Anda di halaman 1dari 8

Nama kelompok :

Sherly Mardia Putri 1962201026

Yanesti Oktanis 1962201030

Ovi Nurlaili 1962201045

Retno Triono 1962201049

Esa Destiani 1962201065

Hiltia Feni Fitria 1962201067

RESUME

Eliminasi Transaksi Antara Entitas Induk dan Entitas Anak


A. Eliminasi Transaksi Antara Entitas Induk Dan Entitas Anak

Transaksi anatara Entitas Induk dan Entitas Anak Entitas induk dan entitas anak
sering terlibat dalam transaksi, seperti transaksi jual beli persediaan, jual beli aset tetap, atau
pemberian pinjaman. Sering kali entitas anak menghasilkan produk yang akan diproses lebih
lanjut oleh entitas indukny, dan/atau sebaliknya. Dalam PSAK 65 (Revisi 2014) Laporan
Keuangan Konsolidasian, transaksi yang melibatkan entitas induk dan entitas anak sering
disebut dengan transaksi antar entitas dalam kelompok usaha. Transaksi hulu atau yang
sering disebut dengan transaksi downstream adalah transaksi dari entitas induk ke entitas
anak. Transaksi hilir adalah transaksi dari anak ke entitas induk.

Pentingnya Eliminasi atas Transaksi antara Entitas Induk dan Entitas Anak

Entitas induk berkewajiban menyusun laporan keuangan yang menggambarkan


kinerja dan kondisi keuangan entitas induk beserta entitas anaknya secara keseluruhan. .
PSAK 65 (Revisi 2014) memdefinisikan laporan keuangan konsolidasian sebagai laporan
keuangan kelompok usaha yang didalamnya aset, liabilitas, ekuitas, penghasilan, beban, dan
arus kas entitas induk dan entitas anak disajikan sebagai suatu entitas ekonomi tunggal. Oleh
karena itu, dapat disimpulkan bahwa untuk penyusunan laporan keuangan konsolidasian
entitas induk dan entitas anak merupakan satu entitas tunggal yang tidak terpisahkan. Oleh
karena entitas induk dan entitas anak merupakan satu entitas tunggal, maka transaksi antara
entitas induk dan entitas anak menjadi transaksi di dalam satu entitas, sehingga semua
dampak transaksi antar entitas dalam satu kelompok usaha terus dieliminasi.
B. Transaksi Penjualan Persediaan

Dampak terhadap Pencatatan Entitas Induk

Transaksi jual beli persediaan antara entitas induk dan entitas anak merupakan contoh
transaksi antar-entitaas dalam satu kelompok usaha. Keuntungan tau kerugian yang muncul
dari jual beli persediaan belum terealisasi selama persediaan tersebut masih berada di entitas
induk atau entitas anak. Namun ketika persediaan tersebut telah terjual, keuntungan atau
kerugian atas penjualan akan terealisasi. PSAK 15 (Revisi 2014) menyatakan bahwa
keuntungan atau kerugian yang dihasilkan dari transaksi hulu atau hilir diakui dalam laporan
keuangan entitas hanya sebesar bagian investor lain dalam entitas anak.

Dampak terhadap Jurnal Eliminasi

Jurnal eliminasi terkait transaksi jual beli persediaan antara entitas induk dan entitas
anak tergantung pada posisi persediaan pada akhir periode. Ketika seluruh persediaan yang
diperoleh dari entitas induk sudah terjual ke perusahaan non-afiliasi pada periode yang sama
dengan periode perolehannya, maka jurnal eliminasi dibuat untuk menghapus angka
penjualan dan beban pokok penjualan sebesar angka penjualan persediaan entitas induk ke
entitas anak. Jika pada akhir periode seluruh persediaan yang diperoleh dari entitas induk
belum terjual, maka penjualan dan beban pokok penjualan yang diakui entitas induk harus
dieliminasi. Namun, ketika persediaan sudah terjual sebagian pada periode
tersebut, maka sebagian keuntungan atau kerugian penjualan persediaan yang belum
terealisasi harus dieliminasi.

Contoh 2.1 Dampak terhadap Pencatatan Entitas Induk dan Jurnal Eliminasi

Contoh dampak transaksi jual beli persediaan antara entitas induk dan entitas anak, baik
terhadap pencatatan entitas induk maupun jurnal eliminasi yang harus dibuat pada saat
menyusun laporan keuangan konsolidasian.

PT Palapa (PT P) memiliki 100% saham PT Samudera (PT S). Selama tahun 2015, terdapat
transaksi penjualan persediaan oleh PT P ke PT S sebesar Rp10.000.000. Beban pokok
penjualan (BPP) yang dibukukan PT P terkait transaksi penjualan tersebut adalah
Rp6.000.000. bagaimana pencatatan dan jurnal yang harus dibuat PT P saat penyusunan
laporan keuangan konsolidasian 2015 jika:
Skenario 1 - Seluruh persediaan yang diperoleh dari PT P telah terjual seharga Rp16.000.000.

Skenario 2 - Seluruh persediaan yang diperoleh darp PT P belum terjual.


Skenario 3 - Sebanyak 75% dari persediaan yang diperoleh dari PT P telah terjual seharga
Rp12.000.000.
Skenario 1 - Seluruh persediaan terjual
Skenario 1 dapat digambarkan dalam bagan berikut:

Penjualan = Rp10.000.000 Penjualan = Rp16.000.000


Beban Pokok pejualan = Rp6.000.000 Beban pokok penjualan = Rp10.000.000

PT P PT S
Persediaan Persediaan Persediaan

6.000.000 10.000.000 16.000.000

Terkait penjualan ke entitas anak, PT P melaporkan keuntungan sebesar RP4.000.000


(Rp.10.000.000. – Rp6.000.000.). keuntungan tersebut sudah terealisasi kerena persediaan
yang diperoleh PT S dari PT P sudah terjual ke perusahaan non-afiliasi. Oleh karena itu, tidak
ada jurnal yang dibuat oleh PT P terkait penangguhan keuntungan transaksi hulu.
Transaksi hulu dalam contoh ini mengakibatkan pengakuan penjualan sebesar Rp10.000.000
dan beban pokok penjualan sebesar Rp6.000.000 oleh PT P. Di sisi lain, PT S membukukan
penjualan sebesar Rp16.000.000 dan beban pokok penjualan senilai Rp10.000.000. akun
penjualan milik PT P dan beban pokok penjualan milik PT S harus karena transaksi penjulan
tersenut terjadi dalam satu entitas. Jurnal eliminasi yang harus di buat adalah:

Penjualan 10.000.000

Beban Pokok Penjualan 10.000.000

Mengeliminasi penjualan persediaan anatara PT P dan PT S

Dampak dari jurnal eliminasi tersebut terhadap penyajian akun penjualan, beban pokok
penjualan, dan persediaan dalam laporan keuangan konsolidasi adalah sebagai berikut :

TABEL 5.1

Dampak Jurnal Skenario 1 terhadap Laporan Keuangan Konsolidasi

Akun PT P PT S Sebelum Eliminasi Konsolidasi


konsilidasi
Penjualan Rp.10.000.00 Rp.16.000.00 Rp.26.000.00 (Rp.10.000.000 Rp16.000.00
0 0 0 ) 0
Beban Rp.6.000.00 Rp.10.000.00 Rp.16.000.00
pokok 0 0 0 (Rp.10.000.000 Rp.6.000.000
penjualan )
Persediaa - - - - -
n

Skenario 2 – Seluruh persediaan belum terjual


Skenario 2 dapat digambarkan dalam bagan berikut:

Penjualan = Rp10.000.000 Penjualan = Rp10.000.000


Beban Pokok pejualan = Rp6.000.000

Persediaan PT P Persediaan PT S

6.000.000 10.000.000
Keuntungan atas penjualan yang dibukukan PT P sebesar Rp4.000.000 belum terealisasi,
karena hingga akhir periode persediaan tersebut masih dimiliki oleh PT S. Oleh karena itu,
PT P harus mencatat penangguhan keuntungan atas penjualan tersebut menggunkan jurnal
berikut:

Bagian Laba Atas Entitas


Anak 4.000.000
Investasi pada Entitas
Anak 4.000.000
Mencatat keuntungan yang belum terealisasi

Oleh karena transaksi penjualan persediaan pada ilustrasi ini merupakan transaksi hulu,
maka PT P mencatat keuntungan yang belum terealisasi secara penuh.
Transaksi hulu pada contoh ini mengakibatkan pengakuan penjualan sebesar Rp10.000.000
dan beban pokok penjualan sebesar Rp6.000.000 oleh PT P, dan belum terdapat penjualan
yang dibukukan oleh PT S. Dari sudut pandang konsolidasian, persediaan tersebut masih
berada di perusahaan, sehingga penjualan dan beban pokok penjualan yang diakui PT P harus
dieliminasi secara penuh. Keuntungan atas penjualan yang belum terealisasi, yaitu sebesar
Rp4.000.000, juga dieliminasu dengan mengurangi persediaan. Jurnal eliminasi yang dibuat
adalah:

Penjualan 10.000.000

Beban Pokok Penjualan 6.000.000

Persediaan 4.000.000

Mengeliminasi penjualan persediaan antara PT P dan PT S

Dampak dari jurnal eliminasi tersebut terhadap penyajian akun penjualan, beban pokok
penjualan, dan persediaan dalam laporan keuangan konsolidasian sebagai berikut:

TABEL 2.2

Dampak Jurnal Eliminasi Skenario 2 terhadap Laporan Keuangan Konsolidasi

Akun PT P PT S Sebelum Eliminasi Konsolidasi


Konsilidasi
Penjualan Rp.10.000.000 - Rp.10.000.000 (Rp.10.000.000) -
Beban Pokok Rp.6.000.000 - Rp.6.000.000 (Rp.6.000.000) -
Penjualan
Persediaan - Rp.10.000.000 Rp.10.000.000 (Rp.4.000.000) Rp.6.000.000

Skenario 3 – Sebagian persediaan terjual


Skenario 3 dapat digambarkan dalam bagan berikut:
Penjualan = Rp10.000.000 Penjualan = Rp12.000.000
Beban Pokok pejualan = Rp6.000.000 Beban Pokok Penjualan = Rp7.500.000
Persediaan = Rp. 10.000.000

PT P PT S

Persediaan Persediaan Persediaan

6.000.000 10.000.000 12.000.000

Oleh karena persediaan yang diperoleh dari PT P baru 75% yang telah terjual, maka terdapat
keuntungan penjualan yang belum terealisasi. Besarnya keuntungan penjualan yang belum
terealisasi sesbesar Rp1.000.000 (25% x Rp10.00.000). eliminasi dibuat atas akun penjualan
yang dilaporkan PT P, yaitu senilaii Rp10.000.000. keuntungan atas penjualan yang belum
terealisasi sebesar Rp1.000.000 dieliminasi dengan mengurangi akun persediaan. Akun beban

pokok penjualan dieliminasi sebesar Rp9.000.000, karena beban pokok penjualan yang akan
disajikan dalam laporan keuangan konsolidasian hanya sebesar Rp4.500.000 (75% x
Rp6.000.00). Jurnal eliminasi yang harus dibuat sebagai berikut:

Penjualan 10.000.000

Beban Pokok Penjualan 9.000.000

Persediaan 1.000.000

Mengeliminasi penjualan persediaan antara PT P dan PT S

Dampak dari jurnal eliminasi tersebut terhadap penyajian akun penjualan, beban pokok
penjualan, dan persediaan dalam laporan keuangan konsolidasian adalah sebagai berikut:

TABEL 2.3

Dampak Jurnal Eliminasi Skenario 3 terhadap Laporan Keuangan Konsolidasi

Akun PT P PT S Sebelum Eliminasi Konsolidasi


Konsilidasi
Penjualan Rp.10.000.000 Rp.12.000.000 Rp.22.000.000 (Rp.10.000.000) Rp.12.000.00
0
Beban Pokok Rp.6.000.000 Rp.7.500.000 Rp.3.500.000 (Rp.9.000.000) Rp.4.500.000
Penjualan
Persediaan - Rp.10.000.000 Rp.2.500.000 (Rp.1.000.000) Rp.1.500.000
Transaksi Hulu Penjualan Persediaan

Transaksi hulu atau yang sering disebut transaksi downstream adalah transaksi dari
entitas anak ke entitas induk. Keuntungan transaksi hulu yang belum terealisasi dicatat oleh
induk secara penuh. Keuntungan transaksi hulu terealisasi pada periode dimana persediaan
telah terjual.

Selama periode 2015, terdapat transaksi hulu, yaitu penjualan persediaan oleh PT
Nusantara ke PT Andalas sebesar Rp100.000.000. keuntungan dari penjualan tersebut adalah
Rp60.000.000 (Rp100.000.000 – Rp40.000.000). hingga akhir periode 2015, persediaan
tersebut belum terealisasi. PT Nusantara harus menangguhkan keuntungan tersebut secara
penuh dan melakukan pencatatan sebagai berikut:

31 Desember 2015

Bagian Laba atas PT Andalas 60.000.000

Investasi pada PT Andalas 60.000.000

Mencatat keuntungan transaksi hulu yang belum terealisasi (Rp100.000.000-


Rp40.000.000)

Persediaan yang diperoleh PT Andalas dari PT Nusantara belum terjual sampai akhir
2015, sehingga dari sudut pandang konsolidasi penjualan dan beban pokok penjualan PT
Nusantara terkait transaksi hulu harus dieliminasi. Keuntungan atas penjualan juga harus
dieliminasi karena keuntungan tersebut belum terealisasi. Jurnal eliminasi yang dibuat
adalah:

Penjualan 100.000.000

Beban Pokok Penjualan 40.000.000

Persediaan 60.000.000

Mengeliminasi penjualan persediaan anatara PT Nusantara dan PT Andalas

jika selama satu periode terdapat transaksi hulu penjualan persediaan yang baru, maka
dapat muncul kembali keuntungan atau kerugian penjualan yang belum terealisasi. Jadi,
dalam satu periode dimungkinkan adanya pengakuan realisasi dari keuntungan atau kerugian
penjualan persediaan periode sebelumnya dan pengakuan keuntungan atau kerugian
penjualan persediaan periode berjalan yang belum terealisasi.
Transaksi hiir penjualan persediaan

Transaksi Hilir atau yang sering di sebut transaksi upstream adalah transaksi dari
entitas induk ke entitas anak. Keuntungan transaksi hilir yang belum terealisasi di catat
entitas induk sebesar porsi kepemilikannya pada entitas anak.

Selama periode 2015 terdapat transaksi hilir yaitu penjualan persediaan oleh PT
Andalas ke PT Nusantara sebesar Rp 80.000.000. atas penjualan tersebut, PT Andalas
membukukan beban pokok penjualan sebesar Rp 50.000.000, sehingga keuntungan dari
penjualan tersebut adalah Rp 30.000.000. karena sampai dengan akhir periode 2015,
persediaan tersebut belum terjual, maka keuntungan atas penjualan tersebut belum
terealisasi . PT Nusantara mencatat keuntungan yang belum terealisasi hanya sebesar porsi
kepemilikan PT Nusantara saja, yaitu 75% dari Rp 30.000.000. jurnal yang dibuat oleh PT
Nusantara adalah sebagai berikut:

31 Desember 2015

Bagian laba atas PT Andalas 22.500.000

Investasi pada PT Andalas 22.500.000

Mencatat keuntungan transaksi hilir yang belum terealisasi (Rp 30.000.000 x 75%)

Jika di periode terdapat transaksi hilir penjualan persediaan yang baru, maka dapat
muncul kembali keuntungan atau kerugian penjualan persediaan yang belum terealisasi.
Sehingga dalam satu periode akan terdapat pengakuan realisasi keuntungan atau kerugin
penjualan persediaan periode sebelumnya dan pengakuan keuntungan atau kerugian yang
belum terealisasi dari penjualan persediaan periode berjalan.

Transaksi Penjualan Jasa

Entitas induk dan entitas anak sering terlibat dalam transaksi penjualan jasa. Entitas
induk memberikan jasa kepada entitas anak, atau sebaliknya. Seperti halnya dengan transaksi
penjualan persediaan, dampak transaksi penjualan jasa anatara entitas induk dan entitas anak
juga harus dieliminasi.

Eliminasi untuk transaksi penjualan jasa tidak sekompleks eliminasi untuk transaksi
penjualan persediaan. Dalam transaksi penjualan jasa, pendapatan jasa yang diakui oleh
entitas induk atau enitas anak akan menjadi beban anak atau entitas induk pada nilai yang
sama sehingga tidak dapat terdapat keuntungan yang belum terealisasi atau transaksi tersebut.
Oleh karenanya eliminasi yang dibuat hanya menghapus akun pendapatan jasa dan beban.

Jurnal eliminasi atas transaksi penjualan jasa antara entitas induk dan entitas anak di
buat dengan menghapus pendapatan dan beban terkait. Utang-piutang yang di timbulkan dari
transaksi penjualan jasa antara entitas induk dan entitas anak harus di eliminasi

SUMBER: