Anda di halaman 1dari 23

31

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian


4.1.1 Boilling Time, Operational Time, dan Fuel Consumption Rate
Fuel Consumption Rate (FCR) adalah perbandingan jumlah konsumsi
bahan baku yang digunakan dalam satu kali pembakaran dengan waktu yang
dibutuhkan untuk menghabiskan bahan baku tersebut.
Setelah melakukan pengujian pengaruh penambahan uap air pada alat gasifikasi
type T-LUD dengan menggunakan 3 bahan baku yaitu: sekam padi, serpihan
kayu, dan batu bara dengan memvariasikan bukaan kipas/blower yaitu: bukaan
full, bukaan ¾, bukaan ½, dan bukaan ¼ dimana pengambilan data masing-
masing dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan kemudian dilakukan
perhitungan nilai dari Fuel Consumption Rate secara matematis berdasarkan data
pengujian.
Contoh perhitungan dengan mengambil data penggunaan bahan baku
sekam padi dan bukaan kipas penuh

Berat bahan Baku yang Digunakan (Kg)


FCR =
Operationa l Time (jam)
1,084 kg
= 37,53 mnt

1,084 kg
= 0,6255 jam

= 1,73301 kg/jam
Selanjutnya perhitungan nilai FCR disajikan dalam table 4.1.1 berikut :

Tabel 4.1.1 Nilai Boilling Time,Operational Time, dan Fuel Consumption Rate
32

m (Kg) BT (menit) OT (menit) FCR (Kg/jam)


Bahan Bukaan
tanpa dengan tanpa dengan tanpa dengan tanpa dengan
baku kipas
uap uap uap uap uap uap uap uap
full 1,084 1,082 7,11 7,09 37,53 41,06 1,7330 1,5811
sekam 3/4 1,084 1,082 7,21 8,25 38,47 42,26 1,6907 1,5362
1/2 1,084 1,082 7,47 9,30 39,34 47,27 1,6533 1,3734
padi 1/4 1,084 1,082 - - - - - -

kayu full 0,839 0,747 7,41 8,01 20,32 21,34 2,4774 2,1003
33

3/4 0,839 0,747 8,01 8,08 20,45 21,39 2,4616 2,0954


1/2 0,839 0,747 8,59 8,20 24,19 23,39 2,0810 1,9162
1/4 0,839 0,747 9,00 8,40 29,17 29,21 1,7257 1,5344

full 1,000 1,000 8,02 7,26 31,03 29,11 1,9336 2,0611


3/4 1,000 1,000 8,35 6,41 29,41 30,28 2,0401 1,9815
batubara 1/2 1,000 1,000 7,12 8,12 30,11 29,01 1,9927 2,0683
1/4 1,000 1,000 9,52 8,03 31,06 26,09 1,9317 2,2997

Berdasarkan data pada tabel 4.1.1 dibuatlah grafik hubungan antara


bukaan kipas dengan Fuel Consumption Rate dan grafik hubungan antara bukaan
kipas dengan Boilling Time (Boilling Time) seperti yang terlihat pada gambar
4.1.a dan 4.1.b berikut :

3.00

2.50
sekam tanpa
uap
2.00 sekam + uap
FCR (kg/jam)

1.50 serpihan kayu


tanpa uap
serpihan kayu +
1.00 uap
batubara tanpa
0.50 uap
batubara + uap
0.00
full 3/4 1/2 1/4
bukaan kipas

Gambar 4.1.a Grafik hubungan antara variasi bukaan kipas


dengan nilai Fuel Consumption Rate
34

10
sekam tanpa
9
uap
Boilling Time (menit) 8
sekam + uap
7
6 serpihan
kayu tanpa
5
uap
serpihan
4
kayu + uap
3
batubara
2 tanpa uap
1 batubara +
uap
0
full 3/4 1/2 1/4
bukaan kipas

Gambar 4.1.b Grafik hubungan antara variasi bukaan kipas


dengan Boilling Time (BT)
Dari table 4.1.1 diatas terlihat bahwa untuk memanaskan air 1 liter dari
temperatur 270C sampai 950C dengan menggunakan variasi bukaan kipas dan
variasi bahan baku berpengaruh terhadap Boiling Time (BT), Operational Time
(OT), dan nilai Fuel Consumption Rate (FCR).
Dapat terlihat dari gambar grafik 4.1.b bahwa Boiling Time (BT) yaitu
waktu yang dibutuhkan untuk memanaskan air 1 liter dari temperatur 270C sampai
950C yang memakai bahan baku sekam padi tanpa penambahan uap air dengan
variasi bukaan kipas penuh, ¾ , dan ½ berturut-turut adalah 7,11 menit, 7,21
menit, 7,47 menit, ini berbeda dengan Boilling Time dengan penambahan uap air
yaitu 7,09 menit, 8,25 menit, 9,30 menit. Dari data tersebut dapat terlihat bahwa
untuk variasi bukaan kipas penuh mempunyai nilai Boilling Time paling rendah,
yang berarti bahwa kompor gasifikasi tipe T-LUD dengan memakai bahan baku
sekam padi sangat optimal pada bukaan kipas full daripada variasi bukaan kipas ¾
dan ½. Hal ini disebabkan karena udara yang diberikan pada pembakaran sangat
maksimal sehingga gasifikasi yang terjadi lebih baik dibandingkan dengan variasi
bukaan kipas yang lain. Dari data di atas juga terlihat bahwa untuk variasi bukaan
kipas penuh terlihat adanya peningkatan kinerja dari kompor gasifikasi pada
pembakaran dengan penambahan uap air, walaupun perubahannya tidak begitu
35

signifikan tetapi ini telah menunjukkan bahwa penambahan uap air pada kompor
gasifikasi mempunyai pengaruh pada proses pembakaran, hal ini disebabkan
karena uap air yang diumpankan pada alat gasifikasi ini akan bereakasi dengan
gas-gas hasil pembakaran yaitu karbon monoksida (CO), hidrogen (H2) dan
methan (CH4) sehingga nyala api pada burner menjadi lebih panas dan waktu yang
dibutuhkan untuk memanaskan air menjadi semakin sedikit. Sedangkan untuk
variasi bukaan kipas yang lain tidak terjadi penurunan waktu pemanasan, hal ini
disebabakan karena uap air yang diumpankan kedalam tabung reaktor
memerlukan suhu yang tinggi agar bisa bereaksi dengan gas-gas hasil gasifikasi,
sehingga semakin sedikit udara yang dihembuskan oleh blower maka suhu
pembakaran dalam tebung rekator akan semakin kecil. Sedangkan pada bukaan
kipas ¼ tidak bisa terjadi gasifikasi, hal ini disebabkan karena kekurangan
masukan udara dari blower, sehingga pembakaran dalam tabung reaktor tidak bisa
terjadi.
Pada pemakaian bahan baku serpihan kayu terlihat adanya pengaruh
penambahan uap air pada variasi bukaan kipas ½ dan ¼, ini berarti bahwa pada
bukaan ½ dan ¼ tejadi pembakaran yang lebih sempurna daripada variasi bukaan
kipas full dan ¾. Hal ini sesuai dengan Syarat-syarat terjadinya pembakaran yaitu
campuran bahan bakar dan oksidizer harus baik, artinya campuran bahan bakar
dan oksidiser yang tidak balance (terlalu banyak bahan bakarnya –rich mixture–,
atau terlalu sedikit bahan bakarnya –lean mixture–). Jika campuran bahan bakar
tersebut terlalu kaya atau miskin, maka kalor dari campuran tersebut akan menjadi
rendah, bahkan mungkin saja proses pembakaran tidak terjadi (Sentanuhady,
2007).
Dapat terlihat bahwa Boilling Time untuk bahan baku serpihan kayu berbanding
terbalik dengan Boilling Time bahan baku sekam padi, hal ini disebabkan karena
pori-pori dari serpihan kayu sangat besar sehingga semakin banyak udara yang
dihembuskan oleh blower maka pembakaran tidak akan bisa terjadi sempurna,
dengan kata lain udara yang diberikan melebihi kapasitas udara yang dibutuhkan
oleh kayu untuk melakukan gasifikasi sehingga nyala yang dihasilkan berwarna
kuning kemerah-merahan dan mengluarkan asap, hal ini menyebabkan waktu
36

yang dibutuhkan untuk memanaskan air lebih lama daripada menggunakan bahan
baku sekam padi.
Berbeda dengan pemakaian bahan baku sekam padi, pada pemakaian
bahan baku batubara nyala api yang dihasilkan berwarna kemerah-merahan
dengan banyak mengeluarkan asap dan polutan yang lain. Dari grafik 4.1.b
terlihat pengaruh penambahan uap air yang hampir merata pada setiap variasi
bukaan kipas. Hal ini terjadi karena zone pembakaran yang tetap dalam tabung
reaktor, sehingga sangat pas dengan teori penambahan uap air pada alat gasifikasi,
dimana pada prinsipnya penambahan uap air pada alat gasifikasi maksimal apabila
zone pembakarannya tidak bergerak atau tetap.
Dari gambar grafik 4.1.a dapat dilihat pengaruh variasi bukaan kipas
dengan nilai Fuel Consumption Rate, dimana semakin kecil bukaan kipas
(semakin sedikit udara yang masuk) maka konsumsi dari bahan baku untuk
pembakaran semakin kecil, begitupun sebaliknya.. Dari grafik juga dapat dilihat
bahwa konsumsi terbesar yaitu pada pengujian gasifikasi dengan pemakaian
bahan baku serpihan kayu kemudian diikuti dengan batubara dan yang paling irit
adalah pada pemakaian bahan baku sekam padi. Perubahan nilai FCR juga
berubah pada pengujian penambahan uap air dimana dapat terlihat seperti pada
grafik 4.1.a dengan penambahan uap air pada proses gasifikasi menyebabkan nilai
FCR semakin kecil.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk memanaskan air dengan
memakai kompor gasifikasi type T-LUD ini sangat cocok bila memakai bahan
baku sekam padi, karena nyala yang dihasilkan berwarna biru kemerah-merahan
hampir sama dengan kompor-kompor rumah tangga, dan disamping itu pemakaian
bahan baku sekam padi tidak menimbulkan polusi seperti pemakaian serpihan
kayu dan batubara. Namun untuk pengaruh penambahan uap air belum
menunjukkan kinerja yang maksimal karena zone pembakaran untuk alat
gasifikasi type T-LUD ini tidak tetap.

4.1.2 Nilai Spesific Gasification Rate (SGR)


37

Spesific Gasification Rate (SGR) adalah perbandingan jumlah konsumsi


bahan baku yang digunakan dengan luas reaktor gasifier dan total waktu yang
dibutuhkan untuk menghabiskan bahan baku tersebut. Nilai SGR dapat
diformulasikan sebagai berikut:

Berat bahan baku yang digunakan (kg)


SGR=
Operationa l Time (jam) x Luas Reaktor (m 2 )

Dengan, luas area reaktor gasifier adalah π x r2


rreaktor = 0,075 meter
maka, Luas reaktor = 3,14 x 0,0752
= 0,01767 m2
1,084 kg
SGR =
0,6255 jam × 0,01767 m 2

= 98,08 kg/m2jam
Kemudian untuk perhitungan selanjutnya ditampilkan dalam bentuk tabel
4.1.2 berikut:

Tabel 4.1.2 Nilai Spesific Gasification Rate (SGR)


m (Kg) OT (jam) SGR (kg/m2jam)
Bahan Bukaan
tanpa Dengan
baku kipas tanpa uap dengan uap tanpa uap dengan uap
uap uap
full 1,084 1,082 0,6255 0,6843 98,08 89,48
sekam 3/4 1,084 1,082 0,6412 0,7043 95,68 86,94
1/2 1,084 1,082 0,6557 0,7878 93,56 77,72
padi 1/4 1,084 1,082 - - - -

full 0,839 0,747 0,3387 0,3557 140,20 118,86


3/4 0,839 0,747 0,3408 0,3565 139,31 118,58
kayu 1/2 0,839 0,747 0,4032 0,3898 117,77 108,44
1/4 0,839 0,747 0,4862 0,4868 97,67 86,84

full 1,000 1,000 0,5172 0,4852 109,43 116,65


3/4 1,000 1,000 0,4902 0,5047 115,46 112,14
batubara 1/2 1,000 1,000 0,5018 0,4835 112,77 117,05
1/4 1,000 1,000 0,5177 0,4348 109,32 130,15
38

Dari data tabel diatas maka dibuat grafik hubungan antara bukaan kipas
dengan nilai SGR sebagai barikut:
160
sekam tanpa
140 uap
nilai SGR (kg/m 2.jam)

120 sekam + uap

100
serpihan kayu
tanpa uap
80
serpihan kayu
60 + uap

40 batubara
tanpa uap
20 batubara +
uap
0
full 3/4 1/2 1/4
bukaan kipas

gambar 4.1.2 Grafik hubungan variasi bukaan kipas dengan nilai SGR
Dari gambar grafik 4.1.2 terlihat bahwa dengan perubahan bukaan kipas
maka nilai SGR juga berubah baik untuk pemakaian bahan baku sekam padi,
serpihan kayu maupun batubara. Semakin kecil bukaan kipas (udara yang
dihembuskan semakin sedikit) maka nilai SGR akan semakin kecil pula, begitu
juga sebaliknya. Perubahan nilai SGR juga berubah pada pengujian penambahan
uap air dimana dapat terlihat seperti pada grafik 4.1.2 dengan penambahan uap air
pada proses gasifikasi menyebabkan nilai SGR semakin kecil. Hal ini berarti
bahwa perubahan nilai SGR sebanding dengan perubahan nilai Operational Time
dan nilai Fuel Consumption Rate.
Dari tabel 4.1.2 juga terlihat bahwa pada pengujian dengan memakai
bahan baku sekam padi nilai SGRnya sangat rendah yaitu antara 77,72-98,08
kg/m2.jam. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang ada dalam handbook of rice
husk gas stove by T.Alexis Belonio, dimana kisaran nilai SGR adalah 110-210
kg/m2.jam, ini disebabkan karena pengaruh kelembaban/kandungan air pada
bahan baku yang masih tinggi.

4.1.3 Nilai Combustion Zone Rate (CZR)


39

Combustion Zone Rate (CZR) adalah kecepatan pembakaran yang terjadi


di dalam tabung reaktor gasifier yang diformulasikan dengan perbandingan antara
panjang tabung reaktor dengan lama waktu yang dihabiskan selama proses
gasifikasi berlangsung.
Sebagai contoh perhitungan diambil data pembakaran dengan
menggunakan bahan baku sekam padi tanpa penambahan uap air sebagai berikut:
Panjang tabung rektor (m)
CZR =
Operationa l time (jam)
0,605 m
= 0,6255 jam

= 0,9672 m/jam.

Selanjutnya perhitungan disajikan dalam tabel 4.1.3 berikut:

Tabel 4.1.3 Nilai CZR

bahan OT (jam) CZR (m/jam)


bukaan
baku tanpa uap dengan uap tanpa uap dengan uap
full 0,6255 0,6843 0,9672 0,8841
3/4 0,6412 0,7043 0,9436 0,8590
sekam
1/2 0,6557 0,7878 0,9227 0,7679
padi
1/4 - -

full 0,3387 0,3557 1,7864 1,7010


3/4 0,3408 0,3565 1,7751 1,6971
kayu 1/2 0,4032 0,3898 1,5006 1,5519
1/4 0,4862 0,4868 1,2444 1,2427

full 0,5172 0,4852 1,1698 1,2470


3/4 0,4902 0,5047 1,2343 1,1988
batubara
1/2 0,5018 0,4835 1,2056 1,2513
1/4 0,5177 0,4348 1,1687 1,3913

Dari data tabel diatas maka dibuat grafik hubungan antara bukaan kipas
dengan nilai CZR sebagai barikut:
40

2.00
1.80 sekam tanpa
uap
1.60
sekam + uap
1.40
nilai CZR (m/jam)

1.20 serpihan
1.00 kayu tanpa
uap
0.80 serpihan
kayu + uap
0.60
batubara
0.40 tanpa uap
0.20 batubara +
0.00 uap

full 3/4 1/2 1/4


bukaan kipas

gambar 4.1.3 Grafik hubungan antara variasi bukaan kipas


dengan perubahan nilai CZR
Dari gambar grafik 4.1.3 dapat dilihat pengaruh variasi bukaan kipas
dengan nilai Combustion Zone Rate (CZR), dimana semakin kecil bukaan kipas
(semakin sedikit udara yang masuk) maka kecepatan pembakaran bahan baku
semakin kecil/lambat, begitupun sebaliknya. Hal ini disebabkan karena pengaruh
udara pada pembakaran memegang peranan yang sangat penting yaitu sebagai
oksidizer.
Dari grafik juga dapat dilihat bahwa kecepatan pembakaran terbesar yaitu
pada pengujian gasifikasi dengan pemakaian bahan baku serpihan kayu kemudian
diikuti dengan batubara dan yang paling lambat adalah pada pemakaian bahan
baku sekam padi. Hal ini berarti bahwa pemakaian bahan baku sekam padi
sangatlah cocok untuk kompor gasifikasi type T-LUD daripada serpihan kayu dan
batubara.
Perubahan nilai CZR juga berubah pada pengujian penambahan uap air
dimana dapat terlihat seperti pada grafik 4.1.3 dengan penambahan uap air pada
proses gasifikasi menyebabkan nilai CZR semakin kecil.

4.1.4 Nilai Sensible Heat (SH)


41

Sensibel Heat (SH) adalah jumlah energi panas yang dibutuhkan untuk
memanaskan air/menaikkan suhu air yaitu diukur pada saat suhu awal air (T i = 25-
30)oC sampai suhu air mencapai 95oC). Sensibel Heat (SH) dapat diformulasikan
sebagai berikut:
SH = Mw x Cp x (TF -Ti)
Dengan, Mw = berat air yang dipanaskan yaitu 1 liter = 0,985 kg
Cp = panas spesifik untuk air pada suhu 95oC
yaitu 1,005 Kkal/kgoC
Tf = temperature air saat mendidih yaitu 95oC
Ti = temperature air sebelum dipanaskan yaitu 27oC
Jadi,
SH = 0,985 kg x 1,005 Kkal/kgoC x (95-27)oC
= 0,985 x 1,005 x 68
= 67,31Kkal
Selanjutnya perhitungan disajikan dalam tabel 4.1.4 berikut:
Tabel 4.1.4 Nilai Sensibel Heat (SH)
Bahan Ti (oC) SH (Kkal)
bukaan
baku tanpa uap dengan uap tanpa uap dengan uap
full 27 28 67,31 66,32
3/4 27 26 67,31 68,30
sekam
1/2 28 25 66,32 69,29
padi
1/4 - - - -

full 27 27 67,31 67,31


3/4 27 28 67,31 66,32
kayu 1/2 28 26 66,32 68,30
1/4 28 26 66,32 68,30

batubara full 26 27 68,30 67,31


3/4 26 25 68,30 69,29
1/2 25 27 69,29 67,31
1/4 25 28 69,29 66,32

Jadi jumlah nilai kalor yang dibutuhkan untuk memanaskan air pada alat
gasifikasi ini berbeda untuk semua bahan baku, baik untuk sekam padi, serpihan
kayu maupun batubara tergantung dari suhu awal air yang akan dipanaskan (Ti).
42

Nilai SH tertingi yaitu 69,29 Kkal, hal ini berarti bahwa untuk memanaskan air
dari suhu 25oC hingga suhu air mencapai 95oC membutuhkan panas 69,29 Kkal.

4.1.5 Efisiensi Thermal


Efisiensi Thermal (TE) adalah perbandingan antara energi yang digunakan
pada pemanasan dan penguapan air dengan energi panas yang terkandung pada
bahan bakar. Efisiensi Thermal yang dimaksud disini adalah efisiensi pemakaian
panas dengan hanya memanaskan 1 liter air,dapat diformulasikan sebagai berikut:
SH + LH
TE = ×100 %
HF ×WF
Dengan, SH = Sensibel Heat yaitu 68 Kkal
LH = Laten Heat yaitu 540 Kkal
HF = nilai kalor bakar (Eugene S. Domalski dkk) yaitu:
sekam padi = 3854 Kkal/kg,
serpihan kayu = 4930 Kkal/kg,
batu bara = 26,12 Mj/kg = 6243,3147 Kkal/kg
WF = berat bahan baku yang digunakan, sebagai contoh yaitu
berat bahan baku sekam padi yang digunakan pada
pembakaran tanpa penambahan uap air yaitu 1,084 kg.
Jadi,
68 Kkal + 540 Kkal
TE = 3854 Kkal / kg ×1,084 ×100 %

60800
= 4177,736

= 14,5533 %
kemudian perhitungan selanjutnya ditampilkan dalam tabel 4.1.5 berikut:
Tabel 4.1.5 Nilai Efisiensi Thermal
m (Kg) BT (menit) OT (menit) TE (%)
bahan Bukaan
tanpa dengan tanpa dengan tanpa dengan tanpa dengan
baku kipas
uap uap uap uap uap uap uap uap
full 1,084 1,082 7,11 7,09 37,53 41,06 14,5369 14,5401
sekam 3/4 1,084 1,082 7,21 8,25 38,47 42,26 14,5369 14,5875
1/2 1,084 1,082 7,47 9,30 39,34 47,27 14,5132 14,6113
padi 1/4 1,084 1,082 - - - -
43

full 0,839 0,747 7,41 8,01 20,32 21,34 18,7819 21,0951


3/4 0,839 0,747 8,01 8,08 20,45 21,39 18,7819 21,0607
kayu 1/2 0,839 0,747 8,59 8,20 24,19 23,39 18,7513 21,1295
1/4 0,839 0,747 9,00 8,40 29,17 29,21 18,7513 21,1295

full 1,000 1,000 8,02 7,26 31,03 29,11 15,7837 15,7580


3/4 1,000 1,000 8,35 6,41 29,41 30,28 15,7837 15,8094
batubara
1/2 1,000 1,000 7,12 8,12 30,11 29,01 15,8094 15,7580
1/4 1,000 1,000 9,52 8,03 31,06 26,09 15,8094 15,7324

Dari data tabel 4.1.5 diatas terlihat bahwa efisiensi pada pembakaran tanpa
penambahan uap air dan dengan penambahan uap air mempunyai perubahan yang
tidak begitu besar. Seperti yang terlihat pada pembakaran dengan menggunakan
sekam padi tanpa penambahan uap air dengan memanaskan air 1 liter efisiensinya
adalah 14,54% sedangkan pada penambahan uap air efisiensinya adalah 14,59%.
Hal ini disebabkan karena nilai dari efisiensi thermal tergantung dari berat bahan
baku yang digunakan pada proses gasifikasi, jadi semakin sedikit bahan baku
yang dipakai maka efisiensi dari alat ini akan semakin besar, begitu juga
sebaliknya.
Pada percobaan pembakaran dengan menggunakan serpihan kayu terlihat
juga adanya peningkatan efisiensi sekitar 1,81% karena berat bahan baku yang
digunakan pada pembakaran dengan penambahan uap air lebih sedikit
dibandingkan dengan sebelum penambahan uap air.
Pada percobaan pembakaran dengan menggunakan batubara tidak terlihat
adanya perubahan nilai efisiensi yang begitu besar, hal ini disebabkan karena
berat bahan baku yang digunakan pada pembakaran ini adalah sama, baik pada
pembakaran tanpa penambahan uap air maupun dengan penambahan uap air yaitu
1 kg. Sehingga efisiensi terbesar yang dihasilkan adalah 15,81%.
Dari data-data diatas dapat disimpulkan bahwa nilai efisiensi thermal
menunjukkan adanya pengaruh penambahan uap air pada sistem pembakaran,
namun nilai efisiensi thermal yang diperoleh disini bukan menunjukkan efisiensi
thermal dari kompor gasifikasi, melainkan merupakan efisiensi panas yang
terpakai dengan memasak air 1 liter, hal ini dapat dilihat pada tabel 4.1.5, dimana
Boilling Time (waktu yang terpakai untuk memanaskan air 1 liter sampai suhu
95oC) hanya 1/5 dari Operational Timenya. Hal ini menunjukkan bahwa pada
44

penelitian ini masih banyak kalor yang terbuang percuma, karena energi panas
yang terpakai hanya untuk memanaskan air 1 liter saja, setelahnya hanya
dibiarkan menyala tanpa pemakaian untuk memasak. Sehingga untuk penelitian
selanjutnya diharapkan setelah selesai memanaskan air 1 liter agar dipakai untuk
memasak sesuatu sampai gas yang dihasilkan benar-benar habis (nyala api pada
burner mati) agar panas yang dihasilkan tidak terbuang percuma dan dapat
diperoleh nilai efisiensi thermal dari alat gasifikasi ini.

4.1.6 Power Input dan Power Output


a. Power Input (Pi)
Power Input (Pi) adalah jumlah energi panas yang diberikan kepada
kompor yang didasarkan pada jumlah bahan bakar yang dikonsumsi. Power Input
(Pi) dapat diformulasikan sebagai berikut: (Sebagai contoh perhitungan diambil
data pembakaran dengan menggunakan bahan baku sekam padi tanpa
penambahan uap air)
Pi = 0,0012 x FCR x HF
= 0,0012 x 1,7330 Kg/jam x 3854 Kkal/kg
= 8,0147784 kW

b. Power Output (Po)


Power output (Po) adalah jumlah energi panas yang dihasilkan oleh
kompor gasifikasi untuk memasak. Power output (Po) dapat diformulasikan
sebagai berikut: (Sebagai contoh perhitungan diambil data pembakaran dengan
menggunakan bahan baku sekam padi tanpa penambahan uap air)
Po = FCR x TE x HF
= 1,7330 kg/jam x 0,145533 x 3854 Kkal/kg
= 972,0224 Kkal/jam
1
= 972,0224 x 860 ,076 kW

= 1,13 kW
45

Selanjutnya perhitungan disajikan dalam tabel 4.1.6 berikut:


46

Tabel 4.1.6 Nilai Power input dan power output


FCR (Kg/jam) TE (%) Pi (kW) Po (kW)
Bahan Bukaan
tanpa dengan tanpa dengan tanpa dengan tanpa dengan
baku kipas
uap uap uap uap uap uap uap uap
full 1,7330 1,5811 14,5533 14,5802 8,01 7,31 1,13 1,03
seka ¾ 1,6907 1,5362 14,5533 14,5802 7,82 7,10 1,10 1,00
½ 1,6533 1,3734 14,5533 14,5802 7,65 6,35 1,08 0,90
m padi ¼ - - - - - -

full 2,4774 2,1003 14,6992 16,5096 14,66 12,43 2,09 1,99


¾ 2,4616 2,0954 14,6992 16,5096 14,56 12,40 2,07 1,98
kayu ½ 2,0810 1,9162 14,6992 16,5096 12,31 11,34 1,75 1,81
¼ 1,7257 1,5344 14,6992 16,5096 10,21 9,08 1,45 1,45

full 1,9336 2,0611 9,7384 9,7384 14,49 15,44 1,37 1,46


Batu ¾ 2,0401 1,9815 9,7384 9,7384 15,28 14,85 1,44 1,40
bara ½ 1,9927 2,0683 9,7384 9,7384 14,93 15,50 1,41 1,46
¼ 1,9317 2,2997 9,7384 9,7384 14,47 17,23 1,37 1,63
berdasarkan data tabel diatas maka dibuat grafik hubungan antara bukaan
kipas dengan Power input dan Power Output sebagai berikut:

20
18 sekam tanpa
uap
16
sekam + uap
14
Power Input (kW)

12 serpihan kayu
tanpa uap
10
serpihan kayu
8 + uap
6 batubara
tanpa uap
4
batubara +
2
uap
0
full 3/4 1/2 1/4
variasi bukaan kipas

Gambar 4.1.6 Grafik hubungan antara bukaan kipas


dengan Power Input
47

0.50
0.45
0.40 sekam tanpa
uap
Power Output (kW)
0.35
sekam + uap
0.30
0.25 serpihan kayu
tanpa uap
0.20
serpihan kayu
0.15 + uap

0.10 batubara
tanpa uap
0.05 batubara +
0.00 uap
full 3/4 1/2 1/4
variasi bukaan kipas

Gambar 4.17 Grafik hubungan antara bukaan


kipas dengan Power Output

Dari data-data pada tabel 4.1.6 dan gambar grafik 4.1.7 terlihat bahwa
besarnya energi yang dihasilkan dari gasifikasi sekam padi sebelum penambahan
uap air lebih besar dibandingkan dengan energi yang dihasilkan dari gasifikasi
sekam padi dengan penambahan uap, yaitu sekitar 8% sampai 16% yang berarti
bahwa desain penambahan uap air untuk sekam padi belum dapat
mengoptimalkan kinerja dari kompor gasifikasi tersebut, hal ini disebabkan
karena pengaruh kondisi zone pembakaran yang slalu bergerak sehingga uap air
yang diumpankan tidak bisa bereaksi langsung dengan gas-gas hasil gasifikasi.
Jumlah energi panas tertinggi yang bisa dihasilkan oleh gasifikasi dengan
menggunakan bahan baku sekam padi adalah 1,13 kW yaitu pada pegujian tanpa
penambahan uap air dan variasi bukaan kipas penuh, hal ini menunjukkan bahwa
bukaan kipas sangat berpengaruh pada jumlah energi yang dihasilkan oleh
kompor gasifiksi tersebut.
Untuk pengujian gasifikasi dengan menggunakan bahan baku serpihan
kayu, jumlah energi panas tertinggi yang bisa dihasilkan adalah 2,09 kW yaitu
pada pengujian dengan tanpa penambahan uap air dan bukaan kipas penuh.
Tetapi, berbeda dengan pada saat menggunakan bahan baku sekam padi, pada
penggunaan bahan baku serpihan kayu terlihat adanya peningkatan energi panas
yang dihasilkan dengan tambahan disain uap air pada pengujian dengan variasi
48

bukaan kipas ½ yaitu sekitar 3,42%. Hal ini berarti untuk penggunaan bahan baku
serpihan kayu dengan penambahan uap air maka variasi bukaan kipas yang paling
cocok adalah bukaan kipas ½.
Pada pengujian gasifikasi dengan menggunakan bahan baku batubara
terlihat adanya peningkatan energi panas yang dihasilkan secara merata pada tiap-
tiap varisi bukaan. Untuk bukaan kipas penuh terjadi peningkatan sebesar 6,19%,
untuk bukaan kipas ¾ terjadi penurunan sekitar 2,96%, untuk bukaan kipas ½
terjadi peningkatan lagi yaitu sebesar 3,65%, dan untuk bukaan kipas ¼
peningkatan energi panas yang dihasilkan mencapai 16%. Hal ini menunjukkan
bahwa penambahan uap air pada proses gasifikasi berpengaruh terhadap jumlah
energi panas yang dihasilkan oleh kompor, walaupun tidak begitu besar tetapi
dapat dikatakan bahwa dengan penambahan uap air maka gasifikasi bisa semakin
optimal, dengan syarat zone pembakaran yang terjadi di dalam tabung reaktor
dalam keadaan diam/tetap.
49

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut:
1. Kompor gasifikasi type T-LUD ini sangat cocok bila memakai bahan baku
sekam padi, karena nyala yang dihasilkan berwarna biru kemerah-merahan
hampir sama dengan kompor-kompor rumah tangga, dan disamping itu
pemakaian bahan baku sekam padi tidak menimbulkan polusi seperti
pemakaian serpihan kayu dan batubara
2. Penambahan uap air pada proses gasifikasi dapat meningkatkan energi
panas yang dihasilkan dari proses gasifikasi berbagai biomassa tersebut,
dengan syarat zone pembakaran dalam tabung reaktor dalam keadaan
diam/tetap, sehingga untuk kompor gasifikasi type T-LUD ini kurang cocok
apabila ditambahkan disain penambahan uap.
3. Pada proses gasifikasi sekam padi dan serpihan kayu, semakin besar
variasi bukaan kipas maka semakin besar energi panas yang dihasilkan.
4. Energi panas terbesar dihasilkan pada pengujian gasifikai dengan memakai
bahan baku serpihan kayu yaitu 2,09 kW.
5. Pengaruh penambahan uap air terbesar ditunjukkan pada pengujian
gasifikasi dengan memakai bahan baku batubara dan variasi bukaan kipas ¼
yaitu sebesar 16%.

5.2 Saran
Mengingat skripsi ini jauh dari kesempurnaan, maka untuk peneliti
selanjutnya diharapkan:
1. Lebih teliti dalam mendesain penempatan penambahan uap air pada proses
gasifikasi, sehingga energi yang dihasilkan bisa lebih optimal.
50

2. Dapat mencoba dengan bermacam-macam bahan baku biomassa lainnya,


sehingga dapat membandingkannya dengan menggunakan bahan baku sekam
padi.
3. Untuk menghindari pengulangan yang berlanjut pada saat pengujian,
sebaiknya bahan baku yang akan dipergunakan benar-benar sudah kering
(kadar kelembabannya kurang dari 30%).
51

DAFTAR PUSTAKA

Adan, Ismun Uti, Ir., 1998, Membuat Tungku Bioarang, Yogyakarta, Kanisius.

Astary ratih, 2008, Biomass to liquid (BTL),http://majarimagazine.com/biomass_


to_liquid_btl.

Belonio, A.T, 2005, Hand Book Of Rice Husk Gas Stove, Paul S. Anderson, Iloilo
City, Philippines.

Biomasa, 2009, http://www.energisavingtrust.org.uk/generate_your_own_energi/


types_of_renewables/biomass.

Biomass, 2009, http://www.kompascybermedia.com.

Gasification,2009, http://en.wikipedia.org/wiki/gasification.

Juankhan, 2008, Kayu Bakar dan Limbah Pertanian Sebagai Bahan Bakar
Alternatif,http://www.smallcrab.com/other/kayu bakar dan limbah pertanian
sebagai bahan bakar alternatif.

Kandungan Kimia Sekam Padi,2008, Badan Penelitian dan Pengembangan


Pertanian, Departemen Pertanian.

Pyrolysis,2009, http://en.wikipedia.org/wiki/Pyrolysis.

Rohman Saepul, 2009, Biomass To Liquid (Kayu dan Rerumputan),


http://majarimagazine.com/biomass_to_liquid_kayu_dan_rerumputan.

Reed, T.B., R. Walt, S. Ellis, A. Das, S. Deutch, 1999, Superficial Velocity The
Key To Downdraft Gasification, http://www.renergi.com/April 2009.

Sopian Tatang, 2005, Sampah dan Lmbah Biomassa Potensi Alternatif Energi,
http://www.indonesian.purwakarta.go.id.

Sutardi Tata, 2008, Kajian Teknologi Gasifikasi,http://www.renergy.com/Mei


2009.

Sjostrom Eero, 1995, Kimia Kayu, Gadjah Mada University Press.

Sukandarrumidi Ir, MSc., phd, 1995, Batu Bara dan Gambut, Fakultas Teknik
UGM, Gadjah Mada University Press.
52

Tasliman Ir,M.Eng, Teknologi Gasifikasi Biomassa, http://io.ppi jepang.org/article


php.

Tjokrowisastro, Eddy Harmadi., Ir. Dan Widodo, Budi Utomo Kukuh, Ir., 1990,
Teknik Pembakaran Dasar dan Bahan Bakar, Surabaya, ITS.

Winaya Suprapta I Nyoman, 2008, Prospek Energi Dari Sekam Padi,http://io.ppi-


jepang.org/article.php.
53

Belonio, A.T, 2005, Hand Book Of Rice Husk Gas Stove, Paul S. Anderson, Iloilo
City, Philippines.

Dw-World.De, 2008, Biomassa Sebagai Sumber Energi Terbarukan, www.dw-


world.de

Hardjono, 2000, Teknologi Minyak Bumi, Yogyakarta, Gajah Mada University


Press.

Harpini, Banun., 2006, Giliran Sekam Untuk Bahan Bakar Alternatif, Jurnal
Warta Penelitian Dan Pengembangan Pertanian, B2P4, Vol. 28 No. 2,
ISSN 0216-4427.

Pambudi, Nugroho Agung, 2008, Menyulap Biomassa Menjadi Energi,


www.renegy.com

Putra., Sinly Evan, dan Ibrahim, 2007, Indonesia Sebagai Lumbung Energi
Dunia, Lampung, Universitas Lampung.

Rahayuningsih, 2005, Energi Alternatif Dan Kemauanpolitik Pemerintah,


www.index.com.

Suliyanto, 2007, Dasar-dasar Metode Penelitian, Universitas Jendral Sudirman.


Purwokerto.

Sutardi Tata, 2008, Kajian Teknologi Gasifikasi, www.renegy.com.

Thoha, Achmad Siddik, 2008, Proses-Proses Dan Lingkungan Yang


Mempengaruhi Kebakaran Biomassa, Universitas Sumatera Utara.

Tjokrowisastro, Eddy Harmadi., Ir. Dan Widodo, Budi Utomo Kukuh, Ir., 1990,
Teknik Pembakaran Dasar dan Bahan Bakar, Surabaya, ITS.
Widarto, Ir., dan Sryanta, Ir., 1995, Membuat Bioarang Dari Kotoran Lembu,
Yogyakarta, Kanisius.

Widarto, Ir., dan Sudarto, FX., C. Ph., 1997, Membuat Tungku Lorena,
Yogyakarta, Kanisius.