Anda di halaman 1dari 8

KEWENANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DALAM

PENGAJUAN RUU KEPADA DPR


(BERDASARKAN PASAL 5 AYAT (1) UUD NRI 1945)
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Presiden Republik Indonesia dalam sistem pemerintahan Presidensial
berkedudukan sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, Pasal 4 ayat (1)
undang-undang dasar 1945 menegaskan presiden memegang kekuasaan
pemerintahan. (Miriam, 2013)
Sebagai Kepala Pemerintahan kekuasaan Presiden besar. Presiden di
Indonesia, memegang kekuasaan pemerintahan, di samping itu Presiden
memegang kekuasaan dalam membentuk undang-undang. Kekuasaan Presiden
dalam membentuk undang-undang diatur dalam Pasal 5 ayat (1) sebelum
perubahan, yang berbunyi Presiden memegang kekuasaan membentuk Undang-
undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.Presiden juga mempunyai
kekuasaan untuk membentuk Peraturan Pemerintah guna melaksanakan undang-
undang sebagaimana diatur dalam Pasal 5 ayat (2) sebelum perubahan.
Apabila ketentuan tersebut ditafsirkan secara harfiyah, maka jelas Presiden
yang memegang kekuasaan membentuk undang- undang, sedang Dewan
Perwakilan Rakyat berfungsi memberi (atau tidak memberi) persetujuan terhadap
pelaksanaan kekuasaan yang berada pada Presiden tersebut. (Hamid, 2010)
Hal tersebut menjadikan kekuasaan presiden yang terlalu luas dalam
membentuk undang– undang.Presiden dalam membentuk undang – undang harus
diartikan bahwa Presiden mempunyai hak inisiatif disamping hak inisiatif yang
ada pada Dewan Perwakilan Rakyat. (Manan, 2009)
Presiden turut serta dalam pembahasan rancangan undang-undang bersama
Dewan Perwakilan Rakyat.Dalam kenyataannya, hak inisiatif Presiden lebih
banyak dipergunakan dibandingkan dengan hak inisiatif Dewan Perwakilan
Rakyat karena terdapat berbagai faktor objektif dan faktor subjektif yang dapat
mempengaruhi penggunaan tersebut. A. Hamid S Attamimi berpendapat bahwa
kekuasaan membentuk undang- undang (legislative power) ada pada Presiden
bukan pada Dewan Perwakilan Rakyat, sementara itu Marojahan Js Panjaitan
dalam bukunya berjudul pembentukan dan perubahan undang – undang
berdasarkan undang – undang dasar 1945 tidak setuju terhadap pendapat A.
Hamid S Attamimi, sebab seperti dikemukakan oleh Bagir manan dalam sistem
ketatanegaraan apapun kekuasaan membentuk undang –undang ada pada Dewan
Perwakilan Rakyat sebagai pemegang kekuasaan legislatif. (Marojahan, 2017)
Bertalian dengan Pasal 5 ayat (1) undang-undang dasar 1945, bagir manan
mengemukakan bahwa ketentuan yang terkandung dalam naskah asli ini bukan
saja membingungkan akan tetapi mengandung anomali. Presiden adalah
pemegang dan sekaligus menjalankan kekuasaan eksekutif, telah menjadi sesuatu
yang dapat diterima umum-dalam sistem ketatanegaraan apapun kekuasaan
membentuk undangundang ada pada Dewan Perwakilan Rakyat sebagai
pemegang kekuasaan legislatif .
Pendapat Bagir manan yang mengatakan ketentuan Pasal 5 ayat (1) Undang
Undang Dasar 1945 bukan saja membingungkan tetapi mengandung anomali
adalah benar, sebab menurut Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945
Presiden memegang kekuasaan pemerintahan. Dalam hal ini, Presiden disamping
menjalankan kekuasaan pemerintahan juga memegang kekuasaan membentuk
undang-undang, sedangkan Dewan Perwakilan Rakyat hanya mempunyai hak
mengajukan rancangan undang-undang (Pasal 21 Undang-Undang Dasar 1945
sebelum perubahan). Suatu Hal yang sangat ironis pada masa itu bahwa Dewan
Perwakilan Rakyat tidak dapat mendatangkan satupun Rancangan Undang-
Undang.
Moh.Mahfud. MD mengatakan karena begitu kuatnya kekuasaan pemerintah
sehingga Dewan Perwakilan Rakyat merupakan semacam Rubber stamp.
Keadaan seperti ini tentunya sangat mempengaruhi kinerja Dewan Perwakilan
Rakyat dalam membentuk undang-undang. Akibatnya hampir semua undang-
undang diarahkan untuk kepentingan pemerintah. (Mahfud, 2009)
Saat reformasi ada keinginan yang kuat untuk merubah Undang-Undang
Dasar 1945, yang salah satu tujuannya adalah untuk mengurangi kekuasaan
Presiden. MPR hasil Pemilu tahun 1999 bersepakat untuk melakukan perubahan,
maka dibentuklan Panitia Ad Hoc III. Pada saat pembahasan perubahan undang –
undang Negara republik Indonesia Tahun 1945 , Panitia Ad Hoc III Badan
Pekerja MPR menyepakati bahwa kekuasaan membentuk undang – undang akan
diberikan kepada Dewan perwakilan Rakyat sebagai wujud sikap MPR “untuk
mengembalikan” kewenangan membentuk undang – undang kepada DPR sebagai
lembaga yang memegang cabang kekuasaan legislatif yang memang secara
teoritis dan praktik ketatanegaraan di berbagai Negara memegang kekuasaan
membentuk undang –undang. Adapun untuk Presiden PAH III BP MPR
bersepakat untuk merumuskan bahwa presiden memiliki hak untuk mengajukan
rancangan undang – undang kepada DPR.
Kesepakatan itu kemudian dituangkan ke dalam pasal 5 ayat (1) dan pasal 20
ayat (1) undang –undang dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 hasil
perubahan pertama. Substansi pasal 5 ayat (1) undang-undang dasar 1945
sebelum perubahan menjadi isi pasal 20 ayat (1) undang-undang dasar 1945 hasil
perubahan yang berbunyi: “Dewan Perwakilan rakyat memegang kekuasaan
membentuk undang – undang.” Sebagai ganti isi pasal 5 ayat (1) undang-undang
dasar 1945 ini, disusun rumusan baru sebagaimana yang tercantum di atas. Hak
Presiden dalam bentuk pengajuan rancangan undang-undang juga dimiliki
anggota Dewan Perwakilan Rakyat sesuai dengan ketentuan Pasal 21 ayat (1)
undang-undang dasar 1945 sebelum perubahan atau Pasal 21 Undang-Undang
Dasar Tahun 1945 hasil perubahan. (Akbar, 2013)
Perubahan Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 dan perubahan
pasal 20 ayat (1) Undang-undang dasar merupakan satu paket perubahan
konstitusi yang sangat mendasar dalam sistem ketatanegaraan kita. Perubahan
tersebut dilakukan untuk mengatur ulang kewenangan pembentukan undang-
undang yang semula ada pada diri Presiden beralih menjadi kewenangan Dewan
Perwakilan Rakyat.
Bagir Manan berpendapat meskipun ada perubahan, tidak berarti ada
pemisahan kekuasaan antara Dewan Perwakilan Rakyat dengan Presiden dalam
membentuk undang-undang.Yang ada hanyalah pembagian kekuasaan dan
mencerminkan pula kekuasaan membentuk Undang-Undang dilakukan bersama-
sama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. Dalam memberi pendapat
seperti itu Bagir Manan beralasan bahwa perlu disadari ketentuan hukum
bukanlah bunyi atau text yang tercantum dalam suatu peraturan perundang-
undangan. Melainkan hukum adalah suatu pengertian.
Dalam hal ini Bagir Manan Mengisyaratkan jangan hanya melihat isi dari
Pasal 20 ayat (1) undang-undang dasar 1945 secara tekstual saja, namun harus
memperhatikan apa makna yang terkandung di dalamnya, bagaimana hal tersebut
dilaksanakan, dan bagaimana kaitannya dengan ayat-ayat selanjutnya.
Bertalian dengan Pasal 20 ayat (2), undang-undang dasar 1945 mengatakan:
Setiap rancangan undang-undang dibahas secara bersama oleh Dewan Perwakilan
Rakyat dan Presiden untuk mendapat persetujuan. Maksudnya bahwa setiap
rancangan undang-undang dibahas secara bersama oleh Dewan Perwakilan
Rakyat dan Presiden, dan harus disetujui bersama oleh keduanya.Selama
Rancangan undangundang tidak mendapatkan persetujuan bersama maka tidak
mungkin disahkan menjadi undang-undang.Pasal 20 ayat (3) mengatakan jika
rancangan undang-undang tidak mendapatkan persetujuan bersama, maka
rancangan undang-undang tersebut tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan
Dewan Perwakilan Rakyat pada masa itu. (Marojahan, 2017)
Apabila rancangan undang-undang telah mencapai persetujuan bersama
proses selanjutnya adalah pengesahan yang dilakukan oleh Presiden dengan cara
membubuhkan tanda tangan pada bagian akhir naskah undang-undang. Pasal 20
ayat (4) Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan: Presiden mengesahkan
rancangan undang-undang yang telah disetujui secara bersama untuk menjadi
undang-undang.
Persoalannya adalah bagaimana jika Presiden tidak mau mengesahkan
rancangan undang-undang yang telah mendapatkan persetujuan bersama. Dalam
hal ini undang-undang dasar 1945 pada Pasal 20 ayat (5) menyatakan: Dalam hal
rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama apabila tidak disahkan
oleh Presiden dalam waktu tiga puluh hari semenjak rancangan undang-undang
tersebut disetujui, rancangan undang-undang tersebut sah menjadi undang-undang
dan wajib diundangkan. Terlihat bahwa Presiden memiliki kewenangan untuk
tidak mengesahkan rancangan undang-undang yang telah disetujui secara
bersama, akan tetapi penolakan Presiden tersebut untuk mengesahkan rancangan
undang-undang yang telah disetujui secara bersama tidak dapat dibenarkan,
karena hak penolakan tersebut hanya dapat dilakukan pada saat pembahasan
rancangan undang-undang, bukan pada saat pengesahan.
Dalam mengemukakan pendapatnya Jimly Asshidiqie, setelah perubahan
pasal 5 ayat (1) dan pasal 20 ayat (1) UUD 1945 terjadi pegeseran kekuasaan
yang substantive dalam kekuasaan legislative atau perubahan kekuasaan dalam
pembentukan undang-undang dari tangan presiden menjadi kekuasaan yang
berada ditangan DPR. Sejalan dengan pemikiran Jimly Asshidiqie Wicipto
Setiadi menambahkan, sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan Negara
Presiden hanya berhak mengajukan rancangan undang dan banyak yang
berpendapat bahwa setelah dilakukannya perubahan tersebut kedudukan
DPRmenjadi lebih kuat dalam penggunaan fungsi legislasi. (Isra, 2010)
Sekiranya pengaturan fungsi legislasi hanya dilihat dari perubahan pasal 5
ayat (1) dan pasal 20 ayat (1) saja, tidaklah keliru mengatakan bahwa kekuasaan
legislasi bergeser dari tangan kekuasaan eksekutif kepada kekuasaan legislatif
atau mengalami pergeseran dari Presiden kepada DPR. Namun, dengan hadirmya
pasal 20 ayat (2) UUD 1945 yang menyatakan bahwa setiap rancangan Undang-
Undang dibahas oleh Presiden dan DPR untuk mendapatkan persetujuan bersama.
Dan pada Pasal 20 ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan bahwa jika rancangan
UndangUndang itu tidak mendapatkan persetujuan bersama, rancangan tersebut
tidak dapat diajukan kembali dalam persidangan DPR masa itu. Tidak berarti
DPR lebih kuat dan dominan dibandingkan dengan Presiden dalam fungsi
legislasi, terkait dengan kehadiran pasal 20 ayat (2), dan (3), moh Fajrul Falaakh
mengemukakan pendapat bahwa perubahan yang dimaksudkan untuk
memberdayakan DPR itu tidak berarti banyak dalam fungsi legislasi karena setiap
rancangan Undang-Undang hanya sah jika disetujui secara bersama oleh Presiden
dan DPR.
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil tulisan mengenai kewenangan Presiden dalam pembentukan
Undang-Undang berdasarkan peraturan perundang-undangan di Indonesia,
maka dapat ditarik kesimpulan dari beberapa rumusan masalah, yaitu:
1. Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat berada di level yang sama hal
tersebut ditetapkan di dalam Undang-Undang Dasar 1945. Presiden sebagai
pemegang kekuasaan eksekutif dan Dewan Perwakilan Rakyat Sebagai
pemegang kekuasaan legislatif hubungan keduanya dapat dikatakan sebagai
hubungan kemitraan, terutama dalam beberapa hal seperti, pembentukan
Undang-Undang, Penetapan APBN, dan juga dalam hal menyatakan Perang
dan pembuatan perjanjian perdamaian dengan Negara lain kedua lembaga
Negara ini saling berhubungan. Dewan Perwakilan Rakyat juga memiliki
fungsi sebagai pengawas dan pengendali terhadap jalannya pemerintahan, hal
ini dimaksudkan agar tindakan yang dilakukan oleh Presiden tidak keluar
dari paham kedaulatan rakyat.
2. Dalam membentuk peraturan perundang-undangan yang baik, diperlukan
beberapa hal yang harus diperhartikan yaitu adanya asas-asas dalam
menentukan pembentukan peraturan perundang-undangan, serta landasan
dalam membentuk peraturan perundang-undangan tersebut dan juga materi
muatan undang-undang. Disamping itu hal lain yang harus diperhatikan
adalah bahwa pembentuk atau perancang undang-undang itu sendiri harus
memilki kemampuan yang mumpuni untuk menjalankan tugasnya. Dalam hal
ini, penting bagi kita untuk mengetahui asas hukum dalam pembentukan
peraturan perundang-undangan, dengannya kita dapat melihat atau
menjadikan patoikan bagi pembentuk peraturan perundangundangan.
3. Dalam pembentukan undang-undang, pasca perubahan terlihat kewenangan
Presiden dalam pembentukan undang-undang tidak lagi dominan apabila kita
bandingkan dengan kewenangan Presiden dalam pembentukan undang-
undang sebelum dilakukan perubahan, dimana kekuasaan Presiden begitu
dominan. Pasca perubahan UUD 1945, terlihat bahwa kekuasaan legislatif
berada dibawah kekuasaan Dewan Perwakian Rakyat dan Presiden bertindak
sebagai Co Legislator yang memiliki hak inisiatif untuk mengajukan
rancangan undangundang kepada Dewan Perwakilan Rakyat.

B. Saran
Dalam membentuk Undang-Undang, apabila dilihat dari isi pasal 20 ayat
(4) yang berbunyi; Presiden mengesahkan rancangan undang-undang rancangan
undangundang yang telah disetujui bersama untuk menjadi undang-
undang.Rancangan undang-undang tersebut tetap sah menjadi undang-undang
dan wajib di undangkan walaupun tidak mendapatkan pengesahan dari Presiden
dalam waktu tiga puluh hari sejak rancangan undang-undang tersebut telah
disetujui secara bersama oleh Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat.Hal ini
menurut penulis tidak dapat dibenarkan karena apabila Presiden ingin
menggunakan kewenangannya maka pergunakanlah pada saat dilakukannya
pembahasan rancangan undang-undang yaitu dengan menyetujui rancangan
undang-undang tersebut atau tidak, yang nantinya rancangan undangundang yang
tidak disetujui tersebut tidak dapat lagi diajukan pada sidang selanjutnya. Hal ini
sangat disayangkan karena apabila rancangan yang telah disetujui atau disepakati
secara bersama pada proses sebelumnya tetapi tidak disahkan oleh Presiden
walaupun hal tersebut nantinya tidak berpengaruh terhadap rancangan yang telah
disepakati secara bersama tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Miriam Budiarjo dan Ibrahim Ambong, Fungsi Legislatif Dalam Sistem Politik

Indonesia, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2013


Hamid S. Attamimi, Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia Dalam

Penyelenggaraan Pemerntahan Negara, Fakultas Pascasarjana

Universitas Indonesia, 2010,

Bagir Manan, Lembaga Kepresidenan, Yogyakarta, Gama Media, 2009

Marojahan Js Panjaitan, Pembentukan dan perubahan Undang – undang

berdasarkan undang – undang dasar 1945, Pustaka Reka Cipta,

Bandung, 2017

Moh. Mahfud MD, Hukum dan Pilar-Pilar Demokrasi, Yogyakarta, Gama

Media, 2009

Patrialis Akbar, Lembaga – lembaga Negara menurut UUD NRI tahun 1945,

Jakarta, Sinar Grafika, 2013

Saldi Isra, Pergeseran Fungsi Legislasi (menguatnya model sistem legislasi

parlementer dalam sistem presidensial Indonesia)Jakarta, Raja

Grafindo, 2010