Anda di halaman 1dari 14

BENTUK BENTUK PENGEMBANGAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI

INDONESIA

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MAKALAH KELOMPOK PADA MATA KULIAH


PENDIDIKAN MULTIKULTURAL

Disusun oleh Kelompok 8:

Aqwal Sabillah Purba Nim 0301181003

Asih Winanda Nim 0301182086

Fadhillah BatuBara Nim 0301182177

SEMESTER/JURUSAN : VII/PAI-5

DOSEN PENGAMPU : Rabiatul Adawiyah, M.Pd.I

PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA MEDAN

2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah senantiasa kita panjatkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala
Tuhan seluruh alam yang Maha Rahman dan Rahim yang mana telah melimpahkan
berkah dan nikmat kepada kita semua terutama nikmat yang paling besar yaitu nikmat
Iman, dan Islam. Shalawat serta salam selalu tercurah kepada junjungan kita, Nabi
Muhammad Shallalahu ‘alaihi Wassalam.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak sekali
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang dapat
membangun sangat penulis harapkan untuk perbaikan penulisan selanjutnya. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.

Medan, 9 November 2021

Penulis,

Kelompok 8
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................................i

DAFTAR ISI...................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN...............................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN................................................................................................2

A. Prasangka..........................................................................................................2
B. Stereotip............................................................................................................4
C. Etnosentrisme....................................................................................................5
D. Rasisme.............................................................................................................6
E. Diskriminasi......................................................................................................7
F. Pengkambinghitaman (scapegoat)....................................................................8

BAB III PENUTUP......................................................................................................10

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................11
BAB I

PENDAHULUAN

Pengertian karakter adalah sebuah gaya, sifat, ciri, maupun karakteristik yang dimiliki
seseorang yang berasal dari pembentukan ataupun tempaan yang didapatkannya melalui
lingkungan yang ada di sekitarnya.1 Karakter adalah sifat yang nyata serta berbeda yang mana
ditunjukkan oleh seseorang. karakter tersebut dapat dilihat dari beragam macam atribut di
dalam tingkah laku seseorang. Dalam kamus psikologi kata "karakter" memiliki beberapa
makna yaitu suatu kualitas atau sifat yang tetap dan terus menerus, hal yang dapat dijadikan
ciri untuk mengidentifikasi seseorang pribadi.2

Problematika berasal dari kata problem yang dapat diartikan sebagai permasalahan
atau masalah.3 Problem menurut KBBI diartikan sebagai “hal-hal yang masih belum
dipecahkan”.4 Sedangkan masalah sendiri berdasarkan KBBI merupakan “sesuatu yang harus
diselesaikan”. Dengan demikian, problematika atau masalah adalah sesuatu yang
membutuhkan penyelesaian karena ketidaksesuaian antara teori yang ada dengan kenyataan
yang terjadi.

Pendidikan multikultural bermuara pada pendidikan yang memberikan penekanan


terhadap proses penanaman cara hidup yang saling menghormati, tulus, dan toleran terhadap
keanekaragaman budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat dengan tingkat pluralitas
yang tinggi. Dengan model pendidikan ini, diharapkan masyarakat mampu menerima,
menolerir, dan menghargai keragaman yang ada. Dalam dunia pendidikan multikultural,
seorang pendidik seharusnya tidak saja profesional dalam bidang akademik, tetapi juga harus
mampu menanamkan nilai-nilai inti dari pendidikan multikultural itu, yakni demokrasi,
humanisme, dan pluralisme. Dalam makalah ini, kita akan membahas tentang karakteristik
problematika pendidikan multikultural itu sendiri.

1
Fipin Lestari, dkk., Memahami Karakteristik Anak, (Madiun: Bayfa Cendekian Indonesia, 2020), h. 2
2
Ibid., h. 1
3
Komaruddin dan Yoke Tjuparmah S., Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah, (Jakarta: Bumi Aksara,
2000), h. 145
4
Tim Penulisan KBBI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), h. 896

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Prasangka
Definisi klasik prasangka pertama kali dikemukakan oleh psikolog dari Universitas
Harvard, Gordon Allport yang menulis konsep itu dalam bukunya, The Nature of
Prejudice pada tahun 1954. Istilah ini berasal dari praejudicium, yakni pernyataan atau
kesimpulan tentang sesuatu berdasarkan perasaan atau pengalaman yang dangkal terhadap
orang atau kelompok tertentu.
Menurut Allport, “Prasangka adalah antipati berdasarkan generalisasi yang salah
atau tidak luwes. Antipati itu dapat dirasakan atau dinyatakan. Antipati itu bisa langsung
ditujukan kepada kelompok atau individu dari kelompok tertentu.” Allport memang sangat
menekankan antipati bukan sekedar antipati pribadi tetapi antipati kelompok.5
Johnson (1986) mengatakan prasangka adalah sikap positif atau negatif
berdasarkan keyakinan stereotipe kita tentang anggota dari kelompok tertentu. Prasangka
meliputi keyakinan untuk menggambarkan jenis pembedaan terhadap orang lain
sesuaidengan peringkat nilai yang kita berikan. Prasangka yang berbasis ras kita sebut
rasisme, sedangkan yang berbasis etnis diebut etnisisme.6
Menurut John (1981) prasangka adalah sikap antipati yang berlandaskan pada cara
menggeneralisasi yang salah dan tidak fleksibel. Kesalahan ini mungkin saja diungkapkan
secara langsung kepada orang yang menjadi anggota kelompok tertentu. Prasangka
merupakan sikap negative yang diarahkan kepada seseorang atas dasar perbandingan
dengan kelompoknya sendiri.7 Jadi prasangka merupakan salah satu rintangan atau
hambatan bagi kegiatan komunikasi karena orang yang berprasangka sudah bersikap
curiga dan menentang komunikator yang melancarkan komunikasi. Dalam prasangka,
emosi memaksa kita untuk menarik kesimpulan atas dasar prasangka buruk tanpa
memakai pikiran dan pandangan kita terhadap fakta yang nyata. Karena itu, bila prasangka
sudah menghinggapi seseorang, orang tidak dapat berpikir logis dan obyektif dan segala
apa yang dilihatnya akan dinilai secara negatif.

5
Sutarno, Pendidikan Multikultural, (Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen
Pendidikan Nasional, 2008), h. 4
6
Ibid., h. 5
7
Ibid., h. 6

2
Kata Allport, prasangka negatif terhadap etnik merupakan sikap antipati yang
dilandasi oleh kekeliruan atau generalisasi yang tidak fleksibel, hanya karena perasaan
tertentu dan pengalaman yang salah. Karena itu, sejak dulu sampai sekarang, pengertian
prasangka telah mengalami transformasi. Pada, mulanya prasangka merupakan pernyataan
yang hanya didasarkan pada pengalaman dan keputusan yang tidak teruji terlebih dahulu.
Pernyataan itu bergerak pada skala kontinum seperti suka/tidak suka atau
mendukung/tidak mendukung terhadap sifat-sifat tertentu (Liliweri, 201). 8 Sekarang
pengertian prasangka lebih diarahkan pada pandangan emosional dan negatif terhadap
seseorang atau sekelompok orang dibandingkan dengan kelompok sendiri.
Definisi Allport ini disanggah oleh psikolog Theodore Adorno. Adorno yang
menciptakan teori pribadi otoriter (authoritarian personality) mengemukakan melalui riset
atas pola rasisme yang dilakukan di wilayah selatan AS. Ia menemukan bahwa pola-pola
rasisme muncul dari kepribadian otoriter. Jadi pada dasarnya prasangka merupakan salah
satu tipe kepribadian. Dengan demikian, kita tidak perlu mempermasalahkan tindakan
rasisme karena tindakan itu muncul dari pribadi berprasangka (prejudiced persons) yang
diwarisi dari proses sosialisasi.9
Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa prasangka mengandung
sikap, pengertian, keyakinan dan bukan tindakan. Jadi prasangka tetap ada di pikiran,
sedangkan diskriminasi mengarahkan tindakan sistematis. Kalau prasangka berubah
menjadi tindakan nyata, maka prasangka sudah berubah menjadi diskriminasi yaitu
tindakan menyingkirkan status dan peranan seseorang dari hubungan, pergaulan, dan
komunikasi antar manusia.
Secara umum kita dapat melihat prasangka mengandung tipe afektif (berkaitan
dengan perasaan negatif), kognitif (selalu berpikir tentang suatus tereotipe) dan konasi
(kecenderungan perilaku diskriminatif). Prasangka didasarkan atas sebab-sebab seperti :
a. Generalisasi yang keliru pada perasaan
b. Stereotipe antaretnik
c. Kesadaran “in group” dan “out group” yaitu kesadaran akan ras “mereka” sebagai
kelompok lain yang berbeda latar belakang kebudayaan dengan “kami”.

8
Ibid., h. 7
9
Ibid., h. 13

3
B. Stereotipe
Stereotipe merupakan salah satu bentuk prasangka antar etnik/ras. Orang
cenderung membuat kategori atas tampilan karakteristik perilaku orang lain berdasarkan
kategori ras, jenis kelamin, kebangsaan, dan tampilan komunikasi verbal maupun
nonverbal. Stereotipe merupakan salah satu bentuk utama prasangka yang menunjukkan
perbedaan “kami” (in group) yang selalu dikaitkan dengan superioritas kelompok in
group dan yang cenderung mengevaluasi orang lain yang dipandang inferior yaitu
”mereka” (out group). Stereotipe adalah pemberian sifat tertentu terhadap seseorang
berdasarkan kategori yang bersifat subjektif, hanya karena dia berasal dari kelompok yang
lain. Pemberian sifat itu bisa sifat positif maupun negatif.
Verd eber (1986) menyatakan bahwa stereotipe adalah sikap dan juga karakter
yang dimiliki seseorang dalam menilai karakteristik, sifat negatif maupun positif orang
lain, hanya berdasarkan keanggotaan orang itu pada kelompok tertentu. Sebagaimana
halnya dengan sikap, stereotipe memiliki valensi dari positif hingga negatif atas sesuatu
yang disukai/tidak (favorability).10
Allan G. Johnson (1986) menegaskan bahwa stereotipe adalah keyakinan
seseorang untuk menggeneralisasikan sifat-sifat tertentu yang cenderung negatif tentang
orang lain karena dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman tertentu. Keyakinan ini
menimbulkan penilaian yang cenderung negatif atau bahkan merendahkan kelompok lain.
Ada kecenderungan untuk memberi “label” atau cap tertentu pada kelompok tertentu dan
yang termasuk problem yang perlu diatasi adalah stereotipe yang negatif atau memandang
rendah kelompok lain. Misalnya, seseorang dari suku tertentu diberi “label”, pandai bicara
untuk orang dari daerah Batak. Seseorang menyimpulkan ini karena dari pengalaman dia
mengetahui bahwa mereka memang banyak bicara. Ditambah dengan pengetahuan yang
diadapatkan dari televisi yang memperlihatkan bahwa sebagian besar pengacara yang
terkenal di Indonesia dan sering muncul dari pemberitaan di televisi itu ternyata berasal
dari orang Batak. Kita menggeneralisasikan secara salah dari informasi terbatas yang ada
pada kita. Untuk mengatasi masalah ini adalah kita perlu memberi informasi yang benar
dan lebih komprehensif tentang sesuatu hal sehingga stereotipe semacam ini tidak
tumbuh.

10
Ibid., h. 14

4
Dalam menghadapi fenomena budaya yang ada, kita perlu memberi informasi
yang benar tentang berbagai hal yang berkaitan dengan suku, ras, agama dan antar
golongan. Seringkali, keberadaan individu dalam suatu kelompok telah dikategorisasi dan
digeneralisasi. Miles Hewstone dan Rupert Brown (1986) mengemukakan tiga aspek
esensial dari stereotipe:
a. Karakter atau sifat tertentu yang berkaitan dengan perilaku, kebiasaan berperilaku,
gender dan etnis. Misalnya wanita Priangan itu suka bersolek
b. Bentuk atau sifat perilaku turun temurun sehingga seolah-olah melekat pada semua
anggota kelompok. Misalnya orang Ambon itu keras
c. Penggeneralisasian karakteristik, ciri khas, kebiasaan, perilaku kelompok pada
individu yang menjadi anggota kelompok tersebut.

C. Etnosentrisme
Etnosentrisme merupakan paham-paham yang pertama kali diperkenalkan oleh
William Graham Sumner (1906), seorang antropolog yang beraliran interaksionisme.
Sumner berpandangan bahwa manusia pada dasarnya individualistis yang cenderung
mementingkan diri sendiri, namun karena harus berhubungan dengan manusia lain, maka
terbentuklah sifat hubungan yang antagonistik (pertentangan). Supaya pertentangan itu
dapat dicegah, perlu ada folkways (adat kebiasaan) yang bersumber pada pola-pola
tertentu. Mereka yang mempunyai folkways yang sama cenderung berkelompok dalam
suatu kelompok yang disebut etnis.
Ada juga yang berpendapat bahwa Etnosentrisme adalah sikap emosional bahwa
kelompok etnik seseorang lebih tinggi dari yang lain; bahwa nilai, keyakinan, dan persepsi
seseorang adalah benar, dan bahwa cara hidup dan sikap kelompok adalah yang terbaik
(Rongers, 1995).11
Etnosentrisme adalah anggapan bahwa kelompok sendiri sebagai pusat atas
segalanya dan membandingkan kelompok lain dengan penilaian standar secara subjektif
atas dasar kelompoknya. Sikap etnosentrisme merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh
kelompok dimana memliki anggapan bahwa kebudayaan kelompoknya adalah
kebudayaan yang paling baik. Etnosentrisme membuat individu memiliki acuan bahwa
dapat mengukur baik buruk, benar salahnya kelompok lain berdasarkan standar

11
Ibid., h. 15

5
kelompoknya. Etnosentrisme mucul ketika individu menilai bahwa kelompok lain
berdasarkan standar kelompoknya sendiri, dalam arti individu menilai bahwa
kelompoknya sendiri lebih baik dari pada kelompok lain.12
Etnosentrisme menurut Levine & Cambell merupakan sikap yang termasuk
melihat kelompoknya memiliki budi yang luhur dan unggul, standar dari kelompoknya
memiliki nilai yang universal sementara kelompok luar (out group) dinilai sebagai
kelompok yang hina dan rendah. Pendapat ini juga didukung oleh Kusumowardhani dkk
(2013) yang menyatakan bahwa di dalam sebuah kelompok terdapat proses
membandingkan antara kelompok sendiri dengan kelompok lain, individu di dalam
kelompok tersebut akan menbandingkan kelompoknya dan menganggap kelompoknya
lebih positif, sedangkan kelompok lain akan selalu dipandang lebih rendah atau negatif
(out-group derogation).
Sikap etnosentrisme merupakan pandangan suatu kelompok yang menunjukan
pusat segala sesuatu, dan segala pandangan diukur dari perspektif kelompok tersebut, di
dalam setiap kelompok memiliki kebanggaan, kesombongan, merasa kelompoknya kuat
(superior), membenarkan apa yang dilakukan oleh kelompoknya (in group) dan
mengganggap remeh sesuatu yang berasal dari kelompok luar (out group), Pada saat yang
bersamaan juga etnosetrisme melahirkan sinisme, ynag berupa sikap meremehkan dan
apriori, hal ini yang menjadikan adanya konflik laten antar kelompok dalam jangka waktu
yang cukup lama dan sulit untuk terselesaiakan.

D. Rasisme
Kata ras berasal dari bahasa Prancis dan Itali “razza” pertama kali istilah ras
dikenalkan Franqois Bernier, antropolog Prancis, untuk mengemukakan gagasan tentang
perbedaa manusia berdasarkan kategori atau karakteristik warna kulit dan bentuk wajah.
Setelah itu, orang lalu menetapkan hirarki manusia berdasarkan karakteristik fisik atas
orang eropa berkulit putih yang diasumsikan sebagai warga masyarakat kelas atas
berlawanan dengan orang afrika yang berkulit hitam sebagai warga kelas dua.
Ras sebagai konsep secara ilmiah digunakan bagi “penggolongan manusia” oleh
Bufon, antropolog Perancis, untuk menerangkan penduduk berdasarkan pembedaan
biologis sebagai parameter. Pada abad-9, para ahli biologis membuat klasifikasi ras atas

12
Baihaqi dan MIF, Pengantar Psikologi Kognitif, (Jakarta: Refika Aditama, 2016)

6
tiga kelompok, yaitu kaukasoid, negroid dan mongoloid. Hasil penilitian menunjukan
bahwa tidak ada ras yang benar-benar murni lagi. Secara biologis, konsep ras selalu
dikaitkan dengan pemberian karakteristik seseorang atau sekelompok orang ke dalam satu
kelompok tertentu yang secara genetik memiliki kesamaan fisik seperti warna kulit, mata,
rambut, hidung, atau potongan wajah. Pembedaan seperti itu hanya mewakili faktor
tampilan luar.
Karena tidak ada ras yang benar-benar murni, maka konsep tentang ras seringkali
merupakan kategori yang bersifat non- biologis. Ras hanya merupakan konstruksi ideologi
yang menggambarkan gagasan rasis. Secara kultur. Carus menghubungkan ciri ras dengan
kondisi kultur. Ada empat jenis ras yaitu : afrika, mongol, dan amerika yang berturut-turut
mencerminkan sian hari (terang), malam hari (gelap), cerah pagi (kuning), dan sore (senja)
yang merah.Namun konsep ras yang kita kenal lebih mengarah pada konsep kultur dan
merupakan kategori sosial, bukan biologis. Montagu, membedakan antara “ide sosial dari
ras” dan “ide biologis dari ras”. Definisi sosial berkaitan dengan fisik dan perilaku
sosial.13

E. Diskriminasi
Diskriminasi adalah perilaku menerima atau menolak seseorang semata-mata
berdasarkan keanggotaannya dalam kelompok. Misalnya banyak perusahaan yang
menolak mempekerjakan karyawan dari etnik tertentu. Diskriminasi bisa terjadi tanpa
adanya prasangka dan sebaliknya seseorang yang berprasangka juga belum tentu akan
mendiskriminasikan, akan tetapi selalu terjadi kecenderungan kuat prasangka melahirkan
diskriminasi. Prasangka menjadi sebab diskriminasi manakala digunakan sebagai
rasionalisasi diskriminasi. Artinya prasangka yang dimiliki terhadap kelompok tertentu
menjadi alasan untuk mendiskriminasikan kelompok tersebut.14
Jika prasangka mencakup sikap dan keyakinan, maka diskriminasi mengarah pada
tindakan. Tindakan diskriminasi biasanya dilakukan oleh orang yang memiliki prasangka
kuat akibat tekanan tertentu, misalnya tekanan budaya, adat istiadat, kebiasaan atau
hukum. Antara prasangka dan diskriminasi ada hubungan yang saling menguatkan, selama
ada prasangka, disana ada diskriminasi. Jika prasangka dipandang sebagai keyakinan atau

13
Yudi Hartono, Dardi Hasyim, Pendidikan Multikultural di Sekolah, (Surakarta: UPT Penerbitan dan
Percetakan UNS, 2003), h. 56
14
Ibid, h. 58

7
ideologi, maka diskriminasi adalah terapan keyakinan atau ideologi. Jadi diskriminasi
merupakan tindakan yang membeda-bedakan dan kurang bersahabat dari kelompok
dominan terhadap kelompok subordinasi.15
Sedangkan diskriminasi menurut Theodorson, diskriminasi adalah
ketidakseimbangan atau ketidakadilan yang ditujukan oleh orang atau kelompok lain yang
biasanya bersifat kategorikal, atau atribut-atribut khas, seperti berdasarkan ras, kesuku
bangsaan, agama, atau keanggotaan kelas-kelas sosial. Diskriminasi bersifat aktif dari
prasangka yang bersifat negatif (negative prejudice) terhadap seorang individu atau suatu
kelompok.16

F. Pengkambinghitaman (Scapegoat)
Kalau orang bule punya istilah “scapegoat”, orang Indonesia tidak mau kalah
membuat istilah sendiri, “Kambing Hitam”. Siapa yang tidak tahu kambing hitam?
Sepertinya kebanyakan orang Indonesia mengetahui apa makna kambing hitam, makhluk
populer teman “buaya darat”. Konotasi kambing hitam memang sarat dengan hal negatif,
pesakitan, tumbal alias pihak yang disalahkan, tapi konotasinya akan berubah positif kalau
si kambing diolah menjadi gulai kambing atau kambing guling.
Fenomena kambing hitam atau mengkambing hitamkan orang lain sudah
menjamur di masyarakat sejak dulu, bahkan sejak Negara ini belum merdeka, atau
mungkin lebih lama lagi, siapa yang tahu. Secara istilah, kambing hitam bermakna orang
atau suatu faktor eksternal yang sebenarnya tidak bersalah, tetapi dituduh bersalah atau
dijadikan tumpuan kesalahan.
Pada dasarnya jika dijelaskan dari kacamata psikologis, fenomena kambing hitam
ini bisa menjadi semacam cara untuk melarikan diri, contohnya seseorang yang gagal
biasanya akan merasakan kekecewaan. Perasaan ini merupakan suatu perasaan yang tidak
menyenangkan, sehingga orang-orang yang mengalaminya ingin cepat-cepat dan segera
mengembalikan perasaan seperti sedia kala. Nah, cara yang paling mudah terbisik di
benak adalah dengan menimpakan kesalahan kepada orang lain atau suatu faktor eksternal
yang memungkinkan. Mengutip sebuah literature psikologi sosial yang ditulis oleh oleh
Michener dan DeLamater pada tahun 1999, fenomena ini disebut sebagai self-serving bias
atau penilaian yang salah tentang diri sendiri. Artinya bila suatu keberhasilan diraih maka
15
Sutarno, Op.Cit., h. 116
16
Sutarno, Op.Cit, h. 59

8
kita tidak segan-segan mengatakan bahwa hal itu karena usaha sendiri yang tidak kenal
lelah. Hal yang menarik adalah bila kegagalan menghadang maka dengan lantang pula
kita akan menyalahkan orang lain atau suatu faktor eksternal.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak dari kita yang menyadari ada yang salah
dengan keadaan atau perilaku atau tatanan kebiasaan dalam masyarakat, namun tidak satu
pun yang menyadari untuk menerimanya jika disalahkan atas kejadian negatif yang
terjadi. Contohnya, banyak mahasiswa di kampus-kampus mengeluhkan susahnya
mendapat ilmu mendalam karena terbatasnya fasilitas. Mungkin itu masuk akal, namun
tidak satupun yang mau terima jika dikatakan itu terjadi bukan karena masalah fasilitas,
tapi lebih pada pribadi mahasiswanya yang malas. Contoh yang lain, banyak orang tua
ketika menumpahkan uneg-uneg (curhat) kepada temannya atau sanak keluarganya sambil
mengatakan betapa nakal dan susah diaturnya anak mereka, tapi orang tua mana yang
terima jika dikatakan bahwa itu adalah salah mereka dalam mendidik anak? Lagi-lagi
kambing hitam yang paling mudah dijadikan tumbal.
Pada intinya, teori kambing hitam mengemukakan kalau individu tidak bisa
menerima perlakuan tertentu yang tidak adil, maka perlakuan itu dapat ditanggungkan
kepada orang lain. Ketika terjadi depresi ekonomi di Jerman, Hitler mengkambing
hitamkan orang yahudi sebagai penyebab rusaknya sistim politik dan ekonomi di negara
itu. Ada satu pabrik di auscwitz, Polandia yang digunakan untuk membantai hampir 1,5
juta orang Yahudi. Tua muda, besar kecil laki-laki dan perempuan dikumpulkan. Kepala
digunduli dan rambut yang dikumpulkan mencapai hampir 1,5 ton. Rambut yang
terkumpul itu akan dikirimkan ke jerman untuk dibuat kain. Richard Chamberlain berteori
bahwa bangsa Aria adalah bangsa yang besar dan mulia yang mempunyai misi suci untuk
membudayakan umat manusia. Bangsa Aria (Jerman) ini merasa bahwa kekacauan
ekonomi dan politik di Jerman disebabkan oleh bangsa Yahudi.17

17
Sutarno, Opcit, h. 118

9
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Karakteristik adalah sifat-sifat yang perlu diteliti berkenaan dengan kekhasan
yang membedakan seseorang dengan orang lainnya. Hal ini dilakukan agar dapat
menyesuaikan cara-cara membujuknya. Menurut H.A.R Tilaar, pendidikan
multikultural biasanya memiliki ciri tujuanya membentuk "manusia budaya" dan
menciptakan "masyarakat berbudaya (berperadaban)". Materinya mengajarkan nilai-
nilai luhur kemanusiaan, nilai-nilai bangsa, dan nilai-nilai kelompok etnis (cultural).
Dan menjawab dari problema persoalan multikultural dalam pendidikan. Secara garis
besar, karakteristik problema pendidikan multikultural adalah prasangka, stereotip,
etnosentrisme, rasisme, diskriminasi, dan kambinghitam.
B. Saran
Adapun saran yang dapat penulis berikan yaitu, penting bagi kita mengetahui
dan memahami karakteristik problema pendidikan multikultural dalam bermasyarakat
terutama kita adalah masyarakat yang kaya akan budaya dan agama. Benar bahwa
fenomena toleransi dan intoleransi dalam masyarakat adalah hal yang paling sering
menjadi alasan lahirnya konflik di tengah masyarakat Indonesia, yang jika ditarik dari
garis sejarah akan berujung pada fenomena tanpa akhir. Maka dari itu, menghargai
keberadaan antar umat beragama menjadikan nilai plus bagi kita warga Indonesia.
Menjunjung filosofi Negara berupa Pancasila adalah syarat bagi kita yang
menginginkan keidupan bermasyarakat yang rukun dan harmonis. Tanpa adanya
paksaan dalam berkehendak serta memiliki hak dalam berpendapat, sehingga
seyogyanya makna Kebhinekaan pun lahir dalam setiap masyarakat Indonesia.

10
DAFTAR PUSTAKA

Baihaqi dan MIF. 2016. Pengantar Psikologi Kognitif. Jakarta: Refika Aditama
Fipin Lestari, dkk. 2020. Memahami Karakteristik Anak. Madiun: Bayfa Cendekian Indonesia
Komaruddin dan Yoke Tjuparmah S. 2000. Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah. Jakarta: Bumi
Aksara
Sutarno. 2008. Pendidikan Multikultural. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan Nasional
Tim Penulisan KBBI. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Yudi Hartono dan Dardi Hasyim. 2003. Pendidikan Multikultiral di Sekolah. Surakarta: UPT
Penerbitan dan Percetakan UNS

11