Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOLOGI PERKEMBANGAN TUMBUHAN


KEGIATAN IV
STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN ALAT REPRODUKSI BETINA
ANGIOSPERMAE

Disusun oleh :
Tri Purwa Ningrum (18308141064)

PROGRAM STUDI BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2021
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Putik merupakan alat kelamin betina pada tumbuhan yang terdiri dari bakal
buah yang didalam bakal biji terdapat sel kelamin betina, tangkai putik, dan kepala
putik. Putik dapat terdiri dari satu atau beberapa daun buah. Putik terdiri atas tiga bagian,
yaitu: Bagian paling bawah biasanya membangkak disebut bakal buah (ovari) yang
mengandung bakal biji (ovul). Bagian tengah, berupa tangkai yang ramping disebut
dengan tangkai putik (style), bagian paling ujung disebut dengan kepala putik (stigma).
Passiflora yang sering dikenal dengan nama lokal buah markisa merupakan
genus yang memiliki persebaran yang sangat luas, memiliki bunga yang besar dengan
bagian steril terdiri dari sepala dan petala, serta bagian fertil terdiri dari stamen dan
pistilum. Ovulum merupakan struktur yang terbentuk dari plasenta pada dinding
ovarium. Untuk mengetahui perkembangan alat reproduksi betina angiospermae,
khususnya Passiflora sp. maka diperlukan pengamatan mikroskopis. Tujuannya yaitu
untuk mengetahui serta mempelajari perkembangan ovulum Passiflora sp. serta
struktur anatomisnya selama perkembangan.

B. Tujuan
1. Mengamati bentuk dan struktur ovulum
2. Mengamati perkembangan megaspora dan gametofit betina
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Dasar Teori
a. Definisi Ovulum
Menurut Issirep Sumardi (2012), Beberapa tumbuhan Angiospermae mempunyai
megasporofil (daun buah) yang berkembang ke dalam suatu pistilum. Pistilum (putik)
biasanya mengalami diferensiasi menjadi 3 bagian yaitu:
1. bagian basal yang menggelembung disebut ovarium (bakal
2. bagian yang memanjang disebut stilus (tangkai putik)
3. bagian ujung stilus yang disebut stigma (kepala putik)
Ovulum merupakan struktur yang terbentuk dari plasenta pada dinding ovarium.
Ovulum terdiri dari nuselus (megasporangium) yang dikelilingi oleh satu atau dua
integumen. Nuselus melekat pada plasenta dengan suatu tangkai yaitu funikulus.
Bagian biji tempat melekatnya tali pusar (funikulus) disebut hilus. Pada ujung bebas
ovulum terdapat celah yang disebut mikropil. Daerah tempat bergabungnya integumen
dan funikulus disebut kalaza (Budiwati, 2011: 35). Ovulum mempunyai bentuk
bervariasi. Seringkali ovulum berubah bentuknya selama perkembangannya.
b. Struktur Ovulum
Ovulum terdiri atas jaringan-jaringan sebagai berikut :
1. Integumen
Integumen pada kebanyakan suku (famili) jumlahnya konstan. Jarang pada satu
suku bersifat unitegmik (1 integumen) atau bitegmik (2 integumen). Pada
Sympetalae umumnya mempunyai 1 integumen. Keadaan unitegmik mungkin
disebabkan karena hilangnya salah satu integumen. Pada beberapa tumbuhan
dijumpai adanya integumen ketiga atau arilus. Pada Ulmus dilaporkan, bahwa
integumen ketiga berasal dari pembelahan integumen luar, tetapi struktur
tersebut dapat pula berasal dari pangkal ovulum. Pada anggota Euphorbiaceae
dikenal adanya karunkula yang berasal dari poliferasi sel-sel integumen di
daerah mikrofil. Kadang-kadang poliferasi ini sangat kuat dan karunkula ini
masih dapat dilihat sampai biji masak misal pada biji Ricinus communis.
2. Mikropil
Mikropil dibentuk oleh integumen dalam seperti pada Centrospermales, dan
Plumbaginales, atau oleh integumen luar dan dalam, seperti pada suku
Pontederiaceae. Jarang sekali mikropil dibentuk oleh integumen luar seperti
pada suku Podostemaceae, Rhamnaceae, dan Euphorbiaceae. Lubang mikropil
yang dibentuk oleh integumen luar disebut eksostoma, sedang yang dibentuk
oleh integumen dalam disebut endostoma.
3. Tapetum Integumen
Pada beberapa tumbuhan nuselus segera mengalami disorganisasi, dan kantong
embrio langsung mengadakan kontak dengan lapisan tersebut. Lapisan tersebut
terdiferensiasi menjadi lapisan yang khusus. Baik bentuk maupun kandungan
selnya. Sel-selnya memanjang ke arah radial kadang-kadang menjadi binukleat
(mengandung 2 inti). Sel-sel mi mempunyai persamaan dengan sel-sel tapetum
pada antera, oleh karena itu kemudian disebut sebagai tapetum integumen
(endotelium). Endotelium berfungsi nutritif, membantu transport bahan
makanan dan integumen menuju ke kantong embrio. Pada waktu embrio dewasa
permukaan dalam dan lapisan endotelium mengalami kutinisasi dan lapisan
tersebut berubah menjadi lapisan pelindung.
4. Nuselus
Nuselus merupakan dinding megasporangium. Setiap ovulum hanya
mempunyai satu nuselus. Yang mempunyai dua nuselus antara lain adalah
Aegle marmelos dan Hydrocleis nymphoides. Pada awal terbentuknya calon
ovulum, nuselus terbentuk lebih dulu, terdiri atas sel-sel yang homogen
diselubungi oleh epidermis.
5. Hipostase dan Epistase
Hipostase adalah sekolompok sel yang terdapat di bawah kantong embrio di
bagian khalaze, berhadapan dengan jaringan pengangkut yang ada di funikulus.
Merupakan derivat sel-sel nuselus di bawah kantong embrio. Mempunyai
dinding yang tebal dan lignin, sedikit sitoplasma. Jaringan ini terdapat pada
beberapa suku antara lain Crossosomataceae dan Umbelliferae. Kadang-kadang
hipostase terbentuk setelah pembuahan. Epistase merupakan jaringan yang
letaknya di daerah mikropil, dan dibentuk oleh sel-sel apidermis nuselus.
Strukturnya seperti kaliptra pada akar, oleh karena itu sering disebut tudung
nuselus (operkulum), misalnya pada Castalia dan Costus.
c. Klasifikasi Ovulum
Ovulum yang masak biasanya digolongkan ke dalam beberapa tipe berikut :
Gambar 1. Tipe-tipe ovulum pada Angiospermae
1. Ortotrop (atrop)
Mikropil terletak pada satu garis dengan funikulus. Contoh bakal biji pada
Polyginaceae, Piperaceae.
2. Anatropus (mengangguk)
Ovulum berbalik sedemikian rupa sehingga mikropil mengarah mendekati
hilum dan sejajar dengan funikulus. Contoh pada Sympetalae.
3. Kampilotropus
Bila tali pusar dan bakal bijinya sendiri membengkok, sehingga liang bakal biji
berkedudukan seperti pada bakal biji mengangguk. Contoh pada Leguminosae.
4. Hemianatropus (hemitropus) :
Ovulum terletak kira-kira 90o terhadap funikulus. Contoh pada Ranunculaceae.
5. Sirsinotropus :
Pada Cactaceae nuselus pada awalnya segaris dengan aksis tetapi pertumbuhan
yang cepat pada satu sisi menyebabkan keadaan menjadi anatrop; namun
pembengkokan tidak berhenti, hingga mikropil menjadi sejajar dengan
funikulus.
d. Megasporogenesis
Perkembangan ovulum diawali dari berkembangnya inti bakal biji (nuselus)
dari papan biji (plasenta). Di bawah epidermis nuselus terdapat sel arkhesporium yang
akan membelah secara periklinal menghasilkan sel parietal di luar dan sel sporogen di
dalam. Sel parietal membelah menyebabkan nuselusnya bertambah tebal. Sel sporogen
akan berfungsi sebagai sel induk megaspore (megasporosit). Kadang-kadang sel
arkhesporium tanpa membelah langsung berfungsi sebagai sel induk megaspora. Sel
induk megaspora akan mengalami pembelahan meiosis menjadi tetrad megaspora.
Proses pembentukan megaspore disebut megasporogenesis. Proses ini bersamaan
dengan perkembangan ovulum. Pada umumnya dari 4 megaspora yang dihasilkan dari
megasporogenesis, hanya satu yang melanjutkan perkembangannya, tiga yang lainnya
mengalami degenerasi. Megaspora yang berfungsi biasanya adalah megaspora di
bagian kalaza. Kadang-kadang megaspora yang berfungsi yang berada di mikropil .
Pada Onagraceae, Compositae mungkin dijumpai kedua megaspora (kalaza dan
mikropil) berkembang bersamasama. Pada tumbuhan yang lain mungkin juga
ditemukan bahwa megaspora yang berfungsi adalah megaspora yang kedua atau ketiga,
atau semua.

Gambar 2. Tahap-tahap perkembangan ovulum Aquilegia vulgaris. Anak panah


menunjuk pada primordia integumen, E. Ovulum tipe anatropus bitegmik yang
berkembang penuh.

Berdasarkan perkembangan nuselusnya, ovulum dapat bertipe krasinuselat


atau tenuinuselat. Nuselus merupakan dinding megasporangium dan berfungsi nutritif
bagi perkembangan megaspora. Pada tipe krasinuselat, jaringan parietal berkembang
dan sel induk megaspora dipisahkan dari epidermis oleh satu atau beberapa lapisan sel.
Nuselus mungkin membesar oleh bertambahnya jumlah sel-sel parietal atau oleh
pembelahan periklinal epidermis nuselus. Akibat penambahan jumlah sel nuselus, sel
sporogen menjadi terbungkus di dalam jaringan nuselus yang padat. Pada beberapa
anggota Salicaceae, Nyctaginaceae, Euphorbiaceae, Polygonaceae dan Cucurbitaceae
mempunyai nuselus berbentuk paruh yang mencapai luar mikropil. Pada tipe
tenuinuselat, sel sporogen berbatasan langsung dengan epidermis nuselus. Karena
fungsi nuselus sebagai jaringan nutritif, pada tipe ini nuselusnya menipis di awal
perkembangan megaspora. Dalam keadaan yang demikian, epidermis integument
terdalam yang berdekatan langsung dengan nuselus seringkali mengalami diferensiasi
menjadi tapetum integumen (endothelium) yang menggantikan fungsi nuselus sebagai
jaringan nutritif
BAB III
METODE

A. Metode Praktikum : Pengamatan (Observasi)

B. Alat dan Bahan


1. Mikroskop.
2. Preparat penampang membujur/melintang ovulum markisa (Passiflora sp.)
berbagai tingkatan perkembangan.

C. Prosedur Kerja
1. Perhatikan bentuk dan struktur ovulum dari preparat yang diamati.
2. Beri keterangan dan penjelasan mengenai semua bagian serta fase
perkembangan yang tampak.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil dan Pembahasan
Gambar Deskripsi

Pada pengamatan ovulum beberapa ukuran kuncup bunga


Passiflora sp. dapat diketahui perkembangan ovulum yang
dimulai munculnya tonjolan-tonjolan kecil yang dapat dilihat
pada kuncup bunga Passiflora sp. dengan ukuran 0.6 cm.
pada tahap ini belum terlihat bagian-bagian yang spesifik dari
ovulum. Hasil pengamatan menunjukkan hanya funiculus
yang terbentuk dan sel – selnya masih tampak homogen.
Kuncup bunga 0,6 cm

Pada pengamatan kuncup bunga yang berukuran 0,8 cm,


hasil menunjukkan bahwa tonjolan tersebut semakin
berkembang. Pada tahap ini nuselus, calon integumen, dan
funikulus sudah terbentuk. Calon integumen menonjol
nampak di sebelah kanan dan kiri namun sesungguhnya
integumen mengelilingi nuselus, belum dapat dibedakan
antara integumen luar dan dalam. Semakin berkembangnya
tonjolan tersebut, arah perkembangan tidaklah keatas namun
kesamping dan menyebabkan ovulum memiliki bentuk
mengangguk (anatropus).

Kuncup bunga 0,8 cm

Pada pengamatan kuncup bunga yang berukuran 0,9 cm,


hasil menunjukkan bahwa nuselus dan funikulus semakin
membesar. Namun integumen belum dapat dibedakan antara
integumen luar dan integumen dalam.

Kuncup bunga 0,9 cm

Pada pengamatan kuncup bunga yang berukuran 1,2 cm,


hasil menunjukkan bahwa nuselus tampak jelas, integumen
dalam dan integumen luar sudah dapat dibedakan. Menurut
Budiwati (2011), sebagian besar angiospermae mempunyai
dua integument (bitegmik). Pada ovulum bitegmik mikropil
dibentuk oleh integument dalam saja atau oleh integument
dalam dan luar.

Kuncup bunga 1,2 – 1,5


cm
Pada pengamatan kuncup bunga yang berukuran 1,8 cm,
hasil menunjukkan bahwa bagian-bagian ovulum terlihat
semakin jelas. Nuselus, funikulus, integumen dalam dan
integumen luar dapat dibedakan secara rinci. Celah mikrofil
Kuncup bunga 1,8 cm sudah mulai terbentuk, dan funikulus mengecil.

Pada pengamatan kuncup bunga yang berukuran 2 – 2,5 cm,


Ovulum sudah tampak mengangguk sehingga telah
menunjukan struktur ovulum jenis anatropus, ovulum yang
berbalik sedemikian rupa sehingga mikropil mengarah
mendekati hilum dan sejajar dengan funikulus. Funikulus
terlihat kecil.

Kuncup bunga 2 – 2,5 cm

Diskusi :
1. Sebutkan tipe ovulum pada preparat yang saudara amati! Jelaskan
karakteristiknya!
Jawab : Ovulum Passiflora sp. memiliki tipe ovulum anatropus yaitu tipe ovulum yang
berbalik sedemikian rupa sehingga mikropil mengarah mendekati hilum dan sejajar
dengan funikulus.
2. Buatlah bagan perkembangan ovulum termasuk proses pembentukan megaspora
(megasporogesis) dan megagametogesis dari Passiflora atau tumbuhan yang lain
(studi referensi).
Jawab :
Tumbuhan : Pinanga coronata
Pinanga coronata (BI. Ex Mart.) BI. adalah tanaman yang termasuk anak suku
Arecoideae dari suku Arecaceae. Pinanga coronata adalah tanaman monoecious,
uniseksual, pertumbuhan perbungaan akropetal, bunga di bagian proksimal rakila
tersusun dalam triad yang terdiri dari dua bunga jantan yang mengapit bunga betina,
tetapi bunga di bagian distal rakila tidak selalu tersusun dalam triad.

Pada bunga betina terjadi proses megasporogenesis dan megagametogenesis.


Tipe megasporogenesis dan megagametogenesis pada tumbuhan berbunga berbeda
beda tergantung dari pada banyak inti megaspore yang terlibat dalam pembentukan
kantung embrio, sehingga dikenal kantung embrio monosporik, bisporik, dan
tetrasporik (Bhojwani dan Bhatnagar, 1979). Terdapat tiga tipe megagametogenesis
yang telah diketahui pada tumbuhan suku Arecaceae, yaitu tipe Allium, tipe Adoxa,
tipe Polygonum.
1. Pada tipe Allium, meiosis pertama menghasilkan dua sel diad. Sel diad yang
terletak di daerah mikropil segera aborsi dan meiosis kedua menghasilkan dua
inti megaspore haploid bebas. Selanjutnya dua pembelahan mitosis berturut-
turut menghasilkan kantung embrio delapan inti yang terorganisasi ke dalam
aparat telur, sel antipoda dan inti polar. Tipe Allium ini terdapat pada
Chamaedorea latifolia, Nypa fruticans, dan Hyphaenaindica.
2. Pada tipe adoxa, hasil pembelahan meiosis sel sporogen menghasilkan empat
inti bebas pada kantung embrio muda. Setelah mengalami pembelahan mitosis
dihasilkan kantung embrio delapan inti yang terorganisasi menurut cara yang
khas. Tipe adoxa ini terdapat pada Cocos nucifera.
3. Pada tipe Polygonum, sel sporogen mengalami dua kali meiosis. Megaspore
hasil meiosis yang jauh dari mikropil adalah yang fungsional. Selanjutnya
megaspore fungsional mengalami tiga kali mitosis menghasilkan kantung
embrio delapan inti yang terorganisasi ke dalam aparat telur, sel antipoda dan
inti polar. Tipe Polygonum ini paling banyak ditemukan pada suku Arecaceae
(Robertson, 1976b; Gifford dan Foster, 1988).
Megasporogenesis
Sporogenesis pada Pinanga coronata ditandai dengan munculnya sel berukuran
besar yang terletak di bawah dua lapisan sel nuselus di daerah dekat dengan mikropil.
Sel-sel berukuran besar ini mempunyai vakuola besar sehingga melalui sayatan
memanjang tampak lebih terang dibanding sel nuselus di sekitarnya dan disebut sel
arkesporial. Sel arkesporial berfungsi langsung sebagai sel induk megaspore. Ciri-ciri
sel induk megaspore adalah ukurannya besar dan bentuknya memanjang terhadap
sumbu panjang nuselus. Sel induk megaspora ini memiliki nukleus besar dengan
nukleolus yang jelas. Stadium ini tampak jelas pada saat integument dalam maupun
integument luar telah berdiferensiasi.
Megagametogenesis
Perkembangan gametofit betina dimulai dengan adanya pembesaran megaspora
fungsional di daerah kalaza . Oleh sebab itu gametofit betina ini adalah monosporik,
artinya gametofit betina berasal dari satu spora. Pembesaran megaspora gametofit
fungsional diikuti oleh tiga kali pembelahan mitosis. Pembelahan pertama
menghasilkan gametofit 2 inti, pembelahan kedua menghasilkan gametofit 4 inti dan
pembelahan ketiga menghasilkan gametofit 8 inti. Dari 8 inti ini, tiga inti tetap berada
pada daerah mikropil membentuk aparat telur dan satu inti dari masing-masing kutub
bermigrasi ke tengah kantung embrio kemudian bergabung menjadi satu membentuk
inti polar, tiga inti lainnya tetap pada ujung kalaza membentuk antipoda.

Gambar 3. Bagan Megasporogenesis dan Megagametogenesis Pinanga coronata


Keterangan : (A: .sel induk megaspore; B: sua sel megaspore (diad); C: empat sel
megaspore (tetrad); D: satu megaspore fungsional di daerah kalaza dan tiga megaspore
berdegenerasi di daerah mikropil; E: kantung embrio dua inti; F: kantung embrio empat
inti; G: kantung embrio delapan inti; H: susunan kedelapan inti pada kantung embrio
dewasa; A-C: proses megasporogenesis; D-H: proses megagametogenesis; a: aparat
telur; b: inti polar; c: antipoda)
Pada Pinanga coronata, gametofit betina berasal dari satu spora (monosporik)
dan proses pembentukannya mengikuti tipe Polygonum, sesuai dengan apa yang
dikemukakan oleh Bhojwani dan Bhatnagar (1979). Pada Pinanga coronata, saat terjadi
megagametogenesis sebagai sel-sel nuselus berdegenerasi. Rusaknya sel-sel nuselus ini
diperkirakan karena adanya pembesarn kantung embrio. Pada stadium 2 inti, kantung
embrio merupakan struktur sempit yang memanjang terhadap sumbu panjang nuselus.
Dari stadium ini, berangsur-angsur kantung embrio membesar ke arah transversal dan
longitudinal dari nuselus, terutama di bagian mikropil lebih dahulu bergenerasi.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Bentuk ovulum bunga markisa termasuk dalam tipe anatropus (tampak
mengangguk), struktur yang tampak diantaranya yaitu nuselus, integumen luar
dan dalam, funikulus dan celah mikrofil.
2. Perkembangan ovulum diawali dari berkembangnya inti bakal biji (nuselus), di
bawah epidermis nuselus terdapat sel arkhesporium yang akan membelah secara
periklinal menghasilkan sel parietal di luar dan sel sporogen di dalam. Sel
parietal membelah menyebabkan nuselusnya bertambah tebal. Sel sporogen
akan berfungsi sebagai sel induk megaspore (megasporosit). Sel induk
megaspora akan mengalami pembelahan meiosis menjadi tetrad megaspora.
Sedangkan perkembangan gametofit betina dimulai dengan adanya pembesaran
megaspora fungsional di daerah kalaza. Pembesaran megaspora gametofit
fungsional diikuti oleh tiga kali pembelahan mitosis. Pembelahan pertama
menghasilkan gametofit 2 inti, pembelahan kedua menghasilkan gametofit 4 inti
dan pembelahan ketiga menghasilkan gametofit 8 inti. Dari 8 inti ini, tiga inti
tetap berada pada daerah mikropil membentuk aparat telur dan satu inti dari
masing-masing kutub bermigrasi ke tengah kantung embrio kemudian
bergabung menjadi satu membentuk inti polar, tiga inti lainnya tetap pada ujung
kalaza membentuk antipoda.
B. Saran
Akibat keterbatasan alat dan bahan selama kegiatan belajar online, agar mahasiswa
mampu memahami lebih dalam materi praktikum, diharapkan pengamatan dilakukan
secara langsung dan dilengkapi dengan studi literatur. Tidak sepenuhnya hanya
didasarkan pada studi literatur sehingga mahawiwa juga mampu mempraktikan secara
langsung proses penyiapan bahan amatan.
DAFTAR PUSTAKA
Arun K. Pandey. 2006. Structure, Development and Reproduction in Flowering Plants.
Bhagalpur: Bhagalpur University.
Beach, J.H. (1984). The reproductive biology of the Peach or “Pejibaye” Palm (Bactris
gasipaes) and a wild Congener (Bactris porschiana) in the Atlantik Lowland of Costa
Rica. Principes. 28 : 107-119.
Bhojwani. S.S & Bhatnagar, S.P. (1979). The embryology of Angiosperms. Vikas Pub.
House. New Delhi. P. 9-141.
Budiwati, dan Ratnawati. 2011. Biologi Perkembangan Tumbuhan. Yogyakarta : FMIPA
UNY.
Dwiastuti (1986). Morfologi perkembangan perbungaan dan Bunga Pinang (Areca catechu).
Skripsi Sarjana. Bandung : Jurusan Biologi. ITB.
Maheswari, P.1950. An Introduction to the Embryology of Angiosperms. New York: Mc Graw
Hill Book..
Muhammadiah, A. (1989). Morfologi perkembangan pada bunga betina dan buah Salacca
zalacca Reinwardt. Tesis Pascasarjana. Jurusan Biologi. ITB. Bandung.
Pramesti, H.T. (1988). Morfologi perkembangan bunga betina dan buah Aren (Arenga
pinnata Merr.). Skripsi Sarjana. Jurusan Biologi. ITB. Bandung.
Robertson, B.I. (1976a). Embryology of Jubaeopsis caffra Becc.: 1. mikrosporangium,
mikrosporogenesis and megagametogenesis. Jl. S. Afr. Bot. 42 : 97-108

Anda mungkin juga menyukai