Anda di halaman 1dari 8

Jurnal AgroPet Vol.

12 Nomor 1 Juni 2015 ISSN: 1693-9158

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI CENDAWAN BERGUNA ASAL POSO


POTENSINYA SEBAGAI AGENS PENGENDALI SERANGGA HAMA

Oleh:
Meitry Tambingsila1) , Rudias2)

ABSTRAK

Cendawan berguna banyak mendapat perhatian karena potensinya sebagai


entomopatogen yang dapat mematikan stadia tertentu serangga. Penelitian ini bertujuan
mengisolasi dan mengidentifikasi ciri morfologi cendawan. Isolasi dilakukan dengan cara
mengumpulkan bangkai serangga (cadaver) yang selanjutnya dibawah ke labotratorium
untuk diisolasi pada media PDA dan identifikasi cendawan dilakukan secara makroskopis
dan mikroskopis yaitu mengamati ciri-ciri morfologi.ditemukan empat jenis cendawan dari
ketiga genus yang berhasil diisolasi dan diidentifikasi yaitu Aspergillus flavus, Penicillium,
sp, Aspergillus Niger dan Fusarium sp.

Kata Kunci: Isolasi, Identifikasi, Cendawan, Cadaver

PENDAHULUAN (2008), pengendalian hayati


merupakan bagian dari
Indonesia dikenal sebagai
pengendalian alami.
negara megabiodiversitas tentunya
Di Indonesia penelitian
memiliki keragaman mikroba yang
mengenai cendawan
tinggi dan sangat berharga yang
entomopatogen sebagai agens
perlu dikelola secara benar dan
pengendali serangga hama tanaman
efektif. Salah satu yang menjadi
telah banyak dilakukan dan
perhatian adalah cendawan berguna
beberapa hasil penelitian telah
yang dimanfaatkan secara maksimal
berhasil mengembangkan cendawan
di dalam sistem Pengelolaan Hama
entomopatogen yang dapat
Terpadu (PHT). Cendawan parasit
mematikan stadia tertentu dari
serangga (cendawan
serangga hama.
entomopatogen), kemampuannya
Beauveria bassiana diketahui
yang mematikan serangga
dapat menyebabkan penyakit pada
dimanfaatkan dalam pengendalian
beberapa jenis serangga hama, di
hayati serangga hama tanaman
antaranya penggerek batang kakao
sebagai salah satu alternatif dalam
(Utomo & Pardede 1990), penggerek
upaya mengurangi penggunaan
buah kopi (Rosmahani et al. 2002),
insektisida sintetik. Menurut
penggerek batang jagung (Mas’ud et
Krutmuang & Mekchay (2005),
al. 2002), dan penghisap polong
pengendalian hayati tidak akan
kedelai (Prayogo dan Tangkono,
merusak lingkungan dan tidak
2004).
mematikan organisme non target,
Selanjutnya hasil penelitian
sedangkan menurut Herlinda et al.
Sulistyowati dan Junianto (2002) di
1)
Staf Pengajar Program Studi Agroteknologi,
Fakultas Pertanian, Universitas Sintuwu Maroso
2)
Mahasiswa Program Studi Agroteknologi,
Fakultas Pertanian, Universitas Sintuwu Maroso
Jurnal AgroPet Vol. 12 Nomor 1 Juni 2015 ISSN: 1693-9158

Maluku menunjukkan adanya Prosedur Kerja


cendawan entomopatogen pada
1. Pengambilan Sampel
penggerek buah kakao (PBK) seperti
Daerah pengambilan
Penicillium sp., Fusarium sp.,
sampel dibedakan pada lahan
Verticillium sp., Acrostalagmus sp.,
kakao didataran rendah dan
Beauveria bassiana Vuill., dan
sedang dengan luas pertanaman
Spicaria sp.
untuk tiap lokasi sekitar 100 m2.
Namun, saat ini keberadaan
Lokasi pengambilan sampel
dan keragaman cendawan
cadaver yakni di Kelurahan
entomopatogen di Kabupaten Poso
Moengko (19 m - 22 m dpl),
belum diketahui secara pasti.
Kelurahan Gebang Rejo (45 m
Mendapatkan cendawan
-47 m dpl), desa Sangira (454 m
entomopatogen asal Poso yang
dpl). Ketinggian lokasi
berpotensi sebagai entomopatogen
pengambilan cadaver diukur
sangat penting guna meminimalisir
menggunakan alat GPS yang
penggunaan insektisida sintetik
dilengkapi altimeter.
dalam system pertanian. Untuk
Sampel diperoleh dengan
mengetahui jenis cendawan
cara mengumpulkan bangkai
entomopatogen, maka dianggap
serangga (cadaver) yang
penting dilakukan penelitian isolasi
ditetapkan secara diagonal,
dan identifikasi cendawan berguna
selanjutnya sampel tersebut
asal Poso.
dimasukkan ke dalam aqua cup,
menggunakan pingset dan
METODE PENELITIAN
dibawah ke labotratorium untuk
Waktu dan Lokasi diisolasi dan diidentifikasi.

Penelitian ini dilaksanakan 2. Penyiapan Media Potato


dibulan Juni hingga Oktober 2014. Dextrose Agar (PDA)
Lokasi pengambilan sampel Kentang sebanyak 200
dilakukan di Kelurahan Moengko gram dipotong dadu kemudian
Lama dan Gebang Rejo, Kec. Poso dimasak dengan air steril hingga
Kota (0-200 mdpl), dan di desa mendidih, ekstrak dipisahkan dari
Sangira, Kecamatan Pamona (> kentang lalu dicampurkan dengan
200-700 mdpl). Isolasi dan agar-agar sebanyak 20 gram, dan
identifikasi cendawan dilakukan di molase sebanyak 20 gram,
Laboratorium IAD Universitas selanjutnya di sterilkan
Sintuwu Maroso Poso dan di menggunakan autoclove, pada
Laboratorium Identifikasi OPT dan suhu 121 °C, dan tekanan 2 atm
Pengendalian Hayati, Jurusan Hama selama 15-20 menit.
dan Penyakit Tumbuhan Fakultas 3. Isolasi Cendawan
Pertanian Universitas Hasanuddin Sampel bangkai serangga
Makassar. (cadaver) dipotong-potong
sebesar ± 0,5 cm, kemudian
dilakukan sterilisasi permukaan
1)
Staf Pengajar Program Studi Agroteknologi,
Fakultas Pertanian, Universitas Sintuwu Maroso
2)
Mahasiswa Program Studi Agroteknologi,
Fakultas Pertanian, Universitas Sintuwu Maroso
Jurnal AgroPet Vol. 12 Nomor 1 Juni 2015 ISSN: 1693-9158

mengunakan larutan bleach Identifikasi didasarkan pada kunci


selama 30 detik, lalu dikeringkan determinasi dalam Illustrated
menggukan kertas saring steril, Genera of Imperfect Fungi
selanjutnya cadaver tersebut (Barnett & Hunter 1998;
diisolasi pada media PDA dan Watanabe, 2010).
diinkubasikan selama 3-7 hari
pada suhu 22-25°C hingga HASIL DAN PEMBAHASAN
didapatkan biakan murni.
Hasil isolasi dan identifikasi ciri
Cendawan-cendawan yang
morfologi di bawah mikroskop dan
tumbuh selanjutnya diidentifikasi.
Barnet & Hunter (1998); Watanabe
4. Identifikasi Cendawan (2010) ditemukan sebanyak 4 isolat
Identifikasi cendawan cendawan (Tabel 1), dengan
dilakukan secara makroskopis karakteristik dan warna koloni
dan mikroskopis yaitu dengan berbeda-beda pula (Tabel 2).
mengamati ciri-ciri fisik/ morfologi.

Tabel 1. Kerangaman Isolate Berdasarkan Ketinggian Tempat


Kode
Genus Jenis Asal Isolat Ketinggian Lokasi
Isolat
Gebang Rejo 19-22 mdpl
Aspergillus Moengko
R1 Aspergillus 45-47 mdpl
flavus Lama
Sangira 454 mdpl
Moengko
45-47 mdpl
R2 Penicillium Penicillium, sp Lama
Sangira 454 mdpl
Moengko
R3 Aspergillus Aspergillus Niger 45-47 mdpl
Lama
Moengko
R4 Fusarium Fusarium sp 45-47 mdpl
Lama

Pada Tabel 1 diatas terlihat oleh ketersediaan nutrisi dan faktor


bahwa terdapat 4 jenis isolat lingkungan setempat seperti
cendawan yang diisolasi dari kandungan oksigen dan
cadaver yang ditemukan temperature. Jenis cendawan yang
diperkebunan kakao pada berbagai dominan yakni cendawan dari genus
ketinggian tempat dan isolate asal Aspergillus. Cendawan dari genus
perkebunan kakao di kelurahan Aspergillus merupakan cendawan
Moengko Lama yang memiliki yang dapat tumbuh dengan cepat
tingkat keragaman cendawan dan ditemukan melimpah di alam.
tertinggi bila dibandingkan asal Desa Dilaporkan bahwa cendawan genus
Sangira dan Kelurahan Gebang ini ditemukan diberbagai jenis tanah,
Rejo. Perbedaan kerangaman antara lain tanah basah pada lahan
cendawan itu diduga dipengaruhi rerumputan di areal kering dan tanah
1)
Staf Pengajar Program Studi Agroteknologi,
Fakultas Pertanian, Universitas Sintuwu Maroso
2)
Mahasiswa Program Studi Agroteknologi,
Fakultas Pertanian, Universitas Sintuwu Maroso
Jurnal AgroPet Vol. 12 Nomor 1 Juni 2015 ISSN: 1693-9158

ekstrim. Cendawan ini juga


mempunyai toleransi yang tinggi
terhadap alkohol dan formalin.

Tabel 2. Karakter Morfologi berbagai isolate pada Media PDA dan dibawah
mikroskop
Bentuk
Kode
Warna Koloni Colony Reserve Konidi/ Bentuk Hifa Genus Spesies
Isolat
Spora
Aspergillus
R1 Hijau berhalo putih Putih kekuningan Bulat Bersepta Aspergillus
flavus
Hijau keabu-
Kuning muda Penicillium,
R2 abuan berhalo Bulat bersepta Penicillium
bergaris sp
putih
Hitam berhalo Tidak Aspergillus
R3 Putih bergaris Bulat Aspergillus
putih Bersepta Niger
Bulat
R4 Putih Putih lonjong; Bersepta Fusarium Fusarium sp
Bulan sabit

Keterangan:Identifikasi menggunakan buku identifikasi berdasarkan pada kunci


determinasi (Barnett dan Hunter, 1998; Watanabe, 2010)

Tabel 2 diatas menunjukan ada Bentuk makroskopis pada media


empat jenis cendawan dengan PDA dan mikroskopis dapat dilihat
karakter morfologi yang berbeda. pada gambar 1.

(1a) (1b)

(2a)
(2b)

1)
Staf Pengajar Program Studi Agroteknologi,
Fakultas Pertanian, Universitas Sintuwu Maroso
2)
Mahasiswa Program Studi Agroteknologi,
Fakultas Pertanian, Universitas Sintuwu Maroso
Jurnal AgroPet Vol. 12 Nomor 1 Juni 2015 ISSN: 1693-9158

(3a) (3b)

(4a)
(4b)
Gambar 1. Bentuk makroskopis dan mikroskopis (1a) Aspergillus Flavus pada
media PDA; (1b) Conidiospora with conidial heads; (2a) Penicillium
sp pada media PDA berumur 4 hari; (2b) Conidiospora with
branches, phialides and chains conidia; (3a) Aspergilus niger pada
media PDA; (3b) Conidiospora with conidial heads ; (4a) Fusarium sp
pada media PDA; (4b) Makroconidia dan Mikroconidia.

Aspergillus sp. fungsinya cendawan lain seperti Penicillium


sebagai cendawan berguna sp., dan Fusarium sp. dapat
(entomopatogen) telah banyak diuji menyebabkan mortalitas pupa dan
dalam mengendalikan serangga imago PBK. Cendawan ini juga
hama. Cendawan ini dilaporkan menjadi cendawan oportunistik atau
memiliki patogenesitas paling tinggi saprofit pada larva ngengat
dan menyebabkan penyakit pada diamondback atau P. xylostella
hama PBK, dan sangat virulen (Soewarno et al. 2013).
terhadap inang sasaran. Mortalitas Hal yang sama juga dilaporkan
serangga uji akibat infeksi cendawan Hamdani et al. (2011) bahwa hasil
Aspergillus sp. sangat tinggi inventarisasi musuh alami hama
mencapai 100% (Hamdani et al. PBK, C.cramerella di propvinsi
2011), sedang menurut Agus et al. Maluku menemukan cendawan
(2013) bahwa aplikasi langsung Penicillium menginfeksi pupa
suspensi spora cendawan C.cramerella secara alami dan
entomopatogen dari genus tercatat memiliki patogenesitas pada
Aspergillus sp. serta beberapa serangga C.cramerella dengan rata-
1)
Staf Pengajar Program Studi Agroteknologi,
Fakultas Pertanian, Universitas Sintuwu Maroso
2)
Mahasiswa Program Studi Agroteknologi,
Fakultas Pertanian, Universitas Sintuwu Maroso
Jurnal AgroPet Vol. 12 Nomor 1 Juni 2015 ISSN: 1693-9158

rata mortalitas sebesar 77,5%, glucanase (Laminarinase) yang


mortalitas ini didapatkan melalui mempunyai kemampuan untuk
kemampuan cendawan Penicillium memecah komponen dinding sel
dalam memproduksi mikotoksin. serangga inang seperti chitin dan β-
Selanjutnya Prayogo et al. (2005) 1, 3 glucan disamping
juga menyatakan cendawan ini mengeluarkan senyawa volatile
memberikan mortalitas sebesar 38% seperti α-phellandrene, acetic acid
pada ulat grayak (Spodoptera litura). pentyl ester dan 2-acetyl-5-
Pada kasus hama lain penelitian methylfuran (Ting et al., 2010).
terhadap keefektifan jenis cendawan
entomopatogen Penicillium spp. KESIMPULAN DAN SARAN
mempunyai mortalitas 8,5 %
Hasil isolasi cadaver dan
terhadap nimfa R. Linearis.
identifikasi ciri morfologi ditemukan
Selain itu beberapa penelitian
tiga genus cendawan asal poso
juga dilakukan untuk membuktikan
yakni Aspergillus, Penicillium dan
peran cendawan Fusarium sp.
Fusarium
dalam mengendalikan telur dan
Dipandang perlu untuk
Larva hama kubis Crocidolomia
dilakukannya identifikasi cendawan
pavonana Fabricius, yang
secara molekuler dan pengujian
mempunyai patogenitas sampai 47%
lanjut untuk mengetahui
(Hasyim et al. 2008), hama PBK
patogenesitas dan perannya sebagai
(C.cramerella) dengan rata-rata
entomopatogen di laboratorium dan
mortalitas 82,50 % (Hamdani et al.
di lapang.
2011), serta nimfa hama pengisap
polong kedelai ( R. Linearis) dengan
DAFTAR PUSTAKA
mortalitas 5-11% (Prayogo, 2006).
Agus, N.; A. P. Saranga, A.
Peterson et al. (1987), Rosmana dan M.
menyatakan bahwa Penicillium sp. Tambingsila 2013. Potensi
menghasilkan senyawa metabolit, Cendawan Rhizosfer sebagai
yang dapat mematikan serangga. Agens Pengendali Hayati
Beberapa senyawa metabolit yang Hama dan Penyakit
bersifat toksin adalah ochratoxin A, Tanaman Kakao. Jurusan
Hama dan Penyakit
brevianamide A, penicilic acid dan
Tumbuhan, Fakultas
citrinin.. Cendawan Fusarium sp Pertanian, Universitas
juga dilaporkan menghasilkan Hasanuddin Makassar,
fusaric acid dan pigmen Naphtazarin Sulawesi Selatan, 90245. 20
yang bersifat insektisidal. Mikotoksin januari 2015.
ini diketahui dapat menghambat http://repository.unhas.ac.id/h
beberapa reaksi enziumatik (Tanada andle/123456789/6613. 03
Maret 2015.
dan Kaya, 1993), sedangkan
Cendawan Aspergillus spp.
dilaporkan memproduksi aflatoksin
dan ochratoksin, menghasilkan
enzim chitinase dan β-1, 3

1)
Staf Pengajar Program Studi Agroteknologi,
Fakultas Pertanian, Universitas Sintuwu Maroso
2)
Mahasiswa Program Studi Agroteknologi,
Fakultas Pertanian, Universitas Sintuwu Maroso
Jurnal AgroPet Vol. 12 Nomor 1 Juni 2015 ISSN: 1693-9158

Barnett, H.L and Hunter 1998. Research for Development,


Illustrated Genera of Im- Stuttgart-Hohenheim.
perfect Fungi. Burgess
Publishing Company, Mas’ud, S.; Yasin, M.; Talanca, A.
Mineapolis. H.; dan D. Baco. 2002.
Hamdani; Yaherwandi; dan Trizelia. Keefektifan Cendawan
2011. Potensi Cendawan
Patogen Beauveria bassiana
Entomopatogen Indigenus
Sebagai Pengendali Hayati Dalam Pengendalian
Hama Penggerek Buah Penggerek Batang Jagung
Kakao, Conopomorpha Ostrinia furnacalis Di
Cramerella Snell Lapangan. Hasil Penelitian
(Lepidoptera: Gracillariidae). Hama dan Penyakit Tahun
2001. Badan Litbang
http://faperta.unand.ac.id/jurn
Pertanian, Balai Penel. Tan.
almanggaro/files/6.-Hamdani-
dkk.pdf. 20 januari 2015. Jagung dan Serealia Lain

Hasyim, A.; Nuraida; dan Trizelia. Peterson, R.R.M.Simmond.M.S. J and


2008. Patogenitas jamur Blaney. W.M.1987.
entomopatogen terhadap Mycopesticidal effect of
stadia telur dan Larva hama characterized extracts of
kubis Crocidolomia Penicillium isolates and
pavonana Fabricius. purified secondary including
Laboratorium Entomologi dan metabolites (including
Fitopatologi Universitas mycotoxin) on Drosophila
Andalas Padang. melanogaster and
Spodoptera littoralis J.
http://hortikultura.litbang.pert invertebr. Pathol. 50. 124-133
anian.go.id/jurnal_pdf/193/ha
Prayogo, Y. dan W. Tengkono.,
syim_kubis.pdf. 25 januari
2015. 2004. Pengaruh Media
Tumbuh Terhadap Daya
Herlinda S, Mulyati SI & Suwandi. Kecambah, Sporalasi dan
2008. Selection of isolates of Virulensi Metarhizium
entomopathogenic fungi and anisplie (Metchnikoff) Sorokin
the bioefficacy of their liquid Isolat Kandalprayak Pada
production against Larva Spodoptera litura.
Leptocorisa oratorius SAINTEKS. Jurnal Ilmia Ilmu-
nymphs. J. Ilmu Pertanian. (9)4: 233-
Microbiol.Indones.2(3): 141- 242.
146.
Prayogo, Y. 2006. Sebaran dan
Krutmuang, P., Mekchay, S., 2005. Efikasi Berbagai Genus
Pathogenicity of Cendawan Entomopatogen
entomopathogenic fungus Terhadap Riptortus Linearis
Pada Kedelai Di Lampung
Metarhizium anisopliae
dan Sumatra Selatan.
against termites. Conference http://citation.itb.ac.id/pdf/JU
on International Agricultural
1)
Staf Pengajar Program Studi Agroteknologi,
Fakultas Pertanian, Universitas Sintuwu Maroso
2)
Mahasiswa Program Studi Agroteknologi,
Fakultas Pertanian, Universitas Sintuwu Maroso
Jurnal AgroPet Vol. 12 Nomor 1 Juni 2015 ISSN: 1693-9158

RNAL.pdf. 10 Desember
2014.

Soewarno, W.; B. A. N. Pinaria; C. L.


Salaki; dan O. R. Pinontoan.
2013. Jamur Yang
Berasosiasi Dengan Plutella
Xylostella L. Pada Sentra
Tanaman Kubis Di Kota
Tomohon Dan Kecamatan
Modoinding. Plants Pests
and Desease Agriculture
Faculty Sam Ratulangi
University Manado.
http://ejournal.unsrat.ac.id/ind
ex.php/cocos/article/viewFile/
3002/2546. 23 januari
2015.

Sulistyowati E dan Y.D. Junianto,


2002. Inventaris Musuh
Alami Hama Penggerek
Buah Kakao (PBK)
Conophomorpha cramerella
Snellen Di Propinsi Maluku,
Pelita Perkebunan II (2). 86-
89.

Tanada, Y. and H.K. Kaya, 1993.


Insect Pathology.
Academic Press Inc.
Harcout Brace Jovanivich
Publ.

Utomo, D., dan D. Pardede, 1990.


Beauveria bassiana Parasit
Pada Larva Penggerek
Batang Kakao Zeuzera
coffee Nietn. Buletin
Perkebunan. Vol. 19 No.3
September 1988, Medan.

Watanabe, T. 2010. Pictorial Atlas of


Soil and Seed Fungi,
Morphologi of Cultured Fungi
and Key To Species (Third
Edition). CRC Press, Taylor
and Francis Group, LLC.
United States of America

1)
Staf Pengajar Program Studi Agroteknologi,
Fakultas Pertanian, Universitas Sintuwu Maroso
2)
Mahasiswa Program Studi Agroteknologi,
Fakultas Pertanian, Universitas Sintuwu Maroso

Anda mungkin juga menyukai