Anda di halaman 1dari 19

BIOENERGETIKA

Tugas Makalah

“Disusun Sebagai Syarat Memenuhi Tugas Mata Kuliah Biokimia Dasar di


Program Studi Pendidikan Kimia”

Oleh Kelompok 4 :

1. Nurmasita G Labolo (A25120001)


2. Risnawati (A25120032)
3. Safna Nurfadila (A25120007)

Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu


Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Tadulako
Palu
2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kami kelompok 4 dapat menyelesaikan tugas makalah
yangberjudul “BIOENERGETIKA” ini tepat pada waktunya.

Kami mengucapkan terimkasih kepada Bapak Dr. Ratman, S.pd. M.Si.


selaku Dosen mata kuliah Biokimia Dasar yang telah memberikan tugas ini
sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan kami.

Kami juga mengucapkan terimkasih kepada semua pihak yang telah


mendukung serta membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Besar harapan
kami agar makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca.
Kami menyadari, makalah yang kami buat ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun kami nantikan demi
kesempurnaan makalah kami.

Palu, 07 September 2021


Penulis

i
DAFTAR ISI

KAVER .......................................................................................................
KATA PENGANTAR ................................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ............................................................... 2
1.2 Rumusan Masalah.......................................................... 2
1.3 Tujuan ............................................................................ 2
1.4 Manfaat .......................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN/ISI ....................................................................... 3

2.1 Konsep Bioenergetika .................................................... 3-7


2.2 Energi bebas gibbs ......................................................... 7-9
2.3 Redoks dan potensial reduksi ........................................ 9-11
2.4 Phosphoryl group tranfer potential dalam sistem hidup
........................................................................................ 11-13

BAB III PENUTUP ..................................................................................... 14

3.1 Kesimpulan..................................................................... 14
3.2 Saran............................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 16

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Bioenergitika merupakan bagian dari biokimia yang berhubungan dengan


transformasi dan penggunaan energi oleh sel hidup.Organisme fotosintetik
(autotrof) dapat menggunakan energi bebas dari cahaya matahari secara langsung
dan mengubahnya menjadi energy kimia yang disimpan dalam senyawa organik
(karbohidrat, protein,lemak). Energi kimia tersebut kemudian dimanfaatkan oleh
organisme non-fotosintetik melalui proses katabolisme yang disebut respirasi sel.
Dari hasil respirasi sel ini akan dilepaskan sejumlah energy yang kemudian
disimpan dalam bentuk ATP sebelum digunakan untuk aktivitas fisiologis.
Bagaimana proses transformasi dan penggunaan energi oleh sel hidup akan
dibahas dalam bahan ajar ini.Saya menyadari bahwa bahan ajar ini masih banyak
kekurangannya dan perlu disempurnakan. Untuk itu , kritik dan saran dari
pembaca sangat saya harapkan. Semoga bahan ajar ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca.

Sebagian besar aliran energi di dalam biosfer berhubungan dengan daur


karbon. Jasad yang berfotosintesis menyerap energi matahari secara langsung dan
mengubahnya menjadi bentuk energi kimia: glukosa dan senyawa organik
lainnya. Jasad heterotrop menggunakan hasil energi ini sebagai sumber untuk
pembentukan struktur biomolekul dan senyawa kimia berenergi tinggi yang
diperlukan untuk segala kegiatan yang memerlukan energi. Jadi pada hakekatnya,
energi matahari merupakan sumber kehidupan semua jasad, baik yang
berfotosintesis maupun yang heterotrop. Energi matahari merupakan sumber mula
energi dalam sel hidup. Aliran energi yang dimulai dari sinar matahari ditangkap
oleh sel yang berfotosintesis lalu diubah menjadi energi kimia (ATP dan
NADPH), yang selanjutnya dipakai oleh sel heterotrop untuk melangsungkan
segala macam kegiatan di dalam sel seperti proses kontraksi, proses
pengangkutan, proses biosintesis, dan akhirnya didegradasi menjadi bentuk energi

1
yang tak terpakai lagi seperti panas yang dilepaskan ke alam lingkungannya.
Bentuk energi yang digunakan oleh sel adalah energi bebas yang dapat melakukan
kerja pada suhu dan tekanan tetap. Energi bebas ini kemudian diubah menjadi
energi kimia.

Perimbangan jumlah energi yang masuk ke dalam dan ke luar dari suatu
jasad merupakan proses yang pokok dalam sistem kehidupan jasad tersebut.
Tanpa energi yang masuk secara kontinyu dan konstan, kehidupan akan terhenti.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Jelaskan Bagaimana Konsep Bioenergetika itu?
1.2.2 Jelaskan Bagaimana Energi bebas gibbs itu?
1.2.3 Jelaskan apa saja redoks dan potensial reduksi itu?
1.2.4 Bagaimana phosphoryl group transfer potential dalam
sistem hidup?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui apa itu konsep Bioenergetika.
1.3.2 Untuk memahami bagaimana energi bebas gibbs.
1.3.3 Untuk memahami apa saja redoks dan potential reduksi.
1.3.4 Untuk mengetahui bagaimana phosphoryl group transfer
potential dalam sistem hidup.

1.4 Manfaat

Manfaat penulisan makalah ini adalah untuk menambah wawasan bagi


penulis dan pembaca untuk mengetahui lebih dalam mengenai Bioenergetika,
energi bebas gibbs, redoks dan potensial reduksi, serta phosphoryl group transfer
potential dalam sistem hidup .

2
BAB II

PEMBAHASAN/ISI

2.1 Konsep Bioenergetika

Bioenergetika atau termodinamika biokimia adalah ilmu pengetahuan


mengenai perubahan energi yang menyertai reaksi biokimia. Reaksi ini diikuti
oleh pelepasan energi selama sistem reksi bergerak dari tingkat energi yang lebih
tinggi ke tingkat energi yanng lebih rendah. Sebagian besar energi dilepaskan
dalam bentuk panas. Pada sistem nonbiologik dapat menggunakan energi
panas untuk melangsungkan kerjanya dan dapat diubah menjadi energi mekanik
atau energi listrik. Sedangkan pada sistem biologik bersifat isotermik dan
menggunakan energi kimia untuk memberikan tenaga bagi proses kehidupan.
Metabolisme = katabolisme + anabolisme.
Katabolisme = pemecahan molekul bahan bakar (eksergonik).
Anabolisme = reaksi pembentukan suatu substansi (endergonik).

CONTOH REAKSI EKSERGONIK:


1. Glikolisis: adalah proses perubahan Glukose → Asetil coA + ATP.
2. Siklus Kreb: adalah proses perubahan Asetil coA → H + ATP.
• Fosforilasi Oksidatif: hádala proses pereaksiaan antara H + O → H2O +
energi, dan energi yang terbentuk digunakan untuk mengubah ADP menjadi
ATP.

CONTOH REAKSI ENDERGONIK:


1. Sintesa: protein, enzim, hormon, antibodi.
2. Kontaksi otot: gerak, nafas, jantung.
3. Eksitasi saraf: berpikir.
4. Transport aktif: pompa Na-K, reabsorpsi tubulus nefron.

3
Bioenergetika dalah bagian dari biokimia yang berhubungan dengan
transformasi dan penggunaan energi oleh sel hidup. Seluruh reaksi kimia dalam
kehidupan hanya dapat berlangsung jika didukung energi yang cukup. Sumber
energi kimia dalam kehidupan tersebut adalah senyawa organik berenergi tinggi
yang dikenal dengan ATP (Adenosin Trifosfat). ATP adalah sumber energi
langsung bagi semua kegiatan metabolisme di dalam sel. Energi yang terikat di
dalam ATP tersebut berasal dari energi yang dibebaskan dalam pemecahan
senyawa organik dalam sel yaitu dalam proses respirasi. Sedangkan energi yang
terikat dalam senyawa organik bahan respirasi tersebut hakekatnya merupakan
energi kimia yang dibentuk dalam proses fotosintesis. Pada proses fotosintesis ini
energinya berasal dari energi cahaya matahari. Jadi, energi cahaya matahari
merupakan sumber energi primer bagi semua kehidupan di bumi ini. Untuk dapat
sampai dan digunakan oleh sel-sel tersebut, akan mengalami 3 tahap transformasi,
yaitu :

1. Transformasi energi oleh klorofil

Energi radiasi sinar matahari ditangkap oleh klorofil tumbuhan hijau.


Melalui proses fotosintesis, energi ini digunakan untuk mengikat CO2 dan H2O
menjadi karbohidrat. Jadi dalam proses ini terjadi transformasi dari energi cahaya
yang berupa energi kinetic menjadi energi kimia yang merupakan energi
potensial. Energikimia ini disimpandalambentuk ikatan-ikatan kimia senyawa
organik hasil fotosintesis, yaitu karbohidrat dan senyawa-senyawa organik
lainnya.

2. Transformasi energi oleh Mitokondria

Energi kimia yang tersimpan dalam karbohidrat dan senyawa organik


lainnya akan dipecah melalui proses respirasi di dalam sel organisme. Dari proses
respirasi ini akan dibebaskan sejumlahenergi, yang selanjutnya akan digunakan
untuk membentuk senyawa dengan ikatan fosfat yang mengandung energi tinggi
yang disebut Adenosin Tri Phosfat (ATP). Pengangkutan energy kimia lainnya di

4
dalam sel adalah melalui proses pengangkutan electron oleh koenzim khusus
pembawa elekton, yaitu 4 Nikotinamida Adenin Dinukleotida (NAD) dan
Nikotinamida Adenin Dinukleotida Phosfat (NADP).

3. Transformasi energi oleh sel

Energi yang terdapat di dalam ikatan fosfat (ATP) akan keluar saat akan
digunakan oleh sel untuk berbagai aktivitas kehidupan. Jika sel melakukan
kegiatan, maka energi kimiawi dari ikatan fosfat akan terlepas dan berubah
menjadi energi bentuk lain seperti energi mekanik untuk kerja kontraksi otot,
energi listrik untuk meneruskan impuls saraf, energi sintesis untuk membangun
senyawa pertumbuhan, serta sisanya akan mengalir ke sekeliling sel dan hilang
sebagai energi panas.

Dalam system biologi, panas yang dihasilkan oleh proses oksidasi tidak
dapat dipakai sebagai sumber energy. Proses pembakaran dalam system biologi
berlangsung tanpa nyala atau pada suhu yang rendah. Energy bebas yang
terkandung dalam molekul organic diubah dan disimpan dalam bentuk energy
kimia, yaitu dalam struktur kovalen dari gugus fosfat dalam molekul adenosine
trifosfat (ATP) yang terbentuk dengan perantaraan enzim dari adenosine difosfat
(ADP) dan senyawa fosfat anorganik (Pi). Reaksi yang menghasilkan energi
bebas disebut reaksi eksergonik. Sebaliknya dalam proses anabolisme diperlukan
energi bebas yang diperoleh dari ATP. Reaksi yang memerlukan energi bebas
disebut reaksi endergonik. Contoh reaksi eksergonik dan endergonik dalam sistem
biologi eksergonik yaitu :Oksidasi bahan bakar (karbohidrat, protein, lemak),
Fotosintesis, Fermentasi. Contoh reaksi Endergonik yaitu Gerakan mekanik
(kontraksi otot), Biositesis, Transpor aktif, Pemindahan informasi genetik,
Penghantaran impuls saraf.

Energi didefinisikan sebagai suatu kemampuan melakukan kerja. Ada


banyak bentuk energi seperti energi kimia, energi panas, energi elektrik, energi
gerak dan energi radiasi. Energi radiasi digunakan oleh tumbuhan untuk diubah

5
menjadi energi kimia yang menghasilkan senyawa komplek berupa nutrient
(CHO) dari tanaman. Energi kimia dari tanaman tersebut dimakan oleh hewan dan
dikonversi menjadi produk ternak berupa susu, telur, daging, tenaga dan energi
untuk hidup pokok. Pada proses perubahan bentuk dari satu jenis energi menjadi
energi bentuk lain akan terjadi proses penggunaan atau menghasilkan energi
(entalphi).

Hukum termodinamika pertama menyatakan bahwa energi didefinisikan


sebagai panas yang digunakan untuk meningkatkan suhu 1oC, dari 14,5oC
menjadi 15,5oC, pada sejumlah 1 gram air membutuhkan energi sebesar 1 kalori
(Kleiber, 1975). 1 kalori sama dengan 4,184 Joule. Pada ilmu nutrisi ternak dalam
mengekspresikan energi biasanya digunakan satuan KJ atau MJ.

Semua makhluk hidup memerlukan energi untuk kehidupannya. Energi


yang dimaksud dalam tubuh makhluk hidup berupa ATP yang dihasilkan dari
proses metabolism di sel (mitokondria). Pada proses metabolisme tersebut terjadi
pembentukan dan perombakan energi tubuh dan menghasilkan ekses panas yang
harus dikeluarkan dari tubuh. Pengeluaran panas tubuh yang berasal dari produk
metabolisme dan aktivitas dapat diukur dengan alat kalorimeter tubuh.

Metoda pengukuran energi pada ternak kian dikembangkan, seperti energi


yang dikonsumsi dan yang diekskresikan berupa pakan dan feses atau ekskreta
dapat diukur dengan alat bomb kalorimeter. Energi yang diekskresikan dalam
bentuk metan dapat dihitung dengan alat hood chamber dan methane analyzer dan
konsentrasi gas yang dihasilkan dikalikan dengan nilai setara kalor untuk metan.
Energi dari urin diukur dari urin yang telah dikeringkan dengan alat freezed
drying, lalu padatan urin dibakar dengan alat bomb calorimeter. Cara lain untuk
mendapatkan data EU dihitung dari total nitrogen urin (N- urin) yang dikalikan
dengan nilai setara kalor untuk setiap gram nitrogen urin.

Pada saat kondisi tidak ada alat chamber kalorimetri, maka produksi panas
tubuh dapat dihitung secara tak langsung dengan pengukuran produksi

6
karbondioksida melalui perunutan isotope 14C (Sastradipraja, 1977). Aktivitas
jenis karbondioksida-14C yang diperoleh dikonversikan menjadi konsentrasi
14CO2 lalu dikalikan dengan nilai setara kalor untuk setiap liter karbondioksida
yang dihasilkan pada nilai respiration quotion (RQ) tertentu. Panas metabolisme
(heat increament) ialah panas yang dihasilkan dari proses pencernaan, penyerapan,
transpor nutrien dan panas metabolisme yang dapat diukur juga dengan teknik
isotop. Retensi energi (RE) adalah besarnya energi yang disimpan, yaitu dapat
berupa telur, susu, daging dan energi untuk kerja. Energi asal produk tersebut juga
dapat diekspresikan sebagai nilai energi dari produk melalui pengukuran dengan
alat bomb kalorimeter atau dari hasil perhitungan nilai setara kalor terhadap hasil
analisis produk (protein, lemak dan karbohidrat).

2.2 Energi bebas gibbs

Bentuk-bentuk energi sebagaimana hukum I Termodinamika antara lain


energi dalam (E atau U), energi bebas Gibbs (G), entalpi (H), entropi (S),
kalor/panas (Q), dan kerja (W). Dalam pembahasan tentang energi sel dalam
tubuh, panas bukanlah sumber energi yang berarti bagi sel hidup, karena panas
dapat melakukan kerja hanya jika ia mengalir dari satu tempat dengan suhu
tertentu ke tempat lain yang suhunya lebih rendah . Sel hidup memeliki suhu
yang relative sama pada seluruh bagiannya, sehingga tidak dapat
memanfaatkan sumber energi panas secara berarti. Energi panas bermanfaat
bagi sel hidup untuk mempertahankan suhu optimum bagi aktivitas sel hidup.
Oleh sebab itu, Energi yang terlibat dalam proses metabolism sel hidup adalah
energi bebas (dan yang digunakan adalah parameter energibebas Gibbs), yang
dapat melakukan kerja pada suhu dan tekanan tetap. Dimana pada suhu dan
tekanan tetap, secara matematis besarnya energi bebas Gibbs (G) ditentukan
melalui persamaan: G = H-T S, keterangan : G adala perubahan
energibebas Gibbs pada sistemyang sedang H adalah perubahan kandungan
panas sistematau entalpi, S adalah perubahan entropi semesta (sistem+
lingkungan), termasuk sistemyang sedang bereaksi.

7
Jika suatu reaksi kimia berjalan menuju kearah keseimbangan, maka
S selalu meningkat, sehingga S selalu berharga positif dalam keadaan yang
nyata. Ketika S semesta meningkat selama reaksi, G sistem sedang bereaksi
mengalamipenurunan. Oleh sebab itu G sistemyang sedang bereaksi selalu
bertanda negatif, bila peningkatan entalpi (G) tidak melampaui peningkatan
entropi.Dalam sistembiologis, sesuai Hukum II Termodinamika bahwa entropi
semesta akan meningkat selama proses kimiawi atau fisis. Hukum ini tidak serta
merta menyatakan bahwa entropi yang meningkat itu harus terjadi di
dalam sistemraksinya sendiri, namun peningkatan mungkin saja terjadi di
tempat lain di alam semesta (dalam arti lingkungan). Organisme hidup tidak
mengalami peningkatan S (ketidakteraturan) internalnya, ketika
melangsungkan proses metabolism makanannya. Namun, lingkungan organism
hidup itulah yang mengalami peningkatan entropi selama proses kehiupan.
Organisme hidup selalu mempertahankan keteraturan internalnya dengan
mengekstrak energi bebas dari makanan yang berasal dari lingkungan, dan
mengembalikan energi tersebut ke lingkungan dalam jumlah yang sama,
tetapi dalam bentuk energi yang tidak berguna bagi sel hidup, dan menyebar
secara acak ketempat tempat lain di alam semesta. Peningkatan entropi
semesta selama selama sel hidup melakukan aktivitas, merupakan fenomena
menarik karena sifatnya yang tidak dapat balik (irreversible). Organisme
hidup secara terus menerus memberikan entropi ke lingkungannya untuk
mempertahankan keteraturan internal organisme tersebut.

Energi Bebas dalam hukum termodinamika, bioenergetika merupakan


studi kuantitatif dari transformasi (perubahan) energi dan penggunaan energi
dalam suatu sistem mahluk hidup. Energi adalah kapasitas untuk melakukan kerja.
Semua mahluk hidup (Living cells) harus melakukan kerja untuk dapat hidup,
tumbuh, dan berkembang. Selama jutaan tahun sel telah mengalami evolusi
sehingga dapat menggunakan energi dengan lebih ekonomis dan efisien.
SEL berfungsi pada temperatur & tekanan konstan (isotermal system).

8
Perubahan pada energi bebas merupakan bagian dari perubahan energi
total pada sistem yang dapat melakukan pekerjaan, yaitu energi yang berguna dan
dkenal dalam berbagai sistem kimia sebagai potensian kimia.
Organisme hidup mengubah energi yang diperolehnya dari makanan
untuk berbagai tujuan seperti pemeliharaan sel, reproduksi dan berbagai kerja
baik fisik maupun kimia. Dalam banyak reaksi biokimia, energi dari reaktan
diubah dengan sangat efisien menjadi bentuk yang berbeda. Dalam
fotosintesa, energi cahaya diubah menjadi energi ikatan kimia. Dalam
mitokondria, energi bebas yang terkandung dalam molekul kecil dari bahan
makanan diubah mnjadi suatu alat tukar energi dalam bentuk adenosin trifosfat (
ATP ). Energi ikatan kimia yang terkandung dalam ATP selanjutnya digunakan
dalam berbagai cara dan tujuan. Dalam kontraksi otot, energi ATP diubah oleh
miosin menjadi energi mekanik. Membran dan organel sel mempunyai pompa
yang menggunakan ATP untuk transport molekul dan ion. ATP juga
digunakan untuk berbagai aktiviatas sel lainnya.
Bioenergetika atau thermodinamika biokimia menerangkan berbagai
macam perubahan energi yang menyertai reaksi-reaksi biokimia. Energi bebas
adalah bahagian energi total yang dapat digunakan untuk kerja-kerja
bermanfaat, difungsikan berdasar hukum termodinamika pertama dan kedua.

2.3 Redoks dan Potensial reduksi

Secara termodinamika, oksidasi biologi dari substrat organik sebanding


dengan oksidasi nonbiologis, seperti pada pembakaran kayu. Energi bebas
totalnya adalah sama, baik sumbernya adalah substansi biologis, seperti glukosa,
ataupun oksidasi senyawa seperti pada pembakarankayu. Namun oksidasi
biologis, jauh lebih kompleks daripada proses pembakaran. Ketika kayu
dibakar, semua energi dilepaskan sebagai panas, tetapi sebaliknya pada oksidasi
biologis, reaksi oksidasi terjadi dengan penangkapan beberapa energi bebas
sebagai energi kimia.tanpa peningkatan suhu. Penangkapan energi metabolik
terjadi terutama melalui sintesis ATP, molekul yang disiapkan untuk

9
menyediakan energi yang akan digunakan dalam bekerja (aktivitas sel hidup).
Dalam katabolisme glukosa, misalnya, sekitar 40% dari 2870 kJ / mol energi
yang dilepaskan digunakan untuk mendorong sintesis ATP dari ADP dan
Pi(fosfat anorganik).

Berbeda dengan oksidasi glukosa oleh oksigen, oksidasi biologis


tidak melibatkan transfer langsung elektron dari substrat ke oksigen.
Sebaliknya, serangkaian reaksi oksidasi-reduksi terjadi, dengan elektron
dilewatkan melalui pembawa elektron intermedietseperti NAD+ yang pada
akhirnya dipindahkan ke oksigen. Tidak semua energi metabolis berasal dari
oksidasi oleh oksigen. Zat lain selain oksigen dapat berfungsi sebagai
akseptor elektron terminal. Sebagai contoh, beberapa mikroogranisme tumbuh
secara anaerob (tanpa oksigen) menghasilkan energi dengan mentransfer
elektron ke materialanorganik, seperti ion sulfatatau ion nitrat. Mikroorganisme
lainnya, seperti bakteri asam laktat, mereduksi zat organik, seperti
piruvat,membentuk laktat. Sebagian besar organisme-organisme tersebut
memperoleh energiberasal dari fermentasi, yang menghasilkan energi dari jalur
katabolik, yang prosesnya terjadi dengan tidak ada perubahan bersih dalam
keadaan oksidasi produk dibandingkan dengan keadaan substrat. Karena
energi metabolik terutama berasal dari reaksi oksidatif, semakin tinggi
substrat tereduksi, semakin tinggi potensi untuk menghasilkan energi
biologis. Dengan demikian, pembakaran lemak menyediakan energi panas
lebih tinggi dari pada pembakaran karbohidrat dengan massa setara. Perhatikan
tabel berikut :

10
Tabel 1. Potensial Titik Tengah untuk Reaksi Oksidasi/Reduksi pada
Beberapa Reaksi BiologisPotensial listrik (E)diukur untuk reaksi oksidasi/reduksi
yang relevan secara biologis pada rentangan yang sangat besar.

Donor utama fotosistem II,P680, adalah kofaktor pengoksidasi paling


banyak ditemukan dalam biologi. Potensial P680 cukup tinggi bahkan untuk
mengoksidasi air sekalipun. Perhatikan bahwa potensia ltitik tengah (Em) P680
lebih besar dibandingkan dengan komponen kimia nya yaitu klorofila, dalam
larutan, dan jauh ebih besar dari potensial bakteri donor electron yang sesuai,
P870. Sitokrom adalah protein dengan heme-heme sebagai kofaktor yang
berfungsi sebagai pembawa elektron, seperti sitokrom c, atau sebagai
membran protein yang merupakan bagian dari rantai transfer elektron, seperti
sitokrom f, yang merupakan bagian dari sitokrom b6f kompleks. Ubiquinon
berfungsi sebagai akseptor elektron dalam kompleks protein yang berbeda,
termasuk pusat reaksi bakteri.

2.4 Phosphoryl group transfer potential dalam sistem hidup.

Bioenergetika atau termodinamika biokimia memberikan prinsip dasar


untuk menjelaskan mengapa sebagian reaksi dapat terjadi sedangkan sebagian
yang lain tidak. Sejumlah sistem non biologik dapat menggunakan energi
panas untuk melaksanakan kerjanya, namun sistem biologi pada hakekatnya

11
bersifat isotermik dan memakai energi kimia untuk memberikan tenaga bagi
proses kehidupan. Prinsip reaksi oksidasi reduksi yaitu reaksi pengeluaran dan
perolehan elektron berlaku pada berbagai sistem biokimia dan merupakan konsep
penting yang melandasi pemahaman tentang sifat oksidasi biologi.

Ternyata banyak reaksi-reaksi oksidasi dalam sel hidup dapat berlangsung


tanpa peran molekul oksigen. Mitokondria sebagai organella pernapasan sel,
dikatakan demikian karena didalamnya berlangsung sebagian besar peristiwa
penangkapan energi yang berasal dari oksidasi dalam rantai pernapasan sel.
Sistem dalam mitokondria yang merangkaikan respirasi dengan produksi ATP
sebagai suatu zat antara berenergi tinggi dikenal dengan fosforilasi oksidatif.
Fosforilasi oksidatif memungkinkan organisme aerob menangkap energi bebas
dengan proporsi yang lebih besar bila dibandingkan dengan organisme an aerob.

Fosforilasi oksidatif yaitu proses perangkaian respirasi dengan produksi


zat antara berenergi tinggi misal ATP yang terjadi di mitokondria. Pada
kepentingan biomedis, hal ini berguna untuk mempelajari proses obat/racun yg
dpt menghambat fosfolirasi oksidatif dan mempelajari kelainan bawaan
(miopati,encepalopati, dll). Respirasi yaitu suatu proses pembebasan energi yang
tersimpan dalam zat sumberenergi melalui proses kimia dengan menggunakan
oksigen. Dari respirasi akan dihasilkan energi kimia ATP untak kegiatan
kehidupan, seperti sintesis (anabolisme), gerak,pertumbuhan,dll. Respirasi terjadi
di dalam mitokondria.

Rantai respirasi dan fosforilasi oksidatif, rantai respirasi terjadi di dalam


mitokondria sebagai pusat tenaga. Di dalam mitokondria inilah sebagian besar
peristiwa penangkapan energi yang berasal dari oksidasi respiratorik berlangsung.
Sistem respirasi dengan proses pembentukan intermediat berenergi tinggi (ATP)
ini dinamakan fosforilasi oksidatif. Fosforilasi oksidatif memungkinkan
organisme aerob menangkap energi bebas dari substrat respiratorik dalam
proporsi jauh lebih besar daripada organisme anaerob.

12
Proses fosforilasi oksidatif, organisme kemotrop memperoleh energi bebas
dari oksidasi molekul bahan bakar, misalnya glukosa dan asam lemak. Pada
organisme aerob, akseptor elektron terakhir adalah oksigen. Namun elektron tidak
langsung ditransfer langsung ke oksigen, melainkan dipindah ke pengemban-
pengemban khusus antara lain nikotinamida adenin dinukleotida (NAD +) dan
flavin adenin dinukleotida (FAD).

13
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Bioenergetika atau termodinamika biokimia adalah ilmu pengetahuan


mengenai perubahan energi yang menyertai reaksi biokimia. Reaksi ini diikuti
oleh pelepasan energi selama sistem reksi bergerak dari tingkat energi yang lebih
tinggi ke tingkat energi yanng lebih rendah.

Bentuk-bentuk energi sebagaimana hukum I Termodinamika antara lain


energi dalam (E atau U), energi bebas Gibbs (G), entalpi (H), entropi (S),
kalor/panas (Q), dan kerja (W). Dalam pembahasan tentang energi sel dalam
tubuh, panas bukanlah sumber energi yang berarti bagi sel hidup, karena panas
dapat melakukan kerja hanya jika ia mengalir dari satu tempat dengan suhu
tertentu ke tempat lain yang suhunya lebih rendah.

Donor utama fotosistem II,P680, adalah kofaktor pengoksidasi paling


banyak ditemukan dalam biologi. Potensial P680 cukup tinggi bahkan untuk
mengoksidasi air sekalipun. Perhatikan bahwa potensia ltitik tengah (Em) P680
lebih besar dibandingkan dengan komponen kimia nya yaitu klorofila, dalam
larutan, dan jauh ebih besar dari potensial bakteri donor electron yang sesuai,
P870.

Fosforilasi oksidatif yaitu proses perangkaian respirasi dengan produksi


zat antara berenergi tinggi misal ATP yang terjadi di mitokondria. Pada
kepentingan biomedis, hal ini berguna untuk mempelajari proses obat/racun yg
dpt menghambat fosfolirasi oksidatif dan mempelajari kelainan bawaan
(miopati,encepalopati, dll).

14
3.3 Saran

Dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan karena


keterbatasan kami kelompok 4 sebagai manusia biasa, untuk itu kritik dan saran
yang membangun kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.

15
DAFTAR PUSTAKA

ALLEN, J. (2008). Biophysical Chemistry 1st Ed. Singapore: John Wiley


& Sons.

Lehninger. (1982). Dasar-dasar biokimia jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Lehninger A, N. D. (1994). Lippincott's illustrated . Biochemistry 2nd,


364-394.

16