Anda di halaman 1dari 5

No Soal Skor

1. a). Perhatikan tabel Penyebaran Jawaban pada evaluasi Formatif di bawah ini:
Nama Penguasaan Tujuan Pembelajaran No Keterangan
No
Siswa 1 2 3 4 5 10
01 Agus + - + - +
02 Adi + - + - + +:Tujuan sudah
03 Dewi + - + + + tercapai
04 Delita - - - - +
05 Desi + + - + + -: Tujuan belum
06 Ina + + - + + tercapai
07 Intan + + - + +
08 Nanik + + - + +
09 Roi + - - - -
10 Rita + + + + +
Dari tabel di atas coba anda telaah apa yang terjadi pada tabel itu (misal berapa
tujuan esensial, berapa tujuan tercapai atau tidak tercapai, dll) dan apa
tindakan kita sebagai guru ?
b). Materi yang ada di KTSP merupakan materi minimal yang harus diberikan oleh
guru. Agar materi tersebut dapat diberikan kepada siswa sesuai kondisi
lingkungan dan daerah maka anda perlu melakukan analisis konteks. Jelaskan
kegunaannya?

2. Perhatikan gambar di bawah ini: 20


Pertanyaan:
Jelaskan keterkaitan antara evaluasi, tes,
pengukuran dan penilaian!

3. Jelaskan syarat dan jenis alat evaluasi hasil belajar IPA di SD dengan benar! 20

4. Jelaskan langkah-langkah penyusun alat evaluasi proses belajar IPA di SD ! 20

5. Apa yang dimaksud KTSP dan landasan aturannya?


30

Jawaban.

1. a. Dari tabel penyebaran lebih dari 50 persen sudah mencapai penguasaan dari tujuan
pembelajaran. Selebihnya belum tercapai. Hal perlu dilakukan agar guru mengadakan
evaluasi mencari kelemahan-kelemahan dalam menyampaikan materi pembelajaran,
sehingga guru dapat menggunakan strategii-strategi pembelajaran sehingga akan
mendapatkan hasil yang lebih baik dari proses pembelajaran tersebut
b. Analisis konteks berguna untuk menentukan posisi dan keadaan suatu lembaga dalam
menyelenggarakan pendidikan sekaligus menjadi dasar dalam menentukan visi,   misi, 
tujuan   dan   rencana   strategis   yang   akan   disusun   dan dilaksanakan, termasuk
kurikulum yang dikembangkan dengan keunggulan kompetitif dan komparatifnya.
analisis konteks dimaksudkan agar satuan pendidikan memperoleh gambaran secara
objektif tentang status kondisi atau keadaannya dalam menyelenggarakan kegiatan
pendidikan. Sehingga penyelenggaraan pendidikan di sekolah akan efektif dan berjalan
dengan baik.

2.Hubungan antara tes, pengukuran, dan evaluasi berdasarkan gambar


tersebut adalah sebagai berikut : evaluasi belajar baru dapat dilakukan
dengan baik dan benar apabila menggunakan informasi yang diperoleh
melalui pengukuran yang menggunakan tes sebagai alat ukurnya. Akan
tetapi tentu saja tes hanya merupakan salah satu alat ukur yang dapat
digunakan karena informasi tentang hasil belajar tersebut dapat pula
diperoleh tidak melalui tes, misalnya menggunakan alat ukur non tes
seperti observasi, skala rating, dan lain-lain. Guru mengukur berbagai
kemampuan siswa, apabila guru melangkah lebih jauh dalam
menginterpretasikan skor sebagai hasil pengukuran tersebut dengan
menggunakan standar tertentu untuk menentukan nilai atas dasar
pertimbangan tertentu, maka kegiatan guru tersebut telah melangkah
lebih jauh menjadi evaluasi, (Zainul : 2001). Untuk mengungkapkan
hubungan antara asesmen dan evaluasi, Gabel (1993) mengungkapkan
bahwa evaluasi merupakan proses pemberian penilaian terhadap data
atau hasil yang diperoleh melalui asesmen. Sementara itu menurut Wilda
(2010) hubungan antara tes, pengukuran, dan evaluasi adalah siswa dapat
diukur kemampuannya melalui tes yang sesuai dengan jenjang atau
tingkat kemampuan serta perkembangan dari proses pembelajaran yang
telah dialami siswa tersebut. Setelah kemampuan siswa diukur dan dinilai,
mereka dapat dievaluasi berdasarkan data-data dari pengukuran dan
penilaian tersebut. Penilaian dapat dilakukan baik secara formal maupun
secara informal. Semua tes adalah penilaian formal, tetapi tidak semua
penilaian formal merupakan tes.

2. Alat ukur yang baik hendaklah memenuhi beberapa syarat-syarat, antara


lain :

1. Valid

Suatu alat ukur dikatakan valid atau mempunyai validitas yang tinggi apabila
alat ukur itu betul-betul mengukur apa yang ingin diukur.

2. Reliabel

Suatu tes yang sahih/valid adalah reliabel, tetapi suatu tes yang reliabel belum
tentu valid. Reliabilitas suatu tes menunjuk kepada ketetapan konsistensi,
atau stabilitas hasil tes/suatu ukuran yang dilakukan.

3. Objektif

Penskor hendaknya menilai/menskor apa-adanya, tanpa dipengaruhi oleh


subjektif penskor atau faktor-faktor lainnya diluar yang tersedia.
4. Praktis (Mudah dan murah)

Suatu alat ukur dikatakan praktis apabila biaya alat ukur itu murah.
Disamping itu, alat tersebut mudah diadministrasikan, mudah diskor, dan
mudah diinterprestasikan.

5. Norma

Dalam hal ini norma diartikan sebagai patokan kriteria atau ukuran yang digunakan
untuk menentukan dalam pengambilan keputusan.

Jenisnya adalah:

a. Validitas

Suatu tes atau alat ukur dikatakan valid apabila tes/alat ukur tersebut benar-benar
mengukur objek yang hendak diukurnya. Semakin tinggi validitas suatu alat ukur
semakin baik alat ukur itu untuk digunakan.

b. Reliabilitas

Suatu alat ukur dikatakan reliabel, apabila alat ukur itu dicobakan kepada objek
atau subjek yang sama secara berulang-ulang, maka hasilnya akan tetap sama atau
relatif

c. Pratikalitas

d. Objektivitas

Salah satu syarat dalam menyusun suatu tes adalah objektivitas dengan
manifestasinya. Dengan syarat ini seseorang diharuskan tidak melakukan penipuan
atau berbuat bohong. 

Untuk alat hasil penilaiannya adalah :

- Teknik Tes

Tes ini ada yang diberikan secara lisan (menuntut jawaban secara lisan), ada tes
tulisan (menuntut jawaban secara tulisan), dan ada tes tindakan (menuntut jawaban
dalam bentuk perbuatan). Soal-soal tes ada yang disusun dalam bentuk objektif,
ada juga yang dalam bentuk esai atau uraian.

- Teknik bukan tes (Non tes)


Hasil belajar dan proses tidak hanya dinilai oleh tes, tetapi juga dapat dinilai oleh
alat-alat non tes atau bukan tes, seperti wawancara,Kuisioner.

4. Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan evaluasi


pembelajaran yaitu :

1. Langkah Perencanaan

Tidak akan berlebihan kiranya kalau diketahui di sini bahwa, sukses yang
akan dapat dicapai oleh suatu program evaluasi telah turut ditentukan oleh
memadai atau tidaknya langkah-langkah yang dilaksanakan dalam
perencanaan ini. Sukses atau tidaknya suatu program evaluasi pada
hakikatnya turut menentukan oleh baik tidaknya perencanaan.

2. . Langkah pengumpulan data

Soal pertama yang kita hadapi dalam melakukan langkah ini ialah
menentukandata apa saja yang kita butuhkan untuk melakukan tugas evaluasi
yang kita butuhkan untuk melakukan tugas evaluasi yang kita hadapi dengan
baik.

3. Langkah penelitian data

Data yang telah terkumpul harus disaring lebih dahulu sebelum diolah lebih
lanjut, proses penyaringan ini kita sebut penelitian data atau verifikasi data
dan maksudnya ialah untuk memisahkan data yang “baik” yang akan dapat
memperjelas gambaran yang akan kita peroleh mengenai individu yang
sedang kita evaluasi, dari data yang kurang baik yang hanya akan merusak
atau mengaburkan gambaran yang akan kita peroleh apa bila turut kita olah
juga.

4. Langkah-langkah pengolahan data

Langkah pengolahan data dilakukan untuk memberikan “makna” terhadap


data yang pada kita. Jadi hal ini berarti bakwa tanpa kita olah, dan diatur
lebih dulu data itu sebenarnya tidak dapat menceritakan suatu apapun kepada
kita

5. Langkah penafsiran data

Kalau kita perhatikan segenap uraian yang telah di sajikan mengenai langkah
data tadi akan segera tampak pada kita bahwa memisahkan langkah
penafsiran dari langkah pengolahan sebenarnya merupakan suatu pemisahan
yang terlalu dibuat-buat.

6. Langkah meningkatkan daya serap peserta didik


Hasil pemikiran memiliki fungsi utama untuk memperbaiki tingkat
penguasaan peserta didik. Hasil pengukuran secara umum dapat dikatakan
bisa membantu, memperjelas tujuan instruksional, menentukan kebutuhan
peserta didik, dan menentukan keberhasilan peserta didik dalam suatu proses
pembelajaran

7. Laporan hasil penelitian

Pada akhir penggal waktu proses pembelajaran, antara lain akhir catur wulan,
akhir semester, akhir tahun ajaran, akhir jenjang per sekolahan, diperlukan
suatu laporan kemajuan peserta didik, yang selanjutnya merupakan laporan
kemajuan sekolah. Laporan ini akan memberikan bukti sejauh mana
pendidikan yang diharapkan oleh anggota masyarakat khususnya orang tua
peserta didik dapat tercapai.

5. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau Kurikulum 2006 adalah


sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun oleh, dan
dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan di Indonesia.
KTSP secara yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan. Penyusunan KTSP oleh sekolah dimulai tahun ajaran
2007/2008 dengan mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi
Lulusan (SKL) untuk pendidikan dasar, dan menengah sebagaimana yang
diterbitkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional masing-masing
Nomor 22 Tahun 2006, dan Nomor 23 Tahun 2006, serta Panduan
Pengembangan KTSP yang dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional
Pendidikan.

Anda mungkin juga menyukai