Anda di halaman 1dari 6

Nama : Syifa Annisa

NIM : 141200201

UAS Kewirausahaan

1. Michael E Porter mengungkapkan bahwa dalam menanggulangi berbagai kekuatan


persaingan, ada tiga pendekatan strategis generik yang secara potensial akan berhasil untuk
mengungguli perusahaan lain :

1. Keunggulan Biaya Menyeluruh (Cost Leadership) : strategi ini menekankan pada upaya
memproduksi produk standar yang sama dalam segala aspek dengan biaya per unit yang
sangat rendah. Produk ini biasanya ditujukan kepada konsumen yang relatif mudah
terpengaruh oleh pergeseran harga atau menggunakan harga sebagai faktor penentu
keputusan.

2. Strategi Perbedaan Produk (Differentation) : dalam strategi diferensiasi ini perusahaan


harus berusaha untuk menciptakan sesuatu yang baru yang dirasakan oleh keseluruhan
industri sebagai hal yang unik. Keunikan produk (barang dan jasa) yang diutamakan ini
memungkinkan suatu perusahaan untuk menarik minat sebesar-besarnya dari konsumen
potensialnya.

3. Strategi Fokus (Focus) : Strategi fokus digunakan untuk membangun keunggulan


bersaing dalam suatu segmen pasar yang lebih sempit. Strategi jenis ini ditujukan untuk
melayani kebutuhan konsumen yang jumlahnya relatif kecil dan dalam pengambilan
keputusan untuk membeli relatif tidak dipengaruhi oleh harga. strategi generik terakhir ini
berusaha untuk memusatkan (fokus) pada kelompok pembeli, segmen lini produk, atau pasar
geografis tertentu seperti halnya diferensiasi, fokus dapat bermacam-macam bentuknya.

2. Aspek-aspek yang perlu dicermati dalam studi kelayakan bisnis :

1. Aspek Pasar dan Pemasaran

Komponen-komponen yang perlu dicermati dalam membuat analisis aspek


pemasaran dalam membuat studi kelayakan bisnis : Apakah ada konsumen yang potensial
untuk membeli produk?, Jika ada, seberapa besar pasar nyata dan potensi?, Bagaimana peta
kondisi pesaing?, Bagaimana perilaku konsumen?, Strategi apa yang harus dijalankan untuk
memenangkan persaingan dan merebut pasar?
2. Aspek Keuangan

3. Aspek Teknis/Operasi

4. Aspek Ekonomi Sosial

5. Aspek Dampak Lingkungan

3. Business Model Canvas (BMC) adalah suatu kerangka kerja yang membahas model
bisnis dengan disajikan dalam bentuk visual berupa kanvas lukisan, agar dapat dimengerti
dan dipahami dengan mudah. Business Model Canvas adalah suatu strategi manajemen yang
digunakan untuk merancang perencanaan bisnis perusahaan berdasarkan proposisi nilai
perusahaan, produk, infrastruktur, pelanggan, dan keuangan. Pertama kali diciptakan oleh
Alexander Osterwalder pada tahun 2005.

Business Model Canvas terdiri 9 elemen blok yang dapat diisi sesuai masing-masing poin
penting dalam suatu perencanaan bisnis perusahaan. 9 elemen blok tersebut antara lain :

1) Value Proposition

Value proposition merupakan nilai yang diposisikan perusahaan untuk calon customer. Nilai
tersebut mencakup produk atau jasa serta bagaimana perusahaan ingin dilihat oleh calon
customer.

2) Customer Segments

Dalam suatu bisnis, customer menjadi salah satu komponen penting. Dari customer suatu
perusahaan akan mendapatkan income. Perusahaan dapat mengisi blok ini dengan segmentasi
customer seperti apa yang mereka incar sesuai dengan value proposition.

3) Channels

Setiap perusahaan memerlukan sarana atau cara untuk menyampaikan jasa atau produk
mereka kepada customer. Channels merupakan sarana atau cara untuk menyampaikan jasa
atau produk kepada customer sesuai segmen yang ditentukan sebelumnya.

4) Customer Relationship

Di dalam lingkup ini yang dinilai adalah bagaimana menjalin hubungan dengan pelanggan.
Agar customer tidak mudah berpaling ke bisnis lain, maka sangat penting untuk menjalin
hubungan yang baik dengan customer. Selain itu, diperlukan juga pengawasan yang ketat dan
intensif dalam customer relationship.
5) Key activities

Ada banyak aktivitas yang harus dilakukan perusahaan dalam menghasilkan produk atau jasa
serta bertahan di tengah kompetisi. Perusahaan dapat mengisi berbagai macam kegiatan yang
akan mereka lakukan untuk menghasilkan produk dan jasa dalam blok key activities. Key
activities juga menunjukkan kegiatan utama yang harus diberi perhatian lebih oleh
perusahaan.

6) Key Resources

Sumber daya merupakan kunci mewujudkan value proposition melalui key activities yang
akan dijalankan. Dalam key resources, perusahaan dapat mengisi dengan sumber daya apa
saja yang mereka miliki, baik tenaga kerja maupun benda mati seperti perlengkapan dan
peralatan.

7) Key Partnership

Tidak mungkin perusahaan akan mampu berdiri sendiri tanpa bantuan relasi dari pihak lain,
baik customer maupun pemasok bahan utama. Untuk memperlancar relasi yang terjaga
dengan baik, perencanaan bagaimana relasi akan berjalan ketika eksekusi bisnis. Key
resources dapat diisi dengan pihak-pihak mana saja yang harus diajak bekerja sama untuk
mencapai tujuan.

8) Revenue Stream

Selain kegiatan penting yang telah dijabarkan dalam key activities, perusahaan harus
menentukan bagaimana mereka akan mendapatkan profit atau keuntungan dari key activities
yang akan berjalan berdasarkan value proposition. Revenue stream menjelaskan bagaimana
perusahaan mendapatkan keuntungan ketika bisnis telah dieksekusi.

9) Cost Structure

Tidak hanya mendapatkan keuntungan, perusahaan harus mengeluarkan sejumlah biaya untuk
menjalankan bisnis dan mendapatkan keuntungan. Cost structure meliputi jenis biaya yang
sekiranya akan dikeluarkan ketika bisnis telah berjalan. Contoh biaya tersebut antara lain;
biaya sewa tempat, internet, listrik, dan sebagainya. Dengan pengelolaan pengeluaran yang
akurat, bisnis akan lebih efisien dan terhindar dari risiko kerugian.
Keuntungan menggunakan model BMC : Mempersingkat waktu penulisan perencanaan
bisnis, Meningkatkan fokus perusahaan terhadap poin penting perencanaan bisnis,
Mengurangi resiko kekeliruan dalam eksekusi bisnis, Perencanaan bisnis lebih terstruktur.

4. Keuntungan Bisnis Waralaba :

a) Manajemen bisnis telah terbangun

Tidak seperti membangun bisnis sendiri, sistem waralaba telah memiliki manajemen
bisnis yang siap dan matang. Biasanya para pewaralaba pun mulai memberi kesempatan
membuka waralaba karena bisnis yang dijalani sudah matang, memiliki pasar yang tidak
berubah-ubah, dan juga memiliki reputasi yang baik sehingga manajemen dan strategi bisnis
yang dijalankan sudah berkelanjutan.

b) Merek atau brand sudah dikenal masyarakat

Brand yang sudah dikenal oleh masyarakat biasanya sudah memiliki konsumen dan
pasarnya sendiri sehingga para franchisee tidak perlu memikirkan strategi pemasaran dan
analisis pesaing. Merek yang baik pasti juga memiliki liputan media yang luas sehingga
bisnis waralaba akan lebih mudah dikenal oleh masyarakat.

c) Kerjasama yang telah terbangun sejak awal

Orang yang membeli waralaba akan mendapatkan keuntungan kerjasama yang telah
terbangun sebelumnya oleh pemilik waralaba. Contohnya kerjasama dengan pemasok bahan
baku, pihak periklanan dan pemasaran, dan lain sebagainya. Dengan kerjasama yang baik,
franchisor biasanya memberikan dukungan berupa pelatihan manajemen finansial,
pemasaran, dan juga pasokan sumber daya.

d) Peluang sukses yang lebih cepat

Bisnis waralaba biasanya memiliki peluang sukses yang lebih cepat karena liputan
media yang baik dan juga sudah memiliki pasar dan konsumen yang setia. Biaya modal yang
dikeluarkan juga terukur karena pasokan sumber daya dan strategi pemasaran yang sudah
matang dari franchisor.
e) Manajemen finansial lebih mudah

Setiap investor biasanya lebih suka untuk memberikan modal pada bisnis yang telah
kokoh dari segi finansial dan jaringan pemasaran. Dengan menggunakan bisnis waralaba,
maka sistem manajemen finansial telah ditetapkan oleh pemilik waralaba utama. Sehingga
Anda tidak perlu pusing dengan manajemen finansial seperti membangun bisnis baru.

Kerugian Bisnis Waralaba :

a) Kurangnya kendali dari pembeli waralaba terhadap bisnisnya sendiri. Hal tersebut
dikarenakan semua sistem telah ditentukan oleh pemilik waralaba. Sehingga ruang gerak
pembeli waralaba akan sangat terbatas. Ide-ide untuk berkreatifitas pun terkadang tidak dapat
diaplikasikan, karena adanya perjanjian-perjanjian khusus.

b) Meskipun bisnis waralaba memiliki pasar yang matang, para pembeli waralaba biasanya
terjebak dalam tren pasar. Perilaku konsumen yang berubah-ubah terhadap tren mampu
memengaruhi kondisi bisnis waralaba.

c) Ketergantungan pada reputasi waralaba lainnya. Jika waralaba yang lain melakukan
kesalahan yang mengakibatkan rusaknya reputasi, maka hal tersebut juga akan memengaruhi
waralaba yang sedang Anda kelola.

d) Membutuhkan modal yang lebih banyak. Pihak pewaralaba akan mengajukan biaya awal
untuk membeli perjanjian waralaba. Kemudian ada juga biaya lanjutan untuk pelatihan dan
dukungan bagi para pembeli waralaba.

e) Adanya pemotongan keuntungan. Pembeli waralaba memiliki kewajiban untuk membayar


royalti dari sejumlah keuntungan yang didapatkan. Jika keuntungan yang didapatkan sedikit,
berarti keuntungan tersebut akan dipotong untuk menutupi biaya tersebut.