Anda di halaman 1dari 3

NAMA : ANGGI DYAH ANAYSTIA

NIM : 020523135
TUGAS 3 : PERBANDINGAN SISTEM KOMUNIKASI
Soal:
1. Jelaskan perbedaan sistem komunikasi tanggung jawab sosial dengan sistem komunikasi
Pancasila!
2. Bagaimanakah kelebihan dan kekurangan dari sistem komunikasi Pancasila yang diterapkan di
negara kita jika dibandingkan dengan sistem komunikasi Autoritarian, Libertarian, Komunis, dan
Tanggung Jawab Sosial?
3. Bagaimanakah kebebasan berkomunikasi di negara kita yang menganut Sistem Komunikasi
Pancasila? Jelaskan dengan contoh!

1.Setiap negara memiliki sistem persnya sendiri-sendiri dikarenakan perbedaan dalam tujuan,
fungsi dan latar belakang social politik yang menyertainya. Akibatnya berbeda dalam tujuan,
fungsi dan latar belakang munculnya pers, dan tentunya pula, berbeda dalam
mengaktualisasikannya. Nilai, filsafat hidup dan ideologi suatu negara juga telah berperan besar
dalam mempengaruhi sebuah pers. Ini juga berarti bahwa sistem yang dikembangkan juga
berbeda, termasuk di dalamnya adalah sistem persnya. Erat kaitannya dengan itu, pola hubungan
segi tiga antara pemerintah, pers dan masyarakat juga berbeda. Salah satu alasan kenapa kita perlu
mempelajari berbagai macam sistem pers adalah untuk mengetahui sekaligus melakukan
perbandingan antar sistem pers. Disamping itu pula agar kita menjadi lebih tahu dimana posisi
sistem pers Indonesia.
Fred Siebert, Wilbur Schramm dan Theodore Peterson dalam bukunya Four Theories of The Press
(1963) mengamati setidak-tidaknya ada empat kelompok besar teori (sistem) pers, yakni sistem
pers otoriter (authoritarian), sistem pers liberal (libertarian), sistem pers komunis (Marxist) dan
sistem pers tanggung jawab sosial (social responsibility) (Rachmadi, 1990) dalam (Nurudin).
Teori atau sistem pers otoriter, pers dalam sistem ini berfungsi sebagai penunjang negara
(kerajaan) untuk memajukan rakyat. Pemerintah menguasai sekaligus mengawasi media. Berbagai
kejadian yang akan diberitakan dikontrol pemerintah karena kekuasaan raja sangat mutlak.
Negara (dengan raja sebagai kekuatan) adalah pusat segala kegiatan. Oleh karena itu individu
tidak penting; yang lebih penting adalah negara sebagai tujuan akhir individu.
Sistem pers liberal (libertarian), esensi dasar sistem ini memandang manusia mempunyai hak
asasi dan meyakini bahwa manusia akan bisa mengembangkan pemikirannya secara baik jika
diberi kebebasan. Manusia dilahirkan sebagai makhluk bebas yang dikendalikan akal dan bisa
mengatur sekelilingnya untuk tujuan yang mulia. Kontrol pemerintah dipandang membatasi
kebebasan berpikir. Oleh karena itu pers harus diberi tempat yang sebebas-bebasnya untuk
membantu mencari kebenaran.
Sistem pers “Totalitarian”, pers menjadi alat atau organ partai yang berkuasa, dengan demikian,
segala sesuatu ditentukan oleh negara (partai). Kritik diizinkan sejauh tidak bertentangan dengan
ideology partai. Media massa melakukan yang terbaik untuk partai yang ditentukan oleh
pemimpin.
Sistem pers Tanggung Jawab Sosial (Social Responsibility) muncul pada awal abad ke-20 pula
sebagai protes terhadap kebebasan mutlak dari libertarian yang mengakibatkan kemerosotan
moral masyarakat. Dasar pemikiran sistem ini adalah sebebas-bebasnya pers harus bisa
bertanggung jawab kepada masyarakat tentang apa yang diaktualisasikan.
Melihat uraian tentang empat teori pers tersebut di atas, jika diamati Indonesia termasuk dalam
sistem pers tanggung jawab sosial. Ini tidak hanya dilihat dari istilah “kebebasan pers yang
bertanggung jawab” seperti yang kita kenal selama ini. Namun berbagai aktualisasi pers pada
akhirnya harus disesuaikan dengan etika dan moralitas masyarakat.

2.Sebagai bangsa yang memiliki ideologi Pancasila yang sangat kuat, sebagai para pelajar harus
pandai-pandai menyikapi perkembangan Teknologi Informasi yang sudah merabah dan mewambah
di Indonesia. Khususnya di dunia pendidikan yang sudah terkontaminasi dengan adanya
perkembangan Teknologi Informasi.
Dengan begitu Sistem Komunikasi Pancasila memiliki makna tentang nilai-nilai dan dasar
ideologi karena pers, perfilman, dan penyiaran sebagai lembaga sosial dan media massa
berorientasi, bersikap, dan berperilaku berdasarkan nilai-nilai Pancasila, yakni ketuhanan,
kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan.

Dilihat dari perspektif etika penyebutan diri sebagai Pers Pancasila bagi Pers Indonesia oleh
Dewan Pers (1984), yang beranggotakan insan pers ditambah unsur masyarakat (ulama,
pendidik, akademisi) dan unsur pemerintah, merupakan suatu bentuk kesadaran etika mereka,
terhadap adanya nilai-nilai etika bangsa terutama yang bersumber dari sila
KetuhananYME.(ibid Setijo,2011:2)

Kesadaaran etika yang seperti itu dijabarkan dalam kode etik jurnalistik dan kode etik lain
dari organisasi wartawan atau organisasi jurnalistk yang ada di Indonesia. Kesadaran etik
tersebut diaplikasikan dalam Sistem Komunikasi Indonesia, yang diselenggarakan Pancasila
dan UUD 1945, terutama yang terkait dengan sila Ketuhanan YME, dalam bentuk pedoman
perilaku penyiaran dan standar program siaran, sebagai aplikasi dan aktualisasi dari arah
penyiaran, yang terkandung dalam rumusan Undang-Undang Penyiaran , menjaga dan
meningkatkan moralitas dan nilai-nilai agama serta jati diri bangsa. (ibid Setijo 2011:3)

3. Dalam kebebasannya berkomunikasi dalam lingkup internasional tidak ada aturan yang secara
khusus untuk mengatur komunikasi internasional ini, paling tidak setiap negara mempunyai
aturan yang dapat membatasi adanya informasi dari luar masuk ke dalam negara tersebut.
Kebebasan dalam mendapat sebuah informasi sangat terasa sekali hingga sekarang, berbeda pada
saat masa orde baru khususnya Indonesia, masih banyak aturan-aturan yang membatasi kita dalam
mengakses informasi, tidak dengan sekarang kebebasan dalam menerima dan menyebar pesan
atau informasi sangatlah bebas, walaupun tetap juga ada batasannya, jadi berhati-hati dalam
menerima dan menyebar sebuah informasi.

Anda mungkin juga menyukai