Anda di halaman 1dari 24

Nama :Naviatul ulfa

NIM :
1813101010026

Skenario
3:

Tim peneliti melakukan survei ke lapangan untuk mendapatkan data epidemiologi kesehatan gigi
dan mulut di masyarakat. Tim peneliti melakukan pengukuran angka kejadian karies, jaringan
periodontal, dan kebersihan rongga mulut. Data hasil survey menunjukkan indeks pengukuran
karies, jaringan periodontal, dan kebersihan rongga mulut yang buruk. Hasil pengukuran derajat
kesehatan gigi dan mulut di masyarakat sangat dibutuhkan untuk menyusun program dalam
meningkatkan kesehatan gigi dan mulut.

I. Identifikasi Istilah Asing


-
II. Identifikasi Masalah
- Tim peneliti melakukan survey untuk mendapatkan data kesehatan gigi dan
mulut di masyarakat dengan melakukan :
- pengukuran angka kejadian karies, jaringan periodontal, dan
kebersihan rongga mulut.
- Data hasil survey :
- Indeks pengukuran karies buruk
- Indeks pengukuran jar. Periodontal buruk
- Kebersihan rongga mulut buruk
- Data hasil pengukuran yang didapatlan tersebuat akan digunakan untuk
menyusun program dalam meningkatkan kesehatan gigi dan mulut masyarakat

III. Analisis Masalah


- Apa saja jenis pengukuran angka kejadian karies?
- Apa saja indeks pengukuran kejadian karies?
- Apa saja jenis pengukuran kebersihan mulut?
- Apa saja indeks pengukuran kebersihan rongga mulut?
- Apa saja jenis pengukuran jaringan periodontal?
- Apa saja indeks pengukuran jaringan periodontal?
- Bagaimana cara mengolah hasil pengukuran menjadi sebuah program untuk
meningkatkan kesehatan gigi dan mulut?
- Bagaimanakah cara melakukan pengukuran kualitas hidup?
- Bagaimana indeks pengukuran kualitas hidup?

IV. Strukturisasi

pengukuran
kesehatan gigi
dan mulut

jenis Pengukuran
Ìndeks
kesehatan gigi
Pengukuran
dan mulut

kebersihan jaringan
karies kualitas hidup
mulut periodontal

V. Learning Objective
A. Epidemiologi Lanjut
1. Jenis pengukuran karies
2. Indeks pengukuran karies
3. Jenis pengukuran kebersihan rongga mulut
4. Indeks pengukuran kebersihan rongga mulut
5. Jenis pengukuran jaringan periodontal
6. Indeks pengukuran jaringan periodontal
7. Jenis pengukuran kualitas hidup
8. Indeks pengukuran kualitas hidup
B. Pengolahan data hasil pengukuran SIM
A. EPIDEMIOLOGI LANJUT
1. JENIS PENGUKURAN KARIES
a. Decayed, Missing and Filled Teeth (DMFT) Index
DMFT secara numerik menyatakan prevalensi karies dan diperoleh dengan
menghitung jumlah teeth (T) yang mengalami Decayed (D), Missing (M), Filled (F).
Criteria for Recording: Decayed (D):
- Bila terdapat karies gigi dan restorasi pada gigi yang sama, gigi tersebut dicatat
sebagai D
- Bila mahkota patah karena karies, dicatat sebagai D.
- Gigi dengan restorasi sementara
 Missing (M):
- Ketika gigi telah dicabut karena karies gigi
- Ketika gigi karies, tidak dapat direstorasi dan diindikasikan untuk ekstraksi.
 Filled (F):
- Restorasi permanen dicatat sebagai F
b. Indeks DMFS
Indeks DMFS menilai jumlah total permukaan gigi yang terpengaruhketimbang gigi.
Ini adalah indeks yang lebih rinci di manaDMF dihitung per permukaan gigi. Aturan
DMFS, metode, dan kriteria sama dengan indeks DMFT tetapiseluruh permukaan gigi
diperiksa dalam indeks DMFS.

- Permukaan Diperiksa
Gigi anterior: Empat permukaan diperiksa; fasial, lingual, Mesial dan Distal.
Gigi posterior: Lima permukaan diperiksa; fasial, lingual, mesial, distal dan Oklusal.
Nilai maksimum untuk DMFS mencapai 128 untuk 28 gigi.
Gigi posterior: 16 dengan 5 permukaan, masing-masing: 16 × 5 = 80
Gigi anterior: 12 dengan 4 permukaan, masing-masing: 12 × 4 =
Jumlah = 128 permukaan.
Marya B. CM. 2011. Textbook Of Public Health Dentistry. 1st Edition.Jaypee Brothers Medical
Publishers (P) Ltd. New Delhi. (Hal 205-206)

2. INDEKS PENGUKURAN KARIES


a. DMFT INDEKS

Skor DMFT = Jumlah ketiga angka tersebut membentuk nilai DMFT.


DMFT individu = Jumlahkan setiap komponen secara terpisah yaitu total D,
total M, total F. Total D + M + F = DMF SCORE
Rata-Rata Grup =
1. Jumlahkan D, M dan F untuk setiap individu
2. Bagi total DMF dengan jumlah individu yang diperiksa.
3. Rata-rata DMF =

b. Menghitung DMFS == Individu


o Jumlah total permukaan yang membusuk =D
o Jumlah total permukaan yang hilang =M
o Jumlah total permukaan yang terisi =F
o Total skor DMFS untuk seorang individu = D +M+ F(permukaan)
o Ini adalah indeks yang lebih tepat tetapi membutuhkan waktu lebih lama
untuk melakukannya.
c. Indeks DEFT
d = decayed primary teeth
e = extracted tooth/indicated for extraction (due to caries)
f = filled teeth/surfaces
o dmft: 20 teeth are evaluated (all the primary teeth are included).
o dmfs: 88 permukaan
- Posterior teeth: 8 gigi × 5 permukaan = 40 Permukaan
- Anterior teeth: 12 gigi × 4 surfaces = 48 Permukaan

Kriteria :
• Sangat rendah : <1,2
• Rendah : 1,2-2,6
• Sedang : 2,7-4,4
• Tinggi : 4,5 – 6,5
• Sangat tinggi : >6,5

Anchala, Karthik. Assessment of dental caries in primary dentition employing caries assessment
spectrum and treatment index. 2016 Journal of Orofacial Sciences. P.2
Marya B. CM. 2011. Textbook Of Public Health Dentistry. 1st Edition.Jaypee Brothers Medical
Publishers (P) Ltd. New Delhi. (Hal 205-206)

3. JENIS PENGUKURAN KEBERSIHAN RONGGA MULUT


1. Oral hygiene inddeks (OHI)
Diperkenalkan oleh John C Greene dan Jack R Vermillion (1960), pengukuran ini Terdiri
dari debris indeks dan kalkulus indeks. Untuk penilaian klinis, gigi dibagi 4 sekstan yaitu
permukaan fasial dan bukal disetiap sektan dengan jumlah debris dan kalkulus terbanyak

Kelebihan OHI :
- Sensitivitas untuk refleksi efesiensi menyikat gigi dan kaitan antara kebersihan oral dan
penyakit periodontal.
- Mudah untuk digunakan dalam suatu kelompok atau individu.
- Tools yang berguna untuk monitoring dan evaluasi program oral maintenance.
- Dapat memeriksa sikap individual dan efektivitas menyikat gigi dalam praktik oral
hygiene.

Keterbatasan OHI :
- Eror pemeriksaan intra maupun inter pemeriksa
- Karena memakan waktu, tak efektif digunakan untuk survey epidemiologi
- Pemeriksaan semua permukaan gigi yang ada di rongga mulut (walaupun hanya 12
permukaan diskor) sangat memakan waktu.

2. Simplified Oral Hygiene Index (OHI-S)


Diperkenalkan oleh John C. Greene dan Jack R. Vermillion pada tahun 1964.
perbedaannya dengan ohi adalah skor jumlah permukaan gigi [6 daripada 12], metode
pemilihan permukaan gigi yang akan diberi skor, nilai yang bisa diperoleh.
- Pemilihan Gigi
 6 permukaan yang diperiksa untuk OHI-S dipilih dari 4 gigi posterior dan 2 gigi
anterior.
○ Pada gigi posterior, gigi pertama yang erupsi sempurna di distal P2, biasanya
M1 tapi kadang molar 2/3, diperiksa di setiap sisi setiap lengkung.
○ Di bagian anterior, insisivus sentral kanan atas (11) dan insisivus sentral kiri
bawah (31) diberi skor.
○ Jika salah satu dari gigi anterior ini tidak ada, digantikan gigi seri sentral di sisi
berlawanan dari midline.
○ Hanya gigi permanen yang erupsi sempurna yang diberi skor. Sebuah gigi
dianggap erupsi sepenuhnya ketika permukaan oklusal atau incisal telah
mencapai bidang oklusal
○ Gigi asli dengan restorasi mahkota penuh dan permukaan yang berkurang
ketinggiannya karena karies atau trauma tidak diberi skor. Sebagai gantinya, gigi
pengganti diperiksa.
- Permukaan yang akan dilihat
 Enam permukaan diperiksa [dari 4 gigi posterior dan 2 gigi anterior].

- Molar atas : Permukaan bukal gigi yang dipilih diperiksa.


- Molar bawah : Permukaan lingual gigi yang dipilih diperiksa.

- Incisivus sentral atas dan bawah 1 : permukaan labial diberi skor.

3. PATIENT HYGIENE PERFORMANCE INDEX


Ini dikembangkan oleh Podshadley AG, dan Haley JV (1968) untuk menilai luasnya plak dan
debris pada permukaan gigi sebagai indikasi kebersihan mulut. Debris untuk PHP
didefinisikan sebagai bahan asing lunak yang terdiri dari plak bakteri, dan sisa makanan yang
menempel pada permukaan gigi.

o Pergantian Gigi yang Hilang


o Molar kedua digunakan apabila molar pertama
- Hilang
- Kurang dari tiga perempat erupsi
- Memiliki mahkota penuh
- Patah
- Molar ketiga digunakan jika molar kedua hilang.
- Gigi seri yang berdekatan dari sisi yang berlawanan digunakan, bila gigi seri
tengah hilang.

CM Marya. Textbook of Public Health Dentistry.2011. India : Jaypee Brothers. P : 189 – 192

4. INDEKS PENGUKURAN KEBERSIHAN RONGGA MULUT


A. PLAQUE INDEKS
 Keringkan gigi dan periksa secara visual menggunakan cahaya yang cukup, kaca mulut,
dan probe atau explorer. Evaluasi plak bakteri pada sepertiga serviks; tidak
memperhatikan plak yang telah meluas ke sepertiga tengah atau insisal. Probe untuk
menguji permukaan ketika tidak ada plak yang terlihat. Lewatkan probe atau explorer
melintasi permukaan gigi sepertiga servikal dan dekat pintu masuk sulkus. Ketika tidak
ada plak yang menempel pada ujung probe, area tersebut diberi skor 0. Ketika plak
menempel, skor 1 diberikan.
 Gunakan disclosing agent, jika perlu, untuk membantu evaluasi skor 0 hingga 1. Ketika
indeks Plak digunakan bersama dengan indeks gingiva (GI), GI harus diselesaikan
terlebih dahulu karena agen pengungkap menutupi karakteristik gingiva.
 Sertakan plak pada permukaan kalkulus dan pada restorasi gigi di sepertiga servikal
dalam evaluasi.

Kriteria

0 = Tidak ada plak

1 = Lapisan plak yang menempel pada margin gingiva bebas dan area sekitarnya dari gigi.
Plak dapat dikenali hanya setelah aplikasi agen pengungkap atau dengan menjalankan
explorer di permukaan gigi.

2 = Akumulasi sedang dari deposit lunak di dalam poket gingiva yang dapat dilihat dengan
mata telanjang atau pada gigi dan gingival batas.

3 = Banyaknya materi lunak di dalam poket gingiva dan/atau gigi dan margin gingiva.

SCRORING

a. PlI untuk area: Setiap area (distal, facial, mesial, lingual, atau palatal) diberi skor dari
0 hingga 3.
b. PlI untuk gigi: Skor untuk setiap area dijumlahkan dan dibagi 4.
c. PlI untuk kelompok gigi: Skor untuk masing-masing gigi dapat dikelompokkan dan
dijumlahkan dan dibagi dengan jumlah gigi. Misalnya, PlI dapat ditentukan untuk
gigi atau kelompok gigi tertentu. Sisi kanan dapat dibandingkan dengan kiri.
d. PlI untuk individu: Tambahkan skor untuk setiap gigi dan bagi dengan jumlah gigi
yang diperiksa. Skor PlI berkisar dari 0 hingga 3.
e. Skala nominal yang disarankan untuk referensi pasien:
f. PlI untuk grup: Tambahkan skor untuk setiap anggota grup dan bagi dengan jumlah
individu.
B. PATIENT HYGIENE PERFORMANCE (PHP) INDEX
 Terapkan agen pengungkap. Anjurkan pasien untuk berkumur selama 30 detik dan buang
air besar tetapi tidak untuk berkumur.
 Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan kaca mulut.
 Setiap permukaan gigi yang akan dievaluasi dibagi menjadi 5 bagian sebagai berikut:

(Gambar 12.1 dan 12.2).

Gambar 12.1: Pembagian PHP untuk gigi anterior atas

Gambar 12.2: Pembagian PHP untuk gigi anterior bawah

- Vertikal: Tiga divisi—mesial, tengah, distal.


- Horizontal: Sepertiga tengah dibagi menjadi sepertiga gingiva, tengah, dan oklusal atau
insisal.

Masing-masing subdivisi dinilai untuk keberadaan puing-puing bernoda sebagai berikut:

0 = Tidak ada kotoran


1 = pasti ada DEBRIS

Identifikasi dengan M ketika ketiga gigi geraham atau kedua gigi seri hilang.

Identifikasi dengan S ketika gigi pengganti digunakan

SCORING

a. Skor untuk masing-masing gigi: Tambahkan skor untuk masing-masing dari 5 subdivisi.
Skor berkisar dari 0 hingga 5.
b. Skor untuk individu: Jumlahkan skor untuk masing-masing gigi dan bagi dengan jumlah
gigi yang diperiksa. Skor berkisar 0 sampai 5.
c. Untuk mendapatkan skor rata-rata untuk suatu kelompok, jumlahkan skor individu dan
bagi dengan jumlah individu yang diperiksa.

Skala Nominal yang Disarankan

C. ORAL HYGIENE INDEX (OHI)

Cara pemeriksaan:

Sisi explorer nomor 23 dipindahkan dari insisal ke ujung servikal. Gunakan explorer untuk
melengkapi pemeriksaan visual untuk deposit kalkulus supragingiva. Identifikasi deposit
subgingiva dengan menempatkan dental explorer secara perlahan ke dalam celah gingiva
distal dan menariknya secara subgingiva dari area kontak distal ke area kontak mesial. Skor
maxium per sekstan yang akan diperiksa pada aspek bukal dan lingual untuk setiap segmen
(Gambar 12.3 dan 12.4).

Gambar 12.3: Kriteria O'Leary pembagian rongga mulut menjadi sextants

Maksila (Rahamg atas)


- Segmen 1: Segmen di sebelah distal   dari cuspid kanan.
- Segmen 2: kaninus  kanan atas   hingga kaninus kiri atas.
- Segmen 3: Segmen di sebelah distal   cuspid kiri.

Mandibula (rahang bawah)


- Segmen 4: Segmen di sebelah distal cuspid kiri
- Segmen 5: Kaninus kiri bawah ke kaninus kanan bawah.
- Segmen 6: Segmen di sebelah distal dari titik puncak kanan.

SCORING DEBRIS
0 = tidak ada debris atau stain
1 = Debris lunak tidak lebih dari 1/3 permukaan gigi, atau adanya stain ekstrinsik tanpa debris
lain dari permukaan gigi
2 = Debris yang menutupi lebih dari 1/3 permukaan, tetapi tidak melebihi 2/3 permukaan gigi
3 = Debris menutupi lebih dari 2/3 permukaan gigi

SCORING KALKULUS
0 = tidak ada kalkulus
1 = Kalkulus supragingiva  menutupi lebih dari 1/3 permukaan, tetapi tidak melebihi 2/3
permukaan gigi dan atau adanya flek kalkulus subgingiva di serviks gigi
2 = Kalkulus supragingiva menutupi lebih dari 2/3 permukaan gigi dan atau pita kalkulus
subgingiva disekitar serviks gigi.

oral hygiene index = debris index + calculus index 

Skor sempurna adalah 0


Skor terburuk adalah 12

D. SIMPLIFIED ORAL HYGIENE INDEX (OHI-S)


Rekam Skor Debris dan Skor Kalkulus

1. Rekam skor debris

- Definisi Oral Debris: Oral debris adalah benda asing lunak pada permukaan gigi yang
terdiri dari plak bakteri, material alba, dan sisa-sisa makanan.
- Pemeriksaan: Dental explorer ditempatkan pada sepertiga insisal gigi dan digerakkan
ke arah sepertiga gingival sesuai dengan kriteria.
- Kriteria:
0 = Tidak ada debris atau stain.

1 = Debris lunak menutupi tidak lebih dari sepertiga permukaan gigi yang diperiksa,
atau adanya stain ekstrinsik tanpa debris, terlepas dari luas permukaan yang tertutup.
2 = Debris lunak menutupi lebih dari sepertiga tetapi tidak lebih dari dua pertiga
permukaan gigi yang terbuka.

3 = Debris lunak menutupi lebih dari dua pertiga permukaan gigi yang terbuka.

2. Rekam skor kalkulus

- Definisi kalkulus: Kalkulus gigi adalah deposit keras dari garam anorganik yang
terutama terdiri dari kalsium karbonat dan fosfat yang bercampur dengan debris,
mikroorganisme, dan sel epitel yang mengalami deskuamasi.
- Pemeriksaan: Gunakan explorer untuk melengkapi pemeriksaan visual untuk deposit
kalkulus supragingiva. Identifikasi deposit subgingiva dengan menempatkan dental
explorer secara perlahan ke dalam celah gingiva distal dan menariknya secara
subgingiva dari area kontak distal ke area kontak mesial.
- Kriteria

0 = Tidak ada kalkulus.

1 = Kalkulus supragingiva menutupi tidak lebih dari sepertiga permukaan gigi yang
diperiksa.

2 = Kalkulus supragingiva menutupi lebih dari sepertiga tetapi tidak lebih dari dua
pertiga permukaan gigi yang terbuka, atau adanya bintik-bintik individual kalkulus
subgingiva di sekitar bagian servikal gigi.

3 = Kalkulus supragingiva menutupi lebih dari dua pertiga permukaan gigi yang
terbuka atau kalkulus subgingiva yang berat terus menerus di sekitar bagian servikal
gigi.

SCORING OHI-S

OHI-S untuk individual

Tentukan simplified debris index dan simplified calculus index

 Bagi skor total dengan jumlah permukaan yang diperiksa.


 Nilai DI-S dan CI-S berkisar dari 0 hingga 3.

Simplified oral hygiene index (OHI-S)


 Gabungkan DI-S dan CI-S
 Nilai OHI-S berkisar dari 0 hingga 6

Skala Nominal yang Disarankan

CM Marya. Textbook of Public Health Dentistry.2011. India : Jaypee Brothers. P : 189 – 192
John, Joseph. Textbook of preservative and community dentistry. Publich Health Dentistry. 3rd
ed. P: 559-579

5. JENIS PENGUKURAN JARINGAN PERIODONTAL


 Gingival Indeks (GI)
Pemeriksaan GI (Gingival Indeks)
Pemeriksaan gingival indeks ini dilakukan dengan cara apakah adanya perdarahan
atau tidak pada gigi yang diperiksa.
Indeks ini mudah digunakan, dapat dilakukan untuk memeriksa sebanyak mungkin
populasi dalam waktu singkat, menentukan kondisi klinik seobyektif mungkin, dan
menghasilkan penilaian yang semaksimal mungkin serta mudah dianalisis secara
statistik
Penilaian yang digunakan dapat berupa indeks ainamo yaitu:
- 0 : kriteria tidak ada perdarahan pada saat probing/ gusi normal
- 1 : kriteria ada perdarahan pada saat probing atau adanya perdarahan spontan,
yang berarti gusi tidak sehat
(Indirawati T N, Frans X. 2010. Gambaran Kebersihan Mulut dan Gingivitis pada
Murid Sekolah Dasar di Puskesmas Sepatan, Kabupaten Tangerang. Media Litbang
Kesehatan Volume XX Nomor 4 tahun 2010)
 Pemeriksaan Papillary-Marginal-Attached Gingival Index (PMA)
Menilai sejauh mana perubahan gingiva dalam kelompok besar untuk studi
epidemiologi.
Schour I dan Massler M (1944)
Fungsi pemeriksaan Papillary-Marginal-Attached Gingival Index (PMA) yaitu :
- Indikator tingkat keparahan
- Ada atau tidaknya peradangan di 3 area gingiva

CM Marya. 2011. A Textbook of Public Health Dentistry. India. Jaypee Brothers. P: 193.

Marya C.M. 2012. A Practical Manual of Public Health Dentistry. India. Jaypee
Brothers. P: 172-3.

Josep John. 2017. Textbook of Preventive and Community Dentistry – Public Health
Dentistry. 3th ed. CBS Publisher. P: 590-2.

 GINGIVAL BONE COUNT INDEX (GBCI)


Unwaxed dental floss digunakan untuk mengukur GBI, yang dikembangkan oleh
Carter dan Barnes (1974). Gigi lengkap memiliki 28 area proksimal untuk diperiksa.Floss
dilewatkan secara interproksimal, pertama di satu sisi dental papilla, lalu di sisi lain. ini
melibatkan dua sulkus, dinilai sebagai satu unit interdental. Setiap perdarahan yang
dicatat menunjukkan adanya penyakit.Jumlah area perdarahan dibandingkan score area
proksimal dicatat.Ini dapat digunakan untuk evaluasi dan motivasi pasien awal atau dari
waktu ke waktu untuk menilai respons terhadap intervensi untuk meningkatkan kesehatan
periodontal.

 Periodontal Index (PI)


Russell [1956] mengembangkan indeks untuk mengukur penyakit periodontal yang dapat
digunakan dalam survei populasi. Indeks ini dapat didasarkan hanya pada pemeriksaan
klinis, atau dapat menggunakan rontgen gigi jika tersedia. PI menentukan status penyakit
periodontal populasi dalam studi epidemiologi. Setiap gigi dinilai sesuai dengan kondisi
jaringan di sekitarnya.

Marya, CM. A Textbook of Public Health Dentistry. New Delhi: Jaypee Brother Medical
Publishers ; P. 193-194

6. INDEKS PENGUKURAN JARINGAN PERIODONTAL


a. GINGIVAL BONE COUNT INDEX (GBCI)
 Penilaian Perdarahan
o Tidak ada upaya yang dilakukan untuk mengukur tingkat perdarahan.
o Perdarahan dinilai hanya ada atau tidak ada.

Kode Skor untuk GBI

o Tidak berdarah : Tidak ada (kosong)


o Perdarahan :B
o Not-scoreable :X
Metode Recording

Demikian pula skor dicatat untuk gigi mandibular

Hasil

• Total area skor = 26 - (jumlah area yang tidak dapat diskor)

• Skor Pendarahan Gingiva (total area perdarahan) = Jumlah angka area perdarahan

Interpretasi

• Semakin sedikit jumlah tempat perdarahan, semakin kecil luasnya gingivitis. Idealnya
skor harus 0.

• Jika pasien harus diikuti dari waktu ke waktu, tempat perdarahan sebelumnya
dipantau untuk melihat apakah mereka menjadi non-perdarahan.

• Tujuan intervensi adalah untuk mengurangi skor sebanyak mungkin.

Marya, CM. A Textbook of Public Health Dentistry. New Delhi: Jaypee Brother Medical
Publishers.2011 . Hal 195-196

Marya, CM. A Practical Manual of Public Health Dentistry. New Delhi: Jaypee Brother
Medical Publishers.2012 . Hal 174-176

b. Periodontal Index (PI)


Nilai skor (0, 1, 2, 6, dan 8) berhubungan dengan stadium penyakit yang dinilai dalam
survei epidemiologi dengan kondisi klinis yang diamati. Lompatan dari 2 ke 6 dalam
skala mengakui perubahan kondisi penyakit dari gingivitis parah ke penyakit periodontal
destruktif yang jelas dengan kehilangan perlekatan yang jelas. PI dapat dianggap sebagai
skala interval yang sebenarnya.
Skor untuk setiap gigi ditambahkan, dan totalnya dibagi dengan jumlah gigi yang
diperiksa. Skor dapat diartikan sebagai berikut:
• 0,0-0,2 = Jaringan pendukung normal secara klinis.
• 0,3-0,9 = Gingivitis sederhana.
• 0,7-1,9 = Awal penyakit periodontal destruktif.
• 1,6-5,0 = Penyakit periodontal destruktif yang sudah ada.
• 3,8-8,0 = Penyakit periodontal terminal.

Skor individu = Rata-rata (skor untuk semua gigi di mulut)


Skor populasi = Rata-rata (skor individu dalam populasi yang diperiksa).

Marya, CM. A Textbook of Public Health Dentistry. New Delhi: Jaypee Brother Medical
Publishers ; P. 193-194

 JENIS PENGUKURAN KUALITAS HIDUP


a) Kualitas Hidup
Kualitas hidup diakui sebagai parameter yang valid dalam penilaian pasien di hampir
setiap bidang perawatan kesehatan fisik dan mental, termasuk kesehatan mulut. Oral Health
Related-Quality of Life (OHRQOL) merupakan efek kesehatan mulut pada kualitas hidup
seseorang, menggambarkan perspektif orang tentang cara penyakit, kondisi, dan perawatan
mulut memengaruhi kehidupan mereka. OHRQOL mempertimbangkan bagaimana kondisi
ini mempengaruhi QOL seseorang berdasarkan dimensi berikut.2
 Dimensi kesehatan gigi dan mulut (nyeri dan ketidaknyamanan [akut atau kronis, pada
gigi atau wajah])
 Dimensi fungsional (kemampuan dan kenyamanan berhubungan dengan
menggigit,mengunyah, menelan, berbicara, tidur, dan membersihkan gigi)
 Faktor psikologis (harga diri, konsep diri/rasa diri, tersenyum tanpa rasa malu, makan
atau berbicara di depan orang lain, penampilan wajah, keintiman, kontak
pribadi/integrasi sosial/interaksi sosial, dan stabilitas emosi)
 Faktor sosial (kemampuan untuk bekerja/belajar dan dampak ekonomi langsung dan
tidak langsung)
 Harapan pengobatan (kepuasan sehubungan dengan kesehatan mulut dan hasil
pengobatan)
Beatty, CF. 2017. Community Oral Health Practice For The Dental Hygienist. 4th Edition.
St. Louis: Elsevier. Page 299

 Indeks pengukuran kualitas hidup


- OIDP (Oral Impact on Daily Performance)
- OHIP (Oral Health Impact Profile)
- ECOHIS (The Early Childhood Oral Health Impact Scale)
- CPQ (The Child Perceptions Questionnaire)
- OHIP (Oral Health Impact Profile)
a. OHIP (Oral Health Impact Profile)
OHIP terdiri dari 14 item kuesioner yang dirancang untuk mengukur fungsional yang
berfokus pada 7 dimensi dampak yaitu keterbatasan fisik, nyeri, ketidaknyamanan
psikologis, disabilitas psikologis, disabilitas sosial dan kecacatan yang dikaitkan
dengan kondisi mulut. Dalam model ini konsekuensi dari penyakit mulut secara
hierarki terkait dari tingkat biologis (gangguan) ke tingkat perilaku (batasan
fungsional, ketidaknyamanan dan ketidakmampuan) dan terakhir ke tingkat sosial
(cacat). OHIP-14, meskipun berupa kuesioner pendek, pengukuran ini telah terbukti
andal ; peka terhadap perubahan dan memiliki konsistensi lintas budaya yang
memadai.

Interpretasi
- Skor OHIP yang lebih tinggi secara sosial dan ekonomi kelompok yang kurang
beruntung, dan di antara orang-orang yang jarang atau kunjungan gigi yang dimotivasi
oleh masalah
- Temuan substantif dari OHIP terutama berasal dari studi epidemiologi yang
mengungkapkan:
- Skor OHIP yang lebih tinggi di antara orang-orang yang memiliki klinis yang lebih
buruk status oral, seperti yang ditunjukkan oleh lebih banyak gigi yang hilang, lebih
banyak retensi fragmen akar, pembusukan yang lebih tidak terawat, periodontal lebih
dalam kantong dan lebih banyak resesi periodontal

Interpretasi

- Peningkatan skor OHIP selama periode dua tahun untuk dentate orang yang
mengalami kehilangan gigi dan menurun selama orang yang tidak bergigi yang
menerima perawatan prostodontik, meskipun efeknya bergantung pada status oral
awal dan persepsi kebutuhan
- Skor OHIP yang lebih tinggi di antara pasien gigi dengan infeksi HIV dibandingkan
dengan pasien gigi umum. Stabilitas keseluruhan dalam skor OHIP untuk sebagian
besar orang dewasa yang lebih tua yang hidup mandiri selama dua tahun masa tindak
lanjut
b. Oral Impact on Daily Performance
- OIDP adalah salah satu indikator sosio-gigi yang paling banyak digunakan yang
berfokus tentang mengukur dampak lisan yang serius pada kemampuan seseorang
untuk melakukan aktivitas sehari-hari
- Oral Impact on Daily Performance terdiri dari sembilan item untuk anak usia 11-12
tahun yang bertujuan untuk mengevaluasi dampak kesehatan mulut pada
kemampuan anak untuk melakukan aktifitas sehari-hari termasuk pengukuran
dimensifisik, psikologis dan sosial.

Montero J, Bravo M, Albaladejo A, Hernández LA, Rosel EM. Validation the Oral Health
Impact Profile (OHIP-14sp) for adults in Spain. Med Oral Patol Oral Cir Bucal 2009; 14:44-50.

Khodadadi, Moltallabnejab dan Alizedah 2012. Oral Health Related Quality Of Life Among
Adults Reffered to Dental Clinics of Babol Faculty of Dentistry 2009-2011. Caspian J Dent
B. Pengolahan data hasil pengukuran

Proses pengumpulan data kesehatan gigi dan mulut masyarakat juga bertujuan menjadi bukti
dasar (evidence base) dalam penyusunan perencanaan/Plan of Action (POA) program pelayanan
asuhan kesehatan gigi dan mulut masyarakat. Data kesehatan gigi dan mulut masyarakat yang
menjadi evidence base dalam penyusunan POA terbagi 3, yaitu:
 Data tingkat pengetahuan masyarakat tentang cara memelihara kesehatan gigi dan mulut.
 Data keterampilan, perilaku atau kebiasaan masyarakat untuk memelihara kesehatan gigi
dan mulutnya.
 Data status kesehatan gigi dan mulut masyarakat.

Data tingkat pengetahuan masyarakat tentang cara memelihara kesehatan gigi dan mulut
yang harus digali setidaknya :
 Data pengetahuan tentang cara menyikat gigi yang baik,
 Data pengetahuan tentang waktu menyikat gigi yang tepat,
 Data pengetahuan tentang cara memelihara kesehatan gigi dan mulut selain menyikat
gigi,
 Data pengetahuan tentang cara mengatasi masalah kesehatan gigi yang sering dijumpai
seperti gigi berlubang, radang gusi, sariawan, bau mulut dan karang gigi.

Data keterampilan, sikap, perilaku atau kebiasaan masyarakat untuk memelihara kesehatan
gigi dan mulut yang harus digali setidaknya adalah :
 Data tentang bagaimana cara menyikat giginya selama ini
 Data tentang waktu menyikat giginya (berapa kali dan kapan saja)
 Data tentang apa saja yang dilakukannya untuk memelihara kesehatan gigi selain
menyikat gigi
 Data tentang apa saja yang dilakukannya ketika dirinya atau keluarganya mengalami
masalah kesehatan gigi seperti gigi berlubang, radang gusi, sariawan, bau mulut dan
karang gigi.
Gultom, Erni. 2018. Konsep Dasar Pelayanan Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut II& III.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hal. 80-84.

a) Untuk mengumpulkan data tingkat pengetahuan masyarakat tentang cara memelihara


kesehatan gigi dan mulut dapat menggunakan kuesioner
 Pertanyaan terbuka
Pertanyaan yang memberikan kesempatan kepada responden untuk menjawab dengan
kata-kata atau kalimat sendiri. Contoh:Menurut Bapak/Ibu/Saudara/i, bagaimanakah cara
menyikat gigi yang baik?
 Pertanyaan tertutup
Responden dipersilakan mengisi sendiri kuesioner yang diberikan oleh enumerator,
responden tinggal memilih jawaban yang disediakan untuk masing-masing pertanyaan.
Contoh: Apakah Anda menyikat gigi setelah sarapan pagi dan sebelum tidur setiap hari?
Ya/ tidak.
 Data pengetahuan tentang cara menyikat gigi yang baik juga dapat digali dengan
meminta responden memperagakannya menggunakan alat peraga (model rahang dan
sikat gigi)
 Cara ini akan lebih mudah dan lebih akurat dalam menilai apakah responden mengetahui
atau tidak mengetahui cara menyikat gigi yang baik.

Gultom, Erni. 2018. Konsep Dasar Pelayanan Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut II& III.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hal. 80-84.

b) Untuk mengumpulkan data sikap, perilaku atau kebiasaan masyarakat memelihara


kesehatan gigi dan mulut dapat dilakukan dengan 2 (dua cara)

a. Observasi Langsung

b.Menggunakan Kuesoner

 Cara pada poin b sangat bergantung pada kejujuran responden, karena bisa saja
responden berupaya menjawab se-ideal mungkin karena ingin dianggap sudah baik.
 Demikian juga ketika responden memperagakan cara menyikat gigi sebagaimana
dijelaskan pada poin a, mungkin saja cara yang diperagakan sudah sesuai, namun apakah
hasilnya sudah baik?
 Misalnya untuk menilai keterampilan menyikat gigi responden dapat dibuktikan oleh
pemeriksaan hasil menyikat giginya menggunakan Hygiene Index (HI) atau Plaque Free
Score.

Gultom, Erni. 2018. Konsep Dasar Pelayanan Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut II& III.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hal. 80-84.

c) Untuk mengumpulkan data status kesehatan gigi dan mulut masyarakat harus
dilakukan melalui pemeriksaan obyektif
Pada pemeriksaan obyektif pada pasien/klien tentu data yang dikaji harus lengkap,
diantaranya adalah sebagai berikut.
 Pemeriksaan ekstraoral
 Odontogram
 Letak dan kedalaman karies
 Tes vitalitas gigi
 Kelainan/anomali gigi
 Dan lainnya.
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa pengukuran OHI-S sangat mudah karena hanya
mengukur Debris Index dan Calculus Index pada gigi-gigi tertentu saja (gigi indeks) sehingga
prosesnya pun dapat lebih cepat. Begitu juga dengan pemeriksaan karies, pada kegiatan survey
hanya dihitung
 Jumlah gigi yang karies (decay)
 Dicabut karena karies (missing)
 Ditambal (filling), tanpa mengukur kedalaman dan vitalitasnya.
Gultom, Erni. 2018. Konsep Dasar Pelayanan Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut II& III.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hal. 80-84