Anda di halaman 1dari 11

Psikoborneo, Vol 8, No 2, 2020:238-248 ISSN: 2477-2666/E-ISSN: 2477-2674

Hubungan Antara Efikasi Diri Dengan Kecemasan


Ita Purnamasari1

Program Studi Psikologi


Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Mulawarman Samarinda

ABSTRACT. This research aims to know the relation of self-efficacy with the anxiety of athletes SKOI
KALTIM in the face of the match. This research uses a quantitative approach. The subject in this research
was 60 athletes who were selected using the purposive sampling technique. The method of data collection
used is the self-efficacy scale and the anxiety scale with the Likert scale method. The collected Data is
analyzed by the correlation analysis test of the Kendall's tau-B program with the help of the Statistical
Package for Social Sciences (SPSS) 20.0 for Windows. The results showed that there was a negative
connection between self-efficacy and anxiety of the athlete of SKOI KALTIM in the face of the match with the
result value R =-0478 and P = 0.000 (P < 0.05). That shows both variables have moderate correlation. Thus,
the hypothesis in this study was received.

Keywords: self-efficacy, anxiety, athlete

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan efikasi diri dengan kecemasan atlet SKOI
KALTIM dalam menghadapi pertandingan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Subjek dalam
penelitian ini adalah 60 atlet yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Metode
pengumpulan data yang digunakan adalah skala efikasi diri dan skala kecemasan dengan metode skala likert.
Data yang terkumpul dianalisis dengan uji analisis korelasi program tau-B Kendall dengan bantuan Paket
Statistik untuk Ilmu Sosial (SPSS) 20.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat
hubungan negatif antara efikasi diri dengan kecemasan atlet SKOI KALTIM dalam menghadapi pertandingan
dengan nilai hasil R = -0478 dan P = 0,000 (P <0,05). Itu menunjukkan kedua variabel memiliki korelasi
sedang. Dengan demikian hipotesis dalam penelitian ini diterima.

Kata Kunci: kemanjuran diri, kecemasan, atlet

1
Email: itaps.cihihiro@gmail.com
238
Psikoborneo, Vol 8, No 2, 2020:238-248 ISSN: 2477-2666/E-ISSN: 2477-2674

PENDAHULUAN Seperti hasil penelitian dari Prasetya,


Supriyono, dan Ramil (2009) mengungkapkan
Sekolah Khusus Olahragawan Internasional
bahwa kecemasan berasal dari gangguan konsentrasi
(SKOI) Merupakan gagasan cemerlang Gubernur
dan perhatian yang kemudian memberi pengaruh
Kalimantan timur yaitu Bapak DR. H. Awang
pada gejala psikis lainnya seperti perubahan emosi
Faroek Ishak. Bapak Gubernur melihat Kaltim
yang bisa bedampak pada kondisi fisik atlet.
memiliki sarana prasarana olahraga eks PON XVII
Masalah kecemasan merupakan faktor yang
Kaltim yang lengkap serta bertaraf internasional,
sangat mempengaruhi dan berdampak pada performa
sehingga sayang bila fasilitas tersebut tidak
atlet di lapangan. Hal ini diperjelas oleh pendapat
dimanfaatkan. Sudah saatnya para atlet (terutama
Harsono (2011) yaitu: lapangan olahraga bisa penuh
calon-calon atlet) diatur untuk menggunakan
dengan kecemasan dan konflik-konflik, penuh
parameter tingkat dunia dalam mengukur pencapaian
dengan ketakutan-ketakutan dan bentrokan-
prestasi. Prestasi olahraga sangat ditentukan oleh
bentrokan mental. Hal yang jarang terjadi pada
penampilan atlet dalam suatu kompetisi. Penampilan
seorang atlet yaitu sebagai seorang juara dalam
puncak seseorang atlet 80 persen dipengaruhi oleh
bidangnya tidak jarang dapat mengontrol dan
aspek psikologi dan hanya 20 persen oleh aspek
menyesuaikan kondisi psikologisnya, kecemasannya
yang lainya, sehingga aspek psikologis harus
dan konflik-konfliknya dalam menghadapi suatu
dikelola dengan sengaja, sistematik dan berencana.
pertandingan. Jika pertandingan tersebut adalah
Akan tetapi, di Indonesia aspek psikologis belum
pertandingan yang menentukan adanya final, maka
banyak dipelajari (Gunarsa, 2008).
akan menjadi sangat sulit untuk menemui seorang
Salah satu aspek psikologis yang berkaitan erat
atlet yang dapat dikatakan telah mencapai maturitas
untuk menampilkan performa maksimal adalah
olahraganya yaitu kondisi dimana seorang atlet ada
aspek emosi. Gejelok emosi yang terlalu tinggi akan
pada puncak performanya yang dimana dalam
menyebabkan ketegangan emosi yang berlebih dan
kondisi tersebut atlet mampu mengeluarkan seluruh
seringkali berdampak negatif, salah satunya adalah
kemampuan terbaiknya saat bertanding tanpa
kecemasan (Ardianto, 2013). Kemampuan yang baik
dipengaruhi oleh kondisi mentalnya antara lain
atau buruk seorang atlet di lapangan akan
kecemasan (Sukadiyanto, 2012).
mempengaruhi keadaan psikologis atlet tersebut
Berdasarkan hasil penelitian awal yang
khususnya pada perasaan seperti kecemasan
dilakukan oleh peneliti untuk subjek seorang atlet di
(Verawati, 2013).
SKOI KALTIM, hasil menunjukan sebagai berikut :

Hasil Data
20 60 %
57 %
15
Tinggi
30 %
10
27 % Sedang
5 14 % 14 % Rendah

0
Kecemasan Efikasi Diri

Gambar 1. Grafik Distribusi Hasil Penelitian Awal Mengenai Kecemasan dan Efikasi Diri

Dari hasil data penelitian awal tersebut, bisa memungkinkan seorang atlet akan berfikir kalah
dikatakan bahwa kecemasan yang dialami oleh para sebelum bertanding. Dari sinilah efikasi diri sangat
atlet adalah kondisi yang tidak nyaman untuk dibutuhkan, karena rasa keyakinan akan kemampuan
seseorang melakukan sesuatu. Kecemasan dapat diri seperti efikasi diri merupakan hal penting untuk
diduga mempengaruhi efikasi diri seorang atlet pada meraih prestasi. Menurut Gufron dan Rinneite
pertandingan. Ketika efikasi diri atlet hilang, akan (2012) menjelaskan bahwa efikasi diri mengacu pada
239
Psikoborneo, Vol 8, No 2, 2020:238-248 ISSN: 2477-2666/E-ISSN: 2477-2674

keyakinan atau kemampuan individu untuk kecemasan, seperti menghindari situasi atau tanda
menggerakkan motivasi, kemampuan kognitif dan yang mengancam, melarikan diri, mencari
tindakan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan keselamatan, mondar-mandir, terlalu banyak
situasi. Masalah yang menjadi sumber kecemasan bicara, terpaku, diam, atau sulit berbicara.
dalam menghadapi masa depan berkaitan dengan Adapun menurut Rochman (2010)
masalah pendidikan, pekerjaan dan kehidupan mengemukakan beberapa faktor yang dapat
berkeluarga (Adriansyah, Rahayu dan Prastika, mempengaruhi kecemasan yaitu sebagai berikut :
2015). a. Rasa cemas yang timbul akibat melihat adanya
Terkait dengan kecemasan menghadapi bahaya yang mengancam dirinya. Kecemasan ini
pertandingan serta efikasi diri terhadap siswa SKOI, lebih dekat dengan rasa takut, karena sumbernya
maka diharuskan siap mental untuk menghadapi terlihat jelas di dalam pikiran.
pertandingan sehingga seluruh kemampuan jiwanya b. Cemas karena merasa berdosa atau bersalah,
baik akal, kemauan, dan perasaannya siap karena melakukan hal-hal yang berlawanan
menghadapi tugas-tugas dan menghadapi segala dengan keyakinan atau hati nurani. Kecemasan ini
kemungkinan. sering pula menyertai gejala-gejala gangguan
mental, yang kadang-kadang terlihat dalam
TINJAUAN PUSTAKA bentuk yang umum.
c. Kecemasan yang berupa penyakit dan terlihat
Kecemasan Menghadapi Pertandingan
Menurut Clark (2010) Kecemasan adalah dalam beberapa bentuk. Kecemasan ini
sebagai sistem respon kognitif, afektif, fisiologis, disebabkan oleh hal yang tidak jelas dan tidak
dan perilaku yang rumit dan aktif jika terdapat berhubungan dengan apapun yang terkadang
keadaan yang dianggap tidak menyenangkan karena disertai dengan perasaan takut yang
keadaan tersebut tidak terduga dan tak terkendali mempengaruhi keseluruan kepribadian
serta berpotensi mengancam kepentingan individu. penderitanya.
Aspek-aspek Kecemasan Clark (2010)
mengemukakan bahwa terdapat empat aspek dalam Efikasi Diri
kecemasan yaitu: Menurut Bandura (dalam Ghufron, 2014)
dalam efikasi diri adalah keyakinan seseorang
a. Aspek Afektif, ciri afektif dari kecemasan
mengenai kemampuan dirinya dalam melakukan
merupakan perasaan seseorang yang mengalami
tugas atau tindakan yang diperlukan untuk mencapai
kecemasan, seperti gugup, tersinggung, takut,
tegang, gelisah, tidak sabar, atau kecewa. hasil tertentu serta evaluasi kemampuan atau
b. Aspek Fisiologis, ciri fisiologis merupakan ciri
kompetensi diri individu untuk melakukan suatu
dari kecemasan yang terjadi di fisik seseorang tugas, mencapai tujuan, dan mengatasi hambatan.
Aspek-aspek Efikasi Diri Bandura (dalam
seperti peningkatan denyut jantung, sesak napas,
napas cepat, nyeri dada, sensasi tersedak, pusing, Ghufron, 2014) mengemukakan bahwa terdapat tiga
berkeringat, kepanasan, menggigil, mual, sakit aspek dalam efikasi diri yang dimiliki setiap individu
perut, diare, gemetar, kesemutan atau mati rasa di yang berbeda antara individu lainya, yaitu sebagai
lengan atau kaki, lemas, pingsan, otot tegang atau berikut:
kaku, dan mulut kering. a. Tingkat (leve)
c. Aspek Kognitif, ciri kognitif merupakan ciri yang
Aspek ini berkaitan dengan derajat kesulitan tugas
terjadi dalam pikiran seseorang saat merasakan ketika individu merasa mampu untuk
kecemasan. Ciri ini dapat berupa takut akan melakukannya. Apabila individu dihadapakan
kehilangan kontrol, takut tidak mampu mengatasi pada tugas-tugas yang disusun menurut tingkat
masalah, takut evaluasi negatif oleh orang lain, kesuitannya, maka efikasi diri individu mungkin
adanya pengalaman yang menakutkan, adanya akan terbatas pada tugas-tugas yang mudah,
persepsi tidak nyata, konsentrasi rendah, sedang, atau bahkan meliputi tugas-tugas yang
kebingungan, mudah terganggu, rendahnya paling sulit, sesuai dengan batas kemampuan
perhatian, kewaspadaan berlebih terhadap yang dirasakan untuk memenuhi tuntutan perilaku
ancaman, memori yang buruk, kesulitan dalam yang dibutuhkan pada masa masing-masing
penalaran, serta kehilangan objektivitas. tingkat.
d. Aspek Perilaku, ciri perilaku dari kecemasan
tercermin dari perilaku individu saat mengalami
240
Psikoborneo, Vol 8, No 2, 2020:238-248 ISSN: 2477-2666/E-ISSN: 2477-2674

b. Kekuatan (strength) dialami atau diamati individu. Pada kondisi


Aspek ini berkaitan dengan tingkat kekuatan dari tertekan dan kegagalan yang terus-menerus, akan
keyakinan atau pengharapan individu mengenai menurunkan kapasitas pengaruh sugesti dan
kemampuannya. Pengharapan yang lemah mudah lenyap disaat mengalami kegagalan yang tidak
digoyahkan oleh pengalaman-pengalaman yang menyenangkan.
tidak mendukung. Sebaliknya, pengharapan yang d. Kondisi fisik dan emosional
mantap mendorong individu tetap bertahan dalam Emosi yang kuat biasanya akan mengurangi
usahanya. performa, saat seseorang mengalami ketakutan
c. Generalisasi (generality) yang kuat, kecemasan akut, atau tingkat stress
Aspek ini berkaitan dengan luas bidang tingkah yang tinggi, kemungkinan akan mempunyai
laku yang mana individu merasa yakin akan ekspetasi efikasi yang rendah.
kemampuannya. Individu dapat merasa yakin
terhadap kemampuan dirinya, apakah terbatas METODE PENELITIAN
pada suatu aktivitas dan situasi tertentu atau pada
Jenis penelitian ini adalah kuantitatif. Populasi
serangkaian aktivitas dan situasi yang bervasiasi.
dalam penelitian ini adalah seluruh siswa atlet SKOI
Adapun faktor-faktor menurut Bandura (dalam
KALTIM di Samarinda, yang berjumlah 500 siswa
Jess Feist & Feist, 2010) yang dapat mempengaruhi
dan siswi atlet. Metode pengambilan sampel yang
efikasi diri yaitu sebagai berikut:
digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah
a. Pengalaman menguasai sesuatu (Mastery
metode purposive sampling yaitu teknik
Experience)
pengambilan sampel sumber data dengan
Pengalaman menguasai sesuatu yaitu performa
pertimbangan tertentu (sugiyono, 2015) peneliti
masa lalu. Secara umum performa yang berhasil
dilakukan dengan mengambil orang – orang yang
akan menaikan self-effcacy individu, sedangkan
telah dipilih oleh peneliti menurut ciri-ciri spesifik
pengalaman pada kegagalan akan menurunkan.
yang dimiliki oleh sampel yaitu sampel penelitian ini
Setelah self-effcacy kuat dan berkembang melalui
bercirikan sebagai berikut:
serangkain keberhasilan, dampak negatif dari
a. Siswa dan siswi atlet Sekolah Khusus Olahraga
kegagalan-kegagalan yang umum akan terkurangi
Internasional (SKOI) karena dari hasil screening
secara sendirinya. Bahkan kegagalan-kegagalan
yang khusus dari seluruh SMA atlet SKOI yang
tersebut dapat diatasai dengan memperkuat
telah mengikuti turnamen pertadingan didapatkan
motivasi diri apabila seseorang menemukan
hasil bahwa siswa dan siswi atlet memiliki
hambatan yang tersulit melalui usaha yang terus-
kecemasan mencapai 57% dari 30 siswa dan siswi
terusan.
atlet.
b. Modeling sosial
b. Peserta berusia 16 - 19 tahun karena pada periode
Pengamatan terhadap keberhasilan orang lain
ini seseorang melibatkan diri secara khusus dalam
dengan kemampuan yang sebanding dalam
berbagai bidang cabang olahraga yang sudah ia
mengerjakan suatu tugas akan meningkatkan self-
kuasai selama mengikuti turnamen pertandingan
effcacy individual dalam mengerjakan tugas yang
para atlet.
sama. Begitu pula sebaliknya, pengamatan
c. Peserta masih terdaftar sebagai siswa dan siswi
terhadap kegagalan orang lain akan menurunkan
aktif di SKOI KALTIM. (Rochman, 2010)
penilaian individu mengenai kemampuannya dan
beranggapan bahwa perasaan yang tidak menentu
individu akan mengurangi usaha yang
yaitu kecemasan pada umumnya tidak
dilakukannya.
menyenangkan yang pada nantinya akan
c. Perusasi sosial
menimbulkan munculnya perubahan fisiologis
Individu diarahkan berdasarkan saran, nasihat,
dan psikologis.
dan bimbingan sehingga dapat meningkatkan
d. Peserta diambil dari kelas II dan III SMA yaitu
keyakinannya tentang kemampuan-kemampuan
untuk kelas II – A berjumlah 22 siswa/siswi atlet,
yang dimiliki dapat membantu tercapainya tujuan
kelas II – B berjumlah 12 siswa/siswi atlet, kelas
yang diinginkan. Individu yang diyakinkan secara
III – A berjumlah 16 siswa/siswi atlet, dan kelas
verbal cenderung akan berusaha lebih keras untuk
III – B berjumlah 10 siswa/siswi atlet. Adapun
mencapai suatu keberhasilan. Namun pengaruh
berdasarkan teknik sampling tersebut, didapatkan
persuasi tidaklah terlalu besar, dikarenakan tidak
hasil bahwa sampel dalam penelitian ini
memberikan pengalaman yang dapat langsung

241
Psikoborneo, Vol 8, No 2, 2020:238-248 ISSN: 2477-2666/E-ISSN: 2477-2674

berjumlah 60 siswa dan siswi atlet SKOI


KALTIM.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Metode pengumpulan data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah skala psikologi. Selain Karakteristik Responden
sebagai alat ukur, skala psikologi memiliki Karakteristik responden penelitian ini disusun
karakteristik khusus yang membedakannya dari berdasarkan latar belakang jenis kelamin, usia, dan
berbagai bentuk instrument pengumpulan data yang tingkat bidang olahraga yang dikuasai pada Sekolah
lain seperti angket, daftar isian, inventori, dan lain- Khusus Olahraga Internasional (SKOI) KALTIM.
lainnya (Azwar Analisis data yang dilakukan untuk Jumlah siswa/siswi SKOI KALTIM yang dijadikan
pengolahan data penelitian adalah dengan subjek penelitian dalam penelitian ini yaitu 60
menggunakan analisis uji nonparametik Kendall’s siswa/siswi atlet. Adapun komposisi responden
tau-b. Keseluruhan teknik analisis data penelitian berikut:
menggunakan SPSS versi 21 forwindows., 2012).

Tabel 1. Komposisi Responden Menurut Jenis Kelamin


Jenis Kelamin Frekuensi (Orang) Presentase(%)
Laki-laki 43 71.7%
Perempuan 17 28.3%
Jumlah 60 100%

Berdasarkan tabel 1 diatas, dapat diketahui adalah pria yaitu sebanyak 43 siswa/siswi atlet atau
bahwa rata-rata jenis kelamin siswa/siswi atlet SKOI sekitar 71.7% persen dan wanita yaitu sebanyak 17
KALTIM yang menjadi sampel dalam penelitian ini siswa/siswi atlet atau sekitar 28.3% persen.

Tabel 2. Komposisi Responden Menurut Usia


Usia Frekuensi (Orang) Presentase(%)
16 tahun - 17 tahun 49 81,7%
18 tahun - 19 tahun 11 18,3%
Jumlah 100 100%

Berdasarkan tabel 2 diatas, dapat diketahui siswa/siswi atlet atau sekitar 81.7% persen dan usia
bahwa rata-rata usia siswa/siswi atlet SKOI 18 hingga 19 yaitu sebanyak 11 siswa/siswi atlet
KALTIM yang menjadi sampel dalam penelitian ini atau sekitar 18.3 persen.
adalah usia 16 hingga 17 yaitu sebanyak 49

Tabel 3. Komposisi Responden Menurut Bidang Olahraga


Bidang Olahraga Frekuensi (Orang) Presentase(%)
Angkat Besi 13 21.7%
Renang 15 25.0%
Atletik 15 25.0%
Panjat Tebing 17 28.3%
Jumlah 100 100%

Berdasarkan tabel 3 diatas, dapat diketahui sekitar 21.7 persen, tingkat bidang olahraga renang
bahwa rata-rata tingkat bidang olahraga yang yaitu sebanyak 15 siswa/siswi atlet atau sekitar 25.0
dikuasai di SKOI KALTIM yang menjadi sampel persen, tingkat bidang olahraga atletik yaitu
dalam penelitian ini adalah tingkat bidang olahraga sebanyak 15 siswa/siswi atlet atau sekitar 25.0
angkat besi yaitu sebanyak 13 siswa/siswi atlet atau persen, dan tingkat bidang olahraga panjat tebing
242
Psikoborneo, Vol 8, No 2, 2020:238-248 ISSN: 2477-2666/E-ISSN: 2477-2674

yaitu sebanyak 17 siswa/siswi atlet atau sekitar 28.3 persen.


dari 60 responden tentang variabel-variabel
Hasil Uji Deskriptif penelitian, maka peneliti akan menguraikan secara
Data deskriptif menampilkan gambaran umum rinci jawaban responden yang dikelompokkan dalam
mengenai jawaban responden atas pertanyaan atau deskriptif statistik.
pernyataan yang terdapat dalam kuesioner maupun
tanggapan responden. Berdasarkan hasil tanggapan

Tabel 4. Hasil Uji Analisis Deskriptif


Mean SD Mean SD
Variabel Status
Empirik Empirik Hipotetik Hipotetik
Kecemasan 7.079 77.42 5.500 62.50 Tinggi
Efikasi Diri 8.374 83.27 6.166 62.50 Tinggi

Berdasarkan tabel 4 diatas, dapat diketahui (77.42) lebih tinggi daripada rerata hipotetik (62.50)
gambaran keadaan sebaran data subjek penelitian sehingga berstatus tinggi. Adapun sebaran frekuensi
secara umum pada siswa/siswi atlet SKOI KALTIM. data untuk skala kecemasan siswa/siswi atlet SKOI
Berdasarkan hasil pengukuran melalui skala KALTIM.
kecemasan yang telah diisi, diperoleh rerata empirik

Tabel 5. Kategorisasi Skor Skala Kecemasan


Interval Kecenderungan Skor Kategori F %
X ≤ M - 1.5 SD ≥ 98 Sangat Tinggi 1 1.7%
M + 0.5 SD < X < M + 1.5 SD 86-97 Tinggi 6 10.0%
M – 0.5 SD < X < M + 1.5 SD 76-85 Sedang 28 46.7%
M + 0.5 SD < X < M – 1.5 SD 66-75 Rendah 24 40.0%
X > M – 1.5 SD ≤ 65 Sangat Rendah 1 1.7%

Berdasarkan kategorisasi pada tabel 5 diatas, (46.7%) memiliki kecemasan sedang, 24 siswa/siswi
maka terdapat 1 siswa/siswi atlet (1.7%) memiliki atlet (40.0%) memiliki kecemasan rendah, 1
kecemasan sangat tinggi, 6 siswa/siswi atlet (10.0%) siswa/siswi atlet (1.7%) memiliki kecemasan sangat
memiliki kecemasan tinggi, 28 siswa/siswi atlet rendah di SKOI KALTIM.

Tabel 6. Kategorisasi Skor Skala Efikasi Diri


Interval Kecenderungan Skor Kategori F %
X ≤ M - 1.5 SD ≥ 100 Sangat Tinggi 1 1.7%
M + 0.5 SD < X < M + 1.5 SD 88-99 Tinggi 10 33.3%
M – 0.5 SD < X < M + 1.5 SD 76-87 Sedang 17 40.0%
M + 0.5 SD < X < M – 1.5 SD 64-75 Rendah 10 23.3%
X > M – 1.5 SD 63 ≤ Sangat Rendah 21 1.7%

Berdasarkan kategorisasi pada tabel 6 diatas, Penggunaan statistik parametik dan non parametik
maka terdapat 1 siswa/siswi atlet (1.7%) memiliki tergantung pada asumsi dan jenis data yang akan
efikasi diri sangat tinggi, 10 siswa/siswi atlet dianalisis. Uji asumsi yang digunakan dalam
(33.3%) memiliki efikasi diri tinggi, 17 siswa/siswi penelitian ini adalah normalitas dan linearitas.
atlet (40.0%) memiliki efikasi diri sedang, 10
siswa/siswi atlet (23.3%) memiliki efikasi diri Uji Normalitas
rendah, 21 siswa/siswi atlet (1.7%) memiliki efikasi Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui
diri sangat rendah di SKOI KALTIM. apakah populasi data berdistribusi secara normal
atau tidak. Dalam penelitian ini uji normalitas data
Hasil Uji Asumsi menggunakan One Sample Kolmogrov-Smirnov test
Uji asumsi dilakukan untuk menganalisis data dengan menggunakan taraf signifikansi 0,05. Data
dalam menjawab hipotesis penelitian dan dinyatakan berdistribusi normal jika signifikansi
menentukan pendekatan statistik yang digunakan. lebih besar dari 5% atau 0,05.
243
Psikoborneo, Vol 8, No 2, 2020:238-248 ISSN: 2477-2666/E-ISSN: 2477-2674

Tabel 7. Hasil Uji Normalitas


Variabel Koimogrov-Smirnof Z p Keterangan
Kecemasan 0.128 0.016 Tidak Normal
Efikasi Diri 0.128 0.016 Tidak Normal

Sebaran data variabel kecemasan memiliki Uji Linearitas


signifikansi dengan probabilitas (p) 0,016 karena Uji asumsi linieritas dilakukan untuk
nilai probabilitasnya dibawah 0,05 (p>0,05) maka mengetahui linieritas hubungan antara variable bebas
distribusi data dikatakan tidak normal. Sebaran data dengan variable terikat. Uji linieritas dapat pula
variabel kualitas pelayanan memiliki signifikansi untuk mengetahui taraf penyimpangan dari linieritas
dengan probabilitas (p) 0,016 karena nilai hubungan tersebut. Adapun kaidah yang digunakan
probabilitasnya dibawah 0,05 (p>0,05) maka dalam uji linieritas hubungan adalah bila nilai
distribusi data dikatakan tidak normal. devistion from linearity p > 0.05 dan F hitung < F
tabel (Yudaruddin, 2011).

Tabel 8. Hasil Uji Linearitas


Variabel F Hitung F Tabel p Keterangan
Kecemasan - Efikasi Diri 1.021 1.84 0.469 Tidak Linier

Berdasarkan tabel 8 diatas, didapatkan hasil Uji Hipotesis


bahwa hasil analisis uji asumsi linieritas antara Uji kendall’s tau-b
variabel kecemasan terhadap efikasi diri mempunyai Pengujian hipotesis dalam penelitian ini
nilai devistion from linearity F hitung < F tabel = menggunakan uji kendall’s
1.021 < 1.84, dan p = 0.469 > 0.050. Hal ini tau-b. Uji kendall’s tau-b digunakan jika data tidak
menunjukkan bahwa hubungan kedua variabel lulus uji asumsi parametik, dalam penelitian ini yang
tersebut adalah tidak linier. tidak lulus ialah uji normalitas sehingga data tersebut
harus menggunakan uji asumsi non-parametik yaitu
uji hipotesis kendall’s tau-b. Adapun kaidah yang
digunakan dalam uji kendall’s tau-b adalah bila nilai
p < 0.05, maka dinyatakan signifikan.
Tabel 9. Hasil Uji Kendall’s Tau-b
Variabel R p Keterangan
Efikasi Diri (X) Kecemasan (Y) -0.478 0.000 Signifikan

Berdasarkan data tabel 15. maka dapat < 0.01) artinya ada hubungan negatif yang sangat
diketahui bahwa nilai korelasi yang terbentuk signifikan antara efikasi diri dengan kecemasan
didapatkan hasil r = -0.478 dan p = 0.000 (p < 0.05) menghadapi mata pelajaran yang dipelajari
yang menunjukkan kedua variabel tersebut memiliki siswa/siswi. Semakin tinggi efikasi diri siswa maka
korelasi yang sedang. Sehingga dengan demikian semakin rendah kecemasan siswa dalam menghadapi
hipotesis dalam penelitian ini diterima. mata pelajaran yang dipelajari dan sebaliknya
semakin rendah efikasi diri siswa maka semakin
Pembahasan tinggi kecemasan siswa dalam menghadapi mata
Pada analisis korelasi kendall’s tau-b pelajaran yang dipelajari. Hal tersebut berarti
didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan negatif hipotesis penelitian yang diajukan diterima, bahwa
antara efikasi diri dengan kecemasan atlet SKOI ada hubungan negatif antara efikasi diri dengan
KALTIM dalam menghadapi pertandingan dengan kecemasan menghadapi mata pelajaran yang
hasil r = -0.672 dan p = 0.000 (p < 0.05), hal dipelajari.
tersebut sesuai dengan penelitian sebelumnya yaitu Hasil ini juga sesuai dengan penelitian yang
Maryam (2013) yang mengungkapkan bahwa ada dilakukan oleh Schwarzer (1997) yang didapatkan
hubungan antara efikasi diri dengan kecemasan. Hal hasil bahwa kecemasan berkorelasi negatif dengan
itu dibuktikan berdasarkan hasil perhitungan efikasi diri dimana individu yang merasa tidak
diperoleh nilai korelasi sebesar -0.382; p = 0.000 (p mampu untuk mengatasi tugas-tugas yang
menantang, memiliki kecemasan yang lebih tinggi
244
Psikoborneo, Vol 8, No 2, 2020:238-248 ISSN: 2477-2666/E-ISSN: 2477-2674

dibandingkan dengan mereka yang merasa mampu. bermain teman sesama atlet, dan pergi kesuatu
Menurut Gunarsa (2013) yang menyatakan apabila tempat yang lebih tenang sebelum bertanding. Hal
lawan yang dihadapi memiliki peringkat dibawahnya tersebut itu ia lakukan karena ia ingin menenangkan
maka akan menimbulkan perasaan percaya diri yang dirinya yang selalu berfikir negatif tentang
berlebihan. Sebaliknya apabila lawan yang dihadapi kemampuannya dalam bermain dan ketakutan tidak
memiliki peringkat diatasnya maka akan timbul dapat menampilkan yang terbaik setiap kali
berkurangnya percaya diri, sehingga apabila mereka menghadapi pertandingan. Subjek Fr menyatakan
melakukan kesalahan maka akan sangat bahwa ia lebih sering melakukan komunikasi dengan
menyalahkan diri sendiri pelatihnya sebelum pertandingan dimulai karena
Hasil ini juga sesuai dengan penelitian yang menurut dia seorang pelatih yang telah
dilakukan oleh Schwarzer (1997) yang didapatkan memimpinnya saat berlatih bisa memahami perasaan
hasil bahwa kecemasan berkorelasi negatif dengan yang dirasakannya. Penilaian atlet terhadap gaya
efikasi diri dimana individu yang merasa tidak kepemimpinan pelatih berpengaruh dalam kehidupan
mampu untuk mengatasi tugas-tugas yang atlet, seperti dalam penelitian Dehnavi, Ismaili dan
menantang, memiliki kecemasan yang lebih tinggi Poursoltani (2013), dinyatakan bahwa persepsi atlet
dibandingkan dengan mereka yang merasa mampu. mengenai gaya kepemimpinan pelatih memengaruhi
Menurut Gunarsa (2013) yang menyatakan apabila kualitas kehidupan kerja atlet. Selain itu, persepsi
lawan yang dihadapi memiliki peringkat dibawahnya atlet terhadap pelatih mereka memengaruhi
maka akan menimbulkan perasaan percaya diri yang bagaimana mereka menyikapi kejadian yang
berlebihan. Sebaliknya apabila lawan yang dihadapi menyenangkan ataupun kejadian yang tidak
memiliki peringkat diatasnya maka akan timbul menyenangkan (Fuchs, 2012).
berkurangnya percaya diri, sehingga apabila mereka Setiap individu memiliki sifat tersendiri dalam
melakukan kesalahan maka akan sangat menghadapi kecemasan bertanding. Hal tersebut
menyalahkan diri sendiri. terjadi karena adanya tekanan-tekanan baik yang
Kecemasan timbul karena keadaan dimana bersumber dari dalam diri atlet maupun dari luar,
individu merasa terancam oleh salah satu hal yang serta sifat kompetisi olahraga yang didalamnya
dianggapnya menakutkan dan menyakitkan yang penuh dengan perubahan, mulai dari keadaan
berasal dari luar maupun dari dalam (disini individu permainan ataupun kondisi alam yang membuat
mengalami kecemasan dalam menghadapi menurunnya kepercayaan diri dari penampilan atlet
pertandingan) sehingga menimbulkan kekhawatiran, (Jarvis, 2005).
kegelisahan yang mengganggu ketenangan dan Gunarsa, Satiadarma, & Soekasah (1996)
kesehatan yang terkadang menimbulkan kekacauan mengatakan bahwa dampak kecemasan dan
fisik. Seperti yang dikemukakan oleh Smith (dalam ketegangan terhadap penampilan atlet akan secara
Atkinson, 2010) bahwa kecemasan adalah ketakutan bertingkat berakibat negatif. Tingkat kecemasan
tanpa adanya objek yang jelas. Tanda-tanda tinggi akan mempengaruhi peregangan otot-otot
kecemasan adalah dalam bentuk rasa khawatir dan yang berpengaruh pula terhadap kemampuan
perasaan lain yang kurang menyenangkan. Biasanya teknisnya, sehingga penampilan atau permainan
perasaan ini disertai oleh ketidakpercayaan diri menjadi lebih buruk. Selanjutnya, alam pikiran
dalam menghadapi masalah. Perasaan tidak percaya semakin terganggu dan muncul berbagai pikiran
diri dalam menghadapi suatu masalah membuat negatif, misalnya ketakutan akan kalah dan kembali
seseorang menjadi cemas dengan apa yang akan muncul kecemasan baru.
dihadapinya sehingga patut diduga bahwa efikasi diri Bandura (dalam Ridhoni, 2013) menyatakan
mempengaruhi kecemasan seseorang. bahwa sumber stres paling penting yang harus
Perlu dikemukakan bahwa kecemasan dapat dikuasai adalah ancaman psikologis. Bandura juga
diinterpretasikan dalam dua cara, yaitu kecemasan yakin bahwa intensitas reaksi terhadap stres
yang dirasakan oleh atlet dalam waktu tertentu, berkaitan langsung dengan tingkat efikasi diri yang
misalnya menjelang pertandingan, atau kecemasan dimiliki seorang.
yang dirasakan karena atlet tergolong pencemas Menurut Bandura (dalam Ridhoni, 2013)
(Husdarta, 2010). seseorang yang memiliki efikasi diri yang tinggi
Seperti hasil wawancara dengan salah satu akan membangun lebih banyak kemampuan-
subjek berinisial Fr yang mengaku sering mondar kemampuan yang dibutuhkan seseorang. Bandura
madir di area istrahat, selalu memperhatikan cara juga mengatakan bahwa individu dengan efikasi diri

245
Psikoborneo, Vol 8, No 2, 2020:238-248 ISSN: 2477-2666/E-ISSN: 2477-2674

yang rendah cenderung percaya bahwa segala maksimal, sehingga pada saat mahasiswa
sesuatu sangat sulit dibandingkan keadaan yang dihadapkan pada tugas presentasi yang sama diwaktu
sesungguhnya sedangkan orang yang memiliki yang berbeda siswa cenderung mengalami pikiran
perasaan efikasi diri yang kuat akan yang tidak rasional akibat dari pengalaman
mengembangkan perhatian dan usahanya terhadap presentasi sebelumnya.
tuntutan situasi dan dipicu oleh rintangan sehingga Atlet yang memiliki efikasi diri dapat terlihat
seseorang akan berusaha lebih keras. dari sikap atau perasaan yang menunjukkan yakin
Atlet yang akan menjalani pertandingan, terhadap kemampuan yang dimilikinya pada saat
biasanya sering mengalami permasalahan efikasi menghadapi pertandingan, dengan adanya rasa
diri. Atlet seringkali merasa meragukan tanggung jawab maka atlet akan mampu mencapai
kemampuannya, selain itu dalam menghadapi tujuan yang diinginkan, yaitu diraihnya prestasi dari
pertandingan dengan skala lebih besar, atlet juga setiap pertandingan yang diikutinya, sebagai wujud
sering cemas dalam memikirkan kemampuan lawan dari keberhasilannya. Efikasi diri merupakan suatu
yang dihadapinya sehingga menimbulkan kecemasan keyakinan seseorang untuk mampu berperilaku
dalam hal berpikir serta bertingkah laku (Gunarsa, sesuai dengan yang diharapkan dan diinginkannya.
2013). Menurut Bandura (dalam Ghufron dan
Pada umumnya, pembinaan atlet masih bersifat Risnawati, 2012), efikasi diri terhadap kapabilitas
formal dan kegiatan yang terjadwal sesuai dengan dalam mengatasi permasalahan akan berpengaruh
arahan dari organisasi. Berkaitan dengan usaha terhadap tingkat stess dan depresi yang akan dialami
pencapaian prestasi, maka akan lebih baik jika pada seseorang ketika menghadapi situasi-situasi yang
diri atlet perlu diberikan pembinaan secara sukar dan mengancam. Seseorang yang yakin dapat
psikologis agar mempunyai efikasi diri yang utuh mengatasi masalah tidak akan mengalami gangguan
serta diberikan kesempatan untuk berlatih sesuai pola berfikir dan berani menghadapi tekanan dan
dengan cara yang diminati baik secara terjadwal ancaman. Sebaliknya, mereka yang tidak yakin dapat
maupun mandiri (Darama dan Mujab, 2017). mengatasi ancaman akan mengalami kecemasan
Pernyataan tersebut sejalan dengan penelitian yang tinggi. Menurut Amir (2012) kecemasan
yang dilakukan Andrianto dan Lalita (2014) dalam bertanding yang dirasakan atlet selama pertandingan
penelitiannya, efikasi diri bukan sifat genetik yang bersifat fluktuatif. Kecemasan atlet biasanya akan
menetap. Sebaliknya, keyakinan efikasi diri meningkat sesaat sebelum pertandingan dimulai, hal
berkembang dari waktu ke waktu dan melalui ini disebabkan oleh bayangan akan beratnya tugas
pengalaman. Pengembangan keyakinan tersebut dan pertandingan yang akan dihadapi.
dimulai pada masa bayi dan berlanjut sepanjang Kekhawatiran mengenai pertandingan tidak
hidup (Maddux, 2000). Hal tersebut sejalan dengan bisa dianggap sebagai fenomena negatif kecemasan
kecemasan dimana, kecemasan akan berfluktuasi dalam tingkat tertentu yang berperan secara positif
dari waktu ke waktu, tidak stabil, dan dipengaruhi dalam kesuksesan prestasi dalam bertanding, tetapi
oleh situasi pada saat dihadapkan pada suatu kekawatiran tersebut mengakumulasi tekanan negatif
masalah. ketika atlet memasuki proses timbal balik yang tak
Lalita (2014) juga menambahkan bahwa produksif dari spekulasi hasil berdasarkan
efikasi diri yang rendah akan membuat kecemasan konsekuensi nilai pertandingan (Rizwan & Nasir,
seorang meningkat. Efikasi diri bukan sifat genetik 2010). Hal ini bisa jadi mendorong para atlet untuk
yang menetap. Dilihat dari hal tersebut maka efikasi mengindari siklus berfikir yang membiarkan
diri lebih memiliki korelasi yang besar terhadap kecemasan menguasai tindakan mereka
kecemasan, karena kedua variabel tersebut sama- Menurut Rochman (2010) Kecemasan berasal
sama akan berubah dari waktu ke waktu. dari perasaan tidak sadar yang berada didalam
Hasil tersebut juga sejalan dengan hasil kepribadian sendiri, dan tidak berhubungan dengan
penelitian Riani dan Rozali (2014) yang menyatakan objek yang nyata atau keadaan yang benar-benar
bahwa terdapat dua faktor yang menyebabkan ada. Kecemasan juga merupakan kekuatan yang
adanya kecemasan, yaitu pengalaman negatif pada besar dalam menggerakkan tingkah laku, baik
masa lalu dan pikiran yang tidak rasional. Siswa tingkah laku yang menyimpang ataupun yang
dengan kecemasan sedang ketika dihadapkan tugas terganggu. Kedua-duanya merupakan pernyataan,
presentasi akan tetap bisa melakukan tugas penampilan, penjelmaan dari pertahanan terhadap
presentasi tersebut, namun dengan hasil yang kurang kecemasan tersebut (Gunarsa, 2008).

246
Psikoborneo, Vol 8, No 2, 2020:238-248 ISSN: 2477-2666/E-ISSN: 2477-2674

Menghadapi fenomena kecemasan atlet pada seorang atlet, terlebih bila sering menjuarai
saat bertanding tersebut diperlukan keyakinan atlet pertandingan.
akan kemampuannya untuk berhasil melakukan c. Atlet SKOI KALTIM diharapkan menyadari
suatu tugas dan mencapai hasil tertentu. Keyakinan akan hak dan kewajibannya sebagai seorang
ini oleh Bandura disebut sebagai efikasi diri. Efikasi atlet dan dapat melaksanakan tugasnya dengan
diri seperti yang dikemukakan Bandura (1997) baik dengan menanamkan efikasi diri dalam
adalah kepercayaan individu pada kemampuannya
diri seorang atlet yang berfungsi secara penuh
untuk berhasil melakukan tugas tertentu yang
maka akan mengurangi kecemasan dalam
diperlukan untuk mencapai hasil tertentu. Spears dan
Jordan (dalam Prakosa, 1996) mengatakan bahwa menghadapi suatu pertandingan.
siswa di sekolah dapat memperoleh keberhasilannya 2. Bagi Sekolah Khusus Olahraga Internasional
jika siswa merasa mampu untuk berhasil dan arti (SKO)
keberhasilan itu dianggap penting. Jadi, efikasi diri a. Kepada pelatih dan pembina atlet SKOI
merupakan masalah yang subjektif yang terkait KALTM, faktor psikologis atau faktor mental
dengan keyakinan individu. berperan dalam pencapaian prestasi atlet
Berdasarkan pembahasan yang sudah sehingga perlu adanya kerjasama antara
dipaparkan diatas, maka hipotesis yang diajukan pembina dengan lembaga psikologi untuk
dalam penelitian ini terdapat hubungan antara efikasi meningkatkan kemampuan psikologis atau
diri dengan kecemasan atlet SKOI KALTIM dalam mental pada atlet SKOI KALTIM yang akan
menghadapi pertandingan. menimbulkan keseimbangan pada diri atlet.
b. Pelatih diharapkan memberikan pemahaman
KESIMPULAN DAN SARAN
yang mendalam tentang cabang olahraga yang
Kesimpulan dilatihkan, dari keterampilan dasar hingga
Berdasarkan hasil penelitian yang telah taktik dan strategi lanjutan.
dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat c. Teknik dan peraturan permainan selalu
hubungan negatif yang sangat signifikan antara
berkembang, sehingga pelatih diharapkan
efikasi diri dengan kecemasan atlet SKOI KALTIM
mengikuti dan menguasai perkembangan
dalam menghadapi pertandingan, yang artinya
efikasi diri dengan segala aspek yang terkandung di tersebut agar atlet dapat mempunyai gambaran
dalamnya memberikan konteribusi terhadap tentang pencapaian prestasi yang harus
kecemasan atlet dalam menghadapi pertandingan. didapatkannya.

Saran DAFTAR PUSTAKA


Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, Adriansyah, M. A., Rahayu, D., & Prastika, N. D.
maka dapat dikemukakan saran-saran sebagai (2015). Pengaruh Terapi Berpikir Positif,
berikut: Cognitive Behavior Therapy (CBT),
1. Bagi subjek Penelitian Mengelola Hidup dan Merencanakan Masa
a. Kepada atlet SKOI (Sekolah Khusus Olahraga Depan (MHMMD) terhadap Penurunan
Internasional), diharapkan dapat meningkatkan Kecemasan Karir pada Mahasiswa Universitas
efikasi diri atau keyakinan akan kemampuan Mulawarman. Psikoislamika: Jurnal Psikologi
diri dengan lebih rajin mengikuti latihan baik dan Psikologi Islam, 12(2), 41-50.
secara terjadwal maupun mandiri sehingga Amir, N. (2012). Pengembangan alat ukur
akan lebih sering bertemu dan berinteraksi kecemasan olahraga. Jurnal Penelitian dan
Evaluasi Pendidikan. 16.
dengan banyak orang.
Ardianto, E. (2013). Handbook of Public Relations.
b. Atlet SKOI KALTIM juga lebih sering Bandung: Simbiosa Rekatama Media (Cetakan
mengikuti kejuaraan baik di tingkat regional Kedua)
maupun nasional dan internasional, sehingga Azwar, S. (2012). Metode penelitian. Yogyakarta:
lebih sering berinteraksi dengan lawan secara Pustaka Pelajar.
jujur dan sportif (persaingan yang sehat) Bandura (1997). Self-Efficacy (The Exercise of
sehingga hal tersebut akan meningkatkan Control). New York: W. H. Freeman and
percaya diri akan kemampuan dirinya sebagai Company.
247
Psikoborneo, Vol 8, No 2, 2020:238-248 ISSN: 2477-2666/E-ISSN: 2477-2674

Clark, D. A., & Beck, A. T. (2010). Cognitive Riani, W. S., & Rozali, Y. A. (2014). Hubungan
therapy of anxiety disorders: Science and antara self-efficacy dan kecemasan saat
practice. New York: Guilford Press. presentasi pada mahasiswa universitas esa
Ghufron, M, N dan Risnawita, R. (2012). Teori-teori unggul. Jurnal Psikologi, Volume 12 Nomor 1
psikologi. Jogjakarta: AR-Ruz Media. Juni 2014.
Gunarsa, S. D. (2013). Psikologi Olahraga Prestasi. Rizwan, A. R., & Nasir, M. (2010). The Relationship
Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia. between The Anxiety and Academic
Harsono. (2011). Coaching dan Aspek-Aspek Achievement. Bulletin of Education and
Psikologi dalam Coaching. Jakarta: CV. Research.
Tambak Kusuma. Rochman, K. L. (2010). Kesehatan mental.
Husdarta, H. J. S. (2010). Psikologi Olahraga. Purwokerto: Fajar Media Press.
Bandung: AL FABETA. Sugiyono. (2015). Metode penelitian pendidikan:
Maryam, I. S. (2013). Hubungan antara efikasi diri kuantitatif, kualitatif dan r&d. Bandung: CV.
dengan kecemasan menghadapi mata pelajaran Alfabeta.
matematika. Skripsi. Fakultas Psikologi Univ. Verawati, I. (2013). Tingkat Anxiety Dalam
Muhammadiyah, Surakarta. Mengikuti Pertandingan Olahraga. Jurnal
Prakosa, H. (1996). Cara Penyampaian Hasil Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 21
Belajar untuk Meningkatkan Self Efikasi Nomor 79 Tahun XXI Maret 2015 39.
Mahasiswa. Jurnal Psikologi. No.2, 11-22.

248