Anda di halaman 1dari 6

HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN - HKUM4312

Tutor: Venny Anggarini, S.H. MH


Email: vennyanggarini90@gmail.com
_____________________________________________________________________________

Tugas. 1_ Hukum Perlindungan Konsumen - HKUM4312


Nama: Henri Hermawan
NIM: 042380729
______________________________________________________________________________
TUGAS 1 TUTON HKUM4312/HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN
Kasus 1:

Salah satu contoh kasus di masyarakat terjadi pada anak-anak yang dalam
hal ini merupakan objek yang paling tidak berdaya. Tuntutan untuk serba
cepat serta waktu tinggal di luar rumah yang lebih panjang mendorong
orang untuk terbiasa mengkonsumsi makanan siap saji yang cenderung
kelebihan gizi, serta makanan instan yang rentan terhadap kelebihan bahan
pengawet dan risiko kadaluwarsa. Makanan seperti itu boleh jadi tidak
memperlihatkan dampak negatif dalam waktu singkat, Balai Pengawasan
Obat dan Makanan (BPOM) di Denpasar menemukan banyak pelaku usaha
yang tidak menarik makanan anak-anak yang sudah kadaluwarsa dari
peredaran. Hal ini sering dilakukan, karena pada dasarnya anak-anak tidak
pernah memperhatikan tentang tanggal kadaluwarsa produk pangan yang
mereka konsumsi sehingga kalangan anak-anak sangat rentan terhadap
penipuan dengan cara penjualan produk pangan kedaluwarsa.
Pertanyaan 1 : Analisislah siapa yang bertanggung jawab dalam kasus di atas
kaitkan dengan hukum perlindungan konsumen !

PEMBAHASAN:

Tanggung jawab pelaku usaha yang telah menimbulkan kerugian bagi


konsumen di Denpasar merupkan tanggung jawab pelaku usaha akibat
kerugian yang dialami oleh konsumen termuat dalam Pasal 41 ayat (1)
Undang- Undang Nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan, dijelaskan bahwa
badan usaha yang memproduksi pangan olahan untuk diedarkan dan atau
orang perseorangan dalam badan usaha yang diberi tanggung jawab
terhadap jalannya usaha tersebut bertanggung jawab atas keamanan
pangan yang diproduksinya terhadap kesehatan orang lain yang
mengkonsumsi pangan tersebut dan Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1999
tentang Perlindungan Konsumen sesuai ketentuan Pasal 19 (1) yang
menyatakan bahwa pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti
rugi atas kerusakan, pencemaran, dan atau kerugian konsumen akibat
mengkonsumsi barang dan atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan.

Bentuk pengawasan terhadap pratek pelaku usaha yang dapat


menimbulkan kerugian bagi konsumen juga salah satu aspek vital yang
harus terus ditingkatkan, dalam kasus diata Balai Pengawasan Obat dan
Makanan (BPOM) harus lebih optimal melakukan tugas tugasnya dalam
menemukan pelanggaran pelanggaran yang telah dibuat oleh banyak
pelaku usaha yang tidak bertanggung jawab atas produk yang mereka jual
atau perdagangkan

Kasus 2:

Sekolah yang bangunannya ambruk dan fasilitas yang minim serta kurang
mendukung bagi kegiatan belajar-mengajar dapat mengakibatkan banyak
peserta didik mengalami kecelakaan saat sedang belajar, cidera luka-luka,
traumatis dan tidak optimal mendapatkan hak-haknya dalam proses belajar-
mengajar. Hal ini merupakan pelanggaran terhadap hak-hak konsumen.
Kasus bangunan sekolah yang ambruk, jelas-jelas telah membahayakan
keselamatan peserta didik. Sarana prasarana yang tidak sesuai standar
pendidikan nasional dan standar bangunan, tentu membuat peserta didik
dalam posisi yang selalu terancam. Hal ini juga menyebabkan situasi dan
kondisi kegiatan belajar-mengajar tidak kondusif. Selain itu yang dimaksud
dengan fasilitas yang minim adalah terbatasnya atau ketiadaan sarana
prasarana yang menunjang kegiatan pendidikan, seperti laboratorium
bahasa dan laboratorium eksakta. Sehingga lembaga pendidikan telah
melanggar hak peserta didik atas tersedianya sarana prasarana yang
memadai bagi kegiatan belajar-mengajar. Hal ini terkait pula dengan
pelanggaran atas hak peserta didik untuk memperoleh pendidikan yang
bermutu.

Pertanyaan 2 : Uraikan hak-hak apa saja yang seharusnya diperoleh peserta


didik berdasarkan UUPK!

PEMBAHASAN:

Dalam dunia pendidikan seringkalinya tidak terpenuhi hak dan kewajiban


peserta didik karena kurangnya biaya atau lain hal sebagainya. Sarana
prasarana yang tidak sesuai standar pendidikan nasional dan standar
bangunan, tentu membuat peserta didik dalam posisi yang selalu terancam
dimana hak mereka tidak secara penuh dapat terpenuhi padahal Setiap
peserta didik mempunyai hak, sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 12
ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, yaitu:

1. Mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang


dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama.
2. Mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai bakat, minat, dan
kemampuannya.
3. Mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak
mampu membiayai pendidikannya.
4. Mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak
mampu membiayai pendidikannya.
5. Pindah ke program pendidikan pada jalur dan satuan pendidikan lain
yang setara.
6. Menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar
masing-masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu
yang ditetapkan.

Kasus 3:

Roni berbelanja di mini market yang tak jauh dari rumahnya, dengan tidak
sengaja Roni memilih produk yang aspal (asli tapi palsu), karena kekurang-
telitian dari konsumen dan banyaknya produk yang diaspalkan sehingga
membuat konsumen mengira barang yang di display produk asli dan
semuanya sama. Selain itu, produk barang dalam kemasan tersebut juga
tidak mencantumkan tanggal kedaluwarsa sebagaimana dipersyaratkan
oleh peraturan perundang- undangan. Fakta tersebut di samping
disebabkan oleh tingkat kesadaran pelaku usaha yang masih rendah, juga
disebabkan masih lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah
(instansi yang berwenang). Atas peredaran produk aspal tersebut Roni
meminta tanggung jawab pelaku usaha atas kejadian yang menimpanya
tersebut.

Pertanyaan 3 : Analisislah kasus di atas bagaimana bentuk


pertanggungjawaban dari pelaku usaha sesuai dengan prespektif hukum
perlindungan konsumen !
PEMBAHASAN:

Berdasarkan kasus diatas dima Roni tidak sengaja Roni memilih produk yang
aspal (asli tapi palsu), karena kekurang-telitian sehingga membuat
konsumen mengira barang yang di display produk asli dan semuanya sama.

Selain itu, produk barang dalam kemasan tersebut juga tidak


mencantumkan tanggal kedaluwarsa sebagaimana dipersyaratkan oleh
peraturan perundang- undangan.

Fakta tersebut di samping disebabkan oleh tingkat kesadaran pelaku usaha


yang masih rendah, juga disebabkan masih lemahnya pengawasan yang
dilakukan oleh pemerintah (instansi yang berwenang).

Atas peredaran produk aspal tersebut Roni meminta tanggung jawab pelaku
usaha atas kejadian yang menimpanya tersebut dimana pertanggu jawaban
dari pelaku usaha yang sesuai dengan hukum perlindungan konsumen
maka pelaku usaha sebaikknya melakukan kewajiban kewajibannya sesuai
dengan Pasal 7 UUPK yang menentukan kewajiban-kewajiban pelaku usaha
sebagai berikut

- Beritikad baik dalam melakukan kegiataan usahanya


- Memberikan informasi yang benar
- Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur
- Menjamin mutu barang dan atau jasa tertentu serta memberikan
jaminan dan atau garansi barang yang dibuat dan atau
diperdagangkan
- Memberikan kompensasi, ganti rugi dan atau penggantian apabila
barang dan atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan konsumen
tidak sesuai dengan perjanjian

Roni dapat meminta haknya sebagai konsumen dimana berdasarkan UU


Perlindungan konsumen pasal 4, hak-hak konsumen sebagai berikut :
- Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam
mengonsumsi barang dan/atau jasa.
- Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang
dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi jaminan
yang dijanjikan.
- Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan
jaminan barang dan/atau jasa.
- Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau
jasa yang digunakan.
- Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan konsumen, dan
upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut.
- Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen.
- Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif.
- Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi, dan/atau
penggantian jika barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai
dengan perjanjian dan tidak sebagaimana mestinya.

Konsumen selain memiliki hak yang sudah diatur oleh undang-undang,


konsumen juga memiliki kewajiban yang sudah diatur dalam undang-
undang. Sehingga kita tidak semena-mena menuntut hak konsumen saja
kepada si produsen atau penjual barang.

Sumber referensi:
- BMP HKUM4312; Oleh: Susilowati S Dajaan; Agus Suwandono; Deviana
Yuanitasari
- Pengertian Pelaku Usaha serta Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha-
06/06/2016 by Wibowo T. Tunardy, S.H., M.Kn.
- Undang-undang (UU) No. 8 Tahun 1999 - Undang-undang (UU) tentang
Perlindungan Konsumen
- https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/45288/uu-no-8-tahun-1999

Anda mungkin juga menyukai