Anda di halaman 1dari 10

JURNAL PENDIDIKAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN

Vol. 5, No. 1, [Januari-Juni], 2017 : 19-28

Analisis Kesehatan Bank Menggunakan Model Rgec (Risk Profile, Good


Corporate Governance, Earning, Capital) Pada Bank Umum Swasta
Nasional Devisa
Lina Lathifah

Abstract
This study aims to determine the health level of national foreign exchange private banks using the RGEC model
(Risk Profile, Good Corporate Governance, Earning, Capital) for the 2012-2015 period. The data collection
method used in this study is the documentation method. This study assessed four RGEC factors, Risk Profile
factors through NPL and LDR ratios, Good Corporate Governance factors, Earning factors through ROA and
NIM ratios, and Capital factors through CAR ratios. The results of research on bank soundness assessment
based on RGEC model (Risk Profile, Good Corporate Governance, Earning, Capital) shows that Bank
Danamon generally has good financial performance with the average level of soundness of the bank in PK 1
(Composite Rating 1) and predicate as a very healthy bank. This is different from the acquisition of Bank
Ekonomi Raharja, which generally has a financial performance with the average level of soundness of the bank
in PK 2 (Composite Rating 2) and predicate as a healthy bank. Meanwhile, Bank Mega generally has good
financial performance with the average level of soundness of banks in PK 1 (Composite Rating 1) and
predicate as a very healthy bank.

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesehatan bank umum swasta nasional devisa
model RGEC (Risk Profile, Good Corporate Governance, Earning, Capital) periode 2012-2015. Metode
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi. Penelitian ini melakukan
penilaian terhadap empat faktor RGEC, faktor Risk Profile melalui rasio NPL dan LDR, faktor Good
Governance, faktor Earning melalui rasio ROA dan NIM, dan faktor Capital melalui rasio CAR. Hasil
penelitian mengenai penilaian tingkat kesehatan bank berdasarkan model RGEC (Risk Profile, Good
Governance, Earning, Capital) menunjukkan bahwa Bank Danamon pada umumnya memiliki kinerja
keuangan yang baik dengan rata-rata perolehan tingkat kesehatan bank berada pada PK 1 (Peringkat
1) dan berpredikat sebagai bank yang sangat sehat. Berbeda dengan perolehan Bank Ekonomi Raharja yang
pada umumnya memiliki kinerja keuangan dengan rata-rata perolehan tingkat kesehatan bank berada pada PK
(Peringkat Komposit 2) dan berpredikat sebagai bank yang sehat. Adapun Bank Mega pada umumnya
kinerja keuangan yang baik dengan rata-rata perolehan tingkat kesehatan bank berada pada PK 1 (Peringkat
Komposit 1) dan berpredikat sebagai bank yang sangat sehat.

Kata kunci. tingkat kesehatan bank; model RGEC.


Corresponding author. Email. llathifah96@gmail.com
How to cite this article. Lathifah, L. (2017). Analisis Kesehatan Bank Menggunakan Model RGEC (Risk
Profile, Good Corporate Governance, Earning, Capital) Pada Bank Umum Swasta Nasional Devisa. Jurnal
Pendidikan Akuntansi Dan Keuangan, 5(1), 19–28. Retrieved from
http://ejournal.upi.edu/index.php/JPAK/article/view/15402

History of article. Received: Agustus 2016, Revision: November 2016, Published: Januari 2017

Pendahuluan perekonomian tumbuh dan meningkatkan


Bank merupakan lembaga keuangan pembangunan nasional.
yang memiliki peran penting dalam Kinerja bank dalam melaksanakan
perekonomian Indonesia. Fungsi perbankan kegiatan operasionalnya akan menunjukkan
sebagai perantara keuangan antara masyarakat predikat kesehatan bank. Tingkat kesehatan
yang kelebihan dana dengan masyarakat yang bank adalah hasil penilaian kondisi bank yang
kekurangan dana telah membuat roda dilakukan terhadap risiko dan kinerja bank.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku badan

19 | Jurnal Pendidikan Akuntansi dan Keuangan


DOI.10.17509/jpak.v5i1.15402 | http://ejournal.upi.edu/index.php/JPAK
Lina Lathifah/ Analisis Kesehatan Bank Menggunakan Model Rgec (Risk Profile, Good Corporate
Governance, Earning, Capital) Pada Bank Umum Swasta Nasional Devisa

pengawas perbankan Nasional harus mengawasi sejumlah 7 bank atau sebesar 38,89%, dan
tingkat kesehatan bank umum. disertai dengan satu bank umum swasta nasional
Mekanisme penilaian kesehatan bank devisa yang berada pada predikat kurang sehat
yang diatur melalui Peraturan Bank Indonesia sebesar 5,55%.
wajib dilaksanakan oleh seluruh bank umum di Kecenderungan kesehatan bank umum
Indonesia, termasuk bank umum swasta swasta nasional devisa yang masih belum
nasional. Kinerja bank umum swasta nasional mencapai predikat sangat sehat
devisa terlihat dari perolehan predikat kesehatan mengindikasikan dan memberi peringatan atas
bank berdasarkan BUKU (Bank Umum beberapa hal. Semakin rendahnya tingkat
Kelompok Usaha). Adapun BUKU adalah kesehatan bank akan dibaca oleh kreditur
pengelompokkan bank berdasarkan kegiatan sebagai penurunan kemampuan bank dalam
usaha yang disesuaikan dengan modal inti yang menjaga kelangsungan usahanya. Hal tersebut
dimiliki. Berdasarkan data yang diperoleh, dapat dilihat dari beberapa dimensi, yaitu
peringkat bank umum swasta nasional devisa dimensi likuiditas, rentabilitas, permodalan, dan
dengan menggunakan model CAMEL (Capital, tata kelola manajemen bank. Semakin rendah
Asset Quality, Management, Earning, Liquidity) tingkat likuiditas bank menunjukkan semakin
BUKU per 31 Desember 2015 dapat dilihat rendah pula kemampuan bank dalam memenuhi
sebagai berikut : kewajibannya. Demikian pula menurunnya
tingkat rentabilitas, permodalan, dan tata kelola
Tabel 1. Peringkat BUSN Devisa manajemen akan berpengaruh pada turunnya
Berdasarkan BUKU Per 31 Desember 2015 nilai bank secara keseluruhan. Dalam kondisi
No. Nama Bank PK Predikat demikian, bank menjadi rentan terhadap
1 Bank BCA 1 Sangat Sehat kesulitan likuiditas bahkan mengalami
2 Bank Bukopin 2 Sehat kebangkrutan. Oleh karena itu, diperlukan
3 Bank MNC 2 Sehat adanya regulasi baru dalam perbankan. Bank
4 Bank Danamon 2 Sehat perlu meningkatkan efektivitas penerapan
5 Bank Ekonomi 2 Sehat
manajemen risiko dan good corporate
Raharja
6 Bank Mayapada 2 Sehat governance agar bank dapat mengidentifikasi
7 Bank Mega 2 Sehat permasalahan lebih dini dan dapat melakukan
8 Bank OCBC NISP 2 Sehat tindak lanjut perbaikan yang sesuai dan lebih
9 Panin Bank 2 Sehat cepat sehingga bank lebih tahan dalam
10 Bank Sinarmas 2 Sehat menghadapi krisis (Surat Edaran Bank
11 Bank Artha Graha 3 Cukup Sehat Indonesia No. 15/15/DPNP/2013).
12 Bank CIMB 3 Cukup Sehat Bank beroperasi berlandaskan
13 Bank QNB 3 Cukup Sehat kepercayaan, baik kepercayaan masyarakat
14 Bank Maybank 3 Cukup Sehat terhadap perbankan maupun sebaliknya. Bank
15 Bank J Trust 3 Cukup Sehat
yang tidak dilikuidasi harus tetap bersaing untuk
16 Bank BNP 3 Cukup Sehat
17 Bank Permata 3 Cukup Sehat mengembalikan kepercayaan masyarakat di
18 Bank of India 4 Cukup Sehat tengah ketidakpastian kondisi ekonomi yang
Indonesia terjadi. Nasabah atau calon nasabah tentu akan
Sumber : https://kinerjabank.com memilih bank yang sehat dan dapat dipercaya
*Penilaian berdasarkan aspek Capital, Asset Quality, untuk melakukan kegiatan jasa perbankan.
Earning&Efficiency, dan Liquidity Terdapat beberapa metode yang dapat
digunakan dalam menilai kesehatan bank, salah
Tabel 1 menunjukkan bahwa jumlah satunya adalah Peraturan Bank Indonesia No.
bank umum swasta nasional devisa hanya 13/1/PBI/2011 yang menggunakan pendekatan
memiliki satu bank berpredikat sangat sehat Risk-Based Bank Rating atau yang biasa dikenal
sebesar 5,55%, sedangkan jumlah bank umum dengan pendekatan RGEC (Risk Profile, Good
swasta nasional devisa yang menyumbang Corporate Governance, Earnings, Capital).
persentase terbesar adalah bank yang memiliki Prinsip-prinsip umum yang menjadi dasar
predikat sehat sebanyak 9 bank atau sebesar dalam melakukan penilaian tingkat kesehatan
50%. Namun, keberadaan bank umum swasta bank dengan model RGEC mencakup prinsip
nasional devisa yang berada pada predikat beriorientasi risiko, proporsionalitas,
cukup sehat juga perlu mendapat perhatian
20 | Jurnal Pendidikan Akuntansi dan Keuangan
DOI.10.17509/jpak.v5i1.15402 | http://ejournal.upi.edu/index.php/JPAK
JURNAL PENDIDIKAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Vol. 5, No. 1, [Januari-Juni], 2017 : 19-28

materialitas atau signifikansi, serta Profile, Good Corporate Governance, Earning,


komprehensif dan terstruktur. dan Capital).
Model RGEC berperan penting dalam Berdasarkan hasil penetapan peringkat
menilai tingkat kesehatan suatu bank. Gobel setiap faktor ditetapkan Peringkat Komposit
(2016) menyatakan bahwa “krisis finansial yang (composite rating). Peringkat Komposit (PK)
berujung pada krisis moneter senantiasa dipicu merupakan hasil akhir dari penilaian tingkat
oleh gagalnya perbankan mendapatkan kesehatan bank, dimana hasil tersebut diperoleh
kredibilitas di mata nasabah”. Konsep berdasarkan basis aturan standar yang telah
kepercayaan dari para nasabah kepada bank ditetapkan melalui Peraturan Bank Indonesia
sangat penting, karena nasabah sebagai pihak dan pengukuran rasio keuangan bank.
yang menyimpan dana ke bank membutuhkan Tabel 2. Bobot Penetapan Peringkat
rasa aman ketika menempatkan sejumlah uang Komposit
baik dalam bentuk tabungan maupun deposito Bobot % PK Keterangan
ke bank. Oleh karena itu, rasa aman yang 86 – 100 PK-1 Sangat Sehat
diyakini oleh nasabah adalah representasi dari 71 – 85 PK-2 Sehat
kinerja bank berdasarkan konsep RGEC (Gobel, 61 – 70 PK-3 Cukup Sehat
2016). 41 – 60 PK-4 Kurang Sehat
Kinerja bank devisa senantiasa harus <40 PK-5 Tidak Sehat
dijaga dan diawasi agar dapat tetap bersaing Sumber : Surat Edaran Bank Indonesia No.
dengan kompetitor bank lainnya dalam 13/24/DPNP/2011
memperoleh kepercayaan nasabah. Secara
umum, penilaian tingkat kesehatan Bank Umum
Swasta Nasional (BUSN) Devisa belum Metode Penelitian
mencapai kinerja yang optimal. Hal ini dapat Desain penelitian yang digunakan
diukur dari minimnya bank yang memiliki dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif.
predikat sangat sehat. Oleh karena itu, penilaian Metode deskriptif dalam penelitian ini
tingkat kesehatan RGEC digunakan sebagai digunakan untuk menganalisis tingkat
tolok ukur bank dalam mengevaluasi kinerja kesehatan bank swasta nasional devisa dengan
bank yang bersangkutan agar dapat cara menganalisis data-data laporan keuangan
meningkatkan kinerja bank secara lebih baik. yang kemudian ditabulasikan untuk
Model RGEC dapat digunakan sebagai menentukan kategori tingkat kesehatan bank
alat pengukuran tingkat kesehatan bank melalui tersebut. Analisis dalam penelitian ini
rasio-rasio keuangan yang terdapat dalam model digunakan untuk mendeskripsikan
RGEC. Model RGEC juga dapat menjadi bahan masing-masing indikator kesehatan bank
analisis deskriptif untuk mengevaluasi kinerja menggunakan model RGEC (Risk Profile, Good
bank umum swasta nasional devisa. Corporate Governance, Earning, Capital) serta
mengevaluasi kinerja bank umum swasta
Landasan Teori nasional devisa.
Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Populasi dalam penelitian ini adalah
Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia seluruh Bank Umum Swasta Nasional Devisa
No.13/1/PBI/2011 tentang Penilaian Tingkat yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama
Kesehatan Bank Umum pasal 2 (3) disebutkan tahun 2012-2015 berjumlah 20 bank. Teknik
bahwa bank wajib melakukan tingkat kesehatan sampel yang digunakan adalah purposive
dengan menggunakan pendekatan risiko sampling dengan kriteria tertentu sehingga
(Risk-Based Bank Rating) baik secara individual dapat diambil sampel sebanyak 5 bank yaitu
maupun secara konsolidasi. Hal ini diperkuat Bank Danamon Indonesia, Tbk., Bank Ekonomi
dengan penerbitan Surat Edaran Bank Indonesia Raharja, Tbk., Bank Mega, Tbk., Bank
No. 13/24/DPNP perihal Penilaian Tingkat Nusantara Parahyangan, Tbk., dan Pan
Kesehatan Bank Umum yang menyatakan Indonesia Bank, Tbk.
bahwa bank diwajibkan untuk menilai tingkat Penelitian akan dilakukan terhadap
kesehatan menggunakan metode pendekatan laporan keuangan lima sampel bank dengan
Risiko (Risk-Based Bank Rating) atau yang menggunakan enam rasio keuangan selama
dikenal juga dengan metode RGEC (Risk empat periode penelitian yaitu dari tahun

21 | Jurnal Pendidikan Akuntansi dan Keuangan


DOI.10.17509/jpak.v5i1.15402 | http://ejournal.upi.edu/index.php/JPAK
Lina Lathifah/ Analisis Kesehatan Bank Menggunakan Model Rgec (Risk Profile, Good Corporate
Governance, Earning, Capital) Pada Bank Umum Swasta Nasional Devisa

2012-2015 sehingga data observasi pada


penelitian ini berjumlah 120 data.

Teknik Pengumpulan Data Hasil dan Pembahasan


Dalam pengumpulan data, peneliti Hasil Penelitian
menggunakan metode dokumentasi. Arikunto Tingkat Kesehatan Bank Ditinjau dari
(2006 : 231) menyatakan bahwa “metode Aspek Risk Profile
dokumentasi adalah metode yang digunakan Risiko Kredit (NPL)
untuk memperoleh data mengenai hal-hal atau Pada penelitian ini untuk mengetahui risiko
variabel-variabel yang berupa catatan, transkrip, kredit dihitung menggunakan rasio NPL (Non
buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen Performing Loan). Dari hasil penelitian, dapat
rapat, ledger, agenda, dan sebagainya.” Dalam diketahui bahwa bank dengan nilai rata-rata
hal ini pengumpulan data diperoleh melalui NPL tertinggi dari tahun 2012 hingga tahun
website Bank Indonesia (www.bi.go.id), 2015 adalah Bank Mega dengan nilai rata-rata
laporan keuangan bank dan laporan pelaksanaan NPL sebesar 3,44%. Artinya, terdapat 3,44%
GCG secara self-assessment yang diperoleh dari kredit bermasalah dari keseluruhan kredit yang
situs resmi dari tiap bank umum swasta diberikan bank tersebut. Rasio NPL ini berada
nasional. di bawah standar maksimal yang ditetapkan
oleh Bank Indonesia sebesar 5%, namun
Teknik Analisis Data demikian kinerja bank yang bersangkutan
Teknik analisis data yang digunakan berada pada peringkat komposit 2 dan
adalah analisis laporan keuangan yang terdapat berpredikat sebagai bank yang sehat.
dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor Bank dengan nilai rata-rata NPL terendah
13/1/PBI/2011 tentang penilaian tingkat dari tahun 2012 hingga tahun 2015 adalah Bank
kesehatan bank umum. Data yang diperoleh Nusantara Parahyangan dengan nilai rata-rata
pada penelitian ini dianalisa secara deskriptif. NPL sebesar 1,63%. Artinya, terdapat 1,63%
Data yang berhasil dikumpulkan kemudian kredit bermasalah dari keseluruhan kredit yang
diolah dengan rumus yang sesuai pada definisi diberikan bank tersebut. Semakin kecil rasio
operasionalisasi variabel. Langkah-langkah NPL bank menunjukkan semakin kecil pula
yang digunakan untuk menilai tingkat kesehatan risiko kredit yang ditanggung bank, sehingga
bank untuk masing-masing faktor dan semakin baik pula kinerja bank tersebut. Rasio
komponennya adalah (1) Mengumpulkan NPL terendah sebesar 1,63% menunjukkan
data-data dari laporan keuangan perusahaan semakin baik kinerja bank dengan perolehan
yang berkaitan dengan variabel penelitian. (2) peringkat komposit 1 atau dengan predikat
Analisis Profil Risiko (Risk Profile) terdiri dari : sangat sehat, karena selain berada di bawah
Menghitung risiko kredit dengan rasio NPL standar maksimal yang ditetapkan Bank
(Non Performing Loan) dan Menghitung risiko Indonesia sebesar 5%, bank tersebut juga berada
likuiditas dengan rasio LDR (Loan to Deposit dalam kriteria sangat sehat.
Ratio) (3) Analisis Good Corporate
Governance (GCG) (4) Analisis Rentabilitas Risiko Likuditas (LDR)
(Earning) terdiri dari Rasio ROA (Return on Pada penelitian ini untuk mengetahui risiko
Asset) dan Rasio NIM (Net Interest Margin) (5) likuiditas dihitung menggunakan rasio LDR
Analisis Permodalan (Capital) terdiri dari Rasio (Loan to Deposit Ratio). Dari hasil penelitian,
CAR (Capital Adequacy Ratio) (6) Melakukan dapat diketahui bahwa bank dengan nilai
pemeringkatan masing-masing analisis NPL, rata-rata LDR tertinggi dari tahun 2012 hingga
LDR, GCG, ROA, NIM, dan CAR. (7) tahun 2015 adalah Bank Danamon dengan nilai
Menetapkan peringkat komposit dengan rata-rata LDR sebesar 93,71%. Artinya, setiap
membuat tabulasi penilaian tingkat kesehatan dana yang dihimpun oleh bank dari Dana Pihak
bank umum swasta nasional devisa tahun Ketiga (DPK) mendukung pinjaman sebesar
2012-2015 (8) Menarik kesimpulan terhadap 93,71%. Rasio LDR ini melebihi standar
tingkat kesehatan bank sesuai dengan standar maksimal yang ditetapkan oleh Bank Indonesia
perhitungan kesehatan bank yang telah sebesar 92%, sehingga kinerja bank yang
ditentukan oleh Bank Indonesia berdasarkan bersangkutan berada pada peringkat komposit 3
perhitungan analisis rasio keuangan bank. dan berpredikat sebagai bank yang cukup sehat.
22 | Jurnal Pendidikan Akuntansi dan Keuangan
DOI.10.17509/jpak.v5i1.15402 | http://ejournal.upi.edu/index.php/JPAK
JURNAL PENDIDIKAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Vol. 5, No. 1, [Januari-Juni], 2017 : 19-28

Bank dengan nilai rata-rata LDR terendah Bank dengan nilai rata-rata ROA terendah
dari tahun 2012 hingga tahun 2015 adalah Bank dari tahun 2012 hingga tahun 2015 adalah Bank
Mega dengan nilai rata-rata LDR sebesar Ekonomi Raharja dengan nilai rata-rata ROA
60,61%. Artinya, dana yang dihimpun bank dari sebesar 0,63%. Artinya, tingkat produktivitas
Dana Pihak Ketiga (DPK) mendukung pinjaman aset dari total aset bank yang digunakan hanya
sebesar 60,61%. Semakin kecil rasio LDR bank mampu menghasilkan laba sebesar 0,63%.
menunjukkan semakin tinggi kemampuan Semakin kecil rasio ROA bank menunjukkan
likuiditas yang dimiliki bank, sehingga semakin kinerja bank yang semakin rendah pula karena
baik pula kinerja bank tersebut. Rasio LDR kemampuan bank dalam menghasilkan laba
terendah sebesar 60,61% menunjukkan semakin semakin kecil. Oleh karena itu, angka ROA
baik kinerja bank dengan perolehan peringkat terendah sebesar 0,63% menunjukkan semakin
komposit 1 atau dengan predikat sangat sehat, rendah kinerja bank dengan perolehan peringkat
karena selain berada di bawah standar maksimal komposit 3 atau dengan predikat cukup sehat,
yang ditetapkan Bank Indonesia sebesar 92%, karena selain berada di bawah standar minimal
bank tersebut juga berada dalam kriteria sangat yang ditetapkan Bank Indonesia sebesar 1,5%,
sehat. bank tersebut juga berada dalam kriteria cukup
sehat.
Tingkat Kesehatan Bank Ditinjau dari
Aspek Good Corporate Governance NIM (Net Interest Margin)
Faktor Good Corporate Governance Berdasarkan hasil penelitian, dapat
diperoleh dari hasil self-assessment yang diketahui bahwa bank dengan nilai rata-rata
diterbitkan oleh bank yang bersangkutan selama NIM tertinggi dari tahun 2012 hingga tahun
periode 2012-2015. Dari hasil analisis, dapat 2015 adalah Bank Danamon dengan nilai
diketahui bahwa pada tahun 2012, Bank rata-rata NIM sebesar 8,73%. Artinya, terdapat
Danamon, Bank Ekonomi Raharja, Bank Mega, 8,73% pendapatan bunga bersih terhadap total
dan Bank Nusantara Parahyangan masuk ke aset produktif bank yang bersangkutan. Rasio
dalam kategori bank yang baik atau terpercaya, NIM ini melebihi kriteria tertinggi dalam
sedangkan Bank Panin Indonesia masuk ke penetapan peringkat rentabilitas melalui rasio
dalam kategori bank sangat baik atau sangat NIM (Net Interest Margin) sehingga kinerja
terpercaya. Adapun tahun 2013 dan 2014 bank yang bersangkutan berada pada peringkat
keseluruhan bank yang diteliti berada pada komposit 1 dan berpredikat sebagai bank yang
kategori baik atau terpercaya. Kemudian pada sangat sehat.
tahun 2015, Bank Danamon memperoleh Bank dengan nilai rata-rata NIM terendah
predikat sangat baik atau sangat terpercaya, dari tahun 2012 hingga tahun 2015 adalah Pan
sedangkan Bank Ekonomi Raharja, Bank Mega, Indonesia Bank dengan nilai rata-rata NIM
Bank Nusantara Parahyangan, dan Bank Panin sebesar 4,20%. Artinya, terdapat 4,20%
Indonesia memperoleh predikat baik atau pendapatan bunga bersih terhadap total aset
terpercaya. produktif yang bersangkutan. Meskipun nilai
rata-rata terendah bank yang bersangkutan
Tingkat Kesehatan Bank Ditinjau dari sebesar 4,20%, namun angka ini masih berada
Aspek Earning pada kriteria tertinggi dalam penetapan
ROA (Return on Asset) peringkat rentabilitas melalui rasio NIM (Net
Berdasarkan hasil penelitian, dapat Interest Margin) sehingga kinerja bank yang
diketahui bahwa bank dengan nilai rata-rata bersangkutan tetap berada pada peringkat
ROA tertinggi dari tahun 2012 hingga tahun komposit 1 atau dengan predikat sangat sehat.
2015 adalah Bank Danamon dengan nilai
rata-rata ROA sebesar 2,52%. Artinya, tingkat Tingkat Kesehatan Bank Ditinjau dari
produktivitas aset dari total aset bank yang Aspek Capital
digunakan mampu menghasilkan laba sebesar Rasio untuk menilai permodalan ini adalah
2,52%. Rasio ROA ini melebihi standar CAR (Capital Adequacy Ratio). Berdasarkan
minimal yang ditetapkan oleh Bank Indonesia hasil penelitian, dapat diketahui bahwa bank
sebesar 1,5%, sehingga kinerja bank yang dengan nilai rata-rata CAR tertinggi dari tahun
bersangkutan berada pada peringkat komposit 1 2012 hingga tahun 2015 adalah Bank Danamon
dan berpredikat sebagai bank yang sangat sehat. dengan nilai rata-rata CAR sebesar 18,57%.
23 | Jurnal Pendidikan Akuntansi dan Keuangan
DOI.10.17509/jpak.v5i1.15402 | http://ejournal.upi.edu/index.php/JPAK
Lina Lathifah/ Analisis Kesehatan Bank Menggunakan Model Rgec (Risk Profile, Good Corporate
Governance, Earning, Capital) Pada Bank Umum Swasta Nasional Devisa

Artinya, bank mampu memiliki modal sebesar dan menyebabkan bank berada pada predikat
18,57% untuk mengantisipasi kemungkinan cukup sehat.
risiko kredit. Semakin tinggi rasio CAR Dari analisis penilaian faktor GCG (Good
menunjukkan bahwa sumber daya finansial Corporate Governance) yang dilakukan secara
bank semakin besar pula yang dapat digunakan self-assessment oleh Bank Danamon selama
oleh bank untuk keperluan pengembangan tahun 2012-2015, maka dapat disimpulkan
usaha. Rasio rata-rata CAR tertinggi sebesar bahwa tata kelola manajemen bank sudah
18,57% melebihi standar minimal yang berada pada predikat baik dan mengalami
ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar 8%, peningkatan kinerja pada tahun 2015 dengan
sehingga kinerja bank yang bersangkutan mendapatkan peringkat komposit 1 (sangat
berada pada peringkat komposit 1 dan baik).
berpredikat sebagai bank yang sangat sehat. Dari analisis rasio ROA (Return on Asset)
Bank dengan nilai rata-rata CAR terendah Bank Danamon selama tahun 2012-2015, dapat
dari tahun 2012 hingga tahun 2015 adalah Bank disimpulkan bahwa Bank Danamon berhasil
Ekonomi Raharja dengan nilai rata-rata CAR mempertahankan kemampuan menghasilkan
sebesar 14,83%. Artinya, bank mampu memiliki laba atau keuntungan dengan sangat baik,
modal sebesar 14,83% untuk mengantisipasi sehingga selama kurun waktu empat tahun
kemungkinan risiko kredit. Namun demikian, berturut-turut berhasil memperoleh peringkat 1
walaupun nilai rata-rata CAR terendah sebesar (sangat sehat).
14,83%, bank tetap mampu memperoleh Analisis rasio NIM (Net Interest Margin)
peringkat komposit 1 atau dengan predikat Bank Danamon selama tahun 2012-2015, dapat
sangat sehat. disimpulkan bahwa Bank Danamon
memperoleh hasil yang sangat memuaskan
Pembahasan dengan memperoleh peringkat komposit 1
Penetapan Peringkat Komposit Penilaian (sangat sehat) selama empat periode
Tingkat Kesehatan Bank dengan Model berturut-turut.
RGEC pada PT Bank Danamon, Tbk Tahun Analisis rasio CAR (Capital Adequacy
2012-2015 Ratio) Bank Danamon selama tahun 2012-2015,
Dari analisis rasio NPL (Non Performing maka dapat disimpulkan bahwa Bank Danamon
Loan) selama tahun 2012-2015, dapat sudah mampu menyediakan modal untuk
disimpulkan bahwa Bank Danamon dapat kegiatan operasionalnya dengan sangat baik,
memperoleh predikat sangat sehat hanya pada dengan memperoleh predikat sangat sehat atau
tahun 2014, sedangkan pada tahun 2012, 2013, berada pada peringkat komposit 1 selama tahun
dan 2015 Bank Danamon hanya berada pada 2012-2015.
predikat sehat (peringkat komposit 2). Hal ini
dikarenakan jumlah kredit kurang lancar, Penetapan Peringkat Komposit Penilaian
diragukan dan macet di tahun 2012, 2013, dan Tingkat Kesehatan Bank dengan Model
2015 mengalami kenaikan sehingga jumlah RGEC pada PT Bank Ekonomi Raharja,
kredit bermasalah menjadi lebih besar dan Tbk Tahun 2012-2015
mengakibatkan nilai NPL berada dalam Analisis rasio NPL (Non Performing Loan)
peringkat komposit 2. selama tahun 2012-2015, dapat disimpulkan
Dari analisis rasio LDR (Loan to Deposit bahwa Bank Ekonomi Raharja dapat
Ratio) selama tahun 2012-2015, dapat memperoleh predikat yang memuaskan yaitu
disimpulkan bahwa Bank Danamon mengalami berada pada peringkat komposit 1 (sangat sehat)
peningkatan kinerja dengan persentase LDR selama tahun 2012 dan 2013, namun mengalami
yang semakin menurun tiap tahunnya. penurunan kinerja dengan memperoleh predikat
Meskipun demikian, perolehan predikat Bank sehat atau peringkat komposit 2 pada tahun
Danamon berada pada peringkat komposit 3 2014 dan 2015. Hal ini dikarenakan jumlah
(cukup sehat). Hal ini dikarenakan jumlah kredit kredit kurang lancar, diragukan dan macet
yang harus diberikan kepada masyarakat mengalami penambahan pada tahun 2014 dan
semakin besar setiap tahunnya jika 2015 sehingga jumlah kredit bermasalah
dibandingkan dengan dana yang diperoleh bank menjadi lebih besar jika dibandingkan dengan
melalui Dana Pihak Ketiga (DPK). Oleh karena total kredit yang diberikan kepada masyarakat.
itu, kemampuan likuiditas bank menjadi rendah
24 | Jurnal Pendidikan Akuntansi dan Keuangan
DOI.10.17509/jpak.v5i1.15402 | http://ejournal.upi.edu/index.php/JPAK
JURNAL PENDIDIKAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Vol. 5, No. 1, [Januari-Juni], 2017 : 19-28

Analisis rasio LDR (Loan to Deposit Ratio) dikarenakan bank memperoleh peringkat
selama tahun 2012-2015, dapat disimpulkan komposit 1 dengan predikat sangat sehat selama
bahwa Bank Ekonomi Raharja mengalami empat tahun berturut-turut.
penurunan kinerja setiap tahunnya, karena Penetapan Peringkat Komposit Penilaian
memperoleh predikat sehat pada tahun 2012 dan Tingkat Kesehatan Bank dengan Model
2013 dan mengalami penurunan karena RGEC pada PT Bank Mega, Tbk Tahun
memperoleh predikat cukup sehat pada tahun 2012-2015
2014 dan 2015. Hal ini dikarenakan jumlah dana Analisis rasio NPL (Non Performing Loan)
yang disalurkan melalui kredit kepada selama tahun 2012-2015, dapat disimpulkan
masyarakat mengalami kenaikan dibandingkan bahwa Bank Mega memperoleh predikat yang
modal yang dapat dikumpulkan bank melalui memuaskan yaitu berada pada peringkat
Dana Pihak Ketiga (DPK). komposit 2 (sehat).
Hasil penilaian terhadap faktor GCG (Good Analisis rasio LDR (Loan to Deposit Ratio)
Corporate Governance) yang dilakukan secara selama tahun 2012-2015, dapat disimpulkan
self-assessment oleh Bank Ekonomi Raharja bahwa Bank Mega dapat memperoleh predikat
selama tahun 2012-2015, dapat disimpulkan yang sangat memuaskan di tahun selama tahun
bahwa Bank Ekonomi Raharja sudah memiliki 2012-2015 dengan berada pada peringkat
sistem tata kelola manajemen dengan baik, komposit 1 (sangat sehat).
karena selama kurun waktu 2012-2015 Bank Hasil penilaian faktor GCG (Good
Ekonomi Raharja memperoleh peringkat Corporate Governance) yang dilakukan secara
komposit 2 atau dengan predikat baik. self-assessment oleh Bank Mega selama tahun
Hasil analisis rasio ROA (Return on Asset) 2012-2015, dapat disimpulkan bahwa tata
Bank Ekonomi Raharja selama tahun kelola manajemen bank sudah baik. Hal ini
2012-2015, dapat disimpulkan bahwa kinerja dibuktikan dengan perolehan peringkat
bank mengalami penurunan dari tahun ke tahun. komposit Bank Mega selama empat tahun
Hal ini dapat dibuktikan karena pada tahun 2012 berturut yaitu peringkat komposit 2 dengan
dan 2013, Bank Ekonomi berada pada peringkat predikat bank sudah baik dalam menjalankan
komposit 3 (cukup sehat), sedangkan pada tahun tata kelola manajemen bank.
2014 dan 2015 Bank Ekonomi Raharja justru Hasil analisis rasio ROA (Return on Asset)
memperoleh peringkat komposit 4 dengan Bank Mega selama tahun 2012-2015, dapat
predikat kurang sehat. Hal ini dikarenakan disimpulkan bahwa kinerja bank tidak stabil
jumlah laba sebelum pajak pada tahun 2014 dan dalam menghasilkan laba. Hal ini dikarenakan
2015 mengalami penurunan yang cukup besar pada tahun 2012 Bank Mega memperoleh
sedangkan jumlah total aset mengalami predikat sangat sehat dengan peringkat
kenaikan setiap tahunnya sehingga nilai ROA komposit 1, namun mengalami penurunan pada
menjadi semakin kecil. Rasio ROA ini menjadi tahun 2013 dan 2014 dengan perolehan
peringatan dini bagi bank agar dapat segera peringkat komposit 3 (cukup sehat). Hal ini
mengatasi kelemahan dalam faktor rentabilitas dikarenakan pada tahun 2013 dan 2014, jumlah
melalui penanganan yang cepat dan tepat agar laba sebelum pajak bank mengalami penurunan
tidak mengganggu keberlangsungan usaha yang cukup besar dari tahun sebelumnya,
bank. sedangkan total aset mengalami kenaikan setiap
Hasil analisis rasio NIM (Net Interest tahunnya, sehingga nilai rasio ROA menjadi
Margin) Bank Ekonomi Raharja selama tahun semakin kecil. Namun pada tahun 2015, Bank
2012-2015, dapat disimpulkan bahwa Mega mampu meningkatkan kinerjanya dengan
kemampuan bank dalam mendapatkan sangat baik dari tahun sebelumnya dengan
keuntungan melalui pendapatan bunga bersih kembali berhasil memperoleh predikat sangat
sudah sangat baik, dengan memperoleh sehat atau berada pada peringkat komposit 1.
peringkat komposit 1 (sangat sehat) selama Hasil analisis rasio NIM (Net Interest
empat tahun berturut-turut. Margin) Bank Mega selama tahun 2012-2015,
Hasil analisis rasio CAR (Capital dapat disimpulkan bahwa kemampuan bank
Adequacy Ratio) Bank Ekonomi Raharja selama dalam menghasilkan keuntungan melalui
tahun 2012-2015, dapat disimpulkan bahwa pendapatan bunga bersih sudah sangat baik. Hal
bank sudah mampu memenuhi kecukupan ini dilihat dari perolehan rasio NIM selama
modal bank dengan sangat baik. Hal ini
25 | Jurnal Pendidikan Akuntansi dan Keuangan
DOI.10.17509/jpak.v5i1.15402 | http://ejournal.upi.edu/index.php/JPAK
Lina Lathifah/ Analisis Kesehatan Bank Menggunakan Model Rgec (Risk Profile, Good Corporate
Governance, Earning, Capital) Pada Bank Umum Swasta Nasional Devisa

empat tahun berturut-turut yang berada pada Hasil analisis rasio ROA (Return on Asset)
peringkat komposit 1 (sangat sehat). Bank Nusantara Parahyangan selama tahun
Hasil analisis rasio CAR (Capital 2012-2015, dapat disimpulkan bahwa
Adequacy Ratio) Bank Mega tahun 2012-2015, kemampuan bank dalam menghasilkan
dapat disimpulkan bahwa bank sudah mampu keuntungan mengalami penurunan setiap
memenuhi kecukupan modal bank dengan tahunnya. Pada tahun 2012, bank mampu
sangat baik. Hal ini dikarenakan bank memperoleh predikat sangat sehat atau berada
memperoleh peringkat komposit 1 dengan pada peringkat komposit 1. Kemudian pada
predikat sangat sehat selama empat tahun tahun 2013 dan 2014, bank mengalami
berturut-turut. penurunan persentase ROA yang disebabkan
oleh perbedaan pertumbuhan laba sebelum
Penetapan Peringkat Komposit Penilaian pajak dan total aset yang besar sehingga
Tingkat Kesehatan Bank dengan Model kemampuan bank dalam menghasilkan
RGEC pada PT Bank Nusantara keuntungan pun semakin menurun pula.
Parahyangan, Tbk Tahun 2012-2015 Akibatnya, bank menjadi berpedikat sehat atau
Analisis rasio NPL (Non Performing Loan) berada pada peringkat komposit 2. Adapun pada
selama tahun 2012-2015, dapat disimpulkan tahun 2015, penurunan rasio ROA kembali
bahwa Bank Nusantara Parahyangan dapat terjadi karena jumlah laba sebelum pajak
memperoleh predikat yang sangat memuaskan menjadi semakin kecil dibandingkan tahun
pada tahun 2012-2014 yaitu berada pada sebelumnya sehingga bank berada pada
peringkat komposit 1 (sangat sehat), namun peringkat komposit 3 atau berpredikat cukup
mengalami penurunan kinerja di tahun 2015 sehat. Kondisi ini memberikan peringatan dini
dengan mendapat peringkat komposit 2 (sehat). kepada bank agar meningkatkan kinerjanya
Hal ini dikarenakan pada tahun 2015, jumlah dalam menghasilkan keuntungan yang lebih
kredit bermasalah mengalami peningkatan optimal, dan agar tidak mengganggu
dibandingkan tahun sebelumnya, khususnya kelangsungan usaha bank secara keseluruhan.
jumlah kredit macet yang mengalami kenaikan Analisis rasio NIM (Net Interest Margin)
yang besar dari tahun sebelumnya sebesar Rp Bank Nusantara Parahyangan selama tahun
49.390.630 (dalam ribuan rupiah) menjadi Rp 2012-2015, dapat disimpulkan bahwa Bank
189.884.659 (dalam ribuan rupiah). Oleh karena Nusantara Parahyangan mampu
itu, nilai rasio NPL di tahun 2015 mengalami mempertahankan rasio NIM pada peringkat
peningkatan pula dan berakibat pada turunnya komposit 1 (sangat sehat).
kondisi kesehatan bank pada peringkat Analisis rasio CAR (Capital Adequacy
komposit 2 atau berpredikat sehat. Ratio) Bank Nusantara Parahyangan selama
Analisis rasio LDR (Loan to Deposit Ratio) tahun 2012-2015, dapat disimpulkan bahwa
selama tahun 2012-2015, dapat disimpulkan bank sudah mampu memenuhi kecukupan
bahwa Bank Nusantara Parahyangan hanya modal bank dengan sangat baik. Hal ini
berada pada predikat cukup sehat atau pada dikarenakan bank memperoleh peringkat
peringkat komposit 3 selama empat tahun komposit 1 dengan predikat sangat sehat selama
berturut-turut. Hal ini dikarenakan total kredit empat tahun berturut-turut.
yang diberikan kepada masyarakat terus
meningkat dari tahun 2012 hingga tahun 2015 Penetapan Peringkat Komposit Penilaian
dibandingkan dengan jumlah modal yang Tingkat Kesehatan Bank dengan Model
dimiliki bank melalui Dana Pihak Ketiga RGEC pada PT Pan Indonesia Bank, Tbk
(DPK). Tahun 2012-2015
Hasil penilaian faktor GCG (Good Analisis rasio NPL (Non Performing Loan)
Corporate Governance) yang dilakukan secara selama tahun 2012-2015, dapat disimpulkan
self-assessment oleh Bank Nusantara bahwa Bank Panin dapat memperoleh predikat
Parahyangan selama tahun 2012-2015, dapat yang sangat memuaskan yaitu berada pada
disimpulkan bahwa bank sudah mampu peringkat komposit 1 (sangat sehat) di tahun
melaksanakan tata kelola manajemen dengan 2012, dan memperoleh peringkat komposit 2
baik, sehingga mampu mempertahankan (sehat) di tahun 2013, 2014, dan 2015. Hal ini
peringkat komposit 2 selama empat tahun dikarenakan jumlah kredit bermasalah bank
berturut-turut. mengalami peningkatan yang besar selama
26 | Jurnal Pendidikan Akuntansi dan Keuangan
DOI.10.17509/jpak.v5i1.15402 | http://ejournal.upi.edu/index.php/JPAK
JURNAL PENDIDIKAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN
Vol. 5, No. 1, [Januari-Juni], 2017 : 19-28

tahun 2013-2015 bila dibandingkan dengan total sangat baik. Hal ini dikarenakan bank
kredit yang diberikan kepada masyarakat memperoleh peringkat komposit 1 dengan
sehingga nilai rasio NPL menjadi lebih besar predikat sangat sehat selama empat tahun
setiap tahunnya dan menyebabkan kondisi berturut-turut.
kesehatan bank turun ke peringkat komposit 2 SIMPULAN
dengan predikat bank yang dikatakan sehat. Berdasarkan hasil penelitian dan
Analisis rasio LDR (Loan to Deposit Ratio) analisis data yang telah dilakukan maka dapat
selama tahun 2012-2015, dapat disimpulkan diambil simpulan mengenai penilaian tingkat
bahwa Bank Panin senantiasa mengalami kesehatan bank berdasarkan model RGEC (Risk
penurunan kinerja selama tahun 2012-2015, Profile, Good Corporate Governance, Earning,
karena hanya memperoleh predikat cukup sehat Capital) yang menunjukkan bahwa Bank
atau berada pada peringkat komposit 3. Hal ini Danamon pada umumnya memiliki kinerja
dikarenakan jumlah dana yang disalurkan keuangan yang baik dengan rata-rata perolehan
berupa kredit kepada masyarakat semakin besar tingkat kesehatan bank berada pada PK 1
setiap tahunnya dibandingkan dengan modal (Peringkat Komposit 1) dan berpredikat sebagai
yang dapat dikumpulkan bank melalui Dana bank yang sangat sehat. Berbeda dengan
Pihak Ketiga (DPK). perolehan Bank Ekonomi Raharja yang pada
Hasil penilaian faktor GCG (Good umumnya memiliki kinerja keuangan dengan
Corporate Governance) yang dilakukan secara rata-rata perolehan tingkat kesehatan bank
self-assessment oleh Bank Panin selama tahun berada pada PK 2 (Peringkat Komposit 2) dan
2012-2015, dapat disimpulkan bahwa bank berpredikat sebagai bank yang sehat. Adapun
memperoleh hasil yang sangat memuaskan pada Bank Mega pada umumnya memiliki kinerja
tahun 2012 dengan memperoleh peringkat keuangan yang baik dengan rata-rata perolehan
komposit 1 (sangat baik), dan memperoleh hasil tingkat kesehatan bank berada pada PK 1
yang memuaskan pada tahun 2013-2015 dengan (Peringkat Komposit 1) dan berpredikat sebagai
berhasil berada pada peringkat komposit 2 bank yang sangat sehat. Sejalan dengan hal
dengan predikat baik. tersebut, Bank Nusantara Parahyangan juga
Hasil analisis rasio ROA (Return on Asset) pada umumnya memiliki rata-rata perolehan
selama tahun 2012-2015, dapat disimpulkan tingkat kesehatan bank yang berada pada PK 1
bahwa Bank Panin memperoleh hasil yang (Peringkat Komposit 1) dan berpredikat sebagai
memuaskan selama tahun 2012-2014 yakni bank yang sangat sehat. Adapun Pan Indonesia
dengan memperoleh peringkat komposit 1 Bank pada umumnya memiliki kinerja
(sangat sehat). Namun pada tahun 2015, Bank keuangan yang baik dan rata-rata perolehan
Panin mengalami penurunan dalam tingkat kesehatan bank berada pada PK 1
menghasilkan laba sehingga terjadi penurunan (Peringkat Komposit 1) dan berpredikat sebagai
peringkat komposit menjadi peringkat komposit bank yang sangat sehat.
2 (sehat). Hal ini dikarenakan pada tahun 2015,
jumlah laba sebelum pajak bank mengalami SARAN
penurunan sedangkan total aset mengalami Berdasarkan simpulan di atas, maka saran
peningkatan sehingga nilai rasio ROA menjadi yang dapat diberikan terutama yang berkaitan
kecil dan mengakibatkan bank berada pada dengan kesehatan bank khususnya Bagi
peringkat komposit 2 dengan predikat bank Manajemen Bank (1) Berdasarkan faktor risk
yang dikatakan sehat. profile, sebaiknya bank yang masih
Hasil analisis rasio NIM (Net Interest memperoleh predikat cukup sehat dan kurang
Margin) selama tahun 2012-2015, dapat sehat dapat mengambil langkah-langkah
disimpulkan bahwa Bank Panin memperoleh pencegahan dan penyelesaian risiko yang terjadi
hasil yang sangat memuaskan selama empat dalam manajemen bank dengan cara
tahun berturut-turut dengan memperoleh meminimalisir jumlah kredit bermasalah dan
peringkat komposit 1 atau dengan predikat mampu menempatkan kredit kepada masyarakat
sangat sehat. secara proporsional dengan dana yang dimiliki
Hasil analisis rasio CAR (Capital dari Dana Pihak Ketiga (DPK). (2) Berdasarkan
Adequacy Ratio) selama tahun 2012-2015, faktor good corporate governance, sebaiknya
dapat disimpulkan bahwa bank sudah mampu bank dapat terus menjaga nama baik perusahaan
memenuhi kecukupan modal bank dengan melalui perwujudan tata kelola yang baik agar
27 | Jurnal Pendidikan Akuntansi dan Keuangan
DOI.10.17509/jpak.v5i1.15402 | http://ejournal.upi.edu/index.php/JPAK
Lina Lathifah/ Analisis Kesehatan Bank Menggunakan Model Rgec (Risk Profile, Good Corporate
Governance, Earning, Capital) Pada Bank Umum Swasta Nasional Devisa

dapat terus menjaga kepercayaan masyarakat _______. (2013). Surat Edaran Bank Indonesia
dalam menjaga keberlangsungan usahanya. (3) Nomor 15/15/DPNP/2013 tentang
Berdasarkan faktor earning, sebaiknya bank Pelaksanaan Good Corporate
yang memperoleh predikat cukup sehat dapat Governance bagi Bank Umum
mengambil langkah-langkah strategis untuk
meningkatkan kemampuan menghasilkan laba Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7
dengan cara memproduktifkan aset atau aktiva Tahun 1992 tentang Perbankan
yang dimiliki untuk memperoleh laba berupa
laba sebelum pajak dan atau pendapatan bunga Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10
bersih bank. (4) Berdasarkan faktor capital, Tahun 1998 tentang Perubahan Atas
sebaiknya bank dapat terus menjaga jumlah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992
Kewajiban Penyediaan Modal Minimum tentang Perbankan
(KPMM) agar sumber daya finansial bank dapat Gobel, F. (2016). Mengenal RGEC dan Tingkat
terjaga untuk keberlangsungan kegiatan Kesehatan Bank. [Online]. Tersedia :
operasional dan keperluan pengembangan usaha https://bursanom.com/rgec-kesehatan-b
bank. ank/ [22 Maret 2017]
Bagi penelitian selanjutnya disarankan Setiawan, A. (2008). Kesehatan Bank. [Online].
untuk memperluas cakupan penelitian tentang Tersedia :
penilaian kesehatan bank dengan menggunakan https://www.academia.edu/23701382/K
indikator rasio keuangan lainnya pada esehatan_bank?auto=download. [22
pengukuran tingkat kesehatan bank dengan Maret 2017]
metode yang terbaru sesuai dengan Surat
Edaran Bank Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian :


Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta:Rineka Cipta

_______. (2012). Manajemen Perbankan (Edisi


Revisi). Jakarta : Raja Grafindo Persada

_______. (2012). Bank dan Lembaga Keuangan


Lainnya. Jakarta : Rajawali Pers

Dages, B.G., Goldberg, L., and Kinney, D.


(2000). Foreign and Domestic Bank
Participation in Emerging Markets :
Lessons from Mexico and Argentina.
FRBNY Economic Policy Review. p.
17-36
Bank Indonesia. (2011). Peraturan Bank
Indonesia Nomor 13/1/PBI/2011
tentang Prosedur dan Mekanisme
Penilaian Tingkat Kesehatan Bank
Umum
_______. (2011). Surat Edaran Bank Indonesia
Nomor 13/24/DPNP/2011 pada tanggal
25 Oktober 2011 tentang Penilaian
Tingkat Kesehatan Bank Umum

28 | Jurnal Pendidikan Akuntansi dan Keuangan


DOI.10.17509/jpak.v5i1.15402 | http://ejournal.upi.edu/index.php/JPAK