Anda di halaman 1dari 4

SCRIPT PRESENTASI BIOLOGI PERKEMBANGAN TUMBUHAN

“POLIEMBRIONIK”

SLIDE 2

 [Note] : Biji merupakan alat perbanyakan generatif yang proses terbentuknya melalui
2 cara yaitu dari peleburan sperma dengan ovum (amfimiksis) dan tidak melalui
peleburan sperma dengan ovum (apomiksis).
 [Note] : Apomiksis ini dapat terjadi karena partenogenesis (pembentukan embrio dari
sel telur tanpa adanya pembuahan), apogami (embrio yang terjadi dari bagian lain dari
kandung lembaga tanpa adanya pembuahan, misalnya dari sinergid/antipoda) dan
embrio adventif (embrio yang terjadi dari selain kandung lembaga, misalnya dari sel
nuselus).
 [Note] : Amfimiksis dan apomiksis dapat terjadi secara bersama-sama sehingga
terbentuk satu atau lebih embrio dalam satu ovum. Proses ini disebut poliembrioni
seperti yang terjadi pada biji nangka, jeruk dan mangga (Hakim & Fauzi, 2008).
 [PPT] : Poliembrioni merupakan peristiwa dimana dalam satu biji terdapat lebih dari
satu endosperm.
 [Note] : Masing-masing endosperm tidak mempunyai endocarp (kulit tanduk)
sendiri-sendiri. Gamet betina dibentuk di dalam bakal biji (ovule) atau kantung
lembaga. Pada bagian ini terdapat sel induk megaspora (sel induk kantug lembaga)
yang diploid. Sel ini akan membelah secara meiosis dan dari satu sel induk kantung
lembaga membentuk 4 sel yang haploid. Tiga sel akan mereduksi dan lenyap tinggal
satu yang berkembang. Selanjutnya, sel ini membelah secara mitosis 3 kali dan
terbentuklah 8 sel. Dari sel yang berjumlah 8 ini, 3 sel akan bergerak menuju arah
yang berlawanan dengan mikropil, 2 sel lainnya menjadi kandung tembaga sekunder,
dan 3 sel terakhir menuju ke dekat mikropil. Dari 3 sel (yang menuju dekat mikropil)
yang terakhir ini dua menjadi sinergid dan satu sel lagi menjadi sel telur. Dalam
keadaan seperti ini kandung lembaga sudah masak dan siap untuk dibuahi. Putik yang
sudah masak biasanya mengeluarkan cairan lengket pada ujungnya yang berfungsi
sebagai tempat melekatnya serbuk sari (Pichot et al, 2000).
 [Note] : Pada biji poliembrioni terdapat embrio seksual (embrio zigotik) dan embrio
aseksual (embrio nucellar). Embrio zigotik berasal dari peleburan pollen dan ovum
(dapat tumbuh dan menghasilkan tanaman baru/hibrid yang sifatnya berlainan dengan
pohon induknya), sedangkan embrio nucellar merupakan hasil perkembangan dari sel
nuselus tanaman induk (tumbuh sebagai semai vegetatif yang mempunyai sifat sama
dengan induknya)
 [PPT] : Peristiwa poliembrioni ini sering dijumpai pada nangka, jeruk dan mangga.
 [Note] : Seperti pada jeruk misalnya pada sebagian kultivarnya ditemukan banyak
embrio dalam satu biji. Poliembrioni pada biji jeruk merupakan salah satu akibat dari
beberapa proses apomiksis (tidak melalui peleburan sperma dengan ovum). Sifat
poliembrioni pada jeruk terjadi karena adanya embrio nuselar. Embrio nuselar
berkembang dari jaringan maternal benih yang berkembang bersamaan dengan
embrio zigotik sehingga dalam satu benih bisa muncul lebih dari satu bibit (Frost &
Soost, 1968).

SLIDE 5
 [Note] : Pada Tanaman Eulaphia epidendraea dicatat ada tiga model kejadian
supernumerary (penambahan embrio) yaitu :
i. Zygot membelah tak beraturan, sehingga menghasilkan massa sel sepanjang
ujung chalaza, pertumbuhan serentak membentuk banyak embrio.
ii. Proembrio, memunculkan tunas-tunas kecil yang memungkinkan pertumbuhan
menjadi embrio.
iii. Embrio yang memiliki sulur (filament) bercabang-cabang dan memungkinkan
tumbuh embrio.
SLIDE 7
 [Note] : Embrio terbentuk dari sel embriosak/sel-sel dalam kantong embrio, selain sel
telur. Kebanyakan tambahan embrio berasal dari sinergid (haploid/diploid  ,
tergantung pada ada tidaknya sperma yang membuahi sinergid).
 [Note] : Pada Saguttaria graminea dan Poa alpine, disamping sel telur, sinergid baik
satu atau dua-duanya dapat dibuahi, hal ini dapat terjadi karena kemungkinan
masuknya lebih dari satu pollen tube atau ada tambahan sel jantan dari satu pollen
tube. Dalam kondisi ini, baik zygot maupun embrio asal sinergid diploid. Embrio
yang tumbuh dari sinergida tanpa pembuahan, berstatus haploid (seperti terjadi pada
Argenome Mexicana dan Phaseolus vulgaris).
 [Note] : Pembentukan embrio dari antipoda agak jarang terjadi, namun dapat dilihat
pada Paspalum serobiculatum dan Ulmus sp. Sel-sel antipodal mengalami
pembelahan beberapa kali, untuk kemudian membentuk struktur menyerupai
proembrio, namun tidak dapat mencapai kematangan dan gagal membentuk embrio
yang mampu berkecambah. Tidak dapat dipastikan apakah juga sel-sel endosperm
mampu membentuk embrio, namun pada Brachiaria setigera, tanaman hasil
apomiksis, ternyata pernah ditemukan embrio triploid berasal dari sel endosperm
(Muniyamma, 1978 lihat Bhojwani, 1999).

SLIDE 8
 [Note] : Terjadinya lebih dari satu embriosak didalam satu ovula. Embriosak dapat
terjadi dan muncul dari : turunan dari MMC (Sel induk megaspora) yang sama,
turunan dari dua atau lebih MMC, dan dari sel-sel nucellus. Terjadinya embrio
kembar, dilaporkan pada citrus, poa pratensis, Casuarina equisetifolia, juga pada
Pennisetum ciliare, 22% bijinya mempunyai embrio kembar. Terjadinya poliembrio
ini secara aposporous. Pada familia Loranthaceae, juga terbentuk poliembrio, namun
hanya satu yang bertahan, sehingga tampak menghasilkan biji monoembrionate.

SLIDE 9
 [Note] : Beberapa embrio ini, muncul dari jaringan sporotik induk, diluar embriosak,
dan disebut embrio adventif, sementara ini yang diketahui memunculkan adventif
embrio adalah sel-sel pada nucellus dan integuments. Embrio adventif yang terkenal
adalah pada citrus dan mangga dari sel nucellus, serta pada Opuntia dilenii dan
Trillium undulatum. Sel-sel nucellus berpotensi menjadi embrio dapat dikenali dengan
tanda cytoplasma yang lebih mengental (dense) dan kandungan karbohidrat yang
lebih tinggi.
 [Note] : Embrio nuselar merupakan bentuk adventif dari reproduksi yaitu sel somatik
dari jaringan nuselus diinisiasi untuk memasuki lintasan perkembangan embrionik.
Embrio nuselar berkembang dari sel inisial nuselus yang berasal dari jaringan nuselus
yang mengelilingi kantong embrio. Tidak terdapat kontribusi gamet jantan dalam
pembentukan embrio nuselar.
 [Note] : Banyak teori secara ilmiah telah dikemukakan berikut bukti, namun
validasinya teori fakta masih belum meyakinkan beberapa peneliti menyebutkan
sebagai dampak dari necrohormones, genesis resesif, dan persilangan. Habertlandt
(1921, 1922 lihat Bhojwani, 1999) mengusulkan necrohormones theory yaitu karena
terjadinya generasi sel-sel nucellus, justru menjasdi stimulus sel-sel didekatnya untuk
melakukan pembelahan dan membentuk embrio.
DAFTAR PUSTAKA
Bhojwani, S.S. dan Bhatnagar, S.P. 1979. The Embriology of Angiosperm. New Delhi: Vikas
Publishing House PNT LTD
Castle, W.S. 1981. A Riview of Citrus Seed Biology and Its Relationship to Nursery
Practicec. Proc. Int. Soc. Citriculture. 1 : 113 – 119.
Hakim, L., & Fauzi, M. A. (2008). Pengaruh Ukuran Kotiledon TerhadapPertumbuhan Semai
Ulin (Eusyderoxylon zwageri T. Et B). Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan 2 (1), 2-5.
Krezdorn, A.H. 1985. Polyembriony Apomixis-Nucellar Embriony. Paper Dep. Fivit Crop.
University of Florida.7.p.
Maheswari, P., and S.R. Swamy. 1957. Poliembriony and In-vitro Culture of Embryos of
Citrus and Mangivera. Int.The Indiana. J. Hort. 15 : 275 – 282.
Pichot, C., Fady, B., & Hochu, I. (2000). Lack of mother tree alleles in zymograms of
Cupressus dupreziana A. Camus embryos. Ann. For. Sci. 57: 17–22.
Simbolon, H., and G. Panggabean. 1986. Some Aspects of Citrus With Special Reference ti
Indonesia. Bul. Hort. 14 (1) 32 – 40.
Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Rajawali Press. Jakarta. 238 h.
Yudono, P, (1995). Ilmu Biji. Dikat Kuliah Fak. Pertanian UGM.Yogyakarta
CATATAN
 Perbedaan embrio zigotik dengan embrio nuselar dapat diindikasikan dari
penampakan morfologinya. Bibit yang tumbuh dari embriozigotik umumnya memiliki
tampilan yang berbeda dari induknya, hal ini disebabkan oleh gen dari bibit ini berasal
dari dua tetua yaitu jantan dan betina. Sedangkan bibit yang tumbuh dari embrio
nuselar memiliki tampilan morfologi yang identik dengan induk betinanya, karena
merupakan hasil deferensiasi dari sel somatik induk betina, dan biasanya memiliki
pertumbuhan yang relatif lebih cepat dan seragam.