Anda di halaman 1dari 15

Manajemen Keuangan

“Sewa Guna Usaha (Leasing)”

DisusunOleh:

1. Eva Agustiany P. 18911008


2. Giova Wulandari 18911049
3. Trisnawati 18911065
4. Ulfah Sa’adah Ramadhani 18911034

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
2019
BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang

Leasing pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1974, yang bertujuan
untuk membiayai penyediaan barang-barang modal, dengan beberapa perjanjian antara pihak
perusahaan dengan pihak penerima barang dengan sejumlah biaya-biaya yang dikeluarkan
atau dibebankan oleh pihak lessee.

Dewasa ini leasing merupakan fenomena baru, namun untuk negara-negara


berkembang inisiatif untuk menawarkan leasing masih sangat minim pada sektor usaha kecil
dan mikro. Hal tersebut sangat mengejutkan mengingat manfaat dankegunaan leasing sangat
besar atas kredit. Manfaat yang paling dapat dirasakanoleh pengusaha adalah mereka dapat
memulai peralatan sebelum benar-benarmemilikinya. Hal ini berarti para pengusaha akan
memiliki pendapatan ekstramelalui kepemilikan peralatan walaupun masih dalam periode
angsuran leasing.Selain itu leasing juga memiliki manfaat lain dalam hal kemudahaan yaitu
leasingtidak menetapkan (atau sangat sedikit) persyaratan agunan. Manfaat ini adalahfitur
yang akan membuka pintu bagi banyak pengusaha sukses yang potensialyang telah ditolak
karena hanya tidak memiliki agunan dalam aplikasi pinjamanmereka. Hal lain yang menjadi
manfaat leasing adalah risiko pengalihan dana—risiko yang paling nyata bagi lembaga
keuangan mikro – dapat dicegah dalamleasing, mengingat tanpa pernah melalui tangan lesse
pendanaan akan langsungdiberikan untuk membeli perlatan.

Leasing atau sewa-guna-usaha adalah setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam


bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan untuk
jangka waktu tertentu, berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala disertai dengan
hak pilih bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan
atau memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa uang yang telah disepakati
bersama.

Dengan melakukan leasing perusahaan dapat memperoleh barang modal dengan jalan
sewa beli untuk dapat langsung digunakan berproduksi, yang dapat diangsur setiap bulan,
triwulan atau enam bulan sekali kepada pihak lessor.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Leasing

Perusahaan sewa guna usaha di Indonesia lebih dikenal dengan nama Leasing. Kegiatan
utamanya adalah bergerak di bidang pembiayaan untuk keperluan barang-barang modal yang
diinginkan oleh nasabah. Pembiayaan yang dimaksud jika seorang nasabah membutuhkan
barang-barang modal seperti peralatan kantor atau mobil dengan cara disewa atau dibeli
secara kredit dapat diperoleh diperusahaan leasing. Pihak Leasing dapat membiayai
keinginan nasabah dengan perjanjian yang telah disepakati kedua pihak.

Perusahaan Leasing dapat diselenggarakan oleh atau badan usaha yang berdiri sendiri.
Keterbatasan perusahaan leasing adalah tidak boleh melakukan kegiatan yang dilakukan oleh
bank seperti memberikan simpanan dan kredit dalam bentuk uang.

Pengertian sewa guna usaha secara umum adalah perjanjian antara lessor (perusahaan
leasing) dengan lessee (nasabah) di mana pihak lessor memyediakan barang dengan hak
penggunaan oleh lessee dengan imbalan pembayaran sewa untuk jangka waktu tertentu.

Sedangkan pengertian sewa guna usaha sesuai dengan keputusan Menteri Keuangan No.
1169/KMK.01/1991 adalah “kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal,
baik secara sewa guna usaha dengan hak opsi (finance lease) maupun sewa guna usaha tanpa
hak opsi (operating lease) untuk digunakan oleh lessee selama jangka waktu tertentu
berdasarkan pembayaran secara berkala”. Yang dimaksud dengan finance lease adalah
kegiatan sewa guna usaha dimana lessee pada akhir masa kontrak mempunyai hak opsi untuk
membeli objek sewa guna usaha berdasarkan nilai sisa yang disepakati. Sebaliknya,operating
lease tidak mempunyai hak opsi untuk membeli objek sewa guna usaha.

B. Ketentuan Leasing

Kegiatan Leasing secara remi diperbolehkan beroperasi di indonesia setelah keluar surat
keputusan bersama antara Menteri Keuangan,Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan
Nomor Kep. 122/MK/IV/2/1974, Nomor 32/M/SK/2/74 dan Nomor 30/Kpb/I/74 Tanggal 7
Februari 1974 Tentang Perizinan Usaha Leasing di Indonesia.

Wewenang untuk memberikan usaha Leasing di keluarkan oleh Menteri Keuangan


berdasarkan Surat keputusan Nomor 649/MK/IV/5/1974 Tanggal 6 Mei 1974 yang mengatur
mengenai ketentuan tata cara perizinan dan kegiatan usaha leasing di Indonesia.
Lembaga Pembiayaan Menurut ketentuan ini dimungkinkan untuk melakukan salah satu
dari kegiatan  pembiayaan seperti :
1.Sewa guna usaha ( Leasing )
2.Modal ventura ( venture capital )
3.Anjak Piutang ( factoring )
4.Pembiayaan konsumen ( consumer finance )
5.Kartu Kredit ( credit card )

 Pemberian izin untuk melakukan usaha-usaha pembiayaan seperti di atas, terlebih dulu
harus memperoleh izin dari Menteri Keuangan.

C.Pihak-pihak yang terlibat

Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam proses pemberian fasilitas leasing adalah
sebagai berikut :

1.    Lessor

Merupakan perusahan leasing yang membiayai keinginan para nasabahnya untuk


memperoleh barang-barang modal

2.    Lessee

Adalah nasabah yang mengajukan permohonan leasing kepada lessor untuk


memperoleh barang modal yang di inginkan.

3.    Supplier

Yaitu pedagang yang menyediakan barang yang akan di leasing sesuai perjanjian
antara lessor dengan lessee dan dalam hal ini suplier juga dapat bertindak sebagai
lessor.

4.    Asuransi

Merupakan perusahaan yang akan menanggung resiko terhadap perjanjian antara


lessor dengan lessee. Dalam hal ini lessee dikenakan biaya asuransi dan apabila terjadi
sesuatu, maka perusahaan akan menanggung resiko sebesar sesuai dengan perjanjian
terhadap barang yang di leasingnya.

D. Jenis-Jenis Perusahaan Leasing


Jenis-jenis perusahaan leasing dalam menjalankan kegiatannya dibagi kedalam 3
(tiga) kelompok yaitu :

1. Independent Leasing

Merupakan perusahaan leasing yang berdiri sendiri dapat sekaligus sebagai supplier
atau membeli barang-barang modal dari supplier lain untuk dileasekan.

2. Captive Lessor

Produsen dan supplier mendirikan perusahaan leasing dan yang merekan leasekan
adalah barang-barang milik mereka sendiri. Tujuan utamanya adalah untuk dapat
meningkatkan penjualan, sehingga mengurangi penumpukan barang di gudang/toko.

3. Lease Broken

Perusahaan jenis ini kerjanya hanyalah mempertemukan keinginan lessee untuk


memperoleh barang modal kepada pihak lessor untuk dileasekan. Jadi,dalam hal ini
lease broken hanya sebagai perantara antara pihak lessor dengan pihak lessee.
E. Mekanisme dan Teknik Pembiayaan Leasing

Mekanisme Leasing

1.    lesse menghubungi pemasok untuk pemilihan dan penentuan jenis barang,
spesifikasi, harga, jangka waktu penagihan, dan jaminan purna jual atas barang
yang akan disewa.

2.    Lesse melakukan negoisasi dengan lessor mengenai kebutuhan pembiayaan


barang modal. Dalam hal ini, lessee dapat meminta lease quotation yang tidak
mengikat dari lessor. Dalam quotation terdapat syarat-syarat pokok pembiayaan
leasing, antara lain: keterangan barang, harga barang, cash security deposit,
residual value, asuransi, biaya administrasi, jaminan uang sewa ( lease rental ),
dan persyaratan-persyaratan lainnya.

3.    Lessor mengirimkan letter of offer atau comittment letter kepada lessee yang
berisi syarat-syarat pokok persetujuan lessor untuk membiayaai barang modal
yang dibutuhkan, lessee menandatangani dan mengembalikannya kepaada
lessor.

4.    Penandatangan kontrak leasing setelah semua persyaratan dipenuhi lessee,


dimana kontrak tersebut mencakup hal-hal: pihak-pihak yang terlibat, hak milik,
jangka waktu, jasa leasing, opsi bagi lessee, penutupan asuransi, tanggung
jawab dan objek leasing, perpajakan jadwal pembayaran angsuran sewa dan
sebagainya.

5.    Pengiriman order beli kepada pemasok disertai instruksi pengiriman barang
kepada lessee sesuai dengan tipe dan spesifikasi barang yang telah disetujui.

6.    Pengiriman barang dan pengecekan barang oleh lessee sesuai pesanan serta
menandatangani surat tanda terim dan perintah bayar selanjutnya diserahkan
kepada pemasok.

7.    Penyerahan dokumen oleh pemasok kepada lessor termasuk faktur dan bukti-
bukti kepemilikan barang lainnya.

8.    Pembayaran oleh lessor kepada pemasok

9.    Pembayaran sewa ( lease payment ) secara berkala oleh lessee kepada lessor
selama masa leasing yang seluruhnya mencakup pengembalian jumlah yang
dibiayai beserta bunganya.

F. Teknik-Teknik Pembiayaan Leasing

Teknik pembiayaan leasing dapat dibagi dalam dua kategori, yaitu finance lease dan
operating lease.

1. Finance Lease

Dalam sewa guna usaha ini, perusahaan sewa guna (lessor) adalah pihak yang
membiayai penyediaan barang modal. Lessee biasanya memilih barang modal yang
dibutuhkan dan, atas nama perusahaan sewa guna usaha, sebagai pemilik barang modal
tersebut, melakukan pemesanan, pemeriksaan serta pemeliharaan barang modal yang
menjadi objek transaksi sewa guna usaha.

Dalam praktinya, finance lease dapat dibagi dalam beberapa bentuk transaksi antara lain
sebagai berikut :
1) Direct finance lease

Dalam transaksi direct finance lease, pihak lessor membeli barang modal atas permintaan
dari lessee dan langsung disewagunausahakan kepada lessee. Lessee dapat terlibat dalam
proses pembelian barang modal dari pemasok.

2)    Sale and lease back

Pihak lessee menjual barang modalnya kepada lessor untuk kemudian dilakukan kontrak
sewa guna usaha atas barang tersebut dengan jangka waktu yang disepakati bersama. Metode
transaksi ini membantu  lessee yang mengalami kesulitan modal kerja.

3)    Leveraged lease

Dalam proses sewa guna ini, pihak yang terlibat adalah lessor, lessee dan kreditor jangka
panjang dalam membiayai objek leasing. Pihak kreditor inilah yang biasanya justru
memberikan porsi yang besar dalam pembiayaan. Kreditor jangka panjang, biasanya lembaga
keuangan misalnya bank yang akan menyediakan pembiayaan sebesar 60% - 80% yang
disebutkan leverage debt without recourse kepada pihak leassor. Apabila pihak lessee
mengalami default dan tidak mampu mengangsur, lessor tidak ikut bertanggungjawab kepada
bank.

4)    Syndicated lease


Metode ini terjadi apabila pembiayaan sewa guna usaha dilakukan oleh lebih dari satu
lessor. Kerja sama antara lessor ini didasarkan pada pertimbangan risiko atau objek leasing
yang membutuhkan dana dalam jumlah besar.

5)    Vendor Program

Vendor program adalah suatu metode penjualan yang dilakukan oleh dealer kepada
konsumen dengan mendapatkan fasilitas leasing. Lessor akan membayar objek leasing
kepada vendor/dealer dan selanjutnya lessee akan membayar angsuran secara periodik
langsung kepada lessor atau melalui dealer.

2. Operating Lease  

 Dalam teknik operating lesae, pihak pemilik objek leasing atau leasor membeli barang
modal dan disewagunausahakan kepada lesee. Pembayaran periodik yang dilakukan oleh
lessee tidak mencangkup biaya yang dikeluarkan oleh lessor untuk mendapatkan barang
modal tersebut dan bunganya. Lessor mengharapkan keuntungan dari penjualan barang
modal yang disewagunausahakan. Lessor dapat juga memperoleh sumber penghasilan dari
perjanjian sewa sewa guna usaha yang lain.

Operating lease dapat juga disebut leasing biasa yaitu satu perjanjian kontrak antara
leasor dengan lessee, dengan catatan bahwa :

•   Lessor sebagai pemilik objek leasing menyerahkannya kepada pihak lessee untuk
digunakan dengan jangka waktu relatif lebih pendek dari umur ekonomis barang modal
tersebut.

• Lessee atas penggunaan barang modal tersebut, membayar sejumlah sewa secara
berkala kepada leasor yang jumlahnya tidak meliputi jumlah keseluruhan biaya
pemerolehan barang tersebut beserta bunganya. Hal ini disebut nonfull pay out lease.

•  Lessor menanggung segala risiko ekonomis dan pemeliharaan atas barang-barang


tersebut.

•  Lessee pada ahir kontrak harus mengembalikan objek leasing pada lessor.
•  Lessee dapat membatalkan perjanjian kontrak leasing sewaktu-waktu.
G. Perkembangan Leasing di Indonesia

Usaha leasing ( sewa guna usaha ) sebenarnya sudah ada sejak tahun 2000 sebelum
masehi yang dilakukan oleh orang-orang Sumeria. Dokumen-dokumen yang ditemukan dari
kebudayaan Sumeria menunjukkan bahwa transaksi leasing meliputi leasing peralatan,
penggunaan tanah dan binatang piaraan.

Kegiatan Leasing diperkenalkan untuk pertama kali di indonesia pada tahun 1974 dengan
di keluarkannya Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan dan
Menteri Perindustrian No. Kep. 122/MK/2/1974, No.32/M/SK/1974 dan No. 30/Kpb/1/1974
Tanggal 7 februari 1974 tentang “Perijinan usaha Leasing”. Sejak saat itu (khususnya tahun
1980) jumlah perusahaan leasing dari tahun ke tahun untuk membiayai penyediaan barang-
barang modal dunia usaha. Untuk mendukung perkembangan usaha ini, Menteri Keuangan
selanjutnya mengeluarkan SK No. 650/MK/IV/5/1974 Tanggal 6 Mei 1974 tentang
penegasan ketentuan pajak penjualan dan besarnya bea meterai terhadap usaha leasing.
Selanjutnya, tanggal 20 Desember 1988 dengan kebijakan deregulasi, perusahaan
pembiayaandi antaranya usaha leasing diatur dalam paket tersebut. Dengan berlakunya paket
kebijakan tersebut ketentuan leasing sebelumnya dinyatakan tidak berlaku. Dalam paket
tersebut juga diperkenalkanistilah lembaga pembiayaan yaitu badan usaha yang melakukan
kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau barang modal dengan tidak
menarik dana secara langsung dari masyarakat.
Hadirnya perusahaan sewa guna usaha patungan (joint venture) bersama perusahaan
nasional telah mampu mempopulerkan peranan kegiatan sewa guna sebagai alternatif
pembiayaan barang modal yang sangat dibutuhkan para pengusaha di idonesia, disamping
cara-cara pembiayaan konvensional yang lazim dilakukan melalui perbankan. Ketentuan
minimum modal disetor untuk pendirian suatu perusahaan pembiayaan yang melakukan
kegiatan usaha leasing diatur dalam pakdes 20, 1988 dengan keputusan Menteri Keuangan
no. 1251/KMK.013/1988 tanggal 20 Desember 1988, dengan jumlah modal disetor atau
simpanan wajib dan pokok ditetapkan sebagai berikut :

a)   Perusahaan swasta nasional sebesar Rp. 3 milyar

b)   Perusahaan patungan indonesia-asing sebesar Rp. 10 milyar

c)   Koperasi sebesar Rp. 3 milyar

 H.Contoh perusahaan leasing

Perusahaan leasing yang berdiri sendiri atau independent dari supplier/ produsen.


Perusahaan dapat memperoleh barang dari berbagai supplier/produsen.
Contoh :

Adira, WOM, SOF (Summit Oto Finance), FIF (Federal International Finance-
Honda) CAPTIVE LESSOR Perusahaan leasing yang didirikan sendiri oleh produsen
untuk membiayai penjualan produk-produknya.

Perusahaan leasing yang mempertemukan calon lessee dengan pihak lessor yang
membutuhkan barang dengan cara leasing. Perusahaan ini juga dapat memberikan jasa-jasa
yang dibutuhkan dalam leasing seperti pendanaan dan barang, tetap dalam fungsinyasebagai
penghubung, seperti : Era, Mentari, Ray White, Columbia, Columbus.

I.Manfaat dan Keuntungan Leasing


Dalam proses dan pelaksanaanya sangatlah sederhana bila pembiayaan melalui
leasing dan sangat mudah sebagai pembayaran alternatif untuk seseorang ataupun
perusahaan.

Leasing didukung oleh berbagai keuntungan sebagai pembiayaan yang menarik dan
mudah, berikut  keuntunganya :
1. Penghematan modal
Melalui proses pembiayaan leasing memungkinkan adanya penghematan modal dari
pihak lesse (nasabah). Hal ini dikarenakan manfaat leasing bagi lesse tidak harus
menyediakan dana yang besar untuk dapat memulai produksinya, yaitu untuk membeli
mesin-mesin, maupun perlengkapan lainnya. Sisa dana bisa dipergunakan untuk
keperluan lainnya.

2. Fleksibel

Sangat mudah disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan karena leasing memiliki


struktur kontrak.

3. Kapital dan Pelayanan

Pengaruh sangat cepatnya pelayanan dalam realisasi pembiayaan kerena prosedur leasing
yang sederhana. Seseoarang akan  dimudahkan atau perusahaan untuk segera memiliki
barang-barang yang dibutuhkan seperti mesin produksi, kendaraan dan lainya untuk
menunjang usahanya karena tanpa prosedur yang rumit

4. Capital Saving

Pada dasarnya leasing membiayai 100% barang modal yang diperlukan. Dikatan menjadi
suatu penghematan modal bagi lease karena lease tidak memiliki dana yang besar,
dimana lease bisa memakai modal yang tersedia untuk pembiayaan keperluan yang
lainya.

5. Pembayaran angsuran diperlukan sebagai biaya operasional

Pada saat Pembayaran lease langsung saja dihitung sebagai biaya dalam penentuan
untung rugi sebuah perusahaan. Jadi perhitunganya dari pendapatan sebelum pajak,
bukan laba yang kena pajak

6. Sebagai perlindungan inflasi

Agar terhindar dari resiko penurunan nilai yang yang disebabkan oleh inlasi yakni
menggunakan lease. Sampai kapan pun lease akan membayar dengan satuan moneter
yang lalu terhadap sisa kewajiban (hutang) nya.
7. Hak opsi bagi lease pada akhir masa lease

8. Terdapat kepastian hukum

Artinya apabila sudah terjadi kesepakatan dengan leasing tidak boleh dibatalkan
walaupun sulitnya keadaan uang umum dengan keadaan keuangan umum. Sehingga
perjanjian leasing akan tetap berlaku dalam keadaan keungan/moneter apapun.

9. Menjadi cara memperoleh aktiva bag

Bagi pihak perusahaan terkadang leasing menjadi sebuah cara guna memperoleh aktiva,
terutama bagi perusahaan dengan tigkat ekonomi lemah untuk bisa memoderinisasi
pabriknya.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dengan semakin berkembangya dunia bisnis, maka semakin banyak perusahaan yang
terjun ke dunia bisnis. Dengan semakin banyaknyaperusahaan yang terjun ke dunia bisnis,
maka semakin banyak kebutuhandana dan modal yang harus dipenuhi oleh berbagai
perusahaan. Haltersebut mendorong industry bisnis yang bergerak dalam bidangpembiayaan
yang disebut lembaga pembiayaan.

Leasing termasuk ke dalam salah satu bentuk lembaga pembiayaan karenayang dikatakan
dengan lembaga pembiayaan adalah suatu badan usahayang di dalam melakukan kegiatan
pembiayaan dalam bentuk penyediaandana atau barang modal dengan tidak menarik dana
secara langsung dari masyarakat. Sedangkan leasing adalah setiap kegiatan
pembiayaanperusahaan dalam bentuk penyediaan barang – barang modal untuk digunakan
oleh suatu perusahaan, untuk jangka waktu tertentu, berdasarkan pembayaran secara berkala
disertai dengan hak pilih (optie) bagiperusahaan tersebut untuk membeli barang -barang
modal yang bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilaisisa
yang telah disepakati bersama. Oleh karena itu, leasing termasuk salahsatu jenis lembaga
pembiayaan karena leasing membiayai perusahaan dalam bentuk penyediaan barang modal.

Peerjanjian sewa guna usaha yang lahir pada prosedur mekanisme leasing terdiri dari
ketentuan-ketentuan yang salah satunya adalah ketentuan mengenai tanggung jawab para
pihak terhadap obyek leasing. pemabagian dan pengaturan mengenai tanggung jawab para
pihak terhadap obyek leasing tersebut pada umumnya dipengaruhi dan ditentukan oleh jenis
pembiayaan yang terdapat dalam perjanjian leasing itu sendiri, namun secara khusus
pembagian dan pengaturan tersebut pada dasranya harus didasarkan pada kesepakatan para
pihak dalam perjanjian. sedangkan untuk pelaksanaannya harus dilakukan berdasarkan
undang-undang.

   

Anda mungkin juga menyukai