Anda di halaman 1dari 5

SEKS PRANIKAH

Kajian Seks Pranikah


1. Pengertian Seks Pranikah
Seks pranikah secara umum dapat diartikan sebagai huungan seks yang dilakukan remaja
sebelum menikah. Perilaku seks pranikah merupakan perilaku seks yang dilakukan tanpa
melalui proses pernikahan yang resmi menurut hukum maupun menurut agama dan
kepercayaan masing-masing individu. Pada seorang remaja, perilaku seks pranikah
tersebut dapat dimotivasi oleh rasa sayang dan cinta dengan didominasi oleh perasaan
kedekatan dan gairah yang tinggi terhadap pasangannya, tanpa disertai komitmen yang
jelas (menurut Sternberg hal ini dinamakan romantic love); atau karena pengaruh
kelompok (konformitas), dimana remaja tersebut ingin menjadi bagian dari kelompoknya
dengan mengikuti norma-norma yang telah dianut oleh kelompoknya, dalam hal ini
kelompoknya telah melakukan perilaku seks pranikah.

2. Remaja dan Karakterisitik seksual remaja


Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun.
Monks, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Menurut Stanley
Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Berdasarkan
batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif
sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. Bahkan ada yang dikenal juga
dengan istilah remaja yang diperpanjang, dan remaja yang diperpendek.
Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan
jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley
Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa
badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang.
Menurut Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian
identitas diri. Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan
bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/ confussion,
moratorium, foreclosure, dan identity achieved (Santrock, 2003, Papalia, dkk, 2001,
Monks, dkk, 2000, Muss, 1988). Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk
mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja.
Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan
berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu:
1. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
2. Ketidakstabilan emosi.
3. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
4. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.
5. Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-
pertentang dengan orang tua.
6. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi
semuanya.
7. Senang bereksperimentasi.
8. Senang bereksplorasi.
9. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
10. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.
Berdasarkan tinjauan teori perkembangan, usia remaja adalah masa saat terjadinya
perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek kognitif,
emosi, sosial dan pencapaian (Fagan, 2006). Sebagian remaja mampu mengatasi transisi
ini dengan baik, namun beberapa remaja bisa jadi mengalami penurunan pada kondisi
psikis, fisiologis, dan sosial. Beberapa permasalahan remaja yang muncul biasanya
banyak berhubungan dengan karakteristik yang ada pada diri remaja.
Pendapat tersebut seiring dengan pendapat Hurlock (1991), seorang ahli psikologi
perkembangan, yang mengemukakan tanda-tanda kelamin sekunder yang penting pada
laki-laki dan perempuan. Menurut Hurlock, pada remaja putra : tumbuh rambut
kemaluan, kulit menjadi kasar, otot bertambah besar dan kuat, suara membesar dan
lain,lain. Sedangkan pada remaja putri : pinggul melebar, payudara mulai tumbuh,
tumbuh rambut kemaluan, mulai mengalami haid.
Seiring dengan pertumbuhan primer dan sekunder pada remaja ke arah kematangan yang
sempurna, muncul juga hasrat dan dorongan untuk menyalurkan keinginan seksualnya.
Hal tersebut merupakan suatu yang wajar karena secara alamiah dorongan seksual ini
memang harus terjadi untuk menyalurkan kasih sayang antara dua insan, sebagai fungsi
pengembangbiakan dan mempertahankan keturunan.
Santrock (2003) mengatakan bahwa cinta romatis menandai kehidupan percintaan para
remaja dan juga merupakan hal yang penting bagi para siswa. Cinta romantis meliputi
sekumpulan emosi yang saling bercampur seperti rasa takut, marah, hasrat seksual,
kesenangan dan rasa cemburu. Tidak semua emosi ini positif. Dalam suatu penelitian
yang dilakukan oleh Bercheid & Fei ditemukan bahwa cinta romantis merupakan salah
satu penyebab seseorang mengalami depresi dibandingkan dengan permasalahan dengan
teman.
Tipe cinta yang lain adalah cinta kasih sayang (affectionate love) atau yang sering disebut
cinta kebersamaan yaitu saat muncul keinginan individu untuk memiliki individu lain
secara dekat dan mendalam, dan memberikan kasih sayang untuk orang tersebut. Cinta
kasih sayang ini lebih menandai masa percintaan orang dewasa daripada percintaan
remaja.
Dengan telah matangnya organ-organ seksual pada remaja maka akan mengakibatkan
munculnya dorongan-dorongan seksual. Problem tentang seksual pada remaja adalah
berkisar masalah bagaimana mengendalikan dorongan seksual, konflik antara mana yang
boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan, adanya “ketidaknormalan” yang
dialaminya berkaitan dengan organ-organ reproduksinya, pelecehan seksual,
homoseksual, kehamilan dan aborsi, dan sebagainya (Santrock, 2003, Hurlock, 1991).

3. Faktor Pemicu Seks Pranikah


a. Factor eksternal
1) Factor dari luar, yaitu pergaulan bebas tanpa kendali orang tua yang menyebabkan
remaja merasa bebas untuk melakukan apa saja yang diinginkan
2) Faktor perkembangan teknologi media komunikasi yang semakin canggih yang
memperbesar kemungkinan remaja mengakses apa saja termasuk hal-hal yang negatif.
Remaja dewasa ini, dapat dengan mudah mengakses situs, gambar atau juga tayangan
porno lewat internet dalam hp masing-masing.
3) Kurangnya pengetahuan remaja tentang seksual. Banyak orang tua yang membatasi
pembicaraan mengenai seksualitas dengan berbagai alasan. Seksualitas dianggap masih
tabu untuk dibicarakan bagi kalangan orang tua kepada anaknya. Sehingga remaju
terpacu untuk mencari informasi di tempat lain, yang bisa jadi menjerumuskan mereka.
b. Faktor internal
Faktor internal yang mendorong remaja melakukan hubungan seks diluar nikah, menurut
sebuah penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Keluarga Kaiser (Kaiser Family
Foundation) adalah:
1) Pertama karena mispersepsi terhadap makna pacaran yang mengangggap bahwa
hubungan seks adalah bentuk penyaluran kasih sayang. Seringkali remaja mempunyai
pandangan yang salah bahwa masa pacaran merupakan masa dimana seseorang boleh
mencintai maupun dicintai oleh kekasihnya. Dalam hal ini bentuk ungkapan rasa cinta
dapat dinyatakan denagn berbagai cara, misalnya pemberian hadiah bunga, berpelukan,
berciuman, dan bahkan melakukan hubungan seksual. Dengan anggapan yang salah ini,
maka juga akan menyebabkan tindakan yang salah pula.
2) Kedua karena kehidupan iman yang rapuh. Kehidupan beragama yang baik dan benar
ditandai denga pengertian, pemahaman dan ketaatan dalam menjalankan ajaran-ajaran
agama denga baik tanpa dipengaruhi oleh situasi kondisi apapun. Dalam hatinya selalu
ingat terhadap Tuhan, sebab Tuhan selalu mengetahui setiap perbuatan manusia. Oleh
karena itu ia tidak akan melakukan hubungan seksual dengan pacarnya sebelum menikah
secara resmi.
3) Ketiga, masa remaja terjadi kematangan biologis.Seorang remaja sudah dapat
melakukan fungsi reproduksi sebagaimana layaknya orang dewasa sebab fungsi organ
seksualnya telah bekerja secara normal. Hal ini membawa konsekuensi bahwa seorang
remaja akan mudah terpengaruh oleh stimuli tang merangsang gairah seksualnya,
misalnya dengan meliohat filn porno, cerita cabul. Kematangan biologis yang tidak
disertai dengan kemampuan mengendalikan diri cenderung berakibat negative, yakni
terjadi hubungan seksual pranikah di masa pacaran. Sebaliknya kematangan biologis
yang disertai dengan kemampuan mengendalikan diri akan membawa kebahagiaan
remaja dimasa depannya sebab ia tidak akan melakukan hubungan seksual pranikah.

4. Dampak Seks Pranikah


a. Dampak Secara Fisik
Menurut pakar seksologi dr Boyke Dian Nugraha SpOG MARS, seks pranikah
berdampak negatif terhadap kesehatan, antara lain kanker mulut rahim, kehamilan yang
tidak dikehendaki, kemandulan, keguguran, cacat bawaan, serta penyebab penularan
virus HIV/AIDS. dr Boyke juga mengatakan bahwa akibat kehamilan yang tidak
dikehendaki maka terjadi praktik aborsi. Padahal aborsi berdampak kematian mendadak
pada ibu karena pendarahan hebat dan pembiusan gagal.
b. Dampak Secara Psikologis
Seks pranikah memberikan dampak hilangnya harga diri, perasaan dihantui dosa,
lemahnya ikatan kedua belah pihak yang menyebabkan kegagalan setelah menikah, serta
penghinaan terhadap masyarakat.

5. Cara Menghindari Seks Pranikah


a. Mengisi waktu dengan kegiatan yang positif, sesuai dengan bakat, minat, kemampuan.
Misalnya seperti berolahraga, kesenian, dan berorganisasi.
b. Taat beribadah. Memperkuat agama dalam diri sendiri merupakan cara yang ampuh
untuk menghindari seks pranikah. Setiap agama melarang adanya hubungan seks sebelum
menikah.
c. Hindari berduaan di tempat yang sepi.
d. Tidak mengajak dan berani menolak ajakan melakukan seks pranikah.
e. Tidak membuat atau membalas kata – kata jorok lewat media telekomunikasi ( sms).
Diposkan oleh zhoubie di 05:34
REMAJA DAN HUBUNGAN SEKSUAL PRANIKAH
25 November, 2007 pada 7:41 am · Disimpan dalam GayaHidup

Remaja kota kini semakin berani melakukan hubungan seksual pranikah. Nampaknya hal itu
berkaitan dengan hasil sebuah penelitian, 10 – 12% remaja di Jakarta pengetahuan seksnya
sangat kurang. Ini mengisyaratkan pendidikan seks bagi anak dan remaja secara intensif
terutama di rumah dan di sekolah, makin penting.