Anda di halaman 1dari 29

Panduan

TRANSFER PASIEN (HAND OVER)


RUMAH SAKIT BAKTI TIMAH MENTOK

1
KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT BAKTI TIMAH MUNTOK

NOMOR : 043/RSBTMUNTOK/SK-1510/SKP/I/2018

TENTANG
PEMBERLAKUAN PANDUAN TRANSFER PASIEN

DI RUMAH SAKIT BAKTI TIMAH MUNTOK

DIREKTUR RUMAH SAKIT BAKTI TIMAH MUNTOK

Menimbang : a. Bahwa dalam upaya menjamin kesinambungan pelayanan rumah


sakit, maka diperlukan standarisasi pemindahan pasien dari satu
unit pelayanan ke unit pelayanan lain di dalam maupun di luar RS
yang mendapatkan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Bakti
Timah Mentok;
b. Bahwa agar proses transfer pasien terlaksana dengan baik dan
terstandardisasi maka perlu suatu Panduan Transfer Pasien sebagai
landasan bagi penyelenggaraan pendaftaran pasien;
c. Bahwa sehubungan dengan hal tersebut di atas, perlu ditetapkan
berdasarkan Keputusan Direktur Rumah Sakit.

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004


tentang Praktik Kedokteran;
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan;

2
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009
tentang Rumah Sakit;
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
269/Menkes/Per/III/2008 tentang Rekam Medis;
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1438/Menkes/Per/IX/2010 tentang Standar Pelayanan Kedokteran;
6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 56 Tahun
2014 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit.
7. Akta Notaris Irma Devita Purnamasari S.H., M.Kn nomor 34
tanggal Desember 2014 tentang pendirian PT.RUMAH SAKIT
BAKTI TIMAH.
8. Keputusan Direktur PT.Rumah Sakit Bakti Timah No 052/PT-
RSBT/SK-0000/16 tanggal 23 maret 2016 tentang Pengakatan
Direktur Rumah Sakit Bakti Timah Muntok di lingkungan
PT.Rumah Sakit Bakti Timah Muntok a.n Sdri dr.Yovita Sari
Metkono.
MEMUTUSKAN
Menetapkan :
KESATU : Keputusan Direktur Rumah Sakit Bakti Timah Muntok tentang Panduan
Transfer Pasien di lingkungan Rumah Sakit Bakti Timah Mentok
KEDUA : Panduan Transfer Pasien di Lingkungan Rumah Sakit Bakti Timah
Mentok sebagaimana terlampir dalam Keputusan ini.
KETIGA : Panduan Transfer Pasien di lingkungan Rumah Sakit Bakti Timah
Mentok digunakan dalam pemindahan pelayanan pasien dari satu unit
kerja ke unit kerja lain di Rumah Sakit Bakti Timah Mentok.
KEEMPAT : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila di kemudian
hari ternyata terdapat kekeliruan dalam ketetapan ini akan diadakan
perbaikan sebagaimana mestinya.

3
DITETAPKAN DI : MUNTOK

PADA TANGGAL : 01 SEPTEMBER 2018

DIREKTUR

dr. Yovita Sari Metkono

NIK : 20169401

Tembusan:
1. Wadir Pelayanan Medik
2. Seluruh unit terkait
3. Arsip

4
KETIGA :

LAMPIRAN SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT BAKTI


TIMAH MUNTOK

NOMOR : 044/RSBTMUNTOK/SK-1510/SKP/I/2018

TANGGAL : 1 SEPTEMBER 2018

TENTANG : PEMBERLAKUAN PANDUAN TRANSFER PASIEN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seiring dengan Pelayanan Berfokus pada pasien (patient centered care),
maka integrasi pelayanan tidak lagi dihambat oleh ketidaktahuan pemberi

5
pelayanan dari satu unit pemberi layanan dengan pemberi pelayanan unit pemberi
layanan lainnya dalam rumah sakit, maupun antar rumah sakit dalam memenuhi
kebutuhan pelayanan kesehatan pasien. Mengingat kompleksitas unit pemberi
layanan di dalam suatu rumah sakit dan kesibukan para pemberi layanan, kerap kali
menyebabkan terbentuknya “dinding pemisah“ antar unit pemberi layanan maupun
antar pemberi pelayanan, berupa minimnya informasi yang tersampaikan kepada
pemberi pelayanan pada unit layanan berikutnya, sehingga kesinambungan
pelayanan kesehatan pasien menjadi kurang optimal, bahkan terjadi over treatment
(pengobatan ganda) yang tidak diperlukan.
Berdasarkan penelitian diketahui bahwa 20-30% informasi tidak
tersampaikan kepada pemberi pelayanan berikutnya selama proses transfer dan
tidak terdokumentasi pada berkas rekam medis pasien. Akibatnya menimbulkan
dampak ikutan berupa tertundanya bahkan terulangnya penegakan diagnosis dan
pengobatan medis, yang pada akhirnya berdampak pada rendahnya kualitas
pelayanan klinis pasien, berkurangnya kepuasan pasien, bertambahnya lama
perawatan pasien, dan bertambahnya biaya perawatan kesehatan pasien.
Panduan ini memberikan ketentuan yang perlu diperhatikan oleh pemberi
pelayanan, dokter, dokter spesialis, perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya
dalam memberikan pelayanan kepada pasien di unit layanan masing-masing.

6
B. PENGERTIAN
1. Transfer Pasien
Transfer pasien didefinisikan sebagai suatu proses pemindahan atau serah terima
kewenangan primer (primary authority) dan tanggung jawab atas pemberian
asuhan klinis pasien dari suatu unit pemberi asuhan pelayanan kepada unit
penerima asuhan pelayanan selanjutnya di dalam rumah sakit maupun di luar
rumah sakit.
2. Serah terima/Penyerahan Pasien (hand over)
Serah terima (hand over) adalah salah satu kegiatan utama transfer pasien yang
bertujuan untuk menyediakan informasi yang akurat atas asuhan pasien,
pengobatan pasien, kondisi terkini pasien, dan perubahan kondisi pasien yang
mungkin terjadi untuk mencapai kesinambungan asuhan pelayanan pasien dan
keselamatan pasien.
hand over asuhan pasien dilaksanakan apabila terjadi perubahan pada lokasi
asuhan pasien atau perubahan pemberi asuhan pasien, seperti:
a. Perubahan tingkat asuhan pasien
 Pasien dari klinik Rawat Jalan, IGD, atau unit pemberi asuhan lainnya
(Kamar Operasi, Kamar Bersalin, dsb.)
 Transfer pasien dari Klinik Rawat Jalan ke IGD
b. Transfer sementara asuhan pasien
 Transfer dari ruangan rawat inap, klinik rawat jalan, atau IGD ke unit
penunjang diagnostik
c. Pemulangan/discharge/keluar rumah sakit
 Transfer alih rawat ke rumah sakit lain
 Transfer pasien ke rumah tinggal
 Transfer pasien ke sarana pelayanan kesehatan lain untuk pemeriksaan
penunjang diagnostik
d. Pergantian shift pemberi asuhan
 Pergantian shift kerja

7
 Cuti DPJP didelegasikan ke DPJP pengganti
Penerima dan sekaligus Pemberi Asuhan berikutnya bertanggung jawab atas
asuhan pasien berikut:
a. Melaksanakan kegiatan asuhan klinis secara kompeten
b. Mengetahui narasi riwayat asuhan pasien (keluhan utama dan riwayat
kesehatan pasien yang relevan)
c. Menyadari data atau kejadian penting atas kondisi pasien
d. Mengetahui data penting untuk monitoring perubahan dan tingkat
ketidakpastian kondisi pasien
e. Mampu menangani terulangnya kejadian sebelumnya dan mengantisipasi
kemungkinan terjadinya kejadian yang akan dating
f. Merencanakan strategi asuhan pasien selanjutnyaMelakukan koordinasi
ke atas maupun koordinasi ke bawah kewenangannya dan melakukan
kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain dalam pemberian asuhan pasien
selanjutnya
a. Melibatkan pasien dan keluarganya dalam pengambilan keputusan

8
BAB II
RUANG LINGKUP

A. Kategori Transfer Pasien


1. Transfer Antar Rumah Sakit (Inter Hospital)
a. Transfer antar Rumah Sakit
b. Transfer antara Rumah Sakit ke Layanan Lain
3. Transfer Intra Rumah Sakit (Intra Hospital)
a. Transfer antar Profesi
Transfer yang dilakukan antara dokter operator bedah kepada dokter
spesialis anestesi di ruang pulih sadar; perawat ambulance dengan perawat
Instalasi Gawat Darurat
b. Transfer Antar Unit Kerja
Transfer yang dilakukan antar Tim IGD dengan Tim Rawat Inap; antara
Tim Rawat Inap dengan Tim Penunjang Diagnostik lain; antara Tim Rawat
Inap dengan Tim Kamar Operasi atau Tim Kamar Bersalin; transfer antar
Poli Spesialis di Unit Rawat Jalan.
c. Transfer Antar Shift Kerja (Operan pasien)
Transfer yang dilakukan antara Tim yang memberikan asuhan pasien pada
suatu shift ke Tim pada shift berikutnya dalam satu Unit pemberi layanan,
misalnya Tim IGD, Tim Rawat Inap. Kegiatan transfer pada kategori ini
lebih menekankan pada serah terima (Hand over) informasi asuhan pasien,
tanpa memindahkan posisi pasien.

9
B. Petugas Pelaksana Transfer Pasien
1. Tenaga Profesional yang Terlibat Yaitu Petugas IGD dan Petugas Rawat Inap,
dengan Kriteria :
a. DPJP sebagai pengambil keputusan transfer pasien
b. Dokter Umum Jaga
Keterampilan bantuan hidup dasar dan lanjut
c. Perawat
Keterampilan bantuan hidup dasar dan lanjut
2. Kriteria dan kualifikasi tenaga pelaksana transfer
Petugas pendamping Keterampilan yang
Pasien Peralatan Utama
(minimal) dibutuhkan
Derajat 0 Tidak perlu dokter, Bantuan hidup dasar
perawat atau parmedis
Derajat 0,5 Tidak perlu dokter, Bantuan hidup dasar
(orang perawat atau parmedis
tua/delirium)
Derajat 1 Perawat/petugas yang  Bantuan hidup dasar  Oksigen
berpengalaman (sesuai  Pelatihan tabung gas  Suction
dengan kebutuhan pasien)  Pemberian obat-obatan  Tiang infus
 Kenal akan tanda portabel
deteriorasi  Pompa infus
 Keterampilan trakeostomi dengan baterai
dan suction  Oksimetri denyut
Derajat 2 Perawat dan petugas yang  Semua ketrampilan di  Semua peralatan
berpengalaman (sesuai atas, ditambah; di atas, ditambah;
dengan kebutuhan pasien)  Dua tahun pengalaman  Monitor EKG dan
dalam perawatan intensif tekanan darah
(oksigenasi, sungkup  Defibrillator
pernapasan, defibrillator,
monitor)
Derajat 3 Dokter, perawat petugas Standar kompetensi dokter  Monitor HCU
yang berpengalaman harus di atas standar portabel yang
minimal lengkap
Dokter:  Ventilator dan
 Keterampilan bantuan peralatan transfer
hidup dasar dan lanjut yang memenuhi

10
Perawat: standar minimal.
Keterampilan bantuan
hidup dasar dan lanjut

C. Komunikasi
1. Dalam proses transfer pasien perlu dilakukan komunikasi dalam bentuk tatap
muka secara langsung, yang terdiri atas elemen informasi sebagai berikut:
a. I-D-E-A-L
I Identity Identitas pasien : nama, nomor Rekam Medis, tanggal lahir
D Diagnosis Diagnosis dan kondisi saat ini
E Events Kejadian/kondisi terakhir dan perubahan kondisi atau pengobatan
A Anticipated Antisipasi terhadap perubahan kondisi dan pengobatan, monitoring
L Leave Luangkan waktu untuk memberi kesempatan bertanya/klarifikasi

b. I-S-O-B-A-R
I Identification of PERKENALAN DIRI PETUGAS DAN PASIEN
Patient Melakukan identifikasi untuk memastikan identitas pasien sesuai
dengan pasien yang bersangkutan, terdiri atas Nama Pasien,
Tanggal Lahir dan Nomor Rekam Medis
S Situation and PERNYATAAN SINGKAT PERMASALAHAN PASIEN
Status Status klinis pasien, misalnya status kesadaran, tanda vital,
instruksi asuhan selanjutnya, kebutuhan pasien, termasuk
prospek/prognosis pasien saat transfer
O Observation TANDA VITAL TERKAHIR & ASESMEN KLINIS
Observasi terakhir yang dilakukan terhadap pasien, termasuk
monitoring selama proses transfer yang barus saja berlangsung
B Background & PERNYATAAN SINGKAT RIWAYAT PENYAKIT
History Riwayat penyakit dan penyakit penyerta, temuan alergi,
pemeriksaan ifisk, pemeriksaan penunjang, dan diagnosis kerja
A Assessment & PENYAMPAIAN RENCANA ASUHAN PASIEN
Actions Sharing kondisi pasien yang telah teratasi selama asuhan
sebelumnya, dan temuan abnormal pemeriksaan penunjang
diagnostik atau hasil yang tertunda, termasuk rencana asuhan
pasien selanjutnya
R Responsibility & KONFIRMASI DAN SERAH TERIMA TANGGUNG JAWAB
Risk Management Serah terima kewenangan dan tanggung jawab pasien berupa
tanda tangan pada Form Serah Terima Pasien ; termasuk prosedur
read-back atas temuan informasi kritis, dan penyampaian

11
kewaspadaan terhadap risiko penyakit menular

2. Informasi yang disampaikan dan diterima tercatat dalam Form Serah Terima
Pasien dan disatukan dengan rekam medis pasien.
3. Komunikasi dilaksanakan sedemikian sehingga penyampaian informasi diterima
dan dimengerti dengan baik oleh penerima informasi, dan tidak terjadi:
 Informasi tidak disampaikan sebagian atau seluruhnya kepada penerima
 Informasi yang salah disampaikan kepada penerima
 Informasi disampaikan tetapi tidak diterima dan dimengerti dengan baik oleh
penerima
4. Penerima informasi perlu melakukan klarifikasi dengan melakukan repeat-back
dan read-back

D. Peralatan Medis Dan Obat-Obatan


1. Peralatan Transfer Minimal Untuk Antar Rumah Sakit
a. Manajemen jalan napas / oksigenasi (dewasa dan anak)
1) Sistem bag-valve dewasa dan anak dengan reservoir oksigen
2) Sungkup dewasa dan anak
3) Penghubung sistem bag-valve dengan endotracheal (ETT)/
tracheostomy tube
4) Monitor end-tidal carbon dioxide (dewasa dan anak)
5) Laringoskop Miller
6) Stilet / mandrin ETT (dewasa dan anak)
7) Forceps Magil (dewasa dan anak)
8) Selang ETT (5.0, 5.5, 6.0, 6.5, 7.0, 7.5, 8.0)
9) Pegangan laringoskop (dewasa dan anak)
10) Baterai cadangan dan bola lampu laringoskop
11) Nasopharyngeal airways (NPA) / Oropharyngeal airways (OPA)
12) Pisau bedah (scalpel)
13) Alat krikotiroidotomi
14) Pelumas / gel

12
15) Nasal kanul (dewasa dan anak)
b. Lem perekat
c. Nebulizer
d. Kapas alkohol
e. Brankar (dewasa dan anak)
f. Jarum untuk bone marrow (sum-sum tulang belakang) untuk infus pada anak
g. Pengukur tekanan darah
h. Winged needle
i. Telepon genggam
j. Gel / bantalan elektroda defibrillator
k. Stik gula darah sewaktu (GDS)
l. Monitor EKG / defibrillator
m. Elektroda EKG
n. Senter dengan baterai cadangan
o. Pompa infus (infusion pumps)
p. Selang infus
q. Three-way
r. Kateter intravena
s. Cairan infus (normal saline-NS, ringer laktat-RL, dekstrosa 5%)
t. Spuit
u. Klem Kelley
v. Oksimetri denyut
w. Nasogastric tube (NGT)
x. Tali penahan untuk ekstremitas
y. Stetoskop
z. Suction
aa. Kassa
bb. Tourniquet
cc. Gunting
dd. Tambahan:
1) Alat imobilisasi spinal
2) Ventilator portable
2. Standar Obat-obatan Minimal untuk Transfer Pasien antar Rumah Sakit
a. Adenosine, 6mg/2ml t. Labetalol, 40mg/8ml
b. Albuterol, 2,5mg/2ml u. Lidokain, 100mg/10ml
c. Amiodaron, 150mg/3ml v. Lidokain, 2g/10ml
d. Atropine, 1mg/10ml w. Manitol, 50g/50ml
e. Kalsium klorida, 1g/10ml x. MgSO4, 1g/2ml

13
f. Catacaine/hurricaine spray y. Metilprednisolon, 125mg/2ml
g. Dekstrosa 25%, 10ml z. Metoprolol, 5mg/5ml
h. Dekstrosa 50%, 50ml aa. Nalokson, 2mg/2ml
i. Digoksin, 0,5mg/2ml bb. Nitrogliserin IV, 50mg/10ml
j. Diltiazem, 25mg/5ml cc. Nitrogliserin tablet, 0,4mg
k. Difenhidramin, 50mg/1ml dd. Nitroprusid, 50mg/2ml
l. Dopamine, 200mg/5ml ee. Normal Saline – NS, 30 ml untuk
m. Epinefrin, 1mg/10ml (1:10.000) injeksi
n. Epinefrin, 1mg/1ml (1:1.000) ff. Fenobarbital, 65mg/ml atau
o. Fosfenitoin, 750mg/10ml 130mg/ml
p. Furosemide, 100mg/10ml gg. KCl, 20 mEq/10ml
q. Glucagon, 1mg (vial) hh. Prokainamid, 1.000mg/10ml
r. Heparin, 1.000 U/1ml ii. Natrium bikarbonat, 5mEq/10ml
s. Isoproterenol, 1mg/5ml jj. Natrium bikarbonat, 50mEq/50ml
kk. Akua bidestilata, 30ml untuk
injeksi
ll. Verapamil, 5mg/2

Obat-obatan berikut ini ditambahkan ke tas emergency segera sebelum transfer


sesuai dengan indikasi pasien:
a. Analgesik narkose (morfin, fentanil)
b. Sedasi / hypnosis (lorazepam, midazolam, propofol, etomidat, ketamin)
c. Agen neuromuscular blocker (suksinilkolin, pankuronium, atrakurium,
rokuronium)
d. Prostaglandin E1
e. Surfaktan paru

E. Transportasi Rujukan
1. Gunakan mobil ambulan. Mobil dilengkapi soket listrik 12 V, suplai oksigen,
monitor (jika ada), dan peralatan lainnya
2. Sebelum melakukan transfer, pastikan kebutuhan-kebutuhan untuk mentransfer
pasien terpenuhi (seperti suplai oksigen, baterai cadangan, dll).
3. Standar Peralatan di Ambulans
a. Suplai oksigen
b. Ventilator
c. Jarum suntik
d. Suction

14
e. Baterai cadangan
f. Syringe / infusion pumps (tinggi pompa sebaiknya tidak melebihi posisi
pasien, dan jika ada)
g. Alat penghangat ruangan portabel (untuk mempertahankan temperatur
pasien, jika ada)
h. Alat kejut jantung (defibrillator)
4. Tim transfer/ SDM pendamping dapat memberi saran mengenai kecepatan
ambulan yang diperlukan, dengan mempertimbangkan kondisi klinis pasien.
5. Keputusan untuk menggunakan sirene diserahkan kepada supir ambulans.
Tujuannya adalah untuk memfasilitasi transfer yang lancar dan segera dengan
akselerasi dan deselerasi yang minimal.
6. Pendampingan oleh polisi dapat dipertimbangkan pada area yang sangat padat
penduduknya
7. Petugas harus tetap duduk selama transfer dan menggunakan sabuk pengaman.
8. Jika terdapat kegawatdaruratan medis dan pasien membutuhkan intervensi
segera, berhentikan ambulan di tempat yang aman dan lakukan tindakan yang
diperlukan.
9. Jika petugas diperlukan untuk turun dari kendaraan/ambulasn, gunakanlah
pakaian yang jelas terlihat oleh pengguna jalan lainnya.

BAB III
TATA LAKSANA

A. Kriteria Transfer
1. Derajat 0:

15
Pasien yang dapat terpenuhi kebutuhannya dengan ruang rawat biasa di unit/
rumah sakit yang dituju; biasanya tidak perlu didampingi oleh dokter, perawat,
2. Derajat 1:
Pasien dengan risiko perburukan kondisi, atau pasien yang sebelumnya
menjalani perawatan di High Care Unit (HCU); di mana membutuhkan
perawatan di ruang rawat biasa dengan saran dan dukungan tambahan dari tim
perawatan kritis; dapat didampingi oleh perawat, petugas ambulan, dan atau
dokter (selama transfer).
3. Derajat 2:
Pasien yang membutuhkan observasi / intervensi lebih ketat, termasuk
penanganan kegagalan satu iagno organ atau perawatan pasca-operasi, dan
pasien yang sebelumnya dirawat di HCU; harus didampingi oleh petugas yang
kompeten, terlatih, dan berpengalaman (biasanya dokter dan perawat / lainnya).
4. Derajat 3:
Pasien yang membutuhkan bantuan pernapasan lanjut (advanced respiratory
support) atau bantuan pernapasan dasar (basic respiratory support) dengan
dukungan / bantuan pada minimal 2 sistem organ, termasuk pasien-pasien yang
membutuhkan penanganan kegagalan multi-organ; harus didampingi oleh
petugas yang kompeten, terlatih, dan berpengalaman (biasanya dokter anestesi
dan perawat ruang intensif / IGD atau lainnya).

C. Kriteria Masuk Dan Keluar Unit Khusus


1. Indikasi Masuk Kamar Bersalin
a. Tanda-tanda inpartu
b. Usia kehamilan cukup
c. Tidak didapatkan faktor risiko tinggi pada ibu bersalin dengan indikasi
operasi
2. Indikasi Keluar Kamar Bersalin
a. Partograf tidak menunjukkan kemajuan persalinan
b. Terjadi kegawatdaruratan obstetric yang memerlukan tindakan operasi

16
c. Pasca persalinan, bayi dan placenta telah dilahirkan, perawatan perineum

dan vulva hygiene, dan ibu dalam keadaan stabil

D. Indikasi Masuk Ruang Pemulihan


Semua pasien yang telah menjalani tindakan anestesi harus masuk ruang pulih

sadar kecuali yang membutuhkan penanganan intensif di HCU

E. Indikasi Keluar Ruang Pemulihan


a. Jalan nafas, ventilasi, oksigenasi, sirkulasi dan temperatur dalam kondisi
baik dan stabil.
b. Tidak membutuhkan penatalaksanaan dan pemantauan intensif pasca bedah.
c. Skor Aldrette > 8. ( terlampir )
d. Skor Bromage 0. ( terlampir )
e. Skala nyeri < 4 . ( terlampir )
f. Tidak mual / muntah
g. Disetujui oleh dokter anestesi dan ditandatangani pada rekam medis anestesi

pasien

F. Tata Laksana Pengambilan Keputusan Transfer Pasien


1. Sesuai kondisi dan indikasi pasien, DPJP mengambil keputusan untuk
melakukan transfer pasien dan mencatat pada berkas rekam medis pasien,
setelah menginformasikan dan melibatkan pasien dan keluarga atas keputusan
tersebut.
2. Pada kondisi khusus DPJP meminta persetujuan tertulis pasien dan atau
keluarga atas keputusan transfer pasien tersebut.
3. Instruksi transfer pasien meliputi informasi mengenai unit tujuan transfer,
waktu pelaksanaan transfer, monitoring dan asuhan klinis yang perlu
dilaksanakan selama proses transfer, instruksi khusus yang perlu dilaksanakan
oleh unit penerima transfer

17
4. Perawat pelaksana pada unit kerja tersebut terlebih dahulu mengkomunikasikan
kepada perawat unit penerima transfer dan memastikan bahwa unit tersebut
dapat menerima dan melanjutkan asuhan pasien.

G. Tata Laksana Persiapan Pasien


1. Meskipun berpotensi memberikan risiko tambahan terhadap pasien, transfer
yang aman dapat dilakukan bahkan pada pasien yang sakit berat / kritis
(extremely ill).
2. Transfer sebaiknya tidak dilakukan bila kondisi pasien belum stabil (pasien
kalau kondisi sudah stabil)
3. Hipovolemia adalah kondisi yang sulit ditoleransi oleh pasien akibat adanya
akselerasi dan deselerasi selama transfer berlangsung, sehingga iagnose c
harus sepenuhnya dikoreksi sebelum transfer.
4. Unit/ rumah sakit yang dituju untuk transfer harus memastikan bahwa ada
prosedur / pengaturan transfer pasien yang memadai.
5. Perlu waktu hingga beberapa jam mulai dari setelah pengambilan keputusan
dibuat hingga pasien ditransfer ke unit/ rumah sakit lain.
6. Hal yang penting untuk dilakukan sebelum transfer:
a. Amankan patensi jalan napas
Beberapa pasien mungkin membutuhkan intubasi atau trakeostomi dengan
pemantauan end-tidal carbondioxide yang adekuat.
b. Analisis gas darah harus dilakukan pada pasien yang menggunakan
ventilator iagnose selama minimal 15 menit.
c. Terdapat jalur / akses vena yang adekuat (minimal 2 kanula perifer atau
sentral)
d. Pengukuran tekanan darah yang kontinu / terus-menerus merupakan hal yang
terbaik untuk memantau tekanan darah pasien selama proses transfer
berlangsung.
e. Jika terdapat pneumotoraks, selang drainase dada (Water-Sealed Drainage-
WSD) harus terpasang dan tidak boleh diklem.

18
f. Pasang kateter urin dan nasogastric tube (NGT), jika diperlukan
g. Pemberian terapi /tatalaksana tidak boleh ditunda saat menunggu
pelaksanaan transfer
7. Unit/ rumah sakit yang dituju dapat memberikan saran mengenai penanganan
segera / resusitasi yang perlu dilakukan terhadap pasien pada situasi-situasi
khusus, namun tanggung jawab tetap pada tim transfer.
8. Tim transfer harus familiar dengan peralatan yang ada dan secara kontinu
menilai kondisi pasien.
9. Seluruh peralatan dan obat-obatan harus dicek ulang oleh petugas transfer.

H. Tata Laksana Menentukan Rumah Sakit Penerima Rujukan Dapat Memenuhi


Kebutuhan Pasien
1. DPJP menentukan kebutuhan akan pemeriksaan penunjang, pemeriksaan lab,
radiologi .
2. Dokter memberikan informasi kepada pasien dan keluarga bahwa diperlukan
pemeriksaan penunjang pasien dan keluarga pasien setuju dan menandatangani
persetujuan.
3. DPJP menuliskan permintaan pemeriksaan penunjang pada form lab/radiologi.
4. Perawat membawa pengantar pemeriksaan penujang ke unit penunjang. Unit
penunjang melakukan konfirmasi dan klarifikasi tentang pemeriksaan
pemeriksaan penunjang yang dimaksud.
5. Unit penunjang memberikan informasi kepada ruangan tempat pasien dirawat
mengenai tempat dan waktu pemeriksaan.
6. Unit penunjang melakukan pencatatan pasien yang melakukan pemeriksaan
dalam buku ekspedisi.
7. Pasien diantar oleh perawat dengan memakai ambulance rumah sakit.

I. Tata Laksana Pencatatan Rekam Medis Pasien


1. Gunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, hindari penulisan singkatan dan
istilah yang tidak baku yang dapat menyebabkan salah interpretasi.

19
2. Isilah Form Serah Terima Pasien dengan tinta hitam
3. Apabila salah menulis, jangan dihapus. Coretlah tulisan yang salah, tuliskan
yang benar di atas atau di samping tulisan yang salah, kemudian berikan paraf.
4. Form Serah Terima Pasien setelah ditandatangani, dijadikan satu dalam berkas
Rekam Medis pasien

J. Tata Laksana Monitoring Pasien Selama Proses Transfer


1. Pasien dengan kebutuhan perawatan kritis memerlukan pemantauan selama
proses transfer.
2. Standar pelayanan dan pemantauan pasien selama transfer setidaknya harus
sebaik pelayanan di RS/RS tujuan.
3. Peralatan pemantauan harus tersedia dan berfungsi dengan baik sebelum transfer
dilakukan. Standar minimal untuk transfer pasien antara lain:
a. Kehadiran petugas yang kompeten secara kontinu selama transfer
b. EKG kontinu
c. Pemantauan tekanan darah (non-invasif)
d. Saturasi oksigen (oksimetri denyut)
e. Terpasangnya jalur intravena
f. Terkadang memerlukan akses ke vena sentral
g. Peralatan untuk memantau cardiac output
h. Pemantauan end-tidal carbon dioxide pada pasien dengan ventilator
i. Mempertahankan dan mengamankan jalan napas
j. Pemantauan iagnose c pasien secara terus-menerus (untuk mencegah
terjadinya hipotermia atau hipertermia)
4. Pengukuran tekanan darah non-invasif intermiten, iagnose terhadap gerakan
dan tidak dapat diandalkan pada mobil yang bergerak. Selain itu juga cukup
menghabiskan baterai monitor.
5. Pengukuran tekanan darah iagnose yang kontinu (melalui kanula arteri)
disarankan.

20
6. Idealnya, semua pasien derajat 3 harus dipantau pengukuran tekanan darah
secara iagnose selama transfer (wajib pada pasien dengan cedera otak akut;
pasien dengan tekanan darah tidak stabil atau berpotensi menjadi tidak stabil;
atau pada pasien dengan iagnose ).
7. Kateterisasi vena sentral tidak wajib tetapi membantu memantau filling status
(status volume pembuluh darah) pasien sebelum transfer. Akses vena sentral
diperlukan dalam pemberian obat inotropic dan vasopressor.
8. Pemantauan tekanan intracranial mungkin diperlukan pada pasien-pasien
tertentu.
9. Pada pasien dengan pemasangan ventilator, lakukan pemantauan suplai oksigen,
tekanan pernapasan (airway pressure), dan pengaturan ventilator.
10. Tim transfer yang terlibat harus memastikan ketersediaan obat-obatan yang
diperlukan, antara lain: (sebaiknya obat-obatan ini sudah disiapkan di dalam
jarum suntik)
a. Obat resusitasi dasar: epinefrin, anti-aritmia3
b. Obat sedasi
c. Analgesik
d. Relaksans otot
e. Obat lainnya
11. Hindari penggunaan tiang dengan selang infus yang terlalu banyak agar akses
terhadap pasien tidak terhalang dan stabilitas brankar terjaga dengan baik.
12. Penggunaan tabung oksigen tambahan harus aman dan terpasang dengan baik.
13. Petugas transfer harus familiar dengan seluruh peralatan yang ada di ambulans.
14. Pertahankan temperature pasien, lindungi telinga dan mata pasien selama
transfer.
15. Seluruh peralatan harus kokoh, tahan lama, dan ringan.
16. Peralatan listrik harus dapat berfungsi dengan menggunakan baterai (saat tidak
disambungkan dengan stop kontak/listrik).
17. Baterai tambahan harus dibawa (untuk mengantisipasi terjadinya mati listrik)

21
18. Monitor yang harus mempunyai layar yang jernih dan terang dan dapat
memperlihatkan elektrokardiogram (EKG), saturasi oksigen arteri, pengukuran
tekanan darah (non-invasif), kapnografi, dan lainnya.
19. Pengukuran tekanan darah non-invasif pada monitor dapat dengan cepat
menguras baterai dan tidak dapat diandalkan saat terdapat pergerakan ekternal /
vibrasi (getaran).
20. Alarm dari alat harus terlihat jelas dan terdengar dengan cukup keras.
21. Ventilator mekanik yang harus mempunyai (minimal):
a. Alarm yang berbunyi jika terjadi tekanan tinggi atau terlepasnya alat dari
tubuh pasien
b. Mampu menyediakan tekanan akhir ekspirasi positif (positive end expiratory
pressure) dan berbagai macam konsentrasi oksigen inspirasi
c. Pengukuran rasio inspirasi : ekspirasi, frekuensi pernapasan per-menit, dan
volume tidal.
d. Mampu menyediakan ventilasi tekanan terkendali (pressure-controlled
ventilation) dan pemberian tekanan positif berkelanjutan (continuous positive
airway pressure)
22. Semua peralatan harus terstandarisasi sehingga terwujudnya suatu proses
transfer yang iagno dan tidak adanya penundaan dalam pemberian terapi /
obat-obatan.1
23. Catatlah status pasien, tanda vital, pengukuran pada monitor, tatalaksana yang
diberikan, dan informasi klinis lainnya yang terkait. Pencatatan ini harus
dilengkapi selama transfer.
24. Pasien harus dipantau secara terus-menerus selama transfer dan dicatat di
lembar pemantauan.
25. Monitor, ventilator, dan pompa harus terlihat sepanjang waktu oleh petugas
dan harus dalam posisi aman di bawah level pasien.

22
K. Tata Laksana Serah Terima Pasien (Hand over)
1. Setibanya di Unit penerima transfer, perawat pelaksana transfer segera melakukan
serah terima informasi mengenai asuhan pasien, sebelum memindahkan pasien ke
Unit penerima transfer, meliputi identitas pasien, diagnosis kerja, ringkasan riwayat
kesehatan, catatan alergi, kondisi medis pasien (vital sign), hasil pemeriksaan
penting, pengobatan sebelumnya, saat ini, dan selanjutnya, kewaspadaan khusus
yang perlu dilakukan terhadap pasien, dan catatan monitoring selama proses
transfer.
2. Kegiatan serah terima pasien dilakukan dengan cara bertatap muka langsung,
dimana kedua belah pihak tidak sedang melakukan kegiatan lain.
3. Perawat penerima transfer melakukan verifikasi atas informasi yang diterima,
termasuk proses pengulangan (repeat-back) dan pembacaan kembali (read-back)
seperlunya.
4. Apabila diperlukan, perawat penerima/petugas transfer melakukan review atas data
riwayat kesehatan pasien, berupa asuhan pasien dan pengobatan sebelumnya, dan
segera melakukan pemeriksaan vital sign atas pasien tersebut.
5. Seyogyanya selama proses serah terima (Hand over) tidak dilakukan interupsi untuk
meminimalkan informasi yang tertinggal atau terlupakan.
6. Perawat pelaksana transfer menyerahkan obat-obatan yang diperlukan, hasil
pemeriksaan yang telah dilakukan kepada perawat penerima transfer, yang
selanjutnya memeriksa dan melakukan verifikasi atas penyerahan tersebut.
7. Apabila perawat penerima transfer mendapati bahwa asuhan yang seharusnya
diterima sesuai dengan kondisi pasien tersebut, namun belum tercantum dalam
berkas rekam medis serah terima tersebut, maka wajib dilakukan klarifikasi kepada
perawat pengirim. Misalnya: didapatkan keluhan nyeri pada pasien, namun dalam
dokumen serah terima belum dicantumkan adanya pemberian obat anti nyeri, maka
perawat penerima wajib menanyakan apakah pasien tersebut sudah atau belum
mendapatkan obat anti nyeri tersebut; pasien yang baru selesai dioperasi, pada saat
Hand over antar shift didapatkan fakta bahwa pasien belum pernah bangun dari

23
tempat tidur, maka perlu dilakukan klarifikasi kepada perawat shift selanjutnya
bahwa pasien perlu mendapatkan pengawasan atas risiko jatuh.
8. Seluruh serah terima pasien ditulis pada Form Serah Terima Pasien (terlampir) dan
ditandatangani oleh kedua belah pihak dengan mencantumkan nama terang.
9. Tanggung jawab asuhan pasien dipindahkan kepada Unit penerima setelah
dilakukan tanda tangan.

L. Tata Laksana Hand over Antar Shift Kerja


1. Sedikitnya 30 menit sebelum shift kerja berakhir, petugas yang masih mempunyai
tanggung jawab asuhan pasien di Unit kerjanya, wajib melaksanakan hand over kepada
petugas shift berikutnya.
2. Penanggung jawab shift saat itu dengan penanggung jawab shift berikutnya diikuti oleh
petugas lainnya melakukan rekapitulasi dan melaporkan hasil asesmen kondisi terakhir
pasien di ruangan perawat.
3. Laporan berupa identitas pasien, diagnosis kerja, hasil pemeriksaan diagnostic kritis,
pengobatan, monitoring, dan rencana pelayanan kesehatan yang sudah, sedang, dan
akan dilaksanakan terhadap pasien.
4. Setelah laporan selesai dilaksanakan, tim menuju ke masing-masing pasien; penanggung
jawab shift saat itu memperkenalkan penanggung jawab shift berikutnya dan atau
anggota tim yang ditunjuk bertanggung jawab khusus atas pasien tersebut, serta
memberitahukan bahwa pelayanan asuhan pasien selanjutnya akan dilaksanakan oleh
tim tersebut.

M. Tata Laksana Rujukan Ke Rumah Sakit Lain


1. Dokter memberikan informasi kepada pasien dan keluarga mengenai kasus
pasien bahwa pasien perlu /dapat ditangani ditempat lain.
2. Dokter melengkapi RM pasien dan menyiapkan berkas penunjang yang akan
diperlukan di rumah sakit rujukan.

24
3. Dokter melengkapi resume medis pasien dan menuliskan nama Rumah Sakit &
Dokter yang dituju. Dan Perawat yang ditunjuk sebagai tim transfer melengkapi
form catatan perpindahan pasien antar RS.
4. Keluarga pasien menyelesaikan biaya administrasi di RS Bakti Timah Mentok.
Pastikan bahwa rumah sakit tujuan dapat dan setuju untuk menerima pasien
sebelum dilakukan transfer.
5. Kontak pertama harus dilakukan oleh konsultan/ dokter penanggung jawab di
kedua rumah sakit, untuk mendiskusikan mengenai kebutuhan medis pasien.
6. Untuk kontak selanjutnya, tunjuklah satu orang lainnya (biasanya perawat
senior). Bertugas sebagai komunikator utama sampai transfer selesai
dilakukan.
a. Jika selama transfer terjadi pergantian jaga perawat yang ditunjuk, berikan
penjelasan mengenai kondisi pasien yang ditransfer dan lakukan penyerahan
tanggung jawab kepada perawat yang menggantikan.
b. Komunikator utama harus menghubungi pelayanan ambulan, jika ingin
menggunakan jasanya dan harus menjadi kontak satu-satunya untuk diskusi
selanjutnya antara rumah sakit dengan layanan ambulans.
c. Harus memberikan informasi terbaru mengenai kebutuhan perawatan pasien
kepada rumah sakit tujuan.
7. Tim transfer harus berkomunikasi dengan rumah sakit asal dan tujuan
mengenai penanganan medis yang diperlukan dan memberikan update
perkembangannya melalui telfon perihal rujukan kepada rumah sakit yang
dituju.
8. Tim Transfer memberikan informasi kepada RS rujukan data pasien yang
tercantum dalam surat rujukan
9. Tim transfer mengantar pasien ke tempat rujukan dan tim melakukan observasi
pasien selama perjalanan dan form hasil observasi disatukan dengan RM
pasien.
10. Perawat melakukan serah terima pasien setelah tiba di rumah sakit yang dituju

25
N. Tata Laksana Pendokumentasian Proses Rujukan Di Dalam Rekam Medis
1. Di status pasien yang pindah dicatat nama rumah sakit dan nama staf yang
menerima tujuannya mengetahui dengan jelas rumah sakit yang dituju dan nama
petugas yang setuju menerima pasien
a. Mencatat nama rumah sakit yang dituju serta nama petugas yang dituju
b. Menginformasikan kondisi/ status pasien kepada petugas rumah sakit yang
dituju
c. Menginformasikan kepada keluarga nama dan alamat rumah sakit
2. Di rekam medis pasien yang pindah dicatat hal- hal lain yang diperlukan sesuai
dengan kebijakan rumah sakit yang merujuk Pengertiannya adalah catatan
kondisi pasien selama proses pemindahan pasien dan dokumentasi pasien.
Pencatatan dan pendokumentasian dilakukan pada saat pasien masuk ataupun
rawat jalan. Prosedur pengiriman pasien ke rumah sakit lain diatur dalam SPO
dan kebijakan MOU antar rumah sakit. Adapun Tata Laksana dalam
dokumentasinya adalah Perawat mencatat keadaan pasien dari awal sampai
dirujuk secara rinci :
i. Mengisi Formulir Monitor pasien antara lain
a. Nama Pasien
b. Umur
c. Jenis Kelamin
d. Diagnosis medis
e. Diagnosis keperawatan
f. Catatan keperawatan terdiri dari tensi,nadi,suhu,keadaan umum pasien
ii. Nama petugas yang bertugas saat itu
3. Pada status pasien yang pindah dicatat iagnos-alasan dari rujukan/kepindaha n.
Prosedur pengiriman pasien ke rumah sakit lain diatur dalam SPO dan kebijakan
MOU antar rumah sakit. Perawat mencatat iagnos pasien dirujuk :
a. Tempat tidur pasien rumah sakit penuh
b. Permintaan keluarga pasien
c. Sesuai dengan kesatuan dan status pasien

26
d. Petugas mencatat iagnos pasien dirujuk ke dalam buku registrasi untuk
mempermudah informasi
4. Di status pasien yang pindah dicatat segala perubahannya dari kondisi / status
pasien selama proses transfer Prosedur pengiriman pasien ke rumah sakit lain
diatur dalam SPO dan kebijakan MOU antar rumah sakit Pemindahan pasien
dilengkapi status dan teregistari pada buku ekspedisi alih rawat. Petugas
mencatat kondisi pasien pada saat transfer pasien tentang
a. Kondisi pasien tidak sadar (kesadaran pasien),
b. Terpasang ventilator termonitor,
c. Pencatatan tensi, nadi, pernapasan
d. Catatan cairan infuse
e. Apabila terjadi terjadi keadaan pasien memburuk, lakukan sesuai dengan SOP
f. Petugas menyampaikan kepada keluarga pasien tentang kondisi Pasien
5. Di status pasien yang pindah dicatat kondisi spesifik/khusus sehubungan dengan
proses pindah. Prosedur pengiriman pasien ke rumah sakit lain diatur dalam SPO
dan kebijakan MOU antar rumah sakit Pemindahan pasien dilengkapi status dan
teregistari pada buku ekspedisi alih rawat. Adapun beberapa cara sebagai
berikut.
a. Menyiapkan formulir status pasien, mencatat kondisi pasien, menyiapkan
proses pindah.
b. Menulis nama, tempat tanggal lahir, iagnose, dan tindakan yang telah
dilakukan.
c. Mengukur tanda-tanda vital, suhu, nadi, tensi, RR
d. Menyiapkan formulir pengawasan selama proses pindah.
e. Menyiapkan pasien dan segala sesuatu yang berhubungan dengan proses
pindah

27
BAB V

DOKUMENTASI

Dalam proses transfer pasien di dokumentasikan di formulir transfer pasien antar


ruangan atau rujukan pasien ke RS lain dan ditulis juga di catatan perkebangan pasien
terintegrasi dalam status rekam medis pasien.

DITETAPKAN DI : MUNTOK

PADA TANGGAL : 01 SEPTEMBER 2018

DIREKTUR

28
dr. Yovita Sari Metkono

NIK : 20169401

29