Anda di halaman 1dari 7

BUKU JAWABAN UJIAN (BJU)

UAS TAKE HOME EXAM (THE)


SEMESTER 2020/21.1 (2020.2)

Nama Mahasiswa : Binar Ariamukti

Nomor Induk Mahasiswa/NIM : 042405679

Tanggal Lahir : 29 Juni 1995

Kode/Nama Mata Kuliah : EKSI-4415/Teori Akuntansi

Kode/Nama Program Studi : S1-AKUNTANSI

Kode/Nama UPBJJ : 16/Pekanbaru

Hari/Tanggal UAS THE : Minggu/13 Desember 2020

Tanda Tangan Peserta Ujian

Petunjuk

1. Anda wajib mengisi secara lengkap dan benar identitas pada cover BJU pada halaman ini.
2. Anda wajib mengisi dan menandatangani surat pernyataan kejujuran akademik.
3. Jawaban bisa dikerjakan dengan diketik atau tulis tangan.
4. Jawaban diunggah disertai dengan cover BJU dan surat pernyataan kejujuran akademik.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS TERBUKA
Surat Pernyataan
Mahasiswa
Kejujuran Akademik

Yang bertanda tangan di


bawah ini:

Nama Mahasiswa : Binar Ariamukti

NIM : 042405679

Kode/Nama Mata Kuliah : EKSI-4415/Teori Akuntansi

Fakultas : Fakultas Ekonomi

Program Studi : S1 Akuntansi

UPBJJ-UT : Pekanbaru

1. Saya tidak menerima naskah UAS THE dari siapapun selain mengunduh dari aplikasi THE pada
laman https://the.ut.ac.id.
2. Saya tidak memberikan naskah UAS THE kepada siapapun.
3. Saya tidak menerima dan atau memberikan bantuan dalam bentuk apapun dalam pengerjaan soal
ujian UAS THE.
4. Saya tidak melakukan plagiasi atas pekerjaan orang lain (menyalin dan mengakuinya sebagai
pekerjaan saya).
5. Saya memahami bahwa segala tindakan kecurangan akan mendapatkan hukuman sesuai dengan
aturan akademik yang berlaku di Universitas Terbuka.
6. Saya bersedia menjunjung tinggi ketertiban, kedisiplinan, dan integritas akademik dengan
tidak melakukan kecurangan, joki, menyebarluaskan soal dan jawaban UAS THE melalui media
apapun, serta tindakan tidak terpuji lainnya yang bertentangan dengan peraturan akademik
Universitas Terbuka.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya. Apabila di kemudian hari terdapat
pelanggaran atas pernyataan di atas, saya bersedia bertanggung jawab dan menanggung sanksi akademik
yang ditetapkan oleh Universitas Terbuka.

Pelalawan, 13 Desember 2020

Yang Membuat Pernyataan

Binar Ariamukti
No. Soal
1. Sudah banyak tulisan yang mengemukakan dan membuktikan bahwa akuntansi sudah ada
sejak kurang lebih tahun 3000 SM. Berdasarkan hal tersebut maka buatlah kesimpulan
mengenai sejarah dari berkembangnya:
a) Double Entry Bookeeping (DEB)
b) Debet dan Kredit

Jawab :
a) Pada awalnya, Double Entry Bookeeping dibuat oleh seorang ahli matematika Itali bernama
Lucas Picolli pada tahun dalam bukunya berjudul Summade Geometriat Propotionatila. Namun,
setelah dilakukan penelitian lebih mendalam, ternyata banyak data yang membuktikan bahwa
akuntansi sudah dikenal jauh sebelum itu, Vernon Kam (1990) dalam Harahap (1997)
menyatakan bahwa : menurut sejarahnya, kita mengetahui bahwa system pembukuan double
entry muncul di Italia pada abad ke-13. Itulah catatan yang paling tua yang kita miliki
mengenai system akuntansi double entry sejak akhir abad ke-13 itu, namun adalah mungkin
double entry sudah ada sebelumnya”. Littleton (1961, Harahap, 1997:136) mengatakan : “it’s
especially noteworthy that all characteristic of double entry were well develop more than
one hundreds years before Pacioli’s book apperead”. Dan ini sejalan dengan pendapat yang
mengatakan bahwa sebelum Pacioli, Benedetto Cortrugli sudah menulis masalah double
entry pada tahun 1458 (36 tahun sebelum terbitnya buku Pacioli). Namun buku Benedetto
Cortrugli ini baru terbit pada tahun 1578 (89 tahun setelah terbitnya buku Pacioli). Triyuwono
(1996) menyatakan bahwa teknik tata buku berpasangan itu sebetulnya sudah dipraktekkan
di Venice, 200 tahun sebelum Pacioli menerbitkan bukunya. Lucas Pacioli hanyalah orang
pertama yang mengangkat dan memberikan penjelasan tentang teknik tata buku berpasangan.
Kesimpulannya, bahwa Double Entry Bookeeping sudah dilakukan sejak sekitar abad ke
11-12, namun pertama kali dibukukan caranya dengan lugas oleh Lucas Picolli pada abad ke 15.

b) Dalam akuntansi, istilah debit yang kita kenal saat ini adalah turunan dari 2 kata yang
artinya agak berbeda yaitu, debere dan debitum. Debere diturunkan menjadi debit yang kita
gunakan untuk menyebut sisi kiri persamaan (oleh karena itu debit dalam penjurnalan disingkat
DR – cek buku-buku akuntansi asing di bagian penjurnalan). Sedangkan debitum yang artinya
adalah utang, juga diturunkan menjadi debit (diindikasikan menjadi asal kata debt). Debere
memiliki lawan kata credere (disingkat CR – cek buku-buku akuntansi asing di bagian
penjurnalan). Sedangkan lawan kata dari debitum adalah creditum (verb) yang artinya
meminjamkan. Dari sejarahnya, debere artinya adalah mengutang sedangkan credere artinya
adalah mempercayai. Istilah ini digunakan oleh Luca Pascioli, seorang pendeta lutheran ahli
matematika dari Italia, teman sekaligus mentor dari Leonardo da Vinci, untuk menyebut ruas kiri
persamaan akuntansi dan ruas kanan persamaan akuntansi.

2. Seiring perkembangan globalisasi banyak negara yang melakukan adopsi International Financial
Reporting Standar (IFRS) dibandingkan dengan mengembangkan standar yang bersifat
domestik. Salah satu hal yang berpengaruh terhadap proses adopsi IFRS pada sebuah negara
adalah lingkungan budaya. Berdasarkan hal tersebut maka, berikanlah argumen logis yang
mampu memberikan keyakinan bahwa lingkungan budaya dari suatu negara memiliki pengaruh
terhadap proses adopsi IFRS!

Jawab :

Budaya, merupakan hal unik yang dimiliki tiap wilayah. Dalam penerapan berbagai macam
kebijakan budaya seringkali menjadi salah satu bahan pertimbangan. Sistem akuntansi
merupakan hal penting, karena kegiatan ekonomi berlangsung dalam hampir semua lapisan
masyarakat sehingga penerapan sistem akuntansi dan praktiknya dapat memengaruhi nilai-nilai
sosial yang berlaku dalam masyarakat, sehingga dalam proses pengadopsian IFRS perlu
melihat nilai budaya yang berlaku.
Era globalisasi saat ini menuntut adanya suatu sistem akuntansi internasional yang dapat
diberlakukan secara internasional di setiap negara, atau diperlukan adanya harmonisasi
terhadap standar akuntansi internasional, dengan tujuan agar dapat menghasilkan informasi
keuangan yang dapat diperbandingkan, mempermudah dalam melakukan analisis kompetitif
dan hubungan baik dengan pelanggan, supplier, investor, dan kreditor.
Namun proses harmonisasi ini memiliki hambatan antara lain nasionalisme dan budaya tiap-tiap
negara, perbedaan sistem pemerintahan pada tiap-tiap negara, perbedaan kepentingan antara
perusahaan multinasional dengan perusahaan nasional yang sangat mempengaruhi proses
harmonisasi antar negara, serta tingginya biaya untuk merubah prinsip akuntansi.

3. Salah satu teori yang dapat digunakan untuk memahami regulasi suatu pelaporan keuangan
adalah teori agensi. Berdasarkan hal tersebut, maka berikan suatu argumen yang logis
mengenai pentingnya penyusunan suatu regulasi pelaporan keuangan jika dilihat dari sudut
pandang teori agensi!

Jawab :

Teori keagenan menjelaskan tentang dua pelaku ekonomi yang saling bertentangan yaitu
prinsipal dan agen. Hubungan keagenan merupakan suatu kontrak dimana satu atau lebih orang
(prinsipal) memerintah orang lain (agen) untuk melakukan suatu jasa atas nama prinsipal serta
memberi wewenang kepada agen membuat keputusan yang terbaik bagi prinsipal (Ichsan,
2013). Jika prinsipal dan agen memiliki tujuan yang sama maka agen akan mendukung dan
melaksanakan semua yang diperintahkan oleh prinsipal.
Dalam hal penyusunan regulasi pelaporan keuangan, dalam teori keagenan penyusunan
hanya dilakukan oleh pihak-pihak yang sudah diberi jatah posisi sebagai agen, dalam hal
perusahaan maka adalah para pegawai, jika dilihat dari segi pemerintah maka agennya
merupakan para jajaran pemerintah dilingkungna eksekutif.
Pihak diluar itu tidak dapat melakukan intervensi kepada kebijakan dalam penyusunan
regulasi, karena ha katas penyusunan tersebut sudah didelegasikan sepenuhnya kepada para
agen.
4. Kasus Skandal Satyam
Pada Maret 2008, Satyam melaporkan kenaikan revenue sebesar 46,3 persen menjadi 2,1 milyar
dolar AS. Di Oktober 2008, Satyam mengatakan bahwa revenue-nya akan meningkat sebesar 19-
21 persen menjadi 2,55-2,59 milyar dolar pada bulan Maret 2009. Melihat semua reputasinya,
pantas saja jika Satyam dinobatkan menjadi raksasa IT terbesar keempat di India. Satyam didirikan
dan dipimpin oleh Ramalinga Raju, lulusan MBA Ohio University dan alumnus Harvard University.
Ramalinga Raju mendapatkan berbagai penghargaan di antaranya Ernst & Young Entrepreneur of
the Year for Services (tahun 1999), Dataquest IT Man of the Year

Corporate Citizen of the Year award (2002). Pada 2004, jumlah kekayaan Ramalinga Raju
mencapai 495 juta dolar.

Sungguh ironis, pada 7 Januari 2009, Ramalinga Raju tiba-tiba mengatakan bahwa sekitar 1,04
milyar dolar saldo kas & bank Satyam adalah palsu (jumlah itu setara dengan 94% nilai kas & bank
Satyam di akhir September 2008). Dalam suratnya yang dikirimkan ke jajaran direksi Satyam,
Ramalinga Raju juga mengakui bahwa dia memalsukan nilai pendapatan bunga diterima di muka
(accrued interest), mencatat kewajiban lebih rendah dari yang seharusnya(understated liability)
dan menggelembungkan nilai piutang (overstated debtors).

Pada awalnya, Satyam fraud dilakukan dengan menggelembungkan nilai keuntungan perusahaan.
Setelah dilakukan selama beberapa tahun, selisih antara keuntungan yang sebenarnya dan yang
dilaporkan dalam laporan keuangan semakin lama semakin besar. Begitu kompleksnya situasi
yang dihadapi Ramalinga Raju karena fraud yang dilakukannya, ia mengatakan dalam suratnya.
Pada 14 Januari 2009, auditor Satyam selama 8 tahun terakhir Price Waterhouse India
mengumumkan bahwa laporan auditnya berpotensi tidak akurat dan tidak reliable karena dilakukan
berdasarkan informasi yang diperoleh dari manajemen Satyam.

Benturan kepentingan antara auditor PWC dan Manajemen Satyam berbentuk hubungan istimewa
antara auditor dengan kliennya. Hubungan kemitraan tersebut terjadi dalam sebuah proyek jasa
IT di perusahaan klien Satyam yaitu Idearc. Satyam menjadi pelaksana system integration
business dan PWC menjadi konsultan jasanya. Pada saat yang bersamaan PWC sedang
mengaudit Satyam. Benturan kepentingan ini tidak hanya berhenti pada bentuk kemitraan saja.
Bagaikan bola salju, akibat hubungan busines terlarang dalam

profesi ini justru menimbulkan problem baru. Diketahui bahwa perbandingan fee audit dari

Satyam ke PWC relatif jauh lebih besar dibandingkan dengan usaha sejenis Satyam dalam
pembayaran kepada auditornya.

Menyusul skandal fraud dalam laporan keuangan Satyam, pada 10 Januari 2009 harga saham
Satyam jatuh menjadi 11,5 rupees, atau hanya senilai 2% dari harga saham tertingginya di tahun
2008 sebesar 544 rupees.Satyam adalah pemenang penghargaan the coveted Golden Peacock
Award for Corporate Governance under Risk Management and Compliance Issues di tahun
2008. Gelar itu kemudian dicabut sehubungan dengan skandal fraud yang dihadapinya. Adapun
Raju dan saudaranya, B. Rama Raju, yang juga terkait Satyam fraud, kemudian ditahan dengan
tuduhan melakukan konspirasi kriminal, penipuan, pemalsuan dokumen, dan menghadapi
ancaman hukuman 10 tahun penjara.

Berdasarkan kasus dari skandal Satyam yang telah dijelaskan secara singkat diatas maka:
a) Etika apa saja yang telah dilanggar oleh Satyam terkait pelaporan keuangan yang dilakukan?
Jelaskan!

b) Uraikan hubungan antara skandal Satyam diatas dengan lingkup akuntansi keprilakuan!

Jawab :

a) Berdasarkan pada kasus diatas, terjadi indikasi kecurangan oleh pihak Satyam bekerja
sama dengan pihak Auditor, dalam hal ini PWC. Kecurangan dilakukan dengan memanipulasi
kas, serta pendapatan perushaan kemudian menghasilkan laporan keungan yang terlihat wajar
namun tidak benar, bertentangan dengan kode etik profesi akuntan, yaitu diantaranya:

1. Integritas

Integritas merupakan nilai paling tinggi dalam etik. Integritas mewajibkan setiap akuntan
untuk jujur dalam proses bisnisnya. Dalam kasus ini, Satyam melakukan pembohongan dalam
saldo kas dan pendapatannya. Juga melakukan persekongkolan dengan pihak Auditor untuk
memperlancar hal tersebut dengan sengaja.

2. Objektivitas

Dalam melaksanakan pembuatan laporan keuangan, kita dituntut untuk bersikap objektif.
Yang berarti, kita harus adil, tidak memihak, dan bebas dari segala kepentingan pihak lain. Pada
kasus ini, Satyam membuat auditor yang seharusnya bersikap objektif malah membantu
melancarkan rencana jahat Satyam.

3. Profesional

Setiap akuntan harus mematuhi segala aturan dan ketentuan yang berlaku serta
menghindari perbuatan-perbuatan yang dapat mengurangi kepercayaan terhadap profesi
akuntan. Pada kasus ini, jelas Satyam dan PWC menghilangkan etika professional kedua
dengan melanggar aturan dan ketentuan yang berlaku.

4. Tanggung Jawab profesi

Seorang akuntan harus melaksanakan tugasnya dengan menggunakan pertimbangan


moral, dan tingkat kehati-hatian yang tinggi agar dapat mempertanggungjawabkan profesinya.
Pada kasus ini, baik pihak Satyam maupun PWC sama-sama bersikap tidak bertanggung jawab
dengan perilakunya yang seenaknya sendiri demi keuntungan pribadi.

b) Akuntansi keperilakukan adalah suatu studi tentang perilaku akuntan atau non-akuntan
yang dipengaruhi oleh fungsi-fungsi akuntansi dan pelaporan. Akuntansi keperilakuan
menekankan pada pertimbangan dan pengambilan keputusan akuntan dan auditor, pengaruh dari
fungsi akuntansi dan fungsi auditing terhadap perilaku, misalnya pertimbangan (judgment),
pengambilan keputusan auditor dan kualitas pertimbangan dan keputusan auditor, serta pengaruh
dari keluaran dari fungsi-fungsi akuntansi berupa laporan keuangan terhadap pertimbangan
pemakai dan pengambilan keputusan (Bamber, 1993).

Akuntansi bukanlah suatu hal yang statis, akuntansi akan selalu berkembang seiring dengan
perkembangan zaman yang ada. Dalam pelaksanaannya, diperlukan penegakan dalam berbagai
macam aspek, terutama dari segi etik. Jika etik, sebagai hal yang mendasari perilaku-perilaku
sudah mulai dilanggar, maka output yang dihasilkan pun tidak akan baik. Dalam kasus Satyam
dan PWC ini misalnya, PWC yang seharusnya bertindak sebagai auditor, meluruskan kesalahan
yang dilakukan Satyam, karena sudah mulai mengidahkan etik yang berlaku, malah membantu
Satyam melaksanakan kecurangnanya, PWC yang sepertinya terlihat membantu justru
sebenarnya menjerumuskan Satyam. Ini tidak akan terjadi jika pihak Satyam maupun PWC
berhasil mempertahankan etik dalam berperilaku.

Anda mungkin juga menyukai