Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

“KESEHATAN BANK”

Disusun Guna Memenuhi


Tugas Mata Kuliah Lembaga Keuangan

Dosen Pembimbing:
Reza Kurnia Sekedang., SE.,M.Si

Disusun Oleh:
INDAH PRIMA HIDAYATI
200522083

KELAS: S1 AKUNTANSI EKSTENSI A

PROGRAM STUDI AKUNTANSI EKSTENSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
TA. 2021-2022
Daftar Isi

Daftar Isi ................................................................................................................ i

BAB 1 DEFINISI KESEHATAN BANK .................................................1


1.1 Pengertian Bank Kesehatan .............................................................................1

BAB 2 ATURAN KESEHATAN BANK DARI BI DAN KEMENKEU .............2


2.1 Aturan Kesehatan Bank ...................................................................................2

BAB 3 PENYALURAN KREDIT BANK .........................................................3


3.1 Prinsip Kegiatan Bank Dalam Menyalurkan Perkreditan ...............................3

BAB 4 JENIS MODAL DAN RESIO KECUKUPAN MODAL .....................5


4.1 Jenis Modal......................................................................................................5
4.2 Rasio Kecukupan Modal .................................................................................6
4.3 Fungsi Rasio Kecukupan Modal .....................................................................6
4.4 Faktor Yang Mempengaruhi Rasio Kecukupan Modal ...................................7

DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................9

i
BAB 1
DEFINISI KESEHATAN BANK

1.1 Pengertian Kesehatan Bank


Kesehatan bank diartikan sebagai kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan
operasional perbankan secara normal dan mampu memenuhi semua kewajibannya dengan
baik dengan cara-cara yang sesuai dengan peraturan perbankan yang berlaku. Pengertian
tentang kesehatan bank tersebut merupakan suatu batasan yang sangat luas, karena
kesehatan bank memang mencakup kesehatan suatu bank untuk melaksanakan seluruh
kegiatan usah perbankannya. Kegiatan tersebut mencakup :
a. Kemampuan menghimpun dana dari masyarakat, dari lembaga lain, dan dari modal
sendiri.
b. Kemampuan mengelola dana.
c. Kemampuan untuk menyalurkan dana ke masyarakat, karyawan, pemilik modal, dan
pihak lain.
d. Pemenuhan peraturan perbankan yang berlaku.
Menurut Bank Of Settlement, bank dapat dikatakan sehat apabila bank tersebut dapat
melaksanakan control terhadap aspek modal, aktiva, rentabilitas, manajemen dan aspek
likuiditasnya. Pengertian kesehatan bank menurut Bank Indonesia sesuai dengan Undang-
undang RI No. 7 Tahun 1992 Tentang perbankan Pasal 29 adalah Bank dikatakan sehat
apabila bank tersebut memenuhi ketentuan kesehatan bank dengan memperhatikan aspek
Permodalan, Kualitas Aset, Kualitas Manajemen, Kualitas Rentabilitas, Likuiditas, Solv-
abilitas dan aspek lain berhubungan dengan usaha bank.

1
BAB 2
ATURAN KESEHATAN BANK DARI BI DAN KEMENKEU

2.1 Aturan Kesehatan Bank


Berdasarkan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-un-
dang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, pembinaan dan pengawasan bank dilakukan
oleh Bank Indonesia. Undang-undang tersebut lebih lanjut menetapkan bahwa :
a. Bank wajib memelihara tingkat kesehatan bank sesuai dengan ketentuan kecukupan
modal, kualitas aset, kualitas manajemen, likuditas, rentabilitas, dan aspek-aspek lain
yang berhubungan dengan usaha bank, dan wajib melakukan kegiatan usaha sesuai
dengan prinsip kehati-hatian.
b. Dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah dan
melakukan kegiatan usaha lainnya, bank wajib menempuh cara-cara yang tidak meru-
gikan bank dan kepentingan nasabah yang mempercayakan dananya kepada bank.
c. Bank wajib menyampaikan kepada Bank Indonesia segala keterangan, dan penjelasan
mengenai usahanya menurut tata cara yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
d. Bank atas permintaan Bank Indonesia wajib memberikan kesempatan bagi pemerik-
saan buku-buku dan berkas-berkas yang ada padanya, serta wajib memberikan bantuan
yang diperlukan dalam rangka memperoleh kebenaran dari segala keterangan, doku-
men, dan penjelasan yang dilaporkan oleh bank yang bersangkutan.
e. Bank Indonesia melakukan pemeriksaan terhaap bank, baik secara berkala maupun se-
tiap waktu apabila diperlukan.
f. Bank wajib menyampaikan kepada Bank Indonesia neraca, perhitungan laba rugi ta-
hunan dan penjelasannya, serta laporan berkala lainnya, dalam waktu dan bentuk yang
ditetapkan oleBank Indonesia.
g. Bank wajib mengumumkan neraca perhitungan neraca dan perhitungan laba rugi da-
lam waktu dan bentuk yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
Sesuai Lampiran dari Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/23/DPNP Tanggal 31
Mei 2004 kepada semua bank umum yang melaksanakan kegiatan usaha secara kon-
vensional perihal setiap penilaian tingkat kesehatan bank umum.

2
BAB 3
PENYALURAN KREDIT BANK

3.1 Prinsip Kegiatan Bank Dalam Menyalurkan Perkreditan


Sebelum suatu fasilitas kredit di berikan maka bank harus merasa yakin bahwa kredit yang
di berikan benar-benar akan kembali. Keyakinan tersebut di peroleh dari hasil penilaian
kredit sebelum kredit tersebut di salurkan. Penilaian kredit oleh bank dapat dilakukan
dengan berbagai cara untuk mendapatkan keyakinan tentang nasabahnya, seperti melalui
prosedur penilaian yang benar. Dalam melakukan penilaian kriteria-kriteria serta aspek
penilaiannya tetap sama. Begitu pula dengan ukuran-ukuran yang di tetapkan sudah men-
jadi standar penilaian setiap bank. Biasanya kriteria penilaian yang harus dilakukan oleh
bank untuk mendapatkan keuntungan dilakukan dengan analisis 6C dan 7P.
Adapun penjelasan untuk analisis dengan 6C kredit adalah sebagai berikut:
a. Character Suatu keyakinan bahwa, sifat atau watak dari orang-orang yang akan di beri-
kan kredit benar-benar dapat di percaya, hal ini tercemin dari latar belakang si nasabah
baik yang berlatar belakang pekerjaan maupun yang bersifat pribadi seperti cara hidup
atau gaya hidup yang di anutnya, keadaan keluarga, hoby dan social standingnya. Ini
semua merupakan ukuran kemauan membayar.
b. Capacity Untuk melihat nasabah dalam kemampuannya dalam bidang yang di hub-
ungkan dengan pendidikannya, kemampuan bisnis juga di ukur dengan kemampu-
annya dalam memahami tentang ketentuan-ketentuan pemerintah. Begitu pula dengan
kemampuan dalam menjalankan usahanya selama ini. Pada akhirnya akan terlihat ke-
mampuannya dalam mengembalikan dana.
c. Capital Untuk melihat penggunaan modal apakah efektif, dilihat dari laporan keuangan
(neraca dan laporan rugi laba) dengan melakukan pengukuran seperti dari segi likuidi-
tas, solvabilitas rentabilitas dan ukuran lainnya.
d. Colleteral Merupakan jaminan yang di berikan calon nasabah bank yang bersifat fisik
maupun non fisik. Jaminan hendaknya melebihi jumlah kredit yang di berikan.
e. Condition Dalam menilai kredit hendaknya juga dinilai kondisi ekonomi dan politik
sekarang dan di masa yang akan datang sesuai sektor masing-masing, serta prospek
usaha dari sektor yang ia jalankan. Penilaian prospek bidang usaha yang di biayai hen-
daknya benar-benar memiliki prospek yang baik, sehingga kemungkinan kredit terse-
but bermasalah relatif kecil.

3
f. Competence Kepastian tentang siapa dari pihak calon debitur yang secara hukum
mempunyai kewenangan untuk meminjam dari bank, diperlukan untuk menghindari
kemungkinan debitur menolak mengembalikan kredit.

Kemudian penilaian kredit dengan metode analis 7P adalah sebagai berikut :


a. Personality Yaitu menilai nasabah dari segi kepribadiannya atau tingkah lakunya
seharihari mupun masa lalunya. Personality juga mencakup sikap, tingkah laku dan
tindakan nasabah dalam menghadapi suatu masalah.
b. Party Yaitu mengklasifikasikan nasabah ke dalam klasifikasi tertentu atau golon-
gangolongan tertentu berdasarkan modal, loyalitas serta karakternya. Sehingga na-
sabah dapat di golongkan ke golongan tertentu dan akan mendapatkan fasilitas
yang berbeda dari bank.
c. Purpose Yaitu untuk mengetahui tujuan nasabah dalam mengambil kredit, terma-
suk jenis kredit yang di inginkan nasabah. Tujuan pengambilan kredit dapat ber-
macammacam. Sebagai contoh apabila untuk modal kerja atau investasi, konsumtif
atau produktif dan lain sebagainya.
d. Prospect Yaitu untuk menilai usaha nasabah di masa yang akan datang
menguntungkan atau tidak, dengan kata lain mempunyai prospek atau sebaliknya.
Hal ini penting mengingat jika suatu fasilitas kredit yang di biayai tanpa mempu-
nyai prospek, bukan hanya bank yang rugi akan tetapi juga nasabah.
e. Payment Merupakan ukuran bagaimana cara nasabah mengembalikan kredit yang
telah di ambil atau dari sumber mana saja dana untuk pengembalian kredit. Se-
makin banyak sumber penghasilan nasabah maka akan semakin baik. Sehingga jika
salah satu usahanya merugi akan dapat di tutupi oleh sektor lain.
f. Profitability Untuk menganalisis bagaimana kemampuan nasabah dalam mencari
laba, Profitability di ukur dari period ke period apakah akan tetap sama atau akan
semakin meningkat, apalagi dengan tambahan kredit yang akan di perolehnya.
g. Protection Tujuannya adalah bagaimana menjaga agar usaha dan jaminan
mendapatkan perlindungan. Perlindungan dapat berupa jaminan barang atau orang.
Contohnya seperti sertifikat, dan surat berharga lainnya.
Hubungan antara bank dan nasabah didasarkan pada dua unsur yang paling terkait, yaitu
hukum dan kepercayaan. Suatu bank hanya bisa melakukan kegiatan dan mengem-
bangkan banknya, apabila masyarakat percaya untuk menempatkan uangnya, pada
produk-produk perbankan yang ada pada bank tersebut. Berdasarkan kepercayaan
masyarakat tersebut, bank dapat memobilisir dana dari masyarakat, untuk ditempatkan
pada banknya dan bank memberikan jasa-jasa perbankan.
4
BAB 4
JENIS MODAL DAN RASIO KECUKUPAN MODAL

4.1 Jenis Modal


Menurut Susilo (2000), berdasarkan ketentuan yang dibuat Bank Indonesia dalam rangka
tata cara penilaian tingkat kesehatan bank, terdapat ketentuan bahwa modal bank terdiri
atas modal inti dan modal pelengkap, adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
a. Modal inti adalah jenis modal yang terdapat dalam komponen modal dan merupakan
bagian terpenting dalam bank. Apabila terdapat goodwill maka perhitungan atas jumlah
seluruh modal inti harus dikurangi dengan goodwill tersebut. Adapun jenis-jenis modal
inti adalah sebagai berikut:
1. Modal Disetor, yaitu modal yang telah disetor secara efektif oleh pemiliknya.
2. Agio Saham, yaitu selisih lebih setoran yang diterima oleh bank akibat harga saham
yang melebihi nilai nominal.
3. Modal Sumbangan, yaitu modal yang diperoleh dari sumbangan-sumbangan saham,
termasuk selisih antara nilai yang tercatat dengan harga jual apabila saham tersebut
dijual.
4. Cadangan umum, yaitu cadangan dari penyisihan laba yang ditahan atau dari laba
bersih setelah dikurangi pajak, dan mendapat persetujuan rapat anggota sesuai
dengan ketentuan pendirian atau anggaran masing-masing bank.
5. Cadangan tujuan, yaitu bagian laba setelah dikurangi pajak yang disisihkan untuk
tujuan tertentu dan telah mendapat persetujuan rapat umum pemegang saham atau
rapat anggota.
6. Laba yang ditahan, yaitu saldo laba bersih setelah dikurangi pajak yang oleh RUPS
atau rapat anggota diputuskan untuk tidak dibagikan.
7. Laba tahun lalu, yaitu seluruh laba bersih tahun lalu setelah diperhitungkan pajak
dan belum ditetapkan penggunaannya.
8. Laba tahun berjalan, yaitu 50 persen dari laba tahun buku berjalan dikurangi pajak.
Apabila tahun berjalan bank mengalami kerugian, maka seluruh kerugian tersebut
menjadi faktor pengurang dari modal inti.

b. Modal pelengkap adalah modal yang terdiri dari cadangan-cadangan yang dibentuk
5
tidak dari laba setelah pajak, serta pinjaman yang sifatnya dapat dipersamakan dengan
modal. Adapun jenis-jenis modal pelengkap adalah sebagai berikut:
1. Cadangan revaluasi aktiva tetap, yaitu cadangan yang dibentuk dari selisih
penilaian kembali aktiva tetap yang telah mendapat persetujuan Direktorat Jenderal
Pajak.
2. Penyisihan penghasilan aktiva produktif, yaitu cadangan yang dibentuk dengan cara
membebani laba rugi tahun berjalan. Cadangan ini dibentuk untuk menampung ke-
rugian yang mungkin timbul akibat tidak diterimanya kembali sebagian atau seluruh
aktiva produktif. Penyisihan penghapusan aktiva produktif yang dapat diperhi-
tungkan sebagai modal pelengkap adalah maksimum 25% dari ATMR.
3. Modal Kuasi, yaitu modal yang didukung oleh instrumen atau warkat yang memliki
sifat seperti modal.
4. Pinjaman subordinasi, yaitu pinjaman yang harus memenuhi berbagai syarat, sep-
erti ada perjanjian tertulis antara bank dan pemberi pinjaman mendapat persetujuan
dari Bank Indonesia, minimal berjangka lima tahun dan pelunasan sebelum jatuh
tempo, harus ada Bank Indonesia.

4.2 Rasio Kecukupan Modal


Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio yang menunjuk-
kan kemampuan bank dalam mempertahankan modal yang ada untuk menutup kemung-
kinan kerugian dalam perkreditan, penyertaan, surat berharga, dan tagihan pada bank lain.
CAR merupakan proporsi tertentu dari total Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR)
yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, mengawasi, dan mengontrol risiko-
risiko yang timbul yang dapat berpengaruh terhadap besarnya modal bank. Penyediaan
modal minimum yang ditetapkan oleh pemerintah dalam penilaian kesehatan bank ini beru-
bah-ubah sesuai dengan tingkat keperluan yang dianggap paling tepat. Pada prinsipnya,
tingkat CAR ini disesuaikan dengan ketentuan CAR yang berlaku secara internasional yaitu
sesuai dengan standar yang dikeluarkan oleh Bank for International Settlement (BIS). Pen-
ingkatan CAR ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja dan untuk memastikan prinsip ke-
hati-hatian perbankan senantiasa terjamin.

4.3 Fungsi Rasio Kecukupan Modal


Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan salah satu indikator kesehatan permodalan
bank, untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang

6
mengandung atau menghasilkan risiko misalnya pembiayaan yang diberikan. Penilaian per-
modalan merupakan penilaian terhadap terhadap kecukupan modal bank untuk mengover
risiko saat ini dan mengantisipasi risiko dimasa mendatang.
Capital Adequacy Ratio (CAR) menunjukkan seberapa besar modal bank telah memadai
kebutuhannya dan sebagai dasar untuk menilai prospek kelanjutan usaha bank bersangku-
tan. Semakin besar Capital Adequacy Ratio maka akan semakin besar daya tahan bank yang
bersangkutan dalam menghadapi penyusutan nilai harta bank yang timbul karena adanya
harta bermasalah.

Capital Adequacy Ratio (CAR) dapat dihitung dengan menggunakan rumus atau formula
sebagai berikut:

Keterangan:
Modal = Modal Inti + Modal Pelengkap
ATMR = Neraca Aktiva + Neraca Administrasi

4.4 Faktor Yang Mempengaruhi Rasio Kecukupan Modal


Menurut Rivai (2007), faktor-faktor yang mempengaruhi kecukupan modal atau Capital
Adequacy Ratio (CAR) adalah sebagai berikut:
1. Jenis aktiva serta besarnya risiko yang melekat padanya. Meliputi aktiva yang tercan-
tum dalam neraca maupun aktiva yang bersifat administratif (tidak tercantum dalam
neraca). Terhadap masing-masing pos dalam aktiva diberikan bobot risiko yang
besarnya didasarkan pada kadar risiko yang terkandung pada aktiva itu.
2. Kualitas aktiva atau tingkat kolektibilitasnya. Guna memperhitungkan kualitas dari
masing-masing aktiva agar diketahui seberapa besar kemungkinan diterima kembali
dana yang ditanamkan pada aktiva tersebut.
3. Total aktiva suatu bank. Semakin besar aktiva semakin bertambah pula risikonya. Jadi
bank yang memiliki aktiva yang besar tidak menjamin masa depan dari bank tersebut,
karena aktiva-aktiva telah memiliki bobot risiko masing-masing.

Adapun hal-hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan atau memperbaiki posisi
kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah sebagai berikut:
1. Memperkecil komitmen pinjaman yang tidak dipergunakan.
2. Pinjaman yang diberikan lebih dibatasi dan diseleksi sehingga risiko semakin berku-
rang.
7
3. Fasilitas Bank guarantee yang hanya memperoleh hasil pendapatan berupa posisi yang
relatif kecil namun dengan risiko yang sama besarnya dengan pinjaman yang ada
baiknya dibatasi.
4. Komitmen letter of credit (L/C) bagi bank devisa yang belum benar-benar memperoleh
kepastian dan penanggungannya atau tidak dapat dimanfaatkan secara efisien
sebaiknya juga dibatasi.
5. Penyertaan yang mempunyai risiko 100% perlu ditinjau kembali apakah bermanfaat
atau tidak.
6. Posisi aktiva-aktiva dan inventaris diusahakan agar tidak berlebihan dan jangan hanya
sekedar memenuhi kelayakan.
7. Menambah dan memperbaiki posisi modal dengan cara setoran tunai, go public, dan
pinjaman subordinasi jangka panjang dari pemegang saham.

8
DAFTAR PUSTAKA

Kajianpustaka.com. 2020. Rasio Kecukupan Modal / Capital Adequacy Ratio (CAR).


https://www.kajianpustaka.com/2020/12/rasio-kecukupan-modal-capital-adequcy-ratio-
car.html. (diakses pada 10 September 2021).

Stie.igi.ac.id. 2020. Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya. https://stie-igi.ac.id/wp-


content/uploads/2020/06/XI-Bank-dan-Lembaga-Keuangan-Lainnya.pdf (diakses pada 10
September 2021).

http://repository.radenfatah.ac.id/7012/2/Skripsi%20BAB%20II.pdf

Anda mungkin juga menyukai