Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH PERMINTAAN KONSUMEN

Dosen Pengampu
Dr. Ayus Ahmad Yusuf, SE, MSi.

KELOMPOK 1
Di susun oleh:
1. Dewi Yulianti
2. Lina Bayu Utami
3. Riski Kurniawan
TOPIK
Permintaan adalah suatu proses dalam meminta sesuatu atau sejumlah barang yang dibeli
atau diminta pada suatu harga dan waktu tertentu. Permintaan berkaitan dengan keinginan
konsumen akan suatu barang dan jasa yang ingin dipenuhi. Dan kecenderungan permintaan
konsumen akan barang dan jasa tak terbatas.
Permintaan adalah sejumlah barang dan jasa yang diinginkan dan mampu dibeli oleh konsumen
untuk memenuhi kebutuhan pada berbagai tingkat harga dan waktu tertentu di pasar. Biasanya,
tinggi permintaan akan mempengaruhi harga. Sebaliknya, rendahnya permintaan juga akan
membuat harga semakin rendah.
Hukum Permintaan
Hukum permintaan adalah hukum yang menjelaskan tentang adanya hubungan yang bersifat
negatif antara tingkat harga dengan jumlah barang yang diminta. Jika harga naik, jumlah barang
yang diminta akan menurun, dan jika harga rendah maka jumlah barang yang diminta akan
meningkat. Hukum permintaan tidak bersifat mutlak, namun memiliki sifat mutlak dalam kondisi
ceteris paribus (faktor-faktor lain yang dianggap tetap).
Jenis-jenis Permintaan
Permintaan Berdasarkan Daya Beli Konsumen
Permintaan Efektif: Permintaan yang disertai dengan daya beli dan terjadinya transaksi.
Permintaan Potensial: Permintaan yang disertai dengan daya beli, namun belum terjadi transaksi.
Permintaan Absolut: Permintaan yang tidak disertai dengan daya beli.
Permintaan Berdasarkan Jumlahnya
Permintaan Individu: Permintaan individu terhadap suatu barang atau jasa tertentu.
Permintaan Pasar: Hasil penjumlahan dari permintaan-permintaan individu terhadap suatu
barang atau jasa tertentu pada saat bersamaan.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Permintaan
Ketersediaan dan perubahan harga barang sejenis (barang pengganti dan pelengkap).
Jumlah pendapatan masyarakat.
Selera konsumen.
Intensitas kebutuhan konsumen.
Perkiraan harga pada masa depan.
Jumlah penduduk.

ABSTRAK
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sebagai konsumen selalu melakukan berbagai permintaan
untuk berbagai barang dan jasa yang dibutuhkan.Permintaan yang dilakukan oleh konsumen
adalah cara mereka untuk memperoleh kepuasan dalam memenuhi kebutuhannya. Tentu saja
dalam melakukan permintaan, konsumen harus menyesuaikan permintaan yang dilakukan
dengan pendapatan yang mereka peroleh. Jika pendapatan mereka tinggi maka permintaan dapat
dilakukan dalam jumlah yang besar, dan sebaliknya, jika pendapatan mereka rendah maka
permintaan yang dapat dilakukan jumlahnya kecil. Selain pendapatan, harga pun sangat
mempengaruhi permintaan konsumen terhadap barang atau jasa. Semakin mahal harga barang
atau jasa, konsumen akan mengurangi konsumsi barang atau jasa tersebut atau beralih mencari
barang atau jasa yang sama meskipun dilihat dari pendapatannya, konsumen masih mampu
membeli barang atau jasa tersebut. Dan sebaliknya, semakin murah harga barang atau jasa,
konsumen akan loyal dalam mengkonsumsi barang atau jasa itu dan tidak akan mencari barang
atau jasa yang lain. Oleh karena itu, melakukan permintaan akan barang-barang yang memiliki
unsur spekulasi dan barang-barang prestise mungkin baik untuk masa depan dan gengsi, tetapi
sebaiknya disesuaikan dengan pendapatan yang tersedia, sehingga masih dapat melakukan
permintaan untuk barang-barang yang lebih penting lagi dalam kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci : Permintaan
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perilaku permintaan merupakan salah satu perilaku ekonomi yang mendominasi dalam praktek
ekonomi mikro, walaupun juga berlaku dalam praktek ekonomi makro. Itulah sebabnya
pembahasan mengenai permintaan yang ditinjau dari segi determinasi harga terhadap permintaan
selalu menjadi pokok kajian dalam ilmu ekonomi. Determinasi harga terhadap permintaan
dengan mengasumsikan faktor-faktor yang mempengaruhinya dianggap tetap mengahasilkan
hukum permintaan, sedangkan bila permintaan yang menentukan harga maka disebut teori
permintaan.
Permintaan adalah banyaknya jumlah barang yang diminta pada suatu pasar tertentu dengan
tingkat harga tertentu pada tingkat pendapatan tertentu dan dalam periode tertentu. Dalam
kehidupan sehari-hari seringkali kita dihadapkan kepada keadaan dimana kita harus memilih
diantara dua pilihan barang yaitu barang halal dan barangharam, atau keadaan darurat dimana
kita terpaksa mengkonsumsi barang yang haram, bagaimanakah kita menghadapi pilihan
tersebut, serta bagaimanakah Islam memandang hal ini.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan permintaan?
2. Bagaimana hukum permintaan?
3. Bagaimana teori permintaan dalam pandangan islam?
4. Apa saja faktor penentu elastisitas permintaan?
5. Bagaimana permintaan menurut ekonomi konvensional?
6. Bagaimana permintaan menurut ekonomi islam?
7. Apa perbedaan teori permintaan konvensinal dengan permintaan islam?
C. TUJUAN PENULISAN
1. Mengetahui pengertian permintaan
2. Mengetahui hukum permintaan.
3. Mengetahui teori permintaan dalam pandangan islam.
4. Mengetahui faktor penentu elastisitas permintaan.
5. Mengetahui permintaan menurut ekonomi konvensional.
6. Mengetahui permintaan menurut ekonomi islam.
7. Mengetahui perbedaan teori permintaan konvensional dengan permintaan islam.

KAJIAN PUSTAKA
1. Teori Permintaan
Definisi Permintaan terhadap barang dan jasa adalah kuantitas barang atau jasa yang orang
bersedia untuk membelinya pada berbagai tingkat harga dalam suatu periode tertentu. Dengan
kata lain, orang bersedia untuk membeli untuk memberi penekanan konsumsi yang dipengaruhi
oleh tingkat harga. Maksud dari kata bersedia disini adalah konsumen memiliki keinginan untuk
membeli suatu barang atau jasa dan sekaligus memiliki kemampuan yaitu uang atau pendapatan.
Kemampuan seringkali disebut dengan istilah daya beli. Dengan kata lain, teori permintaan
menerangkan tentang ciri hubungan antara jumlah permintaan dan harga. Berdasarkan ciri
hubungan antara permintaan dan harga dapat dibuat grafik kurva permintaan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan barang adalah:
a. Harga
Kuantitas yang diminta akan menurun ketika harganya meningkat dan kuantitas yang diminta
meningkat ketiberhubungan negative dengan harga. Hubungan antara harga harganya menurun,
dengan kata lain kuantitas yang diminta, dan kuantitas ini yang dinamakan hukum permintaan.
b. Pendapatan
Ketika pendapatan rendah maka secara total uang yang dibelanjakan lebih sedikit. Jika
permintaan terhadap barangmberkurang ketika pendapatan berkurang, barang tersebut
disebut barang normal (Normal good). Jika permintaan terhadap barang meningkat ketika
pendapatan turun, maka barang tersebut disebut barang inferior (Inferior good).
c. Harga barang lain yang berkaitan.
Apabila penurunan harga barang satu menurunkan permintaan terhadap barang yang lain, maka
kedua barang tersebut disebut barang subtitusi. Jika penurunan harga suatu barang meningkatkan
permintaan barang lainnya, kedua barang tersebut disebut barang komplemen.
d. Selera, Penentu paling jelas terhadap permintaan adalah selera.
Adalah sebuah konsep yang digunakan pada ilmu sosial, khususnya Ekonomi.
e. Ekspektasi atau perkiraan
Mengenai masa mendatang dapat mempengaruhi permintaan terhadap barang dan jasa saat ini.
f. Jumlah penduduk
Semakin besar jumlah penduduk disuatu daerah, semakin banyak permintaan terhadap suatu
produk didaerah tersebut.
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN PERMINTAAN
Menurut Ibnu Taimiyyah, permintaan suatu barang adalah hasrat terhadap sesuatu, yang
digambarkan dengan istilah raghbah fi al-syai’. Diartikan juga sebagai jumlah barang yang
diminta. [1] Secara garis besar, permintaan dalam ekonomi Islam sama dengan ekonomi
konvensional, namun ada prinsip-prinsip tertentu yang harus diperhatikan oleh individu muslim
dalam keinginannya. Yaitu untuk mengkonsumsi barang yang halal dan thayyib. Sehingga
permintaan yang diminta harus sesuatu yang halal daan thayyib. Juga tidak diperbolehkan untuk
menghambur-hamburkan harta, ataupun pelit.
Sedangkan dalam teori ekonomi konvensional, permintaan adalah sejumlah barang yang akan
dibeli atau yang diminta pada tingkat harga tertentu dalam waktu tertentu. Sedangkan pengertian
penawaran adalah sejumlah barang yang dijual atau ditawarkan pada suatu harga dan waktu
tertentu. Contoh permintaan adalah di pasar tradisional yang bertindak sebagai permintaan
adalah pembeli sedangkan penjual sebagai penawaran. Ketika terjadi transaksi antara pembeli
dan penjual maka keduanya akan sepakat terjadi transaksi pada harga tertentu yang mungkin
hasil dari tawar menawar yang cukup lama.
Jadi permintaan adalah jumlah barang atau jasa yang dibeli dalam berbagai situasi dan tingkat
harga. Model permintaan digunakan untuk menentukan harga dan kuantitas yang terjual di pasar.
Model ini sangat penting untuk melakukan analisa ekonomi mikro terhadap perilaku para
pembeli dan penjual, serta interaksi mereka di pasar. Ia juga digunakan sebagai titik tolak bagi
berbagai model dan teori ekonomi lainnya.

B. HUKUM PERMINTAAN
Permintaan terhadap barang atau jasa didefenisikan sebagai kuantitas barang atau jasa yang
orang bersedia untuk membelinya pada berbagai tingkat harga dalam suatu periode tertentu.
Dalam defenisi diatas digunakan kalimat aktif. Orang bersedia untuk membelinya, untuk
memberikan penekanan pada kegiatan konsumsi yang dilakukan secara aktif oleh masyarakat
konsumen, yang dipengaruhi oleh tingkat harga. Sedangkan kata ‘bersedia’ mendapatkan
penekanan tersendiri. Didalamnya terkandung makna, bahwa konsumen memiliki keinginan
untuk membeli suatu barang atau jasa, sekaligus ia juga memiliki kemampuan, yaitu uang atau
pendapatan, untuk membeli, dalam rangka memenuhi keinginannya tersebut. Kemampuan
tersebut seringkali diberi istilah daya beli. Jadi konsep permintaan terhadap barang dan jasa
hanya memerhatikan konsumen yang memiliki keinginan dan daya beli sekaligus.
1. Asumsi
Dalam analisis permintaan terhadap suatu barang atau jasa, ditelaah faktor-faktor yang
mempengaruhi besar kecilnya kuantitas atau jumlah barang/jasa yang diminta oleh konsumen.
Banyak faktor yang mempengaruhi permintaan terhadap suatu barang/jasa. Yang paling utama
adalah harga barang itu sendiri . selain itu, factor-faktor selain harga barang tersebut juga
mempengaruhi permintaan terhadap barang itu. Contohnya adalah pendapatan masyarakat, harga
barang lain, serta selera.
Secara umum diketahui bahwa “semakin tinggi harga suatu barang semakin kecil permintaan
terhadap barang tersebut”. Penyataan diatas menerangkan hubungan antara permintan suatu
barang dengan harga barang tersebut, atau dikenal dengan ‘hukum permintaan’. Dalam
merumuskan hukum permintaan, diasumsikan bahwa permintaan terhadap barang dan jasa hanya
dipengaruhi oleh harga barang dan jasa tersebut. faktor-faktor lain di luar harga barang dianggap
tetap. Asumsi ini sering dikenal dengan istilah cateris paribus.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Permintaan
Seperti telah dikemukakan diatas, memang diketahui bahwa permintaan terhadap suatu barang
dipengaruhi oleh faktor-faktor lain disamping harga, faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Pendapatan : semakin tinggi pendapatan seseorang, permintaan terhadap suatu barang akan
meningkat, walaupun harga barang tersebut tidak berubah.
b. Harga barang-barang lain yang terkait : permintaan terhadap susu murni akan meningkat
apabila harga susu bubuk naik.
c. Selera : hal lain yang mempengaruhi permintaan adalah selera, setiap individu memiliki
selera yang tidak sama dan selera juga bisa berubah dari peride ke periode.
d. Jumlah penduduk : semakin besar jumlah penduduk disuatu daerah, semakin banyak
permintaan terhadap suatu produk di daerah tersebut. Permintaan beras di Indonesia setiap tahun
selalu naik. Tentu saja, karena jumlah penduduk Indonesia semakin lama semakin banyak,
sehingga jumlah beras yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan mereka pun semakin
banyak. Ini tercermin dengan permintaan beras yang selalu naik.

C. TEORI PERMINTAAN ISLAMI


Hal penting yang harus dicatat adalah bagaimana teori ekonomi yang dikembangkan Barat
membatasi analisisnya dalam jangka pendek yakni hanya sejauh bagaimana manusia memenuhi
keinginannya saja. Tidak ada analisis yang memasukkan nilai-nilai moral dan sosial. Analisis
hanya dibatasi pada variabel-variabel pasar semata seperti harga, variabel-variabel lain tidak
dimasukkan, seperti variabel nilai moral, kesederhanaan, keadilan, sikap mendahulukan orang
lain, dan sebagainya.[2]
Dalam ekonomi islam, setiap keputusan seorang manusia tidak terlepas dari nilai-nilai moral dan
agama karena setiap kegiatan senantiasa dihubungkan kepada syariat. Al-qur’an menyebut
ekonomi dengan istilah iqtishad (penghematan, ekonomi), yang secara literal berarti
‘pertengahan’ atau ‘moderat’. Seorang muslim dilarang melakukan pemborosan (al-israa ayat
26-27). Seorang muslim diminta untuk mengambil sebuah sikap moderat dalam memperoleh dan
menggunakan sumber daya. Dia tidak boleh israf (royal, berlebih-lebihan), tetapi juga dilarang
pelit (bukhl).
Q.S Al-Israa ayat: 26-27.
Artinya: “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang
miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan
(hartamu) secara boros”.“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan
dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhanny”
.
D. FAKTOR PENENTU ELASTISITAS PERMINTAAN
Elastisitas permintaan adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengukur derajat kepekaan
atau respon perubahan jumlah atau kuantitas barang yang sudah dibeli sebagai akibat perubahan
factor yang mempengaruhi. Permintaan suatu barang bisa dikatakan elastis jika konsumen
merespon perubahan harga barang tersebut dengan berubah nya jumlah permintaan barang yang
besar. Sedangkan perubahan jumlah permintaan barang yang sedikit atau sama sekali tidak
berubah terhadap perubahan harga barang tersebut dikatakan inelastic atau kurang elastis.[3]
Faktor-faktor yang mempengaruhi elastisitas permintaan yaitu:[4]
1. Tingkat substitusi
Makin sulit mencari substitusi suatu barang, permintaan semakin elastis. Contoh: Permintaan
akan daging sapi, jika pada suatu saat banyak sapi yang mati karena terkena wabah penyakit
sehingga menyebabkan kenaikan harga daging sapi, maka orang dapat saja beralih mengonsumsi
daging ayam atau kambing. Akan tetapi, beras bagi masyarakat Indonesia sulit dicari
substitusinya. Karena itu, permintaan beras inelastic. Garam tidak mempunyai substitusi
sehingga permintaan bersifat inelastis sempurna.
2. Jumlah Pemakai
Makin banyak jumlah pemakai, permintaan suatu barang semakin inelastis. Harga dipengaruhi
oleh pokok tidaknya suatu barang bagi konsumen. Semakin pokok suatu barang, semakin
inelastis permintaannya. Namun, pokok tidaknya suatu barang adalah relatif.
3. Proporsi kenaikan harga terhadap pendapatan konsumen
Bila proporsi tersebut besar, maka permintaan cenderung lebih elastis.
4. Jangka waktu
Jangka waktu permintaan atas suatu barang juga mempunyai pengaruh terhadap elastisitas harga.
Semakin lama jangka waktu analisis permintaan suatu barang, makin elastis sifat permintaan
barang tersebut.
5. Prioduk mewah versus kebutuhan
Permintaan akan produk kebutuhan cenderung tidak elastis, di mana konsumen sangat
membutuhkan produk tersebut dan mungkin sulit mencari substitusinya.
Akibatnya, kenaikan harga cenderung tidak menurunkan permintaan.
Sedangkan permintaan barang-barang mewah umumnya elastis. Mengapa? Karena apabila harga
barang mewah mengalami peningkatan harga, jumlah yang diminta hamper tidak ada. Tapi, jika
barang mewah mengalami penurunan harga, jumlah yang diminta akan meningkat mungkin bisa
meningkat secara signifikan.
6. Keluasan pasar
Semakin luas ruang lingkupnya, maka semakin inelastis barang tersebut karena tidak ada barang
substitusinya. Begitu pula sebaliknya, semakin sempit ruang lingkup pasar tersebut maka
semakin elastis barang tersebut.

E. PERMINTAAN MENURUT EKONOMI KONVENSIONAL


Konsep permintaan merupakan hubungan antara jumlah barang yang diminta dengan harga
berbagai tingkat harga. Hukum permintaan (law of demand) menerangkan bahwa dalam keadaan
hal lain tetap (cateris paribus) apabila harga naik, maka permintaan terhadap suatu barang akan
berkurang, dan sebaliknya apabila harga turun, maka permintaan terhadap suatu barang akan
meningkat.
Perubahan pada tingkat harga akan memindahkan titik permintaan dalam suatu kurva
permintaan, sedangkan perubahan pada faktor selain harga (misalnya pendapatan) akan
menggeser kurva permintaan.
Menurut Ibn Taimiyah ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap permintaan terhadap
suatu barang dan pengaruhnya terhadap harga, yaitu: [5]
1. Harga barang itu sendiri dan barang substitusi
2. Keinginan penduduk terhadap jenis barang yang berbeda dan berubah-ubah
3. Perubahan juga tergantung pada jumlah konsumen.
4. Permintaan juga dipengaruhi oleh menguat atau melemahnya tingkat kebutuhan atas suatu
barang.
5. Harga juga dipengaruhi oleh tujuan dari kontrak jual beli.
6. Pendapatan rumah tangga dan pendapatan rata-rata masyarakat.
7. Ramalan mengenai keadaan dimasa yang akan datang.
Sangat sukar secara sekaligus menganalisis pengaruh berbagai faktor tersebut terhadap
permintaan suatu barang. Oleh sebab itu, dalam membicarakan teori permintaan, ahli ekonomi
membuat analisis yang lebih sederhana. Dalam analisis ekonomi dianggap bahwa permintaan
suatu barang terutama dipengaruhi oleh tingkat harganya. Oleh sebab itu, dalam teori permintaan
terutama dianalisis adalah hubungan antara jumlah permintaan suatu barang dengan harga
barang tersebut.

F. PERMINTAAN MENURUT EKONOMI ISLAM


Islam mengharuskan orang untuk mengkonsumsi barang yang halal dan thayyib. Aturan islam
melarang seorang muslim memakan barang yang haram, kecuali dalam keadaan darurat dimana
apabila barang tersebut tidak dimakan, maka akan berpengaruh terhadap nya muslim tersebut. Di
saat darurat seorang muslim dibolehkan mengkonsumsi barang haram secukupnya.
Selain itu, dalam ajaran islam, orang yang mempunyai uang banyak tidak serta merta
diperbolehkan untuk membelanjakan uangnya untuk membeli apa saja dan dalam jumlah
berapapun yang diinginkannya. Batasan anggaran (budget constrain) belum cukup dalam
membatasi konsumsi. Batasan lain yang harus diperhatikan adalah bahwa seorang muslim tidak
berlebihan (israf), dan harus mengutamakan kebaikan (maslahah).
Islam tidak menganjurkan permintaan terhadap suatu barang dengan tujuan kemegahan,
kemewahan dan kemubadziran. Bahkan islam memerintahkan bagi yang sudah mencapai nisab,
untuk menyisihkan dari anggarannya untuk membayar zakat, infak dan shadaqah.
Ibnu Taimiyyah (1263-1328 M) dalam kitab Majmu’ Fatawa menjelaskan, bahwa hal-hal yang
mempengaruhi terhadap permintaan suatu barang antara lain:
a) Keinginan atau selera masyarakat (Raghbah) terhadap berbagai jenis barang yang berbeda
selalu berubah-ubah. Di mana ketika masyarakat telah memiliki selera terhadap suatu barang
maka hal ini akan mempengaruhi jumlah permintaan terhadap barang tersebut.
b) Jumlah para peminat (Tullab) terhadap suatu barang. Jika jumlah masyarakat yang
menginginkan suatu barang semakin banyak, maka harga barang tersebut akan semakin
meningkat. Dalam hal ini dapat disamakan dengan jumlah penduduk, di mana semakin banyak
jumlah penduduk maka semakin banyak jumlah para peminat terhadap suatu barang.
c) Kualitas pembeli (Al-Mu’awid). Di mana tingkat pendapatan merupakan salah satu ciri
kualitas pembeli yang baik. Semakin besar tingkat pendapatan
masyarakat, maka kualitas masyarakat untuk membeli suatu barang akan naik.
d) Lemah atau kuatnya kebutuhan terhadap suatu barang. Apabila kebutuhan terhadap suatu
barang tinggi, maka permintaan terhadap barang tersebut tinggi.
e) Cara pembayaran yang dilakukan, tunai atau angsuran. Apabila pembayaran dilakukan
dengan tunai, maka permintaan tinggi.
f) Besarnya biaya transaksi. Apabila biaya transaksi dari suatu barang rendah, maka besar
permintaan meningkat.

Keadaan Darurat tidak Optimal


Dalam konsep Islam, yang haram telah jelas dan begitu pula yang halal telah jelas. Secara logika
ekonomi kita telah menjelaskan bahwa bila kita dihadapkan kepada dua pilihan, yaitu barang
halal dan barang haram, optimal solution adalah corner solution, yaitu mengalokasikan seluruh
pendapatan kita untuk mengonsumsi barang yang halal.
Sekarang bayangkanlah keadaan hipotesis yang diambil dari kisah nyata di tahun 1970 an.
Sebuah pesawatterbang yang penuh dengan penumpang jatuh di tengah gunung salju. Setelah
bertahan beberapa hari tanpa persediaan yang cukup, tidak adanya hewan atau tumbuhan yang
dapat dimakan, dan dinginnya cuaca, beberapa diantara penumpang meninggal. Bagi mereka
yang hidup pilihannya banyak, yaitu terus bertahan sambil mengharapkan agar tim penyelamat
segera tiba di tempatm, atau memakan daging penumpang yang meninggal untuk bertahan hidup.
Memakan bangkai manusia jelas haram, namun bila pilihannya anatara memakan yang haram
atau kita akan binasa, maka islam memberikan kelonggaran untuk dapat mengonsumsi barang
haram sekadarnya untuk bertahan hidup.
Maka setiap keadaan darurat, yaitu keadaan yang secara terpaksa harus mengonsumsi barang
haram, pastilah bukan corner solution oleh karenanya bukan optimal solution. Keadaan darurat
selalu bukan keadaan optimal.

G. PERBEDAAN TEORI PERMINTAAN KONVENSIONAL DENGAN PERMINTAAN


ISLAMI
Definisi dan faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap permintaan, antara permintaan
konvensional dan islam mempunyai kesamaan. Ini dikarenakan bahwa keduanya merupakan
hasil dari penelitian kenyataan dilapangan (empiris) dari tiap-tiap unit ekonomi.
Namun terdapat perbedaan yang mendasar di antara keduanya, diantaranya:
1. Sumber hukum
Perbedaan utama antara kedua teori tersebut tentunya adalah mengenai sumber hukum dan
adanya batasan syariah dalam teori permintaan Islami. Permintaan Islam berprinsip pada entitas
utamanya yaitu Islam sebagai pedoman hidup yang langsung dibimbing oleh Allah SWT.
Permintaan Islam secara jelas mengakui bahwa sumber ilmu tidak hanya berasal dari
pengalaman berupa data-data yang kemudian mengkristal menjadi teori-teori, tapi juga berasal
dari firman-firman Tuhan (revelation), yang menggambarkan bahwa ekonomi Islam didominasi
oleh variabel keyakinan religi dalam mekanisme sistemnya.
Sementara itu dalam ekonomi konvensional filosofi dasarnya terfokus pada tujuan keuntungan
dan materialisme. Hal ini wajar saja karena sumber inspirasi ekonomi konvensional adalah akal
manusia yang tergambar pada daya kreatifitas, daya olah informasi dan imajinasi manusia.
Padahal akal manusia merupakan ciptaan Tuhan, dan memiliki keterbatasan bila dibandingkan
dengan kemampuan.
2. Konsep permintaan
Konsep permintaan dalam Islam menilai suatu komoditi tidak semuanya bisa untuk dikonsumsi
maupun digunakan, dibedakan antara yang halal maupun yang haram. Allah telah berfirman
dalam Surat Al-Maidah ayat 87, 88.
Oleh karenanya dalam teori permintaan Islami membahas permintaan barang halal, barang
haram, dan hubungan antara keduanya. Sedangkan dalam permintaan konvensional, semua
komoditi dinilai sama, bisa dikonsumsi atau digunakan.
3. Motif permintaan
Dalam motif permintaan Islam menekankan pada tingkat kebutuhan konsumen terhadap barang
tersebut sedangkan motif permintaan konvensional lebih didominasi oleh nilai-nilai kepuasan
(interest). Konvensional menilai bahwa egoisme merupakan nilai yang konsisten dalam
mempengaruhi seluruh aktivitas manusia.
4. Tujuan
Permintaan Islam bertujuan mendapatkan kesejahteraan atau kemenangan akhirat (falah) sebagai
turunan dari keyakinan bahwa ada kehidupan yang abadi setelah kematian yaitu kehidupan
akhirat, sehingga anggaran yang ada harus disisihkan sebagai bekal untuk kehidupan akhirat.
Sedangkan dalam ekonomi konvensional hal ini tidak ada.
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas pemakalah mengambil kesimpulan bahwa teori permintaan Islam lebih
baik dari pada teori permintaan konvensianal, karena teori permintaan islam lebih rasional
dengan mengaitkan variabel-variabel moral, seperti kesederhanaan, keadilan, sikap
mendahulukan oranglain. Dimana dalam teori permintaan konvensional kita tidak menemukan
ini. Selain itu juga dikarenakan teori permintaan islam bersumber dari Al-Qur’an.

B. SARAN
Pemakalah menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan
masih banyak terdapat kesalahan, oleh sebab itu saran dari dosen selaku pembimbing dalam
matakuliah ini sangat kami harapkan, untuk bisa dijadikan sebagai pembelajaran dalam
pembuatan makalah dikemudian hari.
DAFTAR PUSTAKA

Sadono Sukirno.Mikro Ekonomi:Teori Pengantar,Edisi Ketiga.Jakarta:Raja Grafindo Persada,


2005.
Adiwarman Karim; Ekonomi Mikro Islami. IIIT Indonesia. Jakarta. 2003
T. Gilarso SJ ; Pengantar ilmu Ekonomi Mikro. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.2003
Karim, Adiwarman.A. Ekonomi Mikro Islam Edisi Ketiga. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta:
2007
Anita Rahmawati, Ekonomi Mikro Islam, Nora Media Enterprise, Kudus, 2011
Rozalinda, Ekonomi Islam Teori dan Aplikasinya pada Aktivitas Ekonomi. PT. Raja Grafindo
Persada. Jakarta: 2014

[1] Adiwarman A. Karim, Ekonomi Mikro Islam, hlm. 31.


[2] Mustafa Edwin Nasution, dkk. Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam. (Jakarta: Kencana
Prenada Media Group, 2007), hal. 85.
[3] Rozalinda, Ekonomi Islam Teori dan Aplikasinya pada Aktivitas Ekonomi, hlm. 79
[4] Ichard G. Lipsey dkk. Economics 13 edition, Boston: Person Education, 2008, hlm. 79
[5] Abdul Azhim Islahi, Economic Concep of Ibn Taimiyah, (London, The Islamic Foundation,
1998), hlm. 90-91