu Tumbuhan. Jaringan Korteks ini juga terbentuk menjadi 2
macam bagian, yaitu Korteks bagian dalam dan Korteks bagian luar.

d. Stele (Silinder pusat)


Suatu jaringan yang berfungsi sebagai Silinder Pusat terdapat pada bagian dalam
sebelah Endodermis. Jaringan Stele tersusun dari lapisan atas bagian luar dalam
Batang, atau biasa disebut juga dengan Perikambium atau Perisikel.

2.3 Bentuk Batang Tumbuhan


Tumbuhan dikotil (dicotyledoneae) umumnya mempunyai batang yang di bagian
bawahnya lebih besar dan ke ujung semakin kecil, jadi batangnya dapat dipandang sebagai
suatu kerucut atau limas yang sangat panjang, dengan cabang ataupun tidak. Tumbuhan
nomokotil (monocotyledoneae) mempunyai batang yang dibagian pangkal sampai ujung
dapat dikatakan sama besarnya. Hanya pada beberapa golongan saja yang pangkalnya tampak
membesar tetapi kemudian ke atas tetap sama, seperti pada Palma (Palmae) misalnya pohon
Kelapa (Cocos nucifera L).
Jika kita bedakan atas batangnya, tumbuhan dibedakan menjadi dua yaitu :
1. Tumbuhan yang tidak berbatang (Planta acaulis)

Sebenarnya tidak ada tumbuhan yang tidak berbatang, hanya tampaknya saja tidak ada.
Hal ini disebabkan oleh batang yang terlalu pendek, sehingga daunnya seakan-akan keluar
dari bagian atas akarnya dan tersusun rapat satu sama lain, merupakan suatu roset (rosula)
seperti lobak (Raphanus sativus L.), sawi (Brassica juncea L.).
2. Tumbuhan yang jelas berbatang

Batang tumbuhan dapat dibedakan seperti berikut:

a. Batang basah (herbaceus), batang yang berair, misalnya bayam (Amaranthus


spinosus).
b. Batang berkayu (lignosus), batang keras dan kuat biasanya pada pohon dan semak-
semak. Misalnya pohon: mangga (Mangifera indica L.), semak : sidaguri (Sida
rhombifolia L.).
c. Batang rumput (calmus), batng tidak keras dan berongga, misalnya padi (Oryza
sativa L.)
d. Batang mendong (calamus), batang rumput tetapi punya ruas-ruas, misalnya
mendong (Fimbristylis globulosa Kunth).

Bentuk batang pada penampang melintangnya, yaitu:


1. Bentuk batang menurut bentuk penampangnya
a. Bulat (teres). Misalnya pada Bambu (Bambusa sp.) dan Kelapa (Cocos nucifera L.).
b. Bersegi (angularis). Kemungkinan batang bentuk bersegi adalah:
c. Bangun Segi Tiga (triangularis). Misalnya pada Teki (Cyperus rotundus).
d. Bangun Segi Empat (quadrangularis). Misalnya pada Markisah (Passiflora
quadrangularis L.), dan Iler (Coleus scutellarioides Benth.).
e. Pipih. Batang bentuk pipih biasanya melebar menyerupai daun dan mengambil alih
fungsi daun. Kemungkinan batang bentuk pipih adalah:
5
f. Filokladia (phyllocladium), jika sangat pipih dan pertumbuhannya terbatas.
Misalnya pada Jakang (Muehlenbeckia platyclada Meissn).
g. Kladodia (cladodium), jika terus tumbuh dan ada percabangan. Misalnya pada
Kaktus (Opuntia vulgaris Mill).

2. Batang menurut permukaannya


a. Licin (laevis). Misalnya pada Jagung (Zea mays L).
b. Berusuk (costatus), jika pada permukaan batang terdapat rigi-rigi. Misalnya pada
Iler (Coleus scutellarioides Benth).
c. Beralur (sulcatus), jika membujur batang terdapat alur-alur yang jelas. Misalnya
pada Cereus peruvianus (L.) Haw).
d. Bersayap (alatus), biasanya pada batang bentuk bersegi, tetapi sudut-sudutnya
terdapat pelebaran tipis. Misalnya pada Ubi (Dioscorea alata L)
e. Berambut (pilosus). Misalnya pada Tembakau (Nicotiana tabacum L)
f. Berambut (pilosus). Misalnya pada Tembakau (Nicotiana tabacum L)
g. Berduri (spinosus). Misalnya pada Mawar (Rosa sp)
h. Ada Berkas-berkas Daun. Misalnya pada Pepaya (Carica papaya L.) dan Kelapa
(Cocos nucifera L)
i. Ada Berkas-berkas Daun Penumpu. Misalnya pada Nangka (Artocarpus integra
Merr.), dan Keluwih (Artocarpus communis Forst)
j. Ada Lentisel. Misalnya pada Sengon (Albizzia stipulata Boiv)
k. Lepasnya Kerak (bagian kulit yang mati). Misalnya pada Jambu Biji (Psidium
guajava L.) dan Kayu Putih (Melaleuca leucadendron L).

Pada umumnya batang mempunyai sifat-sifat berikut :


1) Umumnya berbentuk panjang bulat seperti silinder atau dapat pula mempunyai bentuk
lain, akan tetapi selalu bersifat aktinomorf (simetri radial).
2) Terdiri atas ruas-ruas yang masing-masing dibatasi oleh buku-buku dan pada buku-
buku inilah muncul tunas yang membentuk cabang batang, daun, atau akar.
3) Biasanya tumbuh ke atas menuju cahaya atau matahari (bersifat fototrop atau
heliotrop).
4) Selalu bertambah panjang di ujungnya, oleh sebab itu sering dikatakan, bahwa batang
mempunyai pertumbuhan yang tidak terbatas.
5) Mengadakan percabangan dan selama hidupnya tumbuhan, tidak digugurkan, kecuali
kadang-kadang cabang atau ranting yang kecil.
6) Umumnya tidak berwarna hijau, kecuali tumbuhan yang umurnya pendek, misalnya
rumput dan waktu batang masih muda.

Banyak tumbuhan yang memiliki perkecualian dari yang telah disebutkan di atas, baik hanya
satu atau beberapa ciri.

Arah Tumbuh Batang:


1) Tegak lurus (erectus)
batang lurus ke atas, misalnya papaya (Carica papaya)
2) Menggantung (dependens, pendulus)
untuk tanaman yang tumbuh di lereng-lereng atau tepi jurang, misalnya Zebrina
pendula Schnitzl atau tumbuhan epifit misalnya jenis anggrek (Orchidaceae) tertentu.
3) Berbaring (humifusus)
jika batang terletak pada permukaan tanah, hanya ujungnya saja yang sedikit
membengkok ke atas, misalnya semangka (Citrullus vulgaris Schrad).
4) Menjalar atau merayap (repens)

6
batang berbaring tetapi dari buku-bukunya keluar akar-akar, misalnya batang ubi jalar
(Ipomoea batatas Poir).

2.4 Modifikasi Batang


Struktur pokok tumbuhan hanya terdiri dari akar, daun, batang, bunga dan buah. Pada suatu
keadaan, struktur pokok tersebut dapat berubah dan berkembang menjadi struktur baru,
sebagai adaptasi tumbuhan terhadap lingkungannya. Misalnya pada daerah kering, daun-daun
akan berubah menjadi duri yang bertujuan untuk mengurangi penguapan air yang terjadi
melalui daun (Rosanti, 2013).
Contoh lainnya adalah perubahan akar pada tumbuhan yang hidup di daerah pasang surut,
di mana akar selalu terendam air dalam waktu yang lama. Agar tumbuhan tidak mati karena
membusuk, akar akan berubah bentuknya menjadi beberapa tipe adaptasi terhadap pasang.
Perubahan bentuk seperti ini disebut metamorfosis tumbuhan. Karena tumbuhan merupakan
individu yang tidak bergerak, maka istilah metamorfosis diganti menjadi modifikasi
tumbuhan (Rosanti, 2013). Modifikasi Batang adalah bagian tubuh dari tumbuhan yang sangat
penting bagi tumbuhan yang berada di atas permukaan tanah. Mengingat tempat dan
kedudukannya bagi tubuh tumbuhan, batang dapat disamakan dengan sumbu tubuh tumbuhan.
Salah satu fungsi batang adalah sebagai tempat penimbunan cadangan makanan, dengan
fungsi ini, pada bagian batang tertentu akan mengalami perubahan bentuk sehingga bentuknya
berbeda di banding bentuk batang pada umumnya. Batang yang bentuknya berubah ini disebut
batang yang telah mengalami modifikasi. Batang dapat terspesialisasi serta termodifikasi
bentuknya untuk keperluan tugas khusus seperti menimbun cadangan makanan dan untuk
fotosintesis (Sumardi, 1992).
Macam-macam modifikasi batang di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Kuncup
Kuncup merupakan calon tunas, jadi terdiri atas calon daun, calon batang maupun
calon bunga. Biasanya kuncup dilindungi oleh rambut-rambut, sisik-sisik, daun
penumpu, dan sebagainya agar tidak gugur atau tidak mati sebelum tumbuh. Jika
kuncup tumbuh, biasanya pelindung kuncup akan runtuh. Perkembangan kuncup pada
semua jenis tumbuhan berbeda-beda. Ada yang cepat runtuh, ada yang tinggal agak
lama.
Tidak semua kuncup dapat berkembang menjadi tumbuhan yang baru. Diantaranya
ada yang bertahun-tahun tetap berupa kuncup saja. Kuncup yang demikian dinamakan
kuncup tidur atau kuncup laten (dinamakan kuncup tidur karena kuncup ini tidak mati,
tetapi juga tidak tumbuh). Kuncup tidur dapat ditemukan pada batang-batang pohon
besar yang ditebang dalam waktu yang lama. Kuncup tidur ini dapat menjadi tunas
yang baru, yang akan akan segera tumbuh menjadi tunas baru jika ditebang. Menurut
tempat kuncup dapat dibedakan dalam tiga macam yaitu kuncup ujung, kuncup
samping, dan kuncup liar. Selain ketiga kuncup tersebut, beberapa tumbuhan memiliki
kuncup tambahan yang terletak di dekat kuncup samping. Kuncup tambahan ini akan
tumbuh bila kuncup samping rusak.
 Kuncup ujung
Kuncup ujung merupakan modifikasi dari batang, daun dan bunga. kuncup ini
terletak pada ujung-ujung batang, ujung cabang, ataupun ujung ranting.
 Kuncup ketiak/ Samping
Kuncup ketiak merupakan kuncup yang terdapat pada ketiak daun, karena itu di
namakan kuncup aksilar.
 Kuncup liar
Kuncup liar merupakan kuncup yang tidak tumbuh pada ujung batang atau ketiak
daun, melainkan di sembarang tempat pada organ tumbuhan.

7
2. Rimpang (Rhizoma)

Rimpang merupakan modifikasi dari batang. Rimpang sesungguhnya adalah batang


sejati yang merambat di dalam tanah. Karena merupakan modifikasi dari batang, sifat-
sifat batang juga nampak pada rimpang, seperti beruas-ruas, berbuku-buku, berdaun,
tetapi daunnya telah menjelma menjadi sisik-sisik, mempunyai kuncup-kuncup,
tumbuhnya ke pusat bumi atau air, kadang-kadang muncul di atas tanah. Fungi rimpang
antara lain adalah sebagai tempat penimbunan makanan. Selain itu rimpang berfungsi
sebagai alat perkembangbiakan secara vegetatif. Biasanya rimpang yang ditanam akan
segera tumbuh akar pada ruas-ruasnya dan tunas-tunas daun. Akar akan tumbuh sesuai
dengan sifatnya yaitu menuju ke pusat bumi dan tunas-tunas daun akan muncul ke
permukaan tanah.

3. Umbi Btang

Umbi merupakan modifikasi akar maupun batang. Umbi biasanya berbentuk bulat,
karena merupakan struktur yang membengkak, seperti kerucut atau tidak beraturan.
Umbi juga berfungsi sebagai tempat penimbunan makanan. Karena itu umbi dibedakan
menjadi umbi batang dan umbi akar. Berbeda dengan rimpang, walaupun sama-sama
merupakan modifikasi dari batang, umbi batang tidak memiliki ruas-ruas dan sisik
seperti pada rimpang, karena strukturnya yang menggembung besar, sehingga
permukaannya tampak licin. Karena itu umbi batang adalah penjelmaan batang masih
terlihat dari terlihatnya kuncup-kuncup pada umbi ini, dan jika waktunya telah tiba
dapat pula bertunas dan menghasilkan tumbuhan baru.

4. Umbi lapis (Bulbus)

8
Umbi lapis merupakan modifikasi batang dan daun. Karena memperlihatkan
susunan yang berlapis-lapis, struktur ini disebut sebagai umbi lapis. Umbi lapis terdiri
dari daun-daun yang telah menjadi tebal, lunak dan berdaging. Struktur umbi lapis
terdiri dari cakram (discus), sisik (tunica), kuncup atau tunas (gemmae) dan akar
serabut.

5. Duri (Spina)

Duri merupakan modifikasi dari akar, daun maupun batang. Biasanya duri
berbentuk struktur kecil yang tajam. Menurut asalnya duri dibedakan menjadi duri
semu dan duri sejati. Duri semu bukan merupakan modifikasi tumbuhan. Karena duri
ini sebenarnya hanya merupakan alat tambahan, maka disebut sebagai duri semu. Duri
semu merupakan semacam alat tambahan, hanya menempel pada batang atau tangkai,
sehingga disebut sebagai duri tempel. Biasanya duri tempel mempunyai struktur yang
tajam, dan mudah dilepaskan tanpa menyebabkan luka pada tumbuhan. Duri semu
dapat dilihat pada mawar (Rosa chinesis).

6. Stolon

Pada beberapa tumbuhan, batang tumbuh mendatar tidak di bawah permukaan


tanah melainkan di atas permukaan tanah (menjalar di permukaan tanah). Batang yang
demikian itu disebur stolon. Stolon memiliki struktur yang berbeda dengan rhizoma,
ruas-ruas pada stolon lebih panjang dan berdiamater lebih kecil. Pada setiap buku dari
stolon biasanya terdapat akar dan daun. Daun-daun pada stolon jarang sekali
termodifikasi menjadi sisik. Stolon berkembang dari kecambah ke arah radial,
kemudian memisahkan diri karena buku yang memiliki akar berbentuk tunas baru atau
teputus karena sebab mekanik. Misalnya pada tumbuhan enceng gondok (Eichornia
crassipes). Pola percabangan pada stolon dapat monopodial dan simpodial.

9
7. Sulur (Cirrhus)

Alat pembelit atau sulur adalah bagian tumbuhan yang biasanya menyerupai spiral
dan berguna untuk membelit benda-benda yang disentuhnya, yaitu untuk berpegangan
saat tumbuhan ini berusaha mendapatkan penunjang untuk dapat naik ke atas.
Tumbuhan ini merupakan tumbuhan memanjat. Alat pembelit atau sulur merupakan
metamorfosis salah satu bagian pokok tumbuhan (daun, batang, dan akar). Biasanya
merupakan metamorfosis akar, dahan/cabang, daun atau sebagian daun saja.

Menurut asalnya alat pembelit dapat dibedakan dalam:


1. Cabang Pembelit (sulur dahan/cabang), yaitu alat pembelit yang terjadi dari
cabang atau tunas. Hal ini terlihat dari tempatnya, yaitu dalam ketiak daun atau
berhadapan dengan daun, seringkali masih mendukung daun-daun kecil.
Misalnya pada:

Air Mata Pengantin (Antigonon leptopus Hook et Arn.)

Anggur (Vitis vinifera L.)

Markisah (Passiflora quadrangularis L.)

10
2. Daun Pembelit (sulur daun), yaitu alat pembelit yang biasanya merupakan metamorfosis
suatu bagian daun (bukan dari berasal daun seluruhnya). Daun pembelit dapat berasal dari
bagian daun yaitu pada:
a. Tangkai daun, misalnya pada Clematis

b. Ujung daun, misalnya pada Kembang Sungsang (Gloriosa superba L.)

c. Ujung ibu tangkai daun (pada daun majemuk), misalnya pada Kacang Kapri
(Pisum sativum L.)

11
3. Akar Pembelit, yaitu akar yang berubah menjadi suatu alat pembelit. Misalnya pada Panili
(Vanilla planifolia Andr.).

12
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Batang merupakan organ pokok pada golongan tumbuhan cormophyta. Batang
pada umumnya terdiri dari sumbu tegak dengan daundaun melekat padanya. Bentuk
tersebut berfungsi mendukung daun sehingga berada dalam keadaan yang sesuai untuk
dapat berfotosintesis dan sebagai jalur translokasi air dan garam-garam mineral ke daun
dan titik-titik tumbuh, serta bahan organik dari tempat pembentukannya di daun ke semua
bagian dari tubuh. Batang dapat termodifikasi bentuknya untuk keperluan tugas khusus
seperti menimbun cadangan makanan, dan untuk berfotosintesis.
Batang memiliki tiga model percabangan yaitu, monopodial yaitu percabangan
dengan satu sumbu utama yang tumbuh terus di ujung dengan arah yang sama dengan
pertumbuhan sebelumnya. Simpodial yaitu sumbu tumbuh menghasilkan ruas dan buku,
namun suatu saat meristem apikal tidak berfungsi lagi karena membentuk bunga atau
menjadi parenkimatis. Dikotom yaitu cara percabangan batang setiap kali menjadi dua
cabang yang sama besarnya. Sedangkan berdasarkan bentuk dan struktur percabangannya
batang dibedakan menjadi batang moonokitil dan batang dikotil.

Bentuk batang berbeda-beda. Berdasarkan bentuk batangnya batang pada


tumbuhan dibedakan menjadi tumbuhan yang tidak berbatang dan tunbuhan yang
berbatang jelas. Sedangkan bentuk batang pada penampang melintangnya dibedakan
menjadi Bentuk batang menurut bentuk penampangnya dan batang menurut
permukaannya. Batang mengalami beberapa modifikasi pada bentuknya. Hal ini dapat
dilihat pada batang yang mengalami modifikasi dengan terdapatnya kuncup, rimpang,
umbi batang, umbi lapis, spina, stolon, dan sulur.

3.2 Saran
Bagi pembaca, untuk lebih memahami tentang morfologi batang khususnya
mengenai bagimana model, bentuk, struktur dan modifikasi batang hendaknya dilakukan
pembelajaran lebih lanjut menegenai morfologi bentuk batang. Pembaca juga harus bijak
dalam memahami materi ini dan hendaknya mencari referensi sebanyak-banyaknya
sehingga dapat menambah wawasan pembaca mengenai materi ini. Kemudian, kami
mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk dapat memotivasi kita semua untuk
dapat terus menambah wawasan terkait dengan struktur perkembangan tumbuhan.

13
DAFTAR PUSTAKA

Siti Munifah.2017. Modifikasi Batang.


http://sitimunifah16.blogspot.com/2017/07/v-behaviorurldefaultvmlo_14.html?m=1 (Di
akses 29 September 2021)
Dr. Marina Silalahi, M.Si. 2015. Bahan Ajar Morfologi Tumbuhan. (Di akses 29 September
2021)
Yusniar. 2019. Model Arsitektur Percabangan Pohon Di Kawasan Geothermal Ie Suum
Kecamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar Sebagai Referensi Mata Kuliah
MorfologiTumbuhan.
file:///C:/Users/user/Downloads/Yusniar,%20140207106,%20FTK,%20PBL,%20082277
385392.pdf (Di akses 28 September 2021)

http://belajar-di-rumah.blogspot.com/2015/03/bentuk-batang-tumbuhan.html?m=1
(Diakses pada 2 Oktober 2021)
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Batang (Diakses pada 2 Oktober 2021)
https://www.gurupendidikan.co.id/batang-pohon/#Bentuk_Batang (Diakses pada 2
Oktober 2021)

http://belajar-di-rumah.blogspot.com/2015/03/alat-pembelit-atau-sulur-cirrhus.html?m=1
(Diakses pada 11 Oktober 2021)

14

Anda mungkin juga menyukai