Anda di halaman 1dari 11

KRITIK TERHADAP KINERJA DEWAN PERWAKILAN

RAKYAT (DPR) SEBAGAI LEMBAGA LEGISLATIF YANG


RENTAN DENGAN RENT SEEKING
(Sebuah telaah terhadap kinerja DPR dari sudut pandang Politik
Hukum)

Makalah Ini disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Politik Hukum

Oleh :
Pratami Wahyudya Ningsih (S. 310610008)

PROGRAM PASCA SARJANA


KONSENTRASI KEBIJAKAN PUBLIK
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATERBELAKANG

Indonesia adalah Negara hukum yang sangat erat kaitanya dengan demokrasi.
Demokrasi dikatakan sebagai hal yang wajib untuk dilaksanakan apabila suatu Negara
tersebut benar mengakui adanya suatu kemerdekaan bagi setiap rakyatnya untuk
berpartisipasi aktif dalam kegiatan kenegaraan. Demokrasi adalah pemerintahan dari
rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.1 Begitulah pemahaman yang paling sederhana
tentang demokrasi, yang diketahui oleh hampir semua orang. Demokrasi merupakan
bentuk pemerintahan politik yang kekuasaan pemerintahannya berasal dari rakyat,
baik secara langsung (demokrasi langsung) atau melalui perwakilan (demokrasi
perwakilan).
Berbicara mengenai demokrasi adalah memperbincangkan tentang kekuasaan,
atau lebih tepatnya pengelolaan kekuasaan secara beradab. Ia adalah sistem
manajemen kekuasaan yang dilandasi oleh nilai-nilai dan etika serta peradaban yang
menghargai martabat manusia. Pelaku utama demokrasi adalah kita semua, setiap
orang yang selama ini selalu diatasnamakan namun tak pernah ikut menentukan.
Menjaga proses demokratisasi adalah memahami secara benar hak-hak yang kita
miliki, menjaga hak-hak itu agar siapapun menghormatinya, melawan siapapun yang
berusaha melanggar hak-hak itu. Demokrasi pada dasarnya adalah aturan orang
(people rule), dan di dalam sistem politik yang demokratis warga mempunyai hak,
kesempatan dan suara yang sama di dalam mengatur pemerintahan di dunia publik.
Sedang demokrasi adalah keputusan berdasarkan suara terbanyak. Di Indonesia,
pergerakan nasional juga mencita-citakan pembentukan negara demokrasi yang
berwatak anti-feodalisme dan anti-imperialisme, dengan tujuan membentuk
masyarakat sosialis.
Di Indonesia sendiri, wujud nyata dari adanya system demokrasi sangat mudah
untuk ditemukan. Salah satunya adalah adanya Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
sebagai lembaga Negara yang sangat kental sebagai pelaksana dari system demokrasi
itu sendiri. Bagaimana tidak, karena anggota DPR adalah sebagai sarana penyalur
aspirasi rakyat, maka seolah DPR sebagai lembaga agung yang berpihak pada rakyat.
1
http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi.
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia atau sering disebut Dewan
Perwakilan Rakyat (disingkat DPR-RI atau DPR) adalah salah satu lembaga tinggi
negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang merupakan lembaga perwakilan
rakyat. DPR terdiri atas anggota partai politik peserta pemilihan umum yang dipilih
melalui pemilihan umum.2 DPR memiliki tugas dan wewenang tersendiri
sebagaimana yang diamanatkan oleh undang-undang, seharusnya mampu
merealisasikan yang menjadi aspirasi rakyat Indonesia.
Berdasarkan regulasi dan apa yang segogyanya diterapkan, di luar itu semua
agaknya dalam masyarakat tengah terjadi suatu pembodohan secara tidak langsung.
Hal itu Nampak dengan adanya gejolak yang terjadi, seperti banyak terjadi
pengkritikan terhadap kinerja DPR. Kritikan yang terjadi dan rasa tidak percaya yang
timbul di hati masyarakat luas adalah suatu wujud kekecewaan rakyat terhapa
lembaga yang dikatakan sebagai penyalur aspirasinya. Hal tersebut tidak lain karena
banyaknya isu-isu yang merebak seperti kinerja DPR yang kurang maksimal, adanya
kepentingan-kepentingan yang sangat erat dengan posisi DPR yang strategis dalam
menyusun suatu regulasi tertentu.
Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik mengkaji lebih dalam mengenai
kinerja DPR sebagai lembaga Negara yang todak lain sebagai lembaga penyalur
aspirasi rakyat yang dewasa ini sangat rentan dengan adanya pengaruh-pengaruh dari
luar dalamrangka palaksanaan tugas dan kewajiban DPR itu sendiri dalam sebuah
makalah yang berjudul “KRITIK TERHADAP KINERJA DEWAN
PERWAKILAN RAKYAT (DPR) SEBAGAI LEMBAGA LEGISLATIF YANG
RENTAN DENGAN RENT SEEKING (Sebuah telaah terhadap kinerja DPR
dari sudut pandang Politik Hukum)”.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang hendak penulis cari jawabanya adalah ;
1. Apakah kinerja DPR sudah sesuai dengan amanat Undang-undang?
2. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan kinerja DPR dalam
melaksanakan tugas dan kewajibanya kurang maksimal?

2
http://id.wikipedia.org/wiki/Dewan_Perwakilan_Rakyat
BAB II

PEMBAHASAN

A. Kinerja DPR menurut undang-undang


Secara normatif memang DPR memiliki tugas dan kewajiban seperti yang
diamanatkan di dalam undang-undang. Tugas dan wewenang DPR antara lain adalah
sebagai berikut;3
1. Membentuk Undang-Undang yang dibahas dengan Presiden untuk mendapat
persetujuan bersama
2. Membahas dan memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan
terhadap Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang yang diajukan oleh
Presiden untuk menjadi undang-undang
3. Menerima rancangan undang-undang yang diajukan oleh DPD berkaitan dengan
otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta
penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi
lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah
serta membahas membahas rancangan undang-undang tersebut bersama Presiden
dan DPD sebelum diambil persetujuan bersama antara DPR dan Presiden
4. Membahas rancangan undang-undang yang diajukan oleh Presiden atau DPR yang
berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan
pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan
sumber daya ekonomi lainnya, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah,
dengan mengikutsertakan DPD sebelum diambil persetujuan bersama antara DPR
dan Presiden
5. Memperhatikan pertimbangan DPD atas rancangan undang-undang tentang APBN
dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak, pendidikan, dan
agama
6. Membahas bersama Presiden dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan
memberikan persetujuan atas rancangan undang-undang tentang APBN yang
diajukan oleh Presiden
7. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang dan APBN
8. Membahas dan menindaklanjuti hasil pengawasan yang disampaikan oleh DPD
terhadap pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah, pembentukan,
3
http://id.wikipedia.org/wiki/Dewan_Perwakilan_Rakyat.
pemekaran, dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan
sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan APBN, pajak,
pendidikan, dan agama
9. Memberikan persetujuan kepada Presiden untuk menyatakan perang, membuat
perdamaian dan perjanjian dengan negara lain, serta membuat perjanjian
internasional lainnya yang menimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi
kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara dan/atau
mengharuskan perubahan atau pembentukan undang-undang
10. Memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam pemberian amnesti dan abolisi
11. Memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam hal mengangkat duta besar dan
menerima penempatan duta besar negara lain
12. Memilih anggota BPK dengan memperhatikan pertimbangan DPD
13. Membahas dan menindaklanjuti hasil pemeriksaan atas pertanggungjawaban
keuangan negara yang disampaikan oleh BPK
14. Memberikan persetujuan kepada Presiden atas pengangkatan dan pemberhentian
anggota KY
15. Memberikan persetujuan calon hakim agung yang diusulkan Komisi Yudisial
untuk ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden
16. Memilih 3 (tiga) orang hakim konstitusi dan mengajukannya kepada Presiden
untuk diresmikan dengan keputusan Presiden
17. Memberikan persetujuan terhadap pemindahtanganan aset negara yang menjadi
kewenangannya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dan
terhadap perjanjian yang berakibat luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang
terkait dengan beban keuangan negara
18. Memberikan persetujuan kepada Presiden untuk menyatakan perang, membuat
perdamaian, dan perjanjian dengan negara lain
19. Menyerap, menghimpun, menampung dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat
20. Melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam undang-undang
DPR dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya berhak meminta pejabat
negara, pejabat pemerintah, badan hukum, atau warga masyarakat untuk memberikan
keterangan tentang suatu hal yang perlu ditangani demi kepentingan bangsa dan
negara. Setiap pejabat negara, pejabat pemerintah, badan hukum, atau warga
masyarakat wajib memenuhi permintaan DPR tersebut. Setiap pejabat negara, pejabat
pemerintah, badan hukum, atau warga masyarakat yang melanggar ketentuan tersebut
dikenakan panggilan paksa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dalam hal panggilan paksa tidak dipenuhi tanpa alasan yang sah, yang bersangkutan
dapat disandera paling lama 15 (lima belas) hari sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan. Dalam hal pejabat yang disandera habis masa jabatannya atau
berhenti dari jabatannya, yang bersangkutan dilepas dari penyanderaan demi hukum.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka DPR memiliki tugas dan kewajiban yang
sangat erat kaitanya dengan kepentingan rakyat banyak. Namun agaknya kinerja DPR
di Indonesia akhir-akhir ini menuai suatu keritikan yang tajam dari berbagai penjuru.
Sorotan yang semakin meluas dari rakyat seakan menjadi pengawal terhadap kinerja
DPR itu sendiri. Bagaimana tidak, kedudukan DPR yang sebagai lembaga legislasi
yang sangat erat kaitanya dengan kepentingan orang banyak, sehingga dewasa ini
terstigma dalam masyarakat bahwa korupsi di DPR bukanlah hal yang baru.
Hal tersebut seakan didorong dengan adanya fakta atas kinerja DPR yang dalam
menghasilkan prodak hukumnya erat dengan rent seeking. Rent seeking tidak lain
adalah suatu kepentingan-kepentingan yang ada yang ikut campur dalam pembuatan
suatu regulasi dalam DPR. Pihak-pihak yang berkepentingan tersebut seakan tidak
ragu untuk membeli satu Pasal yang dihasilkan oleh DPR, sehingga DPR dapat
membuat pasal tersebut sesuai dengan apa yang dipesan oleh pihak tersebut. Hal
inilah yang sering dikatakan bahwa DPR bias melayani “pasal-pasal pesanan” yang
dirasa hanya menguntungkan pihak-pihak yang terkait saja.
Belum lagi fakta yang dapat penulis cantumkan sebagai berikut;
1. "Selama satu tahun masa bakti DPR RI ditandai dengan kinerja buruk dan jauh
dari harapan masyarakat Indonesia," kata Presiden BEM UGM Aza El
Munadiyan.
Ia mengatakan, DPR RI telah gagal melaksanakan fungsi legislasinya karena
hanya ada 10 Rancangan Undang-Undang (RUU) yang disahkan. "Padahal,
selama satu tahun, tercatat target 70 RUU yang sudah harus disahkan oleh DPR RI
menjadi undang-undang," Selain itu terdapat 24 RUU inisiatif DPR RI yang sama
sekali belum disiapkan naskah akademik dan drafnya. "Sementara dari fungsi
pengawasan, DPR RI terbukti gagal menuntaskan kasus Bank Century yang
merugikan negara sebesar Rp 6,7 triliun," katanya. DPR RI justru tidak memiliki
kepekaan sosial dengan usulan dana rumah aspirasi dan pembangunan gedung
baru. "DPR RI juga bermasalah dalam hal akuntabilitas dan transparasi dalam
memanfaatkan anggarannya, alokasi gaji anggota DPR RI naik 96 persen
dibanding periode sebelumnya, tetapi uang tersebut seperti menguap begitu saja,"4

2. Adanya Pasal pesanan yang beberapa waktu pernah mencuat dalam UU


penanaman modal yang sangat dirasa menguntungkan pihak asing. Ketika itu
4
http://www.waspada.co.id/index.php%3Foption%3Dcom_content%26view%3Darticle%26id%3D146950:
Mahkamah Konsitusi (MK) menyatakan bahwa sebagian ketentuan Pasal 22 UU
No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UU PM) bertentangan dengan
konstitusi. Bagian dari Pasal 22 UU PM yang bertentangan dengan UUD 1945,
yaitu Pasal 22 ayat (1) sepanjang menyangkut kata-kata “di muka sekaligus” dan
“berupa: a. Hak Guna Usaha dapat diberikan dengan jumlah 95 (sembilan puluh
lima) tahun dengan cara dapat diberikan dan diperpanjang di muka sekaligus
selama 60 (enam puluh) tahun dan dapat diperbarui selama 35 (tiga puluh lima)
tahun; b. Hak Guna Bangunan dapat diberikan dengan jumlah 80 (delapan puluh)
tahun dengan cara dapat diberikan dan diperpanjang di muka sekaligus selama 50
(lima puluh) tahun dan dapat diperbarui selama 30 (tiga puluh) tahun; dan c. Hak
Pakai dapat diberikan dengan jumlah 70 (tujuh puluh) tahun dengan cara dapat
diberikan dan diperpanjang di muka sekaligus selama 45 (empat puluh lima) tahun
dan dapat diperbarui selama 25 (dua puluh lima) tahun”. Selain itu, Pasal 22 ayat
(2) sepanjang menyangkut kata-kata “di muka sekaligus” dan Pasal 22 ayat (4)
sepanjang menyangkut kata-kata “sekaligus di muka” juga dinyatakan
bertentangan dengan UUD 1945.

Berdasarkan dua contoh di atas, maka apa yang manjadi tugas dan kewajiban
DPR belum maksimal dikerjakan. Mengingat Salah satu persoalan serius yang belum
DPR RI mampu atasi ialah pelaksanaan fungsi legislasi yang tidak memenuhi target.
Jangankan bisa capai 70 persen, ternyata 50 persen Rancangan Undang Undang
(RUU) sesuai target dalam program legislasi nasional (Proglenas) tak tercapai. 5hal
tersebut juga dapat kita lihat dalam beberapa kasus seperti Lapindo, megaskandal
'Bank Century', 'teror' gas Elpiji, hingga kisruh naiknya tarif dasar listirk (TDL),
kesemuanya ini belum mampu diatasi oleh DPR RI.

B. Faktor-faktor yang menyebabkan kinerja DPR dalam melaksanakan tugas dan


kewajibanya kurang maksimal

5
http://idetected.blogspot.com/2010/09/fasilitas-dan-kinerja-dpr-ri.html.
Menurut penulis, berdasarkan fenomena yang ada maka factor yang dapat
mempengaruhi kinerja DPR adalah
1. Budaya politik

      Perilaku politik DPR yang merupakan kendala eksternal karena hal 


tersebut merupakan perilaku yang sudah menginstitusional di DPR. Dengan
kondisi budaya politik demikian sulit apabila ada anggota DPRD yang
kemudian punya inisiasi untuk melakukan upaya – upaya politik yang
terhormat menjadi tidak berdaya apa-apa. Keluhan tentang budaya politik
demikian banyak diungkap oleh anggota dewan yang masih punya semangat
tinggi untuk terus melakukan upaya perubahan-perubahan bagi lingkungan
DPR. Tidak jarang mereka yang punya semangat idealisme yang tinggi,
kemudian harus kandas lantaran proses politik menghendaki voting untuk
memutus sebuah permasalahan yang berkembang. Dan celakanya mayoritas
yang hadir dan ikut menentukan arah solusi permasalahan menjadi demikian
tidak simpatik dengan pilihan-pilihan politik yang dibuatnya. 

2. Pengaruh kekuatan politik (eksternal)

      Kekuatan politik eksternal yang paling berpengaruh atas kualitas produk


legislasi DPR adalah pasar / pemodal. Dimana peranan pasar ini dalam
mengintervensi proses pembuatan hukumnya terletak pada korelasi produk
hukum yang dibuat dengan warna produk hukum tersebut. Kekuatan pasar
akan selalu mendorong upaya pembuatan hukum yang berfihak padanya. Pada
saat-saat tertentu, pasar akan memaksakan keinginannya untuk tujuan
investasi yang dijalankannya. Sebetulnya penegarahan massa oleh masyarakat
tidak perlu terjadi kalau DPR tanggap atas suasana batin masyarakat yang
membutuhkan jaminan dan kepastian hukum atas atiuran yang dibuatnya.
Disisi lain juga sikap pasar (pengusaha) dalam melaksanakan agenda
bisnisnya tidak jarang memakai cara-cara yang memberangus keadilan
dimasyarakat.

Disinilah politik hukum berandil di dalam kinerja DPR. Dimana pihak


yang berkepentingan ada dan memiliki modal yang dapat melancarkan
kepentingannya, banyak pihak yang tidak segan member modal kepada DPR
untuk membuat regulasi yang sesuai dengan apa yang menjadi tujuannya. Hal
ini sangat disayangkan meningat DPR adalah sebagai icon wujud demokrasi
dan penyalur aspirasi rakyat, malah menyalahgunakan wewenang yang telah
diberikan kepadanya. Budaya politik hukum yang demikian ini seakan
menjadi halyang sangat lazim dalam DPR, sehingga antara angota DPR dan
rent seeking atau pihak yang berkepentinganpun seakan tidak segan untuk
melancarkan praktek “palayanan pasal pesanan” ini.

3. Sumber Daya Manusia (SDM) yang kurang memadai.

Sember daya manusia yang kurang memadai disini terkait dengan kinerja yang
kurang efektif, mengingat rendahnya prodak hukum yang dihasilkan, kinerja
saat mengikuti sidang yang banyak tertangkap gambar banyak anggota DPR
yang tertidur saat rapat dan sebagainya. Belum lagi tingkat moralitas yang
rendah yang sangat rentan dengan budaya korupsi.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Tugas dan kewajiban DPR belum maksimal dikerjakan. Mengingat Salah satu
persoalan serius yang belum DPR RI mampu atasi ialah pelaksanaan fungsi legislasi
yang tidak memenuhi target. Jangankan bisa capai 70 persen, ternyata 50 persen
Rancangan Undang Undang (RUU) sesuai target dalam program legislasi nasional
(Proglenas) tak tercapai. hal tersebut juga dapat kita lihat dalam beberapa kasus
seperti Lapindo, megaskandal 'Bank Century', 'teror' gas Elpiji, hingga kisruh naiknya
tarif dasar listirk (TDL), kesemuanya ini belum mampu diatasi oleh DPR RI.
2. Terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab tidak maksimalnya kinerja DPR ,
diantaranya adalah satu Budaya politik yang sudah melembaga, dua pengaruh
kekuatan politik yang banyak menimbulkan keinginan dari rent seeking untuk
membeli pasal-pasal dan prodak hukum yang dihasilkan oleh DPR. Dimana pihak
yang berkepentingan ada dan memiliki modal yang dapat melancarkan
kepentingannya, banyak pihak yang tidak segan member modal kepada DPR untuk
membuat regulasi yang sesuai dengan apa yang menjadi tujuannya. Hal ini sangat
disayangkan meningat DPR adalah sebagai icon wujud demokrasi dan penyalur
aspirasi rakyat, malah menyalahgunakan wewenang yang telah diberikan kepadanya.
Budaya politik hukum yang demikian ini seakan menjadi halyang sangat lazim dalam
DPR, sehingga antara angota DPR dan rent seeking atau pihak yang
berkepentinganpun seakan tidak segan untuk melancarkan praktek “palayanan pasal
pesanan” ini, dalam hal ini dapat dikatakan bahwa adanya politik uang dan kekuasaan
yang sangat menonjol. Tiga serta sumber daya manusia yang kurang mamadai.
B. Saran
1. Perlu adanya Panitia Pengawas terhadap kinerja DPR, yang mengawasi kinerja DPR
dalam kegiatannya sebagai legislator dan subyek pelaksana dari tata tertip DPR
2. Diperlukan adanya pengawalan yang ketat terhadap setiap regulasi yang dihasilkan
DRP sehingga rent seeking atau pihak-pihak yang berkepentingan tidak akan
mengintervensi dalam setiap prodak DPR.
3. Diperlukan pemahaman budaya politik yang bersih dalam setiap individuanggota
DPR sehingga tidak akan melakukan suatu kegiatan yang berada di luar koredor
semestinya, seperti korupsi, pelaksanaan tugas dan kewajiban yang tidak sesuai
dengan semestinya, dll.
DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi. (diakses pada tanggal 7 januari 2011)

http://id.wikipedia.org/wiki/Dewan_Perwakilan_Rakyat (diakses pada tanggal 7 januari


2011)

http://www.waspada.co.id/index.php%3Foption%3Dcom_content%26view%3Darticle%26id
%3D146950: (diakses pada tanggal 7 januari 2011)

http://idetected.blogspot.com/2010/09/fasilitas-dan-kinerja-dpr-ri.html. (diakses pada tanggal


7 januari 2011)