Anda di halaman 1dari 7

Nama : Rafli Rohmannuuru SHA

NIM : 20812144047

Kelas : Akuntansi B20

Day 1, Sesi 1:

“Hakikat Damai Seorang Muslim”


Oleh
Prof. Dr. Marzuki, M.Ag

Perdamaian merupakan hal yang pokok dalam kehidupan manusia karena dengannya
tercipta kenyamanan dan keharmonisan. Dalam suasana yang penuh ketenangan dan
kegembiraan ini, manusia mampu untuk melaksanakan kewajibannya dalam bingkai perdamaian.
Oleh karena itu, kedamaian merupakan hak mutlak setiap individu.

Islam memiliki misi utama untuk menebar perdamaian di tengah-tengah umat manusia,
sesuai dengan makna kata “Islam” itu sendiri yaitu mendamaikan atau menyebar perdamaian.
Bahkan, dalam hal sepele sekaligus, Islam mewajibkan untuk selalu menyampaikan kedamaian,
contohnya seperti mengucapkan salam. Sehingga, apabila terjadi hal yang sebaliknya, maka telah
menyimpang dari Islam. Untuk itu, unsur utama dari Pendidikan Islam (PAI) adalah membangun
sikap dan perilaku damai, moderat dan toleran.

Damai memiliki makna yang berbeda tergantung konteks kalimatnya. Damai merupakan
sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa tenang dan aman. Damai
bisa berupa persetujuan untuk mengakhiri perang atau bisa juga sebuah keadaan tenang seperti
dalam keadaan tidur maupun meditasi. Damai juga berarti terciptanya keadilan dan hilangnya
ketakutan dalam diri individu. Ketakutan disini termasuk seperti faktor ekonomi, yaitu ketakutan
tidak memiliki uang atau pekerjaan yang layak. Kemudian, damai juga bisa menggambarkan
keadaan emosi yang dipenuhi rasa tentang, dan masih banyak lagi makna dari damai.
Islam sebagai pembawa perdamaian muncul sebagai penyelamat dunia. Islam ada sebagai
sumber kesejahteraan bagi manusia dan seluruh makhluk ciptaan Allah. Dalam ajaran Islam
perdamaian merupakan kunci pokok dalam menjalin hubungan antar umat manusia. Sebaliknya,
konflik adalah sumber ketakutan dan malapetaka yang merusak tatanan sosial. Maka dari itu,
Islam tidak membenarkan adanya praktik kekerasan. Cara-cara radikal untuk mencapai sesuatu
bukanlah cara-cara islami

Nilai-nilai perdamaian tertulis jelas dalam Al Quran dan hadis. Tidak ada satu hadis pun
yang mendukung kebencian, permusuhan, pertentangan, atau segala bentuk perilaku negatif yang
mengancam stabilitas dan kedamaian hidup. Ajakan melakukan perdamaian dalam islam dapat
dilihat dari contoh seperti ajakan bertoleransi, ajakan kepada titik temu, saling menghormati dan
menghargai kepercayaan lain, keutamaan dalam memberi maaf, tidak melampaui batas dalam
bertindak, dorongan untuk membantu menyelesaikan masalah, dan perintah memerangi orang-
orang yang bertindak kelewat batas.

Untuk menciptakan perdamaian, pendidikan mengenai perdamaian perlu dilakukan.


Pendidikan ini memberikan kesadaran akan pentingnya damai dan perdamaian untuk diwujudkan
di bumi ini. Dan salah satu solusinya adalah melalui Pendidikan Islam yang harus membawa visi
damai sehingga dalam mendidik siswa tidak dari sisi Agama saja tapi juga moral.
Day 1, Sesi 2:
“Ketahui Potensi Diri, Aktif Berkontribusi”
Oleh
Sherly Annavita Rahmi, S.Sos., MSIPh

Saat ini kita mulai memasuki Industri 5.0. Hal ini merupakan kesempatan besar bagi kita
untuk mengembangkan potensi diri. Dunia akan terus berputar, begitu juga dengan
perkembangan dalam berbagai aspek kehidupan, Akumulasi benefit yang kita rasakan dari
perubahan ini berasal dari revolusi industry 1.0 hingga 4.0. Pada zaman dahulu, diperlukan effort
untuk mencapai sesuatu, jauh berbeda dibandingkan sekarang dimana kita bisa mendapatkan
apapun dari internet with just One Click di device mu, sehingga akan sangat merugikan apabila
kita menyia-nyiakan kesempatan ini.

Berbicara mengenai anak muda bukanlah tentang umur tetapi pilihan sikap dan mindset.
Bagaimana cara kita melihat masa depan, karena masa depan itulah yang bisa ditawarkan anak
muda. Bagaimana kontribusi kita nanti dalam membuat perubahan. Maka dari itu, sebelum kita
menjadi frontline dalam usaha memberikan perubahan, kita perlu mempersiapkan hal-hal yang
dibutuhkan mulai dari sekarang.

Mindset manusia dalam melihat masa depan dapat dikategorikan menjadi 4 jenis.
Pertama, manusia dengan mindset pesimis. Mereka selalu merendahkan self-worth mereka dalam
berkompetisi untuk masa depan. Mereka menganggap diri mereka sebagai side character,
menjadi sacrifice bagi mereka, para main character. Kedua, manusia dengan mindset realistis.
Mereka adalah orang yang bergantung pada kesempatan yang datang dan pergi. Seperti sebuah
air di sungai yang akan terus mengalir menuju suatu tempat tergantung kemana sungai itu akan
membawanya. Artinya, mereka akan mengikuti apa yang diberikan oleh alam, bukan kita yang
memberikan alam. Ketiga, manusia dengan mindset optimis. Mereka adalah orang yang selalu
melihat masa depan dari sudut pandang yang positif. Mereka tahu benar kontribusi apa yang
akan mereka berikan pada lingkungan. Dengan pengetahuan, modal, dan pengalaman yang
terbatas, mereka menggantinya dengan sikap optimis. Mereka optimis untuk belajar sehingga
pengetahuan yang dibutuhkan untuk mencapai impian mereka tercapai. Mereka berusaha dengan
membuka usaha kecil-kecilan atau mencari pinjaman sehingga modal yang mereka rencanakan
dapat terpenuhi. Mereka berusaha menimbun pengalaman dengan pantang menyerah dalam
menghadapi segala rintangan dan berusaha menemukan solusi sehingga setiap masalah yang
mereka temui dapat terselesaikan dengan mudah. Hal inilah, yang membuat mengapa orang
dengan mindset optimis menjadi yang pertama memvisualisasikan apa yang akan terjadi di depan
dan juga menjadi yang pertama mencicipi benefitnya.

Menjadi anak muda bagi masa depan berarti membawa perubahan. Namun, hanya
seglintir mereka saja yang mampu memimpin perubahan itu. Mereka adalah orang-orang yang
optimis, orang-orang yang mencurahkan ide dan usaha mereka untuk mendorong perubahan.
Merekalah yang melawan arus ketika orang-orang disampingnya bergantung kepada kemana
arus itu akan membawanya.
Day 2, Sesi 1:
“Ramadhan, Kehidupan Ideal Seorang Muslim”
Oleh
Prof. Dr. Abdul Mustaqim, MA

Secara bahasa ramadhan artinya memanasi. Ramadhan yang berarti memanasi ini
merupakan majas, dalam konteks puasa memanasi berarti memanasi atau membakar hawa nafsu
kita. Melalui puasa, sesungguhnya kita menghalangi diri dari berbagai hal yang membatalkan
ibadah puasa dalam rangka membakar hawa nafsu supaya mudah dikendalikan. Seperti besi yang
saat ditempa perlu dibakar sehingga mudah dibentuk, kita setelah melalui ritual bulan puasa,
melalui berbagai macam ujian, mampu mengendalikan hawa nafsu sehingga menuju nilai-nilai
ketaqwaan. Itulah tujuan utama dari bulan Ramadhan. Mengendalikan hawa nafsu sebagai
langkah untuk room of improvement dan bekal bagi kita mengarungi kehidupan.

Al Qur’an menceritakan bahwa puasa diwajibkan untuk umat-umat sebelumnya dalam


rangka memberikan keringanan psikologis bagi kita umat Nabi Muhammad saat ini dalam
mejalankan puasa. Selain itu, hal ini juga menunjukan pentingnya manfaat puasa sehingga
diwajibkan untuk dilaksanakan sejak umat terdahulu.

Bulan Ramadhan, selain menjadi bulan yang ideal untuk mereform diri kita untuk lebih
taqwa kepada Allah melalui puasa adalah sebagai bulan tarbiyah atau ilmu pengetahuan. Bulan
untuk mengembangkan potensi yang dimiliki setiap orang. Beberapa hal yang perlu
dikembangkan dalam bulan ini adalah iman dan taqwa, yang kedua adalah pengetahuan, dan
yang ketiga adalah konsep-konsep menjadi seorang khalifah. Sehingga, meskipun kita ditengah-
tengah pandemi dan bulan puasa, kita masih produktif.
Day 2, Sesi 2:
Pemuda Idaman Umat Islam
Oleh
Edy Fajar Prasetyo, SP.
Sebagai seorang manusia, terutama pemuda dan pemudi islam, selama kita mau berusaha
dan beribadah kita mampu meraih posisi yang kita inginkan. Namun, hal ini perlu diimbangi
dengan sikap yang cermat. Cermat dalam mengambil keputusan dan mengimplementasikannya,
cermat dalam menghadapi masalah dan mencari solusinya, serta cermat dalam membuat ide dan
mengeksekusinya. Hal ini bisa kita lakukan dengan menelaah lingkungan bisnis yang akan kita
masuki. Apa sih yang diinginkan atau dibutuhkan oleh masyarakat?

Memahami lingkungan juga berlaku dalam upaya menangkal pandangan negative


terhadap pemuda islam. Apa sih sudut pandang mereka tentang kita, apa sih steriotipe kita di
mata mereka sehingga bisa kita debunked, apa sih yang mereka butuhkan sehingga tercapainya
toleransi, apa sih yang bisa kita lakukan demi kemajuan negara, dan masih banyak lagi
pertanyaan-pertanyaan yang bisa kita refleksikan dalam diri kita. Selain itu, kita harus
memberikan kesempatan bagi mereka yang pernah melakukan kejahatan. Sebagai umat islam,
jangan sampai kita meng-shunning orang atas kejahatan masa lalu mereka, karena apa yang
mereka perbuat merupakan pertanggung jawaban mereka sendiri dan kita tidak memiliki andil
apapun selain menasehati mereka dan menghargai serta membantu dalam usaha mereka untuk
berubah.

Untuk dapat menampilkan sosok pemuda/i Islam yang idaman, perlu kita miliki prestasi
akademik dan non-akademik. Bukan sebagai ajang pamer, tapi untuk menunjukan bahwa kita
sebagai umat muslim bukan saja excel dalam religious aspect, tetapi juga dalam pendidikan kita.
Kemudian, hal yang tak kalah adalah kita juga harus berprestasi emotionally dan physically.
Emotionally disini bisa dengan melatih emosi sehingga lebih stable. Mengurangi rasa insecure
dengan selalu memotivasi diri dan berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri. Saat pandemi
seperti ini dimana mayoritas waktu kita wasted untuk kuliah dan minim interaksi, perlu kita jaga
stabilitas mental kita sehingga menghindari mental-illness seperti stress atau depressed untuk
mengoptimalkan kondisi tubuh sehingga megurangi resiko terkena penyakit. Physically bisa
berupa usaha untuk menampilkan diri kita yang terbaik, rapi dalam berpakaian, bersih atau tidak
jorok dan masih banyak lagi.