Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN

KEBUTUHAN DASAR MANUSIA MOBILISASI


Didusun Guna Memenuhi Tugas Keperawatan Dasar Profesi
Dosen pembimbing : Eka Budiarto, M. Kep., Ns., Sp. Kep. Jiwa

Disusun oleh :
Yogie Prasethya Al Hakim
NIM. 202102040042

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN
PEKALONGAN
2021
1. Pengertian
Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas,
mudah dan teratur yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehat.
Mobilisasi diperlukan untuk meningkatkan kesehatan, memperlambat proses
penyakit khususnya penyakit degeneratif dan untuk aktualisasi. Mobilisasi
menyebabkan perbaikan sirkulasi, membuat napas dalam dan menstimulasi
kembali fungsi gastrointestinal normal, dorong untuk menggerakkan kaki dan
tungkai bawah sesegera mungkin, biasanya dalam waktu 12 jam (Mubarak,
2008 dalam Brata, 2017). Manfaat dari gerakan tubuh antara lain, tubuh
menjadi segar, memperbaiki tonus otot, mengontrol berat badan, merangsang
peredaran darah, mengurangi stres, meningkatkan relaksasi, memperlambat
proses penyakit (penyakit degeneratif), untuk aktualisasi diri (harga diri dan
citra tubuh), sedang untuk anak merangsang pertumbuhan (Kasiati dan Ni
Wayan, 2016).
Imobilisasi adalah suatu kondisi yang relatif, dimana individu tidak
saja kehilangan kemampuan geraknya secara total, tetapi juga mengalami
penurunan aktifitas dari kebiasaan normalnya (Mubarak, 2008 dalam Brata,
2017). Gangguan mobilitas fisik (immobilisasi) didefinisikan oleh North
American Nursing  Diagnosis Association (NANDA) sebagai suatu kedaaan
dimana individu yang mengalami atau beresiko mengalami keterbatasan
gerakan fisik. Individu yang mengalami atau beresiko mengalami
keterbatasan gerakan fisik antara lain : lansia, individu dengan penyakit yang
mengalami penurunan kesadaran lebih dari 3 hari atau lebih, individu yang
kehilangan fungsi anatomi akibat perubahan fisiologi (kehilangan fungsi
motorik, klien dengan stroke, klien penggunaa kursi roda), penggunaan alat
eksternal (seperti gips atau traksi), dan pembatasan gerakan volunteer (Potter,
2005 dalam Brata, 2017).
2. Tinjauan Anatomi
a. Tulang
Tulang merupakan organ yang memiliki berbagai fungsi, yaitu fungsi
mekanis untuk membentuk rangka dan tempat melekatnya berbagai otot,
fungsi sebagai tempat penyimpanan mineral khususnya kalsium dan fosfor
yang bisa dilepaskan setup saat susuai kebutuhan, fungsi tempat sumsum
tulang dalam membentuk sel darah, dan fungsi pelindung organ-organ
dalam. Terdapat tiga jenis tulang, yaitu tulang pipih seperti tulang kepala
dan pelvis, tulang kuboid seperti tulang vertebrata dan tulang tarsalia, dan
tulang panjang seperti tulang femur dan tibia. Tulang panjang umumnya
berbentuk lebar pada kedua ujung dan menyempit di tengah. Bagian ujung
tulang panjang dilapisi kartilago dan secara anatomis terdiri dari epifisis,
metafisis, dan diafisis. Epifisis dan metafisis terdapat pada kedua ujung
tulang dan terpisah dan lebih elastic pada masa anak-anak serta akan
menyatu pada masa dewasa.
b. Otot dan Tendon
Otot memiliki kemampuan berkontraksi yang memungkinkan tubuh
bergerak sesuai dengan keinginan. Otot memiliki origo dan insersi tulang,
serta dihubungkan dengan tulang melalui tendon yang bersangkutan,
sehingga diperlukan penyambungan atau jahitan agar dapat berfungsi
kembali.
c. Ligamen
Ligamen merupakan bagian yang menghubungkan tulang dengan tulang.
Ligament bersifat elastic sehingga membantu fleksibilitas sendi dan
mendukung sendi. Ligamen pada lutut merupakan struktur penjaga
stabilitas, oleh karena itu jika terputus akan mengakibatkan
ketidakstabilan.
d. Sistem saraf terdiri atas sistem saraf pusat (otak dan modula spinalis) dan
sistem saraf tepi (percabangan dari sistem saraf pusat). Setiap saraf
memiliki somatic dan otonom. Bagian somatic memiliki fungsi sensorik
dan motorik. Terjadinya kerusakan pada sistem saraf pusat seperti pada
fraktur tulang belakang dapat menyebabkan kelemahan secara umum,
sedangkan kerusakan saraf tepi dapat mengakibatkan terganggunya daerah
yang diinervisi, dan kerusakan pada saraf radial akan mengakibatkan drop
hand atau gangguan sensorik pada daerah radial tangan.
 
e. Sendi
Sendi merupakan tempat dua atau lebih ujung tulang bertemu. Sendi
membuat segmentasi dari rangka tubuh dan memungkinkan gerakan antar
segmen dan berbagai derajat pertumbuhan tulang. Terdapat beberapa jenis
sendi, misalnya sendi synovial yang merupakan sendi kedua ujung tulang
berhadapan dilapisi oleh kartilago artikuler, ruang sendinya tertutup kapsul
sendi dan berisi cairan synovial. Selain itu, terdapat pula sendi bahu, sendi
panggul, lutut, dan jenis sendi lain sepertii sindesmosis, sinkondrosis dan
simpisis.
3. Manisfestasi Klinik
a. Tidak mampu bergerak atau beraktifitas sesuai kebutuhan.
b. Keterbatasan menggerakan sendi.
c. Adanya kerusakan aktivitas.
d. Penurunan ADL dibantu orang lain.
e. Malas untuk bergerak atau mobilitas
4. Patofisiologi
Mobilisasi sangat dipengaruhi oleh sistem neuromuskular, meliputi
sistem otot, skeletal, sendi, ligament, tendon, kartilago, dan saraf. Otot
Skeletal mengatur gerakan tulang karena adanya kemampuan otot
berkontraksi dan relaksasi yang bekerja sebagai sistem pengungkit. Ada dua
tipe kontraksi otot yaitu isotonik dan isometrik. Pada kontraksi isotonik,
peningkatan tekanan otot menyebabkan otot memendek. Kontraksi isometrik
menyebabkan peningkatan tekanan otot atau kerja otot tetapi tidak ada
pemendekan atau gerakan aktif dari otot, misalnya menganjurkan klien untuk
latihan kuadrisep. Gerakan volunter adalah kombinasi dari kontraksi isotonik
dan isometrik. Meskipun kontraksi isometrik tidak menyebabkan otot
memendek, namun pemakaian energi meningkat. Perawat harus mengenal
adanya peningkatan energi (peningkatan kecepatan pernafasan, fluktuasi
irama jantung, tekanan darah) karena latihan isometrik. Hal ini menjadi
kontra indikasi pada klien yang sakit (infark miokard atau penyakit obstruksi
paru kronik). Postur dan Gerakan Otot merefleksikan kepribadian dan
suasana hati seseorang dan tergantung pada ukuran skeletal dan
perkembangan otot skeletal. Koordinasi dan pengaturan dari kelompok otot
tergantung dari tonus otot dan aktifitas dari otot yang berlawanan, sinergis,
dan otot yang melawan gravitasi. Tonus otot adalah suatu keadaan tegangan
otot yang seimbang. Ketegangan dapat dipertahankan dengan adanya
kontraksi dan relaksasi yang bergantian melalui kerja otot. Tonus otot
mempertahankan posisi fungsional tubuh dan mendukung kembalinya aliran
darah ke jantung. Immobilisasi menyebabkan aktifitas dan tonus otot menjadi
berkurang. Skeletal adalah rangka pendukung tubuh dan terdiri dari empat
tipe tulang: panjang, pendek, pipih, dan ireguler (tidak beraturan). Sistem
skeletal berfungsi dalam pergerakan, melindungi organ vital, membantu
mengatur keseimbangan kalsium, berperan dalam pembentukan sel darah
merah.
5. Etiologi
Penyebab utama imobilisasi adalah adanya rasa nyeri, lemah, kekakuan otot,
ketidakseimbangan, dan masalah psikologis. Osteoartritis merupakan
penyebab utama kekakuan pada usia lanjut. Gangguan fungsi kognitif berat
seperti pada demensia dan gangguan fungsi mental seperti pada depresi juga
menyebabkan imobilisasi. Kekhawatiran keluarga yang berlebihan dapat
menyebabkan orangusia lanjut terus menerus berbaring di tempat tidur baik di
rumah maupun dirumah sakit.
Penyebab secara umum:
a. Kelainan postur
b. Gangguan perkembangan otot
c. Kerusakan system saraf pusat
d. Trauma lanngsung pada system mukuloskeletal dan neuromuscular
e. Kekakuan otot (Rizky, 2013 dalam Zanuri, 2018).

6. Faktor Yang Mempengaruhi


Mobilitas seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya :
a. Gaya hidup dapat mempengaruhi mobilitas seseorang karena berdampak
pada kebiasaan atau perilaku sehiari-hari.
b. Proses penyakit atau cedera. Hal ini dapat mempengaruhi mobilitas karena
dapat berpengaruh pada fungsi sistem tubuh. Seperti, orang yang
menderita fraktur femur akan mengalami keterbatasan pergerakan dalam
ekstremitas bagian bawah.
c. Kebudayaan. orang yang memiliki budaya sering berjalan jauh memiliki
kemampuan mobiltas yang kuat. Begitu juga sebagliknya, ada orang yang
mengalami gangguan mobilitas (sakit) karena adat dan budaya yang
dilarang untuk beraktivitas.
d. Tingkat energi. Untuk melakukan mobilitas diperlukan energy yang cukup.
e. Usia dan Status perkembangan. Terdapat kemampuan mobilitas pada
tingkat usia yang berbeda.

7. Pemeiksaan Penunjang.
a. Sinar X tulang menggambarkan kepadatan tulang, tekstur dan perbuatan
perhubungan tulang.
b. Laboratorium.
c. Darah rutin, factor pembekuan darah golongan darah crostet dan analisa.
d. Radiologis

8. Komplikasi.
a. Perubahan metabolik.
b. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
c. Gangguan pengubahan zat gizi.
d. Gangguan fungsi gastrointestinal.
e. Gangguan sistem pernafasan.
f. Perubahan kardiovaskuler.
g. Perubahan sistem muskuloskeletal.
h. Perubahan sistem integumen
i. Perubahan eliminasi.
j. Perubahan perilaku.
9. Penatalaksanaan
a. Body Mekanik Penggunaan organ secara efisien dan efektif sesuai dengan
fungsinya, meliputi:
1) Body Alighment (postur)
2) Postur yang baik yaitu menggunakan otot dan rangka secra
benar,misalnya padaposisi duduk,berdiri dan lain-lain.
3) Keseimbangan
Keseimbangan keadaan postur tubuh merupakan kesesuaian antara
garis sumbu dengan sentralnya (gravitasi).
4) Koordinasi Pergerakan Tubuh
5) Kemampuan tubuh dalam mempertahankan keseimbangan seperti
mengangkat benda.
b. Tindakan yang berhubungan dengan mobilitas dam ambulasi
1) Membantu klien untuk latihan ambulasi
2) Membantu merubah posisi
3) Memindahkan klien dan membantu untuk duduk
4) Melatih ROM exercise
5) Membatu klien turu dari tempat tidur dan berdiri.
c. Mencapai Kemandirian Penuhdalam Aktivitas Perawatan Diri.
10. Pengkajian Keperawatan
a. Pemeriksaan Fisik
Adanya deformitas dan kesejajaran. Pertumbuhan tulang yang abnormal
akibat tumor tulang. Pemendekan ekstremitas, amputasi dan bagian tubuh
yang tidak dalam kesejajaran anatomis. Angulasi abnormal pada tulang
panjang atau gerakan pada titik selain sendi biasanya menandakan adanya
patah tulang.
b. Mengkaji sistem persendian, luas gerakan dievaluasi baik aktif maupun
pasif, deformitas, stabilitas, dan adanya benjolan, adanya kekakuan sendi.
c. Mengkaji sistem otot, kemampuan mengubah posisi, kekuatan otot dan
koordinasi, dan ukuran masing-masing otot. Lingkar ekstremitas untuk
mementau adanya edema atau atropfi, nyeri otot.
d.  Mengkaji cara berjalan
Adanya gerakan yang tidak teratur dianggap tidak normal. Bila salah satu
ekstremitas lebih pendek dari yang lain. Berbagai kondisi neurologist
yang berhubungan dengan cara berjalan abnormal (mis.cara berjalan
spastic hemiparesis - stroke, cara berjalan selangkah-selangkah – penyakit
lower motor neuron, cara berjalan bergetar – penyakit Parkinson).
e. Mengkaji kulit dan sirkulasi perifer
Palpasi kulit dapat menunjukkan adanya suhu yang lebih panas atau lebih
dingin dari lainnya dan adanya edema. Sirkulasi perifer dievaluasi dengan
mengkaji denyut perifer, warna, suhu dan waktu pengisian kapiler.
f. Mengkaji kemampuan mobilitas
Tingkat aktivitas / mobilitas Kategori
Tingkat 0 Mampu merawat diri secara penuh
Tingkat 1 Memerlukan penggunaan alat
Tingkat 2 Memerlukan bantuan atau pengawasan orang
lain
Tingkat 3 Memerlukan bantuan, pengawasan dan
peralatan
Tingkat 4 Sangat tergantung atau tidak dapat
melakukan atau berpartisipasi dalam
perawatan

g. Mengkaji kekuatan otot pasien, tingkat kemandirian pasien dalam


melakukan aktivitas
Skala Ciri-ciri
0 Lumpuh total
1 Tidak ada gerakan, teraba/terlihat adanya kontraksi otot
2 Ada gerakan pada sendi tetapi tidak dapat melawan gravitasi ( hanya
bergeser)
3 Bisa melawan gravitasi tetapi tidak dapat menahan atau melawan
tahanan pemeriksa
4 Bisa bergerak melawan tahanan pemeriksa tetapi kekuatanya berkurang
5 Dapat melawan tahanan pemeriksa dengan kekuatan maksimal

11. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul


a. Hambatan mobilitas fisik
b. Nyeri akut
c. Intoleransi Aktivitas
12. Intervensi Keperawatan
Diagnosa Keperawatan Penjelasan Keilmuan Tujuan Intervensi Rasional
Gangguan Mobilitas Keterbatasan gerakan Setelah dilakukan tindakan - Identifikasi indikasi Menentukan tindakan
Fisik fisik dari satu atau lebih keperawatan diharapkan dilakukan latihan keperawatan yang tepat
ekstremitas secara mobilitas fisik pasien - Identifikasi
mandiri meningkat dengan kriteria keterbatasan
hasil: pergerakan
- Pergerakan ekstremitas - Monitor lokasi
meningkat ketidaknyamanan atau
- Kekuatan otot nyeri pada saat
meningkat bergerak
- ROM meningkat - Lakukan gerakan
- Kaku sendi menurun pasif desuai dengan Membantu meningkatkan
- Gerakan terbatas kebutuhan kekuatan otot
menurun - Jelaskan tujuan dan
prosedur latihan Agar pasien dapat memahami
- Anjurkan untuk dan melakukannya sendiri
melakukan rentang
gerak pasif dan aktif Mencegah terjadinya kekakuan
secara sistematis sendi yang lain
- Kolaborasi dengan
keluarga untuk Memanfaatkan keluarga dalam
memotivasi pasien proses penyembuhan
dalam kegiatan
rentang gerak
-
Nyeri akut Pengalaman sensorik Setelah dilakukan tindakan - Identifikasi lokasi, Menentukan tindakan
atau emosional yang keperawatan diharapkan karakteristik, durasi keperawatan yang tepat
berhubungan dengan nyeri pasien berkurang frekuensi, kualitas, skala
kerusakan jaringan dengan kriteria hasil : dan intensitas nyeri
actual atau fungsional - Identifikasi faktor yang Memberikan rasa nyaman dan
dengan onset mendadak - Melaporkan nyeri memperberat dan aman
atau lambat dan terkontrol meningkat memperingan nyeri
berintensitas ringan - Kemampuan mengenali - Berikan teknik non Memudahkan untuk
hingga berat yang onset nyeri meningkat farmakologis untuk meredakan nyeri secara tepat
berlangsung kurang dari - Kemampuan mengenali mengurangi rasa nyeri
3 bulan penyebab nyeri (kompres hangat,
Kemampuan menggunakan relaksasi napas dalam) Mengurangi rasa nyeri
teknik non-farmakologis - Fasilitasi istirahat dan
tidur
- Anjurkan memonitor nyeri
secara mandiri
- Jelaskan strategi
meredakan nyeri
- Kolaborasi pemberian
analgetik
Intoleransi Aktivitas Ketidakcukupan energi Setelah dilakukan tindakan - identifikasi gangguan Menentukan tindakan
fisiologis dan/atau keperawatan diharapkan fungsi tubuh yang keperawatan yang tepat
psikologis untuk aktivitas pasien toleran mengalami kelelahan
melakukan aktivitas dengan kriteria hasil : - monitor pola dan jam tidur
sehari-hari - Tekanan darah dalam - Lakukan latihan rentang
batas normal gerak pasif atau aktif Meningkatkan kekuatan otot
- Berjalan dengan langkah - Berikan aktivitas distraksi
yang efektif yang menenangkan
- Kaku pada persendian - Jelaskan jenis latihan yang
menurun sesuai dengan kondisi
- Keluhan kelelahan kesehatan Mencegah terjadinya cedera
menurun - Ajarkan teknik pernapasan saan latihan
yang tepat untuk
memaksimalkan Memaksimalkan kegiatan
penyerapan oksigen dengan baik
selama latihan fisik
- Anjurkan melakukan
aktivitas secara bertahap

13. Daftar Pustaka, Buku dan website (dengan referensi maksimal 10 tahun terakhir).
a. Brata, Ayu Tanu. (2017). Laporan Pendahuluan Mobilitas Fisik, diakses pada 5 Oktober 2020
<http://diyahmedharsih.blogspot.com/2017/04/laporan-pendahuluan-mobilitas-fisik.html >

b. Kasiati dan Ni Wayan Dwi Rosmalawati. (2016). Kebutuhan Dasar Manusia I. Jakarta : Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

c. Nursepreneurs. (2014). Kebutuhan Aktivitas (Mobilisasi), diakses pada 5 Oktober 2020,


<https://nursepreneursindonesia.wordpress.com/2014/08/28/kebutuhan-aktivitas-mobilisasi/ >

d. Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI),  Edisi 1. Jakarta: Persatuan Perawat
Indonesia

e. Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI),  Edisi 1. Jakarta: Persatuan Perawat Indonesia
f. Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI),  Edisi 1. Jakarta: Persatuan Perawat
Indonesia

g. Zanuri, Puput. (2018). Laporan Kebutuhan Dasar Manusia, diakses pada tanggal 5 Oktober 2020,
<http://puputzanuri.blogspot.com/2018/04/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html >

Anda mungkin juga menyukai