Anda di halaman 1dari 12

EFEK PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH INFUSA BIJI

MAHONI ( Swietenia macrophyla King ) PADA KELINCI JANTAN YANG


DIBEBANI GLUKOSA

Eko Sulistyono, dr. EM. Sutrisna, M.Kes, Rima Munawaroh, S.Si., Apt
Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta

Pengobatan herbal lebih dipilih karena aman, dan efek samping sedikit
secara empirik biji mahoni (Swietenia macrophyla King) dapat digunakan sebagai
pengobatan penyakit diabetes.
Penelitian ini merupakan penilitian eksperimental semu, rancangan
penilitian acak lengkap pola searah dengan menggunakan 15 ekor kelinci jantan
dibagi menjadi 5 kelompok masing-masing hewan uji mendapat perlakuan secara
peroral dengan volume pemberian 5,0 ml/1,5 kgBB. Kelompok I (kontrol negatif)
diberi aquadest. Kelompok II (kontrol positif) diberi acarbose dosis 2,33
mg/kgBB. Kelompok III, IV dan V diberi sediaan infusa biji mahoni berturut-
turut 54mg; 108 dan 216mg/kgBB secara peroral. Semua kelompok dibuat
hiperglikemi dengan dibebani glukosa 60% volume pemberiannya 5,0 ml/1,5
kgBB sesaat setelah perlakuan. Plasma darah direaksikan dengan reagen GOD FS
(DiaSys) dan dibaca kadar glukosa darahnya pada panjang gelombang 500 nm
setelah diinkubasi selama 20 menit, kemudian diuji distribusi dan homogenitasnya
dengan Kolmogorv-Smirnov, dilanjutkan anava satu jalan dan dilanjutkan dengan
Post Hoc LSD dengan taraf kepercayaan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Infusa biji mahoni dosis I (54mg /kg
BB), dosis II (108mg/kg BB), dosis III (216mg/ kg BB) dapat menurunkan kadar
glukosa pada kelinci dengan persentase 27,98%; 35,18% dan 27,89% sedangkan
untuk glucobay sebesar 26,62%.

Kata kunci : Swietenia macrophyla King., glukosa darah

1
ABSTRACT
Herbal treatment is preferred because it is safe, and side effects
empirically little grain mahogany (Swietenia macrophyla King) can be used as
treatment of diabetes.
The study was conducted by employing complete random design in 15
male local rabbits divided into five groups. All of group made hiperglikemic by
giving glucose 60% (dosage 2 g/kgbw) 5ml/1,5 kgbw after treatment. Each test
animal get treatment given orally. Group I is treated negative control using
aquadest counted 3 ml/1,5 kgbw, group II treated by positive control using
acarbose 2,33 mg/kgbw. Group III, IV,V are treated by giving squeeze on 54mg;
108 and 216mg /kgbw. Blood plasma are reacted by GOD FS reagent and read
concentration on 500 nm long wave after incubated 20 minutes.
The research result shows that squeeze carambola fruit capable to
decrease blood glucose concentration in male rabbits was loaded by glucose
namely at dosage 4,08; 8,16 dan 16,33 g/kgbw with concentration continued:
27,98%; 35,18% dan 27,89% while for Glucobay of 26.62%.

Keywords: Swietenia macrophylla King., blood glucose

2
Berbagai penyakit yang disebabkan Sekitar 1970 masyarakat
oleh gangguan hormonal, yang paling menggunakan biji mahoni sebagai obat,
sering terjadi adalah diabetes mellitus diantaranya digunakan untuk obat
(DM). Survei Organisasi Kesehatan rematik, malaria, dan ada pula yang
Sedunia (WHO) pada 2001 menyebutkan digunakan sebagai obat kuat dengan cara
jumlah penderita DM di Indonesia menelan biji mahoni setelah membuang
mencapai 8,6 persen, terjadi peningkatan bagian yang pipih (Anonim, 2005).
jumlah DM di Jakarta dari 1,7 persen Efek farmakologis mahoni
pada tahun 1981 menjadi 5,7 persen pada diantaranya menghilangkan panas, anti
tahun 1993. jamur, menurunkan tekanan darah tinggi
International Diabetic Federation (hipertensi), kencing manis (DM), kurang
(IDF) mengestimasikan bahwa jumlah nafsu makan, rematik, demam, masuk
penduduk Indonesia usia 20 tahun ke atas angin, dan eksim (Hariana, 2005).
penderita DM sebanyak 5,6 juta orang Berdasarkan uraian di atas, biji
pada tahun 2001 dan akan meningkat mahoni dapat digunakan sebagai bahan
menjadi 8,2 juta pada 2020, sedangan penelitian mengenai efek penurunan
survei Departemen Kesehatan Republik kadar glukosa darah pada kelinci jantan.
Indonesia (Dep Kes RI) tahun 2001 Sejauh ini penggunaan biji mahoni
menunjukkan bahwa 7,5 persen digunakan sebagai penurun kadar glukosa
penduduk Jawa dan Bali menderita DM darah baru sebatas secara empiris.
(Anonim, 2008). Menurut Hariana (2005) pemakaian di
Budaya bangsa Indonesia yang masyarakat Indonesia (50 kg/ orang)
berkaitan dengan pemanfaatan alam, adalah 1/2 sendok teh serbuk biji mahoni
khususnya untuk pemeliharaan kesehatan diseduh dengan 1/3 gelas air panas, lalu
dan pengobatan penyakit, dilakukan diminum 2 sampai 3 kali sehari 30 menit
berdasarkan pengalaman secara turun sebelum makan. Karena baru sebatas
temurun. Dari pengalaman tersebut, secara empiris sehingga mendorong
ternyata banyak tumbuhan di alam sekitar peneliti untuk melakukan penelitian lebih
dapat memberikan manfaat kesehatan lanjut mengenai efeknya sebagai penurun
bagi penggunanya. Pengalaman tersebut kadar glukosa darah. Hasil ini diharapkan
secara turun-temurun dikembangkan dan dapat digunakan sebagai data ilmiah yang
diwariskan, sehingga sebagai sarana melandasi penggunaaan biji mahoni
perawatan kesehatan masyarakat sebagai penurun kadar glukosa darah.
(Sodibyo, 1998).

3
JALANNYA PENELITIAN 15, 20, 25, 30, 35, 40, 45, 50, 55, 60.
Determinasi Tanaman Penentuan operating time (OT)
Determinasi tanaman dilakukan di dimaksudkan untuk memperoleh waktu
Balai Penelitian Tanaman Obat (BPTO) serapan yang stabil.
Tawangmangu Karanganyar Jawa
Tengah. Penentuan Panjang Gelombang
Absorbansi Maksimum
Pembuatan Serbuk biji Mahoni Sebanyak 10,0 µl aquadest
Biji mahoni dicuci dengan air ditambah 1000,0 µl reagen GOD PAP
mengalir dan dibersihkan kemudian yang digunakan sebagai blangko. Sebagai
dikeringkan dengan cara dijemur di standar digunakan 10,0 µl glukosa baku
bawah sinar matahari dengan ditutupi dari DiaSys ditambah 1000,0 µl reagen
kain hitam agar panas dapat terserap GOD PAP, kemudian diinkubasi pada
dengan merata dan menghindari suhu kamar (25-300C) selama waktu yang
pengaruh sinar UV terhadap bahan. diperoleh berdasarkan hasil OT yaitu 35-
Setelah kering biji mahoni diblender 45 menit. Serapan dibaca dengan
sampai halus dan berbentuk serbuk, menggunakan spektrofotometer visibel
kemudian diayak dengan ayakan biasa, pada panjang gelombang 400-600 nm.
untuk mendapatkan ukuran partikel yang Panjang gelombang maksimum
seragam. ditentukan untuk mendapatkan serapan
yang tertinggi.
Penentuan Operating Time (OT)
Sebanyak 10,00 µl aquadest Pembuatan Larutan Glukosa 60%
ditambah 1000,0 µl reagen GOD PAP Sebanyak 60,0 gram D-glukosa
yang digunakan sebagai blangko. Sebagai monohidrat dilarutkan sedikit demi
standar digunakan 10,0 µl glukosa baku sedikit dalam air panas sampai volume
dari DiaSys ditambah 1000,0 µl reagen 100,0 ml sambil diaduk.
GOD PAP, kemudian diinkubasi pada
suhu kamar (25-300C). Serapan dibaca Perhitungan Dosis Acarbose
dengan menggunakan spektrofotometer Perhitungan dosis acarbose untuk
visibel pada panjang gelombang 500 nm kelinci didasarkan pada dosis terapi per
(berdasarkan panjang gelombang yang oral untuk manusia. Acarbose yang
tertera di leaflet reagen glukosa GOD digunakan ialah Glucobay. Dosis sekali
PAP) dan dibaca pada menit ke 0, 5, 10, minum untuk manusia berat badan 70 kg
4
= 50 mg. Kemudian konversi dosis = 0,135 gram/ 1,5kg BB = 0,09
manusia 70 kg ke kelinci berat 1,5 kg = gram/1,5kg BB.
0,07 sehingga dosis yang diberikan untuk Bobot biji mahoni untuk kelinci
kelinci 1,5 kg sekali minum 50 mg x 0,07 (BB 1,5 kg) = 1,925 g/ 100 ml
= 3,5 mg/1,5 kgBB = 2,33 mg/kgBB. = 0,135 g/ 1,5 kg BB
Dosis kelinci 1,5 kg = 3,5 mg. Volume = 0,135 g/ 5ml
pemberiannya = 3,5 mg/3 ml = 1,17 = 0,027g/ ml
mg/ml = 117 mg/100 ml. Bobot rata-rata = 2,7g / 100ml
20 tablet acarbose = 134, 88 mg. = 2,7 %
Acarbose untuk volume 100ml=
-Infusa biji mahoni 2,7% = 2,7g/100 ml
117 mg
134,88 mg = 315,62 mg/ 100 = 0,027 g/ ml
50 mg
ml. Kemudian menimbang 315,62 mg = 0,135 g/ 3ml

tablet glucobay® dan dilarutkan ke dalam = 0,081 g/ 1,5kg

CMC Na 1% sampai volume tepat 100 = 0,054g /kg BB

ml. = 54mg /kg BB

Perhitungan dosis infusa -Infusa biji mahoni 5,4 %= 5,4g/ 100ml

Menurut Hariana (2005) pemakaian = 0,054 g/ ml

di masyarakat Indonesia (50 kg/ orang) = 0,162 g/ 1,5kg

adalah ½ sendok teh serbuk biji mahoni = 0,108g/kgBB

diseduh dengan 1/3 (66 ml) gelas air = 108mg/kg BB

panas, lalu diminum 2 sampai 3 kali


sehari 30 menit sebelum makan. -Infusa biji mahoni 10,8 %=10,8g/ 100ml

Perhitungan : Berat serbuk biji = 0,108g/ ml

mahoni 1 sendok teh setelah diorientasi = 0,324g/ 1,5kg

adalah 2,75 gram. Sehingga diasumsikan =0,216g/1,5kgBB

½ sendok teh memiliki berat 1,375 gram = 216mg/ kg BB

serbuk biji mahoni. Untuk manusia (BB Terlebih dahulu dilakukan orientasi

70 terhadap infusa biji mahoni dengan


70 kg) = kg x 1,375 gram biji mahoni
50 konsentrasi terkecil yaitu 2,7 %, 3 ml/ 1,5
= 1,925 gram. Kemudian dikonversikan kg BB (dosis 0,09 g/ kg BB) secara oral.
pada kelinci (1,5 kg) = 1,925 gram x 0,07 Kemudian dilihat dengan dosis terkecil
tersebut dapat ber efek atau tidak.

5
Pengelompokan dan Perlakuan Hewan 180, 240 setelah pemberian sediaan
Uji infusa biji mahoni dengan volume kira-
Hewan uji dibagi menjadi 5 kira 0,5 ml. Kadar glukosa darah
kelompok perlakuan yang terdiri dari 3 ditetapkan dengan metode enzimatis
ekor kelinci. Masing-masing kelinci menggunakan pereaksi GOD PAP
dipuasakan (20-24 jam) dengan tetap (DiaSys).
diberi minum ad libitum. Dilakukan
pengambilan cuplikan darah vena telinga Penetapan Kadar Glukosa Darah
dari masing-masing kelinci sejunlah 0,5 Kadar glukosa darah ditetapkan
ml sebagai kadar glukosa darah awal. secara enzimatis dengan reagen GOD
Kemudian diberi perlakuan secara oral PAP (DiaSys). Cuplikan darah diambil
dengan dosis tunggal sebagai berikut: dari vena lateralis telinga kelinci,
Kelompok 1 : sebagai kontrol negatif ditampung dalam microtube 1,5 ml yang
hewan uji diberi larutan telah diberi antikoagulan Ethylen Diamin
aquadest sebanyak 3 ml Tetra Acetic acid (EDTA), dan di vortex
/1,5 kgBB. serta disentrifuge dengan kecepatan 3000
Kelompok 2 : sebagai kontrol negatif rotasi per menit (rpm) selama 5 menit,
diberi pembawa obat selanjutnya dipersiapkan komposisi
yaitu CMC Na 1% seperti yang disajikan pada Tabel 1.
sebanyak 3ml/hewan uji Tabel 1. Komposisi Sampel, Standar, dan
Blangko yang Dianalisis pada Penetapan
secara peroral.
Kadar Glukosa Darah
Kelompok 3 :sebagai uji diberi infusa
Komposis Volume Pengambilan
biji mahoni sebanyak
Bahan Sampel Standar Blangko
3ml (0,054g/kgBB).
(l) (l) (l)
Kelompok 4 :sebagai uji diberi infusa
Plasma 10 - -
biji mahoni sebanyak
darah
3ml (0,108g/kgBB). Glukosa - 10 -
Kelompok 5 :sebagai uji diberi infusa Standar
biji mahoni sebanyak Aquadest - - 10
3ml (0,216g/kgBB). Ditambah reagen GOD PAP 1000,0 (l).

Setelah pembebanan glukosa, Diinkubasi pada suhu kamar (25-300) selama 20

cuplikan darah diambil dari vena – 40 menit Kemudian serapan dibaca dengan
spektrofotometer (Star Dust FC) pada panjang
marginalis telinga kelinci sesaat sebelum
gelombang maksimum.
perlakuan, menit ke 0, 30, 60, 90, 120,

6
HASIL DAN PEMBAHASAN penyerapan yang stabil. Reaksi antara
Determinasi Tanaman reagen GOD PAP (Diasys) dengan
Tanaman yang akan digunakan glukosa akan memberikan suatu
dalam penelitian dideterminasi terlebih kompleks senyawa akhir yang berwarna
dahulu dengan tujuan untuk memastikan merah. Dasar dari perlunya dilakukan
bahwa tanaman yang digunakan tersebut penentuan serapan optimum tersebut
adalah benar. Determinasi dilakukan di adalah enzim dalam hal ini (GOD PAP)
Balai Besar Penelitian dan yang merupakan senyawa protein
Pengembangan Tanaman Obat dan Obat memerlukan waktu inkubasi yang
Tradisional Tawangmangu, Karanganyar, optimal dalam reaksinya. Dalam hal ini
Jawa Tengah dengan menggunakan buku glukosa tidak akan bereaksi sempurna
acuan Flora of Java (Backer, dan Van dan optimal jika waktu inkubasinya
Den Brink, 1965). Hasil determinasi kurang atau melebihi.
tanaman mahoni sebagai berikut : Dari hasil percobaan operating
1b, 2b, 3b, 4b, 12b, 13b, 14b, 17b, 18b, time diperoleh bahwa pada menit ke 20-
19b, 20b, 21b, 22b, 23b, 24b, 25b, 26b, 45 memberikan serapan yang relatif stabil
27a, 28b, sehingga ditentukan waktu serapan
29a_________________________Famili optimum adalah 35-45 menit.
Meliaceae
1b, 3b, 4b, 7b, 10b, 13b, Penetapan Panjang Gelombang Yang
15b_____________Genus Swietenia Memberikan Serapan Maksimum
1b_______________________________ Penetapan panjang gelombang
___Spesies Swietenia macrophylla King absorbansi maksimum dimaksudkan
Berdasarkan hasil determinasi tersebut, untuk menetapkan panjang gelombang
dapat dipastikan bahwa tanaman yang tertentu yang menghasilkan absorbansi
digunakan dalam penelitian adalah maksimum, sehingga dimungkinkan
tanaman Mahoni (Swietenia macrophylla diperoleh kepekaan yang maksimum.
King). Hasil penentuan panjang
gelombang absorbansi maksimum
Penetapan Operating Time (OT) menunjukkan bahwa pada panjang
Penentuan operating time gelombang 500 nm dengan operating
dilakukan untuk mengetahui saat yang time (OT) 35-45 menit diperoleh
tepat larutan yang mengandung senyawa absorbansi glukosa maksimum. Dengan
berwarna (kuinonimin) memberikan demikian penyerapan sampel glukosa

7
darah untuk selanjutnya dilakukan penggumpalan darah. Kemudian darah
dengan menggunakan panjang divortex dan disentrifuge untuk
gelombang 500 nm. memperoleh cairan plasmanya. Plasma
yang mengandung glukosa darah yang
Uji Efek Penurunan Kadar Glukosa akan direaksikan dengan GOD PAP yang
Darah akan membentuk kompleks warna merah
Uji efek antidiabetes dilakukan (kuinonimin).
dengan metode toleransi glukosa oral Tahap pertama yaitu tahap
(Anonim, 1993), yaitu hewan uji dibebani pembentukan asam glukonat dari glukosa
glukosa untuk melihat pengaruh terhadap dengan katalis enzim glukosa oksidase
toleransi glukosa tanpa merusak pankreas (GOD). Reaksi tersebut juga
hewan uji. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan senyawa lain yaitu (H2O2)
melihat adanya kemampuan penurunan hidrogen peroksidase. Tahap kedua
kadar glukosa darah (hipoglikemik) dari adalah pembentukan senyawa kuinonimin
infusa biji mahoni terhadap kadar glukosa dengan fenol dan 4-aminoantipirin
darah kelinci jantan yang dibebani dengan bantuan katalis enzim
glukosa. peroksidase yang intensif berwarna
Untuk mengetahui kadar glukosa merah. Reaksi pembentukan senyawa
darah kelinci dilakukan dengan cara kuinonimin pada reaksi glukosa dengan
mengambil cuplikan darah dari vena menggunakan reagen GOD PAP
lateralis telinga kelinci. Darah yang
diambil adalah darah dari kelinci yang Data kadar glukosa darah dibuat
sebelumnya telah dipuasakan terlebih kurva hubungan antara kadar glukosa
dahulu antara 20-24 jam yang darah (mg/dl) per satuan waktu (menit).
dimaksudkan untuk mengurangi Kemudian dihitung “Area Under Curve0-
pengaruh masukan makanan pada kadar 240” atau AUC0-240 dari masing-masing
glukosa darah kelinci dan diberi minum hewan uji tiap kelompok. Parameter nilai
sampai libitum untuk mengembalikan AUC0-240 menggambarkan jumlah glukosa
cairan tubuh kelinci yang hilang selama yang mencapai sirkulasi sistemik pada
pengambilan cuplikan darah. menit ke 0 sampai menit ke 240. Nilai
Darah yang diambil ditampung AUC0-240 kadar glukosa darah berbanding
pada tabung mikrotube 1,5 ml yang diberi terbalik dengan efek penurunan kadar
EDTA yang berfungsi sebagai glukosa darah dari sediaan uji, semakin
antikoagulan atau untuk mencegah kecil nilai AUC menunjukkan kadar

8
Tabel 2. Purata Kadar Glukosa Darah Tiap Kelompok Pada Waktu Tertentu (n=3)
Waktu Purata kadar glukosa darah ± SE (mg/dl)
(menit I II III IV V
)
P 120,67 ± 1,76 118 ± 6,81 109,33 ± 2,40 81,00 ± 2,64 106,66 ± 2,90
0 123,33 ± 6,57 137 ± 9,54 78,66 ± 8,45 75,33 ± 3,28 98, 66 ± 2,40
30 234 ± 7,81 135,67 ± 9,56 122,00 ± 26,51 117,33 ± 14,33 128,66 ± 4,91
60 255,33 ± 3,28 152,67 ± 4,91 139,00 ± 30,61 140,33 ± 16,04 168,33 ± 10,74
90 228 ± 7,64 145,33 ± 3,71 140,00 ± 21,54 126,33 ± 11,31 151,33 ± 8,35
120 200,33 ± 13,98 129,67 ± 11,61 143,00 ± 8,96 117,66 ± 8,95 130,66 ± 10,02
180 120,67 ± 2,60 119 ± 1,15 131,00 ± 6,17 104,66 ± 9,33 111,66 ± 9,93
240 101,33 ± 2,03 109,33 ± 2,40 131,00 ± 3,52 98,00 ± 9,23 106,33 ± 7,68
Keterangan:
P :kadar glukosa darah III : Perlakuan dosis I (0,054g
puasa /kg BB)
SEM : Standart Error of Mean IV :Perlakuan dosis II
I : Perlakuan kontrol negatif (0,108g/kgBB)
(aquadest) V :Perlakuan dosis III
II : Perlakuan kontrol positif (0,216g/ 1,5kgBB)
(glucobay)
glukosa darah semakin kecil pula, Purata nilai AUC0-240 dari masing-
yang dapat diartikan efek penurunan kadar masing hewan uji tiap kelompok
glukosa darahnya semakin besar. Profil disajikan dalam tabel 3
kurva kadar glukosa darah rata-rata
(mg/dl) versus waktu (menit) dapat dilihat Tabel 3. Purata Nilai AUC0-240 ± SEM
pada gambar 1. Kelompok Perlakuan (n=3)
Perlakuan AUC0-240 ± SEM
300 Kontrol (menit mg/dl)
+
Kontrol - Kontrol negatif 42665 ± 674,85
200
Kadar (mg/ dl)

Dosis I Kontrol positif 31320 ± 1080,55


100
Dosis II Dosis 2,7 gram/100 ml 30625 ± 3164,99
0
Dosis III Dosis 5,4 gram/100 ml 27265 ± 1685,44
30
60
90
0

120
150
180
210

Waktu (menit)
Gambar 1. Kurva Kadar Glukosa Darah yang
Dosis 10,8 gram/100 ml 30700 ± 1907,62
Diberi Infusa Biji Mahoni Versus Waktu (n=3)

9
Data berupa kadar glukosa darah, signifikan. Karena terjadi perbedaan yang
selanjutnya dilakukan uji statistik dengan signifikan dilanjutkan LSD (Least
uji ANAVA satu jalan dengan taraf Significant Different) dengan taraf
kepercayaan 95 % antara kadar puasa kepercayaan 95 % dan hasilnya disajikan
dengan kadar pada menit ke – 0. Hasil dalam tabel 4.
yang diperoleh menunjukkan berbeda
tidak bermakna dengan nilai p = 0,577 (p Tabel 4. Hasil LSD Post Hoc Least
> 0,05). Artinya AUC dapat dihitung Significant Differrent (LSD)
langsung dengan asumsi perhitungan Antar Harga Hasil uji statistik
dimulai pada titik yang sama ( mulai kelompok p data AUC 0- 240
menit ke – 0) sehingga dapat perlakuan
membandingkan penurunan kadar I-II 0,002 Berbeda bermakna
glukosa darahnya. I-III 0,001 Berbeda bermakna
Data yang telah diperoleh berupa I-IV 0,000 Berbeda bermakna
AUC0-240 dianalisis menggunakan uji I-V 0,001 Berbeda bermakna
distribusi dengan Kolmogorov-Smirnov 0,802 Berbeda tidak
II-III
dan uji homogenitas dengan Levene bermakna
Statistic. Kemudian dilanjutkan dengan 0,163 Berbeda tidak
II-IV
uji ANAVA satu jalan kemudian bermakna
dilanjutkan dengan Post Hoc LSD dengan 0,823 Berbeda tidak
II-V
taraf kepercayaan 95%. Pengolahan data bermakna
menggunakan program statistik SPSS for 0,240 Berbeda tidak
III-IV
Windows versi 12.0 bermakna
Hasil uji distribusi dengan 0,978 Berbeda tidak
Kolmogorov-Smirnov didapatkan hasil III-V
bermakna
p = 0,746 artinya sampel tersebut diambil 0,231 Berbeda tidak
dari populasi yang berdistribusi normal. IV-V
bermakna
Kemudian dilanjutkan uji homogenitas Jika P<0,05 berbeda bermakna, jika
dengan Levene Statistic dan didapatkan P>0,05 tidak berbeda bermakna
hasil p =0,277 artinya sampel tersebut Keterangan
homogen. Kemudian dilanjutkan uji I : Kontrol negatif berupa aquadest
anava 1 jalan dengan taraf kepercayaan (3 ml/kgBB)
95 % dan didapatkan hasil p = 0,002
artinya terdapat perbedaan yang
10
II : Kontrol positif glucobay (2,33 Data prosentase penurunan kadar
mg/kgBB) glukosa darah (%PKGD) di uji statistik
III : Perlakuan dosis I (0,054g /kg menggunakan uji anava satu jalan dengan
BB) taraf kepercayaan 95%. Hasil yang
IV : Perlakuan dosis II diperoleh menunjukkan hasil berbeda
(0,108g/kgBB) tidak bermakna p= 0,253 (p>0,05),
V : Perlakuan dosis III artinya semua dosis pemberian tidak
(0,216g/kgBB) memiliki perbedaan yang berarti dalam
setiap dosis. Setelah itu dianalisis
Prosentase penurunan kadar menggunakan uji distribusi dengan
glukosa darah (% PKGD) setiap kolmogorv-smirnov dan uji homogenitas
perlakuan dihitung dengan mengurangi didapati hasil p= 0, 653.
nilai AUC0-240 kontrol negatif dengan Analisis diatas berarti dosis
AUC0-240 perlakuan, kemudian hasilnya tersebut mempunyai efek yang sama
dibagi AUC0-240 kontrol negatif dan dengan glucobay. Kelompok antar dosis
dikalikan 100 %. Perhitungan (kelompok III, IV dan V) menunjukkan
prosentase penurunan kadar gula darah hasil perbedaan tidak bermakna, berarti
disajikan dalam tabel 5. ketiga dosis tersebut mempunyai
kemampuan yang sama dalam
Tabel 5 . Perhitungan Penurunan menurunkan kadar glukosa darah.
Kadar Gula Darah Penelitian ini belum diketahui
secara pasti senyawa yang berefek dari
Kelompok Penurunan kadar infusa biji mahoni. Beberapa senyawa
gula darah yang terkandung dari biji mahoni adalah
Kontrol Positif 26,62 ± 1,60 adalah saponin dan flavonoid (Joker,
Dosis I (54mg /kg 27,98 ± 8,36 2001).
BB) Literatur ada yang menyebutkan
Dosis II (108mg/kg 35,18 ± 2,45 bahwa ekstrak etanol biji mahoni dosis
BB) 3,2 mg/100g BB tikus Wistar setara
Dosis III (216mg/ kg 27,89 ± 5,36 dengan dosis 16,64mg/kgBB kelinci
BB) dapat menurunkan kadar glukosa darah
pada tikus normal yang dibebani glukosa
(Masjhoer, 2002).

11
KESIMPULAN jawab terhadap efek penurunan kadar
Berdasarkan penelitian uji glukosa darah.
farmakologis infusa biji mahoni 2. Perlu diteliti lebih lanjut tentang
(Swietenia macrophylla King) dapat pengaruh infusa biji mahoni
ditarik kesimpulan bahwa: (Swietenia macrophylla King)
Infusa biji mahoni dosis I (54mg terhadap penurunan kadar glukosa
/kg BB), dosis II (108mg/kg BB), dosis darah pada hewan uji diabetes dengan
III (216mg/ kg BB) dapat menurunkan metode pembedahan pankreas.
kadar glukosa pada kelinci dengan
persentase 27,98%; 35,18% dan 27,89% UCAPAN TERIMAKASIH
sedangkan untuk glucobay sebesar 1. Ucapan terimakasih kepada
26,62%. pembimbing dr. Em Sutrisna
M.Kes dan Rima Munawaroh
SARAN S.Si, Apt.
1. Perlu diteliti lebih lanjut terhadap 2. Ucapan terimakasih kepada
senyawa-senyawa yang terkandung semua pihak yang telah
dalam infusa biji mahoni (Swietenia membantu terlaksananya
macrophylla King) yang bertanggung penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2008, Penderita kencing manis di Indonesia urutan ke-4 di dunia,
(http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=937&Itemid
=2 diakses 1 Maret 2008).
Soedibyo, M, 1998, Alam Sumber Kesehatan manfaat dan kegunaan, 79, Balai Pustaka,
Jakarta.

Anonim, 2005, Mahoni, Pohon Pelindung dan Fitofarmaka (online), (http://www.pikiran-


rakyat.com/cetak/2005/0805/04/cakrawala/lain02.htm, diakses 13 Oktober 2007).

Hariana, A., 2005, Tumbuhan Obat dan Khasiatnya, Seri 2, 110, Penebar Swadaya,
Jakarta.
Backer, C. A., and Van Den Brink, B. R. C., 1965, Flora of Java (Spermatophytes only),
Vol. 1, N.V.P, Noordh off Groningen the Netherlands.

12