Anda di halaman 1dari 8

1

BAB I
PEMBAHASAN

1.1 Latar Belakang


Tepat pada tanggal 31 Desember 2019 dunia dikejutkan (digemparkan)
dari (oleh/dengan) laporan dari WHO China Country Office yang melaporkan
bahwa terdapat kasus pneumonia yang belum diketahu etiologinya di kota
Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Laporan Selanjutnya pada tanggal 7 Januari
2020, China mengidentifikasikan pneumonia yang tidak diketahui belum
diketahui etiologinya tadi tersebut sebagai jenis baru yang dinamakan
Coronavirus (Coronavirus Disease, Covid-19).
Dalam kurun waktu yang tidak lama, virus ini dapat dengan menyebar
cepat dan bahkan hingga keberbagai penjuru dunia. Berdasarkan bukti ilmiah,
virus covid-19 ini dapat menular melalui kontak erat dan juga droplet seperti
berpegangan tangan, berciuman ataupun dengan saling bernapas dengan jarak
yang dekat, tiga hal tersebut merupakan itulah cara penularan virus covid
yang terjadi dari satu individu manusia ke manusia individu yg lain. Adapun
gejala yang dialami oleh penderita covid tersebut, gejala-gejala tersebut
seperti demam, mudah capek, batuk, dan flu layaknya sakit biasa sehingga
sulit untuk bisa dideteksi kecuali, dengan melakukan pengecekan tersendiri
atau pengecekan khusus covid.
Corona virus corona virus atau covid-19?? dijadikan sebagai pandemi kelima sejak
pandemi flu pada tahun 1918 dulu, covid-19harus konsisten, mau pkek corona virus atau covid-19
juga pertama kali dilaporkan ditemukannya kasus pertama di Wuhan, China
dan kemudia dalam waktu dekat menyebar keseluruh dunia dalam waktu yang
singkat. Covid-19 secara resmi dinamai Severe Acute Respiratory Syndrome
Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) oleh International Committee on Taxonomy of
Viruses (ICTV) berdasarkan analisis filogenetik dan taksonomi. Covid-19
juga dikatakan sebagai virus yang bermutasi dari hewan yang berpindah
2

kemanusia dan tersebar dari manusia ke manusia dan bermutasi ke beberapa


jenis.
Pada tanggal 11 Maret 2020 WHO resmi mengumumkan bahwa pandemi
atau wabah covid-19 tersebut sebagai pandemi global dan menjadi tantangan
bagi semua negara untuk menghentikan penularan nya dikarenakan kurang
dari tiga bulan, covid-19 telah menginfeksi lebih dari 126.000 jiwa di
berbagai negara, dari Asia, Amerika hingga Eropa dan Afrika Selatan. virus
baru SARS-Cov2 (Severe Acute Respiratory Syndrome Corona Virus 2) yang
kemudian ditetapkan nama barunya sebagai Covid-19 oleh komite Taksonomi
Virus Internasional WHO. Covid -19 yang sedang terjadi hingga saat ini dan
telah banyak memakan korban jiwa di seluruh dunia termasuk Indonesia.
Menurut kompas.com edisi 2 Maret 2020, presiden Jokowi mengumumkan
secara resmi kasus positif pertama dari pasien covid-19, pasien tersebut
seorang ibu yang berumur 64 tahun bersama putrinya 31 tahun. Setelah
ditemukannya warga Negara jepang yang positif pada saat berkunjung ke
Indonesia pemerintah mulai menelusuri lebih kesemua yang terlibat dan pada
akhirnya ditemukan lah kasus positif pada pasangan ibu dan anak warga
Negara Indonesia. Maka setelah ditemukannya kasus pertama covid-19 di
Indonesia, pemerintah pusat dan pemerintah daerah ikut menyikapi dan
berpacu melakukan penelusuran kasus covid-19. Sebulan setelah ditelusuri
sampai 9 April 2020, seluruh provinsi yang ada di Indonesia mengkorfirmasi
adanya kasus positif covid-19.
3

Sumber data gugus tugas percepatan covid-19.

Di aceh sendiri awal mula ditemukan kasus positif covid-19 yaitu pada
pasien dalam pengawasan (PDP) yang meninggal di RSUD Zainoel Abidin
pada senin 23 Maret 2020 di Banda Aceh, dan telah dikonfirmasi positif virus
corona atau Covid-19. Pasien tersebut resmi jadi kasus pertama di Provinsi
Aceh, pasien tersebut laki laki dan dinyatakan positif covid-19 setelah
mempunyai riwayat perjalan ke Surabaya dan Bogor, daerah yang melaporkan
penularan Covid-19. Pasien tersebut berusia 56 tahun menurut hasil diagnosis
terakhir mengalami infeksi paru paru.
Tingginya lonjakan pemyebaran covid-19 yang sangat signifikan dan
dengan ditandai oleh jumlah kasus kematian yang meningkat serta meluas
hingga ke berbagai wilayah dan aspek wilayah, dan lintas negera dan
berdampak pada aspek politik, ekonomi,sosial budaya, pertahanan dan
keamanan serta kesejahteraan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
Kemudian pemerintah Indonesia mengeluarkan KEPRES (Keputusan
Presiden) Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2020 tentang Penetapan
Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Corona Virus Disease 2019 (COVID-19)
dan Keputusan Presiden Nomor 12 tahun 2020 tentang Penetapan Bencana
Non Alam Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) sebagai
bencana non alam. Dengan ditetapkan surat keputusan presiden maka corona
virus disease 2019 atau Covid-19 dinyatakan resmi oleh pemerintah sebagai
kedaruratan kesehatan masyarakat dan harus atau wajib dilakukan upaya
penanggulangan.
Akibat dari pandemi covid-19 ini juga berdampak pada perekonomian
global, yang memengaruhi seluruh negara. Pada tahun lalu pertumbuhan
ekonomi Tiongkok yang berdampak akibat Covid -19 terjadi perlambatan
dimana pertumbuhan ekonominya 6,1% menjadi 3,8% pada tahun ini. Dan
dengan begini kita juga dapat mengetahui pasti dari hal berikut akan
berdampak ke negara lain dan itu lebih parah termasuk Indonesia sendiri.
4

Dampak dari pandemi ini juga berpengaruh ke aspek aspek lain dimana
seperti pekerja harian lepas, pelaku UMKM, dan usaha lain yang melibatkan
orang banyak. Dampak dari ini juga secara otomatis mempengaruhi daya beli
dalam masyarakat atau perputaran uang yang sangat minim ditengah
masyarakat. Dengan begitu perekonomian di setiap daerah jadi terganggu,
karna pengaruh dari pandemi ini sehingga mekanisme pasar tidak hanya
berdampak pada fundamental ekonomi riil saja. Maka dari kelompok
masyarakat yang paling rentan terhadap dampak ekonomi yang diakibatkan
oleh pandemi covid-19 adalah masyarakat dengan pendapatan yang dihasilkan
dari pendapatan harian atau kelompok masyarakat yang berpengahasilan
rendah. Setelah menunjukan pencapaian penurunan kemiskinan dari tahun ke
tahun, dimana tingkat kemiskinan saat ini kembali meningkat setelah pandemi
covid-19. Hari ini dimana perbandingannya 1 dari 10 orang Indonesia hidup
di bawah garis kemiskinan nasional. Dengan begitu tingkat kemiskinan anak
juga meningkat pesat, dan dampak negatifnya itu terhadap sosial ekonomi dari
pandemi lebih buruh jika tanpa adanya bantuan sosial dari pemerintah
Indonesia.
Pemerintah Indonesia dalam menghadapi krisis ini mengeluarkan sejumlah
stimulus fiskal skala besar melalui Program Pemulihan Ekonomi Nasional
(PEN). Jika dilihat dalam aspek besarnya jumlah anggaran maka Indonesia
berada di peringkat lima besar negara-negara wilayah Asia Pasifik (ADB,
2021). Pemerintah terus berjuang untuk melakukan berbagai upaya perbaikan
dalam memperkuat berbagai program perlindungan sosial dalam menangani
krisis setelah pandemi Covid-19. Program-program itupun telah diperluas
untuk melindungi masyarakat miskin terhadap guncangan ekonomi, dan juga
bagi masyarakat yang memiliki pendapatan menengah kebawah yang
jumlahnya terus meningkat dan memiliki resiko tinggi akan jatuh miskin di
kemudian hari. Selain itu, untuk setiap usaha-usaha kecil juga mendapatkan
bantuan dari pemerintah seiring dengan upaya mereka para pelaku usaha
untuk bertahan hidup ditengah penurunan perekonomian dan pembatasan
kegiatan masyarakat setelah pandemi Covid-19.
5

(Menurut Humas Provinsi Aceh 2021) Kondisi ini menyebabkan


Pertumbuhan Ekonomi Nasional mengalami kontraksi sampai ke titik -2.07%.
Hal yang sama pula terjadi di Provinsi Aceh, dimana di Aceh kontraksi
ekonomi -0,37% meski tumbuh sedikit lebih baik persoalan angka yang kita
hadapi tidak hanya masalah pertumbuhan ekonomi saja, namun kita juga
harus memikirkan bagaimana situasi pandemi ini kita pulihkan agar segala
aktivitas ekonomi dapat berjalan normal kembali. Karena jika seperti ini terus,
untuk meningkatkan perekonomian daerah akan sulit kita wujudkan. Sehingga
dengan meningkatnya angka kemiskinan ini berpengaruh kepada peningkatan
angka kemiskinan dari seluruh kabupaten/kota di Provinsi Aceh, termasuk
Kabupaten Aceh Utara.
Kabupaten Aceh Utara termasuk wilayah padat penduduk. Kepadapatan
ini juga bertambah tiap tahunnya yang dimana disebabkan oleh jumlah angka
kelahiran dan migrasi masuk hingga pada saat ini. Maka dari data
kependudukan bahwasanya setiap tahunnya data tersebut berubah dan dengan
bertambahnya jumlah penduduk maka perekonomian pun semakin sulit
ditambah pada saat masa pandemi Covid-19, dimana sangat berdampak pada
perekonomian terutama pada tahun 2020 hingga saat ini, masyarakat juga
sangat dibatasi baik dari sektor manapun yang dimana dengan kebijakan
pemerintah untuk membatasi gerak masyarakat demi mendukung program
pemerintah untuk menekan penularan kasus Corona Virus Disease (Covid-
19).

Peraturan Bupati Aceh Utara Nomor 30 tahun 2020 Tentang Penerapan


Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan Sebagai Upaya
Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 di Kabupaten
Aceh Utara. Dalam rangka menjaga keberlangsungan pembangunan,
pemerintahan dan perekonomian serta meningkatkan kesehatan masyarakat
meralui pencegahan dan pengendalian penularan Corona Virus Disease
(Covid-19), perlu peningkatan penanganan penerapan disiplin dan penegakan
6

hukum pelaksanaan protokol kesehatan bagi masyarakat di Kabupaten Aceh


Utara.

Adapun pengendalian ekonomi dari pemerintah pusat telah adanya


program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang dimana ini juga salah satu
upaya untuk mendorong percepatan dalam pemulihan ekonomi dari dampak
pandemi Covid-19. Dalam Keputusan Menteri Sosial Republik Indonesia
Nomor 100 / HUK / 2020 tentang Pelaksanaan Bantuan Sosial Sembako dan
Bantuan Sosial Tunai Dalam Penanganan Dampak Corona Virus Disease
2019 (Covid-19), dari adanya program bantuan sosial dari Nasional hingga di
Kabupaten Aceh utara melalui peraturan Menteri Sosial tersebut.

Sebagai instrumen dalam penanganan kesehatan dan pemulihan ekonomi,


program PEN diharapkan mampu mendukung upaya penyelamatan dan
pemulihan ekonomi di masa pandemi. Pengalokasian dana PEN pada lima
klaster dari perlindungan sosial, kesehatan, dukungan UMKM dan korporasi,
dan program prioritas dan insentif usaha. Dan realisasi dalam klaster
perlindungan sosial sendiri menunjukan capaian yang cukup baik dimana
sebesar Rp 66,43 T (43,2% dari total pagu Rp 153,86 T).

Di Kabupaten Aceh Utara manfaat yang dirasakan oleh masyarakat dari


program PEN dalam perlindungan sosial sendiri diantaranya melalui BLT
Gampoeng/desa, PKH (Program Keluarga Harapan), dan JPS (program Jaring
Pengan Sosial) untuk respon terhadap dampak pandemi Covid-19 yang angka
positifnya semakin meningkat sehingga pemerintah daerah dipertegas dengan
pemberlakuan pembatasan sosial, hingga berdampak pada ekonomi
masyarakat terutama yang mengandalkan aktivitas ekonomi secara langsung.

Berdasarkan latar belakang tersebut maka peneliti ingin meneliti mengenai


pemulihan ekonomi dan seberapa besar dampak sehingga dapat terjaminnya
keselamatan dalam perekonomian dari dampak pandemi Covid-19 di
lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara melalui program bantuan
sosial sehingga peneliti mengambil judul “PEMULIHAN EKONOMI
7

KORBAN BENCANA PANDEMI COVID-19 DI KABUPATEN ACEH


UTARA PROVINSI ACEH”.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana dampak pandemi Covid-19 terhadap perekonomian di
Kabupaten Aceh Utara.
2. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi perekonomian di masa
pandemi Covid-19 di kabupaten Aceh Utara.
3. Bagaimana upaya dari pemerintah dalam melakukan pemulihan ekonomi
terhadap korban pandemi Covid-19.

1.3 Tujuan
Berdasarkan dari permasalahan diatas maka tujuan dari penelitian ini ialah
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dan menggambarkan seberapa besar dampak pandemi
Covid-19 terhadap perekonomian di Kabupaten Aceh Utara.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perekonomian
sehingga bisa meningkat atau menurun dimasa pandemi Covid-19 di
Kabupaten Aceh Utara.
3. Untuk mengetahui bagaimana upaya dari pemerintah di Kabupaten Aceh
Utara dalam melakukan pemulihan ekonomi terhadap korban pandemi
Covid-19.

1.4 Kegunaan Penelitian


1.4.1 Kegunaan teoritis
Penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat memberikan
kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan
dengan pemulihan ekonomi korban yang terdampak Covid-19 di Indonesia
pada umumnya di Kabupaten Aceh Utara Provinsi Aceh pada khususnya.
1.4.2 Kegunaan Praktis
8

1. Bagi pemerintah daerah Kabupaten Aceh Utara, hasil penelitian ini


diharapkan dapat menjadi bahan masukan atau sumbangan pemikiran
terhadap pemulihan ekonomi bagi korban yang terdampak Covid-19
dengan program-program pemerintah.
2. Bagi institut Pemerintahan Dalam Negeri, hasi penelitian ini diharapkan
dapat dijadikan referensi untuk penelitian-penelitian selanjutnya.
Khususnya dalam bidang dampak bencana Covid-19 terhadap
perekonomian korban pandemi.
3. Bagi penulis, dengan penelitian ini dapat lebih menambah pengetahuan
dan pemahaman secara mendalam tentang masalalah dalam pemulihan
ekonomi bagi korban yang terdampak bencana Covid-19.