Anda di halaman 1dari 16

CRITICAL JURNAL REVIEW

EKONOMI KOPERASI

DOSEN PENGAMPU

DRS. M. Fachry Nasution M.Pd ., M.Si

DISUSUN OLEH :

Mei Simanjuntak 7181141012

PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur khadirat Tuhan yang Maha Kuasa , akhirnya penulisan Critikal Journal
Review ( CJR) dapat diselesaikan , walaupun tidak sebaik yang diharapkan.CJR ini
marangkum Kelebihan dan kekurangan buku serta ringkasan dari buku yang dibandingkan
dari setiap Babnya . Sebagaimana kita tahu bahwa Koperasi adalah perwujudan demokrasi
ekonomi yang diamanatkan dari UUD 1945 yang telah empat kali diamandemenkan. CJR (
Critical Journal review ) tentu sangat dibutuhkan agar kita tahu kelebihan dan kelemahan dari
kedua jounar yang dibandingkan dan tahu bagaimana koperasi dalam teori dan praktiknya.
Pada kesempatan yang baik ini saya mengucapkan terima kasih kepada DRS. M
Fachry Nasution M.Pd ., M.Si yang merupakan dosen kami dalam mata kuliah Ekonomi
Koperasi dan UMKM . Makalah ini jauh dari sempurna,Oleh sebab itu dalam rangka
penyempurnaan di kemudian hari ,Kami mengharapkan para pembaca dapat memberikan
kritik dan saran yang membangun demi kepentingan kita bersama. Terima kasih.

Medan , 19 Oktober 2020

Mei Simanjuntak
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................................... i


DAFTAR ISI...................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................................
A. Latar Belakang ........................................................................................................
B. Rumusan Masalah ...................................................................................................
C. Tujuan dan Manfaat CJR Koperasi ........................................................................
D. Identitas Jurnal .......................................................................................................
BAB II ANALISIS JURNAL ..........................................................................................
A. Jurnal Utama ........................................................................................................
B. Jurnal Pembanding ................................................................................................
BAB III KESIMPULAN ANALISS JURNAL .............................................................
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum
Koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip Koperasi sekaligus sebagai
gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. Koperasi sebagai sebuah
lembagaekonomi rakyat telah lama dikenal masyarakat Indonesia sebagai BadanUsaha
Bersama yang bergerak dalam bidang perekonomian, beranggotakan mereka yang umumnya
berekonomi lemah yang bergabung secarasukarela dan atas dasar persamaan hak dan
kewajiban melakukan suatuusaha yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan
paraanggotanya.Ada dua jenis koperasi yang cukup dikenal luas oleh masyarakat,yakni KUD
dan KSP. KUD (Koperasi Unit Desa) tumbuh dan berkembangsubur pada masa pemerintahan
orde baru. Sedangkan KSP (KoperasiSimpan Pinjam) tumbuh dan berkembang dalam era
globalisasi saat ini.KUD dan KSP hanyalah contoh dari sekian jenis koperasi.

UKM adalah singkatan dari usaha kecil danmenengah. UKM adalah salah satu bagian
penting dari perekonomian suatu Negara maupun daerah, UKM ini juga sangat membantu
Negara / pemerintah dalam hal penciptaan lapangankerja baru dan lewat ukm juga banyak
tercipta unit unit kerja baru yangmenggunakan tenaga-tenaga baru yang dapat mendukung
pendapatan rumah tangga. Usaha Kecil dan Menengah (UKM) memiliki peran penting dalam
perekonomian Indonesia. Karena dengan UKM ini, pengangguran akibatangkatan kerja yang
tidak terserap dalam dunia kerja menjadi berkurang.

Dan dalam critical jurnal review yang berbentuk makalah ini berisi tentang kesimpulan
dari perbandingan yang akan kami lakukan pada dua jurnal yang sudah ditentukan dengan
judul Meningkatkan Kinerja UMKM Industri Kreatif Melalui Pengembangan Kewirausahaan
Dan Orientasi Pasar: Kajian Pada Peran Serta Wirausaha Wanita Di Kecamatan Moyudan,
Kabupaten Sleman, Propinsi DIY danUpaya Pengembangan Usaha Kecil Dan Menengah
(UKM) Dengan Memanfaatkan E-Commerce. Kami akan menyertakan ringkasan dari
masing-masing jurnal, dimana jurnal pertama dan kedua memiliki judul yang berbeda.
1.2. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penulisan critical jurnal review ini adalah sebagai
berikut:

• Bagaimana review jurnal maupun ringkasan jurnal tersebut.


• Bagaimana analisis dan sajian dari jurnal tersebut.
• Bagaimana komentar mengenai sajian materi/topik dari jurnal tersebut.

1.3. Tujuan Dan Manfaat

Tujuan dan manfaat dalam penulisan makalah crtical jurnal review ini yaitu untuk
memenuhi tugas pada mata kuliah ekonomi koperasi, menambah pengetahuan mengenai
jurnal yang direview, meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam meringkas dan
menganalisa jurnal dan sebagai rujukan bagaimana untuk menyempurnakan sebuah jurnal
dan mencari sumber bacaan yang relevan.
1.4 Identitas Jurnal

• Identitas Jurnal 1

Judul Jurnal : Meningkatkan Kinerja UMKM Industri Kreatif Melalui Pengembangan


Kewirausahaan Dan Orientasi Pasar: Kajian Pada Peran Serta Wirausaha Wanita Di
Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Propinsi DIY

Nama Jurnal : Jurnal Sosio Humaniora

Penulis : Gumirlang Wicaksono dan Audita Nuvriasari

Volume :Vol. 3 No. 4

Nomor ISSN : 2087-1899

Tahun : September 2012

Reviewer : Mei Simanjuntak

• Identitas Jurnal 2
Judul Jurnal : Upaya Pengembangan Usaha Kecil Dan Menengah (UKM) Dengan
Memanfaatkan E-Commerce

Nama Jurnal : Jurnal Sistem Informasi (JSI)

Penulis : Jaidan Jauhari

Volume : Vol. 2, NO. 1

Halaman : 159-168

Nomor ISSN : ISSN Print : 2085-1588 dan ISSN Online : 2355-4614

Tahun : April 2010

Reviewer : Mei Simanjuntak


BAB II

ANALISIS JURNAL

2.1. Sajian Materi/Topik 1

• Materi Jurnal 1

Industri kreatif sebagai pilar utama dalam mengembangkan sektor ekonomi kreatif akan
memberikan dampak positip bagi kehidupan masyarakat Yogyakarta mengingat Yogyakarta
sedang mengalami transformasi sosial yang begitu cepat dari agraris ke semi industri
terutama industri kreatif. Disamping itu Yogyakarta sarat akan sumber daya manusia yang
berbakat dan kaya akan kreatifitas. Prospek industri kreatif di DIY sangat besar dikarenakan
kondisi di DIY yang sangat kondusif bagi pengembangan industri kreatif khususnya fashion,
kerajinan dan teknologi informatika. Hal ini dimungkinkan karena posisi DIY sebagai pusat
seni dan budaya yang juga ditunjang sebagai pusat pendidikan yang mampu menghasilkan
tenaga kerja kreatif dalam jumlah yang sangat potensial. Pemerintah daerah juga
mengeluarkan berbagai kebijakan dan program yang sangat mendukung bagi pengembangan
industri kreatif.

Perkembangan potensi industri kreatif di DIY pada tahun 2010 menurut Polin Napitupulu
dari Disperindag DIY nilai produksinya telah mencapai Rp. 1,7 Trilyun. Kondisi saati ini
menunjukkan bahwa peluang industri kreatif baik di dalam maupun di luar negeri masih
sangat besar dan dan pangsa pasar yang dijanjikan untuk industri kreatif masih sangat terbuka
lebar dan memiliki kecenderungan semakin meningkat.

Pelaku UMKM industri kreatif di Yogyakarta tidak hanya di dominasi oleh kaum laki-
laki akan tetapi kaum wanita juga potensial untuk melakukan berbagai kegiatan produktif
yang menghasilkan dan dapat membantu ekonomi keluarga dan lebih luas lagi bagi ekonomi
nasional, apalagi potensi tersebut menyebar di berbagai bidang termasuk dalam bidang
industri kreatif. UMKM yang dikelola oleh wanita memberikan kontribusi yang sangat
strategis meskipun belum seimbang dengan perhatian dan pengakuan yang diberikan baik
oleh pemerintah maupun keluarga.
Kecamatan Moyudan merupakan salah satu sentra industri potensial di DIY khususnya di
bidang kerajinan tenun dan kerajinan tangan. Kecamatan Moyudan memiliki 4 (empat) desa
yang menjadi sentra pengembangan industri kreatif, yakni Sumberagung, Sumberarum,
Sumberrahayu, dan Sumbersari. Khusus di Desa Sumberrahayu telah dicanangkan oleh
Pemerintah Kabupaten Sleman sebagai desa wisata. Berdasarkan hasil survei awal oleh
pengusul penelitian dapat dijelaskan bahwa secara rata-rata tiap dusun di setiap desa memiliki
30 sampai dengan 50 pengrajin dan rata-rata pelaku usaha adalah kaum wanita.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan kepada 40 responden rata-rataproduksi per


tahun masuk dalam kategori rendah yaitu 355 unit per tahun. Hal ini dikarenakan pelaku
usaha kurang fokus dalam menjalankan usahanya mengingat kondisi masyarakat di Desa
Sumberrahayu yang bersifat agraris dimana sebagian besar berprofesi sebagai petani dan
peternak ikut mempengaruhi produktifitas usaha khususnya pada masa tanam dan masa
panen. Disamping itu juga belum menerapkan teknologi baru guna menunjang operasional
perusahaan, sebagian besar alat-alat produksi yang digunakan masih mengunakan peralatan
tradisional sehingga memiliki keterbatasan dalam menghasilkan produk dalam jumlah yang
besar. Rata-rata pejualan per tahun bisa di kategorikan dalam kategori rendah yaitu sebesar
Rp.65.497.500 per tahun, hal itu disebabkan karena pangsa pasarnya masih sangat terbatas
untuk wilayah DIY-Jateng. Kegiatan pemasaran selama ini cenderung bersifat konvensional
dan belum menggunakan teknologi informasi untuk mendukung usahanya. Hal ini juga
dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan keterampilan terhadap penguasaan teknologi
informasi. Rata-rata perolehan laba per tahun bisa di kategorikan ke dalam kategori tinggi
dikarenakan rasio keuntungan mencapai 51% dari omset penjualan, tingginya rasio
keuntungan dari penjualan produk-produk industri kreatif disebabkan karena dalam dunia
industri kreatif bahan baku bukan merupakan sumber biaya utama tetapikreatifitas dan skill
dari wirausahawan yang menjadi kekuatan utama dalam industri ini. Mayoritas UMKM di
desa Sumberrahayu masih ditangani langsung oleh pemiliknya sehingga mereka tidak perlu
mengeluarkan banyak biaya untuk menggaji tenaga ahli untuk menunjang proses
produksinya.

Perkembangan UMKM di Desa Sumberrahayu berkembang cukup pesat pada beberapa


tahun terakhir ini. Terutama setelah dicanangkannya sebagai desa wisata oleh pemerintah
Kabupaten Sleman yang juga menjadi salah satu faktor pendorong kunjungan wisatawan
domestic dan non domestik di wilayah ini. Perkembangan tersebut antara lain meliputi:
penyerapan tenaga kerja, pembentukan nilai produksi dan penyerapan investasi UMKM yang
juga memegang peranan penting dalam perekonomian desa.

Berdasarkan penelitian kinerja usaha secara kualitatif baik pada aspek produksi,
pemasaran, tata kelola keuangan dan pengelolaan sumber daya manusia belum dapat tercapai
secara maksimal. Hal tersebut antara lain disebabkan oleh keterbatasan dalam perencanaan
kegiatan pemasaran seperti: belum tersusunnya target penjualan, perencanaan pemasaran dan
produksi yang bersifat rutin. Disamping itu tata kelola administrasi keuangan jugabelum
dilakukan secara jelas dan tertib karena adanya kecenderungan untuk tidak melakukan
pemilahan antara keuangan keluarga dan keuangan usaha yang disebabkan status kepemilikan
usaha bersifat perseorangan. Kinerja usaha juga belum dapat dicapai secara maksimal
dikarenakan masih terbatasnya dalam pemanfaatan teknologi produksi yang bersifat modern
mengingat mayoritas pelaku usaha masih menggunakan peralatan yang bersifat konvensional
sehingga berdampak pada jumlah produksi yang terbatas. Pengelolaan SDM juga dilakukan
secara sederhana dan kekeluargaan sehingga kurang mendorong peningkatan kinerja usaha.

Sikap proaktif sudah diterapkan oleh wirausaha wanita di bidang UMKM Industri Kreatif
yang ada di Desa Sumberrahayu hal ini terlihat dari hasil penelitian pada sikap proaktif
dimana pelaku usaha memiliki kepercayaan diri dalam menjalankan usaha (mean: 3,28),
berorientasi pada kelangsungan usaha (mean: 3,40), tanggap terhadap perubahan lingkungan
(mean: 3,30), dan aktif menjalin kemitraan dengan pihak terkait (mean: 3,33). Sikap proaktif
diharapkan mampu meningkatkan daya saing dan memperluas pangsa pasar.

• Komentar Topik 1

Guna meningkatkan kinerja UMKM pada aspek pemasaran dapat dilakukan dengan cara
memperluas wilayah pemasaran maupun akses pasar dengan cara memanfaatkan teknologi
informasi seperti internet untuk mengetahui berbagai macam informasi pasar. Disamping itu
dengan pemanfaatan teknologi dapat terjalinhubungan dengan calon konsumen diberbagai
wilayah. Menyadari bahwa dalam penguasaan teknologi informasi masih sangat terbatas
maka perlu adanya upaya pendampingan dan pembimbingan dari berbagai pihak salah
satunya adalah perguruan tinggi. Disamping itu pihak perguruan tinggi atau instansi lainnya
dapat membantu UMKM dengan membuatkan website khusus sehingga dapat dijadikan
sarana untuk mengenalkan produk, memperluas pasar, mengetahui informasi pesaing dan
pasar, peningkatan aktivitas transaksi penjualan dan lain-lain. Upaya untuk secara agresif
memperkenalkan produk juga dapat dilakukan dengan mengikuti kegiatan pameran baik
secara mandiri maupun sebagai mitra binaan dari instansi pemerintah atau swasta.

Peningkatan kinerja UMKM dari aspek sumber daya manusia dapat dilakukan dengan
secara aktif mengikuti kegiatan-kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh instansi
pemerintah maupun swasta untuk meningkatkan motivasi dan etos kerja pelaku UMKM.

2.2. Sajian Materi/Topik 2

Materi Jurnal Pertama

Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi atau yang dikenal dengan
istilah Information and Communication Technology (ICT) dan internet telah merambah
berbagai bidang kehidupan tidak terkecuali bidang bisnis dan perdagangan (Fensel, 2001).
Dengan adanya internet dan ICT proses pemasaran dan penjualan dapat dilakukan kapan saja
tanpa terikat ruang dan waktu (Jinling, 2009; Quaddus, 2008). Dengan kemampuan
web/internet yang bisa mengirimkan berbagai bentuk data seperti teks, grafik, gambar, suara,
animasi, atau bahkan video, maka banyak kalangan bisnis yang memanfaatkan teknologi ini
dengan membuat homepage untuk mempromosikan usahanya (Boderndof, 2009). Kini
hampir semua lapisan masyarakat (terutama di negara maju) sudah sangat terbiasa dengan
web ini, karena hampir segala jenis informasi bisa diperoleh. Di samping keuntungan
tersebut, ternyata hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa efektivitas penggunaan e-
commerce dalam mendongkrak peningkatan volume penjualan dan mempromosikan produk-
produk industri cukup tinggi (Alexander, 2002; Supardi 2008; Wuwei 2009). Usaha kecil
dan menengah (UKM) adalah salah satu bidang yang memberikan kontribusi yang segnifikan
dalam memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini dikarenakan daya serap UKM
terhadap tenaga kerja yang sangat besar dan dekat dengan rakyat kecil (Kuncoro, 2008, Sripo,
2010). Masalah utama yang dihadapi oleh UKM adalah pemasaran (Hafsah, 2004; Kuncoro,
2008; Kurniawan, 2009; Supardi, 2009). Pemasaran dengan metode konvensional
memerlukan biaya tinggi, misalnya membuka cabang baru, ikut pameran, pembuatan dan
penyebaran brosur dan sebagainya. Berkembangnya internet menjadi sarana yang efisien
untuk membuka jalur pemasaran model baru bagi produk UKM. Di samping biayanya relatif
murah, dengan memanfaatkan internet penyebaran informasi akan lebih cepat dan
jangkauannya lebih luas(Supardi, 2009).

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) adalah suatu bentuk usaha yang dilihat dari skalanya
usaha rumah tangga dan usaha kecil hanya mempunyai jumlah pegawai antara 119 orang.
Sementara usaha menengah mempunyai pegawai antar 20-99 orang (BPS, 2004). UKM ini
telah terbukti merupakan salah satu bentuk usaha yang dapat bertahan dalam krisis ekonomi
yang pernah terjadi di Indonesia. Usaha Kecil dan Menengah (UKM) merupakan salah satu
bidang yang memberikan kontribusi yang segnifikan dalam memacu pertumbuhan ekonomi
Indonesia. Hal ini dikarenakan daya serap UKM terhadap tenaga kerja yang sangat besar dan
dekat dengan rakyat kecil. Statistik pekerja Indonesia menunjukan bahwa 99,5 % tenaga kerja
Indonesia bekerja di bidang UKM (Kurniawan, 2008). Hal ini sepenuhnya disadari oleh
pemerintah, sehingga UKM termasuk dalam salah satu fokus program pembangunan yang
dicanangkan oleh pemerintah Indonesia. Kebijakan pemerintah terhadap UKM dituangkan
dalam sejumlah Undang-undang dan peraturan pemerintah. Pemakaian Teknologi Informasi
(IT) dalam memasarkan produk UKM telah berhasil dikembangkan oleh sejumlah Negara
seperti Cina, Jepang, dan India. Bahkan Konfederasi Industri India atau Confedration of
Indian Industry (CII) merilis hasil survey yang memperlihatkan bahwa peranan Teknologi
Informasi (IT) telah mengubah peruntungan sigmen UKM di India. Menurut hasil survey
tersebut penggunaan IT di kalangan UKM telah menghasilkan peningkatan pendapatan yang
signifikan, yakni 78 % dari responden mengindekasikan peningkatan pendapatan akibat
penggunaan IT(Nofie, 2007). Sementara itu Cina menerapkan IT sebagai upaya untuk
meningkatkan daya saing penjualan produk UKMnya (Kompas, 2007). Internet marketing
adalah proses pembentukan dan pemeliharaan hubungan dengan konsumen melalui kegiatan–
kegiatan online dengan memfasilitasi pertukaran ide, produk dan jasa yang memuaskan kedua
pihak (Lue, 2009; Omelayenko, 2008).

Konsep dasar e-Commerce

Electronic Commerce (perniagaan elektronik) merupakan bagian dari electronic business


(bisnis yang dilakukan dengan menggunakan electronic tranmission). Definisi global tentang
e-Commerce adalah semua bentuk transaksi perdagangan barang atau jasa yang dilakukan
secara elektronik. Definisi yang formal tentang e-Commerce diberikan oleh Baum (2000),
yakni : suatu set dinamis teknologi, aplikasi dan proses bisnis yang menghubungkan
perusahaan, konsumen, dan komunitas melalui transaksi elektronik dan perdagangan barang,
pelayanan dan informasi yang dilakukan secara elektronik. Sedangkan menurut Karmawan
(2010) E-commerce adalah suatu jenis dari mekanisme bisnis secara elektronik yang
memfokuskan diri pada transaksi bisnis berbasis individu dengan menggunakan internet
(teknologi berbasis jaringan digital) sebagai medium pertukaran barang atau jasa baik antara
dua buah institusi (business to business) dan konsumen langsung (business to consumer),
melewati kendala ruang dan waktu yang selama ini merupakan hal-hal yang dominan.
Dengan aplikasi e-commerce, hubungan antar perusahaan dengan entitas eksternal lainnya
(pemasok, distributor, rekanan, konsumen) dapat dilakukan secara lebih cepat, lebih intensif,
dan lebih murah daripada aplikasi prinsip manajemen secara konvensional (door to door, one-
to-one relationship). Salah satu media yang digunakan dalam e-Commerce adalah internet.
Perkembangan media ini merupakan yang paling pesat dibandingkan dengan media lain
dalam mendukung e-Commerce. Ada dua faktor pendukung yang menyebabkan internet
berkembang lebih cepat dalam memediasi e-Commerce, yakni (1) internet memiliki
jangkauan yang sangat luas, murah, cepat, dan mudah diakses oleh publik; (2) internet
menggunakan elecronic data sebagai media penyampaian pesan/data sehingga dapat
dilakukan pengiriman dan penerimaan informasi secara mudah dan ringkas, baik dalam
bentuk data elektronik analog maupun digital (Teo, 2006).

E-Commerce Untuk Pengembangan UKM

Untuk terus meningkatkan daya saing UKM serta untuk mendapatkan peluang ekspor dan
peluang bisnis lainnya salah satu cara atau strategi yang dapat digunakan adalah dengan
pemanfaatan perkembangan Information and Communication Technology (ICT).
Pemanfaatan ICT yang banyak digunakan adalah E-Commerce. Dari situs Kementerian
Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah yang berhubungan langsung dalam pembinaan UKM
(http://www.depkop.go.id), guna memasarkan produk para pengusaha UKM, mempunyai link
dengan beberapa portal/website yang memfasilitasi hal tersebut. Misalnya Deputi Bidang
Pengembangan dan Restrukturisasi Kementerian KUKM mempunyai situs
www.sentrakukm.com yang berisi beberapa industri seperti kerajinan, peternakan, sandang,
perikanan, makanan dan minuman dan lain-lain. Pada situs ini isinya cukup lengkap, cara
memesan, info tentang perusahaan dan produk tersedia, tetapi situs ini hanya berbahasa
Indonesia, tidak tersedia pilihan bahasa asing, misalnya Inggris (Kementrian Koperasi dan
UKM, 2010).

Selain itu situs Kementerian KUKM ini dapat link pada www.smecda.com (small
medium enterprises & cooperative bds (bisnis development service) yaitu para pengusaha
ukm yang ingin memasarkan produknya resources development agency). Situs ini
mempunyai pilihan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Dari situs ini bisa dibuka portal,
disertai gambar produk dan informasi tentang perusahaan tersebut lengkap dengan alamat
emailnya, sehingga memudahkan untuk berhubungan. Dari situs Kementerian KUKM juga
dapat link pada situs Indonesian-products http://www.indonesian-products.biz/. Situs ini
berbahasa inggris, mempunyai menu yang lebih lengkap dengan adanya jadwal acara
pameran-pameran produk UKM, pilihan produk yang mudah diakses dan tampilan lebih
menarik. Yang menarik juga dapat mengunjungi situs http://www.alcive.tw. Situs ini
merupakan situs APEC Local Cultural Industry Virtual Exposition. Pada situs yang indah ini
anda dapat melihat-lihat aneka kerajinan tangan dari berbagai Negara di Asia dan Pasifik
yang disajikan dengan menarik dan tidak lupa pula ilengkapi informasi contact person.
Tetapi penggunaan ICT tersebut baru sebatas untuk promosi dan penampilan informasi
produk-produk dari beberapa UKM, belum melayani penjualan langsung melalui internet,
seperti penjualan buku di amazon.com

• Jurnal 2

Dengan adanya UKM dapat mengurangi tingkat pengangguran yang ada di Indonesia,
padahal pengangguran yang tinggi adalah penyumbang terbesar dalam penyebab terjadinya
kemiskinan di Indonesia, demikian juga yang terjadi di propinsi Sumatra Selatan.Banyaknya
UKM akan menyebabkan perekonomian yang kuat, karena terbukti bahwa UKM paling tahan
terhadap krisis.

Kurangnya Permodalan Permodalan merupakan faktor utama yang diperlukan untuk


mengembangkan suatu unit usaha. Kurangnya permodalan UKM, oleh karena pada umumnya
usaha kecil dan menengah merupakan usaha perorangan atau perusahaan yang sifatnya
tertutup, yang mengandalkan pada modal dari si pemilik yang jumlahnya sangat terbatas,
sedangkan modal pinjaman dari bank atau lembaga keuangan lainnya sulit diperoleh, karena
persyaratan secara administratif dan teknis yang diminta oleh bank tidak dapat dipenuhi.
Sumber Daya Manusia (SDM) yang Terbatas Sebagian besar usaha kecil tumbuh secara
tradisional dan merupakan usaha keluarga yang turun temurun. Keterbatasan SDM usaha
kecil baik dari segi pendidikan formal maupun pengetahuan dan keterampilannya sangat
berpengaruh terhadap manajemen pengelolaan usahanya, sehingga usaha tersebut sulit untuk
berkembang dengan optimal. Di samping itu dengan keterbatasan SDM-nya, unit usaha
tersebut relatif sulit untuk mengadopsi perkembangan teknologi baru untuk meningkatkan
daya saing produk yang dihasilkannya. Lemahnya Jaringan Usaha dan Kemampuan Penetrasi
Pasar Usaha kecil yang pada umumnya merupakan unit usaha keluarga, mempunyai jaringan
usaha yang sangat terbatas dan kemampuan penetrasi pasar yang rendah, oleh karena produk
yang dihasilkan jumlahnya sangat terbatas dan mempunyai kualitas yang kurang kompetitif.
Berbeda dengan usaha besar yang telah mempunyai jaringan yang sudahsolid serta didukung
dengan teknologi yang dapat menjangkau internasional dan promosi yang baik.

Dengan menggunakan E-Commerce yang dapat digunakan untuk pemasaran dan


penjualan online tentu akan meningkatkan volume penjualan dan pada akhirnya akan
meningkatkan pendapatan usaha dan pada akhirnya akan mengembangkan usaha kecil dan
menengah tersebut.
BAB III

KESIMPULAN ANALISIS JURNAL

Wirausaha wanita dalam mengelola usahanya telah mendasarkan pada dimensi inovasi,
dimensi pengambilan resiko dan sikap proaktif dalam pengembangan usaha. Meskipun
implementasi inovasi belum maksimal akan tetapi pelaku usaha secara terus menerus
berupaya untuk meningkatkan inovasi baik dari sisi pengembangan produk, cara kerja
maupun sistem pemsaran. Sejumlah upaya yang dilakukan antara lain dengan terlibat secara
aktif pada kegiatan pembinaan dan pendampingan UMKM yang dilakukan oleh instansi
pemerintah maupun swasta. Akan tetapi dalam upaya pengembangan inovasi produk, sistem
kerja maupun sistem pemasaran, para pelaku usaha masihterkendala dengan kemampuan
sumber daya manusia yang ada mengingat SDM yang terlibat dalam pengelolaan UMKM
rata-rata kurang memiliki pemahaman yang baik di bidang bisnis atau tata kelola usaha.
Inovasi pada sistem pemasaran juga masih bersifat konvensional dimana sebagian besar
pelaku usaha belum memanfaatkan teknologi informasi dalam memasarkan produknya.

Dalam pengambilan resiko usaha, para pelaku usaha cukup siap mengatasi resiko yang
mungkin timbul. Hal ini sangat beralasan mengingat pelaku usaha masih menjalankan
bisnisnya dalam skala kecil sehingga nilai investasi yang digunakan untuk mengelola usaha
juga kecil sehingga resiko usaha dapat diminimalkan. Sikap proaktif dari wirausaha wanita
dalam mengelola usahanya ditunjukkan dengan komitmen untuk terus menjalankan dan
mengembangkan usaha. Hal ini antara lain ditunjukkan dari kesediaan untuk mengikuti
kegiatan pembinaan usaha dan menjalin kerjasama dengan sejumlah mitra seperti: pelaku
usaha dengan skala yang lebih besar yang bersedia menjadi partner dalam pemasaran produk,
lembaga koperasi dan perbankan untuk mendapatkan tambahan pinjaman modal usaha.

Orientasi pasar ditunjukkan melalui orientasi konsumen, orientasi pesaing dan koordinasi
antar fungsi. Orientasi konsumen ditunjukkan oleh para pelaku UMKM dengan menghasilkan
produk sesuai dengan selera konsumen, memperhatikan kualitas produk yang dihasilkan
danmemberikan pelayanan yang baik pada konsumen. Mengingat skala usaha dari sebagian
besar responden masih dalam kategori mikro dan kecil maka sifat pelayanan yang diberikan
pada konsumen cenderung bersifat konvensional dan belum memanfaatkan teknologi
informasi sebagai pendukung layanan. Upaya menghasilkan produk agar sesuai dengan selera
pasar dilakukan dengan mengikuti permintaan konsumen (melalui sistem pesanan) maupun
dengan secara aktif mencari informasi tentang produk-produk yang diminati pasar. Informasi
ini juga diperoleh melalui pertukaran informasi antar kelompok paguyuban pengrajin.

Untuk meningkatkan daya saing UKM serta untuk mendapatkan peluang ekspor dan
peluang bisnis lainnya dapat dilakukan dengan memanfaatkan perkembangan Information
and Communication Technology (ICT), utamanya e-commerce Tidak hanya memanfaatkan
internet sebagai alat untuk melakukan promosi atau mencari peluang bisnis, tetapi juga harus
diimbangi dengan pengelolaan administrasi yang baik melalui penggunaan software yang
tepat. Perlu dilakukan pengembangan website dan e-commerce sebagai sarana untuk promosi
dan pemasaran produk-produk usaha, sehingga akan meningkatkan volume penjualan dan
meningkatkan pendapatan. Peningkatan pendapatan ini pada akhirnya akan mengembangkan
usaha kecil dan menengah tersebut. Di sisi lain Kementrian Koperasi dan UKM juga perlu
terus memacu UKM yang ada agar dapat menggunakan sarana yang ada di
www.depkop.go.id untuk memasarkan dan menampilkan produk-produknya.

Anda mungkin juga menyukai