Anda di halaman 1dari 24

Kompetensi & Praktik Apoteker

Kode Etik Etika


Kode Etik Isi Jenis Etika Contoh
Kewajiban thd pasien Mengutamakan pasien Veracity (to tell the truth) Px berhak tau diagnosisnya
Kewajiban thd sejawat Saling menasihati kepatuhan kode etik Non-maleficence (to do no harm) Tdk bisa menelan obat diminalisir penggunaan oral
Kewajiban thd petugas lain Saling menghargai Beneficence (to do good) Diberi konseling dan monitoring

9 stars
Confidentiality (to respect privacy) Hargai privasi pasien
Tugas dan Fungsi Fairness (to be fair and socially responsible) Melayani pasien sesuai antrian
Poin Peraturan
Care giver UU 36/2009 : Kesehatan Regulasi Administrasi
Decision maker PP 51/2009 : Pekerjaan kefarmasian
Communicator UU 36/2014 : Tenaga kesehatan
Manager PP 20/1962 : Lafal sumpah
Leader Lafal : BAB I. Kewajiban umum
Long life learner BAB II. Kewajiban thd px
Teacher BAB III. Kewajiban thd sejawat
Researcher BAB IV. Kewajiban thd petugas lain
Entrepreneur BAB V. Penutup

Regulasi Standar Pelayanan di Faskes


Rumah Sakit
 UU 4/2009 ttg RS Regulasi di Industri
 Permenkes 56/2014 ttg klasifikasi & perizinan RS Fasilitas Izin oleh Apt Peraturan
- RS khusus : ABC Industri Farmasi Dirjen Binfar 3 (prod, PP 51/2009
- RS umum : ABCD (Permenkes R! 1799/2010) QC, QA)
- A (> 500 bed) : 15 apt: Industru Obat IOT/IEBA : Dirjen Binfar 1 Permenkes 6/2012
- B (200 - 500) : 13 apt Tradisional UKOT : Kadinkes Prov
- C (100 - 200) : 8 apt UMOT : Dinkes kab/kota
- D (50 - 100) : 5 apt Industri Kosmetik 1 PP 51/2009
 Permenkes 72/2016 ttg std pelanan kefarmasian di RS Permenkes 1175/2010 ttg izin
- Ranap : 30 px/ apoteker produksi
- Rajal : 50 px/ apoteker Permenkes 1176/2010 ttg
Apotek notifikasi kosmetik
 Permenkes 9/2017 ttg apotek
 Kepmenkes RI 1332/2002 ttg perubahan permenkes RI Registrasi Obat
992/1993 ttg perizinan (izin SIA ke kadinkes kab/kota)
Pengajuan regis obat dg paten dpt dilakukan o/ bukan pemegang paten 5 th sebelum berakhir
 Permenkes 73/2016 ttg standar pelayanan (apt + aping + TTK)
hak paten
Puskesmas NIE berlaku 5 th Prosedur Registrasi
 Permenkes 44/2016 ttg pedoman manajemen puskesmas Syarat obat regis : - Pra regis  regis  Ka BPOM  dg dokumentasi regis format ACTD
 Permenkes 36/2016 ttg standar pelayanan - Aman & khasiat
- Minimal 1 apoteker - Mutu
pendaftaran online dg AeRO
- Rajal/ranap : 50 px/ apoteker - Info lengkap - Hasil pra-regis (HPR) diterbitkan dlm 40 hari. Jika ada tambahan data
- Efektif diberi waktu 20 hari u/ melengkapi.

Pedoman Praktek Apoteker


- Pengajuan regis dg lampirkan : Berkas regis, form regis, Bukti bayar, HPR
- Berkas di evaluasi oleh komnas penilai obat jadi
 UU 5/1997  Psikotropika (tdp 4 gol. gol 1 u/ pengetahuan)
Kategori Regis NIE
 UU 35/2009  Narkotika (tdp 3 gol. Gol 1 tdk u/ pelayanan)
- Baru 1 2 3 45 678 91011 1213 14 15
 PP 44/2010  Prekursor
- Variasi Nama OJ Jenis Produksi Th persetujuan
 Permenkes 3/2015  Peredaran, penyimpanan, pemusnahan No Urut OJ
- Mayor : ubah ZA D : Dagang I : Impor 86 : 1986
 Perka BPOM 7/2016  ttg OOT Bentuk Sediaan OJ
- Minor : ubah jenis pemanis G : Generik E : Ekspor 08 : 2008
(tramadol, THX, Klorpromazin, Amitriptilin, Haloperidol) L : Lokal
- Notifikasi : ubah kemasan Golongan Obat
 Pemesanan dg SP/LPLPO - Ulang : 2-12 bln sblm NIE habis X : Khusus No urut pabrik Kekuatan OJ (ABC)
N : Narkotik
 1 obat/ SP  narkotik & psiko P : Psiko
J : Terjangkau
 >1 obat/ SP  prekursor S : Siaga Kemasan
K : Keras
 SP 3 rangkap T : Terbatas
 Pemusnahan o/ APA disaksikan Dinkes kab/kota B : Bebas
 Pelaporan min tiap tgl 10 (SIPNAP)
 Berita acara pemusnahan narkotik 4 rangkap
Pengeluaran NIE

BPOM Obat, suplemen,OT, Pangan, Kuasi, Kosmetik


Peringatan Obat Keras Kemenkes  PKRT, alat kesehatan
P1 Baca aturan pakai P4 Untuk dibakar Dinkes  PIRT
P2 Jangan ditelan, kumur P5 Tidak ditelan
P3 Pemakaian luar P6 Obat wasir
Note :
OWA
Sukralfat Ranitidin
Asmef 20 tab Allopurinol
Metoklopramid Nadic 10 tab
Topikal I tube Ibuprofen
Omeprazole 7 tab Piroksikam

Anitalaras_
Pengelolaan Sediaan Farmasi & Alkes
Perencanaan & pengadaan

Metode
Definisi Keterangan
Analisis
Konsumtif Berdasarkan data pemakaian Permintaan = Stok optimum – Sisa stok
periode sebelumnya
Epidemiologi Berdasarkan pola, jumlah, Permintaan = jml kasus x jml standar pengobatan + SS – Sisa stok
frekuensi penyakit
Kombinasi Epid + Konsumsi
Analisa Pareto Pengelompokan data berdasar A = 80%
(ABC) tingkatan nilai B = 20%
C = 10%
dari total dana
Analisa VEN Berdasarkan kepentingan obat Vital : Life saving (ex. Syok anafilaksis)
Esensial : sering digunakan (ex. analgetik)
Non esensial : penunjang, tdk terlalu penting (ex. suplemen)
Definisi Bandingkan Input Outcome Contoh
Cost Minimum Pilih biaya terendah dg manfaat - Paten vs generik, pilih biaya termurah
Analysis sama
Cost Benefit Mengukur biaya & manfaat Ekonomi Penggunaan vaksin vs antihiperlipid
Analysis intervensi dan pengaruhnya thd Biaya u/ pembelian vaksin < dr pengobatan penyakit yg timbul
hasil perawatan
≥2
Cost Effetive Bandingkan biaya dg pengaruhnya Biaya Klinis A : 100 jiwa 100 juta Glibenklamid lbh efektif
Analysis thd hasil perawatan B : 100 jiwa 70 juta turunkan gula darah drpada
B lebih efektif metformin
Cost Utility Mengukur nilai spesifik kesehatan Humanistik CPG meningkatkan quality of life px after event heart attack dibanding
Analysis dlm bentuk pilihan setiap (quality of dg aspirin
individual life)

FARMAKOEKONOMI

CMA CEA 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎


𝐴𝐶𝐸𝑅 =
𝑂𝑢𝑡𝑐𝑜𝑚𝑒
Metformin Glibenklamid Metformin Glibenklamid
Biaya 300/tab 250/tab Biaya 300/tab 250/tab
Outcome - - Outcome (penurunan 25mg/dL 35mg/dL 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝐴 − 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝐵
(penurunan gula gula darah) 𝐼𝐶𝐸𝑅 =
𝑂𝑢𝑡𝑐𝑜𝑚𝑒 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝐴 − 𝑂𝑢𝑡𝑐𝑜𝑚𝑒 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝐵
darah) ACER 300/25 250/35

CBA CUA Note :

Vaksin Obat Metformin Glibenklamid TOR : 8-12 x


Biaya 100 juta 80 juta Biaya 250/tab 300/tab
Outcome (QALY) 0,995 0,982 ROP = Smin (stok minimal)
Benefit (satuan 250 juta 125 juta
uang) ACER 250/0,995 300/0,982

pengelolaan manajerial
Seleksi Acuan : 1. ForNas 𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖 𝑙𝑎𝑏𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ
2. Formularium RS Harga Jual/𝑏𝑜𝑡𝑜𝑙 =
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖
+ 𝑝𝑝𝑛 𝑅𝑂𝐼 =
𝑚𝑜𝑑𝑎𝑙
3. DOEN
𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ
4. Kontinuitas ketersediaan obat HJA = 𝐻𝑁𝐴 𝑥 𝑃𝑃𝑁 𝑥 𝑖𝑛𝑑𝑒𝑥 𝑅𝑂𝐴 =
PFT (Panitia Farmasi dan Terapi) 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑎𝑠𝑒𝑡
- Susun kebijakan obat 𝑝𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ
Harga resep = (HJA x jml obat) + 𝑒𝑚𝑏𝑎𝑙𝑎𝑠𝑒 + 𝑡𝑢𝑠𝑙𝑎ℎ 𝑅𝑂𝐸 =
- Susun dan revisi formularium 𝑚𝑜𝑑𝑎𝑙
- Buat kajian sistem manajemen obat %𝐻𝑃𝑃 2 𝑥 𝐷 𝑥 𝐶𝑠
- Koordinir pelaporan ESO 𝑓𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟 ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑗𝑢𝑎𝑙 − 1 𝐸𝑂𝑄 = √
= 100% − (100% 𝑥 ) 𝑖𝑥𝑃
Pengadaan - Tender terbuka ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑗𝑢𝑎𝑙
D : kebutuhan barang /periode
- Tender tertutup Cs : biaya pemesanan
- Tawar menawar HPP = (𝑝𝑒𝑚𝑏𝑒𝑙𝑖𝑎𝑛 + 𝑠𝑡𝑜𝑘 𝑎𝑤𝑎𝑙) − 𝑠𝑡𝑜𝑘 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟
i : % biaya simpan/th
- Pembelian langsung P : harga beli /unit
𝐻𝑃𝑃
Penyimpanan 1. High Alert  diberi stiker HAM %HPP = i.P = H : biaya simpan per unit per th
2. LASA  dipisah dan diberi stiker LASA 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛 (𝑜𝑚𝑠𝑒𝑡)
3. Narkotika  di lemari khusus dg 2 kunci 𝐹𝐶
4. Emergensi  terkunci, pastikan jumlah sesuai daftar 𝐵𝐸𝑃 = 𝑅𝑂𝑃 = (𝐿𝑇 𝑥 𝑝𝑒𝑚𝑎𝑘𝑎𝑖𝑎𝑛 𝑟𝑎𝑡𝑎") + 𝑆𝑆
1 − 𝑉𝐶/𝑇𝑅
Dispensing
𝐹𝐶 𝐻𝑃𝑃
Distribusi Metode: 1. Sentralisasi 𝐵𝐸𝑃(𝑢𝑛𝑖𝑡) = 𝑃𝑃/𝑇𝑂𝑅 =
𝐻𝐽/𝑢𝑛𝑖𝑡 − 𝑉𝐶/𝑢𝑛𝑖𝑡 𝑝𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎𝑎𝑛 𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎
2. Desentralisasi
Sistem : 1. Dispensing resep individual 𝑚𝑜𝑑𝑎𝑙
2. Floor stock 𝑃𝐵𝑃 = SS = LT x pemakaian rata − rata
𝑙𝑎𝑏𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ
3. Dispensing dosis unit

Anitalaras_
Anitalaras_
FK
ADME
Keterangan
Farmakokinetik
Parameter
Prinsip Interaksi Obat
Interaksi Mekanisme Efek Interaksi Contoh
Absorbpsi Masuknya obat ke dlm tubuh hingga F, AUC, Cmax,
Farmakokinetik Absorbsi Perubahan pH saluran cerna Antasid, H2
ke sirkulasi sistemik tmax, Ka
(pengaruhi blocker, PPI
Distribusi Distribusi melalui sirkulasi sistemik Vd
ADME) Adsorpsi, kelasi, kompleks Arang aktif,
Metabolisme Diubah scr kimia jd bentuk yg lebih
Cl, t1/2, Ke, peptin, kaolin
larut
Kinetika order Perubahan motilitas sal. Cerna Metroklopramid
Eksresi Pengeluaran obat dr dlm tubuh
Distribusi Pendesakan obat (ikatan Warfarin

Parameter protein)
Metabolisme Induktor Barbiturat,
Parameter Primer (dipengaruhi o/ variabel fisiologis) (salah satu obat alami karbamazepin,
CL Vol cairan mengandung obat yg ml/menit atau fenitoin,
penurunan kadar)
terbersihkan dr tubuh / waktu L/jam rifampisin
Vd Volume obat terdistribusi pd plasma darah L atau ml
Inhibitor Fliolsetin,
Ka Dipengaruhi enzim, luas permukaan, fili, /jam atau
(salah satu obat alami ketokonazol,
fisiologi usus /menit
peningkatan kadar) metronidazol,
Parameter Sekunder (dipengaruhi o/ parameter primer)
sipro
t1/2 Waktu u/ capai konsenstrasi obat 50% Jam atau menit
Eksresi Perubahan pH urin
dalam plasma darah
Ke Dipengaruhi o/ ginjal /jam atau Perubahan eksresi tubulus ginjal
/menit Farmakodinamik Aditif Sinergis Terget aksi sama  efek sama Anthistamin,
Parameter Turunan (dipengaruhi o/ parameter primer sekunder) (interaksi benzodiazepin,
AUC Ukuran jumlah obat utuh capai sirkulasi mg/L.jam atau kompetisi thd klonidin,
mcg/ml.jam reseptor) fenotiazin
Cmax Konsentrasi maksimum obat dalam plasma mg/L atau Antagonis Saling mengurangi efek Beta agonis
mcg/ml
(salbutamol) dg
tmax Waktu obat capai konsentrasi maksimum Jam atau menit
beta bloker
(propanolol)
Perhitungan Efek reseptor Saling pengaruhi efek reseptor Betabloker
𝐾𝑒 =
𝐶𝑙 t90% = 3,32 x t1/2 tdk langsung perpanjang
𝑉𝑑
kondisi
0,693 𝑥 𝑉𝑑 0,693 t95% = 4,32 x t1/2
Umum 𝑡1/2 =
𝐶𝑙
=
𝐾𝑒 hipoglikemi
𝐶𝑜 t99% = 6,65 x t1/2 (hambat
𝐴𝑈𝐶 =
𝐾𝑒 kompensasi
Bolus IV 𝐶𝑜 =
𝐷𝑜𝑠𝑖𝑠
𝐶𝑠𝑠 =
𝐷𝑜𝑠𝑖𝑠
pemecahan
𝑉𝑑 𝐶𝑙 𝑥 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑟𝑣𝑙 𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠
𝐿𝑎𝑗𝑢 𝑖𝑛𝑓𝑢𝑠 glikogen)
Infus 𝐶𝑠𝑠 =
𝐶𝑙 Gangguan Interaksi akibat gangguan Hipokalemia
𝐹𝑟𝑎𝑘𝑠𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑎𝑏𝑠𝑜𝑟𝑏𝑠𝑖 (𝐵𝐴)𝑥 𝐷𝑜𝑠𝑖𝑠
cairan & keseimbangan elektrolit meningkatkan
𝐶𝑠𝑠 =
𝐶𝑙 𝑥 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑟𝑣𝑎𝑙 𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠
elektrolit kardiotoksik
Oral digoksin
𝐹𝑟𝑎𝑘𝑠𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑎𝑏𝑠𝑜𝑟𝑏𝑠𝑖 (𝐵𝐴)𝑥 𝐷𝑜𝑠𝑖𝑠
Kinetika Eliminasi
𝐶𝑙 =
𝐴𝑈𝐶

𝐿𝑎𝑗𝑢 𝑒𝑘𝑠𝑘𝑟𝑒𝑠𝑖 Orde nol Orde satu Orde dua


𝐶𝑙 𝑟𝑒𝑛𝑎𝑙 =
𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑝𝑙𝑎𝑠𝑚𝑎 𝟏 𝑪𝒐 𝟎, 𝟔𝟗𝟑 𝟏
t50% .
Renal CL 𝟐 𝒌 𝒌 𝑪𝒐. 𝒌
𝐿𝑎𝑗𝑢 𝑢𝑟𝑖𝑛 𝑥 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑢𝑟𝑖𝑛
𝐶𝑙 𝑟𝑒𝑛𝑎𝑙 = 𝟏 𝑪𝒐 𝟎, 𝟏𝟎𝟓 𝟏
𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑝𝑙𝑎𝑠𝑚𝑎 t90% .
𝟏𝟎 𝒌 𝒌 𝟗𝑪𝒐. 𝒌
𝐶𝑙 𝑟𝑒𝑛𝑎𝑙 = 𝐾𝑒 𝑥 𝑉𝑑

Note :

Anitalaras_
Dispensing
Dispensing Sediaan
Sediaan Farmasi
Farmasi
Perhitungan & Adjusment Dosis Beyond Use Date (BUD)
𝑩𝑩
Clarck Dosis anak : 𝒙 𝒅𝒐𝒔𝒊𝒔 𝒅𝒆𝒘𝒂𝒔𝒂 Sediaan BUD
𝟏𝟓𝟎
Puyer 25% ED bahan / 6 bulan dr peracikan (pilih yg lebih cepat)
𝑻𝑩 (𝒄𝒎) 𝒙 𝑩𝑩 (𝒌𝒈)
BSA : √ Oral mengandung air <14 hari, suhu 2-8°C
𝟑𝟔𝟎𝟎
Semi Solid <30 hari
BSA
Tetes Mata & Telinga 28 hari sejak dibuka
(body surface area) Dosis anak : 𝑩𝑺𝑨 𝒙 𝒅𝒐𝒔𝒊𝒔 𝒅𝒆𝒘𝒂𝒔𝒂
𝟏,𝟕𝟑 Tetes Mata Minidose 3x24 jam sejak dibuka
Sirup Kering 7-14 hari setelah diencerkan
Dewasa : BSA x dosis dewasa Injeksi Insulin 28 hari sejak digunakan (suhu ruang)
𝒖𝒎𝒖𝒓 (𝒕𝒉)
Young (1-8 th) Dosis anak : 𝒙 𝒅𝒐𝒔𝒊𝒔 𝒅𝒆𝒘𝒂𝒔𝒂 60 hari jika dikulkas (2-8°C)
𝒖𝒎𝒖𝒓 (𝒕𝒉)+𝟏𝟐
𝒖𝒎𝒖𝒓 (𝒕𝒉)
Suhu BUD
Dilling (>8 th) Dosis anak : 𝒙 𝒅𝒐𝒔𝒊𝒔 𝒅𝒆𝒘𝒂𝒔𝒂 Resiko Rendah Resiko Sedang Resiko Tinggi
𝟐𝟎
𝒖𝒎𝒖𝒓 (𝒃𝒖𝒍𝒂𝒏) Suhu kamar <25°C 48 jam 30 jam 24 jam
Fried (bayi) Dosis bayi : 𝒙 𝒅𝒐𝒔𝒊𝒔 𝒅𝒆𝒘𝒂𝒔𝒂
𝟏𝟓𝟎 Suhu dingin 2-8°C 14 hari 9 hari 3 hari
𝜮 𝒌𝒆𝒃𝒖𝒕𝒖𝒉𝒂𝒏 𝒄𝒂𝒊𝒓𝒂𝒏 𝒙 𝒇𝒂𝒌𝒕𝒐𝒓 𝒕𝒕𝒔
𝜮 tts/mnt : Suhu beku <-10°C 45 hari
𝒘𝒂𝒌𝒕𝒖 (𝒋𝒂𝒎)𝒙 𝟔𝟎 𝒎𝒆𝒏𝒊𝒕
Faktor tetes Level resiko segera digunakan : BUD 1 jam dari penyiapan
(1 ml : 20 tts/mnt) Level resiko rendah & diberikan <12 jam : BUD 12 jam dari penyiapan
𝜮 𝒌𝒆𝒃𝒖𝒕𝒖𝒉𝒂𝒏 𝒄𝒂𝒊𝒓𝒂𝒏 𝒙 𝒇𝒂𝒌𝒕𝒐𝒓 𝒕𝒕𝒔
Lama jam :
𝒇𝒂𝒌𝒕𝒐𝒆 𝒕𝒆𝒕𝒆𝒔𝒂𝒏 (𝒎𝒆𝒏𝒊𝒕)𝒙 𝟔𝟎 𝒎𝒆𝒏𝒊𝒕 BUD Vaksin Waktu
Klirent Cockcroft-
Pria :
𝟏𝟒𝟎−𝒖𝒎𝒖𝒓 𝒙 𝑩𝑩 Wanita : Influenza & Rotavirus 24 jam
0,85 x CrCl pria
Gault 𝟕𝟐 𝒙 𝑺𝒓𝑪𝒓 (𝒎𝒈/𝒅𝑳) Campak & Meningococcal 8 jam
𝒅𝒐𝒔𝒊𝒔 𝒙 𝒕𝒐𝒕𝒂𝒍 𝒔𝒆𝒅𝒊𝒂𝒂𝒏 𝒚𝒈 𝒅𝒊𝒃𝒖𝒕𝒖𝒉𝒌𝒂𝒏
Kebutuhan sediaan Polio Secepatnya
𝒑𝒐𝒕𝒆𝒏𝒔𝒊

Formulasi
Formulasi Sediaan
Sediaan Solid
Solid
Eksipien Metode Penabletan
Eksipien Jenis Ket Metode Ket
Diluent (Pengisi) Selulosa, Avicel, Manitol, Menambah bobot Tahan panas & air, sifat alir jelek, dg
Granulasi Basah
Sukrosa, Glukosa, Laktosa pengikat, dikeringkan, diayak
Binder (Pengikat) Selulosa, Avicel, CMCNa, HPC, Memberi daya adhesi dan menambah Tidak tahan panas & air, sifat alir
HPCMC, Gelatin, Gom Alam, PEG, daya kohesi Granulasi Kering jelek, kempa dg pengisi, hancurkan,
Na Alginat, Mg, Al, Silikat, diayak
Povidone, Kopovidone Kempa Langsung Tidak tahan panas & air, sifat alir
Disintegran Crospovidone, Sodium Starch baik
(Penghancur) Glycolate/ Primogel
Anti Frictional As Stearat, PEG, Na Lauril Sulfat Lubrikan : mengurangi friksi dinding dg Jenis Campuran
Agent dye Jenis Contoh
Siilikon Dioksida, Mg Stearat, Glidan : menambah daya alir Positif Gas/ Cairan
Talk Negatif Suspensi, Emulsi
Mg. Stearat, Mikrokristalin Anti Adheren : cegah sticking dg punch Netral Salep, Pasta, Serbuk
Selulosa, Talk
Wetting Agent Gliserin, Propilen Glikol, PEG Pendispersi
Tahap Penyalutan
Agen Pendapar Garam Fosfat, Garam Sitrat Stabilitas, penetral
Pemanis Manitol, Laktulosa, Sukrosa Seal  Sub  Coloring  Smoothing  Polishing  Printing

Metode Pengeringan Note :


Alat Prinsip Penggunaan
Tray dryer Udara panas & panas transfer, 10-60 jam Serbuk/ granul skala kecil
FBD Aliran udara panas, dg blower Pengeringan granulasi basah,
penyalutan, pewarnaan
Spray drying Memaparkan droplet pd semburan gas panas Sediaan kental, ex : Pasta
Freeze drying Proses liofilisasi Produk yg sensitif panas
Vacuum Menghilangkan air dr bahan, suhu rendah, Produk yg sensitif panas dan
dryer hemat energi, singkat volatil

Problem
Masalah Kondisi Solusi
Binding Melekat pd die + antiadheren & lubrikan, ganti lubrikan
Sticking & Permukaan tablet menempel di Turunkan ukuran granul, ganti lubrikan
Picking punch
Capping Bagian atas tablet terpisah Tambah pengikat, regranulasi, kurangi
lubrikan
Chipping/ Rusak di bagian tepi Poles permukaan punch & die, kecilkan
Cracking ukuran granul, tambah pengikat, kurangi jml
fines
Laminating Pemisahan tab jd 2/lbh bagian

Anitalaras_
Formulasi Sediaan Semisolid & Liquid
Eksipien Problem Semisolid
Eksipien Jenis Ket
Sediaan Masalah Ket/ Solusi
Werring Agent Gliserin, Propilen Glikol, PEG Zat pendispersi
Suppo Mengandung air Percepat oksidasi lemak,
Basis Minyak sintetik Tdk mdh tengik, emusidikasi dan
Suppositoria +preservatif
absorbsi baik, tanpa lubrikan
Higroskopisitast Gunakan basis kompatibel
PEG, Carbowax Tdk perlu disimpan di kulkas
Viskositas Gunakan Al monostearat
Surfakten, Tween, Span Obat larut lemak dan air
2%
Basis Semisolid Hidrokarbon Parafin, Vaselin Inert, Sulit dicuci, terabsorbsi o/ kulit
Kerapuhan + castor oil, tween/gliserin
Basis serap  Lanolin, Hidrofil, Menyerap kelebihan air pd
Volume kontraksi Penuangan dilebihkan
kulit
Ketengikan + antioksidan gol fenol
Basis larut air  PEG Larut air, dpt dicuci, tdk iritasi
Preservatif, Amonium kuarterner, Formaldehid
Salep Ketengikan Antioksidan
Pengawet (topikal), As soebit, As benzoat, Terbentuk kristal Pendinginan jgn terlalu cpt/
Paraben terlalu lama
Softener Parafin cair Krim Pemisahan fase Temperatur harus sama
Anti Oksidan BHA, BHT, Tokoferol, Propil galat Cegah Oksidasi Gel Syrenesis/ bleeding Mengkerut  gelling agent
Surfaktan Nonionik  Ester polietilen Turunkan tegangan permukaan berkurang
Kationik  Benzalkonium Cl Swelling Bengkak/ vol bertambah
Anionik  Na dodesil sulfat Sedimentasi Gel terpisah dr fase padat
Emulgator W/O  Lanolin, Span
O/W  Tween (polisorbat), Metil Suspensi  mengandung obat padat yg tdk melarut
selulosa, Akasia, Tragakan
sempurna dlm pembawa
Gelling Agent Tragakan, Alginat, Pektin, Gelatin, Hidrokoloid yg berikan konsistenti
Emulsi  2 zat tdk saling campur (air dan minyak)
Povidon, Turunan Selulosa tiksotropik pd gel

Problem Liquid Suspensi


Masalah Kondisi Solusi Deflokulasi Flokulasi
Partikel memisah Partikel agregat bebas
Creaming Pisah fase, reversible Kocok kembali
Pengendapan lambat Pengendapan cepat
Koalesen/ Cracking/ Emulsi pecah, irreversible + surfaktan/ emulgator Caking Tdk caking
Breaking Endapan tdk mudah campur lg Endapan mudah terdispersi
Inversi fase Perubahan tipe emulsi, irreversible Jernih Keruh
Flokulasi/ Sedimentasi Pisah karna ada pengendapan
HLB
Aerosol (B campuran + HLB campuran) = (B1 x HLB1) + (B2 x HLB2)
Pengertian Sediaan dg sistem bertekanan tinggi, mengeluarkan ZA mell. katup
Mempunyai fase gas-air atau gas-cair-padat B : Berat emulgator
Jenis Topikal  ratuasan mcm, 50-90% propelan B campuran : jumlah 2 emulgator
Inhalasi & oral  <5mcm, 99,5% propelan HLB campuran : HLB total yg dibutuhkan
Komponen Wadah  Gelas, logam, plastik
Propelan  membei tekanan (tipe : CFC, Hidrokarbon, Gas dimampatkan) Note :
Konsentrat  ZA + eksipien/kosolven
Katup  mengatur laju konsentrat produk
Penyemprot
Karakterstik Tekanan uap  can puncturing diveice, pressure gauge
Densitas  hydrometer, piknometer
Kandungan lembab  karl fischer, kromatografi gas
Indent propelan  kromatografi gas, spektro IR

Formulasi Sediaan
Sediaan Steril
Steril
Prosedur Kategori Wadah
Injeksi non sitos  LAF Injeksi sitos  BSC Jenis Wadah
Penanganan gawat darurat Tertutup baik  melindungi dr masuk/keluarnya bahan padat
KULIT  bilas air hangat – cuci sabun Tertutup rapat  melidungi dr masuk/keluarnya bahan cair, padat, uap
Seka dg Clorin 5% - jika kulit tdk sobek Tertutup kedap  cegah tembusnya udara/gas
H2O2 3% - jika sobek Tipe Gelas
MATA  bilas air mengalir – rendam air ganhat 5 mnt Tipe Sifat Penggunaan
Cuci dg NaCl 0,9 % I (borosilikat) Resistensi hidrolisis tinggi, eksporasi termal rendah Parenteral/ NP
II (treatet soda lime) Resistensi hidrolisis tinggi (perlu dealkalisasi) Aqueous parenteral/ NP
III (soda lime) Resistensi hidrolisis tinggi, dg pelepasan oksida Biasanya dk untuk parenteral
Metode Sterilisasi IV (NP/ Soda lime umum) Resistensi hidrolisis rendah NP oral/topikal
Metode Prinsip Penggunaan
Panas Basah (Autoklaf) Suu 121°C / 15 menit ZA tahan panas dan air Note :
Panas Kering (Oven) Suhu 180°C / 2-3 jam ZA tahan panas dan tdk tahan air
Penyaringan (Bakteri filter) Filter di LAF 0,22+0,45 mikro ZA tidak tahan panas dan air
Radiasi (UV, Gamma) Sinar bunuh m.o (germisida) Sterilisasi alat dan ruang

Anitalaras_
Tonisitas
Hipertonis  Konsentrasi lingkungan > dalam sel, Air dlm sel keluar shg sel mengkerut
Isotonis  Konsentrasi lingkungan = dalam sel
Hipotonis  Konsentrasi lingkungan < dalam sel, Air dlm sel masuk shg sel lisis
Evaluasi Sediaan
Metode Contoh Evaluasi Parameter
Metode krioskopi Laju Alir 10 gram/ 1 detik
(Penurunan Titik Kompresibilitas 𝑩𝒋 𝒎𝒂𝒎𝒑𝒂𝒕 − 𝑩𝒋 𝒃𝒖𝒍𝒌
Beku/PTB) % 𝒌𝒐𝒎𝒑𝒓𝒆𝒔 = 𝒙 𝟏𝟎𝟎%
𝑩𝒋 𝒎𝒂𝒎𝒑𝒂𝒕
𝒎𝒂𝒔𝒔𝒂
𝟎, 𝟓𝟐 − 𝒂 𝑩𝒋 =
𝒗𝒐𝒍𝒖𝒎𝒆
𝑾=
𝒃
% Kompresibilitas
W : jml bahan yg 5-12  Istimewa
ditambhkan 12-16  Baik
a : PTB zat 18-21  Sedang
PTB NaCl 0,9% : 0,52 23-35  Kurang Baik
b : PTB pengisotonis
PTB NaCl 1% : 0,58 33-38  Sangat Buruk
>40  Sangat sangat buruk
Metode Ekivalen NaCl. Rumus :
Homogenitas RSD <2% u/ kadar tablet
banyaknya NaCl yang Isotonis : %NaCl x volume Kadar Sampling beberapa titik
akuivalen dengan 1 Ekivalensi : %zat x volume x E Organoleptis Warna, bau, bentuk, rasa
gram obat. NaCl yg +: isotonis - ekivalensi
Ukuran Diameter tab :: 4/3 – 3 kali dari tebal tablet
Kekerasan Tablet 300 mg  4-7 kg/cm2
Tablet 400-700mg  7-12 kg/cm2
Suppo hancur 20 detik  beban tdk ditambah
Suppo hancur 20-40 detik  ½ beban ditambah
Suppo hancur >40 detik  beban ditambah semua
Metode White-
Vincent. Friabilitas 10-20 tab  <1%
Disintegrasi 6 tablet <15 menit
 penambahan air dalam Melting range Tdk lebih dr 2 suppo berbeda dg berat ratarata >5%
larutan obat agar test dan tdk boleh 1 pun berbeda dg ratarata >10%
diperoleh larutan Liquefaction time Pelunakan < 30 menit
isotonis pH
 Viskositas
 V = w x E x 111,1 Daya pelepasan ZA mudah lepas jika waktu tunggu makin kecil
Kebocoran Tdk boleh >1 tube bocor dr 30 tube. Uji 10 tube jk
ada bocor 1 tube ulangi dg 20 tube lain.
Stabilitas fisik Tdk terjadi pemishan
Patokan
Nama Uji
FI III FI V Stabilitas
Keseragaman Bobot Bobot >50 mg dan ZA >50 % Bobot >25 mg dan ZA >25 % Jenis Kondisi Lama
Keragaman Kandungan Bobot <50 mg atau ZA <50 % Bobot <25 mg atau ZA <25 % ASEAN ICH
Sampel 30 tablet. 10 tablet diuji pertama, jika tdk sesuai lanjut uji 20 tablet Real time 30 ± 2°C / 75 ± 5% RH 25 ± 2°C / 60 ± 5% RH 12 bln
Accelerated 40 ± 2°C / 75 ± 5% RH 40 ± 2°C / 70 ± 5% RH 6 bln
Rheologi Zona Tipe Iklim
Tipe Aliran Keterangan Contoh I Temperated (Sedang)
Plastis Kurva tdk melalui (0,0) tapi memotong shearing stress Salep, Krim II Subtropis dan Mediteran
Pseudoplastis Viskositas berkurang dg meningkatkan rate of shear Suspensi III Panas dan Kering
Dilatan Daya hambat meningkat dg meningkatnya rate of shear Pasta IV Panas dan Lembab (Tropis)
IV b Panas dan Sgt Lembab (Indonesia)

Uji Disolusi Data Uji Dipercepat berubah signifikan jika


 ZA tdk sesuai spesifikasi
Tahap Sampel Uji Kriteria
 Perubahan potensi sebesr 5%
S1 6 Tiap unit > Q + 5%
 Produk degradasi
S2 +6 Rata-rata 12 unit ≥ Q
 Tdk lulus uji penampilan dan fisik
Tidak ada 1 pun < Q-15%
 PH melebihi kriteria
S3 + 12 Rata-rata 24 unit ≥ Q  Disolusi melebihi kriteria u/ 12 sampel uji
Tidak lebih dr 2 unit < Q-15%

Alat FDA
Tdk 1 pun ¸< Q-25%
EMA WHO BPOM
BCS
Tipe 1 100 rpm 100 rpm 100 rpm 100 rpm
+bahan u/ naikan +bahan percepat
(Keranjang)
kelarutan disolusi
Permeability

Tipe 2 50 rpm 50 rpm 50 rpm 50 rpm


(Dayung) II I
Volume ≤ 500 ml ≤ 900 ml ≤ 900 ml ≤ 900 ml IV III
Media HCl 0,1N HCl 0,1N HCl pH 1,2 HCl pH 1,2 + permeability
Dapar asetat pH4,5 Dapar asetat pH 4,5 Dapar asetat pH 4,5 Dapar asetat pH 4,5 enhancer
Dapar fosfat pH 6,8 Dapar fosfat pH 6,8 Dapar fosfat pH 6,8 Dapar fosfat pH 6,8
Solubility

Note :

Anitalaras_
Uji Praklinis - Klinis
Perbedaan Uji Pra Klinis Uj Klinis
Objek Hewan Uji Manusia
Ruang 1. Farmakodinamik  efek farkol 1. Fase I toksisitas, tentukan MTD (orang sehat)
Lingkup 2. Farmakokinetik  ADME 2. Fase II  efek terapi (kel kecil sakit)
3. Farmasetika  Formulasi dll 3. Fase III  khasiat, aman, efektif (Kel besar sakit)
4. Toksikologi  keamanan 4. Fase IV post marketing drug surveillance

BA - BE
Bioavailabilitas Bioekivalensi
Kecepatan ZA capai sirkulasi sistemik Jika 2 obat ekivalen farmasetik/ alternatif farmasetik
(diukur dari kadar dalam darah thd waktu BA, efek, kemananan sama
atau dari ekskresi dlm urin)
BA Absolut  bandingkan dg IV Faktor Kemiripan
[𝐴𝑈𝐶]𝑜𝑟𝑎𝑙 𝑥 𝐷𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑖𝑣 (F2) : 50-100  profil disolusi mirip
𝐹=
[𝐴𝑈𝐶]𝑖𝑣 𝑥 𝐷𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑜𝑟𝑎𝑙
BA Relatif  bandingkan dg selain IV Jika “copy” & pembanding punya disolusi cepat (>85%
[𝐴𝑈𝐶]𝑐𝑜𝑝𝑦 𝑥 𝐷𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑖𝑛𝑜𝑣𝑎𝑡𝑜𝑟
𝐹= dlm <15 menit)  tidk perlu uji disolusi terbanding
[𝐴𝑈𝐶]𝑖𝑛𝑜𝑣𝑎𝑡𝑜𝑟 𝑥 𝐷𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑐𝑜𝑝𝑦
Produk yg PERLU Uji Ekivalensi In Vivo
 Oral lepas cepat yg bekerja sistemik  obat u/ kondisi serius (TBC, HT, Kanker)
IT sempit (digoksin, teofilin, fenitoin, antikoagulan)
Ada masalah BA/BE
Eksipien dan proses produksi pengaruhi BE
 Non oral & non parenteral sistemik
 Lepas lambat sistemik
 Obat lokal
Semua Oral WAJIB Uji Ekivalensi In Vitro
TIDAK PERLU Uji Ekivalensi  “copy” IV, parenteral, oral, bubuk, gas, topikal, larutan
BE Produk
Alternatif Farmasetik ZA sama
Ekivalen Farmasetik  ZA, Potensi, Sediaan sama
Ekivalen Terapetik  Efek terapi sama (Alternatif dan Ekivalen Farmasetik)
Alternatif Terapetik Bahan beda, Efek sama

Perbedaan Uji Disolusi & UDT


Disolusi UDT
Tujuan u/ QC, pengembangan formula u/ Uji BE
Sampel 6 tablet 12 tablet uji & 12 tablet pembanding
Media Sesuai kompendial ph 1,2; dapar asetat 4,5 ; dapar fosfat 6,8
Waktu Sesuai kompendial 10, 15, 20, 30, 45, 60’
Parameter %Q F2
Kriteria Sesuai keriteria uji disolusi F2 ≥50  produk ekivalen
Jika disolusi ≥85% dlm 15’  tdk perlu hitung F2

Sampling
Pola Kondisi Rumus
Pola n Homogen n = 1 + √𝑵 , jika N ≤4 maka dismpling semua
Pola p Homogen, u/ uji identitas p = 0,4 N
Pola r Tidak Homogen, bahan herbal/ekstrak r = 1,5 N

IPC
Produksi  Jamin mesin, alat, proses hasilkan produk sesuai spesifikasi
QC  pastikan produk yg dihasilkan pd tahap ttt sesuai spesifikasi

Note :

Anitalaras_
Industri
Kualifikasi Validasi
Desain Pastikan mesin yg dibeli sesuai Sediaan Steril : Aseptis dan Sterilisasi akhir
design yg dibuat perusahaan
Aseptis harus dilakukan media fill untuk pastikan steril dr
FAT (Factory Acceptance Tes) = awal-akhir.
pemastian dg datang ke perusahan Media Fill
penjual mesin Media : Soy casein digest media (SCDM) & Trytone soya broth
SAT (Site Acceptance Test) = (TSB)
pemastian saat mesin sdh sampai
Parameter Syarat Keterangan
Instalasi Pastikan mesin yg datang sesuai dg
Akurasi Recovery : Ukur nilai
annual book nya
98-102 % sebenarnya, ada
Operasional Pastikan mesin berjalan sesuai baku/pembanding
mestinya untuk pertama kali
Presisi/repeatability RSD : ≤ 2 % Replikasi
Performance Pastikan mesin hasilkan produk yg Biasanya 6-9x
konstan mutu nya
Selekivitas/spesifitas Resolusi : Kemurnian
(1,2-1,5)
Personal Kunci
Produksi QC QA 2 (tA − tB)
VMA 𝑅𝑠 =
Produksi obat Orientasi pd Orientasi pd wB + wA
sesuai Produk Proses
prosedur Rf : > 2,5
Pemeriksaan Bicara tentang Bicara tentanag Linearitas R : > 0,999 Seri lar.baku, regresi
dan Spesifikasi Sistematik y = bx + a linear
pemeliharaan Batas deteksi (LOD) Alat deteksi
fasilitas senyawa target
produksi (kuali)
Reaktif ketika Proaktif Batas kuantifikasi Alat ukur senyawa
ada masalah mencegah (LOQ) target (kuanti)
masalah Jenis Pelaksanaan Bets Kata kunci
Berperan dalam Berperan dlm Prospektif Sebelum produk 3 Produk akan
Pelulusan bets Pelulusan bets dipasarkan dijual/ rilis
hanya terkait Konkuren Saat produksi 3 Perubahan
Spesifikasi rutin komposisi, mesin,
Produk Proses bets
Retrospeltif Setelah produk 10-30 Masa lalu
Keluhan dipasarkan
Alur Penanganan Perbaikan Hibrida Gabungan Untuk obat yg blm pernah
1. Pengkajian info keluhan 1. Formula konkuren dan divalidasi tp mau produksi
2. Pengujian sampel 2. Prosedur retrospektif lg
(pasaran/pertinggal) 3. Pengemasan
Untuk pastikan prosedur pembersihan telah sesuai.
3. Pengkajian data dan 4. Penyimpanan Pembersihan
Metode : swab, last rinse, plasebo
dokumen

Produksi
Ruang Produksi Batas Partikel
Non Operasional Operasional
Kelas Kegiatan Suhu RH Kelas Jumlah max partikel/m3
A Produksi Steril (aseptis) sampai kemas primernya ≥ 0,5 µm ≥ 5 µm ≥ 0,5 µm ≥ 5 µm
 LAF (0,36-0,54 m/s) A 3.520 20 3.520 20
Ex : salep mata, suspensi steril, injeksi serbuk B 2.530 29 3.520 20
16-25 45-55 C 352.000 2.900 3.520.000 29.000
B Background A (tdk untuk produksi)
D 3.520.000 29.000 - -
C Sediaan dg Sterilisasi Akhir smp kemas
E 3.520.000 29.000 - -
primernya

Batas Mikroba
D Non steril (sirup, tablet, salep selain salep mata)
Cuci alat gelas steril/non 40-60
20-27 Sampel udara Cawan Cawan Sarung
Kemas primer Kelas
cfu/m3 papar /4jam kontak tangan
E Kemas sekunder steril/non Max 70
A <1 <1 4 <1
B 10 5 5 5
Partikel mengalir dr ruangan dg tekanan besar ke kecil.
C 100 50 25 -
Air Pasokan (Feed/Tap Water) : untuk cuci alat gelas
D 200 100 50 -
Air Murni (Purified Water) : diolah dg RO/EDI untuk prosuksi
Air Untuj Injeksi (WFI) : untuk sediaan injeksi/steril

Anitalaras_
Analisis senyawa
Kimia Analisa instrumen

Metode Prinsip Analisis Metode Prinsip Analisis


Gravimetri beda bobot konstan Kadar abu & susut pengeringan penyerapan spektrum gel cahaya analisis kuantitatif, λ 200-400,
UV/Vis
TBA Rx asam basa Asam basa lemah elektro o/ gugus kromofor larutan jernih
Nitrimetri Rx diazotasi Nitrit & turunan sulfanilamid, u/ senyawa dg gugus fungsi & kualitatif, ident gugus fungsi,
IR
amin aromatis/nitro aromatis kovalen tunggal kuantitatif pd spektro FTIR
Kompleksometri Kompleks EDTA Logam IIA dan IIIA (ex :penetapan logam diubah jd atom bebas yg logam berat gol IA dan IIA
SAA
antasida dg Mg & Al) absorbsi radiasi cahaya
Titrasi Redoks Rx redoks Serimetri, permangano, Iodo-iodi pemisahan berdasarkan polaritas & fase normal (fase diam
Argentometri Pengendapan unsur Halida (Cl, Br, I) KLT ikatan pd fase gerak polar)
Asidi-Alkalimetri Rx asam basa Asam basa kuat fase terbalik (fase diam NP)
Asidi (penetrasi asam) pemisahan berdasarkan perbedaan titik bila susah menguap dilakukan
Kromato Gas
Alkali (penetrasi basa) didih & volatilitas derivatisasi senyawa
pemisahan berdasarkan polaritas dan fase normal (fase diam
kalibrasi HPLC ikatan fase gerak polar)
fase terbalik (fase diam NP)
Standar Eksternal  sampel & standar SAMA, macam konsentrasi, pemisahan bedasar muatan listrik & analisis asam amino &
Elektroforesis
dibuat plot regresi linear, labu standar dan sampel ukuran molekul protein
beda
Standar Iternal  sampel & standar BEDA, bentuk struktur & sifat mirip Uji Kesesuaian sistem
Standar Adisi  sampel & standar SAMA, std dg volume beda
dimasukkan dlm sampel pd labu sama & volume sama UKS Keterangan Syarat
Resolusi (daya 𝟐 (𝒕𝑹𝟐 − 𝒕𝑹𝟏) Rs : >1,5
𝑹𝒔 =
perhitungan pisah) 𝒘𝟏 + 𝒘𝟐
Penentuan 5x injeksi  diukur RSD RSD ≤ 2,0%
Sistem Presisi Jika RSD boleh > 2,0%, injeksi
𝑎 = 𝐴1%
1𝑐𝑚 𝑥 𝑏 𝑥 𝑐 𝑎=𝜀𝑥𝑏𝑥𝑐
sebanyak 6x
𝑎 : absorbansi c : konsentrasi M=nxV Faktor Peningkatan puncak asimetri TF = !  simetri
b : tebal kuvet 𝜀 : absorbtivitas molar n = m/Mr Pengekoran/ sebabkan penurunan Rs, LOD, presisi TF > 1  asimetri
𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛 𝑥 𝐹𝑃 𝑥 𝑉𝑜𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 Asimetri >> TF, kolom kurang efiesien
y = bx + a % 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 = 𝑥100%
𝑀𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 Efisiensi Dipengaruhi o/ jumlah lemopeng (N) 𝒕𝑹 𝟐
𝑎𝑏𝑠 𝑌 Kolom N meningkat jika : 𝑵 = 𝟏𝟔 ( )
Kadar Y dlm obat = 𝑥 𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑏𝑎𝑘𝑢 𝑾𝒃
- Kolom dikemas baik
𝑎𝑏𝑠 𝑏𝑎𝑘𝑢
- Kolom lebih panjang
tR : waktu retensi
- Partikel FD lbh kecil
𝐴𝑈𝐶 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 Wb : lebar dasar puncak
Kadar sampel = 𝑥 𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 - Viskositas FG lebih rendah dan suhu
𝐴𝑈𝐶 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 tinggi
- Molekul sampel kecil
VMA - Pengaruh lingkungan min
Kapasitas 𝒌′ =
(𝟏−𝑹𝒇)
𝑹𝒇 =
𝒋𝒂𝒓𝒂𝒌 𝒚𝒈 𝒅𝒊𝒆𝒎𝒑𝒖𝒉 𝒕𝒐𝒕𝒐𝒍𝒂𝒏

Parameter Syarat Keterangan Kolom 𝑹𝒇 𝒋𝒂𝒓𝒂𝒌 𝒚𝒈 𝒅𝒊𝒕𝒆𝒎𝒑𝒖𝒉 𝑭𝑮

Akurasi Recovery : 98-102 % Ukur nilai sebenarnya, ada baku


Presisi RSD : ≤ 2 % Replikasi Biasanya 6-9x tanaman herbal
Selekivitas/ 𝟐 (𝐭𝐀 − 𝐭𝐁) Kemurnian
spesifitas 𝑹𝒔 =
Rs : (1,2-1,5)/ Rf : > 2,5 Tanaman Latin Bagian Kandungan Kegunaan
𝐰𝐁 + 𝐰𝐀
Seledri Apium graveolens Daun Apigenin (flavonoid) Hipertensi
Linearitas R : > 0,999 y = bx + a Seri lar.baku, regresi linear
Batas deteksi 𝟑 𝒙 𝑺𝒃 Alat deteksi senyawa target (kuali)
Kumis Kucing Orthosiphon stamineus Folium Sinensetin Hipertensi
𝑳𝑶𝑫 =
𝑺𝒍𝒐𝒑𝒆 Cabe Jawa Piper retrofractum Fructus Piperin Viagra
(LOD) Sb : simpangan baku
Batas kuantifikasi 𝟏𝟎 𝒙 𝑺𝒃 Alat ukur senyawa target (kuanti) Kunyit Curcuma longa L Rimpang Curcuminoid Hepatoprotektif
𝑳𝑶𝑸 =
𝐒𝐥𝐨𝐩𝐞
(LOQ) Jeruk Citrus sinensis Fructus Citrus biflavonoid Hemoroid
Ketangguhan Analisis sampel sama, pd lab, kondisi dan lingkungan Jambu Biji Quersetin
Psidium guajava Folium +trombosit, diare
metode berbeda, prosedur dan parameter sama
(Ruggedness)
Lidah Buaya Aloe vera Folium Aloine A Pencahar
Meniran Phylanthi niruri Herba Quersetin/ Filantin Immunomodulator
Kekuatan u/ validasi kekuatan metode dilakukan perubahan kecil u/
(Robustness) evaluasi respon analitik dan efek presisi & akurasi Lada Hitam Piper nigrum Fructus Piperin (alkaloid)
Temulawak Curcuma xanthorizza Rimpang Xantorizol (terpenoid) Anoreksia

Uji kualitatif Kayu Manis Cinnamomum verum Kulit Sinaldehid (aldehid)


Manggis Garciana mangostana Kulit Mangostin (xantin) Kanker
Golongan Reagen Hasil
Alkaloid Mayer Endapan putih
Sambiloto Andrographis p Daun Tanin

Wagner Endapan coklat Pegagan Cantella asiatica Hetba Asiaticosida (saponin) Gastritis
Dragendorf Endapan coklat/orange
Bouchardat Jingga Metode ekstraksi
Triterpen/ Lieberman-Burchard Hijau biru Cara Dingin
steroid
Maserasi  Merendam simplisia dg cairan penyari
Flavonoid AlCl3 Merah
Perkolasi  Mengalirkan penyari terus menerus
Uap amonia Kuning
Tanin FeCl3 Biru tua/ hijau/ violet/ hitam kehijuan Cara Panas
K Ferrisianida & amonia Coklat Refluks  Cairan secara kontinyu menyari simplisia. Penyari dipanaskan shg
Minyak atsiri Annisaldehid – H2SO4 Hijau-biru/ merah menguap dan mengalami kondensasi. Simpisia : tahan pemanasan, tekstur keras
Saponin Dikocok Berbusa Sokhletasi  dg pelarut yg volatil, penyari digunakan berulang kali
Lieberman-Burchard Hijau/ ungu Destilasi  senyawa yg mengandung minyak menguap. Ex: minyak atsiri

Anitalaras_
Kardiovaskular hipertensi

Kategori Hipertensi
Klasifikasi Sistolik Diastolik
Normal <120 <80
Pre 120-139 80-89
Stage I 140-159 90-99
Stage II ≥160 ≥100
Target Terapi
JNC 7 JNC 8
Umum  <140/90 ≥60 th  <150/90
DM  <140/80 <60th  <140/90
CKD  <130/80 DM  <140/90
CKD  <140/90
Patofisiologi
Primer/spesifik  tidak diketahui penyebabnya
Sekunder  disebabkan o/ penyakit lain & obat
Rumus Tekanan Darah
TD : CO x PR CO : SV x HR
CO : cardiac output
PR : periferal resisten
SV : stroke volume (volume yg masuk ke dlm jantung)
HR : heart rate

Golongan Mekanisme Contoh ESO


Direct Renin Menghambat renin (hambat Aliskiren
Inhibitor angiotensinogen ke angiotensin I)
Inhibitor ACEI  Hambat angiotensinogen I ke Captopril, Lisinopril, Ramipril Tingkatkan bradikinin (batuk kering) 
Sistem
Renin
(antiremodeling angiotensin II captopril, Teratogenik, Udem
Angiotensin jantung)
Antagonis reseptor angiotensin II Candesartan & Losartan  t1/2 pendek , 2x1 Hiperkalemia, Disfungsi renal
ARB
Valsartan  t1/2 panjang, 1x1
α Blocker Nonselektif Fentolamin, Fenoksibenzamin Hipotensi Ortostatik
α Adrenergik
α 1 Blocker Selektif Prazosin, Terazosin, Doksazosin
Blocker
Inhibitor 5 α Reduktase Finasteride
Block β adrenoreseptor Selektif  Metoprolol, Atenolol, Nebivolol, Rebound Hypertention, Disfungsi ereksi,
Adrenergik β-1 di ginjal (selektif) Bisoprolol, Acebutolol, Betaxolol, Esmolol Meningkatkan TG & menurunkan HDL
Inhibitor β-2 di paru, liver, pankreas MANBABE kecuali Labetolol dan Karvedilol,
β Blocker (nonselektif) Bronkospasme

NonSelektif  Propanolol, Nadolol, Timolol

Dihidropiridin Blok kanal kalsium Amlodipin, Nifedipin Hiperfosfatemia, Edema, Takikardia >>
CCB Fenilakilamin Verapamil Konstipasi, Takikardia >
Benzothiazepin Diltiazem
Central α Adrenergik Menstimulasi reseptor α 2 yg Metildopa, Clonidin, Reserpin Disfungsi ereksi
Simpatolitik (central simpatolitik) berdaya vasodilatasi
Mengurangi Penyerapan Na/Cl pd HCT, Indomapnid HipoKALemia (K), HipoMagnesia (Mg)
Tiazid (GFR>30) distal tubulus ginjal shg HiperCALsemia (Ca), HiperGLIkemia
meningkatkan produksi urin HiperURIsemia, Disfungsi seksua
Loop Diuretik Menurunkan penyerapan K,Cl, dan Furosemid, Torsemid, Asam Etakrinat, HipoCALsemia (Ca), HipoKALemia (K),
(GFR<30) Na pada loop Henle Bumetanid HiperURIsemia
Diuretik
Meningkatkan volume cairan dan Spironolakton (aldosteron antagonis), HipoNAtremia (Na), HiperKALemia (K)
Diuretik Hemat
Na di urin dg tetap pertahankan Triamteran, Amilorid jika digunakan dg GG, ARB, ACEI. NSAID
Kalium
kadar Kalium dlm tubuh
Meningkatkan jumlah cairan tubuh Isosorbid, Manitol, Gliserin
Diuretik Osmotik
yg disaring keluar oleh ginjal
Vasodilator Vasodilator Hidralazin, Minoksidil, Sodium Nitroprussid

Non Komplikasi Komplikasi Inotropik +  kontraktilitas (digoksin, dopamin, dobutamin)


Stage I CKD  ACEI/ARB  hindari spironolakton Inotropik -  kontraktilitas (CCB)
Monoterapi  ACEI/ARB, CCB, Tiazid DM  1st : ACEI/ARB Antimuskarinik/antikolinergik  Atropin, Skopolamin,
Kombinasi  ACEI/ARB + CCB/Tiazid 2nd : CCD Ipratropium (hambat reseptor muskarinik)
3rd : Tiazid-diuretik Captopril sebagai Renalprotektif dg cara relaksasi pembuluh
Stage II CHF  ACEI/ARB + BB + diuretik (spironolakton) darah ginjal
ACEI/ARB + CCB/Tiazid Post MI  ACEI/ARB + BB Terapi u/ Udem : Furosemid jika udem bukan karna ESO
CAD  ACEI, BB, Diuretik, CCB HCT jika udem karna ESO/ sbg terapi + an
Cegah kambuh stroke  ACEI, Diuretik
Hamil  Labetolol, Nifedipin, Metildopa, Kejang (MgSO4)

Anitalaras_
hiperlipidemia DM + Obesitas  + ORLISTAT

Tipe Hiperlipidemia Golongan Contoh Mekanisme ESO KI


Faktor Risiko
Tipe Kenaikan Terapi HMG CoA Statin LDL, TG HDL Miopati, Liver
Merokok I Kilomikron - Reduktase Rhabdomiolisis (nyeri
HDL <40mg/dL IIa LDL Statin, Colest, Niacin Inhibitor otot)
TD >140/90 mmHg IIb LDL & VLDL Statin, Fibrat, Niacin Inhibitor Absorpsi Ezetimibe LDL Batuk, Diare, Arthralgia
Riwayat CHD Kolesterol
III βVLDL
Pria ≥45th Resin Asam Colestipol, LDL GI, Konstipasi, TG
Wanita ≥55th IV VLDL & TG Fibrat, Niacin Empedu Coleselvam, turunkan absorpsi obat >400
V VLDL & Kilomcr Colestiramin mg/dL
Asam Nikotinat Asam LDL, TG HDL Hipoglikemi, Liver,
Target Penurunan Terapi Gout
Nikotinat Hiperurisemia
FR Target Nilai LDL mulai terapi
Hepatotoksik
CHD <100 ≥130 Fibrat Gemfibrozil, LDL, TG HDL Miopati, Ginjal,
≥2 <130 ≥130 (risiko 10-20%) Fenofibrat Rekomendasi bila Dispepsia (gemfi Hati
≥160 (risiko <10%) TG>500mg mayor, feno minor),
0-1 <160 ≥190 Batu empedu (gemfi)
Inhibitor PCSK9 Alirocumab, LDL >50% Neurokognitif, rx
Kolesterol total  <200mg/dL LDL  <130mg/dL (jahat)
Bococicumab, tempat penyuntikan
HDL  >40mg/dL (baik) TG  <150mg/dL
Evolocumab

Amlodipin Note :
Verapamil TD + DM
Meningkatkan toksisitas Parameter :
Makrolida TD < 140/90 mmHg
(Rhabdomyolisis/miopati) Hati  SGPT, SGOT, ALT, AST
Cylosporin Kolesterol < 200 mg/dl
Ginjal  BUN, SCR, Na, K, Cl,
Interaksi gd2pp 80- 144 mg/dl
Fibrat
STATIN HbA1C < 6.5 %
Fenitoin, Colestiramin, Colestipol Menurunkan efek terapi HMGCoA
Gol sulfonilurea (glimepirid dll) Menurunkan konsentrasi sulfonilurea
Warfarin Menurunkan efek warfarin
Levotiroksin Pengaruhi kadar hormon

Coronary arteri disease (CAd) Angina

Kondisi Tatalaksana Jenis


Parameter
Penyempitan arteri koroner, Medikamentosa Primer Angina Stabil Angina Unstabil Angina Vasospasme
manifestasi akhir  angina & infark 1. Antiplatelet  Aspirin, Gejala Nyeri menjalar hilang Nyeri menjalar Dapat tjd saat istirahat.
Faktor Risiko CPG, Tiklodopin timbul >2 bulan mendadak  bisa Timbul harian. Dipicu
- Diabetes 2. Penurun Lemak  Statin sebabkan Infark rokok dan stress
- Hipertensi Terapi sesuai faktor risiko Lama 3-5 menit 15-20 menit 1-15/20 menit
- Dislipidemia 1. β Blocker Selektif Patofisio Pada saat beraktivitas, Adanya trombosis Spasme arteri koroner
- Menopause 2. Nitrat supply aliran darah tdk yang menghambat dan aterosklerosis
- Perokok 3. ISDN mencukupi vaskuler koroner yang mempersempit
- Pria >40th 4. ACEI/ARB vaskuler koroner
- Keturunan PJK Patofisiologi mayoritas karena Hiperlipidemia dan hipertiroid
Derajat Angina Tatalaksana dan Mekanisme
Acute coronary syndrome (acs) 1  saat aktivitas berat yg lama 1.
Antiplatelet
2  saat aktivitas yg lebih berat dr biasanya 2.
Statin
3  saat aktivitas sehari hari β Blocker Selektif  jika intoleran bisa
3.
Aterosklerosis pakai Ivabradine  tekan kontraktilitas
4  saat istirahat
(Pecah) miokard
4. ISDN  1st line serangan akut, +β
Blocker/CCB  Vasodilatasi
5. CCB  pengganti β Blocker pd angina
Thrombus
stabil  Dilatasi
Coroner
ANGINA STABIL
Anti Angina Pencegahan Angina
Parsial oklusif Oklusif 1st  NITRAT + BB/CCB nDHP  Life style
thrombus thrombus BB + CCB DHP jika nadi rendah/intoleran dan  Aspirin , jika intoleran pakai CPG
(kecil-sedang) (besar) jika derajat angina >2  Statin
 ACEI/ARB jika gagal jantung, htn,
2nd  +/ganti Ivabradine, Long acting nitrat, /DM
ST depresi Nicorandil, Ranolazine, Trimetazidine
ST elevasi
T elevasi
ACS Note :
Stabil Angina  aterosklerosis
Unstabil Angina  agregasi platelet
Serum NSTEMI  ada thrombus sebagian
Serum
biomarker STEMI
biomarker (-) STEMI  thrombus penuh
(+)

Biomarker : TROPONIN
Angina
NSTEMI
Unstabil

Anitalaras_
Tatalaksana ACS
Initial treatment In-hospital management Discharge medications
Pengembalian suplai darah dan hambat okslusi Jika px telah stabil setelah terapi MONA Setelah px keluar dr RS
M  Morfin IV  analgetik, vasodilator STEMI
O  Oksigen  bila saturasi <90%  1st  Fibrinolitik/PCI + antiplatelet &/antikoagulan Aspirin + BB + Statin + Nitrogliserin SL
N  Nitrogliserin IV  nyeri dada berkelanjutan
- Fibrinolitik Alteplase, max 30 menit setelah masuk RS + ACEI bila TD tdk capai target 130/80 mmHg
A  Aspirin PO  menginhibisi platelet
(kembalikan aliran darah)
βB Metoprolol, Atenolol  mengurangi denyut
jantung dan kontraktilitas otot jantung - PCI  max 90 menit setelah gejala
- Antiplatelet  Aspirin, CPG DM & Geriatri aspirin, warfarin
- Antikoagulan  Warfarin, Heparin Gnjal  adjust dose, monitoring faal ginjal
Bumil  aspirin, captopril, warfarin
 Alternatif  CABG
Aman nitrogliserin, labetolol
NSTEMI
Potensi interaksi : warfarin x simetidin
 CABG/ PCI
 Antiplatelet &/ antikoagulan (blokade metabolisme enzim sitokrom,
menyebabkan bleeding)

AGEN TROMBOLITIK
Fibrinolitik Antikoagulan Antiplatelet
Tujuan Eliminasi gumpalan darah, memecah Hambat progesi trombosit Hambat pembekuan awal gumpalan darah
trombus
Contoh Alteplase, streptokinase Heparin, warfarin, enoxaparin, fundaparinux, Aspirin, abciximab, CPG, dipiridamol, eptifibatide,
hirudin tiklodopin, tirofiban
Mekanisme Aktifasi plasminogen menjadi plasmin, Aktivasi anticlotting factors (heparin, enox, Hambat adhesi dan agregasi platelet :
shg fibrin terhidrolisis dan memecah funda), Inhibisi trombin (hirudin), inhbisi - Hambat COX (aspirin)
trombus sintesis faktor prekursor koagulasi (warfarin) - Hambat reseptor glikoprotein IIb/IIIa (abciximab,
eptifibatide)
- Hambat agregasi platelet yg diinduksi ADP (CPG, ticlodo)
- Hambat cyclic nucleotide phoshate (dipiridamol)
ESO Resiko ICH (intracranial hemorraghe) Heparin : transient thrombocytopenia (mayor)
Fundaparinux : anemia
Enoxaparin : thrombocytopenia (minor)

Angina Infark Miokard INR (parameter warfarin) HCT x Aspirin  meningkatkan efek aspirin
Penyebab aterosklerosis Penyebab aterosklerosis < 2  naikkan dosis
Nyeri berat, sesak, nyeri dada Nyeri berat intensitas lebih 2-3  pertahankan dosis Fenitoin x Warfarin  mengurangi efek
Pemicu aktivitas fisik Pemicu tdk diketahui > 3  turunkan dosis warfarin dg pengaruhi metabolisme hati
Obstruksi parsial Sumbatan sempurna CYP3A4
Hipoksia miokard (penurunan O2) Anoksia miokard (kehilangan O2) APTT (parameter heparin)
Reversible Irreversible

syok

Jenis Keterangan Pengobatan Penanganan Umum


Kardiogenik Kegagalan pompa Inotropik (dobutamin, dopamin, norepinefrin) a. Suplementasi O2
jantung Vasodilator (Nitroglycerin) (4-6L/min nasal cannula/ 6-10L/min face
Antiplatelet mask)
Hipovolemik Hilang cairan/ darah dlm TD <90  Dopamin 5mcg/kg//min b. Cairan tambahan
jumlah banyak TD >90  Dobutamin 2mcg/kg/min - Kristaloid  NaCl 0,9%, ringer laktat
(diare/kecelakaan) >70 th  dg penumpukan cairan  5% Albumin - Koloid  Hidroksietil starch, dextran,
Tanpa penumpukan cairan  Dopamin 5mcg/kg//min abumi
Anafilatik Alergi Norepinefrin (px yg tdk respon dg pemberian cairan)  TD <70mmHg - Blood Product
Sepsis Infeksi masuk ke aliran Eprinefrin (px yg tdk efektif dg norepinefrin)
darah Phenyleprin (px dg takikardia)
Neurogenik Cedera syaraf tulang Dobutamin (px yg kekurangan CO)  TD 70-100mmHg
belakang Vasopressin (px yg gagal dg catekolamin)

Note :

Anitalaras_
Penyakit Infeksi
ISPA & ISPB Infeksi Cacing
TBC Penyakit Menular Seksual
ISK Vaksin $ Toksoid
Saluran Pencernaan HIV-AIDS
Infeksi Parasit Malaria
Infeksi Jamur Mekanisme & ES Antibiotik

Penyakit Tata Laksana Ket Ket Kondisi Penyakit Obat Lama


1st 2nd Gejala ISK atas/ Pyulonefritis Ciprofloxacin 7
Otitis Amoksisilin Amoksiklav 5-10 (UP-QC) Levofloxacin 5
Cotrimoksazol 14
Media Kotrimoksazol
Sefalosporin ≠ Gejala ISK bawah/ Cystitis
Sinusitis Amoksisilin Sefalosporin 10-14 (B-CCC)
Kotrimoksazol Makrolida Uncomplicated 1st : Nitrofuran 5-7
Eritomisin Levofloksasin 2nd : Cotrimoksazol
Doksisiklin Ciprofloxacin 3
Faringitis Amoksiklav Makrolida 5 Levofloksasin 3
Amoksiklav 3
Laringitis (alergi
penisilin) 3
Tonsilitis
Sefalosporin Complicated Cotrimoksazol
Levofloksasin Ciprofloxacin 7-10
Bronkitis Amoksiklav Makrolida 5-14 Amoksiklav
Quinolon Sefalosporin BUMIL
Bronkitis Quinolon Beta Laktam Ada FR Amoksiklav, Sefalos (ceftriaxon) (7 hari)
Quinolon, Cotrimok, Nitrofuran, Tetrasiklin
Kronik Makrolida Sefalosporin ≠ FR
5-7
Pneumonia Makrolida Doksisiklin Sehat Bakteri Dewasa Anak
Quinolon Beta Laktam + Penyerta 1st 2nd 1st 2nd
Makrolida Shigella, Ciprofloxacin Ceftriaxon Shigella
CAP Penisilin Salmonella Cotrimoksazol Azitromisin Ceftriaxon
Klindamisin
Salmonella
HAP Karbapenem
Ceftriaxon Azitromisin
Quinolon
Campylobact Azitromisin Eritromisin Quinolon
Piperasilin
er jejui Eritromisin Tetrasiklin
ShiSalmonCaCipro
Pengobatan Entamoeba Metronidazole Vankomisin Metronidaz Vankomisin
Baru 2HRZE + 4H3R3 histolitica ole
Kambuhan 2HRZE + 1HRZE + 5H3R3E3 Clostridium
Aturan Regimen difficile
< 4 bln BTA (+) Ulang dr awal ECLOMEVA
< 4 bln BTA (-) Lanjut sesuai jadwal Vibrio Doksisiklin Ciprofloxacin Eritromisin Azitromisin
≥ 4 bln BTA (+) Kambuhan cholera Tetrasiklin Eritromisin
≥ 4 bln Dewasa : DOKTER-CIPER Anak : ERZI
BTA (-) STOP
E.coli Azitromisin Ciprofloxacin Azitromisin Ceftriaxon
TB Anak
Diagnose Intensif Lanjut Dewasa : ACI Anak : ACE
Paru BTA (-), kelenjar, efusi pleura 2HRZ 4HR PPI Amoks (2x1g) / Klaritro
Awal Ome (2x20mg) Metronidazol 2x500mg
Paru BTA (+), paru kerusakan luas, 2HRZE 4HR Lans (2x30mg) (2x500mg)
ekstraparu PUD Resisten
PPI Metronidazol Tetrasiklin Bismuth
Tulang/sendi, milier, meningitis 2HRZE 10HR klaritro Ome (2x20mg) (2x500mg) 4x500mg Subsalisilat
ESO Lans (2x30mg) 4x525mg
INH (Neuritis) Kesemutan Vit B6 Ulceratif Colitis : Sulfasalazin
Rifampisin (Red) Urin merah Demam Tifoid : Kloramfenikol. Ampisilin / Amoksisilin, Kotrimoksazol
piraZinamid (Zendi) Asam urat, Hati Aspirin
Kolera : Vibrio cholerae Tifoid : Salmonella typhi, ricketsia bacteria
Etambutol (Eye) Penglihatan, Ginjal, DM Disentri Basiler : Shigella Peptic Ulcer : H. Pylori (10-14 hari)
sTreptomisin (Telinga) Ototoksik, Ginjal Disentri Amoba : E. Histolitica
Interaksi Diare : Campylobacter jejui, Salmonella, histolitica, E.coli, Clostridium difficile
Rifampisin Pil KB efek pil KB
Ketokonazol konsentrasi keto
Teofilin kadar/efek teofilin
HIV TB 2-8 mgg, + bersama INH seumur hidup Scabies Permetrin, Benzil Benzoat Keseluruh tubuh, 3 hari berturut
HIV Kutu Kepala Permetrin, Fonetrin Digunakan 2x dg jarak 7 hari
Hepatitis Terapi hepar baru TB
Kutu Pubis Permetrin, Fonetrin, Malation Digunakan 2x dg jarak 7 hari

Anitalaras_
Hamil Tidak Hamil
Nama Obat Penyebab Penjelasan (7-14 hari)
Spiramisin 1 g Pirimetamin + Sulfadiazin
Nistatin Candida albicans Infeksi pd membran mukosa Mengurangi transmisi
Ketokonazole Lipatan paha ( Tinea cruris) Kadas, Kurap, Panu maternal janin
Klotrimazole Tubuh (Tiena corporis) Pirimetamin Sulfadiazin dpt menyebabkan supresi
Mikonazole Kepala (Tinea capitis) sumsum dan pansitopenia, serta toksisitas hematologi
Kaki ( Tinea pedis)
Griseovulvin Infeksi pd kulit, rambut, kuku Dicegah dg Leucovorin/ As.Folat (10-25mg/hari)
Ktrakonazol Infeksi ringan pd kuku
Terbinafin (onkomikosis)

2 NRTI + 1 NNRTI
Jenis Cacing 1st 2nd
Blm terapi Zido/ Stavu + Lami/ Emtrici + Efa/ Nevi
Fasciolopsis buski Prazikuantel
Hamil Zido + Lami + Nevi
Filariasis Dietilkarbamazin Ivermectin
Ascariasis lumbricoides – Gelang Ivermectin TB Zido/ Stavu + Lami/ Emcitri + Efa

Enterobius – Kremi (gatal dubur) Piperazin (gelang) Hepa B Teno + Lami/ Emtrici + Efa
Albendazol
Ancylostoma – Tambang Mebendazol Pirantel
Trichuriasis _ Cambuk Pamoat Gol Nama ESO
NRTI Zidovudin Anemia, Miopati, Neutropenia
Lamivudin Sakit kepala, Pankreatitis
Penyakit Penyebab 1st 2nd Tenofovir GINJAL
Sifilis Triponem Benzatin Penlisilin G Doksisiklin Stavudin Neuropati Perifer, asidosis laktat
(21 hari) pallidum Tetrasiklin NNRTI Efaviren SSP. Teratogenik
Ceftriaxon
Nevirapin Ruam, Hepatotoksik
Gonnorhea Neiserria Cefixim Kanamisin
PI Lopinavir Hiperlipid, Intoleransi GI
gonnorea Levofloksasin Tiamfenikol
Ceftriaxon Ritonavir Intoleransi GI
Chlamydia Chlamydia Azitromisin oral Eritromisin NRTI : Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors
(7 hari) tracomatis Doksisiklin NNRTI : Non Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors
Herpes HSV Asiklovir oral PI : Protease Inhibitors
genital (7 Valasiklovir oral
hari)
Trikomoniasis Trichomonas Metronidazole tab Metronidazole
(Vaginitis) vaginalis gel
Candidiasis Candida albicans Mikonazol Nistatin 1st 2nd
Klotrimazol Falsiparum DHP + Primakuin / Kina + Doksisiklin /
Flukonazol Artesunat-amodiakuin + Tetra + Primakun
Itrakonazol Primakuin
BUMIL : Azitromisin/ Amoksisilin/ Ceftriaxon Vivax Kina + Primakuin
Alergi penisilin : Doksisilin/ Eritromisin (30 hari) Vivax relaps ACT + primakuin
Ovale DHP / Artesunat- Kina + Primakuin
amodiakuin
BUMIL
Falsiparum Vivax
Vaksin Wajib Jml Waktu Pengulangan Trisem 1 Kina + Klindamisin (7d) Kina tab (7d)
Hepatitis B (HBV) 4x Baru lahir, 2,3,4 bulan Trisem 2 & 3 ACT (dihiroartemisin) (3d)
Polio 5x Baru lahir – 1 th, 2,3,4 Usia 18 bln Profilaksis : Doksisiklin 1 caps/hari, 2 hari sblm brkt-4 mgg stlh dr
bln daerah pandemi
TBC (BCG) 1x Baru lahir – 2 th
Difteri (DPT) 5x 2,3,4,18 bln, 5 th Usia 10 th
Meningitis HiB 4x 2,3,4 th Usia 15-18 bln
Mekanisme Antibiotik
Campak (virus 3x 9 bln Usia 18 bln, Hambat sintesis DINDING (Beta Laktam) (Polipeptida)
morbili) antara 6-7 th Penicilin, Bacitracin,
sel
(Dinding BeBaVa) Karbapene, Vankomisin
Sefalosporim,
Monobaktam
Hambat sintesis MEMBRAN Polimiksin
Kloramfenikol Grey baby syndrom
sel (MemPoli)
Anemia aplatis
Hambat sintesis PROTEIN (30 S) (50 S)
Ciprofloksasin Steven Johnson syn
(KaKaLiMa 3AT Protein) Aminoglikosid, Klindamisin,
Ruptur tendon Tetrasiklin Kloramfenikol,
Tetrasiklin Perubahan warna gigi Linezolid,
Kotrimoksazol Malformasi janin Makrolida
(Sulfametoksazol _+ Hiperbilirubin Antagonis FOLAT (FOLKO) Kotrimoksazol
Defisiensi G-6PD Pengaruhi sintesis/ (DNA Gyrase) (RNA
Trimeptoprim) (5:1)
metabolisme AS.NUKLEAT Quinolon Polymerase)
(ASAM DAQU RIFA) Rifampisin

Anitalaras_
Penyakit Saluran Cerna
GERD MUAL MUNTAH

Kondisi : as lambung naik ke esofagus dan menyebabkan iritas Kondisi Nama Obat
Gejala : panas dada, muntah, susah menelan Ringan Antasida/ Klorpromazin
Tatalaksana Berat Gol. Benzodiazepin
 Kontrol Asam Lambung  1st : antasida, H2 blocker dosis rendah HT/Glaukoma/Asma Gol. Antihistamin/Antikolinergik (Dimenhidrinat,
2nd : H2 blocker/PPI Difenhidramin, Skopolamin)
 Pengosongan Lambung  Metoklopramid Pasca Kemoterapi/ OP Ondansetron, Granisetron
 Pelindung Mukosa  Sukralfat Gerd H2 Blocker
Pediatri & Bumil : antasida, ranitidin, sukralfat Diabetes Metoklopramid
Mabuk perjalanan, vertigo Dimenhidrinat
Diare Hamil Piridoksin, Doxylamin, Ondansetron
Anak Kortiko/Ondan/Domperidon (susp)
Macam Mekanisme Patofisiologi Obat gol 5HT3 biasa dikombinasi dg Kortikosteroid (dexa) u/ kurangi mual
Akut  <14 hari 1. Perubahan transport ion (< penyerapan Na/ muntah pasca kemoterapi
Persisten  >14 hari > sekresi Cl)
Kronis  >30 hari 2. Perubahan motilitas usus Dimenhidrinat u/ vertigo (pc) & mabuk (ac)
3. Peningkatan osmolaritas luminal
4. Peningkatan hidrostatik jaringan
Gol Contoh Kondisi Cara ESO
Dewasa
Antagonis reseptor Ondansetron Akibat 30-60 Pusing, takikardi
Non Infeksi 1. Elektrolit  (rehidrasi) 5HT3 obat menit
2. Absorban  (attapulgit, norit, kaolin) sitotoksik sblm
3. Bulk forming  (kaolin) kemo
4. Penghambat peristaltik  (loperamid,
Antagonis reseptor Metoklopramid GERD 30 mnt Ekstrapiramidal
difenoksilat)
dopamin kerja ac
Infeksi Antibiotik + Terapi Simptomatik sentral di CTZ
Anak Antagonis reseptor Siklizin Mabuk Sedasi, mulut
Non Infeksi 1. Oralit  (rehidrasi) H1 Histamin Prometazin perjalanan kering
2. Zink (10-14 hari)  <6 bln 10mg, >6 bln 20mg Dimenhidrinat
(cegah kambuh) Difenhidramin
3. ASI Antagonis reseptor Hiosin Mabuk Pusing, mulut
4. Probiotik  (perbaiki sal cerna, sbg terapi tambahan) muskarinik (skopolamin) perjalanan kering,
gangguan
 Jika sdh diberi oralit tp blm sembuh dpt diberi penglihatan,
kaolin/attapulgit retensi urin
Infeksi Antibiotik + Terapi Simptomatik Antagonis reseptor Domperidon Pasca OP 30 mnt
 Terapi utama : rehidrasi dopamin ac
 1st line antimotilitas : Loperamid, tdk u/ bloody/ inflamatory diarrhea Modulasi reseptor Cisaprid GERD 15 mnt
 Bismuth Subsalisilat : alternatif Loperamid u/ turunkan gejala mual, serotonin (5HT4) ac
nyeri, dan traveler’s diarrhea
 Diare kronis
Peptic ulcer
1st line : opiat (loperamid/difenoksilat)
2nd line : ocreotide (analog oktapeptida somatosin) Gejala Nama Obat
Gangguan sekresi HCl, mual, nyeri ulu hati tanpa gas PPI
Konstipasi As lambung naik, kembung, sendawa, mual Antasida
Non farkol : Fiber Kembung/ antiflatulen Simetikon
Farkol : Stress, sendawa pahit H2 Blocker
- Bulk forming (dokusat, laktulosa)  1-3 hari Iritasi mukosa, perih saat makan, muntah PPI + Sukralfat
- Senna, MgSO4  6-12 jam - Sukralfat >< antasida : penurunan efek obat (<absorbsi)  perlu dijeda 30 menit
- Peristaltik (Bisakodil)  6-12 jam - Bumil : Antasida
Stimulasi Water Evacuation - Ranitidin & Sukralfat kategori B
- Castor oil, propilen glikol, bisakodil rektal, saline
Aman Bahaya Dyspepsia non ulcer
Bumil Suppo (Bisakodil) MgSO4
Enema (Microlax) Castor Oil Rasa tdk nyaman pd abdomen atas, dada terbakar, begah
Saline (pencahar)
- Menurunkan As lambung : Antasida
Bisakodil (oral)
- Menurunkan refluks : Asam Alginat
Lansia Bulk Laksatif Bisakodil (oral)
Laktulosa - Blok produksi asam : H2 Blocker, PPI
Sorbitol
ESO
Mekanisme obat
Antasida (Al) Konstipasi
Nama Obat Mekanisme Antasida (Mg) Diare
Antasida Netralkan asam lambung Omeprazole Sakit Kepala
PPI Berikatan dg enzim H+ / K+ ATPase Simetidin Gynekomastia (bagi pria)
H2 Blocker Antagonis kompetitif reseptor H2 di sel parietal Antasida Milenium (Feses putih)
Sukralfat Bentuk kompleks gel yg melapisinmukosa Bismuth Melena (Feses hitam)
Metoklopramid Gangguan SSP (Dyskinesia  gerakan tak
terkendali)

Anitalaras_
Gagal Ginjal Akut
Renal Dan Saluran Kemih Gagal Ginjal Kronis
Pengobatan Hyperphosphatemia
Parameter  BUN, SrCr, Output urin, GFR, Serum Elektrolit Elektrolit u/ px GGA
Agen Pengikat Fosfat Tatalaksana
Patofisiologi : Ca Karbonat (Ca 40%) Bersama makanan u/ tingkatkan
Pre renal  Penurunan perfusi ginjal 1. Hiperkalemia
penyerapan di lingkungan asam
Intrinsik  Kerusakan struktur ginjal 2. Hipernatremia
Ca Asetat (Ca 25%)
Post renal  Obstruksi aliran urin dari ginjal 3. Fosfor
Sevelamer Karbonat Menurunkan low density lipoprotein
kolesterol
Preventif Kuratif
Lanthanum Karbonat Potensi akumulasi lanthanum karna
1. Asam Askorbat dan N- 1. Manajemen kardiak output, TD, perfusi jaringan
Asetilsistein  antioksidan, penyerapan GI
2. Hemodialisis intermitten
cegah Contrast Induced 3. Hemofiltrasi
Px dg transplantasi organ  diberi imunosupressan 
Nephropaty 4. Mannitol  monitoring urin putput, osmolaritas
kortikosteroid, Jenis DMARD BIOLOGIK
2. Hidrasi 5. Loop diuretic
3. Sodium Bikarbonat, Salin Infus 6. Diuretik hemat Kalium
Kondisi Khusus Tatalaksana
Gagal jantung Tingkatkan dosis diuretik/ ganti dg loop diuretik
Sirosis hati Parasintesis (volume besar)  masukkan kanula ke rongga
peritoneum u/ keluarkan cairan
Tubular nekrosis akut Tingkatkan dosis diuretik/ kombinasi, + dopamin dosis rendah
GANGGUAN GINJAL AKIBAT OBAT Kategori GFR Keterangan
Golongan Mekanisme Keterangan G1 ≥90 Normal
Aminoglikosida Deplesi Na K, Renal iskemik Nefrotoksik G2 60-89 Ringan
Betalaktam dan Nefrotoksik G3a 45-59 Ringan-Sedang
Vankomisin G3b 30-44 Sedang-Parah
Sulfonamid Sulfadiazin : kristaluria ESO G4 15-29 Parah
Klotrimoksazol : peningkatan
G5 <15 Gagal Ginjal
creatinin rater, hiperkalemia
Asiklovir Obstruksi intertubular Dosis >500mg/m2 meyebabkan Note :
nefrotoksik
Amfoterisin B Kerusakan endotelial + dopamin dan nutrisi garam cukup
Rifampisin Risiko meningkat dg INH dan PZA
NSAID Induksi penurunan hemodinamis Ganti steroid + diuretik
Antineoplastik Cisplatin : kerusakan proksimal Gunakan Diuretik setelah
Siklofosfamid : hiponatremia pengobatan
Antihipertensi Oliguria
Immunosupresan Vasospasme + CCB, analog prostaglandin
Diuretik GFR turun Nutrisi elektrolit, alkalinasi sbg
profilaksis obstruksi uropati

BPH
Parameter Patifisiologi --> Intraprostatic Dihydroestoterone (DHT) dan type II 5α-Reductase Golongan Contoh MK
BPH Static --> pembesaran prostat gradual α- Gen 2 Doksazosin, Terazosin, --> BPH & TD Lancarkan
BPH Dinamic --> peningkatan alfa adrenergik dan konstriksi otot halus kelenjar prostat Blocker Gen 3 Tamsulosin, Silodosin --> BPH kencing
Obat yang pengaruhi kelenjar prostat 5α-Reductase Finasteride, Dutasteride Kecilkan
- Hormon testosteron Inhibitor prostat
- α-adrenergik agonist (ex decongestan)
- Efek antikolinergik (antihistamin, fenotiazin, TCA, antispasmodik, antiparkinson) α-Blocker generasi 2 --> baik diminum malam hari sebelum tidur
Keparahan AUA Symptom Score Tanda gejala α-Blocker generasi 3 --> lebih aman u/ kardiovaskuler
Mild ≤7 Asymptomatic metabolisme Diltiazem dan Ranitidin
Peak urinary flow <10mL/s metabolisme Karbamazepin dan Fenitoin
PVR urine volume >25-50mL
Moderate 8-19 Semua gejala + tanda detrusor instability Penurun faktor static : 5α-Reductase Inhibitor
Severe ≥20 Semua gejala + komplikasi BPH Penurun faktor dinamis : α-Blocker

Note :

Anitalaras_
glaukoma
THT dan Mata
Rute Golongan Mekanisme Contoh
Kerusakan saraf mata akibat meningkatnya tekanan (>22mmHg)
bola mata yg tjd akibat gangguan pd sistem aliran cairan mata
Kolinergik Miosis, kontraksi pupil, 3rd : Pilokarpin (KI HTN)
turunkan tekanan
intraokuler
Primer → bawaan dari tubuh Agonis Adrenergik Hambat produks cairan Epinefrin
Sekunder → pola/kebiasaan Sudut (jangka pendek)
Kronis
Terbuka Topikal Beta Bloker Turunkan produksi cairan 1st : Timolol (KI asma),
Primer Metoprolol
Akut Analog Percepat pengeluaran 2nd : Latanorprost,
Sudut
Prostaglandin cairan Bimatoprost
Glaukoma Sekunder Tertutup
Kronis Karbonik Anhidrase Berhubungan dg produksi Dorzalamide, Brinzolamide
Inhibitor cairan akuos melalui sekresi
Kongenital Karbonik Anhidrase aktif bikarbonat Last : Asetazolamid,
Inhibitor Metazolamide
Sistemik
Osmotik Tingkatkan tekanan Gliserin, Mannitol, Urea
Rinitis alergi osmotik

Gejala Tatalaksana
Inflamasi mukosa hidung karna alergen Note :
Bersin Antihistamin, Steroid nasal
Tipe : Tenggorokan hidung gatal Antihistamin, Steroid nasal, Antikolinergik nasal
1. Seasonal Mata berair Antihistamin
2. Perrenial : setiap saat (ex. debu) Hidung berair Antihistamin, Steroid nasal, Antikolinergik nasal
3. Occupational : terkait pekerjaan Hidung tersumbat Dekongestan (Fenilefrin, PPA, Pseudoefedrin), Steroid nasal
Tidak teratasi Imunoterapi (Monteleukast) → Antagonis leukotrien

Konjungtivitis

Gejala Tatalaksana
Peradangan pd konjuntiva-selaput bening
Infektif Tanpa Antibiotik → sembuh dlm 2 pekan
mata (mata merah)
Tetes mata Kloramfenikol/ Asam Fusidic (bumil, pediatri, geriatri)
Penyebab : bakteri, virus, alergi Alergi Non farkol → bilas air bersih dan hangat
Tetes mata Antihistamin (Fexofenadine), Kortikosteroid, Mast Cell Stabilizer
(Nodokromil, Kromoglikat, Lodoxamide)

faringitis Radang mukosa faring


Bumil
Pilek → Antihistamin (CTM, Loratadin)
Gejala Tatalaksana Batuk → Kodein, Difenhidramin (KI : GG)
Batuk Dahak : Ekspektoran (GG, Succus) Mukolitik (Ambroxol, N-Acetylsistein, Bromheksin)
KI px jantung dan HTN → Fenilefrin, PPA, Pseudoefedrin
Kering : Antitusif (Codein, Dekstromethorphan)
Demam Antipiretik (PCT, Ibuprofen)
Tinnitus (Telinga Berdenging) :
Pilek Dekongestan Antidepresan (Amitriptilin, Alprazolam)
Sakit Kepala Analgetik, Antivertigo
Sakit tenggorokan → Dequalinum sebagai anti
Sakit Tenggorokan Anastetik lokal (Degirol), Steroid jika perlu
radang dan antiseptik
Otot Nyeri Analgetik

Asma
Pernafasan I. SABA prn

Sel Mast dan II. ICS lowdose + SABA


Macrophage aktifkan
III. ICS Low/ LABA + SABA
Alergen mediator inflamasi
Inflamasi kronis gangguan saluran napas dg IV. ICS med/LABA + SABA
episode berulang, mengi, sesak, dan batuk
Aktivasi V. Higher treatment
IgE
Golongan Contoh ESO
Leukotrien Modifier → Controller ANAK
β2- SABA Salbutamol (Albuterol), Terbutalin Tremor
Agonis LABA Formoterol, Salmeterol Infeksi virus, nyeri, pusing
Short Acting Antikolinergik Ipratopium Br, Oxitropium Br Bronchitis, PPOK, sinusitis LABA + ICS → Kurangi ekstraserbasi
Penggunaan LABA tanpa ICS tdk disarankan → dpt
Long Acting Antikolinergik Tiotropium Br Mulut kering
meningkatkan ES (takikardi, sakit kepala, kram)
ICS (Inhalasi Kortikosteroid) Budesonid, Beclomethasone, Mometasone, Candidiasis, nyeri kepala
Triamcinolon, Fluticason, Propionat
BUMIL
Kortikosteroid Sistemik Dexamethasone, Prednisone, Prednisolone, Kotiko dpt meningkatkan Adrenergik → Albuterol + Formoterol
MPS, Hidrokuinon kadar gula darah (DM) ICS → Budesonid → kumur kumur setelah pakai
Leukotrien Modifier Monteleukast, Zafirlukast, Zieluton  enzim hati (SGOT-SGPT)
Methylxanthine Teofilin, Aminofilin
Pelega (Reliever) → relaksasi otot polos, hambat bronkonstriksi
Anti IgE Omalizumab
Pengontrol (Controller) → terapi jangka panjang
Interleukotrin Inhibitor Mepolizumab

Anitalaras_
PPOK Inflamasi kronis destruksi dan limitasi aliran udara u/ pernapasan

Klasifikasi PPOK Terjadi 2 kondisi


Asma → Alergi, Reversible
Ringan Sedang Berat Bronkitis Kronis Hipersekresi dalam mucus
PPOK → Bukan alergi, Irreversible
Dengan/ tanpa batuk Anfisema Pembesaran rongga udara permanen
Dengan/ tampa sputum Alogaritma Terapi Keparahan Rekomendasi
Sesak derajat 0-1 Sesak derajat 2 Sesak derajat 0-1 Terapi awal : Tanpa Doksisiklin 100mg 2x1 → (5 hari)
Spirometer 1. SABA komplikasi Amoksisilin 500mg 3x1 → (5 hari)
FEV/FVC <70% 2. +/ganti Short Azitromisin 500mg 1x1, lalu 250mg 1x1 → (3 hari)
FEV >80% 50% < FEV1 < 80% FEV1 <30% Antikolinergik Komplikasi Amoksisilin/Klavulanat 875mg 2x1 → (5 hari)
FEV1 >30% dg 3. Kortikosteroid Jika alergi/gagal :
gagal napas kronik (Prednison 40mg/hari Moxifloxacilin 400mg 1x1 → (5 hari)
Gagal napas kronik pd PPOK (pemeriksaan analisa gas darah) : selama 5 hari) jika kondisi Rawat Inap Amoksisilin/Klavulanat 875mg 2x1 → (5 hari)
Hipoksemia dg normokapnia/ hiperkapnia px semakin buruk dpt
Doksisiklin 100mg 2x1 → (5 hari)
PaO2 --> 45-60mmHg diberikan MPS IV 6-12
Jika alergi/gagal :
PaCO2 --> 50-60mmHg jam
Moxifloxacilin 400mg 1x1 → (5 hari)
Terapi lanjutan : Antibiotik

Batuk flu

Batuk Note :
Mukolitik (encerken sekret) Ambroxol, Bromhexine, N-Acetylsistein, Erdosteine
Ekspektoran (rangsang pengeluaran dahak) GG, Ammonium Chloride
Antitusif (menekan batuk) Codein, Dextromethorphan, Noscapine
Flu
Antihistamin CTM, Difenhidramin Hcl
Dekongestan Intranasal (kurangi sekret hidung) Oksimetazolin
Dekongestan Oral (atasi hidung tersumbat) PPA, Fenilefrin, Pseudoefedrin, Efedrin
KI Hipertensi --> Dekongestan oral

Rhinitis

Pengobatan Alergi Non Rhinitis Alergi --> peradangan membran mukasa karna alergen dan dmediasi o/ IgE
Intranasal Corticos   Antihistamin H1 Generasi I (SEDATIF) Generasi II (NON SEDATIF)
Oral Antihistamine  1. Sedasi Kuat → Dimenhidrinat, Prometazin, Difenhidramin 1. Fexofenadin
Topical Antihistamine   2. Sedasi Sedang → Ciproheptadin 2. Ceitirizin
Decongestan  3. Sedasi Ringan → CTM 3. Loratadin
Intranasal Cromones  4. Desloratadin
Ipratopium Br  5. Levocetirizin
Leuktrien Receptor Ant  Nasal → Azelastine, Olapatadin
Immunotherapy  Ophtalmic → Bepotastine
Nasal Saline   Decongestan Oral → PPA, Fenilefrin, Pseudoefedrin, Efedrin
Nasal → Oksimetazolin
Surgery 
Antikolinergik Ipratropium Br
Nasal Streoid Beclomethasone, Budesonide, Flunisolide, Fluticasone, Mometasone
Mast Stabilizer Kromolin Na
Antagonis Reseptor Montelukast
Leukotrien

Note :

Anitalaras_
Tulang dan Sendi
OA RA Osteoporosis
Definisi Penyakit degeneratif, ditandai dg kehilangan tulang Penyakit autoimun, sendi alami Penyakit skeletal sistemik progresif, ditandai o/
rawan sendi secara bertingkat peradangan shg tjd pembengkakan masa tulang rendah
Penyebab OA primer/idiopatik  blm diketahui Gangguan autoimun bereaksi thd kolagen Pembentukan tulang berkurang pd usia >30th,
OA sekunder  inflamasi, kelainan sistem endokrin, tipe II dr sendi tulang rawan defisiensi hormon, K, Vit D. Diinduksi obat
metabolik, pertumbuhan, keturunan, immobilisasi lama kotikosteroid, tiroid, epilepsi.
Gejala Kekakuan dan nyeri (pagi/setelah istirahat) Plg sering di tangan. Sendi yg terlibat Nyeri, bengkak, penurunan fungsi dan mobilitas
Pada punggung bawah, pinggul, lutut, kaki. simetris. pd punggung, proximal, femur, distal raius yg
Pembengkakan asimetris. alami faktur.
Faktor Umur, JK, keturunan, kongenital JK, perempuan, riwayat keluarga RA, Usia
paparan salisilat, merokok

Osteoarthritis Rheumatoid Arthritis


1st Parasetamol DOC px ginjal DMARDs BIOLOGI (Agen Anti TNF) DMARDs NON BIOLOGI
Tdk mengiritasi lambung Infliximab MTX
2nd NSAID ESO  gangguan GI Etarnecept Sulfasalazine
u/ atasi gangguan GI : Adalimumab Leflunomide
- dosis terendah
Certolizumab Hidroksiklorokuin (ES Penglihatan Kabur)
- misoprostol 4x1
Tatalaksana
- PPI/H2 Blocker
Awal Gejala <<
3rd COX-2 Inhibitor Atasi efek samping NSAID penyakit Prognosis <  Hidroksiklorokuin/ minosiklin
(Celecoxib) KI  Dada terasa berdebar (tdk u/
Prognosis >  MTX, Leflunomide, Sulfasalazin, /kombinasi DMARD
px riwayat jantung)

Osteoporosis Gejala >>


Prognosis <  MTX, Leflunomide, Sulfasalazin, /kombinasi DMARD
Prognosis >  kombinasi DMARD/TNF Inh dg/tnp MTX

>6 bln Gejala <<


terapi Non Biologi DMARD
Jk tdk responsif  kombinasi Non Biologi DMARD atau Anti TNF

Gejala >>
Prognosis <  Non Biologi DMARD
Prognosis >  MTX, Leflunomide, kombinasi Non Biologi DMARD atau Anti TNF
Mekanisme Kerja DMARDs BIOLOGI (Agen Anti TNF)
Adalimumab  mengikat pd TNF alfa shg
Normal Osteopenia Osteoporosis Certolizumab Pegol  mengikat dan selektif menetralkan aktivitas TNF alfa
Skor-T (> -1) Skor-T (-1  -2,4) Skor-T (≤ -2,5) Etarnecept  mengikat TNF dan blok interaksi pd reseptor permukaan sel
Obat Osteoporosis Infliximab, Golimumab  mengikat TNF alfa shg ganggu aktivitas TNF alfa endogen
1. Suplemen  Vit D (Kalsiferol) dan Kalsium
2. Gol. Bifosfonate  Alendronat, Riserdonat, As.
Ibandronat
Asam Urat
1st 2nd 3rd Asam Urat  hasil akhir met. purin Penyebab
Laki-laki  < 7,0 mg/dL >> pemecahan As. Amino jd basa purin
Skor (≤ -2,5) Teriparatide (Skor < -3,5) Intranasal
Perempuan  < 6,0 mg/dL << ekskresi Asam Urat o/ ginjal
Alendronat Raloxifene Kalsitonin
Riserdonat As. Ibandronate GOUT AKUT (Inflamasi) GOUT KRONIS (Hiperurisemia)
NSAID 1st  XOI (Xantin ALOPURINOL
Note : Jika KI  KOLKISIN Oxidase Inhibitor) Febuxosat
Jika Intoleran NSAID  Celecoxib Jika Intoleran XOI  PROBENESID (Agen Urikosurik)
Kolkisin & Probenesid  KI u/ px dg riwayat gangguan ginjal
Allopuinol X teofilin  meningkatkan efek teofilin dg menurunkan metabolisme nya
Penderita gagal ginjal harus atur dosis Allopurinol
HAMIL  Ibuprofen, Probenesid Allopurinol sebabkan terminasi kehamilan
Urikostatik  turunkan asam urat dlm serum
Urikosurik  tingkatkan ekskresi urat di ginjal dg hambar reabsorpsi pd proximal tubule
Urikolitik  hancurkan deposit asam urat

Note :

Anitalaras_
Saraf & Psikiatri
Konsep Induksi Saraf Stroke
Simpatik Parasimpatik STROKE ISKEMIK
STROKE HEMORAGIK
TD naik TD turun Tatalaksana (sumbatan pembuluh darah karena
(Pendarahan intrakranial)
Denyut nadi naik Denyut nadi turun emboli, aterosklerosis)
Gula darah naik Umum  Stabilisasi nafas dan jalan nafas
Bronkus konstriksi  Stabilisasi hemodinamik (infus kristaloid)
Bronkus relaksasi Otot polos GI kontraksi  Pengendalian tekanan intracranial bila perlu  manitol 0,25-0,5
Otot polos GI relaksasi Otot polos sal kemih kontraksi gr/lkg BB >20menit, diulang tiap 4-6 jam (target ≤ 310 mOsm/L).
Otot polos sal kemih relaksasi Pupil konstriksi Osmolalitas diperiksa min 2xsehari selama terapi.
 Pengendalian kejang jika perlu
Uterus relaksasi Tonus otot naik  Analgetik antipiretik bila perlu
Pupil dilatasi Salivasi naik  Gastroprotektor bla perlu
Adrenergik x Kolinergik  berlawanan  Pencegahan DVT/ emboli paru  heparin
Antiadrenergik ~ Kolinergik  serupa  Manajemen nutrisi
Simpatomimetik x Parasimpatomimetik  berlawanan Spesifik Stroke trombolitik Pendarahan karna antikoagulan
Simpatomimetik ~ Parasimpatolitik  serupa Alteplase 0,6-0,9 mg/kgBB Koreksi koagulopati  PCC/
(3-4,5 jam onset) protombin complex concentrate
Efek Adrenergik (Simpatomimetik) ~ saraf Simpatis induksi
Aspirin 160-325 mg
Efek Kolinergik (Parasimpatomimetik) ~ saraf Parasimpatis
(24-48 jam onset) Pendarahan subaraknoid
induksi
Nimodipin u/ cegah vasospasme

Ansietas
Stroke emboli
Antikoagulan : warfarin, dabigatran
Patofisiologi Manajemen htn  nikardipin, ARB, ACEI, CCB, BB, Diuretik
Manajemen gula darah  Insulin, OAD
Model Sistem saraf (noradrenergik) hipersensitif &
Noradrenergik overreaction thd stimulus shg px responsif thd
Pencegahan Antiplatelet  Aspirin, CPG, Cilostazol Manajemen faktor risiko
stroke Antikoagulan  Warfarin, Dabigatran,
stress fisiologis
sekunder Rivaroxaban
Model Kurangnya aktifitas GABA (neurotransmitter Neuroprotektor Citicolin, Piracetam, Pentoxyfiline
Reseptor inhibitor utama)/ reseptor benzodiazepine
TERAPI
GABA sentral menyebabkan gejala kecemasan
ISKEMIK HEMORAGIK
Model Stimulasi serotonin berlebih menyebabkan Hilangkan sumbatan  fibrinolitik Pembedahan
Serotonin gejala kecemasan Pembedahan  carotid endorterectomy Terapi suportif  infus manitol
(px stenosis >70%) Mengatasi pendarahan  Vit K, As Traneksamat

TATALAKSANA ANSIETAS Note :


Tipe Definisi Gejala Ist 2nd 3rd
GAD (Generalized Konstan, jangka panjang, Sulit tidur, pusing, lelah, SSRI TCA BDZ
Anxiety Disorder) kecemasan berlebih pd nyeri, muscle tension SNRI
banyak bagian hidup Buspirone
PAD (Panic Disorder) Serangan panik intens, cemas Berkeringat, sesak, palpitasi, SSRI TCA BDZ
akan kejadian berulang nyeri, spt serangan jantung SNRI MAOI
PTSD (Post Px bertahan pd survival mode SSRI SNRI BDZ
Traumatic Disorder) TCA MAOI Divalproexm
Clonidine
OCD (Obsessive Pengulangan suatu aktivitas, Melakukan kegiatan SSRI SNRI BDZ
Compulsive Disorder) kecemasan terkait pemikiran berulangulang TCA SARI D2-Bloker
Gabapentin
PHD (Phobia Kecemasan signifikan pd Cemas pd kondisi ttt SSRI SNRI BDZ
Disorder) kondisi sosial atau keadaan ttt (diketahui) RIMA
BUMIL
Aman  SSRI dan SNRI
Jika tdk responsif SSRI  TCA
Terapi tambahan u/ hentikan kebiasaan merokok  Buspropion

Gol Mekanisme Cara ESO Contoh


SSRI (Selective Serotonin Hambat reuptake 5HT Pagi/malam Insomnia, pusing, Sertralin
Reuptake Inhibitor) ngantuk, turunkan Fluoksetin
libido Fluvoxamin
SNRI (Serotonin Hambat reuptake NE pd dosis Telan utuh jgn Pusing, ngantuk, BB Duloxetin
Norepinephrine Reuptake tinggi dan 5HT pd dosis rendah dikunyah turun, mulut kering, Venlafaxin
Inibitor) insomnia, lelah
MAOI (Monoamine Meningkatkan konsesentrasi NE, Sarapan pagi Pusing, insomnia Selegiline
Oxidase Inhibitor) 5HT, dan DA dg hambat enzim dan makan Rasagiline
MAO siang
TCA (Tricyclic Hambat reuptake NE dan 5HT Sebelum tidur Sedasi, aritmia, Amitriptilin
Antidepressant) hipotensi ortostatik Imipramine
(lansia)
Benzodiazepin Mengikat pd reseptor Pagi Ataksia, tdk nafsu Alprazolam
benzodiazepin pd neuron GABA makan, sulit Estazolam
postsipnap. Menghambat GABA berkemih
Dopamin/Norepinephrine Hambat reuptake pompa NE dan Sesudah makan Takikardia, pusing, Buspropion
Reuptake Inhibitor DA (AC) mulut kering,
insomnia

Anitalaras_
Skizofrenia Nyeri dan Sakit Kepala
Ketidakseimbangan neurotransmitter dopamin Tingkat Terapi
Kelebihan dopamin pd mesolimbik  gejala positif Ringan (0-3) PCT, Aspirin, Ibuprofen + TCA (amitriptilin)
Kekurangan dopamin pd mesokortis  gejala negatif
Sedang (4-6) PCT + kodein
Golongan Mekanisme ESO Contoh Berat (7-10) Morfin/ Fentanil + NSAID, TCA
Generasi I Blokade Ekstrapiramidal tinggi Haloperidol, BUMIL
Antipsikotik reseptor Flufenezin, Aman  PCT, Ibuprofen
Tipikal dopamin tipe 2 Klorpromazin, KI  Aspirin (premature), COX-2 Selektif (celecoxib) (cegah pembuahan)
(D2) Tiohidrazin Mekanisme
Generasi II Blokade 5HT2A Ekstrapiramidal rendah Ist  Olanzapine, NSAID  blokade sintesa prostaglandin dg hambat COX 1 dan 2
Antipsikotik (lebih utama) Meningkatkan risiko Resperidone, MIGRAIN
Atipikal dan D2 gangguan metabolisme Quetiapine Vasodilatasi pembuluh darah dural, ekstravasasi plasma
(1st line) (BB naik, hiperlipid, DM) 2nd  Klozapine Analgetik/NSAID, Sumatriptan, Ergotamin
BUMIL  CLOZAPIN Pencegahan  beta bLoker

Parkinson
Gemetar atau tremor, kerusakan sel syaraf di otak menyebabkan dopamin turun
Degenerasi pd nigrostriatal  meningkatkan aktivitas kolinergik striatal  tremor
Golongan Mekanisme Contoh ESO KI
MAOI Meningkatkan kadar Rasagiline, Diskinesia, sakit kepala, mual, hipotensi postural Tramadol, meperidine,
dopamin endogen siklobenzaprin 
perparah hipertensi
1st Line
Selegiline Diskinesia, mual, nyeriperut, mulut kering Meperidine

COMT Meningkatkan kadar Entacapone, Diskinesia, mual, diare, hiperkinesia, diskolorasi urin Hipersensitif
Inhibitor dopamin endogen Tolcapone Diskinesia, anoreksia, mual, insomnia, hipotensi ortostatik, halu Gangguan hati
Inhibitor Meningkatkan sintesis Amantadine Halusinasi,bingung, mulut kering, edema perferal Busui, glaukoma
reseptor dan pelepasan dopamin,
NMDA hambat reuptake
Antikolinergik Menekan aktivitas Benztropine, Penglihatan kabur, bingung, konstipasi, mulut kering, mual, Usia <3th
kolinergik takikardi, sedasi depresi, cemas
Triheksifenidil Ruam, penglihatan kabur, mual, takikardi Glaukoma,
Alternatif kardiovaskular
Dopamin Mengaktifkan reseptor Bromocriptine, Hipotensi, GI hemorrhage, mual, pusing, anoreksia Sensitif thd erkot
Agonis dopamin dg agonis Pergolide, Diskinesia, halu, ngantuk, insom, dispepsia alkaloid,
hipertensi,toxemia
Pramipeksol, Pusing, pisang, insom
(Bromocriptin)
Ropinirole Bingung, pusing, pingsan, halu, kaki bengkak
Carbidopa/L- Meningkatkan kadar Carbidopa/L- Edema, agitasi, cemas, ataxia, diskinesia, insom, penglihatan Glaukoma,
dopa dopamin endogen dopa kabur, retensi urin, urin gelap kardiovaskular,
menggunakan MAOI
dlm 14 hari

Epilepsi
Epilepsi  kejang minim 2x dlm 24 jam Kejang  pelepasan neuron sentral berlebih
Bagian Epilepsi Gejala Farmakologi
Simple Partial Sebagian tubuh 1st  Karbamazepin, Lamotigrin, As. Valproat
Complex Partial Sebagian tubuh, penurunan kesadaran 2nd  Klobazam, Gabapentin, Levetiracetam, Pregabalin, Piagabalin
Absence (Petit Mal) Semua tubuh, penurunan kesadaran, anak sampai 20th 1st  Etoxusimide, Na. Valproat
2nd  Klobazam, Klonazepam, Levatiracetam, Topiramat
Tonic-Clonic (Grand Semua tubuh, penurunan kesadaran, depresi nafas, lama kejang tonic
Mal) 1st  Karbamazepin, Lamotigrin, Na. Valproat
<1menit clonic 2-3menit
2nd  Klobazam
Myoclonal Kontraksi otot tubuh cepat (pd pagi hari)
Status Epilepticus Semua tubuh, turun kesadaran, depresi napas, lama kejang >3menit
ANAK 1st  Vigabatrin, Prednisolon
2nd  Klobazam, Na. Valproat
HAMIL  Lamotigrin, Karbamazepin As. Valproat menyebabkan cacat tabung saraf, celah wajah, teratogenik
Fenobarbital menyebabkan malformasi jantung
Fenitoin, lamotigrin, karbamazepin menyebabkan sumbatan langit mulut (cleft palate)
Golongan Mekanisme Contoh ESO
Penghambat Kanal Hambat Kanal Na di membran neuronal Fenitoin, Karbamazepin Meningkatkan enzim liver (AST, ALT)
Na Fenitoin  anemia (+As.Folat)
Hambat reuptake GABA Benzodiazepin Ataksia, ngantuk, amnesia
Hambat katabolisme GABA (inhibisi GABA transaminase) Vigabatrin, Valproat
GABA related
Analog GABA Gabapentin Ataksia, somnolen, diplopia, ambliopia,
target
pusing
Tingkatkan aktivitas GABA Fenobarbital, Topiramat, Gabapentin
Penghambat Kanal Ca Ethosuximide Pusing, anoreksia, diare, mual muntah
Tingkatkan permeabilitas Kanal K shg tjd hiperpolarisasi membran neuronal Asam Valproat Anemia (+ As Folat)
Teratogenik
Hambat reseptor Glutamat Fenobarbital, Topiramat, Felbomat

Anitalaras_
Onkologi dan Imunologi
KANKER

Sel SEL
abnormal Metastesis Spefik  perlihatkan toksisitas selektif thd proses ttt dr sikuls sel, aktif thd sel kanker dg proliferasi
tinggi. U/ dpt efek makx obat diberikan scr intermitten dg dosis tinggi
Non Spesifik  efektif u/ atas keganasan hematologis dan bekerja pd fase pertumbuhan sel / sdg dlm
Tumor (benign) keadaan istirahat
Kanker (mallignant)
Spesifik
Tatalaksana Kuratif : Fase Siklus Sel :
1. Pembedahan (mayor-invasif/minor) 1. Mitosis (M)  (Prometaanatelo) Profase-Metafase-Anafase-Telofase  MiXelVin
2. Kemoterapi (agen sitotoksik) 2. Pertumbuhan I (G1)  Prafase sintesis DNA (Sintesis RNA dan protein)  Golongan Steroid
3. Radioterapi (target terapi)
3. Sintesis (S)  Replikasi DNA pd sel hingga bertambah brp kali lipat  Si Texat PPC
Kanker Payudara
4. Pertumbuhan II (G2)  Pertumbuhan dan persiapan u/ mitosis  Duo BETO
CMF CAF CEF
Siklofosfamid Siklofosfamid Siklofosfamid Non Spesifik
MTX Doxorubicin Epirubicin 1. Non Spesific Agents
5-Fluorourasil 5-Fluorourasil 5-Fluorourasil 2. Platinum Agents
3. Antitumor Antibiotcs

Golongan Agen Kemoterapi Proses yg diganggu Inhibisi Fase Sel


Antibodi Monoklonal  ikat antigen spesifik dari
Antimetabolit Folat Analog (MTX), Hambat Reduksi Sintesis kanker dan beri respon imun u./ bunuh sel
dihodrofolat purin dan (Transzumab, Rituximab)
pirimidin Terapi Endokrin  terkait perubahan hormonal
S
Purin Analog (Asam seksual (Antiestrogen u/ kanker payudara)
Pirimidin Analog Sitarabin Hambat sintesis DNA Nukleat) Gen Terapi  perubahan susuan genetik, diterapi
Fluorouracil Hambat sintesis TNP dg transfer material genetik normal u/ bentuk
Agen Alkilasi dan Nitronusea (Carmustine), DNA sintesis dan binding seuler fenotif normal yg permanen
gol lain Platina (Carboplatin, Kompleks inklusi dg DNA Siklus Sel
Cisplatin), Blok fungsi topoisomerase Nonspesifik Terapi NeoAdjuvant cegah proliferasi (hambat
Doxorubicin, Etoposide pembelahan)  sebelum OP
Alkaloid Vinka Vinblastin, Vinkristin Sintesis mikrotubul M (metafase) Terapi Adjuvant  mematikan sisa sel setelah OP
Agen Mikrotubul Paklitaxel, Docetaxel Sintesis mikrotubul G2/M

OBAT IMUNOSUPRESAN  Indikasi  atasi transplantasi orgn, autoimun, cegah hemolisis 3. Penghambat Kalsineurin
rhesus pd neonates a. Siklosporin  transplantasi
1. Imunosupresan Antiproliferatif (Sitotoksik) b. Takrolimus  transplantasi
a. Azatioprin  transplantasi dan autoimun 4. Antibodi Monoklonal
b. Mikofenolat mofetil  transplantasi ginjal/jantung (+Siklosporin & Kortiko) a. Basiliksimab  transplantasi ginjal
c. As. Mikofenolat  tarnsplantasi ginjal (+Siklosporin & Kortiko) b. Rituksimab  limfoma
5. Lainnya
d. Siklofosfamid  autoimun dan antikanker
a. Fingolimod  Remitting Multiple Sclerosis
e. MTX  transplantasi, autoimun, antikanker
b. INF alfa  kambuhan metastasis karsinoma sel ginjal, limfoma
2. Kortikosteroid c. INF beta  tdk u/ px depresi
a. Prednisolon  ringankan gejala kanker stadium akhir, naikkan nafsu makan d. Timosin alfa  hepatitis B kronis usia >18th, replikasi virus
b. Dexametason  leukimia limfositik, limfoma, karsinoma payudara, paliatif dan suportif hepatitis B (HBV)
pd anak

Anitalaras_
Cairan infus

Jenis Nama Tatalaksana


Asering Dehidrasi (syok hipovolemik & asidosis)  luka bakar, DB, syok hemoragik, dehidrasi, trauma, gastroenteritis
 Ganti cairan tubuh saat diare
Normal Saline  NaCl  Ganti elektrolit & cairan yg hilang di intravaskuler
Cairan  Jaga cairan ekstrasel dan elektrolit
Kristaloid Ringer Laktat (RL)  K, Ca, Laktat, NaCl Kalium bermanfaat u/ konduksi saraf, otak, DBD, ganti cairan hilang
 Cairan metabolisme di otot
Ringer Asetat (RA)
 U/ pasien resusitasi yg dehidrasi dan syok/asidosis
Albumin Ganti volume yg hilang/ protein ketika syok, saat OP, trauma, gagal ginjal, luka bakar
Hidroxyetyl Starchses (HES) Terapi & profilaksis defisiensi volume dan syok
Cairan
Koloid  Menambah plasma ketika trauma, syok sepsis, iskemia cerebral, veskuler perifer, iskemia miokard
Dextran
 Beri efek antithrombus (menurunkan viskositas darah dan cegah platelet)
Gelatin Efek antikoagulan dan tambah volume plasma
Cairan Mannitol Terapi dan profilaksis oliguria
Kandungan
Kehilangan (mmol/L) Cairan Pengganti Obesitas
Na+ K+ Kategori BMI kg/m2
Darah 140 4 RA/ RL/ NaCl 0,9%/ Koloid/ Produk darah
Under < 18.5
Plasma 140 4 RA/ RL/ NaCl 0,9%/ Koloid Healthy 18.5 - 24.9
Cairan transeluler 140 4 RA/ RL/ NaCl 0,9% Pre-obes 25.0 - 29.9
Cairan neogastrik 60 10 NaCl 0,45% + KCl 0,9% Grade I 30.0 - 34.9
Cairan sal cerna atas 110 5-10 NaCl 0,9% Grade II 35.0 - 39.9
Cairan saat diare 120 25 NaCl 0,9% + KCl 20 mEq/L Grade III ≥ 40
Penilaian Status Gizi dan Kebutuhan Gizi Obat Mekanisme ES
Malnutrisi  ketidakseimbangan nutrisi Orlistat Lipase inhibitor, hambat abs Flatulen, nyeri
1. Marasmus  defisiensi protein-kalori  retardasi pertumbuhan dan atrofi otot lemak, diberi sblm makan perut/kolik
2. Kwashiorkor  defisiensi protein-energi  retardasi pertumbuhan, imun, patologi hati
Lorcaserin Selective serotonin receptor Pusing, konstipasi,
3. Kombinasi  defisiensi protein kalori dan energi  hilang lemak subkutan dan agonist  nafsu makan turun mulut kering
dehidrasi
Phentermine Noradrenergik  nafsu Insomnia, mulut
Klasifikasi Malnutrisi
makan turun kering, diare, tremor
TB terhadap BB TB terhadap Usia
Phentermine/ Noradrenergik + activator Konstipasi, mulut
>90%  Ringan (Grade 1) 85-80%  Sedang Topiramate reseptor GABA  nafsu kering, paraesthesia,
90-75%  Sedang (Grade 2) <80%  Akut
makan turun insomnia, KI Bumil :
<60%  Berat (Grade 3)
teratogenik
Tatalaksana Warning
Naltrexone/ Hambat reuptake dopamin Mual, konstipasi,
1. Stabilisasi  asupan nutrisi cukup Fe tdk pada fase stabilisasi
Bupropion dan norepineprin dan pusing, muntah
2. Transisi  atasi gangguan, Jangan cairan IV kecuali syok/dehidrasi
antagonis opioid
3. Rehabilitasi  perbaiki kekurangan berat
Liraglutide Agonis GLP-1, Stimulasi Mual, muntah,
gizi, zat besi Jangan protein tinggi pd fase stabilisasi
insulin  turun respon pankreatitis
4. Tindak lanjut  nutrisi u/ tumbuh Jangan diuretik pd px Kwashiokor
glucagon  nafsu makan
kembang
turun

anemia Antidotum

Klasifikasi Parameter Defisiensi Racun Antidot


Normositik --> Kehilangan darah
Makrositik MCV > Vit B12, Asam Folat PCT Asetilsistein
dalam jumlah banyak (Operasi,
Mikrositik MCV < Fe Sulfat Logam berat (As,Hg,Cu) BAL (dimecaprol)
Kecelakaan). Eritropoiten
Normositik Normal Fe Sulfat Logam berat (Pb) EDTA
Klasifikasi berdasarkan kondisi Ferrum Deferoksamin
Kondisi Parameter/ Ket Tatalaksana Opioid, Dextromethorphan Nalokson
Megaloblastik MCV > Vit B12, As Folat  Vit B12, Asam Folat Antikolinesterase (Insektisida) Atropin, Pralidoksim
Anemia WBC dan retikulosit <  Agen Imunosupresan : MP, Siklosporin Sianida Nitrat, Nitrit
Aplastik Lemah, pendarahan gusi,  Hemapoetic Growth Factor : Filgastrim Metanol, Etilen glikol Etanol
bengkak kaki  Agen Antineoplastik : Fludarabin Beta Bloker Adrenalin, Isoprenalin
 Kelator : Deferoxamin Benzodiazepin Flumazenil
Anemia (-) Fe MCV <, Feritrin rendah Fe Sulfat, Fe Fumarat TCA Diazepam
Inflamasi Supply besi tdk efektif RBC transfusions, Epoetin alfa Kumarin, Warfarin Vit K
Pediatri Premature , 9-12 bulan Transfusi RBC, Fe Sulfat, B12, As Folat Digoksin Fenitoin, MgSO4, Atropin
Sickle Cell Sickle Cell Disease (SCD)  Imunisasi Influenza, meningokokus, pnemumonia Heparin Protamin
 Profilaksis Penisilin sampai usia 5th INH Piridoksin
 As Folat /hari u/ dewasa, bumil, px penyakit kronis Nitrit Metilen Blue
Alergi rx obat
CO O2
Type Descriptor Karakteristik Onset Obat Penyebab Organofosfat Antimuskarinik : Atropin, Skopolamin
I Anaphylactic Alergen berikatan dg IgE  30’- Penisilin, polipeptida, vaksin,
(IgE mediated) melepaskan mediator inflamasi 2jam dextran Obat yg sebabkan Coagulan disorder
II Cytotoxic Cell destruction (inisiasi sitolisis 3-7 Penisilin, quinidine, heparin, alergi kulit :
o/ IgG/ IgM) hari fenilbutazon, tiourasil, Hemofilia  gangguan pembekuan darah
sulfonamid, metildopa Amoksisilin, (lebam)
Klotrimoksazol, Jenis  Hemofilia A  (+ faktor VIII /12jam)
III Immune Antigen antibodi bentuk 3-7 Penisilin, sulfonamid,
TRansfusi darah,  Hemofilia B  (+ faktor IX /24jam)
complex kompleks hari minosiklin, hidantoin
Sefalosporin, Atau tranfusi Kriopresipitat
IV Cell mediated Antigen mengaktivasi Limfosit T >3 Dermatitis kontak, postular
Eritromisin,
(delayed) hari exanthems, bollus exanthems
Hidralazin, B12 Pertolongan pertama Hemofilia  RICE
R  Rest
I  Ice
C  Compression
E  Elevation

Anitalaras_

Anda mungkin juga menyukai