Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH PRESENTASI KASUS

BRONKOPNEUMONIA

Presentan:
Julian Chendrasari
0105000921

Narasumber:
dr. Fauzi Mahfuzh, Sp.A

Departemen Ilmu Kesehatan Anak


Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jakarta, September 2009

1
BAB I
Ilustrasi Kasus

Identitas:
Pasien
Nama : An.AA
Jenis kelamin : Perempuan
Usia : 1 tahun 2 bulan
Alamat : Pulo Gadung, Jakarta Timur
Masuk RS : 22 September 2009

Orang Tua
Keterangan Ayah Ibu
Nama B D
Usia 30 28
Pendidikan terakhir SMP SD
Pekerjaan supir ibu rumah tangga

Hubungan dengan orang tua : anak kandung


Agama : Islam
Suku : Jawa

Anamnesis
Diperoleh secara alloanamnesis terhadap ibu pasien pada hari Senin, 28
September 2009 (hari ke-7 MRS).

Keluhan Utama
Batuk sejak 2 minggu SMRS.

2
Riwayat Penyakit Sekarang
Sejak 2 minggu SMRS, pasien batuk berdahak yang sulit dikeluarkan dan
berbunyi ”grok-grok”. Batuk terus-menerus sepanjang hari tetapi tidak sampai
mengganggu tidur malam. Batuk tidak menyebabkan muntah.
Sejak 1 hari SMRS, pasien mengalami demam. Suhu demam saat itu 380C.
Demam naik turun, dengan suhu bervariasi 370C-380C. Demam turun bila diberi obat
turun panas, tetapi kemudian naik lagi. Selain itu, pasien juga terlihat sesak dengan napas
cepat tetapi tidak sampai biru. Sesak tidak dipengaruhi oleh posisi. Keluhan menggigil,
kejang, pilek, muntah, diare disangkal. Sejak sakit pasien menjadi rewel dan susah
makan, minum biasa, dan buang air kecil biasa.
Pasien sudah berobat dua kali ke dokter umum di rumah sakit dan diberi obat
panas, batuk, dan antibiotik tetapi tidak ada perbaikan. Kemudian pasien dibawa ke RSP.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat sakit serupa sebelumnya disangkal, riwayat alergi (-)

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ditemukan riwayat penyakit serupa dalam keluarga, riwayat alergi (-), asma
(-), kontak TB (-)

Riwayat Sosial
Pasien tinggal di lingkungan yang padat. Tempat tinggal pasien tidak memiliki
ventilasi dan sinar matahari tidak bisa masuk ke dalam rumah.

Riwayat kehamilan
Antenatal care teratur sebulan sekali ke bidan, minum obat/jamu disangkal,
selama hamil ibu tidak pernah sakit

3
Riwayat kelahiran
Pasien dilahirkan di rumah sakit dan ditolong oleh bidan. Lahir spontan, langsung
menangis, dan cukup bulan. Riwayat biru, kuning, dan pucat disangkal. Berat lahir 3000
gram dan panjang lahir 47 cm. Pasien anak kedua dari dua bersaudara.

Riwayat Tumbuh Kembang


Tengkurap usia 3 bulan, duduk usia 7 bulan. Saat ini, pasien sudah bisa berdiri
dan mengucapkan beberapa kata bermakna.

Riwayat Nutrisi
ASI ekslusif hingga 6 bulan. Selanjutnya diberi tambahan bubur susu dan biskuit
bayi. Saat usia 10 bulan mulai diberi bubur nasi. Pada usia 1 tahun diberi sayur dan buah
yang dihaluskan. Pasien memiliki riwayat sulit makan dan minum ASI sedikit. Biasanya
pasien minum ASI tidak sampai 5 menit dan makan bubur nasi hanya 1-3 sendok, tetapi
pasien mau makan bubur susu 1 mangkuk 3 kali/hari.

Riwayat imunisasi
Lengkap

Pemeriksaan Fisik
Selasa, 28 September 2009, pk. 15.00 (hari ketujuh perawatan)
Keadaan umum : tampak sakit sedang, demam (-), batuk (+) berkurang, sesak (-),
Kesadaran : kompos mentis
Tanda Vital:
Nadi : 124x/mnt, reguler, isi cukup
Pernapasan : 30x/mnt, reguler, kedalaman cukup
Suhu tubuh : 36,80C aksila

Status Antropometri
Berat badan : 6 kg
Tinggi badan : 65 cm

4
Lingkar kepala : 46,5 cm
BB/U = 6/10 x 100% = 60 %
TB/U = 65/76 x 100% = 85,5 %
BB/TB = 6/7,2 x 100% = 83,3 %
Kesan : gizi kurang

Status Generalis
Kepala : deformitas (-), rambut hitam, tidak mudah dicabut, ubun-ubun besar
sudah menutup
Mata : konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-, edema palpebra -/-
pupil bulat isokor ∅ 3mm, RCL dan RCTL +/+
Telinga : serumen (+), sekret (-)
Hidung : nafas cuping hidung (-)
Mulut : mukosa basah
Tenggorokan : tonsil T1-T1, faring hiperemis (-)
Leher : Pembesaran KGB (-)
Dada : simetris statis dinamis, retraksi epigastrium (-), retraksi interkostal (-)
Paru : vesikuler +/+, ronki +/+ basah kasar pada seluruh lapang paru, wheezing -/-
Jantung : bunyi jantung I-II (N), murmur (-), gallop (-)
Abdomen : datar, lemas, hati/limpa tidak teraba, bising usus (+) normal, turgor
cukup
Alat Kelamin : perempuan, genitalia eksterna dalam batas normal
Ekstremitas : edema (-), akral hangat, CRT < 2 detik

Pemeriksaan Fisik pada waktu pasien masuk RS (22 September 2009)


Keadaan umum : tampak sakit sedang , demam (+), batuk (+), sesak (+), sianosis (-)
kejang (-)
Kesadaran : kompos mentis
Tanda Vital:
Nadi : 120x/mnt, reguler, isi cukup
Pernapasan : 52x/mnt, reguler, kedalaman cukup

5
Suhu tubuh : 38,50C aksila
Kepala : deformitas (-), ubun-ubun besar sudah menutup
Mata : konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-,
THT : nafas cuping hidung (+)
Mulut : mukosa basah
Leher : KGB tidak teraba
Dada : simetris statis dinamis, retraksi epigastrium (+), retraksi interkostal (+)
Paru : vesikuler +/+, rhonki +/+, wheezing -/-
Jantung : bunyi jantung I-II (N), murmur (-), gallop (-)
Abdomen : datar, lemas, hati/limpa tidak teraba, bising usus (+) normal
Alat Kelamin : pemeriksaan tidak dilakukan
Ekstremitas : edema (-), akral hangat, CRT < 2 detik

Pemeriksaan Penunjang
DPL
25/09/09 22/09/09
Leukosit 24.940 ↑ 18.400 ↑
Neutrofil 53,1 67,8
Limfosit 35,4 15,3 ↓
Monosit 11,3 ↑ 13,8 ↑
Eosinofil 0 0,2
Basofil 0,2 3,0
Eritrosit 3,63.106 3,94.106
Hemoglobin 9,3 ↓ 9,6 ↓
Hematokrit 29 30
MCV 78,8 76,4
MCH 25,6 24,3
MCHC 32,5 31,8
RDW CV 15 12,8
Trombosit 394.000 477.000
LED 20 -

AGD 22/09/09
pH 7,40
pCO2 35,2
pO2 43,2 ↓

6
HCO3 21,7
tCO2 22,7
BE -2,3
std HCO3 22,1
Sat O2 79,8 ↓
Kesan: hipoksia

Elektrolit 22/09/09
Na 130,4 ↓
K 4,03
Cl 95

Uji tuberkulin 26/09/09 (-)

Rontgen 22/09/09
Tampak infiltrat dikedua perihiler paru, corakan bronkovaskular tampak suram.
Cor, sinur, dan diafragma baik. Kesan: bronkopneumonia

Resume
Anak AA, 1 tahun 2 bulan, datang dengan keluhan batuk sejak 2 minggu SMRS.
Sejak 2 minggu SMRS, pasien batuk berdahak yang sulit dikeluarkan dan berbunyi
”grok-grok”. Batuk terus-menerus sepanjang hari tetapi tidak sampai mengganggu tidur
malam.
Sejak 1 hari SMRS, pasien mengalami demam. Suhu demam saat itu 380C.
Demam naik turun, dengan suhu bervariasi 370C-380C. Demam turun bila diberi obat
turun panas, tetapi kemudian naik lagi. Selain itu, pasien juga terlihat sesak dengan napas
cepat tetapi tidak sampai biru. Sejak sakit pasien menjadi rewel dan susah makan.
Pasien sudah berobat dua kali ke dokter umum di rumah sakit dan diberi obat
panas, batuk, dan antibiotik tetapi tidak ada perbaikan. Kemudian pasien dibawa ke RSP.
Riwayat kontak TB dalam keluarga (-), tidak ditemukan penyakit yang sama pada
keluarga, riwayat alergi pada keluarga (-), asma (-).

7
Riwayat kehamilan dan kelahiran kesan tidak ada kelainan. Riwayat pertumbuhan
didapatkan kesan terhambat, sedangkan perkembangan didapatkan kesan normal.
Riwayat makanan kesan kuantitas kurang. Pasien mendapat imunisasi lengkap.
Dari pemeriksaan fisik sewaktu datang ke RS pasien tampak sakit sedang,
kompos mentis, demam (+), batuk (+), sesak (+). Tanda vital didapatkan nadi 120x/mnt,
reguler, isi cukup; pernapasan 52x/mnt, reguler, kedalaman cukup; suhu tubuh 38,50C
aksila. Keadaan gizi secara klinis dan antropometri terkesan gizi kurang. Pemeriksaan
THT terdapat napas cuping hidung. Pada dada terdapat retraksi epigastrium dan
interkostal. Pada paru didapatkan suara napas vesikuler, ronki +/+. Pemeriksaan fisik
lainnya tidak ditemukan adanya kelainan.
Dari pemeriksaan darah tepi ditemukan anemia, leukositosis. Analisis gas darah
menunjukkan keadaan hipoksia. Pemeriksaan foto toraks AP ditemukan infiltrat dikedua
perihiler paru, corakan bronkovaskular tampak suram. Cor, sinur, dan diafragma baik.
Kesan: bronkopneumonia

Daftar Masalah
1. Bronkopneumonia
2. Gizi kurang
3. Anemia suspek defisiensi besi

Tatalaksana
KaEN 1 B 25 tpm mikro
Cefotaxim 2 x 300 mg
Ambroxol sirup 2 x Cth ½
Paracetamol 60 mg bila suhu >38,50C
Diet : 720 kkal / hari

Prognosis
Quo ad vitam : bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam
Quo ad sanactionam : dubia ad malam

8
BAB II
Pembahasan Umum

Sesak Napas
Sesak adalah perasaan subjektif dari napas cepat atau kesulitan bernapas.
Sedangkan takipnea adalah tanda objektif dari frekuensi napas cepat dan tidak

9
berhubungan dengan perasaan napas yang tidak adekuat. Sesak merupakan gejala,
sedangkan takipnea adalah tanda. Akan tetapi, mekanisme penyebabnya adalah sama,
yaitu: jumlah O2 tidak mencukupi kebutuhan atau ketidakmampuan mengekskresi CO2.
Penyebab sesak adalah sebagai berikut:
1. Masalah jalan napas atas
a. Croup
b. Aspirasi benda asing
c. Edema/spasme laring, epiglotitis
d. abses retrofaringeal
e. atresia koana
2. Masalah jalan napas bawah
a. Trakeitis, bronkiolitis
b. Pneumonia
c. Asma
d. Respiratory distress syndrome pada neonatus
e. fistula trakeo-esofageal
3. Masalah jantung
a. gagal jantung kongestif (left-to-right shunt, left ventricular failure)
b. tamponade jantung
c. emboli paru
4. Masalah pleura
a. efusi pleura, empiema
b. pneumotoraks
5. Masalah neurologik (opiat, tekanan intrakranial meningkat, neuromiopatik)
6. Masalah lainnya (hernia diafragmatik, asites masif, skoliosis berat)
Untuk penilaian yang tepat, pertimbangkan frekuensi napas berdasarkan usia anak
dan amati kualitas pernapasannya.
• Neonatus 35-50 x/menit
• Bayi 30-40 x/menit
• Anak usia sekolah 20-30 x/menit
• Preadolesens 12-20 x/menit

10
Pneumonia
Pneumonia adalah peradangan pada parenkima paru. Meskipun sebagian besar
kasus pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme, pneumonia juga dapat disebabkan
oleh penyebab noninfeksi termasuk aspirasi makanan atau atau asam lambung, benda
asing, hidrokarbon, dan substansi lipoid, reaksi hipersensitivitas, dan pneumonitis yang
diinduksi obat atau radiasi.

Bronkopneunonia
Disebut juga pneumonia lobularis atau multifokal, bronkopneumonia secara
radiografi ditandai oleh gambaran bercak, dengan penebalan peribronkial, dan air-space
opacities yang kurang. Ketika penyakit menjadi berat, konsolidasi melibatkan bronkiolus
respiratori dan terminal, serta alveoli menghasilkan opasitas noduler sentrilobuler.
Konsolidasi ini dapat berkembang dan memberikan pola lobularis. Patogen yang
menyebabkan pola ini biasanya destruktif sehingga sering terjadi abses, pneumatokel, dan
gangren pulmoner. Secara patologik, bronkopneumonia berasal dari inflamasi bronkus
dengan keterlibatan lobularis (bercak).

Epidemiologi
Pneumonia adalah penyebab utama dari morbiditas dan mortalitas pada anak-anak
(khususnya anak < 5 tahun) di seluruh dunia. Dengan perkiraan 146-159 juta kasus baru
per tahun di negara berkembang, pneumonia diperkirakan menyebabkan 4 juta kematian
pada anak-anak.
Etiologi
Penyebab pneumonia sering sulit ditentukan karena kultur dari jaringan paru
sangat invasif dan jarang dilakukan. Kultur yang diperoleh dari spesimen traktus
respiratorius atas atau sputum biasanya tidak akurat menggambarkan infeksi traktus
respiratorius bawah. Streptococcus pneumoniae adalah bakteri penyebab pneumonia
tersering, diikuti oleh Chlamydia pneumoniae dan Mycoplasma pneumoniae.

11
Tabel 1. Penyebab Infeksi Pneumonia pada anak sesuai dengan kelompok usia di negara
maju
Usia Etiologi yang sering Etiologi yang jarang
Bakteri: bakteri anaerob,
Streptococcus group D,
Bakteri: E.coli, Streptococcus,
Haemophillus influenzae,
Lahir-20 group B, Listeria monocytogenes
Streptococcus pneumoniae,
hari
Ureaplasma urealyticum
Virus: virus sitomegalo, virus herpes
simpleks
Bakteri: Bordetella pertussis,
Haemophillus influenzae tipe B,
Bakteri: Chlamydia trachomatis,
Moraxella catharalis,
Streptococcus pneumoniae
3 minggu-3 Staphylococcus aureus, Ureaplasma
bulan urealyticum
Virus: virus adeno, virus
influenza, virus parainfluenza Virus: virus sitomegalo
1,2,3, Respiratory Syncytial Virus
Bakteri: Haemophillus influenzae
Bakteri: Chlamydia pneumoniae,
tipe B, Moraxella catharalis,
Mycoplasma pneumoniae,
Neisseria meningitidis,
Streptococcus pneumoniae
4 bulan-5 Staphylococcus aureus
tahun Virus: virus adeno, virus
influenza, virus parainfluenza,
Virus: virus varisela-zoster
virus rino, Respiratory Syncytial
Virus
Bakteri: Chlamydia pneumoniae, Bakteri: Haemophillus influenzae,
Mycoplasma pneumoniae, Legionella sp, Staphylococcus
Streptococcus pneumoniae aureus
5 tahun- Virus: virus adeno, virus Epstein-
remaja Barr, virus influenza, virus
parainfluenza, virus rino,
Respiratory Syncytial Virus, virus
varisela-zoster

12
Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan Staphylococcus aureus
adalah penyebab tersering dari dirawat (hospitalisasi) dan kematian akibat pneumonia
pada anak-anak di negara berkembang, meskipun pada anak dengan infeksi HIV, virus
dapat menjadi penyebab yang serius dari infeksi saluran napas bawah pada bayi dan anak
< 5 tahun. Virus penyebab tersering adalah respiratory syncytial virus (RSV), khususnya
pada anak < 3 tahun. Virus lainnya adalah virus parainfluenza, adenovirus, rhinovirus,
dan metapneumovirus.

Patologi dan Patogenesis


Pada keadaan normal, saluran napas bawah dijaga tetap steril oleh mekanisme
pertahanan bersihan mukosiliar, sekresi imunoglobulin A, dan batuk. Mekanisme
pertahanan imunologik yang membatasi invasi mikroorganisme patogen adalah makrofag
yang terdapat di alveolus dan bronkiolus, IgA sekretori, dan imunoglobulin lain.
Umumnya mikroorganisme penyebab terhisap ke paru bagian perifer melalui
saluran respiratori. Mula-mula terjadi edema akibat reaksi jaringan yang mempermudah
proliferasi dan penyebaran kuman ke jaringan sekitarnya. Bagian paru yang terkena
mengalami konsolidasi, yaitu terjadi serbukan sel PMN, fibrin, eritrosit, cairan edema,
dan ditemukannya kuman di alveoli. Stadium ini disebut stadium hepatisasi merah.
Selanjutnya, deposisi fibrin semakin bertambah, terdapat fibrin dan leukosit PMN di
alveoli dan terjadi proses fagositosis yang cepat. Stadium ini disebut stadium hepatisasi
kelabu. Selanjutnya, jumlah makrofag meningkat di alveoli, sel akan mengalami
degenerasi, fibrin menipis, kuman dan debris menghilang. Stadium ini disebut stadium
resolusi. Sistem bronkopulmoner jaringan paru yang tidak terkena akan tetap normal.
Pneumonia viral biasanya berasal dari penyebaran infeksi di sepanjang jalan
napas yang diikuti oleh kerusakan epitel respiratorius, menyebabkan obstruksi jalan
napas akibat bengkak, sekresi abnormal, dan debris seluler. Diameter jalan napas yang
kecil pada bayi menyebabkan bayi rentan terhadap infeksi berat. Atelektasis, edema
interstisial, dan ventilation-perfusion mismatch menyebabkan hipoksemia yang sering
disertai obstruksi jalan napas. Infeksi viral pada traktus respiratorius juga dapat

13
meningkatkan risiko terhadap infeksi bakteri sekunder dengan mengganggu mekanisme
pertahanan normal pejamu, mengubah sekresi normal, dan memodifikasi flora bakterial.
Ketika infeksi bakteri terjadi pada parenkima paru, proses patologik bervariasi
tergantung organisme yang menginvasi. M. pneumoniae menempel pada epitel
respiratorius, menghambat kerja silier, dan menyebabkan destruksi seluler dan memicu
respons inflamasi di submukosa. Ketika infeksi berlanjut, debris seluler yang terlepas,
sel-sel inflamasi, dan mukus menyebabkan obstruksi jalan napas, dengan penyebaran
infeksi terjadi di sepanjang cabang-cabang bronkial, seperti pada pneumonia viral.
S. pneumoniae menyebabkan edema lokal yang membantu proliferasi
mikroorganisme dan penyebarannya ke bagian paru lain, biasanya menghasilkan
karakteristik keterlibatan fokal lobar.
Infeksi streptokokus grup A pada saluran napas bawah menyebabkan infeksi yang
lebih difus dengan pneumonia interstisial. Gambaran patologi yang terjadi adalah
nekrosis mukosa trakeobronkial, pembentukan eksudat dalam jumlah banyak, edema dan,
perdarahan lokal, dengan pelebaran septum interalveolar, dan keterlibatan pembuluh
limfatik dan pleura.
Pneumonia S. aureus bermanifestasi sebagai bronkopneumonia, yang biasanya
unilateral dan ditandai oleh adanya nekrosis perdarahan yang luar dan daerah kavitas
iregular pada parenkima paru, menghasilkan pneumatokel, empiema, atau fistula
bronkopulmoner.

Manifestasi Klinis
Sebagian besar gambaran klinis pneumonia pada anak berkisar dari yang ringan
hingga sedang, sehingga dapat berobat jalan saja. Hanya sebagian kecil yang berat,
mengancam kehidupan, dan mungkin terdapat komplikasi sehingga memerlukan
perawatan di RS.
Gambaran klinis pneumonia pada bayi dan anak bergantung pada berat-ringannya
infeksi, tetapi secara umum adalah sebagai berikut:

14
• Gejala infeksi umum, yaitu demam, sakit kepala, gelisah, malaise, penurunan
nafsu makan, keluhan gastrointestinal seperti mual, muntah, diare, kadang-kadang
ditemukan gejala infeksi ekstrapulmoner.
• Gejala gangguan respiratori, yaitu batuk, sesak napas, retraksi dada, takipnea,
napas cuping hidung, air hunger, merintih, dan sianosis.

Pada pemeriksaan fisis dapat ditemukan tanda klinis seperti pekak perkusi, suara
napas melemah, dan ronki.
Keluhan pada anak meliputi demam, menggigil, batuk, sakit kepala, anoreksia,
dan kadang-kadang keluhan gastrointestinal seperti muntah dan diare. Secara klinis
ditemukan gejala respiratori seperti takipnea, retraksi subkosta (chest indrawing), napas
cuping hidung, ronki, dan sianosis. Penyakit ini sering ditemukan bersamaan dengan
konjungtivitis, otitis media, faringitis, dan laringitis. Ronki hanya ditemukan bila ada
infiltrat alveoler. Retraksi dan takipnea merupakan tanda klinis pneumonia yang
bermakna. Gerakan dada akan terganggu bila terdapat nyeri dada akibat iritasi pleura.
Bila efusi pleura bertambah, sesak napas akan semakin bertambah, tetapi nyeri pleura
semakin berkurang dan berubah menjadi nyeri tumpul.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Darah Perifer Lengkap
Pada pneumonia virus dan mikoplasma umumnya leukosit dalam batas normal.
Pada pneumonia bakteri didapatkan leukositosis yang berkisar antara 15.000 –
40.000/mm3 dengan predominan PMN. Kadang-kadang terdapat anemia ringan dan laju
endap darah (LED) yang meningkat. Secara umum, hasil pemeriksaan darah perifer
lengkap dan LED tidak dapat membedakan antara infeksi virus dan bakteri secara pasti.

C-Reactive Protein (CRP)


Secara klinis CRP digunakan sebagai alat diagnostik untuk membedakan antara
faktor infeksi dan noninfeksi, infeksi virus dan bakteri, atau infeksi bakteri superfisialis
dan profunda. Kadar CRP biasanya lebih rendah pada infeksi virus dan infeksi bakteri

15
superfisialis daripada infeksi bakteri profunda. CRP kadang digunakan untuk evaluasi
respons terhadap terapi antibiotik.

Uji Serologis
Secara umum, uji serologis tidak terlalu bermanfaat dalam mendiagnosis infeksi
bakteri tipik. Akan tetapi, untuk deteksi infeksi bakteri atipik seperti mikoplasma dan
klamidia, serta beberapa virus seperti RSV, sitomegalovirus, campak, parainfluenza
1,2,3, influenza A dan B, dan adenovirus, peningkatan antibodi IgM dan IgG dapat
mengkonfirmasi diagnosis.

Pemeriksaan Mikrobiologis
Pemeriksaan mikrobiologik untuk diagnosis pneumonia anak tidak rutin
dilakukan kecuali pada pneumonia berat yang dirawat di RS. Untuk pemeriksaan
mikrobiologik, spesimen dapat berasal dari usap tenggorok, sekret nasofaring, bilasan
bronkus, darah, pungsi pleura, atau aspirasi paru.

Pemeriksaan Rontgen Toraks


Foto rontgen toraks pada pneumonia ringan tidak rutin dilakukan, hanya
direkomendasikan pada pneumonia berat yang dirawat. Kelainan foto rontgen toraks pada
pneumonia tidak selalu berhubungan dengan gambaran klinis.
Umumnya pemeriksaan yang diperlukan untuk menunjang diagnosis pneumonia
hanyalah pemeriksaan posisi AP. Lynch dkk mendapatkan bahwa tambahan posisi lateral
pada foto rontgen toraks tidak meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas penegakkan
diagnosis.
Foto rontgen AP dan lateral hanya dilakukan pada pasien dengan tanda dan gejala
klinik distres pernafasan seperti taquipnea, batuk dan ronki dengan atau tanpa suara napas
yang melemah.
Secara umum gambaran foto toraks terdiri dari:
• Infiltrat interstisial, ditandai dengan peningkatan corakan bronkovaskular,
peribronchial cuffing dan hiperaerasi

16
• Infiltrat alveolar, merupakan konsolidasi paru dengan air bronchogram.
Konsolidasi dapat mengenai satu lobus disebut dengan pneumonia lobaris atau
terlihat sebagai lesi tunggal yang biasanya cukup besar, berbentuk sferis, berbatas
yang tidak terlalu tegas dan menyerupai lesi tumor paru disebut sebagai round
pneumonia
• Bronkopneumonia ditandai dengan gambaran difus merata pada kedua paru
berupa bercak-bercak infiltrat yang dapat meluas hingga daerah perifer paru
disertai dengan peningkatan corakan peribronkial

Gambaran foto rontgen toraks dapat membantu mengarahkan kecenderungan


etiologi. Penebalan peribronkial, infiltrat interstitial merata dan hiperinflasi cenderung
terlihat pada pneumonia virus. Infiltrat alveolar berupa konsolidasi segmen atau lobar,
bronkopneumonia dan air bronchogram sangat mungkin disebabkan oleh bakteri.

Diagnosis
Penemuan bakteri penyebab untuk diagnosis etiologik pneumonia tidak selalu
mudah karena memerlukan laboratorium penunjang yang memadai. Oleh karena itu,
pneumonia pada anak umumnya didiagnosis berdasarkan gambaran klinis yang
menunjukkan keterlibatan sistem pernapasan serta gambaran radiologis. Prediktor paling
kuat adanya pneumonia adalah demam, sianosis dan lebih dari satu gejala respiratori
berikut : takipnea, batuk, nafas cuping hidung, retraksi, ronki dan suara nafas melemah.
Klasifikasi pneumonia pada bayi dan anak berusia 2 bulan - 5 tahun berdasarkan
pedoman dari WHO adalah sebagai berikut:
Pneumonia berat
• bila ada sesak napas
• harus dirawat dan diberikan antibiotik
Pneumonia
• bila tidak ada sesak napas
• ada napas cepat dengan laju napas:
o >50x/menit untuk anak usia 2 bulan-1 tahun
o >40x/menit untuk anak >1-5 tahun

17
• tidak perlu dirawat, diberikan antibiotik oral
Bukan pneumonia
• bila tidak ada napas cepat dan sesak napas
• tidak perlu dirawat dan tidak perlu antibiotik, hanya diberikan pengobatan
simptomatis seperti penurun panas.

Tatalaksana
Pneumonia rawat jalan
Pada pneumonia ringan rawat jalan dapat diberikan antibiotik lini pertama secara
oral, misalnya amoksisilin atau kotrimoksazol. Dosis amoksisilin yang diberikan adalah
25 mg/kgBB, sedangkan kotrimoksazol adalah 4 mg/kgBB trimetoprim – 20 mg/kgBB
sulfametoksazol.

Pneumonia rawat inap


Antibiotik sesuai hasil biakan atau dapat diberikan:
• Untuk kasus community-based
o Ampicillin 100 mg/kgBB/ hari dalam 4 kali pmeberian.
o Kloramfenikol 75 mg/kgBB/ hari dalam 4 kali pemberian
• Untuk kasus hospital-based
o Cefotaxim 100 mg/kgBB/ hari dalam 2 kali pemberian
Terapi antibiotik diteruskan selama 7 – 10 hari pada pasien dengan pneumonia
tanpa komplikasi.
Pada balita dan anak yang lebih besar, antibiotik yang direkomendasikan adalah
beta-laktam dengan/tanpa klavulanat; pada kasus yang lebih berat diberikan beta-
laktam/klavulanat dikombinasikan dengan makrolid baru intravena atau sefalosporin
generasi ketiga. Bila pasien sudah tidak demam atau keadaan sudah stabil, antibiotik
diganti dengan antibiotik oral dan berobat jalan.

Komplikasi

18
Komplikasi pneumonia pada anak meliputi empiema torasis, perikarditis
purulenta, pneumotoraks, atau infeksi ekstrapulmoner seperti meningitis purulenta.
Empiema torasis merupakan komplikasi tersering yang terjadi pada pneumonia bakteri.

BAB III
Pembahasan Khusus

19
Dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang pada pasien ini ditegakkan
diagnosis bronkopneumonia.
Dari anamnesis didapatkan keluhan utama batuk sejak 2 minggu SMRS. Batuk
berdahak tetapi sulit dikeluarkan. Batuk terus-menerus sepanjang hari tetapi tidak sampai
mengganggu tidur malam. Hal ini dapat membantu menyingkirkan kemungkinan asma.
Selain itu, pasien juga mengalami demam dan sesak napas sejak 1 minggu SMRS.
Demam naik turun dengan suhu bervariasi 370C-380C. Demam turun bila diberi obat
turun panas, tetapi kemudian naik lagi. Sesak pada pasien ini tidak dipengaruhi oleh
posisi dan tidak ada riwayat biru sehingga kemungkinan sesak karena kelainan jantung
dapat disingkirkan. Kelainan pada saluran napas merupakan kelainan yang paling
mungkin karena selain sesak juga didapatkan batuk berdahak. Dari pemeriksaan fisik
pada waktu pasien datang ke RS didapatkan demam (suhu 38,50C), takipneu (RR 52
x/menit), napas cuping hidung (+), retraksi epigastrium dan interkostal. Hal ini
menunjukkan adanya kesulitan bernapas pada pasien. Pada pemeriksaan paru didapatkan
ronki pada seluruh lapang paru. Dari pemeriksaan DPL didapatkan leukositosis. AGD
menunjukkan keadaan hipoksia. Pada pemeriksaan foto toraks AP ditemukan infiltrat
dikedua perihiler paru, corakan bronkovaskular tampak suram. Kesan bronkopneumonia.
Dari data-data di atas, dapat ditegakkan diagnosis bronkopneumonia.
Tatalaksana awal pada pasien ini diberikan O2 1 L/menit, infus KaEN 1B 24 tpm
mikro karena intake sulit pada pasien ini, antibiotik cefotaxim 2x 300 mg menurut
tatalaksana kasus hospital-based yaitu cefotaxim 100 mg/kgBB/ hari dalam 2 kali
pemberian, ambroxol sirup 2 x Cth ½, parasetamol 60 mg jika suhu >38,50C. Saat ini
pasien sudah tidak sesak sehingga O2 sudah tidak diberikan lagi.
Pasien mengalami anemia yang diduga karena defisiensi besi (Hb 9,3 dan 9,6).
Hal ini kemungkinan disebabkan oleh asupan nutrisi pasien yang kurang. Akan tetapi
untuk memastikan diagnosis, diperlukan pemeriksaan morfologi eritrosit darah tepi.
Berdasarkan pengukuran antropometrik, didapatkan kesan gizi kurang. Oleh
karena itu, diet makanan pasien dihitung berdasarkan kebutuhan kalori menurut BB
idealnya yaitu sebesar 720 kkal/hari (7,2 kg x 100 kkal).
Prognosis ad vitam pada pasien ini bonam karena pneumonia sudah dalam
perbaikan sehingga tidak mengancam nyawa. Ad functionam dubia ad bonam karena

20
pasien masih mengalami batuk dan pada pemeriksaan fisik masih terdapat ronki. Ad
sanactionam dubia ad malam karena pasien tinggal di lingkungan yang padat dengan
tempat tinggal tanpa ventilasi dan sinar matahari. Selain itu, usia pasien masih 1 tahun 2
bulan dan status nutrisi pasien juga kurang sehingga pasien rentan untuk mengalami
infeksi kembali.

DAFTAR PUSTAKA

21
Anonim. Dyspnea, tachypnea, and orthopnea: Excerpt from differential diagnosis in
primary care. Diunduh dari:
http://www.mcc.ca/Objectives_Online/objectives.pl?
lang=english&loc=obj&id=27-3-E. 28 September 2009.
1. Anonim. Pediatric dyspnea/respiratory distress. Diunduh dari:
www.wrongdiagnosis.com/a/asphyxia/book-diseases-4a.htm+dyspnea+tachypnea. 28
September 2009.
2. Departemen Ilmu kesehatan Anak RSCM. Panduan pelayanan medis departemen
ilmu kesehatan anak. Jakarta: 2007.
3. Kliegman RM, Behrman R, Jenson HB, Stanton BF. Nelson textbook of pediatrics
18th ed. Saunders Elsevier; 2007.
4. Said M. Pneumonia In: Rahajoe NN, Supriyatno B,Setyanto DB [edt.]. Jakarta :
Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2008 p. 350-364.

22