Anda di halaman 1dari 10

FOTOTERAPI PADA BAYI DENGAN HIPERBILIRUBIN

A. Definisi Fototerapi
Fototerapi merupakan terapi pilihan pertama yang dilakukan terhadap
bayi baru lahir dengan hiperbilirubinemia (Kumar et al, 2010 dalam Shinta,
2015). Fototerapi merupakan penatalaksanaan hiperbilirubinemia yang
bertujuan untuk menurunkan konsentrasi bilirubin dalam sirkulasi atau
mencegah peningkatan kadar bilirubin.
Fototerapi merupakan terapi dengan menggunakan sinar yang dapat
dilihat untuk pengobatan hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir. Keefektifan
suatu fototerapi ditentukan oleh intensitas sinar. Adapun faktor yang
mempengaruhi intensitas sinar ini adalah jenis sinar, panjang gelombang sinar,
jarak sinar ke pasien yang disinari, luas permukaan tubuh yang terpapar
dengan sinar serta penggunaan media pemantulan sinar.
Sistem fototerapi mampu menghantarkan sinar melalui bolam lampu
fluorcent, lampu quartz, halogen, emisi dioda lampu dan matres optik fiber.
Keberhasilan pelaksanaan fototerapi tergantung dari efektifitas dan minimnya
komplikasi yang terjadi (Stokowski, 2006 dalam Shinta, 2015).

Gambar fototerapi/terapi sinar biru


B. Tujuan Fototerapi
Tujuan terapi ini adalah membatasi peningkatan serum bilirubin dan
mencegah penumpukan di dalam otak yang dapat menyebabkan komplikasi
neurologis permanen yang serius. Keberhasilan pelaksanaan perawatan bayi
yang mengalami hiperbilirubinemia sangat tergantung dari efektifitas
fototerapi dan minimnya komplikasi yang terjadi.
C. Mekanisme kerja
Molekul-molekul bilirubin pada kulit yang terpapar sinar akan
mengalami reaksi fotokimia yang relatif cepat menjadi isomer konfigurasi,
dimana sinar akan merubah bentuk molekul bilirubin dan bukan mengubah
struktur bilirubin. Bentuk bilirubin 4Z, 15Z akan berubah menjadi bentuk
4Z,15E yaitu bentuk isomer nontoksik yang bisa diekskresikan. Isomer
bilirubin ini mempunyai bentuk yang berbeda dari isomer asli, lebih polar dan
bisa diekskresikan dari hati ke dalam empedu tanpa mengalami konjugasi atau
membutuhkan pengangkutan khusus untuk ekskresinya. Bentuk isomer ini
mengandung 20% dari jumlah bilirubin serum.
Eliminasi melalui urin dan saluran cerna sama-sama penting dalam
mengurangi muatan bilirubin.Reaksi fototerapi menghasilkan suatu
fotooksidasi melalui proses yang cepat. Produk fotooksidasi ini lebih sedikit
jumlahnya dibandingkan dengan pembentukan isomer konfigurasi (4Z,15E).
Fototerapi juga menghasilkan lumirubin, dimana lumirubin ini mengandung
2% sampai 6% dari total bilirubin serum. Lumirubin diekskresikan melalui
empedu dan urin.

Gambar Mekanisme fototerapi


D. Cahaya yang digunakan
Pada awalnya terapi sinar dilakukan dengan mempergunakan cara
alami, yaitu dengan sumber dari sinar matahari. Tetapi karena terbatasnya
waktu yang efektif untuk penyinaran, yaitu hanya dapat dilakukan antara
rentang waktu pukul 07.00-09.00 pagi maka terapi ini tidak dapat dilakukan
sepanjang hari. Untuk mengatasi hal tersebut maka dipergunakan alat terapi
yang bersumber dari cahaya buatan, yang sering disebut dengan blue light
therapy.
Alat terapi ini mempergunakan lampu yang memancarkan spektrum
cahaya biru dengan panjang gelombang berkisar antara 450-490 nm. Adapun
jarak penyinaran antara bayi dengan sumber sinar (lampu) saat dilakukan
terapi adalah + 30-50 cm. Umumnya lampu fluorescent bentuk tabung
memanjang merupakan jenis lampu yang dipergunakan untuk blue light
therapy di puskesmas, klinik bersalin dan rumah sakit. Selain menggunakan
lampu fluorescent (TL) maka saat ini peralatan blue light therapy ada pula
yang menggunakan lampu LED (light emitting diode) sebagai sumber
penyinarannya.
Alat fototerapi ada yang menggunakan sumber cahaya tunggal yang
menyinari sebagian tubuh dan sumber cahaya ganda yang dapat menyinari dua
bagian tubuh sekaligus. Efek terapi sinar tidak bergantung pada beberapa arah
penyinaran, tetapi pada jumlah energy cahaya yang dapat menyinari kulit
neonatus.
Oleh karena itu, walaupun menggunakan penyinaran searah (sumber
cahaya tunggal) tetapi posisi pasien diubah dalam jangka waktu tertentu dan
energy cahaya yang baik akan diperoleh hasil yang optimal. Besarnya
gelombang sinar dapat diukur dengan alat iradiasi meter, jarak antara sumber
cahaya dan bagian tubuh yang disinari mempengaruhi energy cahaya optimal
yang diperoleh neonatus.
E. Indikasi
Fototerapi diindikasikan pada kadar bilirubin yang meningkat dengan
kadar billirubin indireks melebihi batas normal (normal 0.6010.50 mg/dl)
sesuai dengan umur pada neonatus cukup bulan atau berdasarkan berat badan
pada neonatus prematur (sesuai dengan American Academy of Pediatrics).
Tabel Rekomendasi “American Academy of Pediatrics” (AAP) untuk
penanganan hiperbilirubinemia pada neonatus sehat dan cukup bulan:
Total serum bilirubin (mg/dL)
Transfusi
Transfusi tukar
Pertimbangan tukar dan
Usia Fototerapi jika fototerapi
Fototerapi fototerapi
intensif gagal
intensif
≤ 24 jam - - - -
25-48 ≥ 12 ≥ 15 ≥ 20 ≥ 25
49-72 ≥ 15 ≥ 18 ≥ 25 ≥ 30
> 72 ≥ 17 ≥ 20 ≥ 25 ≥ 30

Tabel Rekomendasi “American Academy Of Pediatrcs” (AAP) untuk


penanganan hiperbilirubin pada neonates premature (sehat dan sakit)
Total serum bilirubin (mg/dL)
Neonatus Sehat Neonatus Sakit
Berat Transfusi Transfuse
Fototerapi Fototerapi
badan tukar tukar
<1500 gr 5-8 13-16 4-7 10-14
1500-2000
8-12 16-18 7-10 14-16
gr
2000-2500
12-15 18-20 10-12 16-18
gr
Sesuaikan
Sesuaikan
dengan
dengan
penanganan
penanganan
>2500 gr hiperbilirubi 13-15 18-22
hiperbilirubin
n
berdasarkan
berdasarkan
usia
usia
F. Faktor yang mempengaruhi efektivitas terapi sinar
Faktor yang mempengaruhi efektivitas terpi sinar antara lain:
1. spektrum sinar yang dihasilkan
2. Lama waktu penyinaran
3. besar irradiasi
4. luasnya permukaan tubuh yang terpapar
5. Penyebab dari ikterus dan kadar serum bilirubin pada saat fototerapi
dimulai.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan fototerapi :
1. Lampu yang digunakan sebaiknya tidak lebih dari 500 jam, untuk
menghindari turunnya energy yang dihasilkan oleh lampu yang digunakan.
2. Pakaian bayi dibuka agar bagian tubuh dapat seluas mungkin terkena sinar
3. Kedua mata ditutup dengan penutup yang dapat memantulkan cahaya
untuk mencegah kerusakan retina. Penutup mata dilepas saat pemberian
minum dan kunjungan orang tua untuk memberikan rangsangan visual
pada neonates. Pemantauan iritasi mata dilakukan tiap 6 jam dengan
membuka penutup mata.
4. Daerah kemaluan ditutup dengan penutup yang dapat memantulkan cahaya
untuk melindungi daerah kemaluan dari cahaya fototerapi.
5. Posisi lampu diatur dengan jarak 30-50 cm diatas tubuh bayi, untuk
mendapatkan energy yang optimal
6. Posisi bayi diubah setiap 8 jam, agar tubuh mendapat penyinaran seluas
,mungkin.
7. Suhu tubuh diukur 4-6 jam sekali atau sewaktu-waktu bila perlu.
8. Pemasukan cairan dan minuman dan pengeluaran urine, feses dan muntah
diukur, dicatat dan dilakukan pemantauan tanda dehidrasi.
9. Hidrasi bayi diperhatikan, bila perlu konsumsi cairan ditingkatkan.
10. Lamanya terapi sinar dicatat.
Apabila evaluasi kadar bilirubin serum berada dalam batas normal,
terapi sinar di hentikan. Jika kadar bilirubin masih tetap atau tidak banyak
berubah, perlu dipikirkan adanya beberapa kemungkinan, antara lain lampu
yang tidak efektif atau bayi menderita dehidrasi, hipoksia, infeksi, gangguan
metabolism dan lain-lain.

G. Komplikasi
Kelainan atau komplikasi yang mungkin timbul pada neonates yang
mendapatkan fototerapi atau terapi sinar adalah
1. Peningkatan kehilangan cairan yang tidak terukur ( Inesible water loss).
Energy cahaya fototerapi dapat menimbulkan suhu lingkungan dan
menyebabkan peningkatan penguapan melalui kulit, terutama bayi
premature atau berat lahir sangat rendah. Keadaan ini dapat diantisipasi
dengan pemberian cairan tambahan.
2. Frekuensi defekasi meningkat, meningkatnya bilirubin indirek pada usus
akan meningkatkan pembentukan enzim lactase yang dapat meningkatkan
peristaltic usus. Pemberian susu dengan kadar laktosa rendah akan
mengurangi timbulnya diare.
3. Timbul kelainan kulit “ flea bite rash” di daerah wajah, badan dan
ekstremitas, kelainan ini akan segera hilang setelah terapi dihentikan.
Tetapi dilaporkan pada beberapa bayi terjadi “ bronze baby syndrome,”
hal ini terjadi karena tubuh tidak mampu mengeluarkan dengan segera
hasil terapi sinar. Perubahan warna kulit ini bersifat sementara dan tidak
mempengaruhi proses tumbuh kembang bayi.
4. Peningkatan suhu, beberapa neonatus yang mendapat terapi sinar
menunjukan kenaikan suhu tubuh, keadaan ini dapat disebabkan karena
suhu lingkungan yang meningkat atau gangguan pengaturan suhu tubuh
bayi. Pada bayi prematur fungsi thermostat yang belum matang. Pada
keadaan ini fototerapi dapat dilanjutkan dengan mematikan sebagian
lampu yang digunakan dan dilakukan pemantauan suhu tubuh neonatus
dengan jangka waktu (interval) yang lebih singkat.
5. Kadang ditemukan kelainan, seperti gangguan minuman, letargi, dan
iritabilitas. Keadaan ini bersifat sementara dan akan hilang dengan
sendirinya.
6. Gangguan pada mata dan pertumbuhan, kelainan retina dan gangguan
pertumbuhan ditemukan pada binatang percobaan. Pada neonatus yang
mendapat terapi sinar, gangguan pada retina dan fungsi penglihatan
lainnya serta gangguan tumbuh kembang tidak dapat dibuktikan dan belum
ditemukan. Walaupun demikian diperlukan kewaspadaan perawat tentang
kemungkinan timbulnya keadaan tersebut.

H. Persiapan alat
1. Penutup mata
2. Penutup plastik
3. Lampu fluorense
4. Box bayi
5. Alas box bayi
Alat Blue Light Therapy Fungsi terapi sinar biru adalah mengubah
bilirubin menjadi senyawa yang larut dalam air sehingga dapat dikeluarkan
dari tubuh bayi. Alat ini terdiri dari sumber cahaya yang memancarkan cahaya
biru dengan panjang gelombang 450-490 nm.
Alat blue light therapy pada gambar 1 menggunakan lampu fluorescent
bentuk tabung dengan panjang 60 cm. Jumlah lampu untuk 1 unit alat ini,
dapat terdiri dari 1-5 buah lampu fluorescent khusus dengan daya 20 W.

I. Standart Operational Procedur (SOP) Fototerapi pada bayi


1. Pengertian
Pemberian terapi sinar pada bayi baru lahir dengan pajanan sinar
berintensitas tinggi dan berspektrum terlihat untuk mengurangi kadar
billirubin indireks.
2. Tujuan
Mengurangi kadar billirubin
3. Indikasi
Anak dengan kadar billirubin indireks melebihi batas normal (normal
0.60-10.50 mg/dl)
4. Persiapan pasien
1) Pastikan identitas pasien
2) Kaji kondisi anak (adanya hambatan, riwayat perdarahan, fraktur)
3) Jaga privasi pasien
4) Jelaskan maksud dan tujuan pada anak/keluarga
5) Libatkan orang tua/pengasuh
5. Persiapan alat
1) Penutup mata
2) Penutup plastik
3) Lampu fluorense
4) Box bayi
5) Alas box bayi
6. Persiapan perawat
1) Lakukan pengkajian: umur, prematuritas, baca catatan keperawatan
dan medis
2) Rumuskan diagnosa terkait
3) Buat perencanaan tindakan (intervensi)
4) Kaji kebutuhan tenaga perawat, minta perawat lain membantu jika
perlu
5) Cuci tangan dan siapkan alat
7. Cara kerja
1) Berikan salam, perkenalkan nama dan tanggung jawab perawat
2) Jelaskan prosedur, tujuan dan lamanya tindakan pada keluarga
Berikan kesempatan keluarga untuk bertanya
3) Berikan petunjuk alternatif komunikasi jika keluarga merasa tidak
nyaman dengan prosedur yang dilakukan
4) Jaga privasi pasien
5) Cuci tangan dengan air mengalir dan keringkan tangan dengan handuk
6) Siapkan box dengan penutup plastik dibawahnya untuk menghindari
cedera apabila lampu pecah
7) Hangatkan ruangan box dengan menyalakan lampu sehingga suhu
dibawah sinar lampu hingga suhu 28-30C̊
8) Nyalakan lampu dan pastikan semua lampu fluorense menyala
9) Ganti tabung lampu yang sudah terbakar, pemakaian 2000 jam atau 3
bulan walaupun lampu masih bekerja
10) Pasang sprei putih/alas kasur pada pelbet, tempat tidur bayi atau
incubator dan letakkan tirai putih disekitarnya untuk memantulkan
kembali sinar ke bayi sebanyak mungkin
11) Letakkan bayi dibawah sinar fototerapi
12) Cahaya diberikan pada jarak 35-50 cm di atas bayi.
13) Jika berat bayi diatas 2 kg, letakkan bayi telanjang
14) Tutupi mata bayi dengan penutup mata
15) Ubah posisi bayi setiap 3 jam
16) Pastikan bayi juga diberi makan/minum
17) Ukur suhu bayi, bila lebih dari 37.5C̊ hentikan sementara
18) Cek kadar billirubin setelah 12 jam
19) Hentikan bila selama 3 hari billirubin tidak terukur
20) Rapikan alat
21) Cuci tangan
8. Evaluasi
1) Evaluasi respon klien
2) Berikan reinforcement positif
3) Lakukan kontak untuk tindakan selanjutnya
4) Akhiri pertemuan dengan cara yang baik
9. Dokumentasi
1) Catat tindakan yang sudah dilakukan, tanggal dan jam pelaksanaan ada
catatan keperawatan
2) Catat respon klien dan hasil pemeriksaan
3) Dokumentasikan evaluasi tindakan: SOAP
DAFTAR PUSTAKA
Surasmi, Asrining. dkk. 2003. “Perawatan bayi resiko tinggi”. Jakarta : ECG

Santiari, Dewa.A.S, dkk. 2018. Kajian Area Penyinaran Dan Nilai Intensitas
Pada Peralatan Blue Light Therapy. Majalah Ilmiah teknologi Elektro.
17 (2) 279-286.

https://docplayer.info/74058007-Modul-fototerapi-pada-bayinsa419-materi-
fototerapi-pada-bayi-disusun-oleh-ns-widia-sari-m-kepuniversitas-esa-
unggul-tahun-2018.html

https://kupdf.net/download/sopfototerapi_5c78f4aee2b6f55301ed9e0e_pdf
(online)