Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS


DENGAN POST PARTUM
DI RUANG VK PUSKESMAS KUNIR
KABUPATEN LUMAJANG

HALADULolO ol
Oleh :

Yunfika Khariqul Addah


NIM.14201.10.18096

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES HAFSHAWATY PESANTREN ZAINUL HASAN
PROBOLINGGO
2019
1. Pengertian

Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan pada wanita hamil

sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena keadaan umumnya menjadi buruk,

karena terjadi dehidrasi. Mual biasanya terjadi pada pagi hari, tetapi dapat timbul

setiap saat dan bahkan malam hari. Gejala-gejala ini kurang lebih terjadi 6 minggu

setelah haripewrtama haid dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu.

Hiperemesis gravidarum (vomitus yang merusak dalam kehamilan) adalah

nausea dan vomitus dalam kehamila yang berkembang sedemikian luas sehingga

terjadi efek sistemik, dehidrasi dan penurunan berat badan.

Hiperemesis diartikan sebagai muntah yang terjadisecara berlebihan selama

kehamilan.

2. Anatomi fisiologi

a. Anatomi

1) Alat kelamin luar (genetalia eksterna)

a) Monsveneris

Bagian yang menonjol meliputi bagian simfisis yang terdiri dari jaringan lemak, daerah

ini ditutupi bulu pada masa pubertas.

b) Vulva

Adalah tempat bermuara sistem urogenital. Di sebelah luar vulva dilingkari oleh labio

mayora (bibir besar) yang ke belakang, menjadi satu dan membentuk kommisura

posterior dan perineam. Di bawah kulitnya terdapat jaringan lemak seperti yang ada di

mons veneris.
c) Labio mayora

Labio mayora (bibir besar) adalah dua lipatan besar yang membatasi vulva, terdiri atas

kulit, jaringan ikat, lemak dan kelenjar sebasca. Saat pubertas tumbuh rambut di mons

veneris dan pada sisi lateral.

d) Labio minora

Labio minora (bibir kecil) adalah dua lipatan kecil diantara labio mayora, dengan

banyak kelenjar sebasea. Celah diantara labio minora adalah vestibulum.

e) Vestibulum

Vestibulum merupakan rongga yang berada diantara bibir kecil (labio minora), maka

belakang dibatasi oleh klitoris dan perineum, dalam vestibulum terdapat muara-muara

dari liang senggama (introetus vagina uretra), kelenjar bartholimi dan kelenjar skene

kiri dan kanan.

f) Himen (selaput dara)

Lapisan tipis yang menutupi sebagian besar dan liang senggama ditengahnya

berlubang supaya kotoran menstruasi dapat mengalir keluar, letaknya mulut vagina

pada bagian ini, bentuknya berbeda-beda ada yang seperti bulan sabit, konsistensi

ada yang kaku dan yang lunak, lubangnya ada yang seujung jari, ada yang dapat

dilalui satu jari.

g) Perineum

Terbentuk dari korpus perineum, titik temu otot-otot dasar panggul yang ditutupi oleh

kulit perineum.

2) Alat kelamin dalam (genetalia interna)


a) Vagina

Tabung, yang dilapisi membran dari jenis jenis epitelium bergaris, khusus dialiri banyak

pembuluh darah dan serabut saraf. Panjangnya dari vestibulum sampai uterus 7½ cm.

Merupakan penghubung antara introitus vagina dan uterus. Dinding depan liang

senggama (vagina) 9 cm, lebih pendek dari dinding belakang. Pada puncak vagina

sebelah dalam berlipat-lipat disebut rugae.

b) Uterus

Organ yang tebal, berotot berbentuk buah Pir, terletak di dalam pelvis antara rectum di

belakang dan kandung kemih di depan, ototnya disebut miometrium. Uterus terapung

di dalam pelvis dengan jaringan ikat dan ligament. Panjang uterus 7½ cm, lebar  5

cm, tebal  2 cm. Berat 50 gr, dan berat 30-60 gr. Uterus terdiri dari :

(1) Fundus uteri (dasar rahim)

Bagian uterus yang terletak antara pangkal saluran telur. Pada pemeriksaan

kehamilan, perabaan fundus uteri dapat memperkirakan usia kehamilan.

(2) Korpus uteri

Bagian uterus yang terbesar pada kehamilan, bgian ini berfungsi sebagai tempat janin

berkembang. Rongga yang terdapat pada korpus uteri disebut kavum uteri atau rongga

rahim.

(3) Servix uteri

Ujung servix yang menuju puncak vagina disebut porsio, hubungan antara kavum uteri

dan kanalis servikalis disebut ostium uteri internum.

Lapisan-lapisan uterus, meliputi :


(1) Endometrium

(2) Myometrium

(3) Parametrium

c) Ovarium

Merupakan kelenjar berbentuk kenari, terletak kiri dan kanan uterus dibawah tuba

uterine dan terikat di sebelah belakang oleh ligamentum latum uterus.

d) Tuba Fallopi

Tuba fallopi dilapisi oleh epitel bersilia yang tersusun dalam banyak lipatan sehingga

memperlambat perjalanan ovum ke dalam uterus. Sebagian sel tuba mensekresikan

cairan serosa yang memberikan nutrisi pada ovum. Tuba fallopi disebut juga saluran

telur terdapat 2 saluran telur kiri dan kanan. Panjang kira-kira 12 cm tetapi tidak

berjalan lurus. Terus pada ujung-ujungnya terdapat fimbria, untuk memeluk ovum saat

ovulasi agar masuk ke dalam tuba (Tambayong, 2002).

3. Etiologi

Penyebab hiperemesis Gravidarum belum diketahui secara pasti, Frekuensi kejadian

adalah 3,5 per 1000 kehamilan. Faktor-faktor predisposisi yang yang dikemukakan :

a. Faktor organik, yaitu karena masuknya vili khriales dalam sirkulasi maternal dan

perubahan metabolik akibat kehamilan serta resustensi yang menurunkan dari pihak

ibuterhadap perubahan-perubahan ini serta adanya alergi, yaitu merupakan salah satu

respon dari jaringan ibu terhadap janin.

b. Faktor psikologik.
Faktor ini memegang peranan penting pada penyakit ini. Rumah tangga yang retak,

kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap

tanggungan sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat

mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keenggangan manjadi hamil

atau sebagai pelarian kesukaran hidup.

c. Faktor endikrin

Hopertiroid, diabetes, peningkatan kadar HCG dan lain-lain.

4. Patologi

Pada otopsi wanita meninggal karena hiperemesis Gravidarum diperoleh keterangan

bahwa terjadinya kelainan pada organ-organ tubuh adalah sebagai berikut :

a. Heper : pada tingkat ringan hanya ditemukan degenerasi lemak sentrilobuler

tanpa nekrosis.

b. Jantung : jantung atrofi, menjadi lebih kecil dari biasa. Kadang kala dijumpai

perdarahan sub-endokardial.

c. Otak : terdapat bercak-bercak perdarahan pada otak dan kelainan seperti pada

ensepalopati wirnicke.

d. Ginjal : ginjal tampak pucatdan degenerasi lem dapat ditemukan pada tubuli

kontorti.

5. Patofisiologi

Perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen yang biasa terjadi

pada trimester I. Bila terjadi terus-menerus dapat mengakibatkan dehidrasi dan

imbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik.


Hiperemesis gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan korbohidrat dan lemak

habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tak sempurnah,

terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseto-asetik, asam hidroksida bitirik, dan

aseton dalam darah. Muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstraseluler

dan plasma berkurang. Natrium dan klorida darah turun. Selain itu, dehidrasi

menyebabkan homokonsentrasi, sehingga aliran darah kejaringan berkurang. Hal ini

menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen kejaringan berkurang pula

tertimbunnya zat metabolik yang toksit. Disamping dehidrasi dan gangguan

keseimbangan elektrolit, dapat terjadi robekan pada selaput lendir esofagus dan

lambung (sindroma mollary-weiss), dengan akibat perdarahan gastrointestinal.


6. Tanda dan gejala

Batas mual dan muntah berapa banyak yang disebut hiperemesis gravidarum

tidak ada kesepakatan. Ada yang mengatakan, bila lebih dari 10 kali muntah. Akan

tetapi, apabila keadaan umum ibu terpengaruh dianggap sebagai hiperemesis

gravidarum.

Hiperemesis gravidarum menurut berat ringannya gejala dibagi menjaditiga tingkatan,

yaitu :

a. Tingkat I ( Ringan )

1) Mualmuntah terus-menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita.

2) Ibu merasa lemah.

3) Nafsu makan tidak ada.

4) Berat badan menurun.

5) Merasa nyeri pada epigastrium.

6) Nadi meningkat sekitar 100 per menit.

7) Tekanan darah menurun.

8) Turgor kulit berkurang.

9) Mata cekung.

b. Tingkat II ( Sedang )

1) Penderita tampak lemah dan apatis.

2) Turgor kulit mulai jelek.


3) Lidah mengering dan tampak kotor.

4) Nadi kecil dan cepat.

5) Suhubadan naik (dehidr asi).

6) Mata mulai ikteris

7) Berat badan turun dan mata cekung.

8) Tensi turun, hemokonsentrasi, oliguria, dan konstipasi.

9) Aseton tercium dari hawa pernafasan dan terjadi asetonuria.

c. Tingkat III ( Berat )

1) Keadaan umu lebih parah (kesadaran menurun dari somnolen sampai koma).

2) Dehidrasi berat.

3) Nadi kecil, cepat dan halus.

4) Suhu meningkat dan tensi turun.

5) Terjadi komplikasi fatal pada susunan saraf yang dikenal sebagai ensepalopati

wernicke, dengan gejala nigtasmus, diplopia, dan penurunan mental.

6) Timbul ikterus yang menunjukkan adanya payah hati.

7. Penanganan

a. Pencegahan
Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum diperlukan dengan jalan memberikan

penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologi. Hal

itu dapat dilakukan dengan cara :

1) Memberikan keyakinan bahwa mual dan muntah merupakan gejala yang fisiologik

pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan berumur 4 bulan.

2) Ibu dianjurkan untuk mengubah pola makan sehari-hari dengan makana dalam

jumlah kecil tapi sering.

3) Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk

makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat. Hindari makanan berminyak dan

berbau lemak.

4) Makan makanan dan minuman yang disajikan jangan terlalu panas ataupun terlalu

dingin.

5) Usahakan defekasi teratur.

b. Terapi obat-batan

Apabila dengan cara diatas keluhan dengan cara diatas keluhan dan gejala tidak

berkurang diperlukan pengaobatan :

1) Tidak memberikan obat yang teratogen.

2) Sedetiva yang sering diberikan adalah Phenobarbital.

3) Vitamin yang dianjurkan adalah vitamin B1 dan B6.

4) Anthistaminika seperti dramamin, avomin.

5) Pada keadaan berat, antiemetik seperti disiklomin hidrokloride atau khlorpromasin.

c. Hiperemesis gravidarum tingkatan II dan III harus dirawat inap dirumah sakit.

Adapun terapi dan perawatan yang diberikan adalah sebagai berikut :


1) Isolasi

Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang, tetapi cerah, dan peredaran darah

baik. Jangan terlalu banyak tamu, kalau perlu hanya perawat dan dokter saja yang

boleh masuk. Kadang-kadang isolasi dapat mengurangi atau menghilangkan gejala ini

tanpa pengobatan.

2) Terapi psikologik

Berikan pengertian bahwa kehamilan adalah suatu hal yang wajar, normal, dan

fisiologis, jadi tidak perlu takut dan khawatir.yakinkan penderita bahwa penyakit dapat

disembuhkan dan dihilangkan masalah atau konflik yang kiranya dapat menjadi latar

belakang penyakit ini.

3) Terapi paretal

Berikan cairan parental yang cukup elektrolit, karbohidrat, dan protein dengan

glukaosa 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter sehari. Bila perlu dapat

ditambahkan kalium dan vitamin, khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C dan

bila ada kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino secara intravena. Buat

dalam daftar kontrol cairan yang masuk dan dikeluarkan. Berikan pula obat-obatan

seperti yang disebutkan diatas.

4) Terminasi kehamilan

Pada beberapa kasus keadaan tidak menjadi baik, bahkan mundur. Usahakan

mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatrik bila keadaan memburuk. Delirium,

kebutaan, takhikardi, ikterus, anuria, dan perdarahan merupakan manifestasi

komplikasi organik. Dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri

kehamilan. Keputusan untuk melakukan abotus terapiutik sering sulit diambil, oleh
karena di satu pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat, tetapi dilain pihak tidak boleh

menunggu sampai terjadi gejala irreversibel pada organ vital.

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

Pengkajian merupakan dasar utama dari proses keperawatan, pengumpulan data yang

akurat dan sistematis akan membantu pemantauan status kesehatan dan pola

pertahanan pasien, mengidentifikasi kekuatan pasien serta merumuskan diagnosa

keperawatan (Mocthar, 2006)

a. Data dasar pengkajian

1) Aktifitas istirahat; tekanan darah sistol menurun, denyut nadi meningkat (>100

kali per menit)

2) Integritas ego; konflik interpersonal keluarga, kesulitan ekonomi, perubahan

persepsi tentang kondisinya, kehamilan tak direncanakan.

3) Eliminasi; perubahan pada konsistensi, defekasi, peningkatan frekuensi berkemih

Urinalis ;peningkatan konsistensi urine.

4) Makanan/cairan; mual dan muntah yang berlebihan (4-8 minggu), nyeri

epigastrium, pengurangan berat badan (5-10 kg), membrane mukosa mulut iritasi dan

merah, Hb dan Ht rendah, nafas berbau aseton, turgor kulit berkurang, mata cekung

dan lidah kering.

5) Pernafasan; frekuensi pernapasan meningkat.


6) Keamanan; suhu kadang naik, badan lemah, ikterus, dan dapat jatuh dalam

koma

7) Seksualitas; penghentian menstruasi, bila keadaan ibu membahayakan maka

dilakukan abortus terapeutik.

8) Interaksi sosial; perubahan status kesehatan/stressor kehamilan, perubahan

peran, respon anggota keluarga yang dapat bervariasi terhadap hospotalisasi dan

sakit, system pendukung yang kurang.

9) Pembelajaran dan penyuluhan; segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan,

apalagi kalau berlangsung lama, berat badan turun lebih dari 1/10 dari berat badab

normal, turgor kulit, lidah kering, adanya aseton dalam urine.

2. Diagnosa keperawatan

a. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nausea dan

vomitus yang menetap.

b. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan akibat vomitus dan

asupan cairan yang tidak adequat.

c. Ketakutan berhubungan dengan efek hiperemesis pada kesejahteraan janin.

d. Gangguan rasa nyaman : nyeri (perih) berhubungan dengan muntah yang

berlebihan, peningkatan asam lambung.

e. Kurang pengetahuan tentang penyakit dan pengobatan berhubungan dengan

keterbatasan informasi.

f. Resiko perubahan integritas kulit berhubungan dengan penurunan darah dan

nutrisi kejaringan-jaringan sekunder akibat dehidrasi


g. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakadekuatan sumber energi

sekunder.

3. Intervensi keperawatan

a. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nausea dan

vomitus yang menetap.

Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi

NOC

1) Klien akan mengkonsumsi asupan oral diet yang mengandung zat gizi yang

adequat.

2) Klien tidak mengalami nausea dan vomitus.

3) Klien akan menoleransi diit yang telah di programkan.

4) Klien akan mengalami peningkatan berat badan yang sesuai selama hamil.

NIC

1) Catat intake dan output

2) Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering

3) Anjurkan untuk menghindari makanan yang berlemak.

4) anjurkan untuk makan makanan selingan seperti biskuit, roti dan teh (panas) hangat

sebelum bagun tidur pada siang hari dan sebelum tidur.

5) Catal intake TPN, jika intake oral tidak dapat diberikan dalam periode tertentu.

6) Inspeksi adanya iritasi atau Iesi pada mulut.

7) Kaji kebersihan oral dan personal hygiene serta penggunaan cairan pembersih

mulut sesering mungkin.


8) Pantau kadar Hemoglobin dan Hemotokrit

b. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan akibat vomitus dan

asupan cairan yang tidak adequat.

Tujuan : kebutuhan cairan terpenuhi

NOC

1) Keseimbangan cairan dan elektrolit akan kembali ke kondisi normal, yang

terbukti dengan turgor kulit normal, membran mukosa lembab, berat badan stabil,

tanda-tanda vital dalam batas normal; elektrolit, serum, hemoglobin, hematokrit, dan

berat jenis urin akan berada dalam batas normal.

2) Klien tidak akan muntah lagi

3) Klien akan mengkonsumsi asupan dalam jumlag yang adequat.

NIC

1) Tentukan frekuensi atau beratnya mual/muntah.

2) Tinjau ulang riwayat kemungkinah masalah medis lain (misalnya Ulkus peptikum,

gastritis.

3) Kaji suhu badan dan turgor kulit, membran mukosa, TD, input/output dan berat jenis

urine. Timbang BB klien setiap hari.

4) Anjurkan peningkatan asupan minuman berkarbonat, makan sesering mungkin

dengan jumlah sedikit. Makanan tinggi karbonat seperti : roti kering sebelum bangun

dari tidur.

c. Ketakutan berhubungan dengan efek hiperemesis pada kesejahteraan janin.

Tujuan : ketakutan klien teratasi


NOC

klien memverbalisasi perasaan dan kekhawatirannya tentang kesejahteraan janin.

NIC

1) Memperlihatkan sikap menerima rasa takut klien.

2) Mendorong untuk mengungkapakan perasaan dan kekhawatirannya.

3) Memberi informasi yang berhubungan dengan risiko potensial yang dapat terjadi

pada janinnya.

d. Gangguan rasa nyaman : nyeri (perih) berhubungan dengan muntah yang

berlebihan, peningkatan asam lambung.

Tujuan : nyeri hilang/berkurang.

NOC

1) Klien mengungkapkan secara verbal.

2) Nyeri hilang atau berkurang

3) pasien dapat beristirahat dengan tenang.

NIC

1) kaji skala nyeri, karakteristik, kualitas, frekuensi dan lokasi nyeri.

2) Anjurkan penggunaan tekhnik relaksasi dan distraksi.

3) Yakinkan pada klien bahwa perawat mengetahui nyeri yang dirasakannya dan akan

berusaha membantu untuk mengurangi nyeri tersebut.

4) Berikan kembali skala pengkajian nyeri

5) Catat keparahan nyeri pasien dengan bagan.

6) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi.


7) Kurang pengetahuan tentang penyakit dan pengobatan berhubungan dengan

keterbatasan informasi.

Tujuan: klien mengerti tentang perubahan fisiologis dan pskologis yang normal dan

tanda-tanda bahaya kehamilan.

NOC

1) Klien menjelaskan perubahan fisiologis dan pskologis normal berkaitan dengan

kehamilan trimester pertama..

2) Klien menunjukkan perilaku perawatan diri sendiri yang meningkatkan kesehatan.

3) Mengidentifikasi tanda-tanda bahaya kehamilan.

NIC

1) Jelaskan tentang Hiperemesis Grvidarum dan kaji pengetahuan pasien.

2) Berikan pendidikan kesehatan tentang hiperemesis gravidarum.

3) Buat hubungan perawat-klien yang mendukung dan terus menerus.

4) Evaluasi pengetahuan dan keyakinan budaya saat ini berkenaan dengan perubahan

fisiologis/psikologis yang normal pada kehamilan, serta keyakinan tentang aktivitas,

perawatan diri dan sebagainya.

5) Klarifikasi kesalahpahaman.

6) Tentukan derajad motivasi untuk belajar.

7) Pertahankan sikap terbuka terhadap keyakinan klien/pasangan.

8) Jawab pertanyaan tentang perawatan dan pemberian makan bayi.

9) Identifikasi tanda bahaya kehamilan, seperti perdarahan, kram, nyeri abdomen akut,

sakit punggung, edema, gangguan penglihatan, sakit kepala dan tekanan pelvis.
f. Resiko perubahan integritas kulit berhubungan dengan penurunan darah dan

nutrisi kejaringan-jaringan sekunder akibat dehidrasi

Tujuan : Tidak terjadi ganguan integritas kulit.

NOC

mengidentifikasi dan menunjukkan perilaku untuk mempertahankan kulit halus, kenyal,

utuh.

NIC

1) Observasi kemerahan, pucat, ekskoriasi.

2) Dorong mandi tiap 2 hari 1x, pengganti mandi tiap hari.

3) Gunakan krim kulit dua kali sehari dan setelah mandi.

4) Diskusikan pentingnya perubahan posisi sering, perlu untuk mempertahankan

aktivitas.

5) Tekankan pentingnya masukan nutrisi/cairan adequat.

g. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakadekuatan sumber energi

sekunder.

Tujuan : Pasien dapat beraktivitas secara mandiri.

NOC

1) Pasien dapat memperlihatkan kemajuan khususnya tingkat yang lebih tinggi.

2) Pasien mengidentifikasi faktor-faktor yang menurunkan toleransi aktivitas.


NIC

1) Tingkatkan tirah baring/duduk. Berikan lingkungan yang tenang; batasi pengunjung

sesuai keperluan.

2) Ubah posisi dengan sering. Berikan perawatan kulit yang baik.

3) Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi, bantu melakukan latihan rentang gerak sendi

pasif/aktif.

4) Dorong penggunaan tekhnik manajemen stress. Contoh relaksasi progresif,

visualisasi, bimbingan imajinasi.

5) Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi: sedatif, agen antiansietas, contoh

diazepam (valium); lorazepam(ativan).

4. Implementasi

Implementasi merupakan tahap keempat dari proses keperawatan dimana rencana

keperawatan dilaksanakan :

a. Mengkaji tanda-tanda adanya dehidrasi

1) Kulit kering dan turgor buruk, selaput lendir kering, mata cekung.

2) Urine jadi lebih pekat dan ologuri

3) Lemah, hypotensi, vertigo dan syncope

b. Memonitor tanda-tanda vital

c. Memberikan cairan sesuai program

d. Memberikan nutrisi porsi kecil tapi sering

e. Menimbang BB secara periodik


f. Mengobservasi tanda-tanda komplikasi asidosis metabolik.

g. Menganjurkan klieen untuk perbanyak istirahat.

h. Menyediakan ruangan yang sejuk.

i. Mengintervensipsikologis

j. Memp[ertahankan kebersihan mulut

k. Memberikan terapi anti emetik sesuai program.

5. Evaluasi

Tahap evaluasi menentukan kemajuan pasien terhadap pencapaian hasil yang

diinginkandan respon pasien terhadap dan keefektifan intervensi keperawatan.

Kemudian mengganti rencana perawatan jika diperlukan. Evaluasi merupakan tahap

akhir dari proses keperawatan.


DAFTAR PUSTAKA

Andani, D. R. 2014. Faktor Resiko Hiperemesis Gravidarum pada Ibu Hamil


diPuskesmas Kapongan Kecamatan Kapongan Situbondo.

Hutahaean, S. 2013. Perawatan Antenatal. Jakarta: Salemba Medika.

Johnson, mario dkk (2015) Nursing Outcomes Classificasion (NOC) Jakarta: EGC

Johnson, mario dkk (2015) Nursing Intervension Classificasion (NIC) Jakarta: EGC

Nurarif, A., & Kusuma, H. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan


BerdasarkanDiagnosis Medis dan Nanda Nic - Noc. Yogyakarta: Mediaction.

Nurnaningsih. 2012. Gambaran Faktor-Faktor Kejadian Hiperemesis


GravidarumPada Ibu Hamil Trimester Pertama Di RSKDIA Siti Fatimah
Tahun2012. 17.

Oktavia, L. 2016. Kejadian Hiperemesis Gravidarum Ditinjau dari Kehamilan


danParitas. Jurnal Ilmu Kesehatan AisyahVolume 1 1 No 2 Juli-
Desember2016. 44.

Runiari, N. 2010. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan


HiperemesisGravidarum : Penerapan Konsep dan Teori Keperawatan. Jakarta
:Salemba Medika.