Anda di halaman 1dari 11

PRINSIP-PRINSIP KEGIATAN EKSTRAKURIKULER

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MAKALAH


PADA MATA KULIAH DESAIN EKSTRAKURIKULER PAI

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 6
Fenny Juwita Nim 0301182108
Maya Sari Nim 0301182168
Nugraha Indra Rosadi Nst. Nim 0301182102
Wanda Hadinata Nim 0301182126

SEMESTER/JURUSAN : VII/PAI-5
DOSEN PENGAMPU : Muhammad Azwar EA, M.Pd

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA MEDAN
2021
BAB I

PENDAHULUAN

Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang dapat mengembangkan


kepribadian, bakat, dan kemampuan seorang siswa di berbagai bidang di luar bidang
akademik. Kegiatan ini diadakan secara swadaya dari pihak sekolah maupun siswa-siswi itu
sendiri untuk merintis kegiatan di luar jam pelajaran sekolah. Kegiatan ini sangat penting
bagi siswa maupun siswi, meskipun kegiatan ini dilaksanakan di luar jam pelajaran sekolah,
namun kegiatan ini bertujuan positif untuk kemajuan dari siswa-siswi itu sendiri. Pendidikan
dan pembinaan kepribadian generasi muda merupakan tanggung jawab semua lapisan
masyarakat, baik lingkungan keluarga, masyarakat social dan masyarakat sekolah.1

Beberapa potensi kepribadian yang dimiliki manusia yang dapat mendukung


pengembangan diri adalah talenta, intelegensi, dan personality. Allah telah melengkapi kita
dengan berbagai potensi-potensi, seperti potensi beragama (iman), intelektual, sosial,
ekonomi, politik, seni, harga diri, kemajuan, perdamaian, persatuan, kemerdekaan, keadilan
susila dan lain-lain. Potensi tersebut telah diberikan oleh Allah kepada manusia sewaktu
masih berada dalam kandungan. Nabi Muhammad SAW menjelaskan dalam haditsnya yang
berbunyi :

‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم ُك ُّل َم ْولُو ٍد يُولَ ُد َعلَى ْالف ِْط َر ِة َفأ َ َب َواهُ ُي َهوِّ دَا ِن ِه أَ ْو ُي َنص َِّرا ِن ِه‬
َ ُّ‫َعنْ أَ ِبي ه َُري َْر َة َرضِ َي هَّللا ُ َع ْن ُه َقا َل َقا َل ال َّن ِبي‬
(‫أَ ْو ُي َمجِّ َسانِه )رواه بخاری ومسلم‬

Artinya : "Dari Abi Hurairah berkata : Rasulullah SAW bersabda, setiap anak dilahirkan
dengan fitrahnya, maka kedua orang tuanya lah meyahudikannya atau menasranikannya
atau memajusikannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas menjelaskan bahwa setiap anak yang lahir ke dunia pada hakikatnya
berada dalam kondisi suci (fitrah). Kata fitrah dalam hadits menurut pandangan psikologis
dapat dipahami dengan berbagai potensi yang diberikan oleh Allah kepada manusia sejak
berada dari dalam kandungan. Untuk mengembangkan berbagai potensi tersebut sesudah
lahir ke dunia sangat ditentukan oleh pengaruh yang berasal dari lingkungan yang salah
satunya adalah proses pendidikan.

1
Moch User Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 1999), h.14.
Guna mengembangkan potensi yang ada tersebut, setiap anak dapat
merealisasikannya melalui kegiatan ekstrakurikuler yang dapat diwujudkan dalam lingkungan
sekolah secara terpadu. Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan formal perlu mengambil
peran dalam pengembangan sisi afektif peserta didik dengan kegiatan pembelajaran
ekstrakurikuler yang dapat menanamkan nilai-nilai moral pada diri peserta didik. Kegiatan
pembelajaran ekstrakurikuler dilaksanakan secara terintegrasi dalam keseluruhan proses
pembelajaran untuk pembentukan watak dan kepribadian peserta didik secara utuh yang
tercermin pada perilaku berupa ucapan, perbuatan, fikiran, perasaan dan hasil karya yang
baik.2

2
Departemen Agama, Pedoman Kegiatan Pengembangan Diri untuk Madrasah, (Jakarta : Direktorat
Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2005), h.2.

2
BAB II

PRINSIP-PRINSIP KEGIATAN EKSTRAKURIKULER

A. Prinsip-Prinsip Pembelajaran
Pembelajaran merupakan suatu aktivitas (proses) yang sistematis dan sistematik
yang terdiri atas komponen.Masing-masing komponen tidak bersifat parsial (terpisah),
tetapi harus berjalan secara teratur, saling bergantung, konplementer dan
berkelanjutan.Untuk itu diperlukan pengelolaan pembelajaran yang baik harus
dikembangkan berdasarkan pada asas-asas pembelajaran. Prinsip-prinsip pembelajaran ini
muncul dari penemuan para ahli psikologi kemudian diaplikasikan dalam bidang
pendidikan sehingga lahirlah prinsip-prinsip pembelajaran sebagai berikut :
1. Aktivitas
Belajar yang berhasil mestilah memlalui berbagai macam aktivitas, baik aktivitas
fisik maupun psikis. Seluruh perasaan dan kemauan dikerahkan dan diarahkan supaya
daya itu tetap aktif untuk mendapatkan hasil pembelajaran yang optimal, sekaligus
mengikuti proses pembelajaran secara aktif. Pada saat peserta didik aktif jasmaninya,
dengan sendirinya dia juga aktif jiwanya, begitu sebaliknya. Karena itu keduanya
merupakan satu kesatuan, dua keping satu mata uang. Menurut J. Piaget, “seorang anak
berpikir sepanjang ia berbuat, tanpa berbuat anak tak berpikir” agar ia berpikir sendiri
(aktif), ia harus diberi kesempatan untuk berbuat sendiri.

2. Motivasi
Seorang pengajar harus dapat menimbulkan motivasi anak. Motivasi ini
sebenarnya banyak dipergunakan dalam berbagai bidang dan situasi, tapi di dalam uraian
ini diarahkan pada bidang pendidikan, kuhususnya pada proses bidang pembelajaran.
Menurut Crider, motivasi adalah “sebagai hasrat, keinginan dan minat yang timbul dari
seseorang dan langsung ditujukan kepada suatu objek”. Motivasi juga mempunyai peran
penting dalam kegiatan pembelajaran. Seseorang akan berhasil dalam belajar kalau
keinginan untuk belajar itu timbul dari dirinya. Motivasi dalam hal ini meliputi dua hal: a)
mengetahui apa yang akan dipelajari, b) memahami mengapa hal tersebut patut dipelajari.

3
Kedua hal ini sebagai unsur motivasi yang menjadi dasar permulaan yang baik untuk
belajar. Sebab tanpa kedua unsur tersebut kegiatan pembelajaran sulit untuk berhasil.

3. Individualitas
Salah satu keunikan ciptaan Allah adalah bahwa setiap individu sebagai manusia
merupakan orang-orang yang memiliki pribadi/jiwa sendiri. Tidak ada dua manusia yang
sama persis, sekalipun kembaran. Kekhususan jiwa itu menyebabkan individu yang satu
berbeda dengan individu yang lainnya. Azas individualitas ini hendaknya menjadi
perhatian pendidik. Setiap guru yang menyelenggarakan pembelajaran hendaknya selalu
memperhatikan dan memahami serta berupaya menyesuaikan bahan pelajaran dengan
keadaan peserta didiknya, baik menyangkut perbedaan segi usia, bakat, kemampuan,
intelegensi, perbedaan fisik, watak dan sebagainya.

4. Keperagaan
Keperagaan meliputi semua pekerjaan panca indera yang bertujuan untuk mencapai
pengertian pemahaman sesuatu hal secara lebih tepat dan menggunakan alat-alat indera.
Alat indera merupakan pintu gerbang pengetahuan. Untuk memiliki sesuatu kesan yang
terang dalam peragaan, maka murid haru mengamati bendanya tidak terbatas pada
luarnya saja, tapi harus dalam segala macam seginya, dianalisis, disusun, dikomparasikan,
sehingga murid dapat memperoleh gambaran yang lengkap.

5. Ketauladanan
Ketauladanan dalam pendidikan adalah metode influitif yang paling meyakinkan
keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk moral spiritual dan sosial anak.
Hal ini disebabkan karena pendidik merupakan contoh terbaik dalam pandangan anak
yang akan ditirunya dalam tindak-tanduknya, dan tata santunnya, disadari atau tidak
bahkan terpatri dalam jiwa dan perasaannya tentang gambaran seorang pendidik. Dengan
keteladanan serta menampilkan pribadi yang baik secara wajar tanpa dibuat-buat atau
memaksakan diri sedemikian rupa, wajah yang cerah hidup yang wajar dan pribadi yang
luhur akan memberikan pengaruh yang kuat terhadap anak didik, sehingga inti
kewibawaan yang sangat pribadi dalam pendidikan akan datang dengan sendirinya.

6. Pembiasaan
4
Pembiasaan adalah upaya praktis dalam pembinaan dan pembentukan kepribadian
anak. Hasil dari pembiasaan yang dilakukan oleh pendidik adalah terciptanya suatu
kebiasaan bagi anak didik. Kebiasaan adalkah satu tingkah laku tertentu yang sifatnya
otomatis, tanpa direncanakan terlebih dahulu, dan berlaku begitu saja tanpa dipikirkan
lagi. Pembiasaan dalam pendidikan agama hendaknya dimulai sedini mungkin Rasulullah
memerintahkan kepada para pendidik agar mereka menyuruh anak-anak mengerjakan
shalat, tatkala berumur tujuh tahun.

7. Asas Perhatian
Asas perhatian ini dapat dibedakan atas dua bentuk yaitu (1) perhatian spontan, (2)
perhatian karena didorong atau perhatian yang diusahakan. Pada perhatian spontan
biasanya timbul karena kesadaran pribadi dan bukan paksaan, sehingga perhatian spontan
ini sifatnya tahan lama dan sulit untuk dilupakan. Kemudian pada perhatian karena
didorong atau diusahakan timbul karena adanya suatu dorongan tertentu atau karena
diciptakan, perhatian yang sifatnya didorong atau diusahakan ini sangat penting sekali
dalam pelaksanaan pembelajaraan, karena banyak anak mengikuti pengajaran yang
diberikan di sekolah pada umumnya kurang serius.3

B. Prinsip Kegiatan Ekstrakurikuler


Dengan berpedoman kepada tujuan dan maksud kegiatan ekstrakurikuler di
sekolah dapat ditetapkan prinsip-prinsip program ekstrakurikuler sebagai berikut:
1. Individual, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan potensi, bakat
dan minat peserta didik masing-masing.
2. Pilihan, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan keinginan dan
diikuti secara sukarela peserta didik.
3. Keterlibatan aktif, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang menuntut keikutsertaan
peserta didik secara penuh.
4. Menyenangkan, prinsip kegiatan ekstrakurikuler dalam suasana yang disukai dan
menggembirakan peserta didik.
5. Etos kerja, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang membangun semangat peserta
didik untuk bekerja dengan baik dan berhasil.
6. Kemanfaatan sosial, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan untuk
kepentingan masyarakat.
3
Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Kalam Mulia, 2005), h.346-362.

5
Menurut Oteng Sutisna, prinsip-prinsip program ekstrakurikuler adalah:

1. Semua murid, guru-guru, dan personel administrasi hendaknya ikut serta dalam usaha
meningkatkan program yang telah dibuat.
2. Kerjasama dalam tim adalah fundamental.
3. Pembatasan-pembatasan untuk partisipasi hendaknya dihindarkan.
4. Prosesnya lebih penting daripada hasil.
5. Program hendaknnya cukup komprehensif dan seimbang dapat memenuhi kebutuhan
dan minat semua siswa.
6. Program hendaknya memperhitungkan kebutuhan khusus sekolah.
7. Program harus dinilai berdasarkan sumbangannya kepada nilai-nilai pendidikan di
sekolah dan efisiensi pelaksanaannya.
8. Kegiatan ini hendaknya menyediakan sumber-sumber motivasi yang kaya bagi
pengajaran kelas, sebaliknya pengajaran kelas hendaknya juga menyediakan sumber
motivasi yang kaya bagi kegiatan murid.

Prinsip pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler disesuaikan dengan potensi, bakat dan


minat anak usia dini yang dikemas dalam suasana yang disukai dan menggembirakan
anak. Kegiatan ekstrakurikuler yang disukai anak dapat menumbuhkan semangat pada
peserta didik karena anak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler secara sukarela dan sesuai
dengan keinginan anak. Namun, prinsip pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler pada anak
usia dini harus memperhatikan tahap perkembangan anak dan kondisi lingkungan.
Kondisi lingkungan memberikan dampak pada kebermanfaatan kegiatan ekstrakurikuler
bagi anak untuk kebutuhan dirinya dan kebermanfaatan bagi lingkungan pada jangka
yang panjang.4

C. Tujuan Kegiatan Ekstrakurikuler


Pengembangan sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler merupakan upaya untuk
mempersiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan intelektual, emosional, spiritual,
dan social. Secara sederhana, pengembangan aspek-aspek tersebut bertujuan agar peserta
didik mampu menghadapi dan mengatasi berbagai perkembangan dan perubahan yang
terjadi dalam lingkungan pada lingkup terkecil dan terdekat, hingga lingkup yang
terbesar. Luasnya jangkauan kompetensi yang diharapkan itu meliputi aspek intelektual,
4
Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, (Jakarta: Rhineka Cipta, 2009), h.291.

6
sikap emosional, dan keterampilan yang menjadikan kegiatan ekstrakurikuler sangat
diperlukan guna melengkapi ketercapaian kompetensi yang diprogramkan di dalamnya.
Sebagai kegiatan tambahan dan penunjang, kegiatan ekstrakurikuler tidak terbatas
pada program untuk membantu ketercapaian tujuan kurikuler saja, tetapi juga mencakup
pemantapan dan pembentukan kepribadian yang utuh termasuk pengembangan minat dan
bakat peserta didik. Dengan demikian program kegiatan ekstrakurikuler harus dirancang
sedemikian rupa sehingga dapat menunjang kegiatan kurikuler, maupun pembentukan
kepribadian yang menjadi inti kegiatan ekstrakurikuler.
Dari sisi ini dapat dikatakan bahwa tujuan program kegiatan ekstrakurikuler
adalah untuk memperdalam dan memperluas pengetahuan peserta didik, mengenal
hubungan antar berbagai mata pelajaran, menyalurkan bakat dan minat, serta melengkapi
upaya pembinaan manusia seutuhnya. Paling tidak, selain mengembangkan bakat dan
minat peserta didik, ekstrakurikuler diharapkan juga mampu memupuk bakat yang
dimiliki peserta didik. Dengan aktifnya peserta didik dalam kegiatan ekstrakurikuler,
secara otomatis mereka telah membentuk wadah-wadah kecil yang di dalamnya akan
terjalin komunikasi antar anggotanya dan sekaligus dapat belajar dalam mengorganisir
setiap aktivitas kegiatan ekstrakurikuler. Beberapa jenis kegiatan ekstrakurikuler baik
secara perorangan maupun kelompok diharapkan dapat meraih prestasi yang optimal,
baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.
Rohmat Mulyana mengemukakan bahwa inti dari pengembangan kegiatan
ekstrakurikuler adalah pengembangan kepribadian peserta didik. Karena itu, profil
kepribadian yang matang atau kaffah merupakan tujuan utama kegiatan ekstrakurikuler.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat tegaskan bahwa tujuan kegiatan ekstrakurikuler adalah
untuk memperkaya dan memperluas wawasan pengetahuan, pembinaan sikap dan nilai
serta kepribadian yang pada akhirnya bermuara pada penerapan akhlak mulia.5

D. Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran


Adapun prinsip-prinsip desain pembelajaran menurut Rochman Nata Wijaya
adalah sebagai berikut :
1. Prinsip efek kepuasan (law of effect), jika sebuah respon menghasilkan efek jembatan
yang memuaskan, maka hubungan stimulus dan respon akan semakin kuat.
Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respon, maka semakin
lemah pula hubungan yang terjadi antara stimulus dan respon.
5
Rohmat Mulyana, Mengartikulasi Pendidikan Nilai, (Bandung : Alfabeta, 2004), h.214.

7
2. Prinsip pengulangan (law of exercise), hubungan antara stimulus dengan respons akan
semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila
jarang atau tidak pernah dilatih.
3. Prinsip kesiapan (law of readiness), kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan
organisme itu berasal dari pendayagunaan suatu pengantar (conduction unit) dimana
unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat
atu tidak berbuat sesuatu.
4. Prinsip kesan pertama (law of primacy), prinsip yang harus dipunyai pendidik untuk
menarik perhatian peserta didik.
5. Prinsip makna yang dalam (law of intensity), makna yang dalam akan menunjang
dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu pembelajaran maka
akan semakin efektif sesuatu yang dipelajari.
6. Prinsip bahan baru (law of recentcy) Bahwa dalam suatu pembelajaran diperlukan
bahan baru untuk menambah wawasan atau pengalaman suatu peserta didik.
7. Prinsip gabungan (perluasan dari prinsip efek kepuasan dan prinsip pengulangan),
hubungan antara stimulus dan respon akan semakin kuat dan bertambah erat jika
sering dilatih dan akan semakin lemah dan berkurang jika jarang atau tidak pernah
dilatih.6

BAB III
6
Dimyati, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta:Rineka Cipta, 2006), h.78.

8
PENUTUP

A. Kesimpulan

Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang dapat mengembangkan


kepribadian, bakat, dan kemampuan seorang siswa di berbagai bidang di luar bidang
akademik. Kegiatan ini diadakan secara swadaya dari pihak sekolah maupun siswa-siswi
itu sendiri untuk merintis kegiatan di luar jam pelajaran sekolah. Kegiatan ini sangat
penting bagi siswa maupun siswi, karena meskipun kegiatan ini dilaksanakan di luar jam
pelajaran sekolah, namun kegiatan ini bertujuan positif untuk kemajuan dari siswa-siswi
itu sendiri.

Prinsip pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler disesuaikan dengan potensi, bakat


dan minat anak usia dini yang dikemas dalam suasana yang disukai dan menggembirakan
anak. Kegiatan ekstrakurikuler yang disukai anak dapat menumbuhkan semangat pada
peserta didik karena anak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler secara sukarela dan sesuai
dengan keinginan anak.

Tujuan program kegiatan ekstrakurikuler adalah untuk memperdalam dan


memperluas pengetahuan peserta didik, mengenal hubungan antar berbagai mata
pelajaran, menyalurkan bakat dan minat, serta melengkapi upaya pembinaan manusia
seutuhnya. Paling tidak, selain mengembangkan bakat dan minat peserta didik,
ekstrakurikuler diharapkan juga mampu memupuk bakat yang dimiliki peserta didik.
Dengan aktifnya peserta didik dalam kegiatan ekstrakurikuler, secara otomatis mereka
telah membentuk wadah-wadah kecil yang di dalamnya akan terjalin komunikasi antar
anggotanya dan sekaligus dapat belajar dalam mengorganisir setiap aktivitas kegiatan
ekstrakurikuler.

9
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama. Pedoman Kegiatan Pengembangan Diri untuk Madrasah. Jakarta :


Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2005.
Dimyati. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta:Rineka Cipta, 2006.
Mulyana, Rohmat. Mengartikulasi Pendidikan Nilai. Bandung : Alfabeta, 2004.
Ramayulis. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta : Kalam Mulia, 2005.
Suryosubroto. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rhineka Cipta, 2009
User Usman, Moch. Menjadi Guru Profesional. Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 1999.

10