Anda di halaman 1dari 18

Menjelaskan pengaruh penambahan bahan baku setelah departemen pertama


-  Menyusun laporan kos produksi dengan penambahan bahan baku
-  Menyusun laporan kos produksi dengan metode rata-rata dan FIFO
-  Memahami perlakuan kos produksi atas adanya produk rusak, cacat bahan sisa dan bahan
sisa buangan.

Jawaban :

1. Pengaruh penambahan bahan baku yaitu (1) jumlah unit yang diproses tidak bertambah,
tetapi terdapat kenaikan kos produksi, (2) jumlah unit yang diproses bertambah, tetapi
tidak terdapat kenaikan kos produksi, dan (3) jumlah unit yang diproses bertambah diikuti
kenaikan kos produksi.
2. Laporan kos produksi dalam kondisi terdapat penambahan bahan baku di Dept B dan
mengakibatkan adanya penambahan volume unit yang diproses, tidak mempengaruhi
penyusunan laporan produksi Dept A.
Contoh :
PT Gandaria memproses produknya melalui dua departemen produksi, yaitu Departemen
1 dan Departemen 2. Berikut ini adalah data produksi yang terjadi di Departemen 1 dan
Departemen 2 selama Mei 2000.

Departemen 1 Departemen 2
Barang dalam proses awal 0 unit 0 unit
Barang masuk proses Mei 2000 50.000 unit
Barang yang ditransfer ke Departemen 2 40.000 unit
Tambahan bahan pada Departemen 2 10.000 unit
Barang jadi ditransfer ke gudang 45.000 unit
Barang dalam proses akhir 10.000 unit
Biaya yang ditambahkan:
Biaya bahan baku Rp1.500.000,00 Rp600.00,00
Biaya tenaga kerja langsung 840.000,00 485.000,00
Biaya overhead pabrik (ditentukan di muka) 420.000,00 242.500,00
Tingkat penyelesaian barang dalam proses akhir:
Biaya bahan baku 100% 100%
Biaya konversi 20% 70%

Pertanyaan:
1.Buatlah Laporan Harga Pokok Produksi Departemen 1 untuk bulan Mei 2000.
2.Buatlah Laporan Harga Pokok Produksi Departemen 2 untuk bulan Mei 2000.
3 Buatlah jurnal untuk mencatat transaksi yang berhubungan dengan proses produksi
di Departemen 1 dan Departemen 2.
PT Gandaria
Laporan Harga Pokok Produksi - Departemen 1
Mei 2000
Kuantitas:
Unit masukan:
Unit masuk proses 50.000
Unit keluaran:
Unit barang jadi dan ditransfer ke Dep. 2 40.000
Unit barang dalam proses akhir 10.000 50.000
Unit Ekuivalen: Bahan Baku Konversi
Unit barang jadi dan ditransfer ke Dep. 2 40.000 40.000
Unit barang dalam proses akhir:
10.000 x 100% 10.000
10.000 x 20% . 2.000
50.000 42.000
Perhitungan Harga Pokok per Unit: Unit Harga Pokok
Total Biaya Ekuivalen per Unit
Biaya bahan baku Rp1.500.000,0 50.000 Rp30,00
Biaya tenaga kerja langsung 0 42.000 20,00
Biaya overhead pabrik 840.000,00 42.000 10,00
420.000,0 Rp60,00
0
Rp2.760.000,0
0
Harga Pokok Produk Diperhitungkan:
Barang jadi ditransfer ke Dep. 2 (40.000 x Rp60,00) Rp2.400.000,0
Barang dalam proses akhir: 0
Biaya bahan baku (10.000 x Rp30,00) Rp300.000,0
Biaya tenaga kerja langsung (10.000 x 20% x Rp20,00) 0
Biaya overhead pabrik (10.000 x 20% x Rp10,00) 40.000,00
20.000,00
360.000,0
0
Rp2.760.000,0
0

PT Gandaria
Laporan Harga Pokok Produksi - Departemen 2
Mei 2000
Kuantitas:
Unit masukan:
Unit masuk proses diterima dari Dep. 1 40.000
Unit yang ditambahkan di Dep. 2 10.000 50.000
Unit keluaran:
Unit barang jadi dan ditransfer ke gudang 45.000
Unit barang dalam proses akhir 5.000 50.000
Unit Ekuivalen: Bahan baku Konversi
Unit barang jadi dan ditransfer ke gudang 45.000 45.000
Unit barang dalam proses akhir:
5.000 x 100% 5.000
5.000 x 70% . 3.500
50.000 48.500
Perhitungan Harga Pokok per Unit: Unit Harga Pokok
Total Biaya Ekuivalen per Unit
Harga pokok dari Dep. 1 Rp2.400.000,0 40.000 Rp60,00
Penyesuaian 0 10.000 (12,00)
Harga pokok dari Dep. 1 disesuaikan 50.000 Rp48,00
Biaya ditambahkan di Dep. 2: .
Biaya bahan baku Rp2.400.000,0 50.000 Rp12,00
Biaya tenaga kerja langsung 0 48.500 10,00
Biaya overhead pabrik 48.500 5,00
600.000,00 Rp75,00
485.000,00
242.500,0
0
Rp3.727.500,0
0
Harga Pokok Produk Diperhitungkan:
Barang jadi ditransfer ke gudang (45.000 x Rp75,00) Rp3.375.000,0
Barang dalam proses akhir: 0
Harga pokok dari Dep. 1 (5.000 x Rp48,00) Rp240.000,0
Biaya bahan baku (5.000 x 100% x Rp12,00) 0
Biaya tenaga kerja langsung (5.000 x 70% x Rp10,00) 60.000,00
Biaya overhead pabrik (5.000 x 70% x Rp5,00) 35.000,00
17.500,00 352.500,00
Rp3.727.500,0
0

Jurnal untuk mencatat pembebanan biaya di Dep. 1:


Persediaan barang dalam proses – Dep. 1 2.760.000
Persediaan bahan baku 1.500.000
Utang gaji dan upah 840.000
Biaya overhead pabrik dibebankan 420.000

Jurnal untuk mencatat transfer barang jadi ke Dep. 2:


Persediaan barang dalam proses – Dep. 2 2.400.000
Persediaan barang dalam proses – Dep. 1 2.400.000

Jurnal untuk mencatat pembebanan tanbahan biaya di Dep. 2:


Persediaan barang dalam proses – Dep. 2 1.327.500
Persediaan bahan 600.000
Utang gaji dan upah 485.000
Biaya overhead pabrik dibebankan 242.500

Jurnal untuk mencatat transfer barang jadi ke gudang:


Persediaan barang jadi 3.375.000
Persediaan barang dalam proses – Dep. 2 3.375.000
3. Contoh laporan kos produksi dengan metode rata-rata dan FIFO.
- Metode rata-rata

Departemen Pemotongan Departemen Perakitan

Jumlah unit dalam proses awal 8.00 4.

periode 0 000
Biaya dari departemen

sebelumhya
7.600.00 12.240.
Bahan baku 0 000
4.360.00 3.408.
Tenaga kerja langsung 0 000
4.080.00 3.144.
Overhead pabrik 0 000
16.040.00 18.792.
Jumlah biaya 0 000

Data tersebut diatas dari PT RATIH selanjutnya akan digunakan dalam penyusunan

laporan biaya produksi bulan Februari untuk kedua departemen produksi, yaitu

departemen pemotongan dan departemen perakitan.

Dalam ilustrasi mengenai laporan biaya produksi ini, diasumsikan bahwa unit yang

hilang berada dalam batas toleransi yang normal dan biaya dari unit yang hilanh

tersebut dibebankan kepada semua unit produksi yang selesai pada departemen

tersebut.

Berikut merupaka laporan biaya produksi departemen pemotongan.

PT RATIH

Departemen Pemotongan Laporan

Biaya Produksi-Metode Rata-rata Tertimbang


Bulan Februari 2008
PRODUKSI DALAM UNIT
A. Produksi yang harus dipertanggungjawabkan:
Unit dalam proses awal periode (tingkat
8.000
penyelesaian : bahan baku 100 %, TK dan BOP 50%
Unit yang diamsukkan dalam periode ini 30.000
Jumlah unit yang harus dipertanggungjawabkan 38.000
B. Pertanggunjawaban produksi:
Unit yang ditransfer ke departemen berikutnya 31.000
Unit dalam proses akhir (tingkat penyelesaian: bahan

baku 100%, tenaga kerja langsung dan overhead 7.000

pabrik 60%)
Jumlah unit yang dipertanggungjawabkan
38.000

BIAYA PRODUKSI
A. Biaya yang harus
Total per Unit
dipertanggungjawabkan:
Barang dalam proses awal periode
Bahan baku Rp7.600.000
4.360.00
Tenaga kerja langsung
0
4.080.00
Overhead pabrik
0
Biaya yang ditambakan dalam peiode ini
32.300.00
Bahan baku
0 Rp1.050
35.240.00 1.1
Tenaga kerja langsung
0 25
33.232.00 1.0
Overhead pabrik
0 60
Jumlah biaya yang dipertanggungjawabkan Rp116.812.000 Rp3.235
B. Pertanggungjawaban biaya
Biaya ditrasnfer ke departemen berikut

(31.000x Rp 3.235) Rp100.285.000


Barang dalam proses akhir periode:
Bahan baku (7.000x100%x Rp

1.050) Rp7.350.000
Tenaga kerja langsung 4.725.00

(7.000x60%xRp 1.125) 0
Overhead pabrik (7.000x60%x Rp 4.452.00

1.060) 0 Rp16.527.000
Jumlah biaya yang

dipertanggungjawabkan Rp116.812.000

C. Perhitungan biaya per unit


Produksi ekuivalen
Bahan baku 31.000+(100%x7.000) 38.000
Tenaga kerja langsung dan overhead
31.000+(60%x7.000) 35.200
pabrik
Biaya per unit:

Bahan baku (Rp 7.600.000 + Rp 32.300.000):38.000 = Rp 1.050

Tenaga kerja langsung (Rp 4.360.000 + Rp35.240.000):35.200 = Rp 1.125

Overhead pabrik (Rp 4.080.000 + Rp 33.232.000): 35.200 = Rp 1.060

Tabel laporan biaya produksi departemen perakitan-metode rata-rata tertimbang disajikan


seperti tabel berikut ini.

PT RATIH

Departemen Perakitan

Laporan Biaya Produksi-Metode Rata-rata Tertimbang

Bulan Februari 2008


PRODUKSI DALAM UNIT
A. Produksi yang harus di pertanggungjawabkan:
Unit dalam proses awal periode (tingkat penyelesaian):
Tenaga kerja langsung dan ov. pabrik 60% 4.000
Unit yang diterima dari dept. sebelumnya 31.000
Jumlah unit yang harus dipertanggungjawabkan 35.000
B. Pertanggungjawaban produksi:
Unit yang ditransfer ke gudang barang jadi 30.000
Unit dalam proses akhir awal periode (tingkat

penyelesaina):
tenaga kerja langsung dan ov. pabrik 5.000
Jumalh produksi yang harus di pertanggungjawabkan:
35.000

BIAYA PRODUKSI
A. Biaya yang harus dipertanggungjawabkan: Total per Unit
Biaya dari departemen sebelumnya
Barang dalam proses awla periode
12.240.000
( 4.000 unit)
Diterima selama periode berjalan
100.285.000
(31.000 unit)
Jumlah 35.000 unit 112.525.000 Rp3.215
Biaya yang ditambahkan
Barang dalam proses awal periode
Tenaga kerja langsung 3.408.000
Overhead pabrik 3.144.000
Barang yang ditambahkan selama periode berjalan
Tenaga kerja langsung 43.717.000 1.450
Overhead opabrik 40.081.000 1.330
Jumlah biaya yang ditambahkan 90.350.000 2.780
Jumlah biaya yang harus
202.875.000 Rp5.995
dipertanggungjawabkan
B. Pertanggungjawaban biaya:
Biaya ditrasfer ke persediaan barang jadi
179.850.000
(3.000x 5.995)
Barang dalam proses akhir periode
Biaya dari departemen sebelumnya
16.075.000
(5.000x3.215)
Tenaga kerja langsung (5.000x50%x1.450) 3.625.000
Overhead pabrik (5.000x50%x1.330) 3.325.000 23.025.000
Jumlah biaya dipertanggungjawabkan 202.875.000
C. Perhitungan biaya per unit
Produksi ekuivalen:
Tenaga kerja langsung dan overhead pabrik
32.500
30.000+(50%x5.000)
Biaya per unit
Tenaga kerja langsung (Rp 3.408.000+Rp
1.450
43.717.000):32.500
Overhead pabrik (Rp 3.144.000+Rp
1.330
40.081.000):32.500

- Metode Fifo

Departemen Pemotongan Departemen Perakitan

Jumlah unit dalam proses awal 8.00 4.


periode 0 000
Biaya dari departemen

sebelumhya
7.600.00 12.240.
Bahan baku 0 000
4.360.00 3.408.
Tenaga kerja langsung 0 000
4.080.00 3.144.
Overhead pabrik 0 000
16.040.00 18.792.
Jumlah biaya 0 000

Data tersebut diatas dari PT RATIH selanjutnya akan digunakan dalam penyusunan

laporan biaya produksi bulan Februari untuk kedua departemen produksi, yaitu

departemen pemotongan dan departemen perakitan.

PT RATIH

Departemen Pemotongan

Laporan Biaya Produksi-Metode FIFO

Bulan Februari 2008


PRODUKSI DALAM UNIT
A. Produksi yang harus dipertanggungjawabkan:
Unit dalam proses awal periode (tingkat penyelesaian : bahan
8.000
baku 100 %, TK dan BOP 50%
Unit yang dimasukkan dalam periode ini 30.000
Jumlah unit yang harus dipertanggungjawabkan 38.000

B. Pertanggunjawaban produksi:
Unit yang ditransfer ke departemen berikutnya 31.000
Unit dalam proses akhir (tingkat penyelesaian: bahan baku 100%,

tenaga kerja langsung dan overhead pabrik 60%) 7.000

Jumlah unit yang dipertanggungjawabkan 38.000


BIAYA PRODUKSI
A. Biaya yang harus dipertanggungjawabkan: Total per Unit
Barang dalam proses awal periode Rp16.040.000
Biaya yang ditambakan dalam peiode ini
Bahan baku 32.300.000 Rp1.077
Tenaga kerja langsung 35.240.000 1.129
Overhead pabrik 33.232.000 1.065
Jumlah biaya yang ditambahkan Rp100.772.000
Jumlah biaya yang
Rp116.812.000 Rp3.271
dipertanggungjawabkan
B. Pertanggungjawaban biaya
Barang yang ditransfer ke dept. berikutnya
Barang dalam proses awal periode:
Barang periode yang lalu Rp16.040.000
Biaya tenaga kerja yang ditambahkan

(8.000x50%xRp 1.129) 4.516.000


Biaya overhead pabrik yang ditambahkan

(8.000x50%x Rp 1.065 4.260.000


Jumlah Rp24.816.000

Produk selesai periode berjalan (23.000xRp


75.242.200
3.271)
Jumlah biaya yang ditransfer ke dep.
Rp100.058.200
berikutnya
Barang dalam proses akhir periode
Bahan baku (7.000x100%xRp 1.077) Rp7.539.000
Tenaga kerja langsung (7.000x60%xRp
4.741.800
1.129)
Overhead pabrik (7.000x60%xRp 1.065) 4.473.000 Rp16.753.800
Jumlah biaya yang
Rp116.812.000
dipertanggungjawabkan
C. Perhitungan biaya per unit
Produksi ekuivalen Bahan baku TKL & BOP

Unit yang selesai dan ditransfer 31.000 31.000


Unit dalam proses awal periode (8.000) (8.000)
Unit yang selesai dari produksi periode
23.000 23.000
berjalan
Barang dalam proses awal periode - 4.000
Barang dalam proses akhir periode 7.000 4.200
Jumlah 30.000 31.200
Biaya per unit:
Bahan baku (Rp 32.300.000:30.000) Rp1.077
Tenaga kerja langsung (Rp
Rp1.129
35.240.000:31.200)
Overhead pabrik (Rp 33.232.000:31.200) Rp1.065
*(23.000 x Rp 3.271) Rp75.233.000
Selisih pembulatan 9.200
Produksi yang selesai periode ini Rp75.242.200

Tabel laporan biaya produksi departemen perakitan-metode FIFO disajikan seperti tabel
berikut ini.
PT RATIH

Departemen Perakitan

Laporan Biaya Produksi-Metode FIFO

Bulan Februari 2008


PRODUKSI DALAM UNIT
A. Produksi yang harus dipertanggugjawabkan:
Unit dalam proses awal periode (tingkat penyelesaian:

bahan baku 100%, tenaga kerja langsung dan overhead 4.000

pabrik 60%)
Unit yang dimasukkan dalam periode ini 31.000
Jumlah unit yang harus dipertanggungjawabkan 35.000
B. Pertanggungjawaban produksi
Unit yang ditransfer ke gudang barang jadi 30.000
Unit dalam proses akhir periode (tingkat penyelesaian:

bahan baku 100%, tenaga kerja langsung dan overhead 5.000

pabrik 50%)
Jumlah unit dipertanggungjawabkan 35.000
BIAYA PRODUKSI
A. Biaya yang harus dipertanggungjawabkan Total per Unit
Barang dalam proses awal periode Rp18.792.000
Biaya dari departemen sebelumnya diterima
Rp100.058.200 Rp3.228
dalam periode berjalan (31.000 unit)
Biaya yang ditambah dalam periode ini:
Tenaga kerja langsung Rp43.717.000 Rp1.452
Overhead pabrik 40.081.000 1.332
Jumlah biaya yang ditambahkan Rp83.798.000 Rp2.784
Jumlah yang harus
Rp202.648.200 Rp6.012
dipertanggungjawabkan
B. Pertanggungjawaban biaya:
Biaya yang ditransfer ke persediaan

barang jadi:
Barang dalam proses awal periode:
Biaya periode yang lalu 18.792.000
Biaya tenaga kerja langsung yang
2.323.200
ditambahkan (4.000x40%xRp 1.425)
biaya overhead pabrik yang
2.131.200
ditambahkan (4.000x40%x 1.332)
Jumlah Rp 23.246.400
Produksi selesai periode berjalan
156.301.800* 179.548.200
(26.000xRp 6.012)
Barang dalam proses akhir periode
Biaya dari departemen sebelumnya
Rp16.140.000
(5.000xRp. 3.288)
Tenaga kerja langsung (5.000x50%xRp
3.630.000
1.452)
Overhead pabrik (5.000x50%x Rp 1.332) 3.330.000 23.100.000
Jumlah biaya yang
Rp 202.648.200
dipertanggungjawbkan
C. Perhitungan biaya per unit
Produksi ekuivalen: TKL & BOP
Unit yang selesai dan ditransfer 30.000
Unit dalam proses awal periode (4.000)
Unit yang selesai dari produksi
26.000
periode berjalan
Barang dalam proses awal periode 1.600
Barang dalam proses akhir periode 2.500
Jumlah 30.100
Biaya per unit:
Tenaga kerja langsung (Rp
Rp1.452
43.717.000: 30.100)
Overhead pabrik (Rp 40.081.000 :
Rp1.332
30.100)
*(26.000x rp 6.012) Rp156.312.000
Selisih pembulatan (10.200)
Produksi yang selesai periode ini Rp156.301.800
4. Produk rusak (spoilage) merupakan unit yang tidak dapat diterima sehingga harus
dibuang atau dijual dengan nilai yang lebih rendah. Produk cacat (rework) adalah unit
yang perlu diperbaiki secara ekonomi, sehingga produk tersebut dapat dijual melalui
saluran reguler. Sisa Bahan (Scrap) merupakan bagian dari produk yang tidak memiliki
nilai atau jika memiliki, nilainya sangat kecil.
Produk Rusak
Ada dua jenis produk rusak : produk rusak normal dan produk rusak tidak normal. Produk
rusak normal terjadi dalam kondisi operasi yang efisien dan tidak dapat dikendalikan
dalam jangka pendek dan diperhitungkan sebagai bagian dari biaya produk. Sedangkan
produk rusak tidak normal menyebabkan kerugian melebihi atau di atas perkiraan dalam
kondisi operasi yang efisien dan dibebankan sebagai kerugian dalam periode berjalan.
Biasanya produk rusak ditemukan pada akhir proses dengan demikian ia telah menyerap
biaya produksi sehingga harus dimasukkan dalam perhitungan unit ekuivalen.

Produk Cacat
Sebagaimana diketahui, produk cacat adalah produk yang tidak sesuai standar dan
masih dapat diperbaiki. Maka membutuhkan biaya perbaikan., dapat berupa biaya bahan
baku, tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik. Persoalannya adalah perlakuan atas biaya
perbaikan tersebut.
Produk cacat dapat bersifat normal ataupun tidak normal. Perlakuan atas biaya
tambahan adalah sebagai berikut :
v  Jika cacat normal : biaya perbaikan akan menambah biaya produksi.
v  Jika cacat tidak normal : biaya perbaikan diperlakukan sebagai rugi produk cacat.
Biaya produksi tidak bertambah.
Produk cacat masuk dalam perhitungan unit ekuivalen.
Pengertian Produk Rusak

Sebelum membahas tentang perlakuan akuntansi atas produk rusak, terlebih dahulu perlu

diketahui tentang pengertian produk rusak berikut ini :

Menurut Supriono (1999:182) mengemukakan bahwa :

Produk rusak adalah produk yang kondisinya rusak atau tidak memenuhi ukuran mutu yang

telah ditentukan dan tidak dapat diperbaiki secara ekonomis menjadi produk yang baik,

meskipun mungkin secara teknik dapat diperbaiki akan berakibat biaya perbaikan jumlahnya

lebih tinggi dibanding kenaikan nilai atau manfaat adanya perbaikan.


Selanjutnya menurut Hartanto (1992:388) menjelaskan pengertian produk rusak

adalah “merupakan unit-unit yang karena keadaan fisiknya tidak dapat dilakukan sebagai

produk akhir, dan harus dibuang atau dijual dengan harga jauh dibawah harga jual produk

akhir”. Menurut Mulyadi (1999:324) bahwa “produk rusak adalah produk yang tidak

memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan, yang secara ekonomis tidak dapat diperbaiki

menjadi produk yang baik”.

Berdasarkan pengertian tentang produk rusak di atas dapat disimpulkan bahwa dalam

membuat atau memproses suatu barang kadang-kadang terdapat produk rusak. Produk rusak

ini merupakan produk yang tidak memenuhi standar mutu produk yang telah ditentukan dan

secara ekonomis tidak dapat diperbaiki. Produk rusak ini mempunyai wujud fisik, tetapi

kondisinya rusak. Pada dasarnya produk rusak secara teknis bisa diperbaiki menjadi produk

yang baik, tetapi biaya yang dikeluarkan lebih besar dari pada nilai manfaatnya, sehingga

produk rusak dikatakan secara ekonomis tidak dapat diperbaiki. Produk rusak biasanya

diketahui setelah selesainya proses produksi, sehingga produk rusak ini sudah menikmati

biaya produksi sehingga produk rusak ini nantinya akan diikutkan dalam perhitungan unit

ekuivalen.

Sebab Terjadinya Produk Rusak

Menurut Sutrisno (2001:124) bahwa “penyebab terjadinya produk rusak ada dua yaitu produk

rusak karena kagiatan normal perusahaan atau produk rusak normal dan produk rusak karena

kesalahan atau produk rusak abnormal”. Berikut ini disajikan penjelasan kedua penyebab

terjadinya produk rusak :

a.       Produk rusak karena kegiatan normal perusahaan, yaitu apabila produk rusak ini memang

sering terjadi pada kegiatan normal perusahaan, apabila produk rusak ini memang sering

terjadi pada kegiatan normal perusahaan, sehingga biasanya memang dicadangkan adanya

produk rusak dalam proses produksi. Untuk dapat dikatakan normal, menurut Hartanto

(1992:390) bahwa sejumlah produk rusak memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

- Diharapkan terjadi dalam kondisi operasi yang efisien.


- Bersifat inheren pada tingkat operasi yang direncanakan

- Bersifat tidak terkendali untuk jangka pendek.

Pada umumnya, biaya produksi atau harga pokok produk rusak yang bersifat normal

diperlakukan sebagai bagian dari harga pokok produk selesai, karena adanya produk

rusak dianggap perlu untuk menghasilkan sejumlah produk selesai tersebut.

b.      Produk rusak, karena kesalahan atau abnormal, yaitu apabila produk rusak yang

penyebabnya karena kurangnya pengawasan, kesalahan pengerjaan, kerusakan mesin,

pemakaian bahan dibawah kualitas standar. Untuk dapat dikatakan abnormal, maka Hartanto

(1992:391) mengemukakan bahwa produk rusak memiliki karakteristik sebagai berikut:

1.      Tidak diharapkan terjadi dalam kondisi operasi yang efisien.

2.      Tidak bersifat inheren pada tingkat operasi yang direncanakan.

3.      Bersifat terkendalikan, dalam arti supervisor dapat mempengaruhi tingkat efisiensi operasi.

Harga pokok atau biaya produksi yang melekat pada produk rusak bersifat abnormal,

karena pada dasarnya dihindarkan diperlakukan sebagai suatu kerugian dalam periode

terjadinya produk rusak.

Perlakuan Akuntansi Produk Rusak Terhadap Harga Pokok Produksi

Dalam proses produksi memungkinkan timbulnya produk rusak. Bagi manajemen

disamping mengetahui informasi produk rusak, juga harus mengetahui apakah produk rusak

tersebut sifatnya normal atau abnormal. Sedangkan dari segi akuntansi biaya timbul masalah

untuk perlakuan akuntansi atas produk rusak dalam penentuan harga pokok produksi. Maka

dapat disimpulkan bahwa dalam perhitungan harga pokok produksi, perusahaan perlu

memperhitungkan adanya unit ekuivalen untuk menentukan harga pokok produk selesai,

harga pokok produk dalam proses maupun harga pokok untuk produk rusak. Sehingga dapat

menghasilkan perhitungan ataupun informasi harga pokok produk yang akurat sesuai dengan

metode harga pokok produksi. Hasil dari perhitungan harga pokok produk tersebut dibuatkan

jurnal sesuai dengan prosedur akuntansinya.


Tergantung pada tipe produksinya atau departemen-departemen yang tercakup dalam proses

produksinya, di dalam praktek, terdapat berbagai metode atau perlakuan akuntansi terhadap

produk rusak yang tidak dapat ditolerir, karena menyimpang dari tujuan akuntansinya,

sampai yang paling akurat dan sangat informatif. Menurut Hartanto (1992:391) bahwa

idealnya, akuntansi terhadap produk rusak harus mencakup tahap-tahap adalah :

a.       Tahap alokasi biaya produksi kepada harga pokok produk akhir, produk rusak normal dan

produk rusak abnormal.

b.      Tahap pembebanan harga pokok produk rusak baik kepada produk akhir (untuk yang rusak

normal) maupun kepada rugi produk rusak (untuk yang rusak abnormal).

Menurut Sutrisno (2001:124) bahwa “perlakuan harga pokok produk rusak, selain penyebab

terjadinya produk rusak juga dipengaruhi apakah produk rusak tersebut laku dijual atau tidak

laku dijual”. Uraian dari perlakuan harga pokok produk rusak tersebut di atas disajikan

berikut ini:

a. Produk Rusak Tidak Laku Dijual

1.      Apabila penyebab terjadinya produk rusak bersifat normal, maka harga pokok produk rusak

yang tidak laku dijual ini, akan dibebankan kepada produk selesai, yang mengakibatkan harga

pokok produk selesai akan dibebankan kepada produk selesai, sehingga harga pokok produk

selesai per unit akan menjadi lebih besar. Jadi, perlakuannya sama dengan produk akhir

proses.

Jurnal yang dibuat adalah :

Persediaan Produk Selesai Rp XXX

Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Rp XXX

Barang Dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Rp XXX

Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik Rp XXX

2.      Terjadinya produk rusak karena kesalahan dan produk rusak tidak laku dijual, maka harga

pokok produk rusak tersebut tidak boleh diperhitungkan kedalam harga pokok produk selesai,
tetapi harus dianggap sebagai kerugian, sehingga akan diperlakukan sebagai rugi produk

rusak.

Jurnal yang dibuat adalah :

Rugi Produk Rusak Rp XXX

Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Rp XXX

Barang Dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Rp XXX

Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik Rp XXX

b. Produk Rusak Laku Dijual

1.      Bila penyebab produk rusak karena kegiatan normal perusahaan, dan produk rusak tersebut

laku dijual, maka hasil penjualan produk rusak tersebut dapat diperlakukan sebagai:

a.       Pengurangan harga pokok selesai

Harga pokok produk rusak dibebankan ke produk selesai, sehingga apabila produk rusak

tersebut laku dijual, maka sudah sewajarnya hasil penjualan tersebut digunakan sebagai

pengurangan harga pokok produk selesai.

Jurnal yang dibuat adalah :

Kas/Piutang Dagang Rp XXX

Persediaan Produk Selesai Rp XXX

b.      Pengurang semua biaya produksi.

Dengan perlakuan ini memerlukan alokasi yang adil pada setiap elemen biaya produksi pada

departemen dimana terdapat produk rusak, salah satu metode dapat digunakan alokasi

berdasarkan perbandingan setiap elemen biaya.

Jurnal yang dibuat adalah :

Kas/Piutang Dagang Rp XXX

Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Rp XXX

Barang Dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Rp XXX

Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik Rp XXX

c.       Pengurang biaya overhead pabrik


Perlakuan ini sangat mudah, tetapi perlu diperhitungkan bahwa apabila hasil penjualan

produk rusak cukup besar sedang jumlah biaya overhead pabrik kecil, dimungkinkan biaya

overhead akan minus.

Jurnal yang dibuat adalah :

Kas/Piutang Dagang Rp XXX

Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik Rp XXX

d.      Penghasilan lain-lain

Perlakuan ini paling mudah digunakan, sehingga pada laporan harga pokok produksi nantinya

sama dengan apabila ada produk hilang pada akhir proses tapi tidak sesuai dengan perlakuan

harga pokok produk selesai.

Jurnal yang dibuat adalah :

Kas/Piutang Dagang Rp XXX

Penghasilan lain-lain Rp XXX

2.      Produk rusak yang laku dijual dan penyebab produk rusak karena kesalahan atau disebut

juga produk rusak abnormal, maka hasil penjualan produk rusak tersebut akan diperlakukan

sebagai pengurang rugi produk rusak, hal ini sesuai karena harga pokok produk rusak

nantinya akan dimasukkan kedalam laporan rugi-laba sebagai elemen biaya lain.

Jurnal yang dibuat untuk mencatat hasil penjualan produk rusak yang diperlakukan sebagai

pengurang rugi produk rusak adalah:

Kas/Piutang Dagang Rp XXX

Rugi Produk Rusak Rp XXX

Menurut Sutrisno (2001:133) bahwa “harga pokok produk rusak diperlakukan sebagai

kerugian dan dimasukkan kedalam rekening rugi produk rusak yang pada akhir periode akan

masuk pada laporan rugi-laba sebagai elemen biaya lain-lain”.